Sinopsis Reset Episode 1 Part 1


Seorang wanita berlari dengan bahagia di taman. Namun ia tampaknya tidak sendirian. Gadis itu melambaikan tangannya kepada seseorang.
Banyak petugas menyusuri hutan mencari seseorang dalam kegelapan malam. Tiba-tiba sesosok wanita dengan wajah berlumuran darah muncul dihadapan Cha Woo Jin. Woo Jin terjatuh karena ketakutan. Sementara Wanita itu terus mendekatkan dirinya ke hadapan Woo Jin.

Semua itu adalah bayangan yang sering muncul dalam benak Woo Jin. Woo Jin terbangun di tempat psikiater. Woo Jin tampaknya sering pergi ke tempat dokter psikiater itu, karena dokter hafal betul dengan yang dialami Woo Jin, “Seperti yang kukatakan sebelumnya. Terus melakukan hal seperti ini, akan sangat berbahaya. Ini merupakan sebuah ingatan yang tersimpan jauh di alam bawah sadarmu. Setelah diberikan pemicu tertentu, sebuah perwujudan yang berbelit akan terulang bagai mimpi. Bila ingatan yang tersembunyi tersebut dipaksakan, maka orang yang bersangkuran tersebut, pada akhirnya akan merusak dirinya sendiri. Terdapat kemungkinan terjadinya pemikiran yang tak konsisten.”
Mendengar ucapan dokter yang panjang lebar, Woo Jin menyimpulkan, “Jadi, ingatan yang ku alami ini akan muncul dalam mimpi sebagai mimpi buruk?” Dengan semangat, dokter itu membenarkan ucapan Woo Jin. Dokter itu jadi kebingungan saat Woo Jin menanyakan mimpi buruk seperti apa yang biasanya muncul.
Woo Jin kesal karena dokter itu mengulang kembali ucapannya tadi, artinya sama saja menyuruhnya terus hidup seperti itu. Woo Jin beranjak dan berkata bahwa ia akan datang lagi saat jam istirahat.
Dokter menghentikannya, “Jujur saja, dalam menghipnotis, Jaksa lebih baik daripada aku. Kalau bisa jangan datang padaku. Menghipnotis diri mungkin lebih efektif.” Dokter itu langsung tergagap saat Woo Jin menanyakan apa dokter itu merasa tidak nyaman jika Woo Jin datang kesana. Ia juga menegaskan, supaya dokter itu tidak mengatakan kepada siapapun bahwa dirinya bisa menghipnotis, karena sudah banyak rahasia yang ia bagikan kepada dokter itu.

Episode 1 
Menghadapi Ingatan

Seorang jaksa kesal karena ia sudah lama mengintrogasi, namun tersangka tetap bungkam tak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan sang tersangka dengan tenangnya mengatakan bahwa ia menggunakan haknya untuk diam.
Jaksa mencoba menakutinya bahwa hasil tes DNA akan segera keluar dan pria itu tidak akan bisa kabur lagi. Tersangka menanggapinya dnegan santai, “Kalau begitu, biar bukti saja yang menjawabnya.”

Asisten Direktur masuk dan memberitahu Direktur Kejaksaan yang sedang mengawasi proses introgasi, bahwa ia sudah menghubungi Woo Jin. Direktur senang karenanya, mereka seharusnya sudah menghubungi Woo Jin sejak lama. Namun Direktur langsung kesal saat tahu Woo Jin akan tiba sekitar setengah jam. Sedangkan mereka sudah membuang waktu 48 jam untuk itu. *Wow... lama bener. Ngapain aja intrograsinya Pak?*
Direktur itu langsung gelagapan dan memukul Asistennya saat Lee Gye Jang memberitahukan bahwa pengacara tersangka sudah ada diparkiran. Asisten Direktur yang kesakitan, langsung memerintahkan Gye Jang untuk menghalangi sang pengacara.

Seorang petugas memberi hormat kepada pengacara saat dirinya masuk. Pengacara itu justru marah, karena ia kini bukan Jaksa lagi. Gye Jang menabrak Pengacara hingga pengacara itu jatuh kesakitan. Gye Jang diam-diam memasukkan pisau carter kedalam kantong celana pengacara sebelum membantunya berdiri. Ternyata mereka saling kenal.

