FanFiction His First Love Chapter 29 Part 1 - ChusNiAnTi

FanFiction His First Love Chapter 29 Part 1



Written by Samanika
Translate by Chusnianti

Sebulan telah berlalu dengan cepat bagi Jodha maupun Jalal. Mereka telah menghabiskan banyak waktu bersama-sama, karena persiapan konferensi yang perlu dilakukan. Dia akan menghabiskan sebagian hari untuk menyelesaikan pekerjaannya sementara bagian lainnya dihabiskan di kabin Jalal. Dia hampir tidak bertemu Salima dan Ruqaiyya dan mereka akan bertemu hanya selama istirahat makan siang. Jalal dan Jodha semakin dekat selama waktu ini. Dia akan menjemputnya dari rumah setiap hari dan juga mengantarnya pulang.

Bharmal juga telah tahu tentang konferensi dan sangat senang bahwa Jalal telah memilih putrinya untuk menghadiri konferensi dengannya. Mainavati pada awalnya bersikap skeptis tentang mengirim dia begitu jauh dari dirinya sendirian, tetapi akhirnya dia menyimpulkan bahwa itu akan baik untuk karirnya. Ia juga telah melihat bahwa putrinya telah mulai bersinar luar biasa dan curiga tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Tapi ia akhirnya menghibur diri berpikir bahwa dia mungkin benar-benar bahagia dengan pekerjaannya.

Perasaan Jodha pada Jalal telah tumbuh selama sebulan. Dia benar-benar mulai peduli pada kesejahteraan dan kesehatannya. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih daripada tergila-gila atau naksir padanya. Gerakan Jalal yang manis dan bijaksana telah memenangkan hatinya. Dia tidak sabar untuk bertemu dengannya setiap pagi, dan ketika ia pulang ke rumah setiap malam, dia akan gelisah berharap untuk hari berikutnya segera datang. Dia tidak memberitahu siapa pun dari keluarganya tentang Jalal yang menjemput dan mengantarnya. Dia bahkan meminta Jalal untuk memarkir mobilnya jauh dari pintu masuk gedung nya sehingga ibunya tidak akan melihat. Perasaannya padanya tulus dan suci. Tetapi dia tidak menyadari bahwa dia benar-benar mencintainya. Dia tidak bisa melihat dia terluka dan akan memastikan bahwa ia akan tersenyum. Karena persiapan, Jodha juga mengunjungi rumahnya dan telah berhubungan dengan baik dengan Ibu Jalal.

Dari pihak kantor, hanya Salima dan Ruqaiyya yang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Keduanya telah menutup mulut mereka rapat-rapat supaya ayah Jodha tidak mengetahui hal itu sehingga Jodha akan mendapatkan kesulitan. Setiap orang dari kantor, termasuk Bharmal, percaya bahwa interaksi Jodha dan Jalal benar-benar profesional. Keduanya cerdik menghindari mata publik dengan dalih persiapan kerja dan konferensi.

Jalal telah benar-benar menghargai dan menikmati waktu yang telah mereka habiskan bersama-sama. Ia berharap untuk pergi ke Miami, karena ia telah merencanakan banyak hal untuk mereka lakukan meskipun konferensi. Jodha tidak hanya melihat ke depan untuk konferensi, tetapi juga untuk menghabiskan waktu dengan Jalal.

Setelah semua pengepakan dilakukan, Jodha kembali memeriksa daftar sekali lagi untuk melihat jika dia melupakan sesuatu. Setelah memastikan bahwa segala siap, Dia menghela napas lega. Dia membawa dua kantong untuk dimasukkan kedalam bagasi dan dia membawa tas tangannya bersamanya. Karena saat itu di Miami sedang musim panas, Jodha telah menyiapkan pakaian formal musim panasnya, warna, dan bahkan pakaian renang. Dia melihat jam tangannya, dan itu menunjukkan pukul 8 malam. Perjalanan ke bandara sekitar 4 jam dan dia akan bertemu Jalal disana. Keluarganya memutuskan untuk mengantar Jodha ke Bandara, mereka sedikit takut karena Jodha akan melakukan perjalan jauh ke luar negeri sendirian.

