FanFiction His First Love Chapter 19 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 19




Written by Samanika
Translate by Marnia

Setelah selesai mencetak sidik jarinya, mereka pun kembali ke meja kerja masing-masing dan bertingkah layaknya tak terjadi apa-apa.

Mereka kembali berkumpul dirumahnya Salima sepulang bekerja untuk meninjau rencana mereka. Ruqaiyya dan Jodha sedang duduk sambil menunggu Salima membawakan cemilan. Salima pun datang, lalu mulai berdiskusi.
Ruqaiya "Salima, apakah kostumnya sudah ada? Dan bagaimana dengan wignya?"
Salima: "Iya, semuanya sudah ada. Sudah ku siapkan semuanya. Kita nanti akan mulai memakainya disini."
Jodha: "Salima, apa kau sudah memberikan para penari latar kartu ID ?"
Salima: "Iya, sudah kuberikan kemarin."
Ruqaiya: "Girls, kita harus memikirkan semua yang akan kita lakukan di pesta nanti."
Jodha: "Iya. Apa yang akan kita lakukan nanti."
Salima: "Aku sudah memikirkannya. Tugas kalian adalah mengalihkan perhatian. Kalian harus berhasil menarik sebagian dari para tamu untuk naik ke atas panggung. Di saat panggungnya mulai ramai, akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap keluar menuju tempat brankas itu berada."
Ruqaiya "Oke, Salima. Aku akan menggunakan kekuatan dari kecantikanku ini untuk menarik mereka."
Jodha: "Tidak, Salima. Kalianlah yang harus mengalihkan perhatian mereka. Aku yang akan mengambil berkas-berkas itu dari brankas."
Salima: "Memangnya kenapa, Jodha? Itu tak perlu. Aku yang akan mengambilnya."
Jodha: "Kalian berdua sudah cukup melakukan banyak hal. Salima, kau sudah membuat cetakan sidik jari itu dan kau juga sudah melatih kami menari. Ruqaiyya yang membeli kostum dan mengatur transportasinya. Bila dibandingkan kalian, aku bahkan belum melakukan apapun."
Salima: "Jodha, itu tak perlu. Ingatlah, kita bisa mendapatkan sidik jari itu juga berkat dirimu."
Jodha: "Tidak, Salima. Kumohon, biarkanlah aku yang mengambilnya. Akulah yang pertama mengetahui akan masalah ini. Jadi, sudah kewajibanku untuk mengambil berkas-berkas itu langsung pada Pak Presiden."
Salima dan Ruqaiyya akhirnya menyetujui permintaan Jodha.

Setelah selesai dengan diskusi mereka, Jodha berpamitan pulang. Sesampainya dirumah, orang tua Jodha dan adiknya, Sujamal sudah menunggunya di meja makan.
Ibu: "Kemarilah, Sayang. Duduklah untuk makan malam."
Sujamal: "Di, bagaimana harimu?"
Jodha: "Yahh, baik-baik saja."

Jodha duduk dikursi. Ibunya memberikannya sepiring nasi disertai lauk pauk. Jodha mulai memakannya.
Ibu: "Jodha Sayang, mau berapa lama lagi kau harus terus singgah di rumah Salima seperti ini?" Ini sudah berlangsung hampir sebulan, lho."
Jodha: "Ibu, aku tahu ini sudah berlangsung lama. Tapi aku bisa apa? Proyek ini belum terselesaikan dan semakin membosankan. Kita juga masih punya banyak pekerjaan lain di kantor, karenanya proyek ini dikerjakan secara sambilan. Tapi aku janji, Bu. Besok adalah hari terakhirku mengerjakanny, karena hari senin sudah harus dikumpulkan."
Ayah: Iya, Sayang. Tak apa-apa. Pekerjaan bukanlah sebuah candaan. Harus dilakukan dengan keseriusan."

