FanFiction It Is Hate Or Love Chapter 25 Part 3 - ChusNiAnTi

FanFiction It Is Hate Or Love Chapter 25 Part 3


Written By: Bhavini Shah
Translate By: Dewi Agasshi


Jodha dalam dilema, pikiran dan hatinya tak mengizinkan untuk menghukum Azim, menurutnya hukuman itu terlalu kasar buatnya mengingat situasi Azim sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk lebih mendengarkan apa kata hatinya, Jodha mengumumkan keputusanya dengan penuh percaya diri... “Setelah mendengarkan semua orang, aku merasa Azim melakukan kejahatan pencurian perhiasan kakak iparnya dan dia harus dihukum karena kejahatan ini. akan tetapi, jika kita memotong tanganya untuk kejahatan ini, maka akan dianggap sebagai kejahatan pada dirinya dan keluarganya. Hukum dibuat untuk kenyamanan kita dan itu harus diubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kebutuhanya. Jika ada seorang anak yang tidak bisa makan dan ia terpaksa mencuri roti untuk bertahan hidup, dan kita memotong tanganya maka itu bisa dianggap sebagai ketidakadilan dan kekejaman. Jadi saya telah memutuskan jenis hukuman untuk kasus ini, Azim akan bekerja sepanjang tahun dilahan saudaranya dan akan mengurus Kakak dan Kakak Iparnya. Tentara Mughal akan mengawasi Azim selama satu tahun, dan jika dia tertangkap melakukan perjudian lagi maka tanganya akan dipotong langsung. Saya tak ingin memotong tangan Azim dan membuat dia bergantung pada saudaranya selama sisa hidupnya.” Jodha kembali menatap Azim dan berkata... “Azim, kakakmu telah melakukan banyak hal untukkmu, sekarang giliranmu untuk merawatnya. Dan terakhir aku ingin memberikan saran, jangan pernah melilih jalan pintas untuk mencapai tujuanmu, bekerja keraslah dan menghasilkan uang, jangan pernah mengambil jalan yang salah.”
Seluruh pengadilan terkejut dengan keputusanya, keheningan mutlak melingkupi ruang sidang Diwani Khass. Tak ada yang tahu bagaimana bereaksi terhadap keputusan Jodha yang bisa dibilang baru dalam sejarah pengadilan Mughal Sultanat. Dan Jodha sangat mengerti akan situasi ini, dia telah mengambil keputusan yang sangat berseberangan dengan Jalal, Jalal sampai kapanpun lebih taat pada hukum yang telah ada selama ini. Jodha ketakutan, ia ketakutan setelah melihat ekspresi Jalal yang diperlihatkanya. Jalal menatap Jodha dengan pandangan tak percaya, dengan ekspresi pahit dan nada pasif ia berkata... “aku setuju dengan keputusan Malika E Hindustan dan mengatakan kepada keluarga terdakwa untuk pergi.” Suara Jalal benar-benar menunjukkan ketidaksetujuan dengan keputusan yang telah diambil oleh Jodha. Begitu seluruh keluarga terdakwa pergi dia kembali berbicara... “aku ingin mendiskusikan kasus lebih lanjut besok.” Setelah berkata demikian, Jalal meninggalkan Diwani Khass tanpa melihat Jodha.
Semua orang tahu, Jalal sangat kecewa dengan keputusan Jodha. Hamida bangkit dari tempat duduknya dan segera mendatangi Jodha, ia berkata... “Aku sangat bangga akan keputusanmu. Pengadilan ini telah banyak melihat keputusan kejam, tapi hari ini untuk pertama kalinya aku merasa penghakiman ini diambil dari hati. Aku sangat bangga akan keputusanmu Jodha.”
Begum E Khass dan Maham Anga, duo partner in crime menyeringai senang dengan kemenangan mereka.
