FanFiction His First Love Chapter 28 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 28



Written by Samanika
Translate by Chusnianti

Malam itu Jodha dalam keadaan menydihkan. Dia belum memberitahu Jalal apa yang ada didalam benaknya. Setelah makan siang, waktu berlalu begitu cepat. Dia terlalu sibuk dengan laptopnya, mengetikkan laporan bulanan departemennya yang harus diserahkan pada Jalal. Meskipun dia harus berperang dengan perasaan dan pikirannya yang terus tertuju pada Jalal.

Sudah hampir jam 7 malam. Jodha pergi ke kabin Jalal dan sebelum mereka bisa melakukan sesuatu, dia cepat-cepat meninggalkan kabin Jalal dengan alasan sudah terlambat. Dia mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan kantor secepat dia bisa. Dia melakukan ini karena dia teringat saat dia bersama Jalal, dia sering kendali atas pikirannya. Jadi, sebelum apapun terjadi, dia segera meninggalkan kantor. Dia berlari kearah taksi dan naik taksi.

Dalam perjalanan kerumah, dia menyadari bahwa dia sudah lupa untuk memberitahu Jalal bahwa mereka tidak bisa melanjutkan kesalahan mereka. Sebagian dirinya merasa sedih karena dia tidak bisa mengatakannya pada Jalal, tapi bagian dirinya yang lain merasa senang karena dia tidak membuat Jalal sedih. Jalal begitu manis telah memberinya bunga tadi pagi, dan kata-katanya hanya akan menyakiti Jalal, tetapi di sisi lain, sangat penting untuk memberitahunya segalanya. “Aku tahu, aku tidak memberitahunya kemarin. Tapi suatu saat nanti, aku pasti memberitahunya. Dia tersenyum lebar saat memberikan bunga pagi ini. Bagaimana aku bisa merusak kebahagiaan itu? Aku merasa buruk jika aku melakukannya. Terima kasih Tuhan, aku terus menutup mulutku.”

Setelah sampai dirumahnya, Jodha makan malam dan kemudian kembali ke kamarnya. Dia berbaring di tempat tidurnya dan mulai membaca buku. Teleponnya berdering dan dia segera mengangkatnya.
Jo: “Hai Sukanya! Lama sekali kita tidak ngobrol!”
Sukanya: “Hai Jo! Pekerjaan ini benar-benar membuatku sibuk! Apa yang terjadi padanmu ahri ini?
Jo: “Banyak hal yang terjadi selama beberapa bulan.”

Jodha kemudian menceritakan semua runtutan insisden-insiden yang terjadi, Penghianatan Adham, bagaimana Salima, Ruqs dan dirinya berencana untuk mengambil file-file yang disembunyikan Adham, Ayahnya yang di promosikan dan bosnya yang berubah.
Sukanya: “Wow! Banyak sekali perubahan bihupmu dna bahkan aku tidak tahu! Dan Bosmu, Pacarnya mengkhianatinya dan dia masih saja sendiri sampai sekarang. Apakah kamu tidak mencoba keberuntunganmu, Jo?” Mata Jodha terbelalak, “Sukanya! Apa yang kamu katakan!”
Sukanya: “Jodha, bukankah kamu tertarik apdanya. Maksudku, dia anak tunggal, kaya, sukses dan belum lagi dia sangat tampan! Dan menakjubkan juga! Kalian akan menjadi pasangan yang awesome!”
Jodha: “Sukanya, aku tahu persamaan kami telah berubah selama bulan-bulan, tapi aku bersumpah bahwa kami tidak tertarik dengan satu sama lain! Dan apa pun yang kamu katakan tidak akan pernah terjadi!”

