FanFiction His First Love Chapter 27 Part 2 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 27 Part 2



Written by Samanika
Translate by Chusnianti

Jodha mulai bekerja sambil sesekali melihat bunga pemberian Jalal yang ada dimejanya dan tersenyum. Dia benar-benar menyukai gerakan Jalal. Hal itu berhasil membuat jantungnya berdebar-benar dalam kebahagiaan. Jodha melihat bunganya, “Presdir juga memiliki rasa yang baik dalam memilih bunga. Aku belum pernah melihat bunga-bungan yang cantik seperti ini. dia benar-benar pria yang baik.”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Di sisi lain, Jalal tidak bisa berhenti memikirkan Jodha. Dia senang permberiannya bisa membuat Jodha tersenyum, dia bisa melakukan apapun untuk mempertahankan senyum itu diwajahnya. Dan dia tidak keberatan memberikan bungan lebih dari 100. Dia menjadi tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama Jodha setelah semua orang meninggalkan kantor.

Siang telah tiba, Jodha bekerja pada laptopnya. Dia tidak bisa berhenti memikikan Jalal. Dia mencoba berkonsentrasi pada pekerjaannya tetapi justru semakin sulit baginya. Pikirannya terus tertuju bahwa dia harus menceritakan apa yang dipikirkannya pada Jalal, meskipun pahi. Dia menghela nafas kemudian melanjutkan pekerjaannya.

Salima datang ke meja Jodha dan melihat Jodha tersenyum. Jodha berdiri untuk memberinya pelukan.
Jodha: “Kya hua, Salima?”
Salima: “Jodha, masalahnya adalah Ruqs dan aku harus menghantar beberapa pekerjaan yang mendesak ke kantor Andheri. Jadi, kita tidak bsia makan siang bersama.”
Jodha: “Oh, tidak apa-apa!”

Salima kembali memeluknya. Sebenarnya Jodha kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Salima: “Thanks dear. Aku sangat menyesal.”
Jodha: “Tidak masalah Salima. Dibandingkan yang lain, kerja adalah prioritas utama. Kamu pergilah dan lakukan pekerjaanmu.”

Jodha kemudian melambaikan tangannya sebagai ucapan selamat tinggal kepada Salima. Ketika Salima pergi dari sana, dia tersenyum karena rencana mereka berhasil.

*Flashback*
Salima bertemu Ruqaiyya di resepsionis.
Salima: “Selamat pagi, Ruqs!
Ruqaiyya: “Selamat pagi, yaar!
Salima: “Ruqs, aku berpikir bahwa kita harus membantu Presdir dan Jodha.”
Ruqaiyya: “Bagaimana caranya?”
Salima: “Kita hanya bisa membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Seperti hari ini, kita bisa membuat Jodha dan Presdir duduk bersama-sama selama istirahat makan siang!”
Ruqaiyya: “Ide bagus! Tapi apa yang harus kita katakan pada Jodha?”
Salima: “Jangan khawatir tentang itu! Aku akan menangani semuanya!”
*Flashback End*

Salima dan Ruqaiyya akan pergi keluar untuk makan siang tapi memberitahu Jodha bahwa mereka telah ditugaskan dan harus segera pergi.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha kesal karena dia harus makan siang sendiri. Dia tidak ingin mengganggu ayahnya, karena terikat dengan pekerjaan. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan memutuskan untuk makan siang, tapi dia teringat bahwa dia harus segera memberikan file pentingnya kepada Jalal. “Oh tidak, aku benar-benar lupa. Aku harus segera menyerahkan file ini kepada Presdir.” Jodha segera bangun dari kursinya. “Aku lebih baik pergi dan segera memberikannya kepadanya. Mungkin, aku aku juga bisa mengatakan tentang hal itu padanya.”

