FanFiction Is It Hate Or Love Chapter 25 Part 2 - ChusNiAnTi

FanFiction Is It Hate Or Love Chapter 25 Part 2


Written: Bhavinishah.
Translater: Dewi Agasshi

Atgah Sahib sangat setuju dan dengan pendapat dan saran Jodha, ia dengan hormat mengatakan... "kami sangat bangga memiliki Anda di pengadilan kami sebagai Malika E Hindustan, visi jauh Anda akan menguntungkan negara ini.”


Semua administrator menghargai dan sangat kagum akan pemikiran bijak
Jodha. Mendengar begitu banyak pujian dari semua orang yang ditujukan untuk Jodha, Jalal sangat senang tapi ia juga merasa sedikit tidak nyaman. Pujian seperti ini rasanya terlalu mendadak untuknya, Jodha mendapat banyak penghargaan dalam satu hari. Namun Jalal sendiri juga sangat kagum akan kecerdasan Jodha.
Salah satu administrator, Mullah Piaaza bangkit dan dengan takzim bertanya sopan, ia berkata... "Malika E Hindustan, bisa saya menanyakan sesuatu jika Anda mengizinkan?.” Setelah Muallah Piaaza berkata demikian semua orang melihatnya, penasaran dengan apa yang akan ditanyakan.
JO: “Ya.. silahkan bertanya kepadaku, tanyakan apa yang anda ingin ketahui.” Jodha berkata dengan sopan.
MP: “Apakah anda ‘Gulab E Registan” ( Mawar Padang Pasir)?.” ***Ehhhhh MP maksudnya Muallah Piaaza yaaa, bukan MP yang onoh.***
Mendengar pertanyaan Muallah Piaaza, Jalal langsung bangkit dari singgasanya sambil berteriak kencang... “Muallah Piaaza.”
Demi mendengar teriakan marah Jalal, Jodha segera bangkit dan memegang tangan Jalal untuk menenangkanya, ia mencoba mengendalikan amarah Jalal dengan menjelaskan maksud Muallah Piaaza.. “Shahenshah, dia bertanya tentang penulis buku ‘Gulab E Registan’ yang telah menulis sebuah buku tentang masalah ekonomi. Dan yaaaa, sayalah orang yang telah menulis buku itu. Dan untuk menyembunyikan identitas asli saya, saya menggunakan nama Mughal sebagai penulis.”
Mullah Piazza Khan bangkit dan meminta maaf... "Shahenshah, maafkan saya karena kesalahpahaman ini tetapi segera setelah Malika E Hindustan
Memberikan pandangannya tentang bagaimana mengontrol masalah harga,
saya teringat buku yang saya baca di waktu lampau. Tidak ada identifikasi sang penulis dalam buku ini, hanya pada akhir buku itu
mengatakan ‘Gulab E Registan’. Satu-satunya hal yang saya tahu adalah bahwa seseorang telah menulis buku ini di Amer, dan Malika E Hindustan dikenal di Amer sebagai ‘Registan Ka Gulab’. Jadi saya ingin mengkonfirmasi jika buku ini ditulis oleh Malika E Hind. Setelah membaca buku ini, saya kagum dan sangat terkesan, saya ingin bertemu dengan orang yang memiliki ide-ide yang sangat kreatif tentang bagaimana untuk meningkatkan
 perekonomian. Saya sangat senang melihat Anda sebagai Malika E
Hindustan dalam Mughal Darbar.”
Jodha dengan  hormat mengatakan... "Dhanyavad."
Sekarang setiap orang yang ada di Daar Baar menyadari bahwa pandanganya bukan hanya kebetulan semata melainkan dia memang sudah sangat menguasai bidang ini.
Jalal sangat terpesona mengetahui sang istri tercintanya sangat cerdas sehingga bisa menulis sebuah buku tentang ekonomi. Dia merasa sangat bangga, namun disisi lain ia juga sangat cemburu. Ia bahkan tak bisa membaca maupun menulis, sedangkan istrinya bukan hanya bisa membaca dan menulis bahkan dia juga bisa menulis sebuah buku. Kenyataan ini sangat menyakitkan hatinya, egonya serasa tak bisa menerima kekalahan ini.
Maham menyeringai melihat ekspresi jalal, seakan ia bisa membaca pikiranya. Maka untuk menambahkan api dalam hati Jalal, Maham bangkit dari kursinya dan berkata dengan nada manis... “Wah wah wah.. Malika E Hindustan, memang tak ada yang bisa menandingi kecerdasan anda dalam Daar Baar ini, dalam satu hari anda bisa berdiri sejajar dengan Shahenshah E Hindustan. Pemikiran anda menunjukkan kedalaman pendidikan dan pengetahuan anda. Kami merasa sangat bangga memiliki anda di dalam Daar Baar ini.”
Setiap pujian untuk Jodha yang dilontarkan oleh maham Anga seperti minyak yang dituangkan kedalam api yang mulai terbakar. Ini sangat mengganggu Jalal mengetahui Jodha lebih unggul daripada dirinya, namun kegelisahan itu ia sembunyikan dalam wajah tersenyum palsunya.
Atgah Sahib lantas melanjutkan kasus berikutnya, ia mengumumkan... “kasus ini adalah tentang kasus pencurian. Keluhan diajukan oleh seorang kakak yang mendapati adiknya mencuri perhiasan istrinya. Dan menurut hukum Mughal, pencurian adalah kejahatan besar dan hukumanya juga sangat brutal, maka dari itulah kasus ini dilaporkan kedalam Diwani E Khass.”
Mata Jalal menampakkan amarah yang sangat nyata. Ia lantas memberikan izin dan perintah... “Bawa mereka semua kepengadilan.” Setelah itu salah satu pengawal membawa masuk kakak, istri juga adiknya. Mereka dihadapkan pada Shahenshah E Hindustan Jalalluddin Akbar.
