FanFiction The Gift of Love Part 5 - ChusNiAnTi

FanFiction The Gift of Love Part 5



Penulis: ShenazZahra

Ketika melintasi sebuah resto, Jodha meminta Jalal untuk berhenti. Jodha: “Mas, kamu kan belum makan. Kita makan malam di sini ya. ini kan perjalanan dinas, sudah jadi kewajibanku memenuhi segala keperluanmu, kamu tidak boleh menolaknya, lagian sejak buka kamu cuma baru minum air"
Awalnya Jalal menolak, tapi Jodha terus memaksa, mengancam Jalal, untuk mau makan malam dengannya, kalau Jalal ga bersedia, dia akan akan mogok makan tiga hari "Mas, disana kan ga cuma kita berdua, disana banyak orang" ujar Jodha. Akhirnya Jalal pun luluh dan mereka pun makan malam bersama. "Mas...." Belum juga Jodha menyelesaikan perkataannya Jalal sudah memotongnya "sttt.." sambil menempelkan telunjuk kebibirnya. "Jodha, makan ga boleh sambil bicara ya.” Jodha pun cemberut memonyongkan bibirnya. Mereka pun makan dalam diam. Jodha makan sambil terus melihat Jalal dengan tatapan kesal. yang ditatap cuek bebek asyik dengan makannya, sesekali melihat kearah Jodha, “Lucu juga tingkahnya.” pikir Jalal.

Memang Jodha kadang masih kekanak-kanakan. Jodha berusaha makan dengan cepat ingin segera menyelesaikan makannya, dia pun tidak menghabiskan makanannya. Jalal hanya senyum-senyum dibuatnya. "Mas, aku sudah selesai makan. boleh sekarang aku bicara?” Jalal menyelesaikan kunyahannya, lalu berkata "Jodha makan ga boleh terburu-buru, kasian lambungmu harus bekerja ekstra, kunyah dimulutmu minimal 32 kali, itu akan meringankan kerja saluran pencernaan mu. Kamu tau Jodha, mengunyah makanan dengan lembut itu membuat tubuhmu tetap langsing.” Jodha: “Aku udah langsing ko (dengan ekspresi muka masih kesal). Jalal: “Kalau cara makanmu seperti itu terus, nanti tubuh mu bisa melar, bukannya kebanyakan wanita menginginkan tubuhnya tetap slim?” goda Jalal. Jalal melanjutkan kata-katanya "Satu lagi, kalau makan mesti di habiskan, mubadzir. Kamu tau Jodha, diluar sana banyak orang yang makannya sehari cuma sekali, bahkan ada yang sama sekali tidak makan, makanya aku berpuasa agar aku bisa merasakan bagaimana penderitaan mereka, hingga aku bisa menghargai sesuatu yang telah Tuhan berikan kepadaku.” Kekesalan Jodha mulai hilang dari wajahnya, dengan enggan Jodha pun mengabiskan makanan dipiringnya. "Makan malam yang menyebalkan." kata Jodha lirih. Jalal: “Kamu mengatakan sesuatu Jodha?” Jodha: “Ga. aku ga mengatakan apa-apa.”

"Jodha, bukannya kau tadi sewaktu makan mau mengatakan sesuatu?" kata Jalal. “Aku jadi lupa dengan yang tadi akan ku katakan...itu semua karena ceramahnya mas bawel.”.goda Jodha. Jalal hanya tersenyum. “Gini mas, projek yang kita menangkan ini pastikan butuh konsentrasi, dan pasti kalian para arsitek akan banyak menghabiskan waktu dikantor, dilantai tiga kan banyak ruangan kosong bagaimana kalau itu dijadikan mess kalian. "Jodha, masalahnya kita kan ada laki-laki dan perempuan, saya kuarang setuju kalau mereka tinggal bersama." kata Jalal. "Siapa yang nyuruh mereka tinggal bersama, kalian akan tinggal dikamar masing-masing, setiap orang punya pripasi sendiri-sendiri, dengan begitu kita akan menghemat banyak waktu.. waktu perjalanan bisa digunakan untuk bekerja, aku pun punya satu kamar khusus di lantai tersebut... ya anggap saja itu apartemen" bantah Jodha dengan sengit. "oke... baiklah Presdir, perintah siap dilaksanakan" ucap Jalal dengan mimik sedikit menggoda (ikhwan agra mulai kepancing nih...dh mulai berani godain cewe.. istighfar2 bang..)