Jodha tersenyum kepada Ayahnya dan lanjut menyantap makanannya. Dia lega karena orangtuanya tidak curiga. Namun, ayahnya tahu kalau sebenarnya ada sesuatu yang ganjil.
Ayahnya pernah mendengar Jodha dan Salima membicarakan sesuatu ditelepon mengenai kostum. Dia tahu kalau sia-sia saja jika bertanya padanya tentang hal itu, karena Jodha tak akan mau mengatakan yang sebenarnya. Jika Jodha mau bercerita pada ayahnya, pasti sudah dilakukannya sejak awal. Namun, Bharmal masih sangat percaya padanya. Dia tahu kalau putrinya tak akan membuat masalah. Dia merasa kalau Jodha ingin hal itu tetap dirahasiakan. Jadi, dia putuskan untuk menunggu sampai Jodha sendiri yang menceritakannya.
Namun, hal ganjil ini juga tak diberitahukan pada istrinya, Mainavati. Karena dia tahu, istrinya akan sangat khawatir pada Jodha. Jadi, dia memilih untuk diam dan menunggu untuk mendengar kebenarannya dari mulut Jodha sendiri.

Jodha: "Ibu, besok aku mau menghadiri pesta dirumahnya Salim. Dia juga mengundang beberapa teman."
Ibu: "Salima lagi,,, Salima lagi!! Apa kau tak bosan terus-terusan melihatnya selama sebulan ini?"
Ayah: "Maina, biarkan saja. Kau tahukan kalau dia sangat bertanggung jawab. Dia tak akan macam-macam." ~pada Jodha~ "Sayang, Ayah mengizinkanmu pergi. Pergilah dan nikmati pestanya."
Jodha: Terima kasih, Ayah. Oh ya, aku juga harus pergi lebih awal, menjelang siang, untuk membantu Salima dengan persiapannya. Sekalian juga menyelesaikan bagian akhir dari proyekku."
Ayah: "Iya, Sayang. Baiklah."

Mereka melanjutkan kembali menyantap hidangan masing-masing.
Mainavati terlihat tidak senang. Dia tidak ingin Jodha pergi kerumahnya Salima lagi. Dia menjadi sedikit curiga dengan kunjungan Jodha kerumahnya yang terus-menerus. Tapi dia coba meyakinkan dirinya kalau kunjungan itu hanyalah karena pekerjaan dan Bharmal juga meyakinkannya begitu. Namun rencana akan pesta itu agak membuatnya sedikit curiga. Dia ingin membicarakan hal itu dengan Jodha, tapi sudah tak ada gunanya saat ini. Suaminya telah mengizinkannya pergi dan Jodha menuruti. Jadi, dia biarkan saja hal itu dan hanya bisa berdoa pada Kanha untuk melindungi putrinya.

Jodha: (Dalam hatinya) "Maafkan aku, Ibu, Ayah. Aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya saat ini. Tapi aku janji pada diriku sendiri, jika masalah ini sudah selesai, akan ku ceritakan semuanya pada kalian."

Jodha selesai dengan makan malamnya dan langsung menuju ke kamarnya. Hari itu adalah hari yang melelahkan dan juga membuatnya gugup.
Jodha: "Kanha, mohon bantulah kami dengan melancarkan rencana ini agar kami dapat memperlihatkan kebenarannya pada Pak Pres. Dan mohon maafkan aku karena telah berbohong pada Ayah dan Ibu. Aku akan ceritakan semuanya pada mereka setelah tugas kami selesai esok hari."

Di sisi lain, Jalal merasa sangat gelisah dan terganggu. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang aneh dan di sembunyikan darinya. Dia lebih khususnya khawatir tentang Jodha.
Dia teringat hari itu di kantor, dia melihat Jodha sedang membawa sebuah gelas yang dibalut dengan saputangan dan Salima yang membawa tas. Ketiga wanita itu lalu pergi ke suatu tempat dengan mengendap-endap memastikan tak ada yang melihat mereka. Jalal sangat penasaran dengan kejadian itu, tapi dia juga sangat khawatir.
Jalal: "Apa yang direncakan oleh wanita-wanita itu? Sungguh, ini membuatku sangat gelisah. Dan mengapa Jodha selalu menunjukkan ekspresi yang tegang di wajahnya. Aku harap Adham tak macam-macam dengannya. Aku bersumpah, aku akan membuat semua darah dalam tubuhnya menjadi kering, jika dia mencoba macam-macam dengan Jodha-ku!!"

