ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 25


By: Sally Diandra

Setelah selesai mandi dan mencukur jambangnya, Jalal segera keluar dari kamar mandi, begitu keluar dari pintu kamar mandi rupanya Salim telah berdiri disana menatapnya dengan wajah polosnya, ternyata selama Jalal berada didalam kamar mandi, Salim telah menungguinya sedari tadi didepan kamar mandi, menunggui sosok yang selama ini dirindukannya, sosok yang selama ini selalu menjadi pertanyaannya, figur seorang ayah yang sangat diinginkannya seperti ayah teman temannya yang sering dilihatnya bila dirinya main kerumah teman temannya, lama Salim menatap Jalal yang kali ini penampilannya telah berubah sementara itu Jalal menatap Salim dengan mata berkaca kaca, Jalal benar benar tidak menyangka kalau Jodha ternyata telah mengandung anaknya ketika dia mengalami kecelakaan “Papa Jalal” Salim langsung menghambur kepelukan Jalal, Jalal langsung duduk bersimpuh dan memeluk Salim erat, diciuminya anak semata wayangnya itu, Jalal sangat bahagia karena akhirnya Salim bisa menerimanya setelah Jalal merubah penampilannya seperti Jalal yang dulu yang persis seperti difoto yang sering Jodha tunjukkan ke Salim
Continue Reading...

Cinta Saja Tidak Cukup Part 24


By: Sally Diandra

Tak berapa lama kemudian angkot yang ditumpangi Jodha berhenti disebuah gapura sebuah perumahan, dari kejauhan Jalal bisa melihat Jodha keluar dari dalam angkot kemudian bergegas menggunakan becak “Pak, ikuti terus wanita itu!” Jalal yakin kalau Jodha pasti akan pulang kerumahnya sendiri dengan begitu Jalal bisa lelusa untuk menanyakan semuanya ke Jodha, menanyakan tentang kepergiannya ketika dirinya sekarat.. Tak lama kemudian becak yang ditumpangi Jodha berhenti disebuah rumah yang bergaya minimalis, Jalal segera menyuruh sopir ojek itu berhenti “Stop disini saja, pak! Terima kasih, ini uangnya!” Jalal segera menghampiri rumah yang Jodha masuki tadi, sesampainya disana Jalal melihat Jodha baru saja hendak masuk kedalam pintu rumahnya “Jodha!”
Continue Reading...

BIDADARI HATI Bagian 2 || By Ahliya Mujahidin

Undangan di Pagi Hari
Hari ini Zahira kembali mengikuti abahnya ke kebun. Entah kapan ia akan kembali lagi ke asrama karena Ujang sudah kehabisan biaya untuk memasukkan Zahira ke asrama. Zahira pun tak memaksa abahnya bekeeja keras untuk memasukannya ke asrama karena Zahira paham dengan kondisi keuangan sang Abah. Dan ia tidak memaksa untik melanjutkan kuliahnya. Zahira masuk ke dalam asrama atas peemintaan terakhir ambunya. Abah hanya melaksanakan nadzar dari istrinya sebelum di pangging Sang Maha Kuasa. Semua yang mereka miliki telah habis. Kebun mereka pun telah habis untuk membiayai pengobatan Wati selama sakit. Sisanya, Ujang gunakan untuk memasukan Zahira ke dalam asrama. Sekarang, ujang tak memiliki apa-apa lagi untuk melanjutkan cita-cita Zahira karena ia sudah tak memiliki apa pun. Saat ini Ujang hanya mengandalkan penghasilannya sebagai pemetik daun teh di kebun Hisyam. Zahira turut sedih dengan usaha abahnya yang berusaha mewujudkan keinginannya. Ia tak ingin menjadi beban untuk abahnya.
"Bah. Mending Abah istirahat dulu, biar Aza yang melanjutkannya. Abah pasti capek." Zahira menghentikan akaifitas abahny, karena abahnya terlihat lelah.
"Sebentar lagi. Lebih baik kamu yang istirahat di tempat biasa." Ujang kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aza istirahat sesangkan Abah masih kerja." Zahira masih mengikuti Abahnya sambil memetik daun teh.
Ujang tersenyum mendengar penuturan putrinya. Kini putrinya sudah tumbuh menjadi gadis pengertian, berbeda dengan dulu ketika masih kecil. "Abah teringat kwtika kamu masih kecil suka merengek minta pulang kalau sudah bosan di sini." Ujang mengingatkan kejadian tempo dulu pada putrinya.
Zahira tersenyum malu pada abahnya. "Tapi sekarang nggak dong, Bah. Zahira sudah besar. Kalau bisa, Zahira bantuin Abah cari uang biar Abah nggak capek. Zahira pingin Abah di rumah saja, biar Zahira yang kerja."
Seseorang di belakang mereka tersenyum mendengar obrolan Zahira dan Ujang.
"Maafin Abah kalau Abah memutus cita-citamu Za." Ujang terdengar sedih.
"Abah. Zahira nggak masalah kalau harus putus kuliah. Zahira ngerti keadaan Abah." Zahira menatap abahnya.
"Tapi itu keinginan Ambumu, Za."
"Yang penting janji Abah sudah terlaksanakan dwngan memasukan Aza ke asrama. Kalau harus berhenti di tengah jalan, menurut Aza nggak masalah Abah. Abah jangan merasa bersalah. Nanti Ambu nggak tenang di sana." Zahira mengusap pundak abahnya lebut.
Seseorang yang mendengar obrolah Ayah dan anak itu merasa terharu. Ia pun menghampiri Ujang dab Zahira. "Pak Ujang," sapanya.
Ujang dan Zahira menoleh bersamaan.
"Iya, Pak Hisyam?" Ujang menghampiri Hisyam.

