FanFiction The Gift of Love Part 6 - ChusNiAnTi

FanFiction The Gift of Love Part 6



Penulis: Shenazzahra

Tangisan Jodha mereda dia duduk mengandat di tempat tidur sambil memeluk boneka hello kitty teman setianya... matanya bengkak.. menarik napas panjang “Mengapa aku harus marah pada nya, dia bukan siapa siapa ku, aku tidak punya hak memarahinya, dia mau ngapain, mau dengan siapa itu bukan urusanku.” suara hatinya berusaha menghibur. "tapi mengapa, hati ini sakit, saat melihat dia dengan wanita lain dikamarnya." (sakitnya tu disini didalam hatiku.. sakit... sakit.. intermezo) Terngiang kembali di telinganya saat Benazir mengatakan “Makasih ya mas, kau hebat.” Hatinya kembali berkecamuk, “Memang ngapain aja mereka di dalam kamar samapi bilang mas bawel hebat" Jodha memejamkan matanya, dia tak kuasa membayangkan apa yang Benazir dan Jalal lakukan sebelum kedatangannya, hatinya terasi disayar pedang raja Jalaludin di serial Jodhaakbar..

Di kamar Jalal duduk dikursi bertopang dagu, tatapannya kosong tapi fikirannya melayang. Jalal shock dengan apa baru saja dialaminya. Kalau lagi galau biasanya Jalal menelpon ibunya "Hamidah" yang tinggal di Malang, dia curahkan segala hal yang dialaminya. ibu Hamidah mengerti dengan apa yang di alami anak semata wayangnya "coba kau baca surat Yusuf mulai ayat 23, kau akan menemukan kisah Yusuf dan Zulaikha, mintalah petunjuk pada Robb mu, Tuhan yang menggenggam setiap hati, yang maha membolak balikan qolbu" kata ibu Hamidah dari ujung telepon, memberikan petuah...

Setelah mendengar suara ibunya, Jalal mulai sedikit tenang.. dia beranjak untuk mengambil wudhu, dan pendirikan shalat dua rakaat, Jalal larut dalam sujudnya yang panjang.. dia bermunajat pada Roon nya, tentang fitnah yang baru dialaminya... untaian do'a mengalun sayaahdu dari mulutnya yang selalu basah dengan dzikir, diraihnya mushaf Al Quran, dia buka surat ke 12 surat Yusuf, lalu membacanya mulai ayat 23 suaranya lirih menandakan luka pada jiwanya, dia buka tafsir ayat tersebut, bagaimana Yusuf di goda oleh Zulaikha, namun tetap teguh, karena ketakutan pada Tuhannya melebihi ketakutannya pada siapapun... "ya Alloh Engkau maha menyaksikan setiap kejadian, aku tidak peduli pada pandangan manusia, pada penilaian manusia, aku tidak peduli dengan pencitraanku, aku hanya peduli pada penilaiyanMu ya Robbi.” Jalal menarik nafas panjang, ketenangan mulai menyelusup ke relung hatinya.

Pintu kamar ada yang mengetuk sambil terdengar suara laki-laki mengucap salam "Assalamu'alaikum....” "wa'alaikumsallam" Jawab Jalal sambil membuka pintu, rupanya Hasan sahabatnya. “Masuklah" kata Jalal dengan ekspresi datar, mukanya sendu, matanya sedikit bengkak."kau kenapa akhi?" (akhi adalah panggilan sesama aktivis dawah untuk seorang ikhwan) tanya Hasan sambil menutup pintu, "tumben-tumbenan Jalal galau, sepertinya ada masalah serius" gumam Hasan dalam hatinya. Mereka pun duduk di kursi. "aku bawakan nasi padang kesukaan mu, kau belum makan siang kan?" lanjut Hasan. Jalal: “sayaukan.. tanpa sedikitpun melihat kearah nasi padang, napsu makannya telah hilang. Hasan: “ada apa? berbagilah denganku.” Jalal tetap membisu, karena tidak ada jawaban Hasan kembali bicara "kita cari udara segar yuk, di ujung jalan ada taman yang sejuk, sepertinya kau terlalu jenuh berada di ruangan ini.” Jalal pun mengangguk mengiyakan.

Ternyata pada saat yang bersamaan Jodha juga keluar dari kamarnya, Hasan mengangguk hormat pada sang presdir, Jodha pun balas mengangguk dengan sedikit senyum yang dipaksaan, matanya lebih bengkak dari mata Jalal. Sekilas Jalal menatap ke arah Jodha, yang ditatap membuang muka. Hasan bingung dengan kelakuan bos dan sahabatnya, "sepertinya ada masalah diantara mereka." kata Hasan dalam hatinya.