Jalal kembali merenungkan kalimat terakhirnya. Dia merasa heran, apa yang telah terjadi padanya.
Jalal: "Ya Allah, apa yang terjadi padaku? Apa aku baru saja menyebutnya 'Jodha-ku'? Dia bukanlah milikku pribadi. Tapi kenapa aku selalu merasa seperti itu? Mengapa keinginan Adham untuk memilikinya membuatku jadi sangat marah dan mendorongku untuk menjadi sangat posesif? Aku sudah mulai gila! Aku rasa, aku harus segera menemui dokter sebelum semunya tak terkendali."

Jalal lalu terlelap dalam tidurnya dengan semua pemikiran itu yang masih menyelimutinya.
Kemudian dia mulai bermimpi. Di mimpinya dia melihat Jodha yang mengenakan pakaian yang dipakainya dikantor tadi pagi dan terlihat sangat cantik seperti biasanya. Mereka hanya saling memandang dan saling melempar senyum. Jalal senang dan lega melihatnya seperti itu, karena sudah lama dia tak melihat senyuman yang terpancar dari wajah anggunnya. Namun tiba-tiba, Jalal melihat Adham muncul dari belakang.. Adham menyentuh wajah Jodha, lalu membawa paksa dirinya. Jodha hanya menjerit minta tolong. Jalal ingin menolongnya, tapi tak bisa. Seperti ada yang menahan langkahnya. Jalal hanya bisa meneriakkan nama Jodha, tapi usahanya sia-sia. Adham telah membawa dan memasukkannya ke dalam mobil.
Jalal langsung tersentak bangun. Dia pun menyadari bahwa itu hanyalah mimpi buruk. Dia menyalakan lampu di atas meja samping ranjangnya dan menyambar segelas air putih lalu meneguknya.
Jalal: "Itu adalah mimpi buruk yang mengerikan! si Pecundang Menyedihkan itu terus saja membawa paksa dirinya dan tak ada yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Ahh, aku baru ingat, aku harus menghadiri pesta ulang tahunnya besok. Aku harus membeli setelan baru. Sebaiknya aku kembali tidur saja."

***KEESOKAN HARINYA***
Jodha dengan sabar sedang menanti berlalunya waktu. Masih ada 2 jam lagi sebelum dia pergi ke rumahnya Salima. Dia sudah mengingat semua yang harus dibawanya dan memastikan semuanya tlah siap.

Di sisi lain, Jalal mendatangi seorang designer butik untuk membeli setelan baru. Setelah mencoba berbagai setelan yang di sodorkan, akhirnya dia memilih membeli sebuah kemeja biru laut dengan celana panjang bermerk Zara. Dia juga membeli sepasang sepatu bermerk Clarks. Setelah membeli semuanya, dia langsung pulang. Dia menyegarkan dirinya dan bersiap-siap untuk sebentar malam.

Jodha telah tiba dirumahnya Salima siang itu. Ruqaiyya telah tiba lebih dulu.
Jodha: "Hai, teman-teman."
Ruq dan Salima: "Hai, Jodha."
Jodha: "Apa semuanya sudah siap?"
Salima: "Iya, kostumnya sudah siap, begitu juga dengan wignya. Mobilnya telah disiapkan diluar dari agensi dan para penari latarnya juga telah siap.
Jodha: "Bagus sekali. Aku rasa, kita sudah siap pula."

Sejam berlalu, ketiganya langsung memilih untuk segera bersiap-siap. Mereka harus tiba ditujuan pukul 7 malam, karena acaranya akan di mulai pukul 8.30. Salima membawakan kostumnya di ruangan lain.
Salima: "Girls, ini dia kostum-kostumnya."