Atgah Sahib mulai menginterogasi mereka... “Katakanlah keluhanmu dipengadilan ini tanpa ragu-ragu didepan Shahenshah.. jelaskan dengan detail kejadianya.”
Lalu Atimsai memperkenalkan diri... “Baginda, nama saya Atimsai dan saya hanyalah seorang petani. Dengan bertani saya memenuhi segala kebutuhan semua anggota keluarga saya.” Setelah mengatakan itu Atimsai menunjuk lelaki yang ada di sisi lain dan berkata.
AT: “Dan dia adalah adik saya Azim. Tuanku, Saya telah mengasuhnya seperti saya mengasuh anak hamba sendiri. Ketika ia baru berumur 3 tahun orangtua kami meninggal karena suatu penyakit mematikan. Saya dan istri hamba tak memiliki anak, sehingga dalam duapuluh tahun terkahir ini hamba dan istri memanjakanya layaknya anak kami sendiri. Tapi karena terlalu banyak cinta dan kasih sayang ia berubah menjadi anak yang tak tahu malu, tak bertanggung jawab dan sangat manja. Dia tanpa alasan berkeliaran kesana kemari, dan pulang kerumah untuk beristirahat seperti orang malas. Tidak hanya itu, ia sekarang juga mulai bermain judi. Sudah banyak cara yang saya gunakan untuk membuatnya mengerti dan meninggalkan kebiasaan buruknya tapi dia malah berfikir bahwa saya adalah musuhnya. Setiap kali kami menegurnya, ia akan berteriak pada kamu. Istri hamba sudah terlalu banyak mencoba menyembunyikan setiap pelanggaranya. Tapi kali ini dia sudah sangat melewati batas, ia telah mencuri perhiasan saudara iparnya untuk digunakanya di meja judi. Mengetahui itu ketika saya hendak menapar adik saya, istriku malah marah pada hamba. Kami hanyalah orang miskin, yang kami punyai hanyalah perhiasan itu.”
Setelah mendengar penjelasan Atimsai, Atgah Sahib bergerak maju dan bertanya kepada Azim... :Azim, apakah kau ingin mengatakan sesuatu? Atau kau menerima tuduhan pencurian ini?.”
Darah muda Azim mendidih, ia dengan marah menatap kakaknya Atimsai dan menjawab dengan membela diri... “Pertama-tama saya tidak berfikir bahwa saya telah mencuri perhiasan. Memang benar saya telah mengambil perhiasan dari rumah itu, tapi itu juga rumahku. Jadi bagaimana bisa itu disebut mencuri ketika kita mengambil barang dirumah sendiri?. Ketika kakak ipar yang memiliki perhiasan saja tidak masalah ketika perhiasanya kubawa, lantas kenapa kakakku lantas marah dan ingin menamparku ketika mengetahui semua ini. dia selalu berpikir bahwa saya orang yang tidak berguna dan malas tapi dia tidak pernah melihat penderitaan saya. saya mencintai mereka seperti orang tua saya dan saya ingin membelikan hadiah untuk mereka jadi saya mencoba berjudi untuk mendapatkan lebih banyak uang. saya pikir saya akan mendapatkan begitu banyak uang dari judi dan saya akan mengembalikan perhiasan mereka. Tapi itu nasib burukku bahwa saya telah kehilangan perhiasan. Saya tak pernah berfikir saya melakukan pelanggaran apapun dan saya akan mengembalikan perhiasan kakak ipar secepat mungkin.”
Jalal dengan cemas bertanya pada Atimsai... “Apakah kau tahu apa hukuman untuk kejahatan pencurian di Mughal Sultanat?.”
Atimsai dengan gugup menjawab... “Tidak Shahenshah, hamba tak tahu apa hukuman untuk kejahatan ini.”
Maham memandang Begum E Khass dan berkata... “Menurut hukum Mughal Sultanat orang yang mencuri tanganya akan dipotong. Ketika Kalal merasa begitu banyak rasa sakit saat memberikan hukuman yang serius ini.. menurutmu apa yang akan terjadi pada Jodha?.. dia pasti tak akan setuju karena dia seorang yang bodoh yang selalu berfikir melalui hatinya. Dan aku yakin dia akan menghentikan Jalal memberikan hukuman brutal ini.”
Maham segera bangkit dan berkata dengan keras... “Dalam Mughal Sultanat mencuri adalah kejahatan yang sangat besar dan hukuman untuk kejahatan ini adalah memotong tangan si pencuri.”
Atimsai benar-benar merasa terguncang, matanya melebar dengan pandangan shock ia mencoba berbicara... “Tidaaaak... tidaaak Shahenshah saya tidak tahu.” Tapi sebelum Atimsai berkata lebih jauh, Maham menyelanya dengan berkata... “Anda akan mendapatkan waktu untuk berbicara.”
Atimsai sangat terguncang, ia tak bisa mengendalikan air matanya untuk tidak keluar. Seluruh  pengadilan menyadari bahwa Atimsai tidak ingin saudaranya untuk dihukum dengan keras.. namun sepertinya saudaranya akan mendapatkan hukuman berat karena Jalal tak pernah melunak dengan hukum yang telah ia terapkan. Ia tak akan membelokkan hukum untuk siapapun.
Atimsai dan sang istri menangis sedih setelah mendengar hukuman yang akan diberikan pada saudaranya. Atgah Sahib juga menunjukkan sedikit simpati pada Atimsai dan ia menatap Jalal, mencoba menerka apa yang bakal dilakukan oleh Jalal.
