FanFiction His First Love Chapter 18 Part 1 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 18 Part 1



Written by Samanika
Translate by Marnia

Jodha pulang dari rumah Salima di siang hari (menjelang sore). Dia masuk kerumah dan melihat orangtuanya yang sedang menikmati tidur siang kamar, dia tersenyum melihat mereka yang sedang berbaring bersama. Dia merasa kalau orangtuanya adalah pasangan yang sempurna. Jodha menginginkan hubungan dengan suaminya nanti seperti orangtuanya. Dia menginginkan suami impiannya sama seperti Ayahnya. Saat sedang melihat kebersamaan mereka, Jodha penasaran, kapan dia akan dipertemukan dengan Pangeran Impiannya.
Jodha adalah orang yang romantis dan menyukai film serta novel romansa. Dia berharap akan di pertemukan dengan seorang pria yang dapat membuatnya terpesona dengan kebaikan, hati yang besar, cinta, dan kepedulian dari si Pria. Pria impiannya harus selalu mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayangnya pada Jodha.
Jodha pun menghela napas dan berjalan masuk menuju kamarnya sendiri untuk mengganti pakaian.

Jalal yang tadinya sedang tertidur, langsung terbangun di karenakan oleh segala kekacauan dan kegelisahan yang masih menyelimuti pikirannya. Dia merasa bingung. Dia pun bangkit dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Bahkan dalam tidurnya pun, dia hanya bisa memikirkan satu hal. Akhirnya, dia memutuskan untuk menghubungi Benazir, untuk mengalihkan semua kegelisahan yang menderainya.
Benazir: "Hai, Sayang. Bagaimana kabarmu? Mengapa kau tak pernah lagi menghubungiku?"
Jalal: "Maaf, Sayang. Selama ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan."
("Maaf karena telah berbohong. Selama ini aku banyak memikirkan tentang Jodha, hingga siapapun akan mengira kalau aku terobsesi dan posesif padanya." Batinnya.)
Benazir: "Oh, oke. Aku tak pernah melihatmu sesibuk ini, jadi aku berpikir kalau kau pasti sengaja menghindariku."
Jalal: "Tidak, Sayang. Bagaimana bisa aku sengaja menghindarimu. Kau tahukan klu aku mencintaimu?"
("Well, setidaknya aku berpikir begitu. Tapi aku tak pernah merasakan ketidakcocokan seperti ini dengan Benazir sebelumnya. Aku tak pernah meras risih untuk menelponnya. Lagi pula, dia adalah kekasihku. Aku punya beberapa tanggung jawab terhadapnya. Aku harus menebusnya." Batinnya.)
Benazir: "Jalal, apa kau masih disana?"
Jalal: (Tersadar dari lamunannya) "Iya. Hey, bagaimana kalau kita pergi kencan malam ini. Kita sudah jarang menghabiskan waktu bersama, jadi aku ingin menebusnya dengan mengajakmu makan malam. Aku akan menjeputmu."
Benazir: "Iya, tentu aku mau. Kapan aku harus bersiap-siap?"
Jalal: "Aku akan kesana jam 8. Jadi, segeralah bersiap."
Benazir: "Iya, tentu saja. Aku akan menunggu."

Jalal lalu menutup telponnya. Dia merasa sangat senang karena ini adalah kesempatannya untuk melupakan semua pemikirannya yang membuatnya gelisah. Lalu, dia pun pergi untuk makan malam dengan Benazir.

~ Senin Pagi ~
Jodha sampai dikantornya dan menuju ke tempat penerimaan tamu.
Selama akhir pekan kemarin, dilalui Jodha dengan memikirkan tentang rencananya. Dia sudah berkumpul dengan Salima dan Ruqaiyya kemarin. Mereka juga sudah mendiskusikan tentang bagaimana cara mereka menjalankan rencana yang telah dibuatnya.
Saat di kantor, mereka memutuskan untuk bertemu dengan Javeda di waktu luang pada hari itu, untuk membicarakan bagaimana caranya agar bisa masuk ke pesta ultahnya Adham.
Jodha yang merasa sedikit gugup saat itu, langsung disambut oleh Ruqaiyya.
Ruqaiya: "Selamat pagi, Jodha."
Jodha: "Selamat pagi, Ruqs."
Ruqaiya: "Ada apa, Jo ? Kenapa kau tegang begitu?"
Jodha: "Tidak apa-apa, hanya sedikit gugup saja untuk berbicara dengan Javeda tentang pesta itu."
Ruqaiya: "Jo, jangan khawatir. Aku dan Salima akan bersamamu."
Jodha: "Baiklah. Makasih banyak ya, Ruqs. Kalau gitu, sekarang aku harus pergi menemui Pak Presiden, kalau tidak dia akan membunuhku!"
Ruqaiya: "Baiklah. Sampai nanti ya.."

