FanFiction Is It Hate OR Love Chapter 24 Part 2 - ChusNiAnTi

FanFiction Is It Hate OR Love Chapter 24 Part 2



Written by Bhavini Shah
Translate by ChusNiAnTi

Perlahan-lahan ia mendekati wajahnya. Tidak ada ruang yang tersisa diantara tubuh mereka. Mereka begitu dekat, bahkan mereka bisa saling merasakan nafas yang lain diwajah mereka. Jodha menundukkan pandangannya. Bibir mereka hanya terpisah satu inci. Jalal berrkata dengan nada sangat sensual, “Ohhhhh JODHAA!!! Kau akan membuatku gila sepanjang hari... Wajahmu yang ceria dan pipimu yang memerah... Matamu yang begitu indah... Selalu menarik diriku terhadapmu, seperti kupu-kupu yang tertarik oleh mawar... lebah yang tertarik pada madu...” **Beranfas dulu sejenak, gombalannya Shahenshah bikin kagak nahan,,, Nggak tahan untuk.... (sensor). Oke, lanjutkan**
Jodha bertanya dengan nada yang rendah dan wajah yang memerah berat, “Shahenshah, bukankah sekarang saatnya latihan pedang, apa yang kau lakukan saat ini disini??? Apa yang akan dipikirkan orang lain, jika mereka melihatmu disini... Semua orang tahu kalau kita telah menghabiskan malam bersama-sama...”

Jalal menatap wajahnya dan mulai melancarkan gombalannya, “Oh JODHAAA... Setelah aku melihatmu, aku segera melupakan semuanya... Kau benar-benar melakukan sihir padaku... Aku kesini untuk bertanya tentang Diwan-e-Khaas... Apakah kau merasa gugup atau khawatir???”
Jodha menunduk, "Hmmm!!! Aku agak takut... Di pengadilan Mughal, ada begitu banyak menteri dan administrator yang cerdas dan yang berkualifikasi... Aku sangat gugup.. Bagaimana aku seharusnya bersikap didepan mereka...”

Jalal menangkupkan wajahnya, “Jodha, tidak perlu memikirkan hal itu.. Jadilah dirimu sendiri... Jangan ragu-ragu untuk menyampaikan pemikiranmu yang tepat dan langah pernah lupa bahwa pendapatmu sangat bermanfaat... Kau adalah otoritas kedua di pengadilan dan saltanat ini... Dan Ingatlah selalu, aku akan selalu ada untuk mendukungmu...” Jodha memandangnya, “Shahensah, sebenarnya aku lebih khawatir tentangmu... Bagaimana jika kau tidak menyukai sesuatu dan marah padaku didepan semua orang???” Jalal menjawab dengan nada serius dan tegas, “Jodha... Jika aku tidak menyukai sesuatu, aku tidak akan pernah marah padamu di depan semua orang...” Jodha merasa terganggu dengan pernyataan Jalal, “Oh.. Jadi kau akan marah padaku nanti!”
“Lalu setelah Diwan e Khaas, kita akan bercinta di ruanganmu untuk sisa hari dan sepanjang malam...” Jalal mengedipkan matanya tanpa malu-malu. **Aduh,,, bener-bener deh ini... Kipas mana kipas???** "Ah... apakah kau tidak bisa memikirkan yang lain Shahenshah... Sekarang pergilah sebelum ada seseirang melihatmu disini, aku harus menyelesaikan doa Kanah...” . "Oh ada JODHAAA... Aku telah berjalan sejauh ini dari kamarku untuk menemuimu... Bagaimana bisa aku pergi tanpa mendapatkan ciuman???” Jalal menyeringai. “Shahenshah, aku tidak dalam suana hati untuk berciuman sehingga kau dapat pergi...” Jalal tersenyum penuh arti, “Hmmm... Jangan malu Jodha... Aku fikir kau sedang menunggu kedatanganku... Lihatlah, itulah sebabnya kau bahkan tidak mengenakan perhiasanmu dan membiarkan rambutmu yang basah terurai dan kau tahu aku menyukai itu...” Jodha langsung menjawab dengan nada gugup untuk membela dirinya sendiri, “Aku tidak menunggumu Shahensha... Aku baru saja selesai mandi dan kemudian aku duduk disofa memimikrkan tentang malam terakhir kita bersama-sam... Tapi aku tidak menunggumu... Sungguh...” Jalal bertanya tanpa malu sedikitpun, "Hmmm, jadi katakan padaku apa yang kau pikirkan??? Bagaimana kita berperang... Bagaimana kita mencium... Bagaimana kita bercengkerama... "
"Bas bas Shahenshah... (Tolong Hentikan itu Shahenshah...) Aku tidak bisa mendengarnya lagi... Aku menyerah... Katakan padaku apa yang kau inginkan dariku sehingga kau segera meninggalkan ruangan ini???”
“Acha, jikaa kau memaksa, maka aku harus memberitahumu.. Aku tidak akan pergi sampai suasana hatimu kembali...” Jodha sedikit kesal, “Oke Shahenshah... Suasana hatiku telah kembali... Kau dapat menciumku tapi kemudian kau harus segera pergi...” Jalal sedikit tidak menyukainya, “Baiklah Jodha, aku tidak ingin menciummu... Aku akan pergi sekarang, tapi setelah Diwan E Khaas aku tidak akan melepaskanmu..." Dia berbalik kearah pintu.

