Sinopsis Jodha Akbar Episode 333 - ChusNiAnTi

Sinopsis Jodha Akbar Episode 333



Jodha akan bertemu Maham Anga, Rukaiya menghentikannya, “Kau mau kemana?” , “Aku akan bertemu dengan Maham Anga, aku akan segera kembali.” , “Tidak.” Dia memegang tangan Jodha untuk menghentikannya. “Kau mungkin tidak peduli dengan anak-anakmu, tapi jangan lupa bahwa anakku juga bersamamu.” Jodha menimpali, “Aku tahu dan aku telah memberikanmu anakku atas keinginanku, tetapi itu tidak berarti kau bisa menguasaiku, biarkan aku pergi.” Jodha menyentakkan tangan Rukaiya. Rukaiya masih tetap bersikukuh, “Itu tidak benar.” Jodha mengatakan, “Ini adalah hakku dan aku akan pergi untuk bertemu dengannya.” Rukaiya memegang tangannya lagi, “Aku tahu aku keras kepala tapi Jalal memberiku tanggung jawab atas dirimu sehingga kau harus meminta izinnya terlebih dulu, Jodha.” Jodha meminta Rukaiya melepaskan tangannya. Jodha meninggalkan Rukaiya dan berlalu meninggalkan Rukaiya.

Sharif menghabiskan waktu dengan bayinya, Semua istri Jalal melihatnya dan membicarakan mereka berdua. Tidak tahu apa yang akan dia lakukan, Sharif memandang mereka dengan amrah, tetapi dia membuang kemarahannya. “Mengapa kalian khawatir, Kalian tidak melakukan sesuatu yang salah. Aku sudah salah dengan bersikap buruk pada Bhaksi tapi aku menyesali semua itu.” Semua istri mengatakan bahwa Sharif sudah berubah baik. Setelah beberapa istri Jalal pergi, Sharif berbalik dan menunjukkan wajah jahatnya. Sepasang mata dari seorang pria yang sepertinya pekerja di Istana itu menatap kepergi Sharif dan berpiki, “Mungkin yang di katakan Istri Yang Mulia benar, Sharif telah berubah.”