Jodha dengan cepat berjalan menuju ruangan Jalal. Dia mengetuk pintunya dan masuk keruangannya.
Jodha: "Selamat pagi, Pak Presiden."
Jalal merasakan kegembiraan yang tak tergambarkan saat bertemu dengan Jodha. Seluruh akhir pekannya telah dilaluinya tanpa melihat wajah Jodha.
Makan malamnya dengan Benazir di Sabtu malam lalu telah mampu mengalihkan pikirannya tentang Jodha untuk beberapa saat. Tapi saat kembali pulang, Jalal kembali merasakan kegelisahan dan kekacauan yang sama menderainya lagi. Dia menyimpulkan bahwa hal itu hanyalah pemikiran sementara, dan memutuska untuk melupakan semua hal itu, karena telah membuatnya sangat frustasi.
Tapi saat melihat Jodha saat itu, membuatnya kembali teringat dengan pemikirannya. Dia juga menyadari betapa cantiknya penampilan Jodha. Dia sangat terlihat mengagumkan hari itu saat memasuki ruangannya. Dia memakai kemeja formal berwarna pink di padukan dengan rok pensil hitamnya. Jodha membiarkan rambutnya terurai panjang menutupi punggungnya, dia memakai polesan make-up yang tipis seperti biasanya. Tapi dia tetap saja terlihat cantik. Kalau Benazir pasti akan memakai riasan wajah yang tebal setiap hari, tapi dia bahkan tidak terlihat setengah cantik dari Jodha.
Saat Jalal menatap Jodha, jantungnya berpacu dengan cepat. Namun, dia tetap bisa terlihat tenang.

Jalal: "Selamat pagi, Jodha. Bagaimana akhir pekanmu?"
Jodha: "Sangat menyenangkan, Pak Presiden. Bagaimana dengan Anda?"
Jalal: "Cukup baik, kurasa. Oh iya, sudah sejauh mana tugas presentasimu tentang strategi Penjualan yang baru?"
Jodha: "Sudah setengah yang kuselesaikan. Aku juga masih punya waktu 2 minggu, Pak Presiden. Jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya tepat waktu."
Jalal: "Baiklah, Jodha. Aku mempercayaimu untuk itu. Kau adalah salah satu karyawan terbaik yang selalu bekerja keras di perusahaan ini. Semua orang menaruh harapan besar padamu. Aku yakin kalau kau takkan mengecewakan siapapun."
Jodha: "Pak Presiden, aku senang mengetahui banyak orang yang sangat berharap padaku. Aku takkan mengecewakan siapapun, aku janji. Ngomong-ngomong, aku akan mengirimkanmu laporan perkembangannya secara berkala seperti biasa di penghujung hari."

Jodha lalu bangkit dan meninggalkan ruangan. Jalal menatap tubuh mungil Jodha yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Jalal: "Oh Jodha! Kau adalah salah satu dari sedikit wanita yang bisa terlihat seksi dan cantik disaat yang bersamaan. Kau juga sangat akrab dengan Ibuku. Tugas yang sulit pun akan menjadi mudah saat berada dalam genggamanmu. Masya Allah! Kau sudah menunjukan banyak keahlianmu. Aku penasaran, berapa banyak lagi keahlianmu yang tak kuketahui. Bahkan, setelah mengetahui semua ini, aku akan tetap memanggilmu 'Jodha Hottie ku'."

Jodha duduk diruangannya. Dia ingin melanjutkan pekerjaannya sebanyak apapun. Dia tahu kalau Adham akan datang dan mencoba menggodanya seperti biasa. Dia bahkan takkan mau melihat wajahnya yang keji setelah mendengar godaannya yang menjijikan dihari yang lalu.
Tapi Adham takkan menyerah dengan mudah. Dia datang mendekati Jodha dan mulai berbicara.
Adham: "Hey."
(Jodha tidak menjawab. Dia berpura-pura seakan Adham tak ada disana. Adham tetap saja berbicara.)
Adham: "Kau tahu, kau terlihat sangat seksi saat acara malam itu. Gaun merahmu itu membuatmu sangat seksi sekali."

Jalal, yang sudah memutuskan untuk selalu waspada sejak kejadian di acara malam lalu, berniat untuk terus mengecek keadaan Jodha, dan sesekali mengamatinya dari balik dinding kaca ruangannya.
Jalal sedang akan menuju ke tempat Jodha, namun dia melihat Adham yang sedang berdiri dibelakang Jodha, mencoba untuk berbicara dengannya. Jalal tak bisa mendengar apa yang dikatakan Adham, tapi dia bisa melihat bahwa Jodha mengabaikan Adham yang bebicara padanya. Jodha bahkan tak tetarik untuk melihat wajahnya. Jalal merasa sangat lega melihat kejadian itu.
Jalal: "Adham itu sungguh bodoh! Tak bisakkah dia melihat kalau Jodha tidak tertarik padanya? Bahkan setelah rencananya yang gagal, dia masih saja punya keberanian untuk menggoda Cintaku. Jalal, kau harus pergi menyelamatkannya."

