FanFiction The Gift of Love Part 4 - ChusNiAnTi

FanFiction The Gift of Love Part 4




Dengan muka memerah Jodha merapihkan sapu tangan Jalal yang menutupi pahanya. “Kalau ga bisa konsentrasi, yang jangan diliat." ujar Jodha menetupi rasa malunya. "Aku udah berusaha ga ngeliat, tetap aja terlihat.., seluruh bagian tubuh wanita itu perhiasan, sebagai lelaki normal tentu aku menyukai perhiasan itu, tapi itu bukan hak ku Jodha." timpal Jalal dengan suara tetap datar.. Dengan memonyongkan bibirnya Jodha berkata, "Jadi itu alasannya wanita Islam menutup auratnya?"
Jalal: "Mereka hanya ingin memberikan perhiasan itu hanya untuk suami mereka Jodha, alasan lainnya, menutup aurat bisa jadi pelindung mereka dari niat bejat laki-laki jahat, kamu tahu Jodha dengan menutup wanita bisa melindungi wanita dari berbagai bahanya paparan ultraviolet, jadi mereka tidak perlu sibuk untuk memncari berbagai macam produk pemutih, alasan utamanya karena mereka wanita yang ta'at akan perintah Tuhannya, ketika perintah menutup aurat pertama kali diturunkan pada zaman nabi Muhammad, para wanita muslim bergegas melaksanakan perintah itu, ada yang mengambil gorden, sprai dan kain lainnya untuk menutupi auratnya itu karena... ‘sam'ina wa 'athona.’ kami dengar dan kami ta'at.”.. Jodha: “ooh begitu ya.. mas kalau aku bukan hak mu,, ya tinggal kau jadikan aku hak mu aja, gampang kan.” (ngasih lampu hijau nih)...
#deg muka Jalal memerah,, Jalal: “Aku cukup tau diri Jodha.. kau kan bosku.” Jodha: “Emang apa salahnya, aku pernah dengar dari moti, kalau dulu Khadijah juga menawarkan dirinya untuk nabi Muhammah.” Perkataan Jodha membuat Jalal salah tinggkah, sejujurnya di relung hatinya yang terdalam ada rasa bahagia, mendengar kata-kata Jodha.. "Akh... itu cuma kata-kata selewat,, itu bukan perkataan yang serius, mana mungkin seorang Presdir memilih seorang pegawai biasa untuk jadi suaminya.” gumam Jalal dalam hatinya. Jodha: “Mas berhenti dulu.” Kata-kata Jodha mengagetkan lamunan Jalal..

Mereka berhenti di depan sebuah butik yang baru saja buka,, “Mas maukah kau mengantarku?” kata Jodha. Tanpa berkata Jalal pun turun dari mobil mengikuti Jodha. Jodha memilih baju casual yang menutupi kakinya. "Mba apa pantas aku pakai ini?” tanya Jodha pada karyawan butik. Karyawan butik: “Mengapa tidak kau tanyakan saja pada suamimu Mbak?” sambil melirik ke arah Jalal yang berada tidak jauh darinya.. Wajah mereka berdua memerah terlihat seulas senyum yang tidak bisa ditutupi, tapi mereka tidak berusaha menjelaskan kalau sebenernya mereka tidak ada ikatan apa-apa.

Sekarang Jodha sudah memakai baju yang menutupi kakinya. Jalal tersenyum sendiri, merasa geli dengan kelakuan Jodha, “Kenapa dia mendengarkanku?" ucap Jalal dalam hatinya. Jalal: “Jodha boleh aku tanyakan sesuatu, tapi ini pribadi. Jodha: “Tentu saja mas.” ucap Jodha antusias dalam hatin Jodha "Tumben mas cool, menanyakan hal-hal yang pribadi.” Jalal: “Jodha, kamu kan masih muda, ko bisa ya jadi Presdir, pasti kamu seorang pekerja keras, mungkin kisah mu bisa menginsfirasiku untuk mebangun hidupku.”