"Nanti habis ini bisa mampir ke rumah? Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada Pak Ujang." Hisyam mengundang Ujang ke rumahnya.
"Tanya apa yah, Pak?" Ujang merasa penasaran.
"Nanti ke rumah saja. Sekalian Nak Zahira juga di ajak." Hisyam menatap Zahira dengan senyum ramah.
Zahira pun membalas Hisyam dengan anggukan dan senyum tipis.
"Saya tunggu di rumah Pak Ujang. Permisi." Hisyam pamit pergi.
Ujang menatap kepergian Hisyam. Ada apa Pak Hisyam memanggilku ke rumah? Batin Ujang.
"Kenapa Bah?" tanya Zahira, melihat abahnya terdiam.
"Nggak apa-apa. Kita lanjutkan metiknya." Hisyam kembali melanjutkan pekerjaannya di bantu Zahira.
***
Ujang dan Zahira memasuki teras rumah Hisyam setelah dari kebun. Ujang pun mengetuk pintu ruamh tersebut sambil mengucapkan salam. Terdengar jawaban salam dari dalam dan pintu pun terbuka. Salima tersenyim menatap Ujang dan Zahira.
"Pak Hisyam ada?" tanya Ujang pada Salima.
"Ada. Pak Ujang, yah?" tebak Salima.
"Benar. Kamu Salima?" Ujang menebak Salima.
"Iya, Pak. Mari masuk." Salima membuka pintu lebar dan mempersilahkan Ujang Masuk.
"Ini Zahira, yah?" Salima menatap Zahira dengan senyum ramah.
"Iya, Kak." Zahira pun tersenyum dan mengangguk. Ia terduduk di sofa.
"Kamu makin cantik aja, Za. Sebentar yah, Salima panggil Ayah dulu." Setelah memuji Zahira, Salima pun bergegas masuk ke dalam untuk memanggil ayahnya.
Tak lama, keluar sosok Hisyam diikuti Salima dengan senyum bahagia melihat Ujang dan Zahira sudah datang. "Maaf kalau sudah lama menunggu." Hisyam pun beranjak duduk.
"Kami baru saja datang." Ujang tersenyum ramah.
"Yah, Salima ajak Zahira ke dalam, yah?" Salima meminta ijin.
Hisyam mengangguk pada Salima. Ujang pun tak bisa menghentikan keinginan Salima untuk membawa Zahira masuk ke dalam.
"Kamu masih ingat aku kan, Za?" tanya Salima pada Zahira yang tengah berjalan menuju taman belakang.
"Masih, Kak." Zahira tersenyum ramah.
"Ibu ... coba tebak ini siapa?" Salima menatap sang Ibu yang tengah menyiapkan sarapan untuk tamunya.
Hamida menoleh dan menatap dua wanita yang kini ada di hadapannya dengan tatapan pura-pura tidak tahu dengan sosok Zahira.
"Ini Zahira, Bu. Anaknya Mang Ujang." Salima mendekati ibunya.
Zahira pun segera meraih tangan Hamida dan mencium punggung tangannya.
"Ini Zahira?" Hamida membingkai wajah Zahira. Zahira tersenyum ramah.
~☆☆☆~
Bersambung Bagian 3
Continue Reading...

