FanFiction His First Love Chapter 17 Part 2 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 17 Part 2



Written by Samanika
Translate by Marnia

Sementara itu, Jodha sedang beristirahat, sambil memikirkan tentang strategi penjualan yang baru untuk presentasinya pada Jalal nanti. Dia juga memikirkan tentang hal-hal yang terjadi di klub semalam, serta perkataan Jalal padanya saat dia mengantarnya pulang.
Jodha: "Kenapa Pak Presiden meminumnya, kalau dia memang membencinya? Padahal dia tahu kalau nantinya dia akan mabuk berat. Kalau orang lain pasti akan langsung membuangnya saja. Aku tidak mengerti. Dia sangat memujiku semalam sampai membuatku merona. Ada apa denganku? Badhkan aku sudah pernah dipuji oleh banyak orang, tapi tak pernah sampai membuatku merona seperti ini. Dan Jodha,, kenapa kau begitu mengaguminya saat berdekataan dengannya semalam? Bagaimana jika semalam dia terbangun? Uhh,,, semua ini membuatku bingung. Aku harusnya berdoa saja pada Kanha untuk menjernihkan pikiranku."

Tiba-tiba, ponsel Jodha berbunyi. Dia langsung menjawabnya.
Jodha: "Hai, Salima."
Salima: "Hai, Jodha. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja?"
Jodha: "Iya, Salima. Aku baik-baik saja. Aku merasa lebih baik setelah semalam, karena telah membagi ceritaku pada kalian."
Salima: "Aku juga senang kau sudah berbagi cerita padaku dan Ruqaiyya. Lalu, apa kau bebas hari ini?
Jodha: "Iya, benar. Kenapa ?"
Salima: Ruqs dan aku ingin berdiskusi tentang hal yang kau ceritakan pada kami semalam. Jadi kami putuskan untuk beekumpul dirumahku."
Jodha: "Bisakah kita mendiskusikannya di kantor saja?"
Salima: "Kalau dikantor akan sulit untuk melakukannya, karena kita harus bekerja dan tidak akan punya banyak waktu. Dia orang-orang bisa curiga, apalagi si Lintah itu. Jadi aku putuskan untuk beekumpul dengan kalian disini."
Jodha: "Hhm,, baiklah. Tapi aku harus beralasan apa pada Ibu dan Ayahku? Mereka tidak tau tentang hal ini."
Salima: "Bilang saja kalau kau lagi butuh bantuanku dengan pekerjaan kantormu. Bawa saja laptopmu agar lebih meyakinkan."

Jodha agak ragu kalau berbohong pada ortunya. Tapi dia putuskan untuk tetap pergi saja. Karena ortunya juga sudah tahu dimana Salima tinggal. Jadi tak masalah baginya apa yang akan di lakukan dirumahnya Salima.
Jodha: "Baiklah, aku akan segera kesana. Kapan aku harus datang?"
Salima: "Datanglah stelah jam makan siang, sekitar jam 2."
Jodha: "Baiklah, Salima. Terima kasih banyak. Hanya demi membantuku dngan hal ini, kau sampai harus meluangkan waktumu. Dan...
Salima: "Jodha, kau adalah temanku dan aku selalu senang untuk membantumu. Jadi jangan cemas dan datanglah kerumah jam 2."
Jodha: "Baiklah."

Jodha lalu menutup teleponnya. Setelah berbicara dengan Salima membuatnya cukup merasa lebih baik dan yakin bahwa masalah ini kan segera terpecahkan.

Kemudian Jodha pergi menemui Ibunya dan mengatakan rencananya.
Ibu: "Tapi sayang, buat apa lagi? Bukankah semalam kalian sudah bertemu?"
Jodha: "Ibu, semalam kami hanya bersenang-senang. Hari ini kami akan membahas tentang pekerjaan. Aku membutuhkannya untuk membantuku mengumpulkan sebuah berkas penting."
Ibu: "Baiklah, sayang. Sesuai keinginanmu. Kapan kau akan pergi?"
Jodha: "Setelah makn siang, sekitar jam 2."
Ibu: "Baiklah, kalau begitu makanlah sebelum pergi."
Jodha: "Iya, bu."