Setelah makan malam, Jodha mengganti pakaiannya. Dia mengenakan t-shirt putih dengan celana jins biru dan mengenakan sepatu warna hitamnya. Ia membawa sepasang piyama untuk dipakai selama penerbangan, karena itu hampir 21,5 jam penerbangan dengan one stop. Dia melakukan sedikit make-up dan menunggu di ruang tamu.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jalal juga telah menyelesaikan pengepakan semua hal yang ia perlukan. Ia juga membawa sepasang celana renang nya dan pakaian musim panas lainnya dengan pakaian resmi nya. Ia juga ingat untuk membawa tas laptop nya. Setelah makan malam, dia melanjutkan untuk berdandan. Ia mengenakan kemeja krem dan terselip di jeans hitam-nya. Ia menyelesaikan tampilan dengan sepatunya Burberry cokelat. Ia memakai Köln dan memeriksa waktu; ia perlu bernagkat segera. Dia memeluk ibunya, yang memberkati dia dan kemudian memberitahu sopir untuk membawanya ke bandara.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha memeriksa tiket nya dan memberitahu ayahnya untuk membawa mobil ke Terminal 2 dari Mumbai International Airport. Mereka terbang naik pesawat Lufthansa Airlines dan selama dua setengah jam singgah di Frankfurt. Penerbangan dari Mumbai ke Frankfurt itu sendiri selama delapan setengah jam, kemudian sembilan setengah jam penerbangan dari Frankfurt ke Miami.

Akhirnya mereka sampai di terminal. Bharmal mulai mengeluarkan barang-barang yang dibawa Jodha. Jodha turun untuk mencari troli agar ayahnya bisa menempatkan barang bawaannya di atasnya.

Mainavati turun dari mobil dan memeluk Jodha dengan erat. “Sayang, setelah kamu sampai disana, segera hubungin kami.” Jodha tersenyum, “Haan Ma, aku pasti akan segera menghubungi kalian.” , “Oke sayang, semoga perjalananmu aman. Kita akan bertemu lagi mungkin setelah satu minggu.” , “Jangan khawatir, Ma. Aku akan aik-baik saja. Presdir juga ada bersamamu!” Mainavati tersenyum dan mencium dahinya. Jodha  juga memeluk ayah dan saudara laki-lakinya. Kemudian dia menuju pintu masuk, menunjukkan tiket dan paspor kepada personil keamanan, setelah itu dia melambaikan tangannya kepada keluarganya. Bharmal dan Mainavati berdiri di luar sampai mereka yakin Jodha sudah di aman.

Jodha menuju area tempat duduk dan menunggu Jalal datang, karena ia telah mengatakan kepadanya bahwa mereka akan Check-in bersama-sama. Akhirnya, ia tiba dan Jodha tidak bisa berhenti menatapnya. Dia tampak benar-benar cerdas dengan kemeja yang dia pakai. Dia secara terbuka mengagumi dia ketika ia berjalan ke arahnya dengan bagasi di belakangnya. Jalal juga terpukamu menatapnya. Sebelumnya dia sudah pernah melihat Jodha dalam pakaian sederhana, tapi saat ini dia tampak terbaik daripada sebelumnya. Dia tampak benar-benar cerdas dengan sepatu bot yang dikenakannya.

Akhirnya, Jalal berdiri didepannya dan Jodha juga berdiri menyambutnya dengan tersenyum. “Halo, Pak Presiden.” , “Hi Jodha. Mari kita memasukkan barang-barang kita.”

Mereka menuju ke arah antrian panjang untuk check-in. Jodha mendorong trolinya dan berjalan di belakang Jalal. Mereka berdua berdiri dalam antrian, Jalal berbailk untuk melihat dia. “Berikan padaku paspor dan tiketmu.” Jodha terkejut, “Mengapa?” , Jalal menjawab dengan santai, “Hanya berikan saya kepadaku. Aku akan menyelesaikan formalitas masuk untukmu. Sementara itu, kamu pergilah dan cari kursi untuk duduk.” , “Um... baiklah. Saya akan ke kamar kecil dulu kalau begitu.” Ucap Jodha.

Jodha memindahkan trolinya dekat Dermaga pemuatan dan tersenyum pada Jalal saat dia menuju ke kamar kecil. Jalal menyelesaikan semua formalitas. Jalal segera kembali ke arah Jodha dan kemudian menyerahkan paspor, Tiket, data Imigrasi dan boarding pass kepadanya dan mengatakan kepadanya untuk melampirkan tag pada bagasinya. Jodha melihat boarding passnya untuk memeriksa nomor gerbangnya. Dia begitu takjub dan memandang Jalal, sementara yang dipandang terus tersenyum padanya. “Pak Presiden... Kelas pertama!” , Jalal tersenyum, “Ya, aku meminta mereka untuk mengupgrademu dari kelas ekonimi ke kelas pertama. Aku melihat kemarin kalau tempat kita terpisah. Aku tidak akan membairkanmu sendirian, ini adalah tanggung jawabku untuk mengurusmu! Jadi, aku mencarikan kamu kursi disampingku. Aku harap kamu tidak keberatan.” Jodha tersenyum, “Tentu saja tidak! Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dengan begitu banyak orang yang tidak saya kenal di sekitar saya! Ditambah lagi, ini adalah pertama kalinya saya melakukan perjalanan sendirian ke luar negeri! Terima kasih banyak, Pak Presiden!” , “Oh Jodha, kamu tidak henti-hentinya berterima kasih kepadaku. Aku merasa malu. Sekarang, kita perlu mengisi data imigrasi kita dan menuju loket imigrasi.”