Saat mereka ngobrol, Woo Jin datang tanpa mereka sadari. Petugas memberi hormat. Dan setelah Woo Jin berlalu, Petugas melaporkan bahwa Woo Jin sudah datang.

Direktur diberitahu bahwa Woo Jin sudah tiba. Dan bawahannya langsung diperintahkan untuk memerintahkan Woo Jin segera masuk.
Sementara itu, Pengacara tersangka yang jalannya aja sudah kepayahan karena kesakitan, harus dihentikan petugas saat alarm pengaman berbunyi ketika Pengacara itu melewatinya.

Direktur mengirim pesan kepada kepada Jaksa yang mengintrograsi untuk segera keluar. Direktur kemudian dikejutkan oleh Asistennya yangmengatakan bahwa pengacara terdakwa adalah mantan direktur kejaksaan, Direktur Kim Myung Suk.

Di dalam kantong Myung Suk ditemukan carter. Ia sadar bahwa carter itu ada didalam sakunya setelah Gye Jang menabraknya tadi. Ia kemudian menunjuk CCTV yang ada dikantor itu dan tertawa terbahak-bahak.
Asisten berfikir bahwa Myung Suk sepertinya yahu trik mereka. Dan Direktur membenarkannya, karena mereka belajar teknik itu dari Myung Suk. Myung Suk tak melakukan perlawanan, dan mempersilahkan petugas untuk memeriksanya.

Woo Jin menuju lift, dan sudah ada petugas yang menunggunya. Woo Jin merasa aneh, melihat lift itu sudah ditujukan ke lantai 8, ia tahu bahwa situasinya sudah sangat mendesak.
Setelah itu, Myung Suk yang kelelahan sampai juga didepan lift. Namun lift itu sudah diberi label bahwa liftnya sedang bermasalah. Ia menatap kamera CCTV, “Dasar... aku sering mendaki gunung belakangan ini.”

Woo Jin melangkahkan kakinya menuju ruang introgasi sambil memainkan penanya.
Pria yang mengintrogasi tersangka sebelumnya beranjak pergi. Tersangka mengira bahwa ia pergi karena pengacara sudah datang.
Saat membuka pintu, pria itu berhadapan dengan Woo Jin. Ia sudah mengira bahwa ia diminta keluar karena Woo Jin pasti akan menggantikannya, “Tapi kali ini kau juga akan kesulitan menghadapinya.”
Woo Jin tak menyangkal dan tak membenarkannya. Namun ia yakin bahwa ia dapat menyelesaikanya. Pria itu tak mampu berkata lagi, ia menyerahkan berkas kasusnya kepada Woo Jin.

Woo Jin duduk dihadapan tersangka. Ia mempelajari berkas kasusnya sambil membunyikan penanya. Asisten kesal karena Woo Jin tidak segera memulai introgasi, padahal waktunya tinggal sedikit. Direktur menenangkannya, ia yakin Woo Jin akan berhasil.
Tersangka menatap pena yang dimainkan Woo Jin,  matanya mulai terkantuk-kantuk. Woo Jin langsung mematikan microfonnya. Asisten itu kesal karena Woo Jin melakukan semaunya sendiri. Direktur menghentikannya dan memintanya untuk membiarkan Woo Jin. Direktur meminta dukungan kepada petugas dengan memberinya isyarat, bahwa mesin itu pasti bisa saja rusak.

Tersangka terus memperhatikan pena Woo Jin. Dalam seketika, layar menjadi hitam putih, yang menandakan bahwa Tersangka sudah masuk dalam hipnotisnya.
Woo Jin menyalakan microfonnya kembali, “Aku akan membacakan fakta-fakta yang ada. Jika ada yang keliru, harap beritahu aku.” Tersangka itu membuka satu kancing bajunya, dan tanpa ragu langsung menyetujui perkataan Woo Jin.

“Apakah betul, kemarin tgl 1 Agustus di pagi hari kau bersama Kim Hyun Joo di daerah Nonhyeon setelah minum bersama? Dan kemudian kalian pergi ke apartemennya? Dia terus menyangkal kalau dia berselingkuh dengan pria lain. jadi kau marah dan kalian bertengkar.” Tersangka membenarkan semua ucapan Woo Jin.