Jodha dengan nada rendah memanggilnya, “Tunggu Shahenshah...” **Tuh kan, terbukti, sebenarnya siapa yang lebih woooowww,,, LOL** Jalal berbalik dan bertanya dengan santai, “Ada apa Jodha???” Jodha memberanikan dirinya dan wajahnya memerah, “Shahenshah, suasana hatiku telah kembali...” Jalal tersenyum dan menghembuskan nafasnya, “Oh Jodha... Kau tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggodaku... Apakah kau juga mengambil latihan untuk merayu suamimu???” Sambil berjalan kearahnya dan menatapnnya intens. Dia semakin dekat dengannya, “Jadi, jika moodmu telah kembali, lalu ciumlah aku...” Jodha menunduk karena malu. Jalal mengangkat wajahnya dan perlahan-lahan mencium pipinya. Jodha segera memejamkan matanya setelah merasakan sentuhannya yang lembab. Kemudian dengan lembut mencium bibirnya dan memandangnya dengan penuh gairah. Jodha membuka matanya dan kemudian membalas ciuman Jalal......

Tiba-tiba ada sebuah pengumuman, “Mariam Makani hamidah Bano tashreef laa rahi hai..." Mendengar pengumuman itu, keduaanya saling memandang dengan shock. Jodha segera mendorong Jalal dan mulai memperbaiki penampilannya. Jalal juga berpura-pura melihat ke tempat lain. Hamida bani memasuki kamar Jodha dan sempat terkejut ketika melihat Jalal berdiri memandang berkeliling membingungkan. Dia mengamati Jodha. Dan melihat ekspresi wajah mereka, ia segera menyadari situasi... Dia sedikit tersenyum dan memutuskan untuk menggoda pasangan tersebut. Dia bertanya dengan nada serius, “Jalal apa yang kau lakukan disini saat ini??? Ini adalah waktu untuk latihan... Apakah kau tidak terlambat???” Jalal mencoba mencari jawaban dan kemudian menjawab dengan gugup, “Tida Ammijaan, aku... aku...” Kemudian setelah jeda sesaat, Jalal melanjutkan, “Aku datang kesini untuk memberitahu Jodha begum tentang Diwan e Khaas...” Ia menarik nafas dalam-dalam dan merasa lega karena telah menjawab pertanyaan Hamida.