Jalal keluar dari ruangannya untuk sementara dan berjalan menuju tempatnya Jodha. Disaat itu, Adham mau menepuk bahu Jodha, tapi Jalal keburu datang.
Jalal: "Selamat pagi, Adham."

Adham langsung mengurungkan niatnya saat melihat Jalal. Lalu dia kembali pada posisi awalnya.
Adham: "Oh Jalal.. Selamat pagi. "
Jalal: "Aku membutuhkanmu diruanganku sekarang. Aku ingin mendiskusikan sesuatu yang penting. Lagi pula, sedang apa kau disini? Apa kau punya pekerjaan dengan Jodha.?"
Adham: "Iya, tapi sudan selesai sekarang. Aku tadinya akan bertanya padanya tentang kelangsungan persiapan strategi Penjualan yang baru."

Jodha mendengar percakapan mereka. Dia mengernyitkan keningnya saat mendengar kebohongan Adham.
Jodha: "Dasar pembohong! Dia berani sekali berbohong pada Pak Presiden." Batinnya.
Jalal: ("Tidak ada yang bisa kau lakukan, Adham. Aku tahu kau berbohong. Karena aku tahu apa yang sebenarnya ingin kau lakukan tadi." Batinnya.) "Mohon datanglah ke ruanganku,Adham. Secepatnya!"

Adham langsung mengangguk dan berlalu dengan kecewa, walaupun sebenarnya dia merasa ragu, tapi karena itu adalah perintah Jalal, maka harus dituruti.
Jodha langsung merasa sangat lega. Dia sangat senang saat Adham sudah pergi. Namun, dia menyadari kalau itu berkat Jalal lagi.
Jodha: "Syukurlah dia sudah pergi. Sebelum dia bisa menggodaku, Pak Presiden sudah menyuruhnya pergi. Pak Presiden mungkin memang punya urusan penting dengannya, tapi tak bisa kupungkiri kalau dia juga sudah menolongku, LAGI! Oh Dewi Amba, aku harus beterima kasih padanya. Dia sudah menolongku dimalam itu, tapi karena keadaannya saat itu aku tak bisa berterima kasih padanya secara layak dan hormat. Akhir pekan kemarin telah kulalui dengan menyusun rencana untuk membongkar tipuan Benazir-Si Lintah itu. Setelah semua ini berakhir, aku akan sungguh berterima kasih padanya dengan layak."

Jalal dan Adham berjalan menuju ruangan Jalal. Jalal juga senang karena telah menyingkirkan Adham dari Jodha.
Jalal: "Syukurlah, aku menyuruhnya kemari. Dia ini sungguh bodoh! Tak bisakah dia mengerti kalau Jodha tak tertarik padanya. Dia bahkan terus saja mempermalukan dirinya sendiri didepan Jodha. Dan caranya dia menggoda Jodha, sangat menjijikan! Jodha memang sangat sabar dan tenang. Jika Jodha adalah wanita lain, Adham pasti akan dihajarnya habis-habisan. Kau mungkin bisa berbuat semaumu, Adham. Tapi ingatlah! Jodha adalah milikku seorang! Dia takkan pernah jadi milikmu. Dan karena kau sudah mencoba menggodanya dan berniat untuk menidurinya, aku bersumpah, Adham! Saat datang kesempatan untukku, aku takkan mengampunimu. Aku akan menghajarmu sampai kau menyadari kesalahanmu karena telah berusaha mendekati sesuatu yang hanya bisa menjadi milik Jalaluddin Mohammed!" Batinnya.

Jodha sedang melanjutkan pekerjaannya. Saat waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, dia lalu mendapat panggilan interkom.
Salima: "Dengar, Jo. Inilah saat yg tepat untuk menemui Javeda dan berbicara padanya."
Jodha: "Iya, baiklah. Tapi bukankah si Lintah itu sedang ada diruangannya?"

Meja kerja Salima dan ruangan kerja Jalal hanya dibatasi oleh dinding kaca ditengahnya, begitu juga dengan meja kerja Javeda.

Salima: "Jangan khawatir. Kau tahu, Bos telah menyuruh Adham keruangan kerja Andheri, karena disana lagi membutuhkan bimbingan dari karyawan senior selama seminggu ini. Jadi, karena Adham tidak ada diruangannya, Javeda yang menempati ruangan itu sendiri."