“Jadi kau menyediakan rumah, mobil dan uang untuknya. Tapi tak disangkan ia juga bersikap baik terhadap pria lain yang membuatmu jadi naik pitam?” Dengan semangatnya, Tersangka kembali membenarkan ucapan Woo Jin.

“Jadi setelah memukul kepalanya dengan benda tumpul, kau mulai mencekiknya.”
Kali ini tersangka menyangkalnya, “Pertama aku cekik dia dulu. Jadi maksudku, aku mencekiknya sebelum memukulnya dengan dumbbell. Aku sudah mencekiknya beberapa saat, namun amarahku belum reda. Dan kebetulan disampingku ada dumbbell. Jadi aku memungutnya dan memukulnya dikepala.” Woo Jin menanyakan keberadaan dumbbellnya namun tersangka tampak sedikit lupa.

Direktur dan assistennya berpelukan karena introgasi mereka berhasil, tersangka mengakui perbuatannya sendiri. Mereka keluar dengan girang dan menyapa Myung Suk yang sudah kelelahan. Myung menolak ajakan mereka untuk minum teh, dan langsung menuju ruang introgasi untuk menyelesaikan urusan mereka terlebih dulu.
Myung Suk masuk dan meminta Tersangka untuk tidak mengatakan apapun. Woo Jin berbisik padanya, “Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja.”
Dan dengan polosnya, tersangka mengatakan bahwa dumbbellnya ia lempar ke luar jendela. Dan jika mereka mencarinya, pasti mereka akan menemukannya di lantai satu di apartemen itu.”
Myung Suk langsung menganga. Ia sudah kelelahan, dan sesampainya disana, ia tak dapat melakukan apapun karena tersangka telah mengakui perbuatannya dengan sendirinya. Lain dengan Direktur dan Assistennya yang tersenyum senang. Direktur memerintahkan anak buahnya untuk segera memborgol tersangka dan melanjutkan penyelidikan. Tak lupa direktur berbisik meledek kepada Myung Suk bahwa rencana minum tel mereka ditunda, karena Direktur sedang sibuk.
Woo Jin menekan penanya dan tersangka langsung tersadar dengan tangan yang terborgol. Ia bingung karena tangannya sudah diborgol. Sementara Woo Jin tersenyum akan keberhasilannya dan melangkahkan kakinya keluar.

Kepala Han tiba pagi-pagi dengan membawa setelan jas. Petugas menyapanya, “Tumben sekali kau tiba lebih awal.” Kepala Han tak mampu berbuat apa-apa, karena Jaksa (Woo Jin) memintanya datang pagi.

Kepala Han menyapa Penyidik Go yang tampak lelah. Namun sapaannya berubah menjadi omelan karena Penyidik Go membaca koran sebelum Woo Jin membacanya. Penyidik Go beralasan bahwa ia membuka perlahan-lahan, jadi tidak akan kusut. Kepala Han tak peduli dengan alasannya, “Tak peduli seberapa hai-hatinya kau. Sekali kau membukanya, maka bau korannya akan hilang! Dengan berkembangnya teknologi saat ini, sejak awal memang tak banyak bau yang ada.” Penyidik Go pun langsung mengembalikan korannya.

Choi Yoon Hee juga datang lebih awal. Namun ia masih mengomel bahwa ia bahkan tak sempat untuk mengeringkan rambut, “Kita ini PNS. Aku kadang berharap pulang tidak tepat waktu. Namun datang harus tepat waktu.” Ia juga membanggakan dirinya, jika tidak ada dirinya maka perusahaan mereka pasti tidak akan bekerja normal.
Kepala Han dan Penyidik Go tak menghiraukannya. Mereka berbisik dan menyangkal semua ucapan Yoon Hee. Yoon Hee bertanya-tanya, apa yang mereka bicarakan.
Woo Jin yang baru bangun hadir di tengah-tengah mereka, “Aku tidak menyuruh kalian datang awal, kenapa kalian datang cepat dan buat keributan?” Penyidik Go menyapanya sambil membungkukkan badannya, “Anda sudah bangun tuanku?” Woo Jin tersenyum melihat tingkahnya, ia bertanya apa Penyidik Go sedang syuting drama sejarah.
Yoon Hee menawarkan diri untuk membuatkannya kopi. Kepala Han menghampirinya dan memberikan jas yang dibawanya. Ia menawarkan Woo Jin supaya ke sauna dan ia akan mengosongkan jadwal Woo Jin. Penyidik Go yang masih ada disana tersenyum melihat perhatian Kepala Han kepada Woo Jin.

