FanFiction His First Love Chapter 24 Part 1 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 24 Part 1



Written by Samanika
Translate by ChusNiAnTi
Note: Tulisan warna biru adalah ucapan dalam hati pemain.

Jodha memasuki rumahnya dan sesampainya didalam, ia melihat keluarganya yang sedang menunggunya. Melihatnya, mereka bergegas menyambutnya. Mainavati memeluknya erat dan Jodha membalas pelukannya.
Mainavati: “Jodha, aku sangat senang dengan semua berita yang aku dapatkan hari ini. Promosi ayahmu dan perhatian khusus untukmu! Aku sangat bangga!”
Jodha: “Oh Ma! Terima kasih! Tapi Papa yang menjadi bintang malam ini!”
Sujamal: “Oh, Di! Tetapi kau juga menjadi bintang malam ini! Papa mengatakan kepada kami bahwa kau diberi hadiah dan penghargaan oleh bos didepan semua orang.”
Bharmal: “Jodha, kami semua sangat bangga padamu hari ini. Anda membawa kebenaran di depan Presdir dan memenangkan kepercayaan dan penghargaan.”
Jodha: “Aw... Papa, terima kasih.”
Sujamal: “Apakah kita tidak akan mengadakan party hari ini?!”
Mainavati: “Tidak, tidak hari ini. Tapi kami pasti akan pergi untuk makan malam besok!”

Mereka semua langsung berpelukan, seperti teletubbies. **Bener ga ya nulisnya???** Jodha merasa bahagia setelah waktu yang lama. Dia hanya ingin saat ini untuk bertahan selamanya.
Sujamal: “Tetapi Di, bagaimana kau bisa mendapatkan kertas-kertas itu? Dan bagaimana kau bisa tahu tentang penipuan ini?”
Mendengar pertanyaan Sujamal, Jodha menjadi sedikit gelisah. Dia tahu bahwa dia harus memberitahu keluarganya tentang hal itu tetapi hal itu tampaknya terlalu terburu-buru untuk dia saat itu. Untungnya, ayahnya menyelamatkannya.
Bharmal: “Biarkan dia beristirahat dulu. Dia memiliki hari yang panjang. Kita akan mendengarnya nanti.”
Mainavati: “Ya Jodha, kau pergilah dan ganti bajumu. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu.”

Jodha masuk ke kamarnya. Dia mengeluarkan sepasang pakaian malam dari lemari dan mulai menanggalkan pakaian. Wanita ini tidak hanya takut bahwa orang tuanya akan kecewa setelah mendengar semuanya tetapi juga berpikir tentang apa yang terjadi di kabin Jalal.
Jodha: “Aku tidak tahu mengapa aku memegang tangannya hari ini. Apakah semua itu perlu? Tetapi aku harus mengakui bahwa dia memiliki tangan yang sangat besar dan kuat. Dan dadanya begitu luas. Aku merasa begitu aman ketika aku jatuh padanya. Dan ketika dia berbisik ditelingaku, nafasnya begitu hangat dan suaranya membuatku terhipnotis. Dan dia tampak begitu pintar. Aku yakin aku telah merusak jasnya hari ini. Oh Tuhan... Apa yang aku pikirkan? Dia adalah bosku. Bagaimana mungkin aku memikrkan dirinya seperti itu?

Apa adalah kebutuhan untuk itu? Tetapi aku harus mengatakan dia punya tangan yang sangat besar dan adil, hanya seperti seorang seniman! Dan dadanya begitu luas! Aku merasa begitu aman dan aman ketika aku jatuh padanya! Dan ketika ia berbisik di telingaku, napas hangat dan suara-Nya membuat aku begitu pertannyaan itu! Dan dia tampak begitu pintar mereka cocok! Aku yakin aku harus telah menghancurkan mantelnya hari! Oh Tuhan! Apa yang aku pikirkan? Dia adalah bosku! Bagaimana aku bisa memikirkan dirinya seperti itu? Ugh... Snap out of it, Jodha!”

Pikiran Jodha sedang kacau, tidak ada orang lain yang pernah membuatnya merasa seperti ini. Bahkan Surya yang pernah menjadi pacarnya, tidak akan membuatnya merasa seperti ini setiap kali ia memujianya. Dia juga pernah dekat pria seperti ia dekat dengan Jalal hari ini. Dia tidak mau mengakuinya, tapi dia sudah mulai memperhatikan Jalal dalam cara yang berbeda. Dia selalu memperhatikan bagaimana penampilannya dan apa yang dipakainya. Dia menyukai gaya rambutnya dan apapun yang dikenakannya begitu cocok padanya. Saat ia membencinya, auranya tidak menariknya. Namun sekarang, auranya mulai menariknya pada Jalal. Ia selalu ingin bertemu dengannya dan seakan ada kupu-kupu yang ikut menari bersamanya setiap kali ia melangkah ke kabin Jalal. Ketika Jodha berpikir tentang semua ini, seulas senyum mulai tampak di wajahnya. “Tidak diragukan lagi bahwa ia begitu tampan. Ia juga memiliki kemampuan untuk membuat setiap wanita tersenyum dengan pujiannya. Ku fikir dia juga menarik. Tapi dia adalah bosku, atasanku. Aku harus membatasi pikiranku tentangnya.”

