FanFiction His First Love Chapter 27 Part 1 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 27 Part 1



Written by Samanika
Translate by Chusnianti

Malam itu Jodha sedang dalam perjalanan menuju kerumahnya dengan naik taksi. Dia masih merasa bahagia. Dia terus senyam-senyum bahkan tanpa memperdulikan supir taksi yang menatapnya bingung. Cara Jalal membaca dan memahami kata-kata yang tak terucapkan melalui matanya sangat menyentuhnya.

Tak lama kemudian Jodha sampai di kompleks apartemennya dan tak lupa membayar sopir taksi. Dia menunju lobi dan menunggu lift terbuka sambil memikirkan tentang Jalal. Dia sampai di rumahnya dan membunyikan bel pintu. Mainavati membukakan pintunya dan menyambut Jodha dengan bahagia, tapi Jodha masih berada dalam dunianya sendiri sehingga dia mengabaikan Mainavati dan langsung menuju ke kamarnya. Mainavati bingung dengan perilaku putrinya tersebut.

Dengan cepat Jodha mengganti pakaiannya dan menuju ke meja makan dengan masih dalam dunia mimpinya. Namun, Mainavit segera membuyarkan lamunannya. “Kha hua, Jodha? Kemana pikiranmu? Aku bahkan mengatakan hai padamu tetapi kau langsung pergi tanpa melihatku. Apakah semuanya baik-baik saja.” Jodha merasa malu, “Um... Oh... Tidak ada Ma, aku hanya memikirkan pekerjaan.”
Mainavati: “Pekerjaan? Lalu kenapa kau tersenyum?” Jodha terkejut, “Um.. ya. Aku benar-benar menikmati pekerjaan saat ini!”
Mainavati: “Chalo, setidaknya kamu merasa bahagia sekarang. Aku senang kau suka bekerja di kantor ini sekarang.”
Jodha: “Haan!”

Kemudian Mainavati menyajikan makan malamnya. Jodha merasa lega karena Ibunya tidak curiga, tapi pada saat yang sama dia juga merasa bersalah. Dia tahu bahwa orang tuanya tidak akan senang jika meraka tahu bahwa dia bermesraan bersama Jalal. Meraka tiak mungkin menerima hubungan antara mereka. Kebahagiaan Jodha sirna dan berubah menjadi rasa bersalah dan bingung memikirkan tentang hal ini.

Dengan cepat Jodha menyelesaikan makan malamnya dan pergi ke kamarnya. Dia memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku tetapi itu tidak membantu juga. Dia mulai memikirkan semua dampak yang akan terjadi atas apa yang mereka lakukan hari ini. “Oh tidak! Apa yang telah kulakukan! Tidak diragukan lagi aku ingin Dia menciumku! Tapi aku bodoh meminta itu lagi! Aku mendorongnya lebih lanjut! I tidak bisa melakukan ini lagi! Aku harus mengatakan bahwa kita harus berhenti! Itu adalah suatu kesalahan. Aku sampai terbawa jauh! Jika Mama dan Papa mengetahui hal ini maka aku pasti mati! Mereka tidak akan pernah menerima hal itu! Aku tahu bahwa aku mengagumi dia, tapi aku hanya akan membatasinya! Aku akan memberitahunya besok pagi.”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Disisi lain, Jalal merasa melayang. Bahkan dia tidak tahu apakah Jodha memiliki perasaan padanya, tetapi mereka juga berbagi suasana yang indah bersama-sama di kabinnya. Dia tidak mampu menahan kegembiraannya dan tidak sabar untuk bertemu dengannya besok.

Keduanya tidak dapat tidur malam itu. Jodha tegang memikirkan bagaimana dia akan bereaksi jika dia memberitahunya rencananya saat ini. Pada titik tertentu, dia tidak tahu apa yang dia inginkan, Dia tidak pernah merasa sebingung ini. Ia dikagumi banyak orang di masa lalu tetapi tidak ada yang membuatnya tergila-gila. Dia ingin bahagia tetapi tegang karena kenyataan bahwa orang tuanya tidak akan menerimanya. Dia berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak bisa membuat keluarganya sedih karena tindakannya bersama bosnya.