BIDADARI HATI Bagian 1 || By Ahliya Mujahidin

Samar terdengar lantunan ayat suci dari sebuah bilik kamar. Gadis yang masih mengenakan mukena melantunkan ayat-ayat dengan nada pelan agar tak mengganggu para tetangganya. 

Tamaram lampu menyinari setiap jajaran ayat-ayat pada mushaf. Lidahnya fasih mengucapkan setiap makhraj pada baris ayat, karena setiap hari gadis itu selalu menyibukkan dirinya dengan lantunan ayat suci Al Qur'an.

"Zahira ..." seseorang memanggil nama gadis itu.

Lantunan ayat gadis itu terhenti ketika namanya di panggil oleh sang Ayah. 

Zahira segera mengakhiri lantunannya. Ia bergegas melepas mukena dan segera menuju kamar ayahnya. "Iya, Abah." 

Gadis itu memasuki kamar abahnya.

"Abah mau berangkat ke kebun teh, kamu baik-baik di rumah," pamit sang Abah.

"Apa Aza boleh ikut? Aza mau bantu Abah metik daun teh." Zahira menatap abahnya memohon.

"Kamu nggak capek habis pulang dari asrama?"

"Nggak, Bah. Aza malah udah rencana mau bantuin Abah hari ini metik teh." Zahira tersenyum simpul.

Abah pun tersenyum melihat wajah putinya memohon. "Aza siap-siap, Abah tunggu di depan. Jangan lama-lama, ini sudah siang."

"Siap Abah." Zahira pun bergegas menuju kamarnya dan mengganti pakaian. Tak lupa ia memasukkan Al Qur'an ke dalam tasnya. Wajah sumringat terukir pada paras ayu Zahira.

Zahira dan Abah bergegas menuju kebun untuk memetik daun teh.

"Mang Ujang. Itu Zahira?" tanya rekan kerja Abah.

"Iya. Ini Zahira." Abah menatap Zahira.

"Pulang kapan?"

"Tadi sore, Mang." Zahira menimpali.

"Makin cantik aja Neng Zahira."

Zahira hanya tersenyum ramah disertai anggukan. Tak lama mereka sampai di kebun teh. Zahira membantu abahnya memetik teh. Ada kebahagiaan tersendiri ketika Zahira membantu abahnya memetik daun teh. Menghirup udara sejuk dapat menenangkan pikirannya dari berbagai pelajarannya di asrama. Zahira sangat menyukai kebun teh, maka dari itu ia selalu ikut dengan abahnya ketika sedang memetik daun teh di kebun semenjak ia kecil.

Keranjang Ujang sudah terisi penuh. "Abah, keranjangnya sudah penuh. Aza nunggu di sana, yah?" Zahira menunjuk sebuah pohon rindang tak jauh dari tempatnya sekarang.

Sang Abah mengangguk dan bergegas menuju penampungan daun teh.

Zahira duduk di bawah pohon itu dan ia mengeluarkan mushaf dari dalam tasnya. Zahira pun sibuk dengan hafalannya. Terdengar suara mengaduh tak jauh dari Zahira terduduk. Zahira pun terusik mendengar aduhan seseorang. Ia beranjak dari duduknya dan menatap sekitar. Pandangannya tertuju pada seseorang yang terjatuh dari tempatnya saat ini. Zahira menghampiri orang tersebut.

"Bapak tidak apa-apa?" tanya Zahira melihat orang tersebut sedang membersihkan pakaiannya. Ia membantu orang itu berdiri.

"Tidak. Hanya sedikit kotor pakaianku." Orang itu masih membersihkan pakaiannya.

Melihat tangan orang itu kotor, Zahira segera mengeluarkan air minum dari dalam tasnya. "Mungkin Bapak butuh ini." Zahira menyodorkan botol minumannya pada orang itu.

Orang itu pun mengangkat kepalanya dan menatap sosok gadis berhijab yang tengah menyodorkan botol air mineral padanya. Orang itu tersenyum sambil menerima bantuan Zahira. "Terima kasih," ucapnya.

Zahira hanya tersenyum tipis.

"Zahira ..." teriak Ujang.

"Iya, Abah. Zahira di sini." Zahira melambaikan tangannya pada Ujang.

Ujang pun menghampiri Zahira. "Pak Hisyam." Abah merasa heran melihat Hisyam bersama putrinya.

"Pak Ujang." Hisyam menatap Ujang dengan senyum ramah.

"Bapak sedang apa di sini?" tanya Ujang.