Jodha berbaring. Dia sangat tertarik pada Jalal tapi dia tidak mau memberitahu Sukanya apa-apa tentang itu, apalagi tentang apa yang terjadi antara mereka.
Sukanya: “Ha baba! Dia benar-benar berhenti mengganggumu?”
Jodha: “ya! Sangat aneh kan. Sebelumnya, ia akan mencari kesempatan untuk memberiku masalah! Tetapi semuanya telah berubah secara drastis! Aku melihat sisi yang berbeda darinya. Dia begitu peduli dan pengertian! Kamu tahu, aku mengalami demam selama dua hari kemarin dan ketika aku tidak memberitahunya, dia bergegas menemuiku.”
Sukanya: “Wow yaar! Apa yang terjadi padanya? Begitu banyak perhatian!”
Jodha: “Kamu tahu, aku sudah salah telah menghakiminya. Aku selalu berpikir bahwa Dia sombong, manja dan egois. Aku merasa sangat marah padanya setelah insiden di pesta dan ketika aku kehilangan pekerjaan. Tapi setelah aku mulai bekerja untuk dia, aku menyadari bahwa dia menyembunyikan eksterior yang lembut di balik sikapnya yang dingin dan kesombongannya. Kamu tahu, ia kehilangan ayahnya ketika ia berusia 13 tahun. Ia bukanlah orang yang buruk, keadaan yang membuatnya seperti itu! Ia memiliki hati emas!”
Sukanya: “Oh ho! Aku pikir kamu mulai menyukainya!” Wajah Jodha langsung memerah, “Sukanya! Aku tidak! Aku hanya salah dalam persepsiku tentang dia!”
Sukanya: “Oke Maaf! Sekarang katakan padaku apa lagi yang terjadi dalam hidupmu!”

Mereka berdua berbicara selama beberapa Jam. Kemudian Jodha mengatakan padanya bahwa dia lelah dan perlu tidur. Dia berjanji bahwa mereka akan bertemu dan minum kopi bersama.

Jodha mengakhiri panggilannya dan berbaring di tempat tidurnya. Dia memejamkan matanya tapi tidur tak kunjung menghampirinya. Seluruh kejadian yang terjadi hari ini terus berkelebat dalam ingatannya, terutama saat dia menghabiskan waktu dengan Jalal selama istirahat makan siang. Dia mulai memerah saat teringat bagaimana Jalal menciumnya. Dia meletakkan tangannya di dadanya karena dia merasa detak jantung nya yang semakin cepat. “Hei Kanha! Apa yang terjadi kepadaku? Mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkan Pak Presiden? Mengapa ia mulai mempengaruhi pikiranku? Aku tidak bisa membedakan antara yang salah dan benar! Aku tahu bahwa aku seharusnya menceritakan tentang bagaimana kita tidak bisa bersama-sama, namun ketika ia melimpahi perhatiannya dan menciumku, aku benar-benar lupa tentang apa yang seharusnya aku katakan! Tapi aku harus mengatakan kepadanya! Jodha, kamu bisa melakukannya! Anda harus memberitahu dia bahwa mama dan papa tidak akan menerima apa yang kami lakukan!”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Di sisi lain, Jalal sudah berada di dalam kamarnya. Dia merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama Jodha. Dia tida bisa melupakan senyum diwajahnya saat dia memberinya bunga. Dia ingin melihat senyum manis diwajahnya selama sisa hidupnya dan dia bersedia untuk melakukan apa saja untuk itu. Dia siap untuk mengambil semua rasa sakit yang Jodha miliki dalam hidupnya dan mengisinya dengan kebahagiaan. Dia hanya tidak bisa menahannya lagi. Dia ingin segera bertemu dengan Jodha dan mengatakan betapa dia sangat mencintainya. Tetapi dia harus menahan dirinya untuk sekarang. Dia perlu menunggu untuk waktu yang tepat untuk memberitahu betapa dia sangat mencintainya dan ia bisa melakukan apa saja demi kebahagiaannya. Dengan pikiran-pikiran ini, ia berbaring di tempat tidurnya, dengan mata terbuka lebar saat dia memikirkan bidadarinya. “Oh Jodha, bagaimana aku bisa memberitahumu bagaimana rasanya. Hal ini seperti beban besar di hatiku! Hal ini menyakitkan untuk menyimpannya waktu yang lama, tapi aku siap untuk bertahan demi dirimu! Karena aku mencintaimu lebih dari hidupku.” **Ohhh.... meleleh... emangnya lilin meleleh??? Abaikan**

