FanFiction His First Love Chapter 18 Part 2 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 18 Part 2


Written by Samanika
Translate by Marnia

Saat ini, ketiga wanita tadi sedang duduk bersama menyantap makan siang di ruangan kerja Jodha. Mereka, terutama Jodha, terlihat begitu tegang. Mereka bertanya-tanya apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
Ruqaiya: "Aku tak bisa menyangka kalau kita akan menyamar sebagai penari untuk mengisi acara pertunjukannya. Akan ada banyak pria yang tak dikenal disana. Bagaimana jika ada yang mencoba bertindak seenaknya?"
Salima: "Aku juga sebenarnya merasa takut, Ruqaiyya. Tapi hanya inilah cara untuk bisa mendapatkan berkas data-data itu."
(Jodha tak berbicara sepatah kata pun. Dia sedang memikirkan pembicaraan mereka dengan Javeda saat di ruangannya tadi.)

*Flashback*
Ketiga sudah mau meninggalkan Javeda, lalu terhenti saat Javeda memanggil mereka kembali.
Salima: "Ada apa, Javeda?"
Javeda: "Apakah kalian bisa menari?"
Salima: "Aku bisa sedikit."
Ruqaiya: "Sama, aku juga."
Jodha: "Aku pun begitu."
Javeda: "Well, okey! Aku ingin menyewa penari untuk mengisi acara pertunjukan di pesta nanti. Aku sebenarnya sudah menyewa 30 penari, tapi masih butuh lebih. Dan saat kalian bilang lagi butuh uang, aku pikir, bagaimana jika kalian mencobanya."

Saat mendengar kata 'penari', Jodha menjadi gugup. Dia tak keberatan menjadi pelayan, tapi dia ragu jika ingin menari di depan banyak pria yang tak dikenal.

Salima: "Beri kami waktu sebentar, Javeda."
(Ketiganya lalu berjalan merapat ke sudut ruangan. Javeda bisa merasakan ketegangan di wajah mereka.)
Ruqaiya: "Salima, aku tak mau melakukannya!"
Jodha: "Iya, aku juga sama."
Salima: "Girls, coba pikirkan dulu,. Pesta itu adalah jalan satu-satunya untuk bisa masuk ke dalam rumah si Lintah itu. Dan itu satu-satunya cara untuk bisa masuk dengan selamat adalh dgn menyamar sebagai penari."
Jodha: "Tapi Salima, beberapa karyawan di kantor ini juga akan ada disana. Bagaimana jika mereka mengenali kita?"
Salima: "Mereka akan dengan mudah mengenali kita jika kita menjadi pelayan, Jodha. Coba pikirkan, jika kita menjadi penari, kita bisa mengenakan berbagai macam kostum dan aksesoris, bahkan yang kostum paling aneh pun sesuai keinginan kita, dan tak akan dikenali."

Jodha dan Ruqaiyya pun memikirkannya. Akhirnya, mereka menyetujui bahwa inilah jalan keluar satu-satunya.
Mereka pun kembali mwnghampiri Javeda.
Salima: "Javeda, kami siap untuk tampil nanti."
Javeda: "Okey! Berikan saja nama dan nomor teleponmu."
Salima: "Tapi berjanjilah satu hal, Javeda. Jangan pernah kau ceritakan pada siapapun tentang kedatangan kami ini dan tentang kami yang akan tampil di pesta nanti. Okay ??"
Javeda: "Iya, jangan khawatir. Takkan ku ceritakan."
Salima: "Dan juga, kami akan memberikanmu nama samaran kami, agar tak ada karyawan dikantor ini yang bisa mengenali kami."
Javeda: "Salima, kau adalah temanku. Aku akan menjaga rahasia kalian dengan baik. Aku takkan cerita pada siapapun."