Kemudian dengan cepat Jodha menuju ke meja makan. Semua orang sudah selesai makan tetapi mereka sibuk mengobrol dan tertawa di meja makan. Mainavati sudah menyiapkan piring untuknya. Jodha duduk di salah satu kursi dan mulai makan.
Saat ia masih makan, Sujamal kemabali menanyakan bagaimana Jodha bisa tahu tentang peristiwa itu dan bagaimana cara Jodha menadapatkan file-file etrsebut. Mendengar pertanyaannya, rasanya Jodha ingin membungkam mulutnya agar tidak mengingatkannya dengan pertanyaan itu lagi. “Dia terlalu banyak bicara. Tapi kurasa aku harus memberitahu mereka semuanya.”Ucapnya dalam hati.
Mainavati menegur Sujamal, “Sujamal, mengapa kau mengganggu kakakmu? Biarkan dia makan dulu. Dia memiliki hari yang panjang. Kau dapat bertanya padanya apa pun yang kau inginkan nanti.” “Oke. Di, cepat selesaikan makanmu!”

Jodha terus melanjutkan makannya, semenyara Mainavati dan Bharmal sudah berpindah keruangan lain. Sujamal terus mengganggu Jodha dengan pertanyaannya yang tanpa henti dan Jodha terus menjawabnya dnegan sangat jengkel. Dia menyiapkan mental untuk mengatakan kebenarannya pada keluarganya.

Akhirnya, setelah menyelesaikan makan malamnya, dia berdiri membawa piringnya ke dapur dan mencuci tangannya. Dia kemudian duduk di sofa disamping ayahnya yang sedang menonton TV. Sujamal bergegas bertanya lagi padanya. Bharmal mencoba menengahi, “Jodha, jika kau lelah, kau pergilah tidur. Kau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Sujamal besok.” Namun Jodha tak mau menindanya lagi, “Papa, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada kalian semua. Tolong panggil Mama yang ada di dapur.”

Bharmal memanggil Mainavati dan menyuruhnya ke ruang tamu. Mainavati menyelesaikan pekerjaannya dan menuju ke ruang tamu. “Arre, apa yang terjadi? Mengapa kau memanggilku?” Jodha yang menjawab pertanyaan Mainavati, “Ma, duduklah. Aku harus memberitahu kalian sesuatu yang ku sembunyikan selama ini.”
Mainavati mengerti bahwa ada masalah serius. Dia duduk disamping suaminya. Semua menunggu dengan sungguh-sungguh untuk mendengarkan apa yang Jodha akan katakan.
Jodha: “Hampir dua bulan lalu, aku bekerja sampai larut di kantor. Setelah menyelesaikan pekerjaan, aku memutuskan untuk pergi ke toliet sebelum pulang. Aku pergi ke sana dan ketika aku kembali ke mejaku, aku mendengar suara-suara teredam yang datang dari kabin Adham. Aku berdiri di dekat partisi kaca untuk memeriksa apa yang terjadi dan melihat Benazir dan Adham bersama-sama. Mereka berbicara tentang beberapa data perusahaan, yang Adham sembunyikan di dalam brankas di rumahnya. Aku tetap diam selama hampir satu bulan setelah itu, berharap bahwa Pak Presiden akan mengetahui semuanya sendiri. Tapi itu tidak terjadi. Kemudian ketika aku pergi ke klub malam itu dengan Salima dan Ruqaiyya, Adham mencoba untuk membuatku mabuk dengan mencampurkan vodka ke dalam minumanku, tapi Pak Presiden menyelamatkanku dengan meminum menimunan itu. Ketika aku mengantarkan dia pulang malam itu, dia mengatakan semuanya dalam keadaan mabuk. Saat itulah aku memutuskan bahwa aku akan membawa kebenaran ini depannya dengan cara apapun.”
Sujamal: “Apa yang kau lakukan setelah itu?”
Jodha: “Aku katakan pada Salima dan Ruqaiyya semua yang aku tahu. Mereka memutuskan untuk membantuku. Salima membuat rencana supaya kami bisa memasuki rumah Adham dengan cara berpakaian sebagai staf untuk pesta ulang tahunnya. Tapi karena keadaan yang tidak terduga, kami harus mengambil risiko dan memasuki pesta tersebut sebagai pemain.”