Atgah Sahib berjalan menuju Jodha dan berkata... “Jodha Begum, saya sangat bangga dengan keputusan yang telah anda ambil. Saya tak pernah berfikir suatu hari pengadilan ini akan melihat keadilan seperti ini. pemikiran bijak dan mendalam anda benar-benar menyelamatkan keluarga itu.”
Dengan tersenyum hangat Jodha menjawab... “Dhanyvad, aku mencoba yang terbaik untuk melakukan keadilan.”
Jalal berada di kamarnya, dia menjatuhkan badan BBSG-nya ***Biasa aja kali bacanya, ga usah pake melotot segala. Kibbas duppatta*** di kursi dengan perasaan terkianati. Hatinya sakit dan sangat terluka, kata-katanya terus bergema di telinganya. Hatinya bagai tersayat sembilu mengingat pujian Maham untuk Jodha. Perlahan Ego-nya membangun dinding kepahitan dalam hatinya dan mulai mengambil alih akalnya. Untuk pertama kalinya ego lelaki sebagai Shahenshah begitu dilukai di dalam Diwani E Khass, dan itupun dilakukan oleh orang yang sangat dia percayai... “Beraninya kau melangkahiku Jodha, dan melawan keinginanku untuk menghukum mereka. Kau bahkan memberikan dukungan untuk keluarga itu. Ohhh aku tahu, kau melakukan itu untuk mengambil simpatik dari orang-orang yang berada dalam pengadilan dengan cara menginjak kakiku. Kau benar-benar seorang manipulatif sejati dan seorang politisi yang sangat tajam. Apakah selama ini kau benar-benar tidak bersalah atau hanya berpura-pura? Kau sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari agar kau bisa mengontrol aturan dalam kesultanan. Kau juga ingin kekuatan sama seperti orang lain, kau telah membuktikan pada semua orang hari ini bahwa keputusanku kejam dan kau baik dan bijaksana. Kau telah berhasil mengesankan seluruh pengadilan dengan kecerdasan jahatmu. Ohhh dan kau tak peduli untuk memberitahuku bahwa kau telah menulis sebuah buku tentang ekonomi. Kau ingin mengesankan semua orang dan membuat mereka terkejut. Yang kau coba ingin buktikan adalah bahwa kau penguasa yang jauh lebih baik daripada aku??. Aku telah memberikan segalanya untukmu, termasuk diriku sendiri. Dan kauuu.... Kyuuuu Jodhaa Kyuuuu?? Ternyata kau juga salah satu dari mereka.” Segala pujian Menteri untuk Jodha akan kecerdasan dan kebijaksanaanya telah memberikan luka pada Ego Jalal, banyaknya pujian itu membuat Jalal merasa rendah diri dan perlahan namun pasti pikiranya dipenuhi fikiran-fikiran negatif tentang Jodha. ***Haishhhh gemblung kok Shahenshah satu ini, cemburu sih wajar tapi ini kekanak-kanakan. Egomu ternyata masih jauh lebih besar daripada cinta dan kepercayaanmu pada Jodha *Jenggung kepala Jalal, cabuti brengosnya satu biji, hosh hosh hosh sebel ane ngetiknya. Semoga keyboarnya ga rusak. Huftttt ******
Setelah segala pujian itu, Jodha berbalik dengan khawatir. Ia ingat wajah suaminya yang diliputi rasa kecewa dan frustasi, dan itu membuatnya ketakutan. Ia takut, dan berfikir bahwa Jalal benar-benar marah padanya. Jodha ingin bertemu dan berbicara padanya sebelum gunung berapi amarahnya benar-benar meletus, ia berjalan menuju kamar Jalal dengan langkah cepat sambil berdoa pada Khana untuk meberinya kekuatan menghadapi Jalal. Ketika sampai didepan kamar Jalal langkah Jodha dihentikan oleh penjaga, tapi sang penjaga segera menyadari bahwa Jodha sekarang adalah Malika E Hindustan yang bisa mengunjungi Shahenshah setiap saat, setiap waktu tanpa menunggu persetujuan atau izin dari Jalal. Ketika Jodha melangkah masuk kakinya serasa mati rasa karena takut. Ia melihat Jalal sedang duduk di kursi, tenggalam dalam pemikiranya yang mendalam. Mengetahui Jodha memasuki kamarnya, Jalal hanya menatapnya datar tanpa ekspresi dan itu sukses mebuat Jodha tersentak ketakutan. Jodha duduk disamping Jalal dengan perasaan takut yang tak diketahuinya. Ia bisa merasakan keheningan yang damai ini hanya sementara sebelum badai menerpa. Dalam waktu satu menit mereka hanya duduk bersandingan tanpa berbicara satu sama lain, setelah menunggu agak lama dan tak ada tanda-tanda Jalal akan memulai pembicaraan maka Jodha berinisiatif untuk memulainya. Diletakkan tanganya diatas tangan Jalal sambil berkata... “Apakah aku melakukan kesalahan Shahenshah?.”