Jodha terdiam, mukanya menunduk, butiran-butiran kecil keluar dari sudut matanya. Karena tidak terdengar jawaban Jalal melihat sekilas dengan ujung matanya, dia kaget dan langsung memberhentikan mobilnya. Jodha menyeka air matanya dengan sapu tangan yang tadi diberikan Jalal. Jalal: “Jodha kenapa? Apa pertanyaanku ada yang salah? Ma'afkan aku Jodha.” Jalal panik, dia menghadap ke arah Jodha. Tangis Jodha semakin keras membuat Jalal tambah bingung. "Jodha kumohon ma'afkan aku, aku tak bisa melihatmu menagis.” ucap Jalal. Jodha: “Ga apa-apa mas, pertanyaanmu mengingatkan aku pada kejadian tiga tahun yang lalu. Ayah dan ibuku hendak pergi ke India, mereka terbang dari Jakarta jam 6 pagi, dua jam kemudian pihak bandara menghubungiku, bahwa pesawat yang mereka tumpangi hilang kontak, ternyata pesawat itu mengalami kecelakaan, tiga hari kemudian ayah dan ibuku ditemukan. tapi... tapi mereka sudah meninggal." Air mata Jodha terus keluar. Jalal hanyut dalam cerita Jodha, matanya terasa basah, ingin rasanya Jalal menyeka air mata Jodha. tapi tanganya ditarik kembali, indra nya pulih "Jangan kau sentuh, dia bukan hakmu Jalal." suara hatinya berkata. Jodha melanjutkan ceritanya "Sejak saat itu aku tinggal sendiri, aku tidak punya saudara untuk berbagi resahku mas, aku merindukan kasih sayang mereka, tapi apalah daya itu semua sudah tercatat dalam jalam hidupku.. Sejak saat itu mau tidak mau aku harus memimpin Tajmahal corp. Dengan segala kelemahan dan keterbatasanku, ingin sekali aku menambatkan hatiku pada orang yang tepat"

Tangisan Jodha sudah mulai mereda,, dia pun melanjutkan kisahnya "Aku tinggal bersama pengasuh yang sejak kecil merawatku, dia sudah mengabdi di keluarga kami sejak aku lahir, dia bernama maham angga, dia yang mengurus semua keperluanku dirumah.”. "Ma'afkan aku Jodha, telah membuatmu mengenang hari-hari menyedihkanmu." kata Jalal sambil menyalakan lagi mobil. Jodha: “Ga papa mas. Aku senang kau mau mendengar kisahku.” Mereka terpaku dalam diam. namun hati mereka telah saling membuka celah, terutama Jalal entah mengapa dia tidak mampu mencegah hatinya untuk tahu lebih jauh tentang Jodha. Joda pun merasakan ada secercah harap untuk nya menemukan seseorang yang mengerti dirinya, yang melihatnya bukan sebagai Presdir, bukan sebagai anak Bharmal sang konglomerat ternama, tapi melihatnya sebagai wanita yang butuh di pahami, butuh dilindungi, butuh di mengerti.

Merekapun sampai di tempat lelang, ternyata sangat banyak perusahaan yang menginginkan projek itu, mereka pun melakukan regristrasi, dan harus menunggu giliran untuk melakukan presen tasi, Jodha memecah kebisuan diantara mereka "Bagus-bagus presentasi mereka ya mas, aku jadi pesimis.” Jalal: “Serahkan semuanya pada yang di atas Jodha, rizki tiap orang tidak akan tertukar, aku akan berusaha memberikan yang terbaik.”

MC lelang mempersilahkan pihak Tajmahal corp. Untuk maju.. Jalal menatap Jodha sebentar, yang di tatapnya mengangguk sambil memberikan senyuman terindah yang pernah di lihat Jalal, dan itu membuat Jalal menjadi lebih semangat. Jalal pun memaparkan presentasinya, semua yang hadir terpukau dibuatnya, bahasanya yang lugas, gagasan-gagasannya, kepiawayannya memilih kata kata, didukung dengan mukanya yang menyejukan membuat siapapun enggan mengedipkan mata, tak terkecuali Jodha.. Semua yang hadir tepuk tangan saat Jalal selesai presentasi, dia pun kembali ketempat duduknya di samping Jodha. "Mas kamu hebat sekali, semoga kita yang mendapatkan projek ini" ujar Jodha. Jalal tersenyum sambil berkata "Aamiiin.” Mereka pun sabar menunggu pengumuman lelang.

Tak terasa adzan dzuhur sudah berkumandang "Jodha, aku tinggal shalat dulu ya." ucap Jalal. Jodha: “Aku ikut mas.” Jalal kerung sambil melihat kearah Jodha (kerung itu ekspresi muka ketika kedua alis hendak menyatu....silahkan mencobanya..intermezo) Jodha melanjutkan kata-katanya "Maksud aku, aku nungguin mas di luar mushola.” Jalal: “Kamu ga keberatan?” Jodha menggeleng meyakinkan Jalal (weleh-weleh Presdir ko mau-maunya nganterin anak buahnya sholat...)

