FanFiction His First Love Chapter 26 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 26



Written by Samanika
Translate by Chusnianti

Setelah dua hari, Jodha kembali bekerja. Dia telah sepenuhnya pulih dan merasa lebih baik. Hari itu dia datang ke kantor dengan mengenakan rok pensil berwarna hitam dengan kemeja biru terang. Dia mengenakan stiletto hitam favoritnya. Dia masuk ke kantor, saat Ruqaiyya melihatnya dia langsung berlari dan memeluknya erat.
Ruqaiyya (tersenyum luas): “Oh Jo! Aku sangat senang melihatmu! Bagaimana perasaanmu sekarang?”
Jodha: “Aku merasa baik-baik saja Ruqaiyya! Aku minta maaf tidak memberitahu kalian tentang kondisiku.”
Ruqaiyya: “Oh wajar saja, kau terlihat begitu lelah dan terlalu letih juga dengan pekerjaanmu selama ini. Tapi aku benar-benar senang melihat mu kembali!”
Jodha: “aw...Ruqs! Aku sangat merindukan kalian!”
Jodha kemudian memberikan pelukan erat padanya. Dia telah menjadi teman yang benar-benar dekat dengan mereka dalam beberapa bulan. Persahabatan mereka akan terus berlanjut. Dengan cepat Jodha melepaskan pelukannya dan mengatakan bahwa dia harus melapor pada Jalal sekarang dan mereka akan bertemu lagi di jam makan siang. Kemudian dia berjalan menuju kabin Jalal dan Ruqaiyya memandang perawakannya yang mungil mulai menghilang. “Apakah ini benar? Presdir benar-benar memiliki perasaan pada Jodha?” Gumam Ruqaiyya.

*Falshback*
Jalal tiba-tiba keluar dari kantor meninggalkan semua orang yang khawatir. Ruqaiyya dan Salima yang ada dikabinnya begitu terkejut ketika Jala pergi dengan tiba-tiba.
Ruqaiyya: “Apa yang baru saja terjadi? Mengapa Presdir pergi seperti itu?”
Salima: “Ruqs, aku pikir aku tahu masalahnya. Coba ingat, apa yang kau katakan pada Presdir sebelumnya.”
Ruqaiyya: “Um... aku hanya mengatakan bahwa Jodha sedang demam tinggi. Jadi?”
Salima: “Aku sempat ragu sebelumnya, tapi sekarang aku benar-benar yakin.”
Ruqaiyya: “Yakin tentang apa?
Salima: “Bahwa Presdir memiliki perasaan pada Jodha.”
Ruqaiyya tidak bisa percaya dengan apa yang didengarnya. Dia mendekati Salima. “Salima, apa yang kau katakan. Apa yang membuatmu berpikir bahwa Presdir memiliki perasaan untuknya??”
Salima: “Ruqs, aku telah mengamati sikap Presdir selama hampir sebulan hingga sekarang. Perilakunya benar-benar diluar kebiasaannya. Dia selalu gelisah dan cemas sepanjang waktu, begitu banyak pekerjaan yang dia abaikan. Dia juga melupakan hal-hal penting seperti pertemua, padahal sebelumnya dia tidak pernah melupakan satu hal pun. Juga, dia sering melamun sehingga aku harus berteriak untuk mendapatkan perhatiannya.”
Ruqaiyya: “Tetapi dengan cara apa itu berhubungan dengan Jodha?”
Salima: “setiap kali Jodha datang di kabin, matanya akan berbinar. Dia mulai tersenyum lebar. Aku belum pernah melihat dia tersenyum sebanyak itu. Setiap kali nama Jodha disebut, dia akan langsung bersemangat. Bahkan, ketika aku mengatakan padanya bahwa aku ingin minta izin karena aku ingin pergi berbelanja dengan Jodha, dia mulai bertanya padaku banyak pertanyaan yang berkaitan dengan dia. Jadi, aku mulai merasa bahwa ada sesuatu, namun aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu mungkin hanya persepsiku saja.”
Ruqaiyya: “Salima! Ini adalah berita! Kita perlu memberitahu Jodha tentang hal ini!”
Salima: “Tidak Ruqs, kita tidak bisa melakukan itu! Jodha mungkin tidak tahu bahwa Presdir memiliki perasaan padanya. Dan ditambah lagi aku masih punya sedikit keraguan. Aku perlu memastikan hal itu sebelum sampai pada kesimpulan akhir.
*Flashback End*