Dengan tatapan sinis dan nada pahit Jalal menjawab... “ohh tidak, tak ada cara bagaimana Malika E Hindustan membuat suatu kesalahan.” Dan dengan kasar Jalal menarik tanganya dari genggaman Jodha dan ia bangkit dari kursinya. Melihat itu Jodha dengan cepat bangkit dan memeluknya dari belakang dan berkata... “Shahenshah, aku tahu kau marah karena aku memberi vonis yang bertentangan denganmu tapi aku sangat senang kau tidak marah padaku. Aku telah berjanji kalau aku akan menghabiskan sepanjang hari dan malam denganmu disini, maka aku akan menepati janji itu.”
Jalal menggenggam tangan Jodha yang melingkar didadanya, dengan sedikit kasar ia membebaskan diri darinya dan menjawab dengan nada sinis dan tajam... “Malika E Hindustan, aku hanya marah pada orang-orang yang dekat dengan hatiku, dan aku harus berterimakasih padamu yang telah membangunkanku sebelum terlambat.” **haishhh asli pengen nyawat sandal Bhaijaan, kumat GGD ne**
Jodha menatapnya, dan melihat api kemarahan dimata Jalal membuatnya mengambil dua langkah mundur, kata-katanya terdengar tenang mematikan. Kata-kata Jalal terlalu tajam baginya. Dalam hati ia berkata... “Hei Iswar, apa aku mendengar dengan benar?, apa dia berkata bahwa aku tak dekat dengan hatinya lagi?.” Jodha merasa seperti seseorang telah menusuknya dengan pisau dalam hatinya dan tanpa diundang air mata telah jatuh dari mata indahnya. Jodha dengan nada memohon mencoba berbicara dengan sang suami yang lagi darah tinggi... “Shahenshah, maafkan aku untuk kesalahanku. Kau dapat menamparku atau memarahiku untuk keputusan salahku, tapi jangan menyakitiku seperti ini. ketidaktahuanmu dan kebencianmu memberikanku rasa sakit yang tak tertahankan Shahenshah.” Mendengar itu jalal kemudian berbalik kearahnya dan melihat ia menagis dengan tangan terlipat. Selama beberapa detik hati Jalal meleleh melihat kondisi rentan Jodha. Ia mencoba menjawab dengan nada sopan... “Jodha Begum, aku merasa sangat lelah hari ini dan aku ingin beristirahat. Bisakah kau tinggalkan aku sediri?.”