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha terbangun keesokan paginya. Dia menyelesaikan tugas-tugas nya dan melanjutkan untuk mandi. Dia kemudian memilih pakaiannya, kemeja putih Gading dan celana panjang berwarna krem. Dia menambahkan syal sutra biru di lehernya. Dia memakan sarapannya dan meninggalkan rumah tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Jodha: “Halo, Pak Presiden?”
Jalal: “Selamat pagi, Jodha!”
Jodha: “Apa yang terjadi?”
Jalal: “Hanya turunlah ke gerbang kompleksmu dengan cepat!”
Jodha: “Tapi kenapa? Apakah ada yang salah?”
Jalal: “Oh... turunlah saja!”
Jodha: “Haan, Oke saya akan segera ke sana!”

Jodha kemudian mengenakan sepatu dan berdiri ke Lift. Dia berpikir tentang apa yang diinginkan Jalal. “Aku ingin tahu apa yang dilakukannya sekarang? Apakah kejutan lain?”

Pintu lift terbuka dan Jodha melangkah keluar. Dia berjalan menuju pintu masuk lobi dan turun tangga. Dia menuju ke pintu gerbang dan ada pemandangan asing yang menyambutnya. Jalal sedang menunggu di luar mobilnya dan ia memegang rangkaian bunga yang sama dengan kemarin. Jodha memberinya senyum lebar saat dia mulai berjalan ke arahnya. Ketika ia berdiri di hadapannya, matanya berkilau dengan cinta dan kebahagiaan.
Jodha: “Selamat pagi, Pak Presiden. Jadi karena ini mengapa Anda memanggil saya!”
Jalal: “Iya Jodha, aku datang untuk menjemputmu hari ini.”

Kemudian Jalal menyerahkan bunga kepada Jodha dan tangan mereka bertabrakan dengan satu sama lain. Jodha segera tersipu sedangkan Jalal tersenyum memandangnya. Dengan cepat Jodha menarik tangannya dan memalingkan wajahnya. Jalal kemudian memegang tangannya yang lain dan mulai berjalan menuju mobilnya. Jodha terkejut tapi terus mengikuti dia. Jalal membuka pintu mobil, menyuruhnya untuk masuk. “Please, ladies first.” Jodha masuk ke dalam mobil. Dia tersenyum karena dia benar-benar tersentuh oleh gerakannya. Jalal kemudian masuk dan duduk di sampingnya. Dia memberitahu sopir untuk membawa mobil ke kantor.

Jalal dan Jodha duduk ebrjauhan. Jalal terus melihatnya sementara Jodha hanya meliriknya. Jodha ingin melihatnya tetapi di terlalu malu saat dia berpikir bahwa sopir mungkin melihat mereka. Jalal faham dengan kekhawatirannya, tetapi dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperolehnya. Perlahan-lahan tangannya merangkak naik dan meletakkannya diatas tangan Jodha. Mata Jodha terbelalak, sementara Jalal hanya tersenyum. “Pak Presiden! Apa yang anda lakukan? Bagaimana jika dia melihat kita?” Jalal menjawabnya dengan nada menggoda, “Jangan takut, Jodha. Dia selalu fokus pada jalan.” , “Haan, tapi anda tidak takut?” Jalal semakin genjar menggodanya, “Takut apa? Ini adalah mobil pribadiku. Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan! Selain itu kamu dapat menutup partisi ini tepat di depanDaerah depan dan kursi belakang dipisahkan dan (menempatkan tangannya lain pada bahunya) kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan!” **Yang sudah pernah nonton Lie To Me, pasti bisa membayangkan bagaimana bentuk mobilnya... Dan disini, saya hanya ingin ngeplak tangan Presdir kita.**