Jodha kemudian meraih file dan menuju ke kabin nya. Dia mengetuk pintu dan masuk. Jalal menutup teleponnya dan kemudian tersenyum pada Jodha. Jodha duduk berseberangan dengan Jalal dan menyerahkan filenya, “Pak Presiden, ini file yang anda minta.”

Jalal mengambil file dan dia menyentuh sengaja menyentuh tangan Jodha. Dia memegangnya dalam waktu yang cukup lama sambil menatap matanya intens. Tubuh Jodha melepas mendapatkan tatapan seperti itu dari Jalal. Jalal tersenyum dan melepaskan tangannya dan mengambil filenya. Dia membukanya dan memeriksanya, “Bagus Jodha, seperti biasanya. Pekerjaanmu selalu sempurna dan aku belum pernah melihat yang seperti ini dikantor ini selain dari dirimu.”
Jodha: “Oh, terima kasih banyak Pak Presiden. Saya senang anda menghargai pekerjaan saya.”
Jodha: “Oh, terima kasih banyak, Mr Presiden! Saya senang Anda dihargai pekerjaan saya!”
Jalal: “Dan kamu tahu, bukan hanya pekerjaanmu yang aku hargai. Personalmu secara keseluruhan sama-sama menawan. Juga, aku kehilangan untuk melacak hunar mu.”
Jodha: “Hunars apa?”
Jalal: “Yah, pertama-tama kamu bisa memasak dengan baik. Kamu menghormati orang tua dan orang-orang yang lebih tua darimu. Rasa fashion yang benar-benar hebat. Pakaian kantormu serta pakaian penari pertu. Aku tidak pernah bisa melupakan betapa menakjubkan dan indahnya dirimu melihat wajahmu yang memerah. Selain itu, kamu adalah seorang penari yang hebat. Gerakanmu begitu hebat dan dapat membunuh.”

Mendengar ini, Jodha tidak bisa mengendalikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. Dia putus asa berharap Jalal tidak melihatnya. Sementara itu, Jalal terus tersenyum memandang wajahnya. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Dia begitu lucu. bidadariku...” Jodha berusaha menegndalikan dirinya sendiri dan sekuat mungkin berusaha menatapnya meskipun dengan wajah yang masih sedikit memerah, “Terima kasih, Pak Presiden. Saya senang anda berpikir begitu.”

Ada keheningan diantara keduanya. Jalal memandang bidadarinya dengan penuh cinta dan dia mencoba untuk menyampaikannya melalui matanya. Tiba-tiba Jodha teringat sesuatu, “Um.... Pak Presiden, apakah anda mau makan siang dengan saya?”

Jalal terkejut mendengar saran nya. Dia berpikir bahwa dia punya rencana untuk makan siang lagi bersamanya, dan tentu saja dia sangat bahagia. “Ya, tentu saja. Tapi bukankah seharusnya kamu makan siang dengan Salima dan Ruqaiyya?” , “Yah, mereka memiliki beberapa pekerjaan yang mendesak. Jadi saya ditinggalkan sendirian. Anyway, saya akan pergi ke meja saya dan mengambil makan siang saya.”

Jodha bangkit dan pergi dari kabin Jalal. Jalal merasa sangat gembira akrena bisa menghabiskan waktu bersamanya. Ia buru-buru membongkar kotak makan siangnya dan menatanya di atas meja di depan sofa. Ia kemudian duduk, menunggu kedatangan Jodha.

Dengan cepat Jodha mengambil tas berisi kotak makan nya dan berlari menuju kabin nya. Dia berharap dia bisa mengatakan padanya dan menjelaskan semuanya. Dia memasuki kabin dan duduk di sofa. Dia mulai membongkar kotak makan sianganya dan Jalal menataonya dengan seksama. Ia perlahan-lahan mengamati setiap fitur wajahnya, matanya yang inda berbentuk doe, hidungnya yang mancung, bibirnya berbentuk busur dan sangat kissable. Akhirnya Jodha selesai membongkar bekal makan siangnya dan memandangnya, “Saya benar-benar lapar, Pak Presdien. Dapatkah kita mulai makan sekarang?” , “Ya, tentu.” Jawab Jalal.