Mendengar itu, Jodha menangis terisak-isak menyadari bahwa Jalal tak mau berbicara denganya. Dengan nada rentan iapun berkata... “Shahenshah, aku mohon tolong maafkan aku. Aku tak akan mampu menanggung ini.” Jodha kemudian berlari kearah Jalal dan memelukknya dengan kuat, ia kembali berujar... “Aku hanya menginginkanmu Shahenshah, aku tak membutuhkan apa-apa lagi selain itu.” Jalal bergumam pada dirinya sendiri... “Aku berharap itu benar.” Sebuah seringai muak menghiasi wajahnya dan matanya berubah menjadi gelap. Rasa sakit dan air mata Jodha sudah tak berdampak pada dirinya, pikiranya berteriak keras-keras mengatakan bahwa Jodha mencoba memanipulasi dirinya lagi namun hatinya tak siap untuk mempercayai pikiranya. Namun dari detik-detik yang terlewati akhirnya perlahan-lahan hati Jalal memberikan persetujuan pemikiranya dan menjadi seperti batu yang meremukkan akal sehatnya. Air mata dan juga kata-kata Jodha sudah tak memiliki dampak apapun pada Jalal sekarang, dengan kasar Jalal mendorong Jodha pergi dan berteriak keras... “Jodha Begum, tinggalkan aku sendiri.”
Isak tangis Jodha berhenti seketika setelah mendengar teriakan marah Jalal kepadanya, ia melirik Jalal dengan gugup dan ketakutan. Ia tak mengerti mengapa suaminya begitu marah padanya hanya karena vonis yang dijatuhkanya tidak sesuai dengan keinginanya, dan ia begitu marah dengan semua ini. Jodha mencoba menatap mata Jalal, mencoba membaca pikiranya namun hasilnya nihil. Maka Jodha memutuskan untuk meninggalkan tempat ini untuk saat ini, dengan nada rendah ia berkata... “Shahenshah, aku tak mengerti apa yang terjadi padamu secara tiba-tiba. Hanya untuk satu vonis yang bertentangan dengan keinginanmu kau sudah mulai membenciku!! Apapun itu, sesuai dengan keinginanmu aku akan meninggalkanmu sendirian.” Jodha kemudian perlahan berjalan menuju pintu. Jalal menatap kepergian sang istri. Dan disaat yang sama sebelum mencapai pintu Jodha berbalik untuk melihat Jalal sekali lagi dengan penuh harapan, namun hanya wajah yang dipenuhi rasa sakit dan kecewa yang diperlihatkan Jalal padanya. Jalal yang melihat wajah sedih, pucat, dan mata berkaca-kaca menjadikan rasa sakitnya kian bertambah sehingga tak terasa air matanya sendiripun menetes tanpa persetujuanya. Untuk menyembunyikanya dari Jodha, Jalal kemudian kembali berbalik membelakangi Jodha. Dengan kesediahn yang mendalam, Jodha mencoba tersenyum dan berkata dengan nada sedikit kasar yang penuh kekecewaan....
“Mata diammu, menunjukkan tindakanmu yang tak berperasaan.
Hatiku menginginkanmu, namun kau dengan kejamnya mendorongku menjauh dari pelukanmu.
Ketika hatiku putus asa ingin melihat sekelebat cinta itu lagi dimatamu, kau menatapku dengan kebencian yang sangat.
Berbalik membelakangiku dan menyembunyikan air matamu.” Setelah mengatakan itu Jodha dengan tatapan kemarahan berjalan meninggalkan kamar Jalal.
Jalal memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit dihatinya, Ia masih diposisi semula dalam waktu yang cukup lama. Dan sepanjang hari ini dia berada dikamarnya, memberikan intruksi ketat supaya tak mengizinkan siapapun mengganggunya. Maham dan Begum E Khass telah mencoba menemuinya namun Jalal menegaskan tak mau diganggu dan meminta penjaga supaya menyampaikan itu pada dua crime couple itu.