Di sisi lain, Jalal terus memikirkan Jodha. Kejadian yang baru saja terjadi diantara mereka, dia tidak ingin berbuat bodoh dan mengacaukan segalanya. Setelah banyak berpikir dan merenungkan, ia memutuskan ia akan bertanya pada Salima besok. Ia kemudian mencoba untuk tidur, berdoa kepada Allah dan berterima kasih kepadanya untuk hadiah yang indah.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Keesokan harinya tiba cukup cepat. Jodha membuka matanya, dia merasa grogi. Dia hampir tidak tidur semalam. Dia teringat bahwa dia baru bisa tidur pukul 3 pagi. Dengan cepat dia bangun dan beranjak ke kamar mandi, dan melanjutkan untuk berdandan. Dia mengenakan salwar kameez berwarna merah, dengan gelang berkilauan berwarna merah dan anting-anting hoop emas. Dia membiarkan rambutnya terurai, make up minimalis. Dan setelah selesai dia menuju meja makan.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jalal bangun dan mematikan alarmnya. Dia mengangkat telepon dan membuat panggilan pada Salima.
Jalal: “Halo Salima, Selamat pagi.”
Salima: “Selamat pagi, Pak. Bataiye, tentang pekerjaan apa?”
Jalal: “Salima, aku ingin memberikan Jodha kejutan. Apa yang bisa aku lakukan?”
Salima: “Pak, masih terlalu dini untuk memberikan hadiah.”
Jalal: “Aku tahu, tapi aku ingin memberikan senyuman di wajahnya. Jadi, berilah aku saran!”

Salima tahu bahwa akan sulit untuk meyakinkan Jalal, karena ia sangat keras kepala. Jika ia ingin melakukan sesuatu, ia akan melakukan itu, bagaimanapun caranya. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya mengatakan kepadanya apa yang bisa dilakukannya.
Salima: “Pak, seorang gadis suka bunga! Bunga akan langsung membawa senyuman diwajahnya.”
Jalal: “Oh ya! Ide bagus! Tapi bunga apa bisa aku berikan padanya?”
Salima: “Hmm... Berikan dia mawar, tetapi yang tidak merah! Warna lain akan baik-baik! Atau jika Anda ingin, Anda dapat memberikan bunga lain yang berwarna merah!”
Jalal: “Bagaimana saya memberikan bunga berwarna merah muda? Apakah itu akan baik-baik saja?”
Salima: “Oh ya! Bunga-bunga merah muda juga cukup baik!”
Jalal: “Terima kasih banyak Salima! Aku benar-benar berhutang banyak padamu.”
Salima: “Tidak masalah Pak Preside. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih saya karena anda telah memberikan saya pekerjaan dan membantu saya saat saat membutuhkannya.”
Jalal: “Salima, itu tugas saya untuk membantumu keluar dari masalah! Dan aku senang diberikan karyawan yang berdedikasi dan menakjubkan sepertimu, Ruqaiyya dan tentu saja Jodha.”
Salima: “Thank you very much, Sir.”
Jalal: “You’re welcome. Sampai jumpa di kantor.”
Salima: “Ya Pak. Sampai jumpa di kantor.”

Jalal menutup telponnya dan segera bersiap-siap. Setelah itu dia bergegas ke meja makan dan pergi ke kantor dengan sopirnya. Dia memberitahu sopir untuk membawanya ke toko bunga. Sopir membawanya ke toko bunga terbaik di kota. Jalal turun di sebuah Toko Florist yang memiliki berbagai jenis bunga dari seluruh dunia dan sangat terkenal. Jalal berjalan ke dalam toko dan mulai melihat-lihat bunga yang bisa ia beli untuk Jodha. Setelah memandang setiap jenis bunga di sana, ia akhirnya memilih bunga Gerber Aster berwarna merah muda. Dia mengatakan kepada petugas untuk membungkus itu di lembaran plastik sementara ia pergi ke kasir untuk membayar bunga tersebut. Ia kemudian memegang bunga-bunga itu dan duduk di mobilnya, meminta supir untuk membawanya ke kantor. Ia tidak sabar untuk memberikan bunga-bunga ini pada Jodha dan melihat senyum di wajahnya.

Jalal segera sampai di kantornya dengan membawa hadiah dibelakangnya. Dia tidak ingin orang-orang kantor tahu tentang bunga itu dan bertanya padanya, sehingga dengan cepat dia berlari menuju kabinnya. Untungnya, dia datang cukup awal dan kantor baru saja terisi beberapa orang saat itu. Dia membuka pintu dna masuk. Dia duduk di kursi sambil menunggu Jodha tiba.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha sampai di kantor dan menuju ke area resepsionis. Wajahnya begitu tegang memikirkan bagaimana caranya memberitahu Jalal yang sebenarnya. Dia disambut Ruqaiyya dan berbincang-bincang sebentar.