Ruqaiyya mendesah karena dia ingat percakapannya dengan Salima. Setelah Jalal tiba-tiba keluar dari kantor hari ini, rumor mulai menyebar bahwa Jalal mengalami gangguan mental. Cerita-cerita yang tak ada habisnya mulai bermunculan mengenai kepergiannya. Namun Salima dan Ruqaiyya, tidak menghiraukan hal itu. Salima, mulai mengkonfirmasi keraguannya. Tapi dua tidak perlu membuang banyak waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

*Flashback*
Hari itu Salima tiba di kantor lebih awal dari biasanya karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting. Tak lama kemudian Jalal tiba dan dia tidak seperti biasanya, wajahnya menunjukkan kebahagiaan, jauh berbeda dengan apa yang tamppak beberapa hari yang lalu. Salima menyapanya dan membertahukan semua pertemua yang harus dilakukannya hari ini.
Jalal: “Oke Salima, apakah ada yang lain?”
Salima: “Tidak Pak, jika ada yang lain saya akan memberitahu anda.”

Salima menuju mejanya namun Jalal segera menghentikannya, “Tunggu, aku perlu menanyakan sesuatu.” , “ya Pak?” Jalal sedikit gugup, “Um... Eh... Aku harap kamu tidak keberatan dengan apa yang akan ku tanyakan ini. Tapi salima, akapakah kau... Apakah kau pernah jatuh cinta sebelumnya?” Salima terkejut mendengar pertanyaan ini darinya. Jalal pernah bertanya padnaya tentang kehidupan pribadinya di luar kantor. Dia tersenyum. “Tidak, tidak masalah sama sekali. Baiklah Pak, saya akan memberitahu anda yang sebenarnya, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi kenapa anda bertanya hal ini?” Jalal merasa malu, “Um... aku punya teman yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis tetapi dia tidak yakin tentang perasaannya. Dapatkah kamu memberitahuku apa yang seharusnya diperbuat?” Salima tersenyum, “Nah, dia lebih baik tidak membuat kesalahan dengan mengakui perasaannya padanya. Dia pasti akan lari.” Jalal memalingkan wajahnya, “Um... Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana dia bisa tahu tentang bagaimana perasaannya (gadis) terhadap dia (pria)? Salima memberi saran, “Hmmm.... Mencoba menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, menjadi temannya mungkin. Tunggu sampai dia menyadari perasaannya terhadap anda dan kemudian itu adalah waktu yang terbaik untuk anda mengaku pada Jodha.”

Jalal bangkit dari kursinya setelah mendengar ucapan Salima. Dia tidak bisa percaya bahwa Salima tahu tentang hal ini. “Salima... bagaimana kau...” , “Pak, saya sudah bekerja dengan anda dalam waktu yang sukup lama. Setelah mengamati anda hampir satu bulan, saya menyadari bahwa anda memiliki perasaan terhadapnya tapi saya masih tidak yakin.” Salima tersenyum, “Namun sekarang semuanya sudah dikonfirmasi.” Jalal memohon, “Tapi salima, tolong jangan katakan pada Jodha tentang semua ini. Aku tahu dia adalah temanmu, jadi anggap ini sebagai permintaan bosmu!” , “Jangan khawatir pak, Saya tidak akan menceritakan hal!” , Terima kasih, Salima! Aku benar-benar berhutang padamu.”
*Flashback End*

Salima tidak mendapat kesempatan untuk memberitahu Ruqaiyya tentang semua ini. Setelah tiba di kantor hari itu, dia pergi dan mengatakan pada Ruqaiyya semuanya. Ruqaiyya terkejut tapi bahagia. Satu-satunya hal yang harus meka ingat adalah semua informasi ini harus menjadi rahasia dari Jodha. Mereka berdua ingin membantu Jalal memenangkan cintanya!