Jodha dan Ruqaiyya langsung berteriak kegirangan. Walaupun telah memilih sendiri dan membelinya lewat online, namun Salima tak mau menunjukkan kostum aslinya pada mereka, sampai hari yang ditentukan tiba. Keduanya lalu mengambil kostum masing-masing dari tangan Salima.
Jodha: "Wow... Ini terlihat lebih bagus sekali dari yang kulihat di online."
Ruqaiya "Iya, benar sekali."

Mereka pun bergantian masuk ke kamar mandi untuk memakai kostum masing-masing.
Ruqaiyya yang masuk pertama. Dia memakai blus hitam dipadukan dengan rok belahan hitam yang memanjang sampai kaki. Dia juga memakai syal pinggul hitam dengan hiasan koin-koin perak yang menggantung dan berbunyi saat dia berjalan.
Salima dan Jodha sangat terpesona. Ruqaiyya terlihat sangat seksi juga cantik. Dia berjalan menghampiri keduanya yang sedang menatapnya dengan kagum.
Ruqaiya "Bagaimana penampilanku?"
Jodha: "Ruqs, kau terlihat seksi sekali yo.. "
Ruqaiya "Makasih, Jo."
Salima: "Oke, sekarang giliranku."

Salima masuk, dan beberapa saat kemudia keluar dari kamar mandi. Dia memakai blus biru berbahan kain logam dengan rok berbahan jaring berwarna senada yang menjulang sampai kaki. Dia juga memakai syal pinggul biru.

Ruqaiyya langsung bersiul menggoda begitu Salima keluar dari kamar mandi. Jodha melihatnya penuh kagum. Salima memang terlihat sangat cantik.
Salima: "So, bagaimana menurut kalian?"
Ruqaiya "Kau kelihatan sangat luarbiasa."
Jodha: "Iya, Salima. Kau juga sangat cantik."
Salima: "Thanks, girls. Jodha, sekarang giliranmu."

Jodha memasuki kamar mandi lalu memakai kostumnya. Dia memakai blus merah dipadukan dengan rok merah dengan belahan dibagian sampingnya yang menjulang menutupi kaki jenjangnya. Belahan roknya lebih terbuka dari punyanya Ruqaiyya. Pada dasarnya, kostum yang dipakai Jodha dirancang lebih terbuka membuatnya terkesan lebih seksi dibanding yang lain. Tak lupa pula syal pinggul dengan warna sama berhiasi koin-koin perak yang menggelantung.
Jodha dengan perlahan membuka pintu dan keluar dengan hati-hati. Ruqaiyya dan Salima yang sedang sibuk berbincang, seketika menoleh ke arah Jodha saat mendengar suara koin-koin yang bergelantungan di syal pinggulnya berbunyi. Mereka terpanah dengan pemandangan di hadapan mereka. Jodha terlihat sangat seksi juga sangat cantik disaat yg bersamaan. Dia bahkan belum memakai perhiasannya, tapi tetap terlihat bagaikan jutaan sinar yang berkilauan (silauu donkk.. ). Salima dan Ruqaiyya menatapnya dengan mulut yang tebuka lebar (awass mbak, kuah sayurnya tumpah tuh.. #abaikan).
Jodha: "Bagaimana?"
Salima: "Jodha, kau terlihat sangat sangaaaattt seksi, bo..! Kau pasti akan memukau banyak orang dengan penampilanmu."
Ruqaiya "Iya, Jo. Kau juga terlihat cantik sekali. Semua pasang mata pasti akan terus menatapmu. Sialan, bahkan kostummu lebih bagus dari punyaku. Kau memang punya selera yang bagus dalam memilih kostum."
Salima: "Iya, Ruqs. Seleranya memang lebih bagus dari kita."
Jodha: "Hentikan, girls. Kalian juga tak kalah cantik kok dengan gaya kalian masing-masing. Jadi, berhentilah memujiku tinggi."
Ruqaiya "Aww,,, Jo. Makasih."
Salima: "Makasih, Jo. Mari kita mulai merias wajah."
Jo-Ruqaiya "Yup!!"