Hamida menyembunyikan senyumnya dan menjawab, “Hmmm... Aku mengerti... Ada baiknya kau mengingatkannya waktu pertemuan DWK sebelumnya... Tapi kurasa itu bukan hal yang baru untuk Jodha.... Dia telah disini sejak 4 bulan yang lalu, dia seharusnya sudah tahu kapan waktunya DWK...” Jalal merasa agak malu.
Tiba-tiba Hamida melihat tanda merah di leher Jodha. Hamida bertanya dengan serius dan nada menggoda, “Ooohhh Jodha, anakku! Apa yang terjadi kepadamu??? Lihat tanda ini di lehermu... Bagaimana itu bisa terjadi???” Sebelum Jodha mengatakan apapun, Jalal langsung menjawabnya, “Digigit nyamuk Ammijaan...”
“Nyamuk!!!” Hamida menatapnya dengan bingung. Jalal sadar bahwa ia menjawab tanpa berfikir. Hamida bercanda, “Sepertinya nyamuk yang besar...” Jalal melihat Hamida yang tersenyum menggoda. Ia menghidari tatapan Hamida dan memandang Jodha dan berkata, “Aku terlambat latihan... Jadi aku akan pergi sekarang... Khuda Hafiz...” dan berjalan keluar dari kamar Jodha dengan menahan malu.

Jodha merasa sangat malu hingga dia tidak mampu mengangkat pandangannya. Hamida mencium dahinya dan berkata, “Aku juga akan meninggalkanmu...” Jodha dengan wajah memerah memangdang Hamida bano yang sedang berjalan keluar.
Hamida tiba-tiba berhenti dan berbalik, “Jodha anakku, sekarang pakailah kalungmu atau nyamuk yang lain akan datang kembali dan menggigitmu lagi...” Kemudian ia tersenyum pada Jodha, “Khuda Hafiz...” Jodha merasa sangat malu, dia tidak bisa menatap mantanya lagi.

Jodha merasa kesal, “Aku tidak akan membiarkanmu Shahenshah, kau meninggalkanku sendiri setelah menempatkanku pada kekacauan yang memalukan ini...”

Jodha mulai mempersiapkan pooja... Ia dengan cepat membuat prasad, selesai pooja kresna dia keluar untuk melakukan tulsi pooja...

Jalal masih bermain pedang. Bermain pedang adalah bagian dari rutinitasnya, tida peduli seberapa sibuk dirinya tetapi dia selalu meluangkan waktu untuk melakukan latihan pedang.

Ketika berdoa, Jodha merasa terganggu karena ada yang mengawasinya. Jodha dan Jalal saling mencuri lirik satu sama lain. Mata Jodha menyipit menandakan bahwa ia merasa terganggu dan juga kesal, namun Jalal justru tersenyum nakal.

Bakshi Bano melihat keduanya melirik satu sama lain. Dia sangat bahagia tentang apa yang baru saja terjadi dengan hubungan Jodha dan Jalal. Ia menghampiri Jodha dan mengucapkan salam. Jodha menyambutnya dan memberinya Aarti dan Prasad. Bhaksi mulai bertanya, “Apakah kau tidak ingin memberikan aarti kepada Bhaijaan???” Jodha mengangguk dan keduanya mulai berjalan menghampiri Jalal.

Mereka menghampiri Jalal. Jodha memberinya Aarti dan Prasad. Kemudian Bakshi menyapanya, "Aadab Bhai jaan... Aku ingin mengucapkan selamat kepada kalian berdua... Akhirnya saudaraku jatuh cinta...” Jodha menunduk malu dan berfikir, “Apa yang terjadi hari ini... Semua orang menggoda kami...”

Jalal menatap Jodha dan berkata, “Kau benar Bahshi... Akhirnya, aku telah jatuh cinta...” Jodha memandangnya dengan sudut matanya dan berfikir, “Apapun yang kau lakukan kemarin di Diwan-e-Khaas, apakah masih belum cukup sehingga kau melakukan lagi sekarang!!!”