~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha mengetuk pintu kabin Jalal. Mendengar suaranya, Jalal segera menutup file di mejanya dan mendongak untuk melihat Jodha. Dia tampak benar-benar menakjubkan hari ini. Jantung Jalal berdetak cepat. Kini dia melihat malaikatnya setelah dua hari dan dia merasa benar-benar bahagia. Setelah kunjungannya ke rumah Jodha, ia mati-matian menunggunya kembali bekerja, sehingga dia bisa melihatnya. Ketika akhirnya Jodha menelpon kemarin malam dan mengatakan padanya abhwa dia akan bekerja kembali keesokan harinya, dia sangat bahagia. Waktu berlalu sangat lambat baginya setelah itu, karena dia ingin melihat malaikatnya. Akhirnya, setelah menunggu begitu lama, dia berdiri dihadapannya dengan senyum manis diwajahnya. Jodha berjalan di depan meja Jalal dan berdiri disana, dengan tas besar di belakangnya. Dia tampak pucat namun tidak mengurangi kecantikannya. “Selamat pagi, Pak Presiden.”

Jalal segera bangkit dari kursinya dan mendekatinya. Dia memberinya senyum lebar dan meletakkan tangannya penuh cinta di kepalanya. Jodha menunduk tersenyum dalam rasa malu. “Selamat pagi, Jodha. Bagaimana perasaanmu?” Jodha melihat kebawah dengan perasaan malu, “Saya merasa lebih baik, pak Presiden.” , “Baiklah. Aku sangat senang melihatmu didepan mataku hari ini!” **Aihhh... sudah mulai dah gombalannya... mana ember dan kain pelnya? Sudah mual ini**

Jodha melihat ke matanya dan Jalal melihat ke dalam bola matanya yang coklat dan indah. Mereka berbagi eye-lock intens dengan matanya yang bersinar terang seperti embun pagi. Dia juga telah merasa kehilangan dia sejak dua hari terakhir dan ingin melihatnya. Dia melihat helai rambut di wajahnya dan dengan cepat menyelipakannya di balik telinganya. Dia tersenyum dan memandangnya dengan cinta yang besar dan kebahagiaan. **Jangan lupa berkedip Presdir...**
Jalal kemudian mengambil kedua tangannya dan mencium mereka. Jodha merasa kupu-kupu berterbangan di perutnya saat bibirnya lembut menyentuh tangannya. Lututnya terasa lemas dan dia berpikir bahwa dia akan jatuh. Jalal menuangkan semua kasihnya melalui gerakannya. Jodha merasa bahagia karena dia ingin Jalal mengulangi lagi (masih ingat kan saat Jalal mencium tangan Jodha setelah Jodha selesai presentasi?) dan keinginannya akhinya terpenuhi setelah sebulan. Dia terus menatapnya dengan kagum.

Tiba-tiba, ada ketukan di pintu. **Pengganggu datang, semoga saja bukan emak-emak GKM... LOL** Dengan cepat Jalal melepaskan tangan Jodha. Jodha merasa kehilangan saat itu. Dia jelas tersipu. Salima memasuki kabin dan disambut oleh keduanya. “Selamat pagi, Pak dan Jodha.” Keduanya menjawab, “Selamat pagi Salima.”

Salima mulai berjalan ke mejanya ketika ia melihat Jodha tampak bingung. Dia kemudian dengan cepat mendekatinya. “Jodha, Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak tampak baik. Apakah kau kembali bekerja sebelum kau benar-benar pulih?” Jodha merasa malu karena Salima telah melihat sesuatu yang salah dengan dirinya. “um.... Tidak Salima. Aku benar-benar merasa baik. Jangan khawatir, aku telah beristirahat selama dua hari teakhir ini.” Jodha berkata pada Jalal, “Pak Presiden, saya pikir saya harus pergi ke meja saya sekarang.” Jalal emnimpali, “Baiklah Jodha, sampai jumpa nanti.”