Tersangka pembunuhan telah dibebaskan. Myung Suk memberikan pernyataan didepan Wartawan yang mana Woo Jin juga ada disana, bahwa semua yang terjadi adalah pernyataan yang dipaksakan. Dan Myung Suk juga mengatakan bahwa pihak mereka akan membantu dalam tugas penyelidikan untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah.

Sesampainya dikantornya, Woo Jin diberitahukan bahwa ada undangan makan malam untuknya. Ketua Han mengatakan bahwa itu dilakukan untuk menyemangati Tim Penyelidik 3. Namun Yoon Hee mengatakan bahwa itu untuk membuat mereka tunduk.
Dan benar saja, saat acara akan dimulai, semuanya langsung menundukkan kepalanya, lebih tepatnya membenturkan kepalanya ke meja, hingga wine di atas meja tumpah. Direktur kesal, karena penyelidikan belum selesai dan mereka sudah minum wine. Tim penyelidik langsung terkejut saat Direktur memerintahkan mereka untuk melakukan penyelidikan lagi.

Woo Jin sedang membasuh wajahnya di kamar mandi. Saat akan keluar, sudah ada Myung Suk yang menantikannya. Woo Jin kini dijamu oleh Pelaku pembunuhan. Pria itu menanyakan bagaimana Woo Jin bisa membuatnya mengaku. Kepala sakit, dadanya terasa sesak dan setelah ia mengakuinya, ia merasa nyaman. Myung Suk menyebut itu pemaksaan membuat pengakuan palsu. Dan hal itu termasuk kelebihan Woo Jin.
Woo Jin merasa jengah mendengar pembicaraan mereka. Ia langsung menanyakan tujuan Pria itu memanggilnya. Pria itu mengajaknya berteman, “Ayahku pernah bilang. Ada dua jenis manusia di dunia ini. Mereka kawan atau lawan.” Pria itu menyodorkan gelas minumannya, “Kau tak mau jadi lawanku?”
Woo Jin tak menerimanya dan menyondongkan badannya, “Kalau begitu, katakan ini pada ayahmu. Di dunia ini, tak ada manusia yang jadi lawanmu selamanya. Dan juga, tak ada manusia yang jadi kawanmu selamanya.” Woo Jin langsung pergi meninggalkan mereka. Dan Pria itu langsung menenggak minumannya dan menatap kepergian Woo Jin.

Ditengah perjalanan pulang, pria yang sebelumnya mengintrogasi sudah menanti Woo Jin dalam keadaan mabuk sambil merokok. Ia mengatakan bahwa firma mereka ingin merekrut Woo Jin. Ia sangat kesal, karena ia yang sudah mengintrogasi selama 48 jam untuk membuat pelaku mengaku namun Woo Jin justru merebutnya dan membuatnya mengaku.
Woo Jin tersenyum mendengarnya, “Kalau bukan karena aku, kau sudah harus melepaskannya kemarin. Kau tak punya bukti apapun, dan tersangka terus menyangkalnya. Batas waktu penahanan juga hampir selesai. Jangan terlalu merasa bersalah. Orang yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah kau. Kau akan segera berdiri di persidangan sebagai jaksa penuntut. Diserahkan sebagai hasil kerjamu.”

Pria itu langsung kesal saat Woo Jin menyebutnya orang yang ambisius karena ingin masuk Departemen Kementrian Keamanana Nasional. Pria membuang puntung rokoknya dan mendorong Woo Jin Ke tembok.
Woo Jin hanya tersenyum mendengar ocehan pria itu untuknya, karena Woo Jin tahu pria itu sedang mabuk. Namun ia tidak terima saat pria itu menyebutnya orang hina.

Saat Woo Jin akan menyerangnya, ada sebuah suara yang menghentikan mereka. Seorang gadis (Joo Eun Bi) muncul dari kegelapan dan 3 temannya ada dibelakangnya. Eun Bi menyalakan korek api dan Woo Jin yang melihatnya, langsung teringat kejadian yang muncul di memorinya sebelumnya. Saat melihat wajah Eun Bi, ia semakin tercengang, karena wajah gadis itu juga yang ada dimemorinya.