Jalal mengedipkan matanya dan Jodha melihat tanda-tanda nakal di matanya. Itu pertama kalinya sesuatu seperti itu terjadi dengan dirinya. Jalal di sisi lain, tidak ingin meninggalkan kesempatan untuk menggoda dia. Ia sudah memperhatikan semburat merah akibat rasa malunya dan ia menikmati menatapnya secara menyeluruh. Namun, Jodha akhirnya mengambil keberanian dan memandangnya lurus. Jodha sedikit tersenyum, “Pak Presiden, Siapa saja yang telah mengatakan pada anda bahwa anda sangat berbelit-belit dan licik?” , “Haan, aku tahu. Tapi apakah kamu tahu bahwa kamu lebih menarik?” , “Apa itu?” tanya Jodha. Jalal menconongkan tubuhnya lebih dekat dan mengedipkan matanya, “Fakta bahwa kamu tahu itu bahkan tanpa aku memberitahumu.”

Jodha memalingkan wajahnya karena dia tersipu berat! Dia tidak pernah tahu bahwa Jalal memiliki sisi seperti ini juga! Dia pernah digoda seperti itu oleh orang lain. Meskipun ia merasa malu, dia menimatinya. Jalal juga menikmati menghabiskan waktu dengan dia! Dia senang telah mengambil keputusan untuk menjemputnya di rumahnya. Jalal berkata pada dirinya sendiri, “Sangat menyenangkan melihat dia tersenyum lebih awal. Mulai sekarang, aku akan menjemptnya setiap hari.”

Sepanjang jalan, mereka duduk berdampingan. Mereka tertawa, bercanda dan berbicara sampai mereka akhirnya tiba di kantor. Setelah turun, Jalal menyuruh Jodha untuk menemuinya di kabinnya. Jodha berjalan di belakang Jalal sambil membawa bunga pemberian Jalal. Dia berjalan menuju ruang resepsionis dan masih hilang dalam dunianya sendiri. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya, “Jodha! Lihat disini!” Jodha berbalik, “Haan... apa...” , “Hey Sleeping Beauty, where are you lost? Dan bunga-bunga apa ini di tanganmu?”  Pertanyaan Ruqaiyya yang tiba-tiba membangunkan Jodha dari tanah impiannya. Dia terkejut tetapi segera menenangkan dirinya, “Oh... hi... hi Ruqs! Kuch nahi! Hanya berpikir tentang pekerjaan! Bunga-bunga ini! Oh aku hanya membelinya sendiri! Bukankah mereka cantik?” Ruqaiyya mulai menggoda Jodha, “Ya tentu saja mereka cantik! By the way, kamu terlihat berbeda hari ini.” Jodha terpana dan memerah, “Apa! Nahi! Tentu tidak! Mengapa aku harus jatuh cinta?” Jawab Jodha mencoba menutupi apa yang dirasakannya. “Lihat! kamu bahkan memerah sekarang!” , “Ruqs, tidak! Berhentilah! Sampai jumpa nanti waktu makan siang!” Jodha bergegas keluar dari sana, sementara Ruqaiyya menatapnya dan tersenyum. Dia sangat menyadari Jalal yang memberinya bunga. Itu tampak di seluruh wajahnya, Dia mengagumi dan sangat menyukainya. Ruqaiyya sengaja menanyakannya pada Jodha dan mengatakan tentang cinta. Dia pikir itu akan membantu dia berpikir tentang perasaannya pada Jalal dengan perspektif baru.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Pagi telah berlalu dan Jodha tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Goodaan Ruqaiyya sebenanrnya telah memaksanya untuk berpikir tentang perasaanya. Sementara itu, satu-satunya yang bisa dia pikirkan adalah apakah yang dikatakan Ruqaiyya adalah benar atau tidak. Dia merasa tenggelam dalam perasaan dan pikirannya dan tidak mampu menemukan jalan keluar. “Mengapa hal ini sangat mempengaruhiku? Mengapa satu pernyataan dari Ruqs membuatku merasa begitu berbeda? Apakah aku benar-benar mencintai Presdir? Aku memang menikmati saat menghabiskan waktu dengannya dan aku suka kalau dia menciumku. Tapi apakah itu berarti bahwa aku mencintainya?” Pertanyaan yang sama terus berjalan dalam benaknya berulang-ulang seperti tape. Dia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi. Semua yang bisa dia pikirkan pada saat itu adalah Jalal. Setelah berpikir selama beberapa waktu, dia menyimpulkan bahwa dia sangat menyukai Jalal. Sejenak dia merasa bahagia, namun pada saat yang sama dia khawatir dengan reaksi kedua orangtuanya, mereka pasti tidak akan menerima hal itu. Namun, Jodha memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada Jalal, karena dia sangat tidak ingin menyakitinya.