Jodha buru-buru meninggalkan kabin dan mulai menuju ke mejanya. Dia duduk di kursi dengan hatinya masih berdebar berat. Dia memiliki senyum lebar di wajahnya sementara dia meletakkan tangannya di dadanya. Lututnya masih terasa lemah namun matanya ekspresif yang penuh dengan kebahagiaan. “Oh Tuhan... Aku masih merasa sangat gembira... Hal itu pasti akan berlangsung lebih lama jika salima tidak datang.” Jodha mendesah, “Jika hanya dengan ciuman di tangan dapat menyebabkan begitu banyak kegembiraan, aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi padaku jika Presdir menciumku disini (Jodha menempatkan tangannya dibibirnya). Ugh... Sadarlah Jodha! Dia adalah bosmu! Bukan kekasihmu! Jangan pernah berpikir macam-macam yang hanya akan membuat kepalamu pusing!”

Jodha mendesah dengan khawatir. Dia mulai bekerja dengan pikiran terus berjuang untuk menyelesaikannya. Sudah sangat sulit baginya untuk berkonsentrasi akrena dia terus memikirkan apa yang terjadi pagi ini dan bagaimana bibir Jalal terasa lembut di tangannya. Berapa banyak pun dia berusaha, dia tidak bsia mengeluarkan pemikiran itu dari kepalanya. Dia merasa seperti pemeran utama dalam novel Mills dan Boon, orang-orang yang tidak bisa berhenti memikirkan satu sama lain dan ciumannya. Hanya saja Jalal bukan miliknya dalam kasus ini. Dia ingin meninggalakan pekerjaannya saat itu juga dan hanya melihatnya. Dia sangat putus asa dan berharap bahwa Jalal akan memanggilnya ke dalam kabinnya dengan dalih pekerjaan, tapi sayangnya hal itu tidak terjadi.

Akhirnya tiba waktunya istirahat makan siang. Jodha sedikit kesal akrena hampir setengah hari berlalu, namun Jalal tidak memanggilnya. Sebelumnya, ketika dia membencinya, Jalal akan menyuruhnya berulang kali datang ke  biliknya. Tapi sekarang, saat dia ingin menemuinya, Jalal sama sekali tidak memanggilnya. “Hidup sangat ironis. Sebelumnya ia akan memanggilku untuk setiap alasan bodoh, tapi satu hari telah berlalu namun dia belum memanggilku! Aku ingin tahu, apakah semuanya baik-baik saja dengannya. Tapi mengapa aku begitu gelisah? Jodha, tenanglah! Kau tidak perlu peduli dengan hal sepele seperti ini!” (hahaha... yang bener aja neng???) Jodha melihat jam tangannya, “Lebih baik aku pergi ke mejanya Salima.”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Sementara itu, Jalal telah meninggalkan kantor tanpa sepengetahuan siapapun. Dia harus menghadiri beberapa pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin dihadirinya, karena berarti dia tidak akan melihat Jodha sepanjang hari. Tapi ternyata pekerjaan itu sangat mendesak, jadi dia segera meninggalkan kantor setelah bertemu Jodha. Meskipun sebenarnya dia kesal, dia ingin segera kembali sehingga setidaknya dia bisa melihatnya lagi. Dan itu bisa menjadi cara yang sempurna untuk mengakhiri harinya. Melihat orang yang dicintainya, malaikatnya, adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa membuatnya lelah. Dia benar-benar merasa sangat bahagia dan damai setiap melihatnya. Dia satu-satunya wanita yang bisa membuatnya gelisah. “Jodha, cintaku... mataku tidak sabar untuk melihatmu! Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ini dan segera kembali!”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha mendesah dan membuka tiffin nya. Dia berharap melihat Jalal ketika dia pergi ke meja Salima, seperti biasanya. Namun, yang dia lihat hanyalah kursi kosong dan tidak ada Jalal dimanapun. Dia mulai berjalan ke meja dan duduk di kursi. Dia mulai memakan makan siangnya dengan kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Salima dan Ruqaiyya menatapnya dengan rasa ingin tahu.
Ruqaiyya: “Kya hua (ada apa), Jodha? Mengapa kamu terlihat sangat marah?”
Salima: “Haan Jodha. Apakah semuanya baik-baik saja?”
Jodha: “um... yeah guys aku baik-baik saja!”
Salima: “Lalu mengapa wajahmu seperti itu?”
Jodha berpura-pura ceria, “Um... Yah,, tidak ada yang aneh. Aku hanya merindukan pekerjaanku setelah ku tinggalkan dua hari. Itu saja...”
Ruqaiyya: “terima kasih Tuhan, kau baik-baik saja!”