Mendengar ini, semua orang terkejut. Mainavati juga sedikit marah. Jodha telah menyembunyikan hal-hal penting dari mereka. Sementara itu, Jodha melanjutkan. “Setelah sebulan persiapan dan perencanaan, kami memasuki pesta itu sebagai penari perut dan menyamar sedemikian rupa sehingga tidak ada yang bisa mengenali kami. Waktu itu, kami berusaha mengalihkan perhatian semua orang sehingga aku bisa menyelinap dari pesta itu untuk mengambil berkas-berkas yang ada di kamar Adham. Setelah aku mendapatkan berkas-berkas itu, kami segera meninggalkan tempat itu dan menuju rumah Salima. Dan selanjutnya semuanya terjadi pada hari ini.”

Keluarga Jodha sangat terkejut mengetahui kenyataan ini. Bharmal tahu bahwa Adham mencoba berbuat jahat pada putrinya, tapi ia lebih terkejut setelah mendengar cerita Jodha secara keseluruhan. Mainavati sangat terkejut dan marah pada saat yang sama. Sujamal hanya menganga mendengar cerita saudara perempuannya. Mainavati bangun dan memegang bahu Jodha dalam keadaan marah, “Jodha! Kau mengambil resiko sebesar ini dan tidak memberi tahu kami apapun! Dan mengapa kau tidak menceritakan tentang Adham! Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu??? Apakah kau tidak memikirkan tentang kami???”
Jodha mencoba menenangkannya, “Ma, aku tahu kau terluka. Tapi aku mungkin tidak bisa menceritakan semua ini sebelumnya. Kau pasti akan melarangku untuk melakukan itu. Dan aku ingin membantu Pak Presiden karena ia telah menyelamatkanku dari si Leechad Adham!” Suara Mainavati mulai melembut, “Sayang, pemikiranmu benar. Dan aku tahu bahwa bosmu adalah orang yang baik. Tapi aku masih tidak setuju jika kau mempertaruhkan keselamatan dan kehormatanmu dalam hal ini. Dan yang lebih buruka dalah kau tidak memberitahu apapun pada kami tentang semua ini.” , “Ma, aku tidak mengatakannya karena aku benar-benar peduli padamu. Aku tidak ingin membuat kalian khawatir. Aku melakukan ini untuk Pak Presiden. Aku tidak akan bisa tenang sebelum bisa membalas kebaikannya.” Jelas Jodha. Mainavati masih menyukai keputusan Jodha, “Kau membuat kami lebih khawatir dengan menyembunyikan semua ini dari kamu. Dan aku tidak mengerti dengan keinginanmu untuk membantu bosmu. Mengapa membawa kebenaran dihadapannya begitu penting untukmu?”

Jodha terdiam mendengar pertanyaan Mainavati. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia sendiri mulai bertanya-tanya mengapa ia begitu bersemangat untuk membawa kebenaran dihadapan Jalal. Dia bisa dengan mudah mengadukan pada polisi dengan tuduhan pelecehan, dan sisa kejahatan Adham nantinya akan bisa terkuak juga. Lalu mengapa dia menganggapnya sebagai tanggung jawab pribadi untuk mengungkapkan kebenaran kepada Jalal? Ia mencoba untuk menemukan jawaban tapi tidak bisa. Mainavati menyadarkan Jodha dari lamunannya, “Jodha, aku tidak bisa membatasi gerakanmu dengan cara apapun, tapi aku tidak ingin kau menyembunyikan apapun dari kami, tidak peduli bagaimana seriusnya masalh itu. Dan apakah kau menerima apapun yang bosmu lakukan?” Jodha menjawab dengan lesu, “Ya Ma.” , “Baik. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.” Kemudian Mainavati menuju ke arah dapur tanpa mengucapkan kalimat lain. dia jelas marah pada Jodha karena tidak mau terbuka kepada mereka, tapi dia juga khawatir pada keselamatan putrinya. Dia juga berterima kasih kepada Jalal karena telah melindungi anaknya. Namun, dia masih bingung, kenapa putrinya mengambil resiko sebesar ini demi Jalal.