Kemudian Jodha menuju kabin Jalal untuk menyerahkan laporan harian dan memutuskan untuk mengatakan apapun yang ada didalam pikirannya. Dia mengetuk pintu dan masuk. Jalal berdiri dan menatapnya dengan bahagia. Jodha lupa dengan ketegangan dan dilema yang dialaminya. Dia tersenyum dan berjalan kearahnya. Jalal menatapnya dengan takjub. Jodha selalu terlihat cantik, begitu juga hari ini. wajahnya bersinar, dan dia tampak jauh lebih cantik daripada sebelumnya. Jodha memandangnya dan tersipu. Jalal benar-benar tampak begitu tampan dalam setelannya. Gel rambut membuatnya tampak benar-benar rapi dan dia juga memiliki pilihan jam tangan yang sangat bagus. Dia memakai jam tangan Rolex edisi terbatas di pergelangan tangannya hari ini.
Jodha: “Selamat pagi, Pak Presiden.”
Jalal: “Selamat pagi, Jodha. Bagaimana kabarmu hari ini?”
Jodha (tersenyum): “Saya merasa jauh lebih baik. Terima kasih atas pertanyaan anda.”
Jalal: “Oh.. tidak perlu berterima kasih Jodha. Ini hanyalah kekhawatiranku pada karyawan.”
Jodha memalingkan wajahnya, “Um... Pak Presiden, saya ingin membicarakan sesuatu yang penting.”
Jalal: “Baiklah, tapi sebelumnya, aku ingin memberikan sesuatu untukmu. Tutuplah matamu.”

Jodha menutup matanya dan bertanya-tanya apa yang akan diberika Jalal padanya. Dengan cepat Jalal mengambil seikat bunga yang ada dilacinya dan kemudian berdiri disamping Jodha yang sedang duduk. Ia sedikit membungkuk dan berbisik di telinganya dengan lembut, “Oke,,, sekarang bukalah matamu perlahan-lahan.”

Jodha mendengarkan bisikannya dan perlahan-lahan membuka matanya. Awalnya ia memandanga wajah Jalal, kemudian dia menatap tangan Jalal. Matanya langsung berbinar saat melihat bunga-bunga indah ditangan Jalal. Dia berdiri menghadap Jalal dan tersenyum, “Apakah ini benar-benar untuk saya?” , “Ya, tentu saja.”

Jodha kemudian mengambil rangkaian bunga itu dari tangannya. Dia sangat mencintai bunga dan wajahnya menyerupai anak-anak. Jalal merasa sangat bahagia dan senang bahwa dia bisa membuatnya tersenyum.
Jalal: “Apakah kau menyukainya?”
Jodha: “Suka? Saya sangat mencintai mereka. Terima kasih banyak, Pak Presiden. Bunga-bunga ini benar-benar indah. Terutama warnanya sangat cantik.”
Jalal: “Aku sangat senang kau mencintai mereka, Jodha! Melihatmu tersenyum membuatku merasa bahagia! By the way, apa yang ingin kau utarakan padaku?”

Tiba-tiba Jodha teringat tentang apa yang ingin dia katakan kepadanya. Namun, dia sadar, jika dia mengatakanya sekarang, itu akan membuatnya terluka. Dia tidak ingin membuatnya marah. Jadi, dia memutuskan untuk tidak mengatakannya saat itu. “Um.... Saya akan mengatakan itu kepada anda nanti. Sekarang, lebih baik saya kembali ke meja saya. Sekali terima kasih untuk bunganya.”

Jodha memberikan senyuman termanisnya dan berbalik untuk pergi, namun tiba-tiba Jalal memanggilnya, “Jodha!” Jodha berbalik dan memandangnya dengan ekspresi rasa ingin tahu, sementara Jalal tersenyum, “Kamu benar-benar cantik hari ini.” Wajah Jodha mulai memerah mendengar pujiannya. Dia memalingkan wajahnya, tak mampu untuk menatap mata Jalal. Pujiannya selalu memiliki efek pada dirinya seperti itu dan dia tidak bisa berhenti tersenyum. “Terima kasih Pak Presiden.”

Jodha segera meninggalkan kabin dengan jantungnya yang berdebar sangat cepat. Dia mencengkeram seikat bunga ke dadanya. Ketika sampai di mejanya, dia meletakkan bunganya di atas meja. Memikirkan pujian Jalal membuat wajahnya kembali memerah, “Apakah yang dikatakannya benar? Aku benar-benar cantik? Dia begitu baik padaku. Kata-kata kasarku akan sanagt menyakitinya. Tetapi aku perlu mengatakannya padanya. Aku harus mengatakannya padanya hari ini juga, apapun yang terjadi!”

Apakah Jodha akan mengatakan yang sebenarnya??? Bagaimana cara Jodha mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya??? Tunggu kelanjutannya di Part 2....



FanFiction His First Love Chapter 27 Part 1

2 comments:

  1. Karena pertanyaannya sama........ apakah Jodha akan benar2 mengatakan apa yang di pikirkannya dan bagaimana caranya mengatakan ?........jadinya ngga sabar nunggu part selanjutnya.....lanjoooooottttt nanda :-D

    ReplyDelete
  2. Kok prasaan ,,, klanjutan part nya ntar jalal marah2 k jodha, gara2 jodha mengutarakan isi pikirannya, jalal ga bisa nerima kenyataan, hrg diri nya terluka,,,, #jd inget episode d serialnya , yg jalal abis d dorong jodha ampe nyungsep k lantai,gara2 surat

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.