Mereka berdua terus makan sementara Jodha dalam dilema. Jodha berkata dalam hati, “Apakah akan baik-baik saja menanyakan Presdir pada Salima? Bagaimana jika dia salah faham? Tapi dia adalah temanku, jadi apa yang ku pikirkan.” Jodha akhirnya bertanya pada Salima, “Um... Salima, dimana Pak Presiden? Aku tidak melihatnya sejak aku masuk.”
Salima memberikan senyum licik pada Ruqaiyya. Dia tahu sekarang adalah waktu yang tepat untuk tahu bagaimana perasaan Jodha dan bagaimana pemikiran Jodha pada Jalal.
Salima: “Pak Presdir keluar kantor beberapa jam yang lalu untuk suatu pekerjaan yang mendesak. Tapi mengapa kau bertanya?”
Jodha menjadi sedikit waspada setelah mendengar pertanyaan Salima yang ditujukan padanya, “Um.... Aku hanya bertanya saja.”
Ruqaiyya: “Waise Jodha, apa yang kau pikirkan tentang Pak Presiden?”
Salima: “Haan Jodha, jangan-jangan kau berpikir bahwa dia panas!”

Jodha terkejut dengan topik tiba-tiba Jalal panas. Ya, tidak diragukan lagi dia panas tapi Salima dan Ruqaiyya belum pernah bicara tentang dia sebelumnya.
Jodha mencoba bersikap biasa, “um... ya dia panas. Tapi mengapa kau mengatakan ini begitu tiba-tiba?”
Salima: “kita hanya ingin memeriksa apakah kau tertarik pada pria atau tidak! Tapi Presdir so hot stuff! Pesonanya bekerja pada setiap gadis, tapi aku tidak berharap bahwa kau juga tergila-gila padanya!”
Jodha: “Salima! Apa yang kau katakan? Aku tidak naksir pada Pak Presiden!”
Salima: “Diam Jodha! Kita tahu bahwa kau menyukainya!”
Ruqaiyya: “Iya jadi hanya akui saja itu!”
Wajah Jodha mulai memerah, “kalian benar-benar gila! Apa yang membuat kalian berpikir begitu?”
Salima: “Jika kau tidak menyukainya, lalu mengapa pipimu memerah seperti itu?”

Jodha merasa sangat malu dan mulai memerah bahkan lebih keras! Dia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Salima. Keduanya terus memandangnya dengan mata penasaran dan bersemangat. Dia sedang memikirkan cara untuk mengatasi situasi tersebut dan tiba-tiba telepon berdering. Ayahnya telah memanggilnya ke kabin nya, untuk beberapa pekerjaan. Dia undur diri dari sana meninggalkan Salima dan Ruqaiyya yang tampak kecewa. Jodha kemudian meninggalkan kabin dan merasa lega bahwa dia tidak perlu menjawabnya. Namun, Ruqaiyya dan Salima tidak sedikit kecewa. Perilaku Jodha sudah cukup untuk memberitahu mereka bahwa ia memiliki perasaan lebih pada Jalal.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya setelah bertemu dengan ayahnya. Banyak pikiran yang berjalan dalam benaknya. Dia bertanya-tanya apakah benar yang dikatakan Salima. Dia juga tidak bisa berhenti memikirkan Jalal. “Apakah yang dikatakan Salima benar? Apakah aku benar-benar menyukai pak Presiden? Aku setuju bahwa dia telah mengambil alih pikiranku sejak pagi, tapi aku tidak berpikir bahwa aku menyukainya. Kurasa aku hanya mengaguminya. Tetapi mengapa aku begitu gelisah saat aku tidak melihatnya? Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aku ingin bertemu dengannya dan berbicara dengannya dan aku tidak akan merasa lebih baik sampai aku melakukannya!”