Jodha datang untuk bertemu Maham Anga yang sedang berbaring di penjara. Maham Anga melihatnya dan bertanya, “Mengapa kau datang kesini lagi?” Jodha berkata, “Tolong maafkan aku.” , “Kau tahu apa yang ibuku katakan, hanya seseorang yang meminta pengampunan yang tidak berpikir menggunakan otaknya tapi berpikir dengan hati. Kau tidak pintar untuk menipu Maham Anga, kau melakukan hal yang sangat murahan dan rendah untuk membalas dendam padaku.” Jodha menyangkalnya, “Aku tidak melakukannya untuk membalas dendam, aku hanya ingin melihat kau sehar dan aku masih ingin melakukan sesuatu untumu.” Maham Anga mencoba bangun, Jodha membantunya. Maham Anga duduk di tempat tidur dan Jodha duduk berhadapan dengannya. Maham Anga berkata dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang sekarat, “Jika kau ingin melakukan sesuatu untukku, bawalah Adhamku kembali. Aku memiliki dua putra, satu darah dagingku dan satu adalah putra yang aku cintai melebihi darah dagingku sendiri. Aku mencoba untuk mencintai keduanya, tapi aku memberikannya lebih banyak cinta. Jalal adalah kekuatanku, ketika aku melihat mereka, aku berpikir bahwa aku dapat memenangkan seluruh dunia dengan mereka, Jalal adalah putra Raja tapi Adham terlalu ingin menjadi seorang Raja. Adham menginginkan takhta Jalal, jadi aku membantunya. Apakah yang aku lakukan salah? Itu mungkin salah bagimu tetapi untuk seorang ibu itu tidak salah, Aku membantu anakku tetapi tidak mengerti Jalal dengan baik... Kau ingin membantuku... Aku punya dua anak tetapi tidak ada seorang pun yang sekarang menemaniku menjelang kematianku, Jalal suamu... Aku tahu dia dari waktu ke waktu,, ketika dia berjalan dia emmegang tanganku... Aku mengajarinya bagaimana cara berjalan, dia tidak dipaksa untuk mengatakan apapun tetapi hanya mengatakan ‘Bari Ammi’ dan aku merasa senang saat dia memanggilku ‘Bari Ammi’, Aku bisa tahu apa yang Jalal inginkan hanya dnegan melihat wajahnya, dia memanggilku bari Ami Bari Ami, tapi ketika Jalal menagatakan aku bukan bari Amunya lagi, itu adalah hari terburuk dalam hidupku. Kau ingin melakukan sesuatu untukku? Dapatkah kau membawa anakku Jalal, ingat, aku mengatakan anakku Jalal bukan Raja Jalal. Keduanya juga berbeda, anakku sangat tidak bersalah, Jalal suamimu adalah Raja bukanlah anakku. Jika kau benar-benar ingin melakukan sesuatu untukku, bawalah Jalal anakku kesini. Kau adalah rajvanshi, aku pernah mendengar banyak tentang rajvanshies bahwa setelah mereka berjanji, mereka memegang hal itu sampai akhir hidup mereka, aku tidak ada hubungannya dengan hidupmu sekarang, jika kau benar-benar ingin melakukan sesuatu maka bawalah Jalalku kesini. Katakan padanya bahwa sebelum mengirimku pergi dari sini, dapatkah dia memanggilku bari ammi,, mintalah dia untuk memanggilku bari ammi. Aku tahu tidak ada yang bisa membwa Jalal atau Adham kesini, Aku tahu.” Jodha tegang memandang Maham Anga dan air matanya sudah mengalir sedari tadi.
Maham Anga membaringkan tubuhnya membelakangi Jodha. Jodha membantunya dan menyelimutinya. Maham Anga masih menangis dan Jodha berdiri terpaku memikirkan apa yang harus dia lakukan.

Jodha melihat beberapa peralatan yang akan keluar dari istana, itu adalah persiapan untuk mengirimkanya Maham Anga ke delhi, Jodha berjalan dengan gelisah sambil, “Apa yang harus aku lakukan, Maham Anga telah meminta sesuatu dariku untuk pertama kalinya dan aku tidak bisa memenuhi keinginanya. Sedangkan Jalal telah berjanji untuk tidak pernah melihat wajah Maham Anga. Dia tida mendengarkanku.”
Jodha teringat saat Jalal mengatakan bahwa Bari Amminya sangat mencintainya, Bari Amminya menyimpan mainnya sejak kecil. Jodha mengatakan bahwa hati ibu memang seperti itu, mereka tidak hanya melindungi anaknya tetapi hal-hal yang disukai anak-anaknya.
Flashback End**