"Kebetulan sedang jalan-jalan pagi sambil menikmati udara pagi di kebun, jadi aku ke sini. Tapi aku tak memperhatikan jalan, sampai aku tak tau ada tanah licin dan aku terpeleset. Untung ada gadis ini yang menolongku." Hisyam menatap Zahira dengan senyum ramah.

"Dia putriku, Zahira." Ujang memperkenalkan Zahira pada Hisyam. 

Zahira hanya menangkupkan tangan tan mengangguk. Hisyam pun mengangguk pada Zahira. "Oh, ini Putrimu?" tanya Hisyam.

Ujang mengangguk dan tersenyum. "Za, kamu masih ingat dengan Pak Hisyam pemilik kebun teh ini?" Ujang mengingatkan Zahira.

"Masih, Abah. Dan kalau nggak salah, Pak Hisyam punya anak laki-laki bernama Akbar yang dulu sering ikut ke sini," tebak Zahira.

Zahira teringat ketika ia kecil sering ikut abahnya ke kebun dan saat itu keluarga Hisyam sedang liburan di Bandung. Tak sengaja Zahira bertemu dengan Akbar di kebun teh. Dan mereka saling bertengkar karena masalah mainan.

"Ini Zahira yang biasa kau bawa waktu kecil ke kebun, Jang?" tebak Hisyam.

"Benar, Pak." Ujang mengangguk.

"Kau sudah besar, Nak. Bagaimana kuliahmu?"

"Alhamdulillah, sedang libur, Pak." Zahira menunduk.

Hisyam mengangguk. Melihat Zahira, Hisyam teringat Akbar. Zahira terdidik dengan tangan kesabaran Ujang, sehingga Zahira tumbuh menjadi gadis baik, sopan dan pintar. Sedangkan ia mendidik putranya dengan kesenangan sehingga putranya menjadi sombong, malas dan tidak mau di atur.

"Ini botol minummu. Terima kasih untuk bantuannya." Hisyam mengembalikan botol minum Zahira.

Zahira menerima botol itu dan mengangguk.

***

Bersambung Bagian 2
Continue Reading...

Cinta Saja Tidak Cukup Part 23


By Sally Diandra

“Anda tuan Jalal?” Jalal langsung menganggukkan kepalanya begitu melihat beberapa polisi mendekat kearahnya, Jalal tahu kalau dirinya akan dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib soal kecelakaan yang dialaminya “Ya, saya Jalal”, “Bisa minta waktunya sebentar untuk kami mintai keterangannya?”, “Boleh, mari pak”

Ketika Jalal hendak mengikuti para polisi tersebut tiba tiba sebuah suara menghentikan mereka “Tunggu!” dari arah pintu kamar operasi seorang dokter dan dua orang perawat datang menghampirinya, salah satu perawat itu adalah Jodha yang menutupi wajahnya dengan masker kain
Continue Reading...

Cinta Saja Tidak Cukup Part 22

By: Sally Diandra

Sore itu sekitar pukul 4, setelah pulang kantor, Jodha menikmati suasana sore dikota Jogja bersama anak semata wayangnya, Salim yang usianya saat ini sudah menginjak 4 tahun. Salim sangat senang bila ibunya meluangkan waktu luangnya untuk bermain main bersamanya, satu hal yang sangat diinginkannya setiap hari, beban kerja Jodha setiap hari sebagai perawat memang kadang sering mengesampingkan kebersamaannya dengan anak semata wayangnya itu.

“Mama, aku pengin main dikids zone, boleh ya, ma?”

Continue Reading...

Cinta Saja Tidak Cukup Part 21


By: Sally Diandra

Ketika Salim berusia 4 tahun ...

“Hallo selamat sore ...”

Jodha bisa mendengar dengan jelas suara Rukayah terdengar diujung sana, sore itu Jodha memang sengaja menelfon Rukayah, Jodha memberanikan diri menelfon Rukayah, setelah Salim bertanya terus ke Jodha “Mama, kenapa muka Salim nggak seperti papa Surya atau mama?”  saat itu Jodha hanya bisa memberikan jawaban yang klise yang membuat Salim semakin bertanya tanya dan kali ini Jodha memberanikan diri untuk menanyakan kondisi Jalal ke Rukayah demi Salim, siapa tau Rukayah mengetahui sedikit informasi tentang Jalal, waktu 4 tahun bisa merubah segalanya, Jodha benar benar penasaran dengan kondisi Jalal “Haloo Rukayah ... Ini aku Jodha”

Continue Reading...