Jalal sedang dalam dilema besar ***Judul Lagu Ungu*** dan hanya satu hal yang tak dapat ia mengerti, mengapa Jodha menentang keinginanya untuk memberikan  keadilan pada keluarga itu? Apakah dia benar? Apakah aku salah? Harga diri Jalal terluka... apakah Jodha memiliki visi yang lebih baik daripada aku? Aku akan menghukum Azim dengan memotong tanganya. Jodha membuat keputusan yang bijaksana tapi mengapa hal itu menyakitiku? Dengan keputusanku, maka ketiga orang itu akan membayar seluruh hukuman ini. ***Ishhh dasar labil, childishnya akut sudah***..... hukumanya... “Jika seorang anak yang belum menerima makan untuk hari ini dan dia mencuri roti kemudian kami memotong tanganya karena mencuri, yang dianggap sebagai ketidakadilan dan kekejaman.. apa maksudnya? Apakah Jodha mau berkata aku kejam kepada orang-orangku?. Jika aku mulai melihat motif dan alasan dibalik aksi pencurian, maka aku akan berakhir dengan mengampuinya. Sehingga orang tak akan lagi memiliki rasa takut akan hukuman dan kejahatanpun akan semakin meningkat... Johdhaaaaa, kau selalu membuatku menyadari bahwa aku salah. Kau dulu berkali-kali bilang sebelumnya orang-orang menghormatiku karena ketakutan mereka bukan karena mereka mencintaiku. Apakah mereka menghormatiku karena takut padaku? Benarkah?.” Segala pemikiran kusut Jalal membuat dia semakin sengsara sehingga ia memutuskan untuk bertemu dengan Atgah Shahib dikamarnya, maka dia meminta salah satu penjaga untuk memanggil Athgah Shahib.
AS: “Aadab Shahenshah, anda memanggilku tuanku?.”
Jalal menyambut Atgah, dan dengan nada membingungkan Jalal berkata... “Aku ingin membahas tentang vonis yang diberikan oleh Jodha Begum hari ini. apa pendapatmu tentang itu? Apakah kau fikir itu adalah keputusan yang tepat.”
Atgah memahami dilema Jalal dan iapun mencoba memberikan jawaban dengan bijak... “Shahenshah, saya mempunyai dua pendapat tentang putusan ini. Jika saya melihat kasus ini dalam sisi kemanusiaan maka tak ada vonis yang lebih baik daripada ini. saya sangat kagum dengan visi jauhnya Jodha Begum, saya tak pernah tahu bahwa Jodha Begum sangat berpengetahuan dan cerdas. Shahenshah, saya sangat bangga dengan keputusan anda untuk setuju dengan Malika E Hindustan. Tapi jika saya melihat kasus ini dari segi hukum, maka keputusan ini benar-benar salah. Azim telah mengakui semua kesalahanya dan saudaranyapun telah mengakui kelalaianya, sehingga mereka harus dihukum. Dan hukum adalah hukum yang harus dipatuhi dalam segala kondisi, juga ketika kita masuk dalam ranah hukum kita harus berfikir dengan menggunakan otak bukanya hati. Kami telah mendapat ribuan kasus seperti ini dan kita tak bisa menilai setiap kasus dengan cara seperti ini.”
Atgah Sahib pun melanjutkan kata-katanya... “Tapi hari ini Jodha Begum memaksa saya untuk berfikir bahwa kita harus memakai pengukuran dari setiap kejahatan. Cerita perumpamaan tentang anak yang lapar benar-benar membuat saya berfikir bahwa kita perlu meninjau hukum kita. Hukuman untuk kejahatanya harus didasarkan pada letak perbedaan kejahatan. Saya sangat terkesan dengan pemikiran Jodha Begum, saya sungguh-sungguh dengan perkataan saya.”
Dengan ekspresi menyedihkan Jalal bertanya... “Atgah Sahib, apa kau berfikir bahwa aku adalah seorang Shahenshah yang kejam dan bengis? Keputusan Jodha Begum hari ini membuatku berfikir bahwa selama ini aku tidak adil pada rakyatku dan mereka menghormatiku hanya karena takut kepadaku. Apa aku benar-benar Shahenshah yang kejam? Apakah Jodha Begum saja yang benar?.”