Waktunya makan siang dan Jodha menuju meja Salima. Dia memasuki kabin Jalal dan berjalan melewati mejanya karena meja Salima berada di ujung lain. Saat Jodha berlalu, dia memberikan senyuman misterius tapi sangat seksi kepada Jalal. Jalal membalasnya dengan senyuman nakal.

Jodha menarik keluar dan duduk. Salima dan Ruqaiyya memberinya senyum lebar. Tiba-tiba, Jodha merasa sangat malu untuk melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya. Dia sangat merasa bersalah. Dia belum pernah melakukan sesuatu seperti itu kepada siapa pun. Itu seolah-olah bahwa Jalal telah memunculkan sisi lain dari dirinya yang tidak pernah ada dalam pikirannya. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya dan dia akan mengamuk. Ia makan siang dengan Salima dan Ruqaiyya, duduk dengan tenang karena mereka berdua berbicara dan dia mencermati perilaku nya. Dia tahu bahwa dia harus berhenti atau hal-hal lain akan keluar dari kendalinya. Salima dan Ruqaiyya dengan mudah bisa melihat bahwa Jodha sedang gelisah, tapi seberapa banyak pun mereka menanyakannya, Jodha akan selalu mengelaknya. Mereka segera menyelesaikan makan siang mereka dan Jodha kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya selama sisa hari.

Waktu sudah hampir malam. Semua orang mulai kembali ke rumah masing-masing. Jodha menyelesaikan bagian terakhir dari pekerjaannya. Dia harus menemui Jalal sebelum pulang, namun dia sendiri tidak yakin dengan apa yang harus dia lakukan. Dia berusaha untuk menunda bertemu dengannya, namun hal itu tidak bisa ditahannya. Dia bangun dan berjalan dengan cepat menuju kabinnya. Berusaha menjaga wajahnya tetap lurus sementara waktu. Dia mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Jalal.

Jalal segera menghentikan segala pekerjaannya dan beralih memandangnya. Dia tersenyum saat Jodha berjalan untuk duduk di depannya. Jalal bangkit dari kursinya dan duduk di kursi disamping Jodha. Jodha mengalihkan pandangannya karena dia sangat tersipu. Jalal terus memandangnya dan tersenyum, dia begitu mengagumi sikap Jodha yang menurutnya sangat menggemaskan.
untuk duduk di kursi sampingnya. Jodha namun menolak untuk memenuhi matanya dengan dia, karena ia tersipu berat. Dia terus memandangnya dan tersenyum, seperti yang ia dikagumi kelucuan nya.
Jalal (nakal): “Kya hua? Mengapa kamu merasa begitu malu?”
Jodha: “um... uhh... Tidak! Saya tidak merasa malu! Apa yang membuat Anda berpikir begitu?”
Jalal (nakal): “Tidak apa-apa. It's just that you were blushing heavily! Jadi aku pikir bahwa kamu merasa malu! Tapi mungkin karena kamu tidak merasa baik!”

Mendengar itu, Jodha merasa lebih malu! Dia tidak pernah berpikir bahwa Jalal akan menagtakannya secara terbuka akan menceritakan tentang hal itu! Tapi ia jelas tidak tahu alasan yang tepat. Dia terus memandang ke arah lain. Tiba-tiba, perlahan-lahan Jalal membalikkan wajahnya ke arahnya. Ia melihat ke dalam mata cokelat besar nya dengan cinta.
Jalal (dengan lembut): “Mengapa kamu tidak datang menemuiku hari ini?”
Jodha: “Um... ada begitu banyak pekerjaan...”
Jalal: “Aku tahu mengapa kamu tidak datang setelah istirahat makan siang (dengan nakal): “Ini karena kamu ingin memberikan senyumanmu padaku di sore hari, kan?”