Namun dengan nada menyesal Jalal mengatakan... “Mencuri adalah kejahatan yang sangat besar Atimsai, dan sampai hari ini dalam sejarah Mughal belum ada seorangpun yang diampuni atas kejahatan ini.”
Sebelum Jalal melanjutkan ucapanya, Maham meminta izin untuk menyela... “Shahenshah, saya meminta anda untuk satu hal. Ini adalah hari pertama Malika E Hindustan dalam Diwani E Khass, kita harus memberikan kasus ini kepadanya dan menghormati segala keputusanya. Dan sebagai penilaian pertama, bukankah tadi kita sudah melihat sendiri betapa bijaksana dan cerdasnya Malika E Hindustan.”
Ini adalah keputusan yang sangat sulit bagi Jalal, ia tahu ini akan menjadi sangat sulit bagi Jodha untuk memberikan hukuman untuk Azim. Tapi hukum tetaplah hukum, apalagi tadi Azim juga telah mengakui kejahatanya didepan seluruh pengadilan. Tapi Jalal juga ingin menghormati Maham Anga jadi dengan sangat enggan Jalal setuju, iapun berkata... “Malika E Hindustan akam mengambil keputusan akhirnya.”
Jalal menatap Jodha dengan banyak perhatian. Jodha juga sangat khawatir dan ragu-ragu, disatu sisi ia tahu bahwa hukuman pencurian dalam Mughal Sultanat adalah memotong tangan si pencuri. Namun disisi lain Jodha merasa bahwa hukuman itu terlalu keras, tidak hanya bagi pelaku namun juga untuk seluruh keluarganya. Akan tetapi jika ia tak menghukumnya sesuai hukum Mughal maka dia akan melawan hukum itu sendiri. **Dilema Besar, ehhhh lagunya siapa ya?? He he he**
Jodha sekali lagi melihat Jalal dengan ekspresi bingung, Jalal mengetahui itu ia lalu menggenggam erat tangan Jodha dan berkata... “Jodha, aku percaya padamu bahwa kau akan adil dalam memberikan vonis hukuam sesuai dengan hukum Mughal Sutlanat.” Dengan pernyataan Jalal ini, Jodha mengetahui bahwa Jalal akan mendukung menghukum Azim dan Jalal juga ingin Jodha mengikuti hukum juga, namun hati kecilnya sama sekali tak mau menerimanya.
Wajah evil Maham dan Begum E Khass mulai bersinar dengan sinar jahat. Dan Jodhapun mulai mengumpulkan semua keberanianya, ia mengatakan lebih lanjut untuk Azim... “Azim, apakah kau tahu. Mencuri tetaplah mencuri, tak peduli barang itu dimana selagi bukan milikmu kau tak boleh mengambilnya dengan sembarangan. Harusnya kau bertanya dulu pada kakak iparmu sebelum mengambil perhiasan itu. Sekarang katakan padaku secara rinci apa alasanmu mencuri?.”
Kemarahan Azim seketika menghilang, dengan ketakutan ia menjawab dengan nada memohon... “Ketika saya mengambil perhiasan saya pikir saya akan bisa mengembalikanya pada hari itu juga. Saya hanya ingin menunjukkan pada kakakku bahwa saya juga bisa menghasilkan uang dan mengurus mereka. Saya tahu dengan sangat baik bahwa kakakku telah bekerja keras dalam keseluruhan hidupnya untuk merawat saya. Saya melihatnya melakukan pekerjaan berat, namun ketika saya ingin bekerja dipertanian juga kakak saya tidak pernah memperbolehkanya. Ia selalu berkata nahwa saya tidak cocok untuk pekerjaan ini, ia memiliki begitu banyak harapan kepadaku. Namun saya tak tahu apalagi yang harus dilakukan.”
Mendengar itu lantas Jodha bertanya pada Atimsai... “Apakah benar bahwa kau tak pernah mengizinkan adikmu bekerja di pertanian kalian?.”
Atimsai dengan menunduk mengatakan... “Ya memang benar bahwa saya tak pernah membiarkanya bekerja di pertanian kami karena saya tak ingin dia bekerja keras seperti saya. Saya ingin dia melakukan bisnis atau bekerja sebagai administrator, dia sangat cerdas dalam penelitian. Ia telah belajar selama bertahun-tahun tapi ia gagal memenuhi impian saya.”
Lalu Jodha Bertanya sekali lagi pada Atimsai... “Apa pendapatmu, apakah saudaramu harus dihukum sesuai hukum Mughal Sultanat?.”
Mendengar pertanyaan Jodha, dengan sigap Atimsai langsung menjawab... “Tidak mungkin. Saya sudah seperti seorang ayah baginya, dalam mimpi sekalipun saya tak pernah berfikir untuk menghukum dia seperti ini. seandainya saya tahu hukum Mughal, saya tak akan pernah datang dalam Diwani E Khass untuk meminta keladilan. Dan dapatkah saya menarik keluhan saya kembali?.”
Jodha menatap Jalal untuk membiarkan sang suami menjawab.. Jalalpun berkata... “Hal ini sudah sangat terlambat. Saudaramu telah mengakui kejahatanya dan sesuai dengan hukum yang berlaku saudaramu tetap harus dihukum, kau tak bisa menarik keluhanmu kembali.”
Jodha memandang Jalal dengan sedikit kebencian. Tadinya dia berharap Jalal akan mengabaikan hal ini dan membiarkan mereka pergi.. akan tetapi harapanya tinggalah harapan karena hati Jalal tak akan pernah melembut ketika ia dihadapkan pada keadilan..