Sementara itu, Jodha sedih dengan apa yang baru saja terjadi dan masih duduk di sofa, dengan kepalanya membungkuk. Dia mulai menangis. Ayahnya yang duduk di sampingnya, mulai menghibur dirinya dengan mengelus kepalanya. Adiknya juga memintanya untuk berhenti menangis. Dia berhenti menangis dan mendongak. Wajahnya penuh dengan air mata. Siapa yang yang melihatnya, pasti juga akan sedih melihat wajah cantiknya banjir dengan air mata.
Bharmal: “Sayang, kau mengenal ibumu kan. Dia tidak marah karena apa yang kau lakukan, tapi ia marah karena menyembunyikan semua ini darinya. Dia pasti sangat takut setelah mendengar apa yang Adham coba lakukan padamu. Jadi jangan khawatir, dia mungkin marah sekarang, tapi dia akan segera baik-baik saja.”
Jodha: “Papa, Apakah kau tidak marah padaku?”
Bharmal: “Tidak sayang, aku tidak marah padamu. Ya, aku setuju bahwa kau membuat kesalahn dengan menyembunyikan semua ini, tetapu kau tidak melakukan sesuatu yang salah. Apakah berdosa jika membantu seseorang? Bahkan, aku sudah tahu banyak sebelum kau menceritakan semuanya.”
Jodha terkejut, “Papa, bagaimana kau tahu?” Bharmal tersenyum, “Sayang, aku adalah ayahmu. Bahkan sedikit perubahan dalam perilaku dan nada bicaramu aku bisa mengetahuinya. Kau tampak sangat tegang sepanjang waktu, jadi aku pikir pasti ada sesuatu yang tidak beres. Juga, suatu hari, aku mendengar kau berbicara dengan seseorang di telepon mengenai beberapa kostum, kurasa tari perut.”
Jodha: “Papa, jika kau tahu, maka mengapa kau tidak bertanya padaku?”
Bharmal: “Karena Jodha, aku tahu bahwa kau tidak akan mengatakannya meskipun aku bertanya padamu. Selain itu, aku tahu bahwa putriku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang salah. Aku sangat yakin bahwa kau akan memberitahuku semuanya pada waktu yang tepat. Dan itu terjadi hari ini.”

Jodha mulai tersenyum mendengar kata-kata ayahnya. Dia segera memeluk ayahnya dengan erat.
Sujamal: “Dan Di, itu benar-benar keren, kau melakukan semua ini! Seperti film! Dan kau tidak melakukan sesuatu yang salah! Jadi jangan merasa bersalah karena kau tidak melakukan kejahatan!”

Jodha kemudian bangun dan memeluk adiknya juga. Meskipun ibu mereka marah, dia tahu bahwa ibunya tidak akan pernah bisa marah kepadanya terlalu lama. Ada suatu waktu dimana mereka bisa berkumpul dan bercerita bersama, seperti saat ini. Namun hal itu tidak bisa sering terjadi, akrena Jodha sibuk dengan pekerjaannya dan Sujamal berkonsentrasi dengan kuliahnya. Mereka melepaskan pelukan mereka dan Sujamal tersenyum kepadanya.
“Di, jika kau berada dalam kesulitan atau perlu berbagi apa-apa, aku selalu ada di sana untukmu! Aku akan selalu mendengarkan apa pun yang kau katakan!” Jodha merasa lebih baik setelah mendengar kata-kata Sujamal yang meyakinkan. Dia adalah benar-benar dekat dengan adiknya. “Haan, dan bahkan kau dapat berbagi apa pun denganku, saya selalu akan mendengarkannya!”

Setelah itu, Jodha berbicara dengan ayah dan saudaranya untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk pergi tidur, karena sudah larut. Ibunya telah pergi tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Jodha merasa buruk tapi memutuskan untuk berbicara dengannya besok pagi.

Jodha pergi ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya. Dia pasti merasa lebih baik setelah berbicara dengan ayah dan saudaranya, tapi ia menatap langit-langit, kata-kata ibunya terus-menerus bergema di telinga. Dia sendiri juga bingung mengapa dia rela mengorban dirinya demi Jalal. Ia akui bahwa Jalal memang menarik, tapi dia masih berpikir bahwa dia tidak mungkin mencintainya. Dan akhirnya Jodha pun terlelap dengan pemikiran yang masih belum ia ketahui jawabannya........ TBC-->Part 2



FanFiction His First Love Chapter 24 Part 1

7 comments:

  1. Nggak sabar nunggu lanjtannya nanda....jangan lama2 yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bunda,, Insya Allah besok saya posting lanjutannya...

      Delete
  2. akhirnya muncul jg ,,, part ini scene jalal ga ada sama skali yach,,, pgn nya jodha ma jalal mulu , kalo liat yg versi serialnya, pas ga ada scene jalal jodha uda aq skip2 tuch hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini di skp juga boleh, Bunda Riza... Nanti lah,, pas banyak adegan Jalal dan Jodha nya, takutnya pada gumoh... hehehhe

      Delete
  3. Ah...LaNjuut doNg..gaa ad adegaNg jalal Nee.....Laanjut yaa NeNg usNii caNtik..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.