FanFiction Love From The Past Part 21 - ChusNiAnTi

FanFiction Love From The Past Part 21




Saat lagu berakhir, tampak mereka berdua masih terlena. Sampai pundaknya Jalal ditepuk oleh salah satu rekan bisnisnya sekaligus teman masa kuliahnya dulu. Nadha pamit kepada Jalal untuk ke toilet. Nadha membiarkan Jalal dan temannya asik mengobrol.

Saat Nadha pergi ke toilet tiba-tiba saja dia merasakan sakit kepala lagi dan kenangan masa lalunya bermunculan lagi bagai cuplikan-cuplikan episode. Nadha berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabok. Di dalam kamar mandi, tangan kanannya memegang kepalanya yang berdenyut dan tangan kirinya berusaha untuk menyentuh wastafel namun naas, tubuh Nadha malah limbung dan jatuh pingsan.

Ketika ada seorang tamu yang akan masuk ke toilet wanita nampak kaget melihat Nadha tergeletak pingsan. Langsung dia berteriak, "to...tolong, tolong...ada seorang wanita jatuh pingsan di toilet".

Jalal yang mendengar teriakan itu spontan mencari-cari sosok Nadha. Disaat dia ga menemukan sosok Nadha dimanapun, secepat kilat Jalal menghampiri wanita yang berteriak tadi dan ketika Jalal melihat yang tergeletak pingsan adalah Nadha. Segera Jalal mengangkat tubuh Nadha sebagian. Ditepuk-tepuk pipinya untuk membangunkan Nadha, "Nadha...Nadha...bangun sayang...sadarlah, aku mohon sadarlah...!!!", lirih Jalal sedih mengkhawatirkan Nadha sambil memeluk sebagian badan Nadha. Alhasil Nadha akhirnya sadar meskipun masih setengah sadar karena sakit di kepalanya masih terasa.

"Nadha...apa yang terjadi padamu?? Kenapa kamu tiba-tiba pingsan??", tanya Jalal cemas.
Nadha yang masih meringis karena sakit di kepalanya belum juga hilang, "ke...kepalaku sakit sekali Jalal, bisakah kamu membawaku pulang??!!", pinta Nadha.

"Nehii, aku akan membawamu ke rumah sakit", perintah Jalal. "Nehii, Jalal...tolong bawa aku pulang. Aku tidak mau ke rumah sakit, pleaseee Jalal", pinta Nadha sambil menatap memohon.

"Baiklah, aku akan membawamu pulang", ucap Jalal sambil berusaha untuk mengangkat tubuh Nadha untuk berdiri.

"Apakah kamu bisa berjalan atau perlu aku gendong??", tanya Jalal cemas.

"Aku berjalan saja Jalal, "jawab Nadha masih meringis kesakitan. Jalal melingkarkan lengan kanannya di pinggang Nadha dan lengan kiri Nadha melingkar di pinggang Jalal. Jalal menuntun Nadha.

Mata para tamu langsung menuju ke arah Jalal yang sedang menuntun Nadha. Mereka semua berbisik-bisik menduga-duga kalau wanita yang bersama Jalal adalah kekasihnya. Bharmal dan Meinawati yang melihat mereka berdua langsung menghampiri.

"Ada apa dengan Nadha, Jalal??!!", tanya Meinawati cemas. "Aku hanya sakit kepala, Bi", jawab Nadha lemas.

"Maafkan kami, bibi, paman, kami harus undur diri lebih dulu", ucap Jalal. "I...iya, Jalal silahkan. Cepatlah kau bawa Nadha pulang", ucap Meinawati cemas.

Jalal berbicara kepada MC untuk dibuatkan pengumuman kalau dirinya pulang lebih dulu dan pesta tetap dilanjutkan.

Mobil Jalal sudah berada di depan lobi hotel dan segera dia memasukkan Nadha ke dalam kursi penumpang sedangkan Jalal langsung masuk ke kursi pengemudi. Dengan cepat Jalal melajukan Audinya menuju rumah nenek Athifa.

Selama perjalanan pulang, Nadha memejamkan mata berusaha untuk tidur meredakan rasa sakitnya. Jalal yang melihat hal itu, sesekali dia mengelus kepalanya Nadha. Batinnya sedih, "bertahanlah Nadha, bertahanlah sayangku". Sementara tangan satunya masih memegang stir kemudi.Nadha memegang tangan Jalal dan membawa kepangkuannya.

Akhirnya mereka sampai dirumahnya nenek Athifa. Jalal segera mengeluarkan Nadha dari mobilnya. Kembali membopongnya. Saat mengetuk pintu rumah, Nadha menyandarkan kepalanya didada Jalal dan tangan kirinya juga menyentuh dada Jalal untuk mencari ketenangan dan kenyamanan dipelukan Jalal.