Jodha lalu pergi mandi, lalu berdoa pada Kanha. Karena dia masih memiliki banyak waktu, jadi dia luangkan waktunya untuk menonton TV.

Di tempat lain, Jalal masih terus memikirkan apa yang sudah dia perbuat. Dia masih tidak tahu kenapa dia harus menyelamztkan Jodha. Bahkan dengan berdoa pun tak bisa membantunya menjernihkan pikirannya yang bingung.

Waktu berlalu begitu cepat, dan tiba waktunya bagi Jodha untuk pergi kerumah Salima. Dia mminta izin pada Ibunya lalu bergegas pergi. Rumahnya salima hanya bejarak setengah jam perjalanan. Jodha pun tiba dirumahnya Salima, dan langsung memencet bel pintu. Salima lalu datang membukakan pintu.
Salima: "Hai, Jodha. Masuklah."
(Jodha memasuki rumah Salima. Ruqaiyya yang sudah tiba sebelumnya, langsung berdiri memeluk Jodha)
Ruqaiya: "Aku senang sekali kau datang, Jo. Salima dan aku sangat cemas padamu setelah apa yang kau ceritakan."
Jodha: "Aww,, ruqs. Aku merasa lebih baih sekarang. Berhentilah mencemaskanku."
Ruqaiya: "Ha baba, Okay.."
Salima: "Ayo, teman-teman. Duduklah."

Ketiganya lalu duduk di dekat meja makan. Salima membawakan milkshake rasa mangga dengan es krim untuk mereka nikmati. Jodha dan Ruqs langsung mencicipinya.
Jodha: "Salima, minuman ini luarbiasa."
Ruqaiya: "Iya, aku setuju, Jo. Ini enak sekali."
Salima: "Makasih, girls. Jika boleh, mari kita mulai mendiskusikan apa yang harus kita rencanakan."
Ruqaiya: "Maksudmu tentang Adham sir alias si Lintah? Tentu saja."
Jodha: "Benar, Salima."
Salima: " Kita harus memikirkan sesuatu yang akan sangat membantu kita. Maksudku, kebenaran tentang Benazir dan si Lintah itu harus segera terungkap di depan Bos, dan si Lintah itu harus diberi pelajaran atas perbuatannya pada Jodha."
(Ketiganya lalu berpikir, hingga akhirnya Jodha teringat sesuatu)
Jodha: "Oh iya,, aku lupa memberitahu kalian sesuatu semalam. Di malam saat aku sedang bekerja hingga larut di kantor, dan setelah aku kembali dari toilet, saat itu aku mendengar percakapan mereka."

*Flashback*
Jodha yang sudah kembali dari toilet lalu mendengar suara-suara yang dari arah kantor Adham.
Jodha: "Ya Dewi Amba, apa yang kedua orang ini rencanakan? Tapi aku harus terus mendengarkan peecakapan ini demi kepentingan perusahaan ini." Batinnya.
Jodha perlahan berjalan mendekati kaca pembatas dan mendengarkan percakapan mereka yang dengan suara pelan, namun jelas.
Benazir: "Adham, dimana kau menyimpan data akun yang asli? Data-data yang Atgha berikan padamu."
Adham: "Benazir, jangan khawatir. Mereka aman di brankas bersidik jari dan berteknologi tinggi dirumahku."
Benazir: "Berhentilah pamer. Pastikan saja tidak ada yang tahu tentang keberadaannya."
Adham: "Jangan khawatir, sayang. Tak akan ada yang tahu kalau aku telah mengubah jumlah uang di data-data akun itu, dan sudah kuserahkan pada Jalal. Dia tak akan pernah tahu kalau data-data itu palsu, karena tanda tangan kita berdua yang menjadikannya terlihat asli. Atgha itu bodoh. Dia bodoh karena lebih memilih menyerahkan data yang asli padaku, bukannya pada Jalal."
Benazir: "Atgha telah memberikan kita peluang untuk menutupi jejak kita. Jika tidak, Jalal pasti akan curiga kalau ada sesuatu yang melenceng. Jadi, aku rasa Atgha telah menyelamatkan kita, walaupun tanpa disadarinya. Ngomong-ngomong, data akun tahun berapa saja yang kau punya?"
Adham: "Data akun selama 4 tahun terakhir ini yang ada padaku. Jalal yang malang, dia tak akan pernah menemukannya, bahakan jika dia mau."

