Cinta Saja Tidak Cukup Part 12 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 12



By Sally Diandra..... Setibanya di kota Jogjakarta, Jodha bersama dengan ibu dan adiknya langsung disambut oleh Moti sahabat dekat Jodha sejak mereka duduk di sekolah perawat dulu, Moti menjemput mereka di stasiun kereta api Tugu Jogjakarta “Jodhaaaaa ...” Jodha segera melambaikan tangannya begitu dilihat Moti berteriak dan berjalan kearah mereka setelah Jodha turun dari kereta api “Apa kabar, Jodha ... aku kangen sekali sama kamu” Moti segera memeluk Jodha, Jodha terharu bisa kembali bertemu dengan sahabatnya itu setelah tiga tahun tidak bertemu, namun komunikasi diantara mereka tidak pernah putus, Jodha dan Moti selalu keep in touch untuk memberitahu keadaan mereka masing masing.

“Selamat datang di kota Gudeg, ibu” Moti memberi salam pada ibu Meinawati “Terima kasih, Moti ... Ibu sangat berhutang budi padamu, apa jadinya kami kalau nggak ada kamu”, “Sudah ibu, tidak apa apa ... selama aku bisa membantu, kenapa tidak? Apalagi Jodha dan ibu sekeluarga sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri, heeiii ... apa kabar cantik? Kamu semakin cantik saja.” Moti mencubit pipi Shivani, Shivani hanya tersenyum “Ayoo ... mana barang barangnya, kita berangkat” Dengan sigap Moti segera membantu Jodha dan keluarganya membawa barang barang yang mereka bawa menuju ke parkiran mobil.

“Mo, aku minta maaf ya ... waktu kamu menikah kemarin, aku nggak bisa datang kebetulan waktu itu, ibu dapat banyak pesanan catering jadi sepulang dari rumah sakit, aku langsung bantu ibu” Moti yang masih asyik mengendarai mobil cuma tersenyum kearah Jodha yang duduk disebelahnya “Nggak masalah, Jo ... kamu kan sudah minta maaf by phone kan? Aku bisa ngerti kok, trus ini catering ibu berarti tutup dong? waaah sayang sekali yaa”, “Ya mau gimana lagi? Rumah dan toko yang didepan rumah itu kami jual, tapi belum deal sih soal harganya, nanti kalau sudah deal, kami mau cari rumah disini” Moti menganggukkan kepalanya “Nanti, kamu beli rumahnya deket deket rumahku saja, Jo ... yaaa emang agak pinggiran sih, aku kan tinggalnya di Sleman jadi bukan di Jogjanya, kalau di Jakarta tu macem tinggal di Depok, Bekasi atau Tangerang gitu tapi suasana asyik kok, perjalanannya ke Jogja juga nggak lama paling cuma 30 menit”, “Iyaaa, soal itu gampang, Mo .... trus ini suami kamu ada dirumah?” Moti menggelengkan kepalanya “Tenang, saat ini dia lagi berlayar, cutinya sudah habis, kemarin waktu kami menikah pas kebetulan dia cuti 3 bulan, sekarang cutinya sudah habis, aku ditinggal deh”, “Suami kamu kerja dikapal pesiar ya, Moti?” ibu Meinawati yang duduk dibangku belakang ikut angkat bicara “Iya, ibu ... kalau dia sudah berangkat berlayar, saya ditinggal selama setahun, bu ... untungnya ditinggali rumah jadi kan nggak usah tinggal dengan ibu mertua, hahahahaha ...” Moti tertawa terbahak bahak “Husssh! kamu ini tapi ibu mertuamu baik kan?” sekilas Moti melirik ke arah Jodha “Baik, Jo ... Bahkan sangat baik sekali tapi aku kadang yang sungkan sama beliau, abis kenalnya kan belum lama sama beliau jadi masih dalam taraf adaptasi lah, tau sendiri kan?” Jodha menganggukkan kepalanya “Memangnya kenapa, Moti?” ibu Meinawati ikut penasaran “Ibu, Moti ini kan menikahnya dijodohin sama orang tuanya, jadi dia kan belum begitu kenal dengan ibu mertuanya, untung aja suaminya cakep, tajir n cinta juga sama dia, siapa nama suami, Mo?”, “Anant ... namanya Anant, Jo masa lupa sih?”

Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai juga dirumah Moti “Naaah, taraaaa ... home sweet home, kita sudah sampai dirumah, ini rumah saya, bu ... maharnya suami, hahahaha” kembali Moti tertawa terbahak bahak, dari dulu sifat Moti memang tidak pernah berubah selalu tertawa riang “Bagus juga rumahmu, Mo ... minimalis tapi asri, trus yang satunya lagi gimana?”, “Kalau yang satunya lagi buat kos kos-an kan deket sama kampus UGM, oh iya nanti kalau Shivani diterima di UGM, kamu bisa tinggal disana, nggak usah mikir soal biaya, yang penting selalu bersih dan rapi, abis misua ku orangnya perfeksionis banget, apa apa kudu rapi, apa apa kudu bersih, nggak kayak aku ini, hahahaha” Jodha menggeleng gelengkan kepalanya “Apapun adanya kamu, kamu tetap teman terbaikku, Mo ...” Jodha langsung memeluk Moti, Motipun ikut membalas “Udah aaah, jadi mewek ni, masuk yuuuk ... Mari ibu, aku dirumah ini sendirian, jadi apa apa aku kerjain sendiri, jadi maaf kalau agak berantakan karena belum sempet beres beres kan baru 1 bulan aku tinggali, belum beres bebenah, suamiku sudah harus berangkat berlayar lagi”, “Nggak usah khawatir, kan bala bantuan datang niii tapi suami kamu sudah tau kan kalau kami sementara tinggal disini?” Moti langsung menganggukkan kepalanya “Sudah, jangan khawatir, dia malah seneng kok karena aku dapat temen selama dia berlayar”, “Kasihan kamu ya, Moti ... baru 3 bulan menikah sudah ditinggal bekerja, jauh pula”, “Nggak papa, bu ... yang penting duitnya ngumpul, hahahaha” kembali Moti tertawa riang “Oh iya, diatas ada 2 kamar, itu bisa kalian pakai, terserah mau pakai yang mana, kalau kamarku yang dibawah ini, kalau gitu sekarang kita bawa barang barang kalian ke atas dan ibu bisa istirahat dulu lalu nanti kita bisa ngobrol ngobrol lagi, okay?”

Jodha menuruti perintah Moti, bergegas dibawanya semua barangnya bersama ibu Meinawati dan Shivani. Moti memang seorang sahabat yang bisa Jodha andalkan, begitu Jodha mendapat ultimatum dari bibi Maham Anga, Jodha langsung mengabari Moti tentang hal ini, disaat Jodha belum menemukan jalan keluar dari masalahnya ini, Moti dengan tangan terbuka malah menyuruh Jodha untuk pindah ke kota kelahirannya, Jogjakarta ... sebuah kota yang mungkin bisa membuat Jodha bisa sedikit demi sedikit melupakan Jalal suaminya.  

Malam itu, Jodha masih asyik bebenah barang barangnya dikamarnya, sementara ibu Meinawati menempati kamar satunya bersama Shivani, tiba tiba ketika Jodha menemukan baju Jalal yang sengaja memang dibawanya beberapa potong kedalam tasnya, sementara sisanya yang lain sudah dia serahkan ke bibi Maham Anga begitu Jalal mau dibawa ke Singapura, sesaat Jodha terdiam kemudian diciumnya baju Jalal sambil menangis sesenggukkan, Moti yang saat itu kebetulan lewat didepan kamar Jodha yang pintunya masih terbuka langsung menghambur kedalam kamar Jodha dan memeluknya erat dari belakang “Sudah, Jo ... lupakan saja, anggaplah semua ini memang sudah menjadi suratan takdirmu, relakan dia, ikhlaskan dia” Jodha menggelengkan kepalanya lemah “Aku nggak bisa melupakan dia begitu saja, Mo ... aku sangat mencintainya, apalagi didalam rahimku ini ada seorang anak yang sangat dia idam idamkan selama ini”, “Tapi kamu harus kuat, Jo ... demi anak ini, demi ibu dan adikmu”, “Aku tau, Mo ... selama ini aku berusaha tegar didepan mereka tapi kalau aku sedang sendirian seperti ini, aku sering menangis sendiri, aku sebenarnya nggak tahan dengan semua ini, Mo ... ingin sekali aku melawan bibi Maham Anga tapi aku nggak berdaya karena nyawa Jalal yang menjadi taruhannya, aku bisa apa? Sementara Jalal membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membuatnya bisa bertahan hidup hingga sembuh, aku hanya berharap dan selalu berdoa agar Jalal segera sembuh seperti sedia kala”, “Aamiin ... sekarang lebih baik kamu tidur, hari sudah malam”

Jodha akhirnya menuruti permintaan Moti, Jodha tertidur sambil memeluk erat baju Jalal yang masih ada dalam gengamannya “Selamat malam, sayang ... aku selalu mencintaimu sampai kapanpun” bathinnya dalam hati sambil diciumi baju Jalal kemudian dipejamkannya matanya. 