Pintu rumah terbuka dan betapa kagetnya nenek Athifa saat melihat kondisi Nadha. Jalal memberitahukan kejadian sebenarnya kepada nenek Athifa dan menanyakan dimana kamar Nadha. Nenek Athifa menunjukkan jalannya.

Ketika sampai di dalam kamarnya, Jalal melepaskan pelukannya dan mendudukkan Nadha di pinggir tempat tidurnya. Nenek Athifa meminta Jalal untuk keluar sebentar karena akan membantu Nadha berganti pakaian. Setelah selesai, nenek Athifa mempersilahkan Jalal untuk masuk. Nenek Athifa meninggalkan mereka berdua dikamar.

Jalal menghampiri Nadha yang sedang duduk menyandar di kepala kasur. Tangan kanannya memegang tangan Nadha dan tangan kirinya membelai kepala Nadha, "apakah kepalamu masih terasa sakit??", tanya Jalal cemas dan sedih.

"Iya masih sakit, namun udah agak berkurang sakitnya", jawab Nadha lemah sambil tangan kirinya memegang pipi Jalal. Batinnya, "kenapa Jalal sangat mengkhawatirkan diriku??".

"Jalal bisakah kau mengambilkan obat sakit kepalaku yang ada dimeja??", pinta Nadha.

"Tentu", jawab Jalal. Jalal berdiri mendekati meja rias, dia mencari-cari botol obat sakit kepala. Namun, ketika mencarinya, Jalal melihat sebuah bros berbentuk kupu-kupu bertahtakan berlian hitam, ada di kotak perhiasannya Nadha.

Jalal meraih bros itu dan kaget sekali ketika melihatnya lebih dekat, "i...inikan...bros yang aku berikan kepada Jodha sehari sebelum acara pertunangan kami...!! Kenapa Nadha bisa memiliki bros ini??!!!. Siapakah sebenarnya dirimu, Nadha??!! Apakah kamu benar-benar Jodhaku??", batin Jalal bertanya-tanya.

Jalal menaruh kembali bros itu dan kembali menghampiri Nadha. Bukannya memberi botol obat itu kepada Nadha namun malah memeluk Nadha dengan erat. Nadha yang dipeluk secara tiba-tiba oleh Jalal nampak kaget.

Jalal melepaskan pelukannya dan memegang bahu Nadha. Matanya menatap tajam ke arah Nadha dan batinnya Nadha pun bertanya-tanya, "Jalal ada apa dengan dirimu??, aku tidak pernah melihatmu seperti ini??!!".

Tangannya Jalal membelai kepala Jodha lalu mengelus pipinya. Ditatapnya dalam-dalam mata Nadha untuk mencari keberadaan Jodha disana. Perlahan Jalal mendekatkan wajahnya ke arah Nadha. Wajah Jalal yang begitu dengan dengan wajahnya dapat merasakan hembusan nafas Jalal dan aroma maskulin dari parfum Jalal mengirimkan sinyal-sinyal aneh ke seluruh tubuh Nadha. Detak jantungnya pun berdebaran tak beraturan.

Ketika tangan Jalal menyentuh pipi Nadha. Jalal menarik wajah Nadha mendekatinya dan Jalal mendaratkan bibirnya di bibir tipis milik Nadha. Sejenak hanya ditempelkan saja namun perlahan Jalal mulai mengecup bibir tipis itu ingin merasakan manisnya bibir Nadha. Nadha kaget dengan perlakuan Jalal itu. Nadha yang semula diam, tiba-tiba merespon ciuman Jalal setelah merasakan sensasi hangat yg pertama kali menyentuh bibirnya, Nadha secara refleks membalas ciuman Jalal. Jalal kaget dengan respon dari Nadha yang diluar dugaan. Jalal yg merasa ciumannya dibalas lalu ciuman itu berubah menjadi intens karena Jalal merasakan hangatnya mulut Nadha dan bibirnya yang terasa lembut.

Namun, sebelum ciuman itu berubah menjadi ciuman yang saling menuntut. Nadha sadar dengan tindakannya akhirnya melepaskan ciumannya dan menundukkan kepalanya karena merasa malu dan tidak dapat menatap mata Jalal. Jalal pun merasa menyesal atas tindakannya yang tiba-tiba seperti itu. Entah mengapa bila berada di dekat Nadha. Jalal tidak dapat mengendalikan dirinya. Jalal memegang dagu Nadha dan menarik kepalanya untuk menatap mata Jalal. Disana Nadha melihat rasa penyesalan atas tindakannya itu.