Ketiganya pun mulai merias wajah masing-masing. Mereka memilih tampilan Smokey pada bagian mata, karena dapat menyamarkan mereka sampai batas tertentu. Mereka memakai polesan lip gloss pink cerah pad bibir. Lalu, mereka menaburkan bubuk kerlap-kerlip di area pipi dan leher secukupnya. Kemudian, dilanjutkan dengan memakai wig. Semua wig memiliki panjang medium yang sama.
Ruqaiyya memakai wig berwarna hitam legam, yg serasi dengan kostumnya. Salima memakai wig pirang yang kontras dengan kostum birunya. Jodha memakai wig berwana coklat kemerah-merahan yang terlihat lebih terang dari kostumnya. Dengan wig-wig tersebut, mereka hampir tak dapat dikenali.
Kemudian mereka memakai perhiasan rambut yang merupakan perpaduan antara mahkota dan maang-teeka. Lalu menyematkan gelang dikedua lengan masing-masing serta memakai gelang kaki. Jodha melihat masih ada bubuk kerlap-krlip yang tersisa.
Jodha: "Hey, aku punya ide!"
Jodha lalu menaburkan beberapa bubuk ke seluruh lengan dan kaki jenjangnya yang terekspos. Kemudian, menaburkannya lagi pada seluruh sekat badannya bagian depan dan membuat hiasan disekitar pusarnya dengan bubuk tersebut.
Melihat itu, Salima dan Ruqaiyya pun mengikutinya.

Sementara itu, Jalal terbangun dari tidur siangnya. Dia melihat arlojinya.
Jalal: "Sialan! Sudah hampir jam 6. Aku harus segera bergegas."
Jalal langsung menyalakan pancuran air dan mengguyur tubuhnya. Setelah itu, dia keluar sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Kemudian, dia mengambil setelannya yang sudah dibeli dan memakainya. Dia memakai jel rambut agar membuat tampilan licin pada rambut gondrongnya. Dilanjutkan dengan memakai parfum favoritnya, jam tangan Rolex dan sepatunya.
Jalal: "Oh iya, aku hampir lupa untuk membawakan kado ulang tahun buat si Pecundang itu."
Jalal membuka lemarinya dan mengambil sekotak kado. Dia pun siap untuk berangkat. Dia menuju ke garasi dan masuk ke mobilnya. Lalu mulai melajukan mobilnya menuju rumah Adham.

Setelag mengecek semua persiapannya, ketiganya pun juga siap untuk berangkat, namun Salima teringat sesuatu.
Salima: "Oh, aku hampir lupa membawa cetakan sidik jarinya."
Salima berlari masuk kedalam lalu keluar membawa amplop, dia pun menyerahkannya pda Jodha.
Salima: "Simpanlah ini baik-baik. Kau akan dapat membuka brankasnya dengan ini."

Jodha mengambil amplopnya dan menyelipkannya di syal pinggulnya. Mereka pun menyelimuti tubuh masing-masing dengan mantel, lalu keluar menuju mobil. Ruqiyya duduk di kursi pengemudi, Jodha duduk di sampingnya, dan Salima duduk di kursi belakang. Ruqaiyya menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya.

Jalal sedang didalam mobilnya sambil yang terjebak dalam kemacetan. Sambil mendengarkan radio, dia mengingat-ingat mimpinya.
Jalal: "Apa maksud dari mimpi itu? Apakah itu pertanda bahwa Jodha sedang dalam bahaya? Ataukah hanya karena aku yang terlalu mencemaskannya? Oh Tuhan, aku sudah mulai gila. Aku harus mengeluarkannya dari pikiranku. Ini semua membuatku stress dan gelisah. Dan sampai kapan kemacetan ini akan berakhir!! Berlama-lama seperti ini membuatku muak."