Keduanya mulai Makan Siang bekal mereka masing-masing. Suasa begitu hening, Jalal bertanya-tanya apa yang bisa mereka bicarakan. Jodha sangat ingin mengatakan apa yang ada didalam benaknya, tetapi dia tidak bisa memulainya dengan topik yang negatif. Akhirnya mereka berdua berbicara bersamaan, “Bisakah saya menangatakan sesuatu?”
Mereka berdua terkejut dan mereka tertawa. Jodha memerah pada waktu yang sama.
Jalal: “Kamu duluan Jodha.”
Jodha: “Tidak Pak Presiden, anda yang lebih dulu.”
Jalal: “Jodha, bagaimana kamu bisa unggul dalam segala hal yang kamu lakukan? Baik itu dalam pekerjaanmu, tanggung jawab, atau bahkan mengembalikan file yang telah disimpan Adham. Semua hal yang kamu lakukan begitu sempurna. Bisakah kamu katakan kuncinya?”
Jodha tersenyum, “Pak Presiden, setiap kali saya berpikir untuk melakukan sesuatu, saya akan melakukannya dengan penuh dedikasi. Saya terlalu serius ketika melakukannya, entah itu pekerjaan, tanggung jawab, atau bahkan hubungan. Orang lain mungkin berpikir bahwa saya terlalu fokus pada hal-hal penting saya, tapi saya juga ingin bersenang-senang.”
Jalal: “Ya, aku bisa melihatnya. Kamu begitu serius bekerja, tetapi ketika kamu bersenang-senang, kamu menikmati dirimu sepenuhnya. Kamu tahu, sangat sedikit gadis sepertimu, mereka melakukan semua tugas-tugas mereka dengan bahagia tetapi berbicara seperlunya saja. Itu juga termasuk hunarmu.”
Jodha: “Pak Presiden, mengapa anda begitu tertarik mengetahui hunar saya?”
Jalal: “Entahlah, Jodha. Setiap kali aku mengetahui yang baru tentangmu, hatiku medesakku untuk menggali lebih dalam untuk mengetahui lebih lanjut dari setiap kemampuanmu. Dan aku harus mengatakan bahwa kamu tidak pernah mengecewakanku. Setiap kemampuanmu telah membuatku terpesona.”
Jodha memalingkan wajahnya yang memerah, “Pak Presiden, sekarang anda telah membuat saya malu...” , “Kamu semakin cantik dengan rasa malu diwajahmu, Jodha..”

Jodha semakin tersipu mendengar pernyataan itu. Jalal tersenyum, dia ingin memegang wajah Jodha dan mencium bibirnya. Namun dia tidak bisa melakukan itu, dia harus bisa mengendalikan pikirannya dan menunggu waktu yang tepat. Dengan cepat, Jalal pindah disampingnya dan memegang tangannya. Ia jari-jarinya di jari-jari Jodha. Kemudian Jalal menurunkan wajahnya menunju pipi kanannya. Jodha dapat merasakan hangat nafas Jalal yang menerpa wajahnya. Sementara Jalal bisa merasakan helaian rambut Jodha yang berterbangan diwajahnya. Kemudian Jalal membisikkan sesuatu ditelinganya, “Kamu tahu, kamu begitu cantik dan cerdas pada saat yang sama dan aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk menyebutmu ‘Hunar ki Malika’.”