Javeda lalu mengambil buku hariannya diatas meja dan menyuruh mereka untuk menuliskan nama samaran dan nomor telepon mereka.
Salima menuliskan namanya sebagai 'Cherry', Ruqaiyya sebagai 'Jade', dan Jodha sebagai 'Rose'.
Javeda: "Aku akan segera menghubungi kalian saat undangan dan kartu ID-nya sudah jadi."
Salima: "Terima kasih banyak, Javeda. Aku berhutang banyak padamu untuk ini."
Javeda: "Tak masalah, Salima. Tak perlu berterima kasih. Aku melakukannya karena kau adalah temanku. Dan jika kau butuh bantuanku lagi, jangan sungkan."
*Flashback End*

Jodha tak berbicara sedikitpun sejak mereka meninggalkan Javeda diruangannya Adham. Di wajahnya menyiratkan ketegangan yang dalam.
Salima: "Jodha, aku tahu kalau kau tidak nyaman untuk tampil seperti ini di depan banyak pria. Tapi ayolah, kita pasti akan berhasil melaluinya."
Jodha: "Salima, bukan hanya itu saja kecemasanku. Pesta itu akan penuh dengan para pria yang mabuk-mabukkan. Bagaimana jika mereka hilang kendali dan ada yang mencoba bertindak seenaknya pada kita? Apa yang akan kita lakukan?"
Salima: "Jodha, aku tahu kau sangat mencemaskan keselamatan kita. Tapi asal kau tahu, di pesta itu akan di hadiri oleh tamu-tamu penting yang terkenal. Jika ada yang berani macam-macam pada kita, maka hal itu akan tersebar di seluruh media dan akibatnya, reputasi dan nama baik mereka akan tercoreng. Mereka tak akan mau lagi bekerja sama dengan si Lintah itu atau pun perusahaan kita. Jadi untuk mencegah hal itu, si Lintah selalu menyusun daftar tamunya dengan teliti setiap tahun. Siapa saja tamu tetapnya dan siapa saja tamu yang harus dikeluarkan dari daftarnya, telah di atur. Orang-orang yang kontroversial dan yang suka membuat onar, tak akan diundangnya. Undangan khusus dibagikan hanya pada tamu-tamu dan entri saja. Jadi, aku bisa menjamin, bahwa tak ada seorangpun yang akan macam-macam pada kita."
Ruqaiya: "Okey, fine. Aku paham, tak ada yang akan macam-macam dengan kita. Tapi Salima, kita akan menjadi penari, apa yang akan kita tampilkan."
Salima: "Aku sudah memikirkannya. Kita akan memberikan mereka sebuah penampilan tari perut yang sensasional! Kita juga butuh beberapa penari latar. Aku sudah mengaturnya dengan Javeda. Dia bilang kita bisa membawa 5 penari lgi untuk tampil bersama kita."

Saat Jodha mendengar nama tarian yang akan mereka tampilkan, hampir saja membuatnya jatuh dari kursinya.
Jodha: "Salima! Tari perut? Kenapa yang itu? Tak bisakah kita tampilkan yang lain?"
Salima: "Jodha, tari perut akan menjadi cara terbaik untuk mengalihkan perhatian mereka di pesta nanti. Saat semuanya sudah teralihkan dan di pengaruhi oleh alkohol, itu akan menjadi saat yang tepat untuk menyelinap ke kamarnya dan membuka brankasnya dan mengambil semua data-datanya."

Jodha dan Ruqaiyya pun mengangguk setuju dan terlihat yakin dengan rencana Salima.
Dan untuk melakukan aksinya, mereka masih punya waktu sebulan sambil melakukan persiapannya. Mereka yakin rencana ini akan berhasil.

**1 Bulan Kemudian**
Hari itu adalah hari Jum'at. Jodha sudah tiba dikantornya. Pesta yang di rencanakan hanya tinggal sehari lagi.
Selama sebulan ini, Salima, Ruqaiyya, dan Jodha memutuskan untuk selalu berkumpul di rumah Salima sepulang bekerja dan sekaligus berlatih menari tari perut. Mereka ingin memastikan semuanya telah sempurna dan tak ada lagi secerca keraguan diantara mereka. Jodha memberitahu orangtuanya bahwa setiap sepulang bekerja dia akan singgah ke rumah Salima untuk mengerjakan proyek yang harus mereka kumpulkan bersama. Semua itu dia lakukan selama sebulan ini. Setiap kali Jodha pergi ke rumahnya Salima, dia berdoa agar orangtuanya tidak mencurigainya.
Selain latihan menari, mereka bertiga juga menyiapkan rencana lain, seperti mengatur kostum, aksesoris, make-up, dan hal2 lainnya yang akan mereka butuhkan. Javeda telah mengirimkan undangan dan kartu ID mereka.
Selama sebulan ini, dilewati Jodha dalam samar-samar dan membuatnya tegang. Pertama, dia sangat mencemaskan orangtuanya jika mereka mengetahui rencananya, itu akan membuat ortunya marah. Kedua, mereka bertiga harus bisa menjaga rencananya agar tetap aman dan tak boleh seorangpun dikantor yang mengetahuinya. Ketiga, Jodha menjadi sangat sibuk dengan pekerjaan dikantor, kunjungannya ke rumah Salima, dan latihan menarinya.
Dia selalu pulang dengan raut wajah yang sangat lelah dan lesu. Saat dikantor pun dia terlihat lelah.