Jodha terkejut untuk mengetahui bahwa ia telah memperhatikannya. Matanya yang besar melebar karena terkejut dan takjub! Dia mulai merasa lebih malu! Jodha mulai gugup, “A... Apa... Apa yang anda katakan? Saya tidak pernah melakukan sesuatu!” Jalal membungkuk lebih dekat ke telinganya dan berbisik, “Aku melihat semuanya... Saat kamu berjalan, kamu tersenyum misterius dan agak seksi kearahku. Dan kamu tidak bsia menyangkalny! Aku melihat dan menikamatinya setiap saat! Kamu tampak polos, tetapi juga dengan perpaduan panas! Dan aku harus mengatakan bahwa kamu begitu sangat menarik!” Jodha tersipu lebih keras daripada sebelumnya! Dia merasa sensasi di tubuhnya, terutama pada kalimat terakhir. Dia tidak bisa melihatnya lagi dan memalingkan wajahnya lebih jauh.

Jalal tersenyum dan kembali ke kursinya, “Anyway, aku perlu memberitahukan sesuatu yang penting. Ada konferensi bisnis di Miami yang diselenggarakan oleh perusahaan. Mereka mengirimkan undangan dan mengatakan kepadaku untuk membawa karyawan. Jodha menatapnya, “Oh...” Jalal bertanya pada Jodha, “Jadi aku bertanya-tanya, apakah kamu akan datang bersamamu? Ini adalah perjalanan yang disponsori oleh perusahaan, jadi semuanya akan diurus oleh perusahaan.” , “Kapan konferensi ini, Pak Presiden?” tanya Jodha. “Konferensi ini diselenggarakan tiga hari. Tanggal 9, 10 dan 11 bulan depan. Jadi kita akan pergi selama 5 hari. Kita akan berangkat tanggal 7 dan akan kembali pada tanggal 13.” Tutur Jalal. “Oh, baiklah. Saya akan menemani anda. Apakah ada yang perlu saya siapkan?” tanya Jodha. “Untuk sekarang tidak ada. Tapi aku akan memberitahumu jika kamu harus mempersiapkan sesuatu.” Jelas Jalal. “Okay, terima kasih banya, Pak Presiden.” Ujar Jodha. Jalal bingung dengan ucapan Jodha, “Terima kasih untuk apa, Jodha?” , “Karena telah mengajak saya bersama anda. Ini adalah pengalaman terbaik bagi pemula seperti saya.” Mendengar ucapan Jodha, Jalal berkata pada dirinya sendiri, “Aku akan membawamu sehingga kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama!” Kemudian dia berkata pada Jodha, “Oh sudahlah! Kamu tidak perlu berterima aksih padaku.” Jodha tersenyum, “Oh, baiklah! Sudah malam, saya pulang dulu, Pak Presiden.” , “Oke bye! Sampai jumpa besok angle!” ..........TBC-->Chapter 29

Fanfiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FanFiction His First Love Chapter 28

8 comments:

  1. SeMoga aja pas di MiaMi...Mereka Mau salliNg MeNguNgkapkaN isi hati Mereka...

    ReplyDelete
  2. Sukriya.mba chus...lanjuttt...jgn lama2 ya..prnasaran ama mr.dreamer saat jln2 berdua ma jodha...pasti menghayal terus tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih mikirin untuk endingnya Mbak,, masih belum dapet... Mungkin 4 postingan lagi, Ending...

      Delete
  3. Lanjt lg mbk chus..mantap..

    ReplyDelete
  4. Ahhh Jalal emang paling pinter cari alasan buat berdua aja ma Jodha mhmmhmmm... :-D

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.