Merekapun menuju kearah lift. Mau tidak mau mereka harus masuk litf bersama, di dalam lift Jalal berdiri di pojok kanan Jodha berdiri di pojok kiri Hasan berada diantara mereka. semuanya diam membisu, dari pantulan dinding lift Jodha menatap sengit Jalal, Jalal balas menatap sekilas kemudian menundukan pandangannya terlihat wajah yang tak bersalah, meski sangat nampak kesedihan di matanya. dalam hati Jodha "bahkan kau tak berusaha menjelaskannya mas.” dalam hati Jalal: “tatapanmu penuh kebencian Jodha, aku sakit ditatap seperti itu olehmu, mengapa kau tidak berusaha mencari kebenarannya.” dalam hati Jodha: “semuanya sudah jelas mas, aku yang terlalu berharap banyak padamu, tapi hatimu telah kau berikan pada yang lain...”

Setelah pintu lift terbuka Hasan keluar pertama, Jalal dan Jodha hampir bersamaan melangkah, hingga mereka hampir bertubrukan, untung Jalal mundur lagi dan mempersilahkan Jodha terlebih dahulu dengan isayarat tangannya, "kau begitu menghargai wanita mas" batin Jodha, setelah melihat utuk kesekian kalinya, bagaimana sikap Jalal ketika menghadapi wanita, terbayang kembali diingatannya ketika Jalal tak mau menyentuh tangannya ketika perkenalan dulu, ketika menundukan pandangan saat berbicara dengan wanita, ketika mengeluarkan sapu tangan untuk menutupi pahanya, ketika memperingatkan untuk tidak memeluknya saat pengumuman pemenang lelang, bayangan-bayangan itu muncul satu persatu di benaknya, ingin sekali rasanya Jodha mengajak Jalal bicara menanyakan kebenarannya, namun keegoan hatinya melarangnya "semuanya sudah jelas Jodha, tidak ada yang perlu kau tanyakan lagi, sudahlah apa yang kau harapkan dari lelaki semacam dia.”

Jodha pun bergegas pergi mempercepat langkahnya menuju tempat parkir, Jalal hanya bisa menatapnya dengan tatapan pasrah, dia melangkah bersama Hasan menuju sebuah taman (mas Jalal di Bandung banyak taman nih tinggal milih mau taman Jomblo, taman musik, taman film, taman lansia,..intermezo), mereka duduk di sebuah bangku di bawah sebuah pophon Flamboyan yang rindang, Jalal menarik napas panjang, menghirup oksigen yang terasa begitu segar, sedikit menyamankan hatinya. Hasan memulai pembicaraan "teman, apa yang sebenarnya terjadi?.” "kau mau mendengarnya?” Ucap Jalal balik bertanya. "tentu saja.” Jalal pun memaparkan dengan jelas apa yang terjadi mulai dari Benazir yang menghambur tanpa permisi, sampai Jodha yang melihat Benazir keluar dari kamarnya.” Hasan mendengarkan dengan antusias, ekspresi mukanya menandakan dia turut berempati, Hasan ikut geram dengan apa yang dilakukan Benazir. Jalal melanjutkan ceritanya "Aku sudah berusaha memberi penjelasan, tapi dia tidak memberiku kesempatan.” "Apa kamu sama presdir punya hubungan khusus?" selidik Hasan.

"Apa maksudmu?" tanya Jalal. "begini loh, setelah aku dengar ceritamu, memang wajar seorang presdir akan marah bila melihat anak buahnya, yang dia fikir berbuat “Mesum", tapi aku fikir yang dilakukan bu Jodha bukan sikap marahnya sebagai bos ke karyawannya, tapi lebih pada sikap marah seorang wanita yang melihat laki-laki nya selingkuh, trus melihat reaksimu yang mengejar presdir dan mengetuk-ketuk kamarnya, menelponnya, itu aku lihat seperti seorang lelaki yang tidak ingin kepercayaan istrinya hilang.” Hasan teruas mencecar Jalal dengan analisa-analisanya. Muka Jalal memerah mengetahui Hasan bisa membaca isi hatinya, dia berusaha mengelaknya "kami tidak ada hubungan apa-apa, hubungan kami hanya sebas hubungan kerja, memang dia seorang yang cantik, pintar, baik, kaya, sempat terbersit harap dihatiku, tapi aku berharap wanita yang jadi pendamping hidupku mempunyai aqidah yang sama denganku, yang mempunyai visi yang sama dalam mendidik anak-anak kami, yang bisa jadi ibu dan pengurus rumah tangga, karena ibu adalah madrosatun ula, sekolah pertama untuk anak-anak ku nanti, tentu aku menginginkan seorang istri yang seiman, yang ta'at, kenyataan itu membuat aku mengurungkan keinginanku.”