Atgah Sahib dengan nada menghibur menjawab pertanyaan Jalal... “Nahhi Shahenshah bilkul nahhi, anda tidak kejam. Saya setuju bahwa anda selalu mengambil keputusan dengan menggunakan otak dan bukanya hati, dan penguasa yang baik memang itu adalah salah satu syarat utamanya. Kelembutan hati seorang raja tak akan memberikan perdamaian dan keamanan pada rakyatnya, dan janganlah membuat kesalahan dengan menilai diri sendiri hanya pada satu kasus. Saya sangat tahu seberapa kerasnya anda berfikir tentang keselamatan dan kesejahteraan rakyat anda. Semua undang-undang ini dibuat untuk kepentingan rakyat dan tak ada kerajaan yang sempurna. Anda tidak dapat menyenangkan semua orang tapi tidak berarti bahwa anda seorang Shahenshah yang kejam dan tak berperasaan. Dan setelah mengatakan semua ini, ada satu pemikiran Jodha begum yang saya benar-benar menyentuh hati saya yaitu ‘hukum dibuat untuk kenyamanan kita dan dengan perubahan waktu yang diperlukan.”
Jalal berusaha keras untuk tersenyum pada Atgah Sahib, dan setuju dengan apa yang disampaikanya..”dengan perubahan waktu yang diperlukan.” Gumam Jalal dalam hati. Setelah Atgah Sahib pergi Jalal kembali dihantam oleh kenyataan bahwa sekali lagi EGO-nya dihancurkan, memang dia setuju dengan pendapat Atgah tapi bukan berarti Jalal puas dengan jawabanya. Ketika seseorang memuji kecerdasan Jodha, langsung Jalal membandingkan dirinya dengan dia dan pada akhirnya menghancurkan lagi Ego-nya sebagai seorang Shahenshah. Kecemburuan telah menciptakan kemarahan yang amat sangat didalam hatinya. Ia merasa sangat terganggu mengingat bahwa Jodha telah mengambil keputusan melawan keinginanya dan keputusan Jodha lebih baik daripada keputusanya. Jalal sebenarnya sadar diri bahwa keputusanya kadang-kadang sangat bengis dan tidak berperasaan, dia tak pernah berfikir dua kali saat memberi penghukuman. Ia tak pernah berfikir tentang alasan dibalik sebuah kejahatan. Apakah Jodha mencoba untuk membuktikan didepan semua orang bahwa aku adalah Shahenshah yang tak punya rasa ampun? Pikiran dan hatinya berlomba-lomba dengan jawaban YA atau TIDAK. Jalal marah pada Jodha, tapi ia tak bisa mengatakan apapun pada Jodha. Ia melihat air mata dimata Jodha tapi sangat mengejutkan bahwa itu tak berdampak lagi pada Jalal. Untuk saat ini setidaknya pikiran Jalal telah menang melawan hatinya.
Dibagian lain dalam Istana tepatnya dalam kamar Jodha, Jodha duduk dilantai didepan Mandir Khrishna dengan perasaan bingung. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa membaca pikiran Jalal. Ia tak mengerti kenapa Jalal begitu kesal dan mengabaikanya, Jodha tahu bahwa Jalal tak suka dengan keputusanya namun reaksi Jalal yang menurutnya berlebihan memberikan rasa sakit yang teramat sangat. Apalagi ketika Jalal menatapnya dengan tatapan kebencian yang seolah-olah berkata bahwa ia salah membuatnya semakin sedih. Bahkan ketika mereka dulu sama-sama masih saling membenci Jalal tak pernah memperlihatkan pancaran kebencian dimatanya untuknya. Jodha merasa rentan, dan ia telah bertekad ia akan bertanya pada Jalal apa yang begitu mengganggunya.