Jodha terus bekerja di mejanya sampai petang. Sampai saat ini, di terus menatap kabin Jalal, sehingga dia akan tahu jika Jalal kembali. Akhirnya Jalal kembali ke kantor pukul 6:20. Melihat dia, mata Jodha langsung berbinar. Dia merasa begitu bahagia dan puas melihatnya setelah sepanjang hari tak melihatnya. Kantor sudah mulai sepi, tetapi dia memutuskan untuk pergi dari kantor setelah bertemu Jalla. Dia menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dan menunggu sampai dia memiliki waktu yang tepat untuk masuk kabin Jalal.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Disini lain, Jalal akhirnya merasa bahagia karena bisa kembali ke kantor setelah hari yang panjang. Dia tidak bisa menunggu lagi untuk melihat Jodha. Dia memasuki kabin nya dan langsung pergi ke meja Salima, ingin tahu bagaimana Jodha melalui hari itu.
Salima: “Pak, Jodha tampak benar-benar gelisah sepanjang hari. Pada awalnya saya pikir karena dia masih merasa lemah, tapi dia mengatakan kepada saya bahwa ia merasa baik-baik saja.”
Jalal: “Achcha, apakah ada lagi?”
Salima: “Oh ya Pak, saya punya kabar baik untuk Anda. Ruqaiyya dan saya mencoba untuk mengetahui perasaan Jodha hari ini. Reaksi nya benar-benar diluar kendali dan ia benar-benar tersipu ketika kami mengambil nama Anda dan mulai menggoda dia! Jadi apa yang kami simpulkan adalah bahwa ia mungkin dia memiliki perasaan lebih pada anda, Pak.”
Kalimat terakhir bergema Jalal di telinga. Dia tidak bisa percaya bahwa ini sebenarnya terjadi! Jalal merasa bahagia, “Benarkah Salima? Apakah yang kau katakan benar?”
Salima: “Iya Pak! Ia memiliki sudut yang lembut untuk Anda! Namun, Anda masih harus mengambil sedikit gerakan lambat. Dia masih berusaha menemukan perasaannya dan langkah yang salah dapat merusak semuanya.”
Jalal: “Oke Salima! Saya akan melakukan persis seperti yang kamu katakan! Terima kasih banyak!”

Jalal memberinya pelukan ramah. Ia benar-benar senang mendengar kabar baik dan ingin berterima kasih kepada. Mereka kemudian memecahkan pelukan dan Salima mengatakan bahwa itu adalah waktunya untuk pergi. Jalal tersenyum dan mengatakan padanya untuk datang tepat waktu besok. Salima mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan kabin.

Jalal pergi dan duduk di kursi, menunggu dan berharap bahwa malaikat-Nya akan datang dan menemuinya.

Jam sudah menunjukkan pukul 19:30 dan kantor benar-benar sudah sepi. Akhirnya Jodha memutuskan bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk pergi dan bertemu Jalal. Dia bangkit dari kursinya dan mulai menuju kabin nya. Dia mengetuk pintu dan masuk. Jalal duduk pada kursi-nya tapi mendengar panggilan Jodha di keluar, dengan cepat dia mengangkat wajahnya, dengan mata yang berkilau. Dia bangkit dari kursinya dan mendekatinya. Dia memiliki senyum lebar dan lucu di wajahnya.
Jalal: “Selamat malam, Jodha. Anda kamu belum pulang?”
Jodha: “Um... Saya akan pulang sebentar lagi pak.”
Jalal: “Oh, oke. Jadi, katakan padaku, apa yang membawamu kesini?”
Jodha: “Yah, Pak Presiden, Anda pergi dari tadi pagi bahkan tanpa mengatakan sesuatu! Saya ingin membahas sesuatu yang penting dengan Anda!”