Saat Jalal berbicara, Jodha bisa merasakan nafas Jalal yang hangat berhembus di telinganya. Dia bisa merasakan kupu-kupu berterbangan diperutnya. Dia terkejut sekaligus tersentuh dengan apa yang Jalal katakan. Jodha berkata didalam hai, “Dia pikir aku cantik dan cerdas pada waktu yang sama... Dia pikir aku cantik... Oh wow... Apakah ini mimpi?” Kemudian dia berkata pada Jalal, “Benarkah, Pak Presiden? Apakah saya benar-benar bijak dan cantik?” Jalal berbisik, “Ya tentu saja.. Kamu begitu menawan. Aku tidak bisa tidak terkesan dengan kejutan apapun yang kamu tunjukkan padaku.” , “Tapi Pak Presiden, apa maksud yang anda katakan sebelumnya... Um... Hunar ki Malika?” , “Oh, itu berarti bahwa kamu ratu kecantikan dan intelijen. Dan itulah dirimu, Jodha.”

Jodha merasa sangat bahagia! Dia tersenyum dan terus memerah. Jalal memandangnya dan tersenyum melihat Jodha memalingkan wajahnya dengan rasa malu. Ia perlahan-lahan meletakkan tangannya di wajahnya dan mengubahnya ke arahnya, sehingga ia bisa melihatnya. Jodha tidak mampu menatap matanya dan perlahan-lahan Jalal meletakkan tangannya di atas bahunya. Sementara itu, Jodha telah tersesat sepenuhnya pada saat itu, sehingga dia lupa tentang hal yang seharusnya dia katakan padanya. Sebenarnya Jalal sangat ingin mencium bibirnya, namun dia menahannya dan kemudian mendaratkan bibirnya di dahi Jodha. Jodha menutup kelopak matanya sementara Jalal terus mencium dahinya. Dia merasakan kakinya melemas, dan beruntungnya dia dalam keadaan duduk. Kupu-kupu diperutnya tidak menunjukkan akan pergi, yang mulai berterbangan saat Jalal duduk disampingnya. Akhirnya Jalal menundurkan bibirnya dan memandangnya dengan penuh cinta. Sementara Jodha masih terus memerah dan tidak bisa memandangnya.
Jalal: “Kamu tahu, Kamu terlihat begitu menggemaskan ketika kamu memerah seperti itu.” Jodha masih tidak bisa mengendalikan rona diwajahnya, “Hmmm... benarkah?” , “Ya, aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih alami dan lucu.”

Dengan cepat Jodha menaikkan pandangannya dan menatap langsung ke mata Jalal. Terjadilah eyes-lock yang sangat intens diantara mereka. Keduanya ingin tinggal seperti itu selamanya, merasa aman dan tenang. Setelah beberapa waktu, tatapan Jodha bergeser kearah jam dinding. Waktu makan siang telah habis dan mereka hampir tidak makan apapun. Kemudian dengan cepat, Jodha mulai mengemasi kotak makannya. Jalal bingung dengan gerakan Jodha. “Um... Pak Presiden, istirahat makan siang sudah berakhir dna saya harus kembali bekerja.” Jalal tersenyum, “Oke, haan.”

Akhirnya Jodha selesai mengemasi semuanya dan bangun untuk meninggalkan kabin Jalal. Ia menuju pintu hendak keluar dan tiba-tiba dia berbalik. Jodha tersenyum, “Thank you, Mr Presiden.” , “You’re welcome, Jodha.”

Kemudian Jodha meninggalkan kabin, meninggalkan Jalal yang bahagia dan melamun. Disisi lain, Jodha sebenarnya bahagia tapi dia juga berasa bersalah karena telah melakukan ini semua. Dia telah terbuai dengan setiap gerakan Jalal dan dia marah karena belum bisa mengatakan pada Jalal bahwa hubungan mereka hanyalah sekedar bos dan karyawan. Dia harus memikirkan cara lain untuk menyampaikannya kepada Jalal..... TBC--> Chapter 28

Fanfiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FanFiction His First Love Chapter 27 Part 2

1 comments:

  1. Jodha jgn cerita dulu dech? Ntar pak presdir slh nangkep omongan, mlh runyam ntar masalahnya, sbaeknya jgn bangunin macan yg sdg tidur

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.