Sebenarnya Jalal mengupgrade paspor Jodha karena dia tidak tahan jika harus berjauhan dengan Jodha selama 21,5 jam penerbangan. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya jika memungkinkan. Dan jika itu berarti mencarikan kuris disampingnya, maka dia akan melakukan hal itu! Dia sangat berharap untuk melakukan penerbangan sekarang, terutama karena malaikatnya akan berada disisinya!” **Then, ketahuan kan kalau sebenarnya Presdir MODUS.... LOL**

Setelah semua rincian imigrasi selesai, mereka melanjutkan untuk pemeriksaan keamanan. Setelah menunggu di pintu gerbang selama hampir 30 menit, mereka masuk pesawat pada pukul 2: 30 am. Penerbangan akhirnya dilakukan pada pukul 3 pagi, waktu yang dijadwalkan. Setelah makan makanan yang dihidangkan, Jodha segera tidur. Jalal, masih sibuk dengan laptopnya, dia menatap Jodha sekilas. Dia memangdangnya dengan penuh kekaguman dan cinta, kemudian membelai kepalanya. “Kamu tampak begitu cantik saat kamu tidur, bidadariku, polos dan lugu. Aku merasa begitu damai dan tenang hanya dengan melihatmu.” Jalal tersenyum saat Jodha menarik selimut untuk menutupi bahunya sehingga udara dari AC tidak membuatnya merasa dingin.

Beberapa jam kemudian, ada pengumuman dari pramugari, “Perhatian para penumpang, kita akan segera mendarat di Frankfurt. Harap kencangkan sabuk pengaman anda, buat kursi anda tegak dan membuka jendela.”

Jodha membuka tirai jendela disamping kursinya dan terpukamu dengan pemandangan diluar. Dia bisa melihat bangunan-bangunan bergaya Eropa dan banyak tanaman hijau. Itu benar-benar indah untuk melihat dari atas.

Pesawat akhirnya mendarat di Terminal 1. Sesuiau yang telah direncanakan, karena tidak seharusnya ada perubahan pesawat. Mereka memasuki bandara dan pergi ke ruang tunggu dimana mereka harus menunggu hampir dua setengah jam sampai penerbangan mereka berikutnya lepas landas. Mereka berdua menghabiskan dua jam untuk ngobrol dan menikmati hal-hal yang lain.

Setelah beberapa jam berlalu, kembali ada pengumuman, “Semua penumpang yang bepergian di Penerbangan Lufthansa Airlines, LH 462 ke Miami diminta untuk melanjutkan boarding di Gate No. 2.”

Mereka pergi dekat gerbang boarding dan menunjukkan kartu boarding mereka. Mereka kemudian memasuki pesawat. Mereka menuju ke kelas pertama dimana pramugari menuntun mereka ke tempat duduk mereka.

Seorang Pramugari terus menatap Jalal dan  tersenyum padanya. Jodha melihat ini dan sedikit terganggu. Meskipun senyum dari Jalal di sisi formal, tapi Jodha merasa sedikit cemburu. Dia merasa seolah-olah ingin memukul pramugari tersebut. Pramugari memberikan segelas air kepada Jalal dan terus menampakkan senyum genitnya. Jodha semakin jengkel, “Bisakah kamu memberiku jus jeruk? Terima kasih.”

Pramugari tersebut pergi dari sana dengan senyum yang memudar. Jodha tersenyum menang karena dia berhasil mengusir pramugari tersebut. Jalal melihat hal tersebut, “Apa yang terjadi, Jodha? Mengapa kamu senyum?” Jodha menjadi gugup mendengar pertanyaan Jalal, “Um. Uh... tidak apa-apa! Hanya bersemangat ke Miami!” Jalal tersenyum, “Oh, oke. Kita akan segera sampai sekitar sembilan setengah jam lagi.”

Jodha tesenyum kearah Jalal. Kemudian memutuskan untuk membaca dan mengeluarkan novel roman dari dalam tasnya. Jalal yang sedang mencari sebuah film yang cocok untuk ditonton, menjentikkan harinya saat melihat sampul novel yang dipegang Jodga, itu adalah indikasi sebuah novel dari genre tertentu. “Oh novel roman! Aku akan bertanya padanya tentang isinya setelah dia selesai membaca! Aku telah melihat banyak orang yang membaca buku itu berkali-kali. Dia pasti sangat menyukainya!” ucap Jalal dalam hati.