Namun akhirnya, Jodha merasa senang karena semua yang mereka rencanakan telah siap dan besok tinggal menunggu waktu yang tepat untuk beraksi. Dan juga, seluruh jerih payah mereka dalam menyusun rencana ini akan membuahkan hasilnya.
Jodha mengadakan pertemuan terakhir dengan Salima dan Ruqaiyya untuk memastikan semuanya telah sempurna dan siap.

Di sisi lain, Jalal sedang khawatir. Dia sudah mengamati Jodha selama sebulan ini. Setiap kali dia melihatnya, Jodha selalu terlihat lelah dan tak bersemangat. Ini bukanlah pemandangan yang biasanya dilihat oleh Jalal. Jalal sudah pernah coba menanyakan penyebabnya saat ada kesempatan, tapi jawaban yang didapatnya hanyalah karena kurang tidur dan tidak enak badan.
Jalal juga memperhatikan saat jam makan siang, Jodha, Salima, dan Ruqaiyya menjadi agak pendiam, tak seperti biasanya. Mereka lebih sering berbicara secara diam-diam dengan nada sayup. Jalal pernah coba untuk mendengarkan percakapan mereka di waktu tertentu, dan bahkan pernah mencoba untuk bergabung makan siang bersama mereka. Namun disaat dia datang, mereka lalu menghentikan percakapan mereka. Dan mereka hanya buka suara saat ditanya saja.
Jalal tahu kalau ada sesuatu yang aneh, tapi dia tak punya banyak waktu untuk mengurusi mereka, terutama Jodha. Dia masih punya banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, dan permasalahan mereka termasuk dalam urusannya.
Namun, tak peduli berapa kali Jalal mencoba mengabaikan mereka, dia tetap saja mencemaskan Jodha. Dia pikir mungkin Adham telah melakukan sesuatu pada Jodha. Untuk itu, dia masih terus mengecek keadaan Jodha secara rutin untuk memastikan bahwa pemikirannya salah.
Jalal dengan keras menyuruh Adham untuk kembali melaksanakan pekerjaannya setiap ada kesempatan, dan Adham pun menurutinya. Akhirnya, Adham tak mengganggu Jodha lagi. Tapi tetap saja, setelah melihat Jodha di saat tertentu, Jalal menjadi yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi. Namun, tak sedikitpun Jalal ketahui bahwa kebungkaman mereka, yang nantinya akan menolong Jalal.

Jodha sedang menunjukkan presentasinya untuk strategi Penjualan yang baru. Ternyata presentasinya tidak berjalan lancar sesuai harapannya. Jalal mengatakan kalau Jodha bisa lebih baik dari ini. Dia pun menyetujui untuk memeberikan satu kesempatan lagi pada Jodha agar mengulangi presentasinya di lain hari. Hal ini membuat Jodha sangat lega karena takut akan penolakan idenya. Jalal sudah cukup baik memberikannya satu kesempatan lagi dan Jodha berjanji untuk memenuhi harapannya.
Jalal, disisi lain, melakukan hal tersebut hanya karena kecemasan terhadap Jodha.

Jodha yang sedang memikirkan tentang rencananya esok hari, tiba-tiba dihampiri oleh Salima.
Salima: "Jodha, aku butuh bantuanmu."
Jodha: "Iya, Salima. Katakanlah."
Salima: "Jodha, aku tahu kau akan membunuhku jika aku mengatakan ini tapi percayalah, aku tak punya pilihan lain. Aku ingin kau untuk mendapatkan sidik jari si Lintah itu."