Jodha datang ke Maham Anga. Dikamar itu para Dasi sedang membersihkan kamar Maham Anga dan membuang barang-barang lama. Jalal datang dan bertanya, “Mengapa kau memanggilku kesini? Mengapa kau membersihkan ruangan ini?” Jodha menimpali, “Maham Anga tidak akan berada di Agra lagi, jadi akau memutuskan untuk membersihkan kamarnya.” Jalal tertegun. Jodha mengatakan, “Dia memohon untuk membawamu kepadanya untuk melihatmu terakhir kalinya.” Jalal berkata, “Aku tidak mau melihat wajahnya.” Jodha, “Benar. Dia mengutuk anak-anakmu jadi bagaimana kau bisa melihat dan menghadapinya. Dia memiliki barang-barang dan pakaian yang sudah usang dikamarnya.” Jodah menunjukkan pada Jalal beberaoa pakaian, “Ini pakaian masa kanak-kanakmu, dia telah menjaganya seperti emas.” Jalal bertanya, “Apakah dia benar-benar mengambil nafas terakhirnya?” Jodha menjawab, “Tentu... Tinggalkan dia, bukankah kau tidak memperdulikannya. Dia harus meninggalkan dunia ini segera. Dia menyebut dirinya ibumu, bagaimana mungkin seorang ibu bisa mengutuk cucu-cucunya? Dia mengatakan bahwa dia melakukan banyak hal untukmu, itu tugasnya dan hal yang tidak baik jika dia melawanmu. Kau jangan khawatir, tinggal dua atau tigas hari lagi, kemudian kegelapan akan pergi dari hidup kita selamanya. Maham Anga mengatakan bahwa dia ingin mati dengan melihat wajahmu, Mengapa? Dia melakukan banyak kejahatan terhadapmu dan sekarang ingin melihat wajahmu, dia adalah wanita yang gila.” Jalal merasa sakit hati mendengar ucapan Jodha terhadap Maham Anga, dia mencoba mengontrol air matanya.
Jodha bertanya, “Apa yang terjadi padamu? Apakah debu masuk kematamu?” Jodha meminta Jalal untuk membiarkan dia melihat matanya. “Ini adalah air mata, tapi kenapa? Mereka keluar ketika kau memiliki beberapa hubungan dari hati. Ini bukan tangisan, tapi emosimu yang datang dari hatimu tetapi untuk siapa? Orang yang mencoba untuk membunuhmu, orang yang berpikir buruk pdamu, yang mengutuk ahli warismu.” Jodha meminta Jalal untuk menyeka air matanya sebelum ada orang yang melihatnya. “Kau merasa buruk jika hal-hal buruk terjadi pada Ibumu? Kau tahu mengapa kau merasakan semua ini, akrena dia ibumu bukan dasi. Lepaskan topeng kemarahan ini, kau masih menyayangi Maham Anga lalu mengapa kau menunjukkan kemarahan palsu ini? Biarkan emosimu keluar, aku menerima bahwa Maham Anga melakukan kesalahan dengan mengutuk ahli warismu, tetapi mentalnya sedang tidak stabis saat itu. Dia tidak bisa mengutuk putranya Jalal. Seorang raja yang bahkan memiliki hati sekeras batu tetap bisa menangis untuk ibunya. Jika kau berpikir bahwa kau pernah berpikir dia sebagai ibu, maka pergi dan temuilah dia, bukan sebagai Raja Jalal tetapi sebagai anak Jalal yang sangat mencintai ibunya. Siapa yang tidak akan menangis jika mengetahui ibunya akan menghembuskan nafas terakhirnya, tetapi jika kau tidak berpikir demikian, maka kau jangan menangis.” Jodha meminta Moti untuk membuang barang-barang Maham Anga dari ruangan tersebut. Jalal berbalik pergi dengan sedih. Jodha menatap kepergiannya dengan kesedihan yang sama yang dirasakan oleh Jalal.

**Celotehanku**
Awalnya tidak ada niat untuk membuat sinopsis Jodha Akbar, tapi entah mengapa hari ini rasanya tangan gatel ingin membuat sinopsis Jodha Akbar. Dan berhubung ada yang menanyakan Sinopsis Episode 333, jadi saya ambil episode ini untuk dibuat sinopsisnya. Semoga semuanya bisa menikmati, meskipun gambarnya tidak selengkap seperti biasanya.
Sukriya.


Sinopsis Jodha Akbar Episode 333

6 comments:

  1. Ditunggu kelanjutan sinopsisnya.......

    ReplyDelete
  2. Kapan lanjutan sinopsisnya selesai

    ReplyDelete
  3. Kapan lanjutan sinopsisnya selesai

    ReplyDelete
  4. Sangat banget loh mba chus,uda lama ku pun g baca nir,sbgian ntn didvd.pas bgt ini yang blm ditonton.makaciiii mbae.

    ReplyDelete
  5. sukriya mba chus...
    mba chus bukannya dulu admin di fb jodha akbar adhka lover ya..?(maf klo salah) kok ga jd admin lg knp??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum pernah menjadi admin disana, Nim. dulu pernah ditawari menjadi admin disana, tapi karena saya punya FP sendiri, jadi saya tidak bisa menerima tawaran tersebut..

      Delete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.