Pria yang mabuk tadi menyebut Eun Bi gadis imut. Eun Bi yang mendengarnya tak percaya mendengarnya. Ia mengeluarkan sumpah serapahnya dan pria itu kesal, “Apa kau tak mempunyai kemampuan lain?”
Eun Bi menjawab ia memilikinya. Ia meletakkan tangannya dibelakang seolah akan mengambil sesuatu. Namun ia tak menunjukkan barang apapun. Ia justru menunjukkan kepalan tangannya.

Emosi pria itu memuncak, ia menghampiri Eun Bi dan memegang tangan Eun Bi, yang langsung dihempaskan oleh Eun Bi. Eun Bi dan teman-temannya berbalik pergi, tapi pria itu terus memanggilnya. Eun Bi berlari menuju kearahnya, melompat dan menghajar pria itu dengan lututnya tepat dimatanya. *Biasanya orang mukul pakai tangan, tapi Eun Bi memukulnya dengan sikunya... Daebak..*
Woo Jin menahan Pria itu agar tidak jatuh. Eun Bi langsung tersenyum puas. Namun saat berbalik, ia tak senang lagi, “Ahh.. sayang sekali. Kenapa bisa ditangkis?”

Pria itu semakin marah. Ia hendak mengancam Eun Bi dan akan menyerangnya. Eun Bi sudah siap dan mengeluarkan pisaunya. Pria itu tak tahan lagi dan benar-benar akan menyerangnya, namun dihentikan oleh Woo Jin. Karena jika pria itu melakukannya dalam keadaan mabuk, maka pria itu akan dalam masalah, sebab ia masih dalam masa promosi.

Woo Jin yang meminta maaf kepada Eun Bi. Sementara Eun Bi sendiri masih bingung dengan ucapan Woo Jin. Entah ia bingung karena yang dihadapannya adalah jaksa atau bingung karena sikap Woo Jin.
Woo Jin membawa Pria itu, namun pandangannya terus kebelakang menatap Eun Bi. Teman-teman Eun Bi mengahmpirinya dan mengira bahwa Woo Jin menyukai Eun Bi.

Seorang pria menyaksikan kejadian itu dan langsung mengejar Woo Jin. Ia mengakui Eun Bi dan teman-temannya sebagai adiknya. Ia menawarkan mereka kepada Woo Jin, “Mereka adalah pelarian dari rumah dan tahu cara bersenang-senang.”
Pria yang sebelumnya ditahan melihat Woo Jin dan pria itu, namun Woo Jin tak melihat keberadaannya. Woo Jin tak menjawab ucapan pria itu dan merogoh sakunya. Pria itu sudah tersenyum senang. Tapi ia langsung ketakutan dan meminta maaf saat Woo Jin memberinya kartu namanya, yang artinya pria itu tahu bahwa Woo Jin adalah seorang Jaksa. Pria itupun langsung lari terbirit-birit.

Tak lama kemudian, pria itu menghampiri Eun Bi dan yang lain. ia meminta mereka untuk bersiap. Ia mulai bernyanyi, menari dan diikuti yang lain. Dan tanpa mereka sadari, mereka diikuti oleh tersangka pembunuhan.

Bersambung ke Part 2--> 

Komentar:
Awal nonton sudah dikejutkan dengan wajah menakutkannya Kim So Hyun. Kalau semua Jaksa seperti Woo Jin, pasti sudah banyak kejahatan yang terbongkar nih. Tapi sayang, uang masih saja yang merajai dunia ini. Meskipun sudah diketahui bersalah, masih saja dibebaskan hanya dengan iming-iming uang.
Mengutip kalimat Woo Jin, “Di dunia ini, tak ada manusia yang jadi lawanmu selamanya. Dan juga, tak ada manusia yang jadi kawanmu selamanya.” Benar tidak readers? Tentunya benar dong. Mana ada kawan dan lawan yang selamanya. Karena, sewaktu-waktu kawan bisa berubah menjadi lawanmu dan yang kini menjadi lawanmu, suatu saat bisa berubah menjadi kawanmu.
Sempat terkejut juga dengan penampilan Kim So Hyun. Sebelumnya aku fikir ia akan tampil sebagai gadis yang feminim. Tapi ternyata...


Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.

Followers

Google+ Followers