Jalal tersenyum kepada mereka berdua dan berbalik untuk kembali latihan. Bhaksi melihat ada goresan kuku di punggung Jalal dan ia bertanya dengan khawatir, “Bhai jaan, goresan apa ini???” Jalal segera berhenti dan tersenyum kemudian berbalik menghadap Jodha dan Bhaksi. Dia melirik Jodha dengan tatapan nakal, “Bakshi, sebenarnya kemarin aku pergi ke danau dan disana ada kucing liar yang menyerangku... Tapi kau tidak perlu khawatir, sepertinya aku sudah terpesona kepada kucing liar itu...” Jodha mendengar ucapan Jalal dan menyipitkan matanya.

Bhaksi terkejut, “Ya Allah... Apa yang etrjadi ini Bhai jaan??? Pertama-tama kau diserang harimau dan sekarang ini kucing liar... Jagalah dirimu sendiri...” Kemudian ia berbalik menghadap Jodha, “Kau sudah merawat taman istana, sekarang tolong urus cedera bhaijaan...” Dan ia meninggalkan mereka sendiri. Jodha menatap Jalal sekilas dan pergi untuk mengambil obat untuknya.

Jodha kembali dengan membawa salep. Jalal mulai menggodanya, “Kematilah Junglee Billi... Oleskan salepnya...” Jodha dengan kesal bertanya, “Mengapa kau mengatakan bahwa luka itu diberikan oleh kucing liar???” Jalal memandangnya dengan tatapan misterius, “Hmmm... Benar Jodha... Seharusnya aku mengatakan yang sebenarnya kepada Bakshi... Bagaimana aku mendapatkan goresan ini dan yang memberikannya...” Keduanya saling memadang dan tersenyum satu sama lain.

Pengumuman kedatangan Jodha dan Jalal dibuat dan kemudian mereka berjalan bersama-sama di Diwan e Khass. Jodha sedikit takut melihat begitu banyak administrator cerdas dan berpendidikan. Ada juga beberapa raja yang berkunjung kesana dengan membawa isu-isu negara mereka masing-masing. Segalanya tampak sangat berbeda. Perasaan duduk dibelakang tirai dan hanya mendengarkan berbeda dengan duduk di atas takhta. Seluruh tubuhnya menggigil karena gugup. Ia pernah menghadiri darbar di kota Amer, namun hari ini, untuk pertama kalinya ia akan duduk disamping Jalal dan harus memberikan pendapatnya mengenai isu-isu politik. Dia panik namun mencoba untuk tetap etrsenyum. Jalal melihat matanya dan mengetahui bahwa Jodha sangat gugup. Dia berkeringat di musim dingin. Keduanya sampai di tahta. Yang pertama duduk adalah Jalal, kemudian Jodha duduk di sampingnya.  Pikirannya kosong karena takut. Tubuh bagian dalamnya dingin. Jalal melihat wajahnya yang takut dan khawatir. Ia perlahan-lahan meletakkan tangannya diatas tanagan Jodha dan menatapnya untuk menenangkanya. Kemudia perlahan-lahan ia berbisik, “Jangan khawatir Jodha, aku bersamamu...”

Melihat wajah Jodha yang khawatir, Rukaiya dan Maham keduanya tersenyum satu sama lain. Hamidah dan Jodha melirik satu sama lain. Dengan ekspresi mata hamidah memberikan berkah-Nya kepada Jodha. Darbar itu penuh dengan menteri yang cerdas. Kecerdasan mereka dianggap terbaik di seluruh Hindustan. Para peneliti, orang yang melihat hitungan bulan, berada didepan matanya dan itu membuatnya semakin gugup. Jodha adalah orang yang sangat intelektual dan pengetahuannya begitu luas. Dalam usianya yang masih sangat muda dia memperoleh pengetahuan tentsng obat-obatan, bisnis dan interaksi internasional. Dia membaca banyak buku yang berbeda. Bacaan favoritnya adalah tentang ekonomi dan perpajakan. Dia bahkan menulis bukunya sendiri tentang cara meningkatkan Arth-tantra. Tidak ada satu pun yang tahu termasuk Jalal bahwa Jodha memiliki rincian pengetahuan yang sangat banyak. Tidak ada yang berfikir jauh tentang Jodha. Untuk mendapatkan kedudukan Diwan e Khaas di Mughal bukanlah tugas yang mudah. Orang-orang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan kedudukan di DWK. Semua orang menatap Jodha sebagai ratu favorit Shahenshah dan tidak lebih.