"Maafkan aku, Nadha....(sebelum Jalal meneruskan kata-katanya, telunjuknya Nadha mendarat di bibir Jalal menghentikan ucapannya dan Nadha menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memeluk Jalal dan menangis).

Cukup lama mereka berpelukan, Jalal melepaskan pelukan Nadha, "Nadha, aku pamit pulang. Kamu beristirahat ya, besok aku akan menghubungimu", ucap Jalal sedih campur senang. Jalal mengecup kening Nadha, merubah posisi Nadha menjadi posisi tidur, menarik selimutnya dan membelai rambutnya Nadha lalu pergi dari rumahnya nenek Athifa.

Ketika Jalal berada dikamarnya, dihempaskannya tubuhnya ke tempat tidurnya lalu tangannya memijit-mijit keningnya yang tidak terasa sakit.

"Nadha benarkah Jodha??, kenapa bros itu bisa ada padamu??", ucap Jalal bingung. Dia bangun dari tidurnya dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Pikirannya kembali terbayang akan first kissnya bersama Nadha, Jalal memegang bibirnya.

"Aaarrrggghhhh, apa yang aku pikirkan. Kau sudah membuatku gila, Nadha. Aku harus mencari tau bukti tentang Nadha...!!!", keluh Jalal.

Esok paginya di kantor Jalal, Jalal memanggil Atgha khan.

"Paman, aku mau meminta tolong kepada paman", pinta Jalal.

"Apa itu, Jalal??"

"Aku ingin paman menyewa seorang detektif untuk mencari informasi tentang kecelakaan yang terjadi sama Jodha", ucap Jalal.

"Tapi, Jalal?? Peristiwa itu kan sudah lama berlalu dan kasusnya juga sudah selesai. Kenapa kamu ingin menyelidiki kasus itu lagi??", tanya Atgha bingung.

"Sampai saat ini aku merasakan keganjilan akan penyebab kecelakaan itu juga dengan para korbannya, paman!!", jawab Jalal tegas.

"Baiklah aku lakukan...!"

"Oya, Jalal mengenai project pembangunan apartemen di Miami dengan Ramses Corp. mereka ingin memintamu untuk ikut bersama mereka meninjau lokasinya", ucap Atgha.

Jalal nampak berpikir, jika dia pergi kesana berarti dia akan berada jauh dari Nadha dan dia tidak ingin hal itu terjadi. Namun, "baiklah paman, kita akan pergi kesana. Kapan waktunya??", tanya Jalal.

"Lusa kita pergi kesana"

"Baiklah, paman. Tolong paman atur dan persiapkan semuanya", pinta Jalal.

Jalal membalikkan kursinya menghadap ke arah jendela. Pikirannya menerawang jauh memikirkan Nadha. Lalu dia menelepon Nadha.

Jalal: "hallo, selamat pagi Nadha. Bagaimana kabarmu??"

Nadha: "aku sudah baikkan, kepalaku sudah tidak terasa sakit lagi untuk sementara ini".

Jalal: "apakah kamu sering merasakan sakit kepala seperti itu?".

Nadha: "tidak, Jalal. Entah mengapa belakangan ini aku tiba-tiba sering merasakan sakit di kepalaku".

Jalal: "sebaiknya kamu segera dokter, Nadha, untuk memeriksanya. Aku sangat khawatir melihatmu dengan kondisi semalam!!".

Nadha: "iya Jalal akan aku lakukan. Terima kasih karena kami sudah mengkhawatirkan diriku".

Jalal diam sejenak, bingung untuk merespon omongan Nadha.

Jalal: "Hari ini kamu dirumah saja ya, jangan melakukan aktivitas apapun!!. Secepatnya setelah pekerjaanku selesai aku akan mengunjungimu".

Nadha: "baiklah, Jalal". Nadha menutup teleponnya dan kembali dia membayangkan dirinya berciuman dengan Jalal. Sambil memegang bibirnya yang dikecup oleh Jalal. Itu adalah first kiss nya dan Jalallah yang melakukannya. Tidak terlihat penyesalan di wajah Nadha karena dia sudah mencintai pria itu.

"Jalal, Hum tumhe pyar karte hae......” TBC Love From The Past Part 22


FanFiction Love From The Past Part 21

3 comments:

  1. Saya penggemar berat love from the past.. Kehadirannya selalu saya nanti2.. Jgn lama2 y mb cpt ddposting lg lanjutannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke,, Insya Allah nanti malam jika tidak ada kendala....

      Delete
  2. Klu cinta yg tulus dan murni pasti tdk akan hilang, tetap tumbuh mrnjadi cinta yg abadi

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.