Pagi hari, setelah menyelesaikan doa Khana ia pergi keluar untuk melakukan Tulsi Pooja, ia melihat Jalal tak berlatih pedang saat ini karena biasanya pada waktu Jodha melakukan Tulsi Pooja, Jalal telah siap bermain dengan pedangnya. Namun hari ini tak begitu adanya. Jodha kemudian berjalan menuju kamar Jalal, ia melihat Jalal dan Abdul yang sedang berjalan menuju istal kuda. Tatapan mata keduanya bertemu, Jalal bisa melihat kesedihan dimata Istrinya, lama mereka saling menatap. Melihat itu Abdul dengan segala kesadaran yang dipunyai memilih untuk memberikan privasi pada keduanya, ia berjalan menuju sisi lain istana.
Jodha, dengan nada rendah meminta berkata pada Jalal... “Shahenshah, aku ingin berbicara denganmu selama beberapa menit saja.”
“Katakan dengan cepat, aku memiliki begitu banyak urusan yang harus segera kuselesaikan.” Jalal mengatakanya dengan nada kasar dan penuh kemarahan.
Untuk mencairkan suasana Jodha mencoba bertanya dengan nada santai, ia berkata... “Shahenshah, apakah kau akan pergi kesuatu tempat?.”
Jalal merasa terganggu dengan pertanyaan Jodha, ia menatap Jodha dengan tatapan marah dan menjawab... “Apakah aku perlu izinmu ketika aku ingin pergi keluar, atau kau juga ingin aku memberikan penjelasan apa yang akan kulakukan sepanjang hari?.” ***Jiaaaaaaaaaaaan, huasyeeeem tenan kok Bhaijaan ini. hayang ngageplak kepalanya pake dayung sampan. Bikin esmosi wae***
Jodha terkejut melihat tanggapan Jalal, iapun dengan nada menyakitkan mengatakan... “Aku hanya bertanya dan tak bermaksud seperti yang kau pikirkan Shahenshah.” Jalal tak mau ini menjadi panjang, segera ia berkata... “Ada lagi?.”
Setelah melihat sikap dan suasana hati Jalal, Jodha merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas lebih lanjut.. tapi dia juga mencoba bertanya sekali lagi... “aku hanya ingin memberitahumu bahwa besok aku tak dapat menghadiri Diwani E Khass.” Kata itu tanpa disadarinya keluar begitu saja.
Dengan tatapan sinis Jalal menjawab... “Sepertinya kau merasa sudah cukup menunjukkan bakatmu hanya dalam satu hari, dan kau sudah tak ingin menunjukkanya lebih banyak lagi.”
Dengan perasaan sedih Jodha menjawab... “Bukan seperti itu Shahenshah, besok aku akan pergi ke kuil Ambee Matta untuk berdoa.” Dengan kasar Jalal menjawab... “Seperti yang kau inginkan.” **Haishhhh Jenggung beneran neh lama-lama**
Sebelum Jodha bisa merespon perkataan Jalal, terlihat sosok yang paling kusebelin yaitu Begum E Khass yang sedang berjalan menuju keduanya. Melihat kedatanganya Jalal tersenyum hangat ***Huweeeeeeek gumohhhh aku, palu godam kepala Shahenshah*** dan dengan penuh semangat kepalsuan melewati Jodha, berjalan menuju Begum E Khass, Jodha berbalik untuk melihat tingkah aneh Jalal dan ia sangat terkejut melihat Jalal dan Kodok berpelukan dengan penuh semangat ***Argghhhhhhhhhh, batek brengos Shahensahah, wax keteknya pake koyo cabe, huftttttt*** Dan beberapa detik kemudian Jalal mencium kening Kodok, dan saat kejadian itu mata sang Kodok burik buruk rupa buruk adat ini menatap Jodha dengan sorot sinis penuh kemenangan. ***Haishhhhh, balang bakiak Shahenshah Jalal, ane sumpahin abis itu tu bibir jontor kena virus borok’en, sebel tingkat dewi udahan, hosh hosh hosh***