Merekapun pergi menuju mushola. Jodha: “Mas, habis shalat kita makan siang ya.” Belum juga Jalal menjawab Jodha sudah mendahuluinya "Oh iya, aku lupa sekarang hari senin, kamu puasa ya? Dulu kan pertama kali kita bertemu hari senin, aku ngajakin kamu makan kamu menolaknya, karena kamu lagi puasa." Yang ditanya hanya mengangguk tanda mengiyakan. "Kalau gitu sambil nunggu kamu shalat, saya makan siang ya" lanjut Jodha dengan tingkah sedikit manja. Lagi-lagi Jalal hanya mengangguk.

Selesai makan Jodha menunggu Jalal di luar mushola. "Ternyata lamaan shalat dari pada makan" gumam Jodha dalam hatinya (kalau kita lamaan makan, Betul ga?) Tak lama Jalal pun keluar dari mushola, rambutnya sedikit basah, wajahnya yang putih nampak bercahaya membuat Jodha tak berkedip menatapnya. "Kamu udah makan?" tanya Jalal mengagetkan Jodha yang terpesona dengan aura yang terpancar dari wajah Jalal. "Udah mas"

Merekapun kembali menuju ruang presentasi untuk menunggu pengumuman pemeang lelang. Tak berapa lama setelah mereka masuk, ketua penyelenggara lelang pun maju kedepan dan berkata "Setelah melihat berbagai presentasi dan gagasan-gagasan yang di paparkan oleh berbagai perusahaan akhirnya kami para juri memutuskan TAJMAHAL corp. Sebagai pemenang lelang. " Jodha bersorak hendak memeluk Jalal, tapi Jalal segera mengngatkan Jodha dengan berbisik "Jodha ingat kau belum menjadi hak ku.”
Bisikan Jalal membuat Jodha sadar dia pun menarik tangannya yang tadi hampir memeluk Jalal, mukanya memerah. Untuk menutupi rasa malunya Jodha pun menggoda Jalal "Kalau belum.. berarti akan dong mas" sambil tersenyum dan mengerlingkan mata bulatnya, membuat Jodha nampak lucu, membuat gemas orang yang melihatnya, kalau saja bukan Jalal, pasti pipi Jodha sudah dicubitnya. Yang digoda tersipu, mukanya memerah, sambil berkata, "Jodha kau ini..."

Merekapun dipanggil untuk membicarakan lebih jauh tentang projek yang baru saja mereka menangkan, menjelang maghrib mereka baru keluar, kebahagiaan tidak bisa ditutupi dari wajah mereka. Jodha berkata "Mas, Tajmahal beruntung memiliki orang seperti kamu.” Jalal: “Jangan terlalu berlebihan memujiku Jodha, nanti aku terbang.” Jodha: “ya.. aku tinggal ikut terbang aja bersamamu mas.” goda Jodha.

Mereka masuk kedalam mobil, dan menembus kemacetan kota Jakarta. Adzan maghrib pun berkumandang. Jalal segera menepikan mobil di halaman sebuah masjid. Dia membatalkan puasa dengan meminum air mineral. Jalal: “Jodha, aku shalat dulu ya.” Jodha pun mengangguk mengiyakannya. Jodha ikut turun dari mobil, dia menunggu Jalal diteras masjid, Jalal baru selesai mengambil wudhu dan melintasi Jodha sambil tersenyum dan berkata "Tunggu ya.” Jodha membalas senyumnya sambil mengangguk. Pemandangan yang selalu dia suka ketika melihat wajah Jalal yang basah dengan air wuhu. Dalam hati nya berkata "Adem sekali hati ini melihat wajahmu mas.” Jodha duduk di teras masjid, dia merasakan kedamaian saat imam shalat melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, teras masjid terasa sejuk meskipun udara Jakarta begitu panas, angin menerpa rambutnya yang terurai. Jalal pun selesai shalat, mereka menaiki mobil kembali....... Bersambung ke Part 5


FanFiction The Gift of Love Part 4

5 comments:

  1. Asik. . . jg klu yg lbih aktif cewek . . . He he trims dtngg kljtNya.

    ReplyDelete
  2. bunda juga ikutan adeeemmm baca ff-nya.....jangan lama2 lanjutannya ya nanda :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah lanjutannya besok ya Bunda...

      Delete
  3. Sueneng. . , sueneng. . . , yg ni br jalal yg keren abiizzzz!!!

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.