Jodha hanya membuat alasan karena dia tidak mau Jalal mengetahui bahwa dia terus memikirkannya sepanjang hari ini. Jalal menyeringai, “Oh, jadi apa yang ingin kau tanyakan?” Wajah Jodha mulai memerah, “Yah... Umm... tentang apa yang kita lakukan di pagi hari...” Jalal dengan tatapan nakal, “Apa yang kita lakukan di pagi ahri? Aku tidak ingat.” Wajah Jodha semakin memerah, “Um... Anda telah mencium tangan saya...” Jalal mulai menggodanya, “Haan, jadi apa tentang hal itu? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?” , “No! Tentu tidak! Yah... apa yang ingin saya tanyakan adalah bahwa... umm...”

Jalal menyadari bahwa Jodha terlalu malu pada saat itu untuk menyampaikan apa yang dia ingin katakan. Ia dengan cepat mengambil tangannya dan mencium mereka lagi. Jodha menutup matanya, dia merasakan kebahagiaan dan kegembiraan. Dia bisa merasakan sensasi yang sama yang dia rasakan sebelumnya. Lututnya kembali menjadi lemah. Akhirnya, Jalal berhenti dan menatap dia lagi. Dia tersenyum manis. Di sisi lain, Jodha merasa bahwa kakinya melemah. Dia tidak mampu mempertahankan keseimbangan dan hampir terjatuh, namun dengan sigap Jalal segera menangkap tangannya. Dan mengalun Backsound...
Ishq hai woh ehsaas
Ishq hai woh jazbaat
Badal de yeh duniya
Badal de yeh haalaat'

Setelah menangkap dia, Jalal menariknya ke arahnya. Jodha senang karena Jalal telah menyelamatkannya sebelum dirinya terjatuh. Ia kemudian dengan cepat meletakkan tangannya di atas bahunya. Jodha merasa sangat malu dan tidak mampu menatap matanya. Dia tidak bisa menahan senyum, antara perasaan tidak bersalah dan malu. Mereka dalam posisi itu cukup lama. Jodha terkejut saat tiba-tiba dia merasakan bibir Jalal mencium dahinya cukup lama. Kemudian Jalal mengambil tangan Jodha yang ada dibahunya. “Aku harap aku telah menjawab pertanyaanmu.” Jodha masih menunduk malu, “Um...” Jalal kembali menggodanya, “Apa yang kau katakan Jodha?” Jodha menjawab dengan nada lembut, “Ya.” Jalal menimpali dengan singkat, “Baguslah.”

Jodha melihat jam ditangannya, “Oh tidak! Ini sudah terlambat. Pak Presiden, saya pikir saya harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok.” , “Oke, Bye... Sampai jumpa besok.” , “Bye Pak Presiden. Selamat malam.”
Jalal menatap perawakannya yang mungil berlari keluar dari kabin Dia memikirkan kejadian sebelumnya dan tersenyum lebar.

Disisi lain, Jodah juga merasa bahagia. Meskipun sesaat, dia tersenyum saat teringat ciuman tersebut. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Jalal besok, tetapi mereka harus melewati malam yang terasa panjang untuk mereka berdua......... TBC-->Chapter 27



FanFiction His First Love Chapter 26

8 comments:

  1. LaNjuut Lagii MiN...kapaN Nee uNgkapaN ciNtaNyaa....Mkasii yaa FF Nya..

    ReplyDelete
  2. Mbak lanjut lagi dong... Aq ser ser ser.. Bacanya... Hihihi

    ReplyDelete
  3. All: Insya Allah akan tetep dilanjut, semoga aja bisa cepet...

    ReplyDelete
  4. Lanjut dong.....lg seru bgt nih.......

    ReplyDelete
  5. Cinta mmg indah dan sulit untk diungkapkan, seru ! Mbak

    ReplyDelete
  6. Ayyyayyyayyy.....sumringah deh jadinya, deg deg seeerrrrr.....ikutan ngga sabar nunggu lanjutannya nanda Chus.... :-D

    ReplyDelete
  7. Snyum2 sndr bca'a....ga sbar nungg klnjutn'a....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.