Jodha, Salima, Ruqaiyya sudah hampir sampai di tujuan. Mereka pikir kalau memarkirkan mobilnya terlalu dekat dengan rumah Adham akan menimbulkan kecurigaan. Jadi, mereka memarkirkan mobilnya di jalur lain, lalu berjalan kaki menuju rumah Adham.
Akhirnya, mereka telah sampai di pintu masuk bagian belakang rumah, yang memang dikhususkan bagi jalan masuknya para pelayan dan penari. Penjaga memeriksa kartu ID mereka lalu mengizinkan masuk. Dia mengarahkan mereka menuju kamar rias untuk para penari.
Sambil berjalan, mereka mendengar percakapn antara 2 orang pelayan di depan sebuah kamar.
Pelayan 1 : "Dengar, masuklah dan ambillah pakaian Tuan. Aku harus menyetrikanya."
Pelayan 2 : "Iya, aku juga harus merapikan kamarnya dulu. Aku akan mengambilnya nanti."
Jodha: (dalam hati) "Jadi ini ya, kamarnya si Lintah itu! Aku yakin brankasnya pasti ada di dalam sana."

Jodha menghapal letak kamar itu agar bisa dengan mudah menemukan brangkasnya. Dia pun memastikan amplopnya tersimpan aman.
Mereka lalu tiba di kamar rias dan memasukinya. Ada banyak wanita yang akan tampil hari itu. Mereka semua berdandan dengan berbagai kostum.
Beberapa dari mereka ada yang sedang mengantri untuk mengganti pakaian, lalu ada yang sibuk merias. Ada yang berteriak meminta pakaiannya untuk dilemparkan padanya. Ada juga yang hampir menangis karena tidak bisa menemukan aksesoris rambutnya.
Dalam sekejap, semua menjadi sangat bising dan sesak di dalam. Untungnya Jodha, Salima, dan Ruqaiyya, sudah berdandan dan siap lebih dulu dari rumah, jadi mereka tak perlu merasakan sesak di dalam. Mereka pun duduk dikursi yang disediakan.
Salima: "Aku harap kita nanti tampil terakhir."
Jodha: "Kenapa begitu?"
Salima: "Saat penampilan terakhir selesai, para penari akan mulai meninggalkan tempat ini. Dan lantai ini akan sepi, nantinya akan mudah bagimu untuk menyelinap masuk dan mengambil berkasnya tanpa harus takut tertangkap."

Tiba-tiba seorang sukarelawan datang dengan nomor undi dan menyerahkannya pada Salima. Melihat nomornya, Salima lalu berteriak kegirangan.
Salima: "Yee,,,, kita akan tampil terakhir!!"
Jodha dan Ruqaiyya ikut senang mendengarnya. Satu per satu para penari latar mereka tiba.
Ketiganya semakin menjadi gugup dan gelisah disaat yang bersamaan. Ada kemungkinan besar bahwa seluruh rencana mereka bisa menjadi bumerang.
Sementara itu, Jodha mengeluarkan amplopnya lalu menuliskan nama samarannya 'Rose' agar mudah baginya mengingat namanya. Setelah itu, dia kembali menyelipkan amplop itu di balik syal pinggulnya. Mereka pun dengan sabar menunggu waktu untuk berlalu.

Sementara itu, Jalal telah tiba ditujuan. Dia tiba lebih awal karena tamu-tamu lain tidak akan tiba sebelum jam 8. Dia melihat Adham dan berjalan menghampirinya.
Jalal: "Hey, Adham! Selamat ulang tahun."
Adham: "Hey, Jalal. Thanks, man."

Mereka saling berpelukan, lalu jalal memberikannya kado. Adham membuka kadonya dan melihat sebuah jam tangan Rolex edisi terbatas yang dilapisi dengan berlian dibagian luarnya dan dikelilingi dengan bahan platinum. Sabuknya juga terbuat dari platinum. Adham tersenyum lebar melihat arloji itu, lalu kembali memeluk jalal.
Adham: "Thanks, man. Bagaimana kau tahu kalau aku memang menginginkan arloji ini?"
Jalal: "Well,, aku memang tahu segalanya tentangmu. Kau tak bisa menyembunyikan apapun dariku."
Kalimat terakhir tadi sebenarnya di maksudkan untuk menyindir Adham. Namun, karena saking senangnya, hingga dia tak menyadarinya.