Mereka berdua lalu tertawa bersama. Jodha langsung terkejut seketika mendengar hal itu. Dia bingung harus bereaksi apa. Dia ingin berdiri agak lama dan terus mendengarkannya, tapi saat itu sudah sangat larut dan dia harus segera pulang.
Jodha: "Ya Khana, apa yang barusan aku dengar ini? Mereka bedua sungguh pengkhianat yang keterlaluan. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku meras tdk tahan untuk mendengarkan ini lebih lama lagi. Aku harus pergi saja."
*Flashback End*

Ruqaiya: "Jodha, itu mengejutkan sekali!"
Salima: "Iya, Jodha. Kau sungguh telah memberikan informasi yang sangat berguna. Tapi kita harus mencari cara untuk mejadikannya keuntungan kita."
Jodha: Bagaimana kalau kita beritahu saja Pak Presiden?"
Ruqaiya: "Kita tak bisa memberitahunya, Jo. Kita ini hanya karyawan. Bos takkan percaya pada kita. Dia lebih mengenal Benazir dan si Lintah itu sejak lama."
Salima: "Ruqs benar, Jodha. Jika kita memberitahunya tentang hal ini, ada kemungkinan besar kalau itu akan balik melawan kita. Juga, si Lintah itu dapat membuat kita kesulitan saat di kantor, jika dia tahu kalau kita punya informasi ini untuk melawannya."
Ruqaiya: "Bahkan, kita lupa menceritakanmu tentang seorang wanita bernama Shivani dulu. Tak ada yang begitu tahu apa yang terjadi padanya, tapi dia pernah mengadukan si Lintah itu pada Bos. Dan langsung Bos memanggilnya untuk dimintai penjelasan. Tapi si Lintah itu berkata kalau dia yang akan mengatasi jalan keluar dri masalahnya sendiri. Dan Bos mempercayainya. Tapi wanita itu malah tak henti-hentinya terkena masalah dari si Lintah itu. Dia sudah tak tahan menghadapinya, hingga dia pun meninggalkan perusahaan. Dan sekarang, dia bisa leluasa melakukan hal sama pada kita."
Salima: "Jika kita tak bisa memakai cara yang layak, maka kita harus memakai cara yang curang."
(Jodha langsung teringat sesuatu)
Jodha: "Oke, tolong jangan tertawa setelah aku mengatakan ini, karena ini agak sedikit gila. Bagaimana kalau kita ambil kembali data-data itu dari rumahnya?"
Ruqaiya: "Bagaimana caranya? Dia adalah Wakil Presiden di perusahaan, dan rumahnya itu sangat besar sekali. Dia pasti punya banyak penjaga disekitar rumahnya. Akan sulit untuk masuk tanpa ketahuan."
Salima: "Tunggu, itu mungkin saja. Si Lintah itu akan merayakan ulang tahunnya sebulan lagi. Dia selalu menjadi tuan rumah dari pesta besarnya sendiri di rumahnya itu, dan hanya para pria saja yg diundang. Tapi kita harus mencari cara untuk bisa masuk. Karena hanya saat itulah kesempatan kita."
Jodha: "Tapi Salima, kau bilang tadi hanya pria saja yang diundang. Bagaimana bisa kita bertiga masuk tanpa menarik perhatian mereka?"
Salima: Beberapa karyawan dikantor termasuk Bos selalu diundang setiap tahunnya. Para tamunya memang pria, tapi semua pelayan dan bartendernya adalah wanita. Akan ada pertunjukkan juga yang akan dimeriahkan oleh wanita."
Jodha: "Jadi maksudmu, kita harus menyamar jadi pelayan?"
Salima: "Iya!"
Ruqaiya: "Tapi tunggu, bahkan jika kita berhasil masuk ke dalam, bagaimana caranya kita akan membuka brankasnya?" Aku harap kau ingat, kalau kita bisa membukanya hanya dengan menggunakan sidik jari si Lintah itu."
Salima: "Jangan cemaskan hal itu. Kita pasti bisa mendapatkan sidik jarinya."
Jodha-Ruqaiya: "Caranya?"
Salima: "Percayakan saja padaku. Itu sudah kupikirkan. Akan kuberitahu saat waktunya tiba."
Jodha: "Tapi Salima, aku yakin pasti si Lintah itu akan menyewa beberapa agen untuk menyiapkan semua pengaturannya. Jadi, mereka pasti akan memeriksa pelayannya juga, 'kan? Lalu, bagaimana kita bisa berhasil masuk?"
Salima: "Setiap tahunnya, walaupun si Lintah menjadi tuan rumah, tapi semua pengaturannya akan diurus oleh Javeda, sekretarisnya. Dia adalah sahabatku. Dia bisa memasukkan kita ke dalam pesta."
Rup: "Tapi Salima, tidakkah menurutmu itu terlalu beresiko membiarkannya mengetahui rencana kita?"
Salima: "Jangan khawatir, Javeda itu agak bodoh. Bukannya mengatakan dia memang bodoh, tapi dia mudah untuk dikelabui. Kita bisa memberikan alasan yang tak masuk akal, lalu meyakinkannya untuk masuk. Ditambah lagi, dia sangat tergila-gila terhadap si Lintah itu. Jadi, kita bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan informasi yang lebih."