Jodha langsung bangkit dari duduknya dengan wajah ketakutan. Keringat pun mengucur keluar dari wajah cantiknya dan langsung menjadi gugup.
Jodha: "Salima! Aku tak bisa melakukan itu. Bagaimana jika ia berbicara hal yang tak senonoh lagi?"
Salima: "Jodha, aku tahu kau takut tapi hanya inilah cara untuk melakukannya. Si Lintah itu sangat tergila-gila padamu dan kita harus memanfaatkan kelemahannya itu."

Jodha tahu, untuk mendapatkan sidik jari Adham sangatlah penting. Mereka sangat membutuhkannya untuk rencana awal mereka.
Jodha: "Okey, fine! Akan kulakukan. Apa yang harus kulakukan sekarang.?"
Salima: "Lihat, aku bawa minuman Sharbat ini dari rumah. Aku akan menuangkan ini ke gelas dan kau harus memberikannya pada Adham. Katakan padanya kalau kau membuat minuman ini khusus untuknya. Dan juga, cobalah untuk menggodanya sedikit. Di saat dia meminumnya, dia akan meninggalkan sidik jarinya di permukaan gelas ini. Lalu, kita bisa memproses sidik jarinya nanti."
Jodha: "Uumm,, baiklah. Mana gelasnya?

Salima mengeluarkan gelas yang dibalut dwngan saputangannya. Dia memberikannya pada Jodha, lalu menuangkan Sharrbat ke gelas.
Salima: "Pastikan kau tidak menyentuh gelasnya. Jika tidak, akan sulit untuk mengetahui yang mana sidik jarimu dan sidik jarinya."
Jodha: "Baiklah. Aku akan pergi dan mendapatkan sidik jarinya."

Jodha mengambil gelasnya dengan hati-hati agar tak menyentuh permukaan gelas yang terbuka. Dengan perlahan, dia berjalan ke ruangannya Adham sambil menggenggam gelas ditangannya. Dia pun sampai di depan pintu masuknya dan mengetuk pintu. Dia lalu masuk kedalam, setelah mendapat respon dari dalam ruangan. Dia melihat Adham yang duduk di samping meja besarnya. Dia melempar sedikit senyuman pada Adham sambil berjalan ke arahnya.
Disisi lain, Adham langsung kegirangan. Dia memang ingin melihat Jodha sejak lama, tapi Jalal selalu menghalanginya dengan tumpukan pekerjaannya. Dan memang benar bahwa Jalal telah menambah tumpukan pekerjaan Adham, hingga tak memberikan waktu luang bagi Adham untuk melihat wajah cantik Jodha. Hal itu membuat Adham geram, tapi tak berani untuk menentang Jalal. Namun dengan melihat senyuman Jodha, membuatnya langsung bertekuk lutut.

Jodha berjalan mendekati Adham dan duduk di kursi.
Adham: "So, Jodha. Apa yang membawamu kemari? Apakah kau akhirnya memutuskan untuk berkencan denganku?"
Jodha: ("Tidaklah! Dasar B*jing*n Menyedihkan! Aku lebih baik mati dari pada berkencan denganmu." Batinnya)
"Begini Tuan, aku sudah membuat Sharbat ini untuk semua orang hari ini, dan kebetulan aku masih punya gelas lebih, jadi aku pikir untuk memberikannya padamu."
Adham: ("Aku rasa, dia sudah mulai tertarik padaku. Wow! Akhirnya, aku akan mendapatkan yang sudah lama kuinginkan." Batinnya) "Oh, benarkah? Terima kasih banyak."

Jodha meletakkan gelasnya di atas meja dan menarik kembali saputangan yang membalutnya. Adham melihat saputangan itu dan menaruh rasa curiga.
Adham: "Kenapa kau menarik kembali saputangan itu?"
(Jodha sontak kaget dengan pertanyaannya. Tentu saja dia tak bisa memberitahukan alasan sebenarnya. Dia pun beralasan lain)
Jodha: "Sebenarnya, gelas ini tadinya baru dicuci, Tuan. Gelasnya basah dan licin saat aku menuangkan minuman ke dalamnya, lalu aku membalutnya dengan saputangan agar tidak tergelincir dari tanganku."
Adham: "Oh, Baiklah. Aku tak sabar ingin meminumnya."