Adham: "Jalal, aku harus menyapa tamu-tamu lainnya, jadi aku akan sangat sibuk. Kau pergilah ke bar dan minumlah sesuatu. Acaranya akan segera dimulai. Lihatlah bartendenya. Dia seksi sekali,'kan? Pergilah dan bicara padanya. Aku akan segera kembali."
Jalal: "Baiklah, aku akan ke bar."
Jalal pun menghampiri bar, sambil memikirkan perkataan Adham barusan.
Jalal: "Dasar Pecundang!! Kau pikir aku mau menggodanya.. Bagiku hanya ada satu wanita cantik, yaitu Jodha! Tidak ada yang bisa menggantikannya. Tidak juga bartendermu itu!"

Jalal duduk di bar dan memesan segelas wiski. Si baretender melempar senyum menggoda ke arahnya sambil membuatkan minumannya. Jalal tidak menggubrisnya. Di dalam pikirannya, dia ingin melihat Jodha. Dia mendesah pelan dan meneguk minumannya.

Suasana di kamar rias begitu tegang. Semua penari sedang menunggu acarany dimulai. Waktu sudah hampie memasuki pukul 9 malam. Sepertinya acarany agak sedikit terlambat.
Akhirnya, seorang sukarelawan menyuruh grup penari pertama untuk beekumpul.

Jalal yang sedang duduk di bar, baru saja meneguk gelas wiski yg kedua, lalu ia mendengar seseorang mengumumkan acaranya, "Selamat malam, semua. Para tamu diharapkan segera berkumpul di sekitar panggung karena acaranya akan di mulai. Terima kasih."
Jalal pun bangkit dari duduknya dan menuju ke arah sekitar penggung untuk mendapat tontonan yang lebih jelas. Lampu ruangan dibuat remang-remang, agar membuat susana semakin eksotis.
Sekelompok penari pertama memasuki panggung dan menari dengan gerakan akrobatik.

Waktu pun perlahan berlalu. Satu per satu grup penari menyelesaikan penampilannya di panggung. Akhirnya, tibalah waktu bagi Salima, Jodha, dan Ruqaiyya, serta penari latarnya untuk tampil.
Salima: "Ayo, girls. Let's do this!
Semuanya: "Yeeahh!!!!
Salima: "Oh, aku hampir lupa sesuatu."

Salima mengeluarkan beberapa cadar yang terbuat dari bahan jaring dari dalam tasnya. Dia membagikan beberapa cadar berwarna putih kepada para penari latar yang senada dgn warna kostumnya. Lalu, dia membagikan cadar berwarna hitam pada Ruqaiyya, yang merah pada Jodha dan dia sendiri mengambil yang biru.
Salima: "Ini akan membantu kita dalam penyamaran, juga membuat kita terlihat seperti penari tari perut yang asli."

Mereka melepaskan mantel dan memakai cadar masing-masing, yang menutupi hidung dan mulut mereka. Mereka pun mendapat panggilan terakhir untuk tampil ke atas panggung.
Salima: "Ingatlah teman-teman, cobalah untuk menarik sebanyak mungkin para pria itu untuk naik ke panggung. Bagusnya, jika kalian sendiri yang membawa mereka naik ke panggung. Karena kita harus membuat panggungnya menjadi ramai. Mengerti?"
Semuanya : "Mengerti!!!"
Ruqaiya: "Let's do this now, everybody!"


FanFiction His First Love Chapter 19

6 comments:

  1. Gud job mbak cus. Pengen tau bagaimana dirimu mengolah scene2 memuakkan itu. Hihi. Sip!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Bunda Nia... Scene itu yah?? Masih belum terfikirkan, rencananya sih mau saya rubah total dan buat ending sendiri, **Semoga bisa...

      Delete
  2. Jd ikut2an tegang, takut rencana charlie angel gatot (gagal total)

    ReplyDelete
  3. Astaga.....beneran ikut degdegan, takut kalo ada yang ketahuan
    Semoga aja mereka berhasil dgn misinya

    ReplyDelete
  4. Ayo seMaNgatt buat Mereka ....seMoga sukses...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.