Setelah menemui kata sepakat, mereka pun kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan pulang. “Mas, makasih banyak ya" kata Jodha. “Untuk apa?" jawab Jalal. ”Untuk sesuatu yang telah kau lakukan... untuk Tajmahal.corp, Tajmahal bangga punya tenaga2 ahli seperti kalian, kalian belum lama bergabung dengan kami, tapi loyalitas kalian telah teruji" tutur Jodha. “Itu sesuatu yang wajar dilakukan oleh setiap karyawan Jodha.”

Merekapun sampai ke kosan Jalal. "Kamu berani pulang sendiri kan?" tanya Jalal. Jodha: “Memangnya kalau saya tidak berani, mas mau nganter? terus nanti aku harus nganter kamu lagi, nanti kamu nganter aku lagi dan terus begitu sampai pagi, bisa-bisa kita ga tidur-tidur mas.”

Jam 8 pagi di Tajmahal corp. seluruh karyawan menanti kabar dari bos mereka, kabar tentang hasil lelang. Tentu saja projek besar yang diharapkan oleh siapa saja yang mengikitanya, sebuah projek yang sangat menjanjikan keuntungan yang fantastik, yang tentunya akan berimbas pada kesejahteraan mereka, tak terkecuali diruangan para arsitek mudha. Jodha dan Jalal sengaja tidak menghubungi mereka, bermaksud memberikan kejutan. Jalal hanya diam dikursi kerjanya, dengan memasang muka sedih. Rekan-rekannya mengerumuninya, "Suhu, kita gagal ya" Sayaarif mengawali pertanyaan. "nyantai aja suhu jangan di ambil pusing masih banyak peluang-peluang lainnya" timpal salman. "Iya betul, nanti kita akan lebih bekerja keras lagi" hibur Rukayah, Benazir tak ketinggalan mencari perhatian Jalal "Kalau kau sedih tatap aja aku suhu, sedihmu pasti akan hilang" "huhhhh..." semua menyoraki Benazir yang kepedean. Tiba-tiba terdengar suara speaker di pojok atas ruangan (setiap ruangan di Tajmahal corp. Selain dilengkapi dengan cctv juga ada speaker kecil di sudut atas langit-langit ruangan yang berguna untuk menginformasikan segala sesuatu yang sifatnya penting dan darurat) "Pengumuman bagi seluruh karyawan Tajmahal corp. Bawasanya perusahaan kita telah berhasil memenangkan lelang.” Suara dari speaker menggema di seluruh ruangan, sorak sorai terdengar, setiap karyawan merasa bahagia tak terkecuali di ruangan para arsitek. "Suhu kau ngerjain kita" cecar rekan rekan Jalal. "Aku hanya ingin memberi kalian kejutan.” ucap Jalal dengan wajah kembali berseri.

Jodha memasuki ruangan, "Selamat pagi semua" sapa Jodha. Mereka pun duduk mengampil posisi masing-masing di sekitar meja besar ditengah ruangan tersebut. Setelah duduk di kursi pimpinan rapat tentu dengan Jalal yang ada di dekatnya. "Saya ucapkan terimakasih banyak atas kerja keras kalian, tapi ini baru awal, tenaga dan fikiran kalian akan terkuras di projek ini." Jodha pun memaparkan rencananya untuk menjadikan lantai 3 sebagai mess mereka, seperti yang sudah dibicarakannya dengan Jalal semalam.

Hari ini Jodha membebaskan para arsiteknya untuk pindahan ke kantornya (lumayan dapat apartemen gretongan), sebuah ruangan yang cukup luas di bandingkan tempat kost mereka dulu, ada tempat tidur, kamar mandi, satu set kursi tamu, meja makan kulkas kecil, tv, lemari pakaian, dan seperangkat meja kerja. Hari demi hari mereka bergelut dengan pekerjaan, kadang sampai larut malam, kedekatan Jodha dan Jalal nampaknya sudah tercium oleh rekan-rekan mereka. Itu membuat Sayaarif cemburu, karena diam-diam ternyata Sayaarif memendam hasrat pada sang Presdir, dan tentu saja itu juga membuat gerah Ruk dan Benazir, yang memeang bersaing ketat untuk merebutkan hati sang "ikhwan Agra.” Setiap hari senin kamis, Ruk dan Bebazir sibuk menyiapkan menu special buat buka puasa Jalal, tapi semua itu belum menggerakan hati Jalal untuk hanya sekedar meliriknya.