Ditempat lain Jodha sudah samapai di rumahnya, Jodha duduk di ayunan di halaman rumah yang luas penuh dengan warna-warni bunga yang bermekaran, kontras dengan suasana hatinya yang layu sebelum berkembang "apa aku pecat Benazir aja ya, tapi betapa tidak propesionalnya aku, mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan,,, lebih baik aku tanyakan saja sama Hasan, tentang apa yang sebenarnya terjadi, Hasan kan dekat dengan mas bawel, pasti dia menceritakan segalanya" tekad Jodha sudah bulat, akal sehatnya mulai berfungsi, tidak terhalang lagi oleh cemburu butanya.

Maham Anga mengagetkan lamunan Jodha, "Nona, aku bawakan Jus apel kesukaanmu,,, ada apa? sepertinya nona sedang ada masalah, mata nona begitu sembab, saya buatkan masker mentimun ya, itu berfungsi mengecilkan pori-pori, dan menghilangkan sembab di mata mu"

Keesokan harinya Jodha berangkat kekantor pagi-pagi sekali, itu membuat Maham Angga kaget. “Mau ada meeting yang penting non, pagi-pagi buta udah mau berangkat.” "takut macet bi" jawab Jodha. Sebenarnya sejak semalan Jodha tak bisa tidur, ingin rasanya cepat-cepat pagi, Jodha memang bukan tipe orang yang suka membiarkan masalah berlarut-larut, ia ingin sekali segera menemui Hasan.

Akhirnya Jodha pun sampai di kantor Tajmahal Corp. Satpam yang tengah ngantuk karena begadang semalaman, tergopoh-goboh membukakan pintu gerbang, sambi memberi hormat. Setelah memarkir mobilnya Jodha pun bergegas menuju ruang kerjanya, semuanya masih sepi, jam ditangannya menunjukan pukul 6 pagi. Jodha segera menelpon kamar Hasan "Pa Hasan, bisa keruanganku sekarang?.” "siap bu, saya segera kesana" jawab Hasan, yang memang sudah bagun dari subuh tadi, ketika melewati kamar Jalal, terdengar lantunan ayat suci Al Qur'an, sudah jadi rutinitas Jalal menunggu pagi dengan tilawah Al Quar'an.

Hasan pun tiba diruang kerja Jodha, mengetuk pintu, dan dipersilahkan masuk oleh bu presdir. "Ada apa bu, anda memanggil saya sepagi ini?" tanya Hasan penuh penasaran. "begini pa Hasan, sebenarnya saya malu menanyakan ini pada anda, ini bukan masalah pekerjaan" Jodha menarik napas "ga usah sungkan bu, selama saya bisa membantu, tidak ada masalah bagi saya." jawab Hasan. "saya tau pa Hasan teman dekatnya mas... eh pa Jalal, mungkin dia menceritakan sesuatu pada anda" Jodha pun menceritakan semua kejadian yang terjadi kemarin dengan jelas dan detail pada Hasan. "begitu pa Hasan" Jodha menutup ceritanya. "sebenarnya waktu kita kemarin bertemu di lift, saya sudah menebak ada masalah yang terjadi antara ibu dan teman saya, kemudian kami ke taman, dan Jalal menceritakan semuanya pa saya" Hasan pun menceritakan apa yang dikatakan Jalal kepadanya, Jodha mendengarkan dengan seksama, "hah, jadi seperti itu kejadiannya" Jodha shok, ada rasa bersalah yang menyelimuti relung hatinya, rasa kecewa pada dirinya sendiri karena terburu-buru menilai buruk pada mas bawelnya.

"Saya tidak pernah melihat Jalal segalau ini sebelumnya bu, biasanya dia tetap cool, menghadapi berbagai masalah, tapi entah mengapa dia begitu takut kehilangan kepercayaan mu" lanjut Hasan, hati Jodha mulai berbuanga2..harapannya tumbuh kembali. "Apa lagi yang dia ceritakan?" tanya Jodha kembali seperti ingin tau apa yang sebenarnya dirasakan Jalal kepadanya. "saya ga enak bialngnya bu" jawab Hasan. "katakan saja ga pa pa, saya siap mendengarkan, meski itu kenyataan yang pahit sekalipun.” Hasan berfikir sejenak menimbang-nimbang apakah dia harus menyampaikan apa yang dikatakan Jalal kemarin, tentang mimpinya yang ingin punya istri seaqidah dengan nya, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menceritakannya, masalha nanti Jalal akan memarahinya,dia siap menanggungnya... "begitu bu, isi Hati Jalal yang sebenarnya" Hasan menutup ceritanya, kekecewaan nampak di muka Jodha, melihat kenyataan dia beda keyakinan dengan sang pujaan hati, pangeran impiannya. Jodha pun, mengucapkan terimakasih atas bantuan Hasan yang telah menjernihkan masahnya dengan Jalal, diapun mempersilahkan Hasan pergi, dengan sebelumnya meminta menyampaikan pesan agar Jalal menemuinya..... Bersambung ke Part 7


FanFiction The Gift of Love Part 6

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.