Penerbangan akhirnya took off sesuai waktu yang dijadwalkan. Karena, saat itu di Frankfurt pagi; Sarapan disajikan di penerbangan. Mereka berdua makan sandwich, dan buah-buahan yang disajikan kepada mereka. Jalal, yang hampir tidak tidur di penerbangan sebelumnya, memutuskan untuk tidur. Dia mematikan lampu baca dan menarik selimut untuk menutupi dirinya.

Jodha memutuskan untuk menonton rom-com Inggris pada sistem hiburan. Dia benar-benar menonton, sampai tiba-tibamatanya bergeser ke arah Jalal yang sekarang sedang tertidur. Dia tampak sangat bahagia dan damai. Matanya yang terpaku melihatnya, “Dia tampak begitu lucu saat dia tidur! Fiturnya menarik, terutama hidung dan bibirnya! Rambutnya memiliki nada warna terbaik! (menjalankan tangannya melalui rambutnya): “Wow! Mereka benar-benar lembut! Saya yakin wanita akan suka menjalankan tangan mereka menyusuri rambutnya!” Jodha menyadari kebodohan dari apa yang ia lakukan dan cepat menarik tangannya, dia tersipu. Dia tidak mau membangunkannya dan menjawab dia mengapa dia menyentuh rambutnya. Ini akan menjadi terlalu memalukan. Ia melanjutkan menonton film.

Beberapa jam kemudian, ada pengumuman bahwa penerbangan akan segera mendarat di Bandara Internasional Miami. Semua orang diminta untuk kembali ke tempat mereka dan mengencangkan sabuk pengaman. Roda depan menyentuh landasan dan pesawat mendarat dengan baik. Pintu dibuka dan setiap orang berjalan dengan Bagasi di tangan mereka. Setelah semua formalitas diselesaikan, mereka menuju ke arah klaim Bagasi. Bagasi mereka segera tiba, dan setelah itu, mereka pergi ke stand taksi. Jalal telah mencatat alamat hotel. Ia memanggil taksi.
Jalal: “Hotel Fontainebleau, Miami Beach.”
Sopir taksi: “Miami Beach.”

Jalal membantu Jodha memuat Bagasi mereka ke dalam trunk. Mereka berdua duduk di kursi belakang. Rute ke hotel begitu indah, dengan pohon-pohon palem yang membagi lalu lintas masuk dan keluar. Cuaca cerah dan langit tak berawan. Sinar matahari yang terpantul begitu tenang dan tampak jelas di perairan Teluk Biscayne, memberi mereka perasaan kegembiraan, seperti yang kita rasakan ketika liburan musim panas. Sepanjang waktu, sepanjang perjalanan ke hotel, Jalal maupun Jodha terus saling memandang dan tersenyum. Ia terus-menerus melirik ke matanya saat ia tersipu, karena mereka memegang tangan satu sama lain.

Mereka sampai di hotel dan sopir taksi berhenti di depan pintu masuk lobi. Jalal membantu Jodha mengeluarkan barang-barang mereka dan kemudian membayar sopir taksi. Dia bersikeras untuk membiarkan dia membayar tapi Jalal bersikeras membayarnya. Mereka menyeret Bagasi mereka menuju area resepsionis. Jalal bertanya pada Jodha, “Kamu bisa melakukan itu?” Jodha tersneyum, “Jangan khawatir Pak Presiden, saya akan melakukannya.” Jalal membalas senyumnya...... TBC-->Part 2

Fanfiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini



FanFiction His First Love Chapter 29 Part 1

12 comments:

  1. Keren...smg di sini jalal nembk jodha dn jodha menerimanya.......lnjt mbj chus.....

    ReplyDelete
  2. "smbl menyelam minum air" abiz mslh kerjaan d lanjut kencan, cerdas idenya pak presdir,,,jd lbh mirip honeymoon

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Sebentar lagi Mbak Sinta...

      Delete
    2. Jdyn'a d miami ato d kntor mb chus

      Delete
    3. Jdyn'a d miami ato d kntor mb chus

      Delete
  4. Lanjuuut... mba chus best episode kynya udah mulai nih tq

    ReplyDelete
  5. Sma berjln baik, tp gmn ya nnti kalo ortunya jodha tau, smg ditrmh ya

    ReplyDelete
  6. Lanjutannya jangn lama2 mba chusnianti..galau..galau kalau ga baca ff nya...

    ReplyDelete
  7. duh penasaran bnget ni mbk chus....lnjut dwooonk

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.