Adham mengangkat gelasnya dan mendaratkannya di bibirnya. Dia pun perlahan meminumnya. Jodha melihatnya dengan teliti. Setelah Adham menghabiskan minumannya, lalu dia meletakkan kembali gelas di atas meja.
Adham: "Ahh... Ini enak sekali! Terimah kasih banyak."
Jodha: "Tidak masalah, Tuan."

Jodha mengambil kembali gelasnya dengan hati-hati sambil memegang ujung permukaan gelasnya, dan memastikan tidak menyentuh bagian tengahnya. Dengan cepat dia membalutkan kembali saputangan disekitar gelasnya, kemudian pergi meninggalkan Adham. Adham tak bisa menahan seringainya saat Jodha pergi.
Jodha bergegas berjalan kembali menuju ke ruangannya, dimana Salima dan Ruqaiyya sedang menantinya.
Ruqaiya: "Apa kau berhasil mendapatkannya?"
Jodha: "Iya."
Salima: Apakah dia bersikap kurang ajar padamu?"
Jodha: "Anehnya sih, tidak!"
RuqSalima: "Allah ka laakh shukar hai."
Salima: "Baiklah, sekarang mari kita memproses sidik jarinya."

Ketiganya lalu menuju toilet, lalu masuk dan mengunci pintunya. Salima mengeluarkan kuas, bubuk secukupnya, saputangan bedah dan gulungan isolasi yang besar dari dalam tasnya. Dia memakai saputangan bedahnya, lalu menaburkan bubuk di seluruh permukaan gelas. Dia mengambil kuas dan mulai menyapukan bubuknya di permukaan gelasnya dengan sangat perlahan.
Ruqaiya: "Salima, dari mana kau mempelajari semua ini? Dan bubuk apa ini?"
Salima: "Internet penuh dengan banyak cara untuk memproses sidik jari. Aku hanya menggunakan teknik dasarnya saja. Ini adalh bubuk khusus yang kubuat di rumah."
Jodha: "Oh iya, jangan arahkan kuasnya di ujung permukaan gelasnya. Karena di situ ada sidik jariku."

Setelah penaburan bubuknya selesai, sidik jarinya mulai tampak. Salima memotong isolasi menjadi 5 bagian dan mulai menempelkannya di atas sidik jari tersebut secar perlahan satu persatu. Kemudian dengan perlahan, melepaskan tempelannnya dan memasukkannya pada secarik kertas kardus. Dia menjauhkan kertasnya di dalam sebuah amplop dan mulai menjauhkan semua yang disekitarnya.
Salima: "Kita mendapat sidik jari yang sempurna, berkat dirimu, Jodha."


FanFiction His First Love Chapter 18 Part 2

14 comments:

  1. Ampe tegang gini bacanya,,, charly angels versi india nya keren bingit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih menegangkan lagi saat semuanya terbongkar Bunda Riza....

      Delete
  2. Hebatt baNgett yaa ..peMikiraN Mereka bertiga...seMoga MisiNya sukses....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pastinya sukses Mb Erika, cuma akan ada sedikit ketegangan...

      Delete
  3. akhirnya muncul jg,,gendrenya action bgt ya mbk,,?tpi mantab bingit seru2,iyuk lanjuttt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Actionnya cuma sedikit banget disini,,, kebanyakan comedy romatis...

      Delete
    2. yoi..,apapun itu pokoknya tak tungguin TBCnya,,

      Delete
  4. wah ikutan tegang nih.....semoga aja misi mereka berhasil tanpa kendala yang berarti, Lanjooottt..... :-D

    ReplyDelete
  5. Cerdas. .cantik. keren trims dtngg kljtNya

    ReplyDelete
  6. Haduh,,.gk sabar nunggu hr kamis

    ReplyDelete
  7. Tgang bgt mb chus.....
    Dtngg klnjutn'a n jngn lma2 bgt dnk....ga sbr pngn tau klnjutn'a

    ReplyDelete
    Replies
    1. G lama Kok Bunda Dedew,, g sampai seminggu kan???? Ehhehe

      Delete
  8. Aihh gk sabar pengen nyapa...halloww ruqss...berbahagialh dpt jatah jd temnny jodha...hehee....moga miziny sukses yuaa trio macan...

    ReplyDelete
  9. Perempuan pintar hebat, hrs di cintoh deh

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.