Suatu sa'at di hari minggu, semua rekan-rekan mereka pergi untuk keperluannya masing-masing, ada yang ke toko buku, ada yang sekedar ke mall sekedar jalan-jalan mengusir kejenuhan pekerjaan, tapi Jalal memilih istirahat dikamarnya sambil membaca buku. Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk. "tok..tok..tok" Jalal pun beranjak dari duduknya dan membukakan pintu, alangkah terkejutnya ternyata Benazir. Benazir: “Mas, aku ga kuat kebelet, ikut ke air, toiletku rusak. “kenapa ga ikut ke kamar Ruk atau Fat?” “Semua pada pergi.” Tanpa menunggu persetujuan Jaal, Benazir nyeruduk masuk ke kamar Jalal, dengan ekspresi muka kebelet (bayangin aja sama pembaca ya bagaimana muka kebelet) Jalal hanya bengong, melihat Benazir yang mengambur ke kamar mandi, tapi tak lama kemudian Benazir sudah keluar dari kamar mandi. Dan.. dan.. hampir tanpa busana. "Astaghfirulloahaladzim" seru Jalal sambil membuang muka. "Kamu gila Benazir, cepat pakai bajumu lagi." teriak Jalal. “Mas... kamu ga usah munafik, sebenarnya kamu menginginkannya kan?” dengan berjalan lemah gemulai mendekati Jalal. "STOP" bentak Jalal "Pakai bajumu lagi, atau aku panggil satpam untuk mengusirmu dari kamarku.” sambil melangkah menuju telepon yang tergeletak di meja. Benazir pun frustasi dengan usahanya yang gagal menggoda Jalal, dia pun mengenakan pakaiannya kembali. "Cepat keluar dari kamarku!!!" Jalal kembali membentak. Benazir pun keluar dari kamar Jalal, pada saat yang bersamaan Jodha keluar dari lift, dengan ekspresi muka kaget dia mendekat ke arah pintu kamar Jalal. Merasa mendapat kesempatan untuk merenggangkan hubungan mereka Benazir berkata dengan suara sedikit keras “Mas, makasih ya... kamu hebat." diakhiri dengan senyum licik penuh kemenangan.

Jalal kaget melihat Jodha sudah berdiri di depan pintu kamarnya.  “Mas????" dengan ekspresi muka tak percaya dan penuh tanya, mengharap kejelasan atas apa yang telah dilihat dan didengarnya. Jodha pun melanjutka kata-katanya "Kau munafik mas, aku kecewa." sambil berjalan cepat menuju kamarnya dengan deraian air mata yang tak tertahan terus memaksa keluar dari sudut matanya, Jalal berusaha mengejar sambil berkata "Jodha, itu semua tak seperti yang kau lihat, kau salah paham"  tapi Jodha sudah masuk kekamarnya dengan membanting pintu, Jalal berusaha mengetuk2 pintu kamar Jodha "Jodha.. Jodha.. Jodha kumohon dengarkan aku" dengan suara sedikit berteriak, tapi usahanya sia-sia, pintu kamar tetap tertutup rapat. Jalal memegang kepala dengan kedua tangannya, memejamkan matanya sebentar sambil menarik napas kemudian membuangnya dengan cepat menandakan rasa kesal yang amat sangat (silahkan pembaca praktekan..) dia berbalik ke arah Benazir yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamarnya sambil tersenyum bahagia melihat peandangan yang baru saja di saksikannya. "KAU PUAS SEKARANG!!!" teriak Jalal dengan mata sedikit melotot (tapi tetep ganteng), Benazir terkekeh merasa telah menang. “Aku memang tak berhasil mendapatkanmu mas, tapi aku berhasil menjauhkan mu darinya.” Jalal masuk ke kamarnya dengan membanting pintu meninggalkan Benazir yang masih tetap tersenyum penuh arti. (ikhwan agra lagi galau nih...) 

Di kamar Jodha telungkup diatas kasur dengan muka di tindih bantal, menangis sejadi-jadinya sambil berkata sendiri “Mengapa antara ucapan dan perbuatanmu berbeda, mas.. mengapa didepanku kau begitu 'alim tapi dibelakangku kau tak bedanya dengan pria hidung belang, kau munafik, kau munafik, aku benci kamu" teriaknya. HP nya berdering dilihatnya sekilas nama yang tertera di layar, tertulis nama ‘Mas bawel.’ yang berarti itu sang ikhwan agra, Jalal. Jodha enggan mengangkatnya, dan Jodha pun mematikan HP nya....... Bersambung ke Part 6


FanFiction The Gift of Love Part 5

4 comments:

  1. Haduhhhh...... Kasian jalak joda.,..benazir emang biang kerok.

    ReplyDelete
  2. Lanjut donk....... Jdi penasaran....

    ReplyDelete
  3. lanjut dong emba....makin amazing aja ff nua

    ReplyDelete
  4. iiissshhh.....benazir emang ular berbisa deeehhh

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.