Jalal memang sengaja menyuruh Adham ke ruang kerja Andheri. Dia ingin menjauhkannya dari Jodha untuk beberapa waktu, semenjak kejadian dimalam lalu. Itu juga memberikan Jalal cukup waktu untuk memikirkan cara menghadapi Adham ke depannya.

Jodha: "Baiklah, aku akan menunggumu di depan ruangan Tuan Adham."
Salima: "Oke! Aku dan Ruqs akan menemuimu disana."

Jodha sudah sampai di depan ruangan kerja Adham dan menunggu kedatangan Salima-Ruqaiyya.
Mereka pun tiba, lalu ketiganya mengetuk pintu dan masuk ke ruangannya Adham. Disana terlihat hanya Javeda seorang. Mereka menghampiri tempat dimana Javeda duduk sambil sibuk bekerja. Salima menyapanya. Javeda pun bangkit dari duduknya dan menyambut mereka bertiga. Lalu Salima berbincang sedikit dengannya, kemudian mengenalkannya pada Jodha.
Salima lalu menjelaskan maksud kedatangannya.
Salima: "Javeda, dengar. Aku butuh bantuanmu."
Javeda: "Tentu, Salima. Apapun untukmu. Katakanlah."
Salima: "Kau yang mengatur pesta ulang tahun Tuan Adham setiap tahun,'kan ? Kapan akan diselenggarakan?"
Javeda: (tersenyum malu) "Oh itu... Iya, aku yang mengatur semuanya. Pestanya akan diadakan bulan depan tanggal 16. Memangnya kenapa?"
Salima: "Well Javeda, kau tahu, kalau kami bertiga hidup sendirian dan kau tahun betapa semuanya sekarang serba mahal di Mumbai. Kami tak bisa memenuhi hidup kami sendiri hanya dengan mengandalkan pendapatan kami yang dihasilkan dari perusahaan ini. Jadi, aku ingin tahu, apakah kau bisa memberikan kami pekerjaan sebagai pelayan di pesta nanti?"

Javeda agak sedikit kaget mendengar permintaan Salima. Dia tak pernah menyangka Salima akan meminta bantuan seperti itu.
Javeda: "Kenapa kalian mau bekerja sebagai pelayan? Apa kalian sedang kekurangan uang?"
Salima: "Iya, Javeda. Kami hanya melakukan pekejaan sambilan seperti ini setiap akhir pekan saja atau saat ada waktu luang."

Javeda merasa iba dengan keadaan mereka yang seperti itu. Tapi walaupun begitu, dia juga masih tak menyangka hal itu.
Javeda: "Entahlah...."
Salima: "Oh Javeda!! Please!!! Kami sangat butuh pekerjaan ini. Jika kau menyetujuinya, aku akan bisa memberitahukanmu betapa gagahnya penampilan Adham nanti."
(Mendengar nama Adham, Javeda langsung kegirangan. Dia terus tersenyum tanpa henti.)
Javeda: "Baiklah, akan ku usahakan."

Javeda kembali ke dekat meja dan menelepon seseorang. Dia berbincang sedikit di telepon, lalu kembali menghampiri mereka bertiga.
Javeda: "Aku sudah menghubungi agen yang bertugas menangani para staff pelayan. Mereka bilang, bahwa mereka sudah menyewa sejumlah pelayan yang dibutuhkan."
Salima: "Terus, tak bisakah mereka menyewa pelayan tambahan.?"
Javeda: "Tidak bisa. Mereka sudah menyewa pelayan lebih dari yang dibutuhkan. Maafkan aku, Salima."
Salima: "Tidak apa-apa, Javeda. Setidaknya, kau sudah berusaha."

Ketiganya pun berniat untuk pergi dari ruangan itu, namun.........
Javeda: "Tunggu, Salima! Aku melupakan satu hal."


FanFiction His First Love Chapter 18 Part 1

6 comments:

  1. hohohooo,,,javeda pasti bisa tuh bntuin 3 angel kita arum...

    G sabar pgn tau aksi, jodha, ruqs n salima.

    Suka nih aq sm ruqs d sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Míthä makanya aku semangat dengan FF ini,, kalau di FF lain,, pasti itu ruqs dapetnya peran antagonis dan langsung dpt semprotan dari yg lain... hahaha

      Delete
  2. ayo mbk chus cpet terbongkar donf kejahatan adam benazir hehee sukriya :)

    ReplyDelete
  3. Senin...hikz~ msh lama...tp ttp sabar deh...thanks y smw ffny keren2...gk bosen2 bcany....hehee

    ReplyDelete
  4. Salima emang paling pinter buat alasan yang masuk akal.....semoga aja The Three Masketeer girl kita berhasil dalam usahanya membongkar niat busuk Si Leechad n Si Benjol...upsss Benazir ding heeheehee.....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.