Sementara itu di Singapura, di Mount Elizabeth Hospital, setelah Jalal berada disana selama seminggu, ibu Hamida mulai bertanya tanya tentang keberadaan Jodha “Salima, ini sudah seminggu Jalal berada disini tapi kenapa Jodha tidak segera menyusulnya kemari?”, “Aku juga tidak tahu, bu ... dulu sebelum kita bawa Jalal kesini, aku sudah menitip pesan padanya, agar dia menyusul kemari, aku juga sudah memberinya tiket pesawat tapi kenapa dia nggak datang juga?” Salima juga penasaran dengan keberadaan Jodha “Coba besok kalau kamu pulang, mampirlah kerumahnya atau ke rumah sakit tempat dia bekerja, siapa tahu dia sedang dalam masalah karena dari kemarin kemarin ibu sudah bolak balik menelfonnya, ponselnya selalu tidak aktif, ibu takut ada apa apa dengan dia” ibu Hamida cemas memikirkan Jodha “Iya ibu, besok aku pulang, aku pasti bakal mampir kerumahnya, aku juga khawatir dengan keadaannya tapi ibu tenang saja, tidak usah dipikir terlalu berat, aku yakin Jodha baik baik saja, ibu disini juga harus jaga kondisi kesehatan, jangan sampai ibu juga sakit” Ibu Hamida hanya mengangguk anggukkan kepalanya “Kalau ada berita tentang Jodha, segera beritahu ibu ya, Salima”, “Pasti ibu!”

Setibanya Salima di Indonesia, sebelum pulang kerumahnya, Salima minta sopir pribadinya untuk mengantarnya ke rumah Jodha terlebih dahulu, namun begitu sampai dirumah Jodha, rumahnya sepi, tidak ada kehidupan disana “Mungkin Jodha sedang tugas, lebih baik aku kerumah sakit saja” bergegas Salima langsung meluncur kerumah sakit tempat dimana Jodha bekerja.

Begitu sampai dirumah sakit Salima segera menuju ke ruang operasi, diketuknya perlahan pintu ruang operasi tersebut, tak berapa lama kemudian keluarlah Rukayah dari balik pintu ruang operasi “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Salima langsung mengenali Rukayah sebagai teman Jodha yang sering menemani Jodha ketika Jalal dirawat dirumah sakit ini “Kamu ... teman Jodha kan?” Rukayah mengangguk “Iya betul, ada apa ya, bu?”, “Saya Salima, saya kakaknya Jalal, suami Jodha” Rukayah langsung tersenyum senang “Oooh iya, saya ingat, makanya dari tadi saya berfikir sepertinya saya pernah melihat anda karena rasanya begitu familiar, ada yang bisa saya bantu?” Salima tidak membuang waktu lagi, langsung to the point bertanya ke Rukayah “Jodha dimana? Apakah dia tugas hari ini? Karena tadi ketika saya kerumahnya, rumahnya sepi” Rukayah mengernyitkan dahinya “Bukannya ... bukannya Jodha menyusul Jalal ke Singapura?” Salima benar benar kaget “Menyusul? Maksudmu Jodha pergi ke Singapura?”, “Iya, dia bilang seperti itu ke saya malah dia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya, Jodha sudah tidak bekerja lagi dirumah sakit ini”, “Apa? yang benar saja? Kamu tidak main main kan? Jadi Jodha benar menyusul Jalal ke Singapura? Tapi kenapa sampai saat ini dia tidak ada disana? Ini saya baru pulang dari Singapura, saya sudah selama seminggu disana tapi Jodha tidak ada disana” Rukayah mulai panik dan bingung “Yang benar? Jodha tidak ada disana? Ya Tuhaaan ... dimana kamu Jodha?” Salima juga panik dan bingung “Ya sudah, saya pamit pulang dulu, kalau ada berita tentang Jodha, tolong kabari saya ya, ini kartu nama saya, mari ...” Salima segera meninggalkan Rukayah yang masih terbengong bengong setelah mendapat kabar tentang Jodha...... TBC-->Chapter 13 Klik Disini


Cinta Saja Tidak Cukup Part 12

4 comments:

  1. SuMpah..Nyesek baNgett bacaNya... kasiaN Jodha...aKu aMpek kebaWa suasaNa... LaNjuuut MiN..

    ReplyDelete
  2. Sebellll bingit sm maham anga dibebek aja tuch biar jadi rujak pa gudeg gitu.... lanjuut

    ReplyDelete
  3. Semoga pengorbanan jodha membuahkan hsl yg lbh baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. aminnnn.... selalu berharap begitu....

      Delete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.