Salahkahhhh????? Kita tunggu jawabanya di part selanjutnya **wink wink wink, maaf yaaa ini partnya panjaaang tambah lebar kali tinggi persisi rumus matematika jdi kudu dibagi dalam 3 part**

FanFiction Is It Hate or Love Chapter yang lain Klik Disini


FanFiction Is It Hate Or Love Chapter 25 Part 2

9 comments:

  1. Lanjutkan ah seneng bgt bisa baca lanjutannya sampe chapter 30 dong

    ReplyDelete
  2. hmmm....yang bunda pikir kapan lagi baru akan di post lanjutannya, yg ini aja lamaaa dia baru nongol....heeheehee

    ReplyDelete
  3. Sukriya mba chus...jd tmbh pengetahuan lg ... ttg ekonomi,hukum nt apalg ya???...ditunggu kellanjutannya...jd pke lama yeee...hehehe...

    ReplyDelete
  4. Akhirnyaaaa waaaaaaa asiikkk...trims mb arum..jgn lm2 y next chap x...

    ReplyDelete
  5. Terimakasih mba.. Makin seruuu ceritanya...
    Aku tungguin terus kelanjutannya mba :*

    ReplyDelete
  6. Yaa sekarang hrs nunggu deh, kemaren enak baca tanpa penasaran, baca meraton...
    Ditunggu part 3 na yaaa.... semangat mmba chus

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Belum ada lanjutannya Mbak,, jadi link-nya juga belum diperbaiki..

      Delete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.