Pengadilan dimulai dengan Atgah Sahib membacakan deklarasi, “Banjir besar terjadi di Sikandrabad tiga hari tang lalu, dan beberapa desa benar-benar hancur... Raja Sikandrabad ada disini untuk meminta bantuan dan meminta pajak desa dihentikan...” Jalal meminta untuk  menjelaskan lebih jauh. Raja bangkit dan menjelaskan kerusakan yang disaksikan oleh orang-orang desa, “Semua desa-desa hancur dan banyak orang yang meninggal karena banjir... Orang-orang yang masih bertahan, setidaknya tidak membayar pajak selama setahun...”

Diskusi dimulai, satu per satu semua orang mulai memberikan pendapat mereka tentang pajak. Apa jumlah pajak harus dimaafkan, bagaimana akan berdampak pada perbendaharaan Sultanat dan banyak pertanyaan lain yang menyangkut hal tersebut. Juga ada sebuah diskusi besar oleh para ahli keuangan. Diskusi utama adalah pada berapa banyak semua ini akan dikenakan biaya. Akhirnya semua orang datang pada kesimpulan yang memberikan 6 bulan pemberhentian pajak untuk warga korban tersebut. Kemudian Jalal meminta pendapat Maham dan Rukaiya di dalam hal ini. Keduanya setuju dengan Menteri Keuangan dan penasihat dan menjelaskan bahwa Sultanat tidak mampu untuk memberikan lebih dari enam bulan pemberhentian pajak.

Akhirnya Maham bertanya pada Jodha, “Malika-e-Hindustan... Apa pendapatmu tentang masalah ini???”

Jodha memandang Jalal. Dia ketakutan. Dia tidak pernah berbicara di depan yang banyak orang tentang isu politik. Kemudian ia memulai dengan sedikit pendekatan, “Pada awalnya, aku mengerti pemotongan pajak akan berdampak pada keuangan Sultanat, tapi aku memliki beberapa pertanyaan untuk Raja Sikandrabad...” Jodha bertanya kepada Raja dnegan hormat dan nada rendah, “Apa yang anda lakukan sejauh ini untuk mendukung desa tersebut, yang selamat dari banjir yang tragis???” Dengan yakin Raja menjawab, “Negara kami telah mengirim lebih dari dua puluh tentara untuk menyelamatkan para korban, yang datang ke istana, diberi sumbangan beberapa pakaian dan selimut... Juga, beberapa kuil dan masjig yang mengatur makanan bagi para korban...” Jodha terus bertanya secara bertahap kali ini kepercayaan dirinya semakin meningkat, “Apakah mereka sudah memiliki perlindungan yang layak??? Dan apakah mereka menerima semua bantuan yang mereka butuhkan atau mereka memohon untuk mendapat bantuan sedapat mungkin???” Dengan nada menyesal Raja menjawab, “Semua ini terjadi begitu cepat sehingga kami tidak punya waktu untuk mempersiapkan hal itu...” Nada bicara Jodha sedikit lebih keras dan percaya diri. Dia bertanya dengan keras, “Apakah negara anda memliki dana darurat untuk bencana alam atau kejadian yang tak terduga untuk negara??”