Ruqaiyya langsung terlihat yakin sekali akan penjelasan Salima. Namun, Jodha malah merasa ketakutan.
Jodha: "Entahlah, Salima. Aku rasa kita terlalu banyak mengambil resiko."
Salima: "Aku tahu, Jodha. Tapi inilah satu-satunya cara untuk bisa mengungkap kebenarannya, karena ini akan menjadi bukti dari perbuatn keji mereka. Ini juga bisa menjdi cara yang tepat untuk membalas perbuatan si Lintah itu padamu."

Jodha memikirkan perkataan Salima. Dia tahu bahwa ini satu-satunya cara untuk mengungkap kebenarannya di hadapan Jalal. Dia juga ingin membalaa jasanya karena telah menyelamatkannya dari Adham.
Jodha: ("Jika dia bisa mengambil resiki dengan membahayakan kesehatannya demi aku, maka aku juga harus bisa melakukan hal yang sama." Batinnya) "Iya, baiklah! Ayo kita lakukan ini, girls..."

Mereka lalu saling berpelukan. Rencana mereka untuk mengungkapan kebenaran tentang Adham dan Benazir, telah menjadi tujuan mereka.


FanFiction His First Love Chapter 17 Part 2

6 comments:

  1. Waaahhh...mulai nervouse nih bacanya, kaya'nya banyak skali kemungkinan mereka ketahuan...duuuhhh ikut degdegan jadinya bunda, jangan lama2 lanjutannya ya nanda, biar bunda nda lama2 nervousenya :-D

    ReplyDelete
  2. mbk chus cpet diungkap ya kejahatan benazir dan adam,udh gemes bgt 😲

    ReplyDelete
  3. Asyiiiik nih bentar lagi ketahuan... lanjuuuiut tq

    ReplyDelete
  4. Memikirkan rencana 3 dara itu, jadi ikut senewen. Ketauan gak yaaaa........ ChuuuuusN.........

    ReplyDelete
  5. Gak sabar utk nguin mgu dpn arum...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.