Melihat pemandangan menyakitkan didepan matanya, tanpa terasa air mata Jodha mulai mengalir menganak sungai, ia menatap keduanya tanpa berkedip. Dan kenyataan yang paling menyedihkan untuknya adalah karena Jalal memang dengan sengaja melakukan itu untuk menyakitinya. ***derita dimadu ya gini, jangan maulahhhh wahai kaum hawa masa kini***
Sang Kodok bertanya pada Shahenshah kita yang lagi kumat penyakit GGD-nya... “Jalal, kemana kau akan pergi?.” Jalal menjawab sambil menatap Jodha **hoyong nyulek matane dakuh, heu heu heu** ... “Ohhh Begum E Khass, aku selalu memberitahumu sebelum aku pergi keluar istana. Sebenarnya aku datang untuk menemuimu tapi pagi ini aku merasa tidak terlalu baik, dan ada beberapa orang yang tak berguna menghentikanku dan membuang-buang waktuku.” ***Hopoooooooooooh? Plakkkkk, kaplok kiwo tengen, cakar-cakar muka Shahenshah, cabuti brengos pake tang. Sebelllllll***
Jodha menatapnya dengan rasa sakit yang luar biasa, akhirnya air mata kesedihanya berubah menjadi kebencian dan tanpa berkata apa-apa ia berbalik berjalan menuju kamarnya, namun setelah beberapa langkah ia memutuskan untuk berlari supaya cepat sampai kekamarnya. ***Ane dukung Jodha, jangan biarkan Bhaijaan songong itu mendekatimu lagi, ben nyonyoooor***
Setelah Jodha meninggalkan tempat itu, akhirnya Jalal menangis. Wajah sedih Istri tercintanya **opo preeeeet, tak jenggung mustoko panjenengan** akhirnya berdampak pada hatinya yang kejam dan penuh dengan keegoisan. Ia mulai merasa tercekik di Istana. Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Begum E Khass, Jalal berjalan menjauh meninggalkanya. Ia harus menegaskan bahwa dirinya adalah seorang penguasa yang besar. Ia memutuskan untuk mengunjungi beberapa desa sebagai orang biasa dan mengajak Abdul untuk ikut bersamanya. Mereka menggunakan pakaian Rajvanshi, setelah itu mereka melompat kepunggung kuda dan memacu kuda itu pergi menjauh keluar istana.

PRECAP: “Jash Untuk Menghormati Malika E Hindustan”.


PS: Maaf beribu maaf jika terganggu dengan celotehanku di part ini, jujur saya gak bisa menahan diri karena udah sampek ubun-ubun keselnya. hehehehe happy reading ~~^^







FanFiction It Is Hate Or Love Chapter 25 Part 3

7 comments:

  1. Hmmm. Super nyebelin banget sih nech shahensa.... g mikirin perasaan Jodha....

    ReplyDelete
  2. Wah jalal kaMu too juall Mahall..sok Marah saMa jodha...baru Lihat Jodha NaNgis trus pergii aKhirNya Mewek jugaa kaN...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, sebenarnya Jalal ini ga tegaan tapi sok tega jadi tersiksa sendiri akhirnya. biasalah jika ego seorang lelaki merasa dikalahkan oleh seorang wanita yang notabene menyandang gelar istrinya maka dia akan berubah jadi laki-laki menyebalkan kayak Jalal gini. moga dia dapat ganjaran yang setimpal

      Delete
  3. Itulah laki2 egox kdg membelit mrk akhirx tampa disadari menyakiti org lain bahkan org yg paling dikasihi, lanjut ya mbak

    ReplyDelete
  4. Makasih buat lanjutannya.... :-D

    ReplyDelete
  5. Wah wah shahensah minta di apain coba?
    Bertingkah kayak gitu ke jodha
    Pengen balang sendal ni

    ReplyDelete
  6. di episode ini, penulis ffnya jadi pembuat KDRT tingkat dewa....ha ha ha ha....ati2 Shahensa kalo ke dapur istana...jangan2 panci, wajan, piring dan kawan kawan melayang ke muka dan kepala anda...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.