Jalal dan semua orang terkejut dengan pendekatannya. Tidak ada yang berpikir tentang situasi sedemikian rupa. Dengan menyesal Raja menjawab, “Tidak... kami tidak pernag merencakaannya terlebih dahulu untuk jenis masalah...”

Semua orang yang ada di pengadilan terkejut dengan pendekatan Jodha yang cerdas dan kekhawatirannya pada warga desa. Semua orang hanya berkonsentrasi pada pemotongan pajak dan tidak ada yang berpikir tentang dampak pada masyarakat. Mata Rukaiya dan Maham terbelalak shock melihat kepercayaan diri Jodha yang meningkat, kekuatan dalam nada bicara dan pikiran jangka panjang yang sangat bijaksana.

Rukaiya memotong ucapan Jodha, “Malika-e-Hindustan, kami sepenuhnya memahami kekhawatiranmu tentang orang-orang tetapi ini bukanlah tanggung jawab kami... Raja Sikandrabad seharusnya hanya mengurus umat-Nya... Kekhawatiran pengadilan adalah pemotongan pajak bukan orang-orang... Kau benar-benar melenceng dari topik utama...”

Jalal dengan geram menghentikan Rukaiya dengan tangannya dan kemarahan di matanya dan berkata dengan nada keras, “Semua orang yang berada dibawah Mughal Sultanat adalah tanggung jawabku... Aku tidak bisa mengabaikan masalah orang-orang yang menderita dalam bencana... Aku sepenuhnya setuju dengan pemikiran Malika e Hindustan... Setiap negara harus memiliki perencanaan untuk situasi darurat dan dana cadangan untuk persiapan jika sewaktu-waktu terjadi krisis... Semua masjid dan kuil harus memberikan kontribusi sebagai layanan untuk krisis...”

Kemudian Jalal bertanya pada Atgah Sahib, “Apakah kita memiliki perencanaan darurat???” Dengan menyesal ia menjawab, “Tidak ada Shahensah, kita tidak...” Jalal langsung memerintahkan dengan keras, “Kita perlu membangun sebuah komite untuk situasi darurat segera... Setiap negara harus dana perencanaan dan cadangan untuk situasi seperti itu... Aku tidak ingin orang-orang berlarian untuk mencari bantuan... bantuan harus segera sampai pada mereka dalam krisis seperti ini... Setiap negara harus memiliki tempat penampungan besar...”

Hamidah memandang Jalal dengan perasaan bangga. Dia bisa merasakan perubahan sikap Jalal. Rukaiya dan Maham terkejut. Rencana mereka gagal untuk mempermalukan Jodha di depan yang banyak orang dan membuat Jalal menyadari keputusannya salah. Mereka tidak pernah berpikir dia akan memiliki visi sejauh ini dalam masalah-masalah politik.

Jalal memandang Jodha dengan bangga dan berbisik, “Aku sangat tahu dengan baik, aku tidak membuat kesalahan... Kau benar-benar layak menjadi Malika e Hindustan... Kau benar-benar telah membuatku bangga...”

Precap: Maham dan Rukaiya merencakan permainan lain...


FanFiction Is It Hate OR Love Chapter 24 Part 2

6 comments:

  1. SeMoga Kalii iNi reNcaNa Mereka ber2 gagal Lagiii....

    ReplyDelete
  2. suuuiiiiittt suuuiiiittt.....maham anga n si ruq keki tuuuhhh
    yeeesss 1 - 0 buat Jodha begum

    ReplyDelete
  3. Mahaaam d mna2 rusuh duet maut tuh ama si rugz...aissss...

    ReplyDelete
  4. heeemmmm,,,tarik nafas lega ,,,

    Tp noh nenek sihir 2,,msi pnya rncna jhat,,aakkkkrrr, #kesal lg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Mitha silahkan tarik nafas lega untuk sekarang... untuk selanjutnya siapkan parang untuk melawan 2 nenek sihir, dan tissue untuk Shahenshah dan Jodha...

      Delete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.