FanFiction Love From The Past Part 32 - ChusNiAnTi

FanFiction Love From The Past Part 32



Mohon maaf jika ada kesalahan mengenai istilah medis, mohon pengoreksiannya. Happy reading all.

By: Resza Restu Nirmala........ Suara ambulans terdengar meraung-raung dan berhenti di sebuah rumah sakit. Kedatangan Nadha sudah disambut oleh sebuah brankar/tempat tidur pasien untuk keadaan emergency yang didorong oleh 2 perawat yg bertugas disana. Nadha dipindahkan dari ambulans dan langsung di bawa ke ruangan dalam IGD. Seorang dokter jaga langsung memeriksa keadaan Nadha. Dokter memastikan Nadha mengalami cedera kepala setelah melihat luka dan darah yang mengalir keluar dari kepalanya. Sehingga harus segera menjalani scanning kepala (CT Scan/MRI). Setelah luka-luka Nadha dibersihkan. Dua perawat yang lain langsung memasangkan alat ECG Record ke dada Nadha, tensimeter dan alat-alat penunjang kehidupan lainnya. Dokter jaga juga menginstruksikan pemasangan infus dan Jodha segera dipindahkan ke ruang ICU untuk pemantauan lebih ketat karena tingkat kesadarannya yang menuju koma.

Selama Nadha berada di ruang IGD, Jalal kembali terngiang dengan kondisi Nadha yang tergeletak tak sadarkan diri di jalanan dan darah mengalir deras dari kepalanya. Pandangan matanya melihat ke sekelilingnya dan dia melihat sebuah sedan silver yang berhenti sebentar setelah menabrak Nadha. Ia ingin mengejar sedan silver itu untuk mengetahui pelakunya namun baginya keselamatan Nadha lebih penting. Jalal juga sudah menghubungi keluarganya dan keluarga Jodha perihal musibah yang dialami oleh Nadha juga nenek Athifa.

Yang pertama kali datang ke RS adalah Hameeda dan Mirza. Hameeda langsung memeluk Jalal yang saat itu sedang menangis, wajahnya menyiratkan kecemasan teramat sangat, ia takut akan kehilangan Jodha untuk yang kedua kalinya. Lalu Mirza memeluk bahu kakaknya untuk memberikan kekuatan kepada kakaknya.

Tidak lama kemudian datang Meinawati dan Bharmal. Mereka sangat kaget mendapat berita tentang kecelakaan yang dialami Nadha. Hameeda dan Meinawati saling berpelukan, menangis dan mensupport. selang beberapa saat nenek Athifa baru sampai disana.

Mereka sangat khawatir menunggu kabar tentang Nadha yang sampai saat ini belum ada kejelasan dari dokter. Jalal nampak mondar mandir. Yang lainnya duduk di kursi tunggu.

Tidak lama kemudian, dokter yang menangani Nadha dari ruangan dan memberikan penjelasan mengenai situasi yang dialami Nadha sekarang serta tindakan yang akan dilakukan. "Lalu, bagaimana dengan kondisinya saat ini, Dok. Apakah Nadha akan baik-baik saja??” tanya Jalal cemas dan gelisah. "Saat ini, Nadha akan memasuki masa kritis, tapi bila ia bertahan sampai 24 jam kedepan, maka nyawanya mungkin selamat. Tindakan penyelamatan sudah dilakukan, tapi hasilnya belum bisa dipastikan. Mungkin saat ini mendoakannya adalah cara yang terbaik. Semoga Nadha bisa melalui masa kritisnya” ucap dokter jaga.

Dokter jaga tersebut masuk kembali ke dalam ruang IGD dan tidak berapa lama kemudian, nampak dua orang perawat dan dokter tersebut mengeluarkan Nadha untuk dipindahkan ke ruang ICU. Nampak wajah Nadha yang pucat dan terbaring lemah tak sadarkan diri. Jalal yang melihatnya nampak sangat sedih dan kekhawatiran akan kehilangan Jodha untuk yang kedua kalinya nampak tersirat di wajahnya. Begitu pula yang lainnya dan mereka semua mengikuti dokter dan suster yang membawa Nadha ke ruang ICU.

****************

Di ruang ICU
Setelah sampai di ruangan ICU, seorang perawat langsung menutup pintunya dan tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam ruangan sebelum ada izin dari dokter. Tak lama kemudian, dokter keluar dan mengizinkan hanya 2 orang saja yang boleh masuk dan itu pun secara bergantian.

Yang pertama masuk adalah Jalal karena sedari tadi dia sangat mencemaskannya. Sebelum masuk Jalal memakai jas yang khusus dipakai ketika masuk ke ruang ICU dan melepas sepatunya karena ICU adalah ruangan yang sangat steril. Ketika masuk, nampak Nadha yang sedang terbaring tak sadarkan diri, namun monitor ECG menampilkan kalau Nadha masih hidup. Jalal memegang tangan Nadha dan duduk disampingnya. Tangisnya yang sedari tadi ditahannya akhirnya runtuh juga. Jalal selalu saja menyalahkan dirinya kalau dia yang menyebabkan Nadha menjadi seperti ini. "Maafkan aku sayang, karena aku tidak bisa menjagamu. Seandainya saja aku menahanmu saat itu!!" ucap Jalal sambil menangis. "Aku mohon bukalah matamu, sayang. Jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kalinya! Aku baru saja menemukanmu. Kita baru saja merasakan kebahagian saat aku melamarmu dan kamu menerimanya. Masih banyak mimpi-mimpi kita belum terwujud. Aku ingin melihatmu dalam balutan gaun putih dan berdiri di altar pernikahan” ucap Jalal lagi dan membelai lembut pipi Nadha.

Jalal terus menangis dan memandang sendu wajah Nadha dengan penuh penyesalan. Cukup lama dia berada di dalam dan akhirnya keluar untuk bergantian dengan Meinawati.

Ketika masuk ke dalam, Meinawati sama seperti Jalal. Tak henti-hentinya menangis dan pikiran akan kehilangan Jodha untuk yang kedua kali nampak tersirat di wajahnya. "Putriku sayang, bangunlah Nak. Mama ada disini, mama sangat merindukanmu, sayang. Rasanya mama tidak sanggup jika harus kehilanganmu untuk yang kedua kali. Padahal mama baru saja menemukanmu kembali” ucap Meinawati menangis. "Apakah kau ingat dengan perjumpaan2 kita, sayang?? Mama selalu berusaha untuk menemuimu, mama mencari berbagai macam alasan untuk bisa ada didekatmu karena mama ingin selalu bersamamu. Kadang kita pergi shopping, merangkai bunga, makan bersama. Tapi yang membuat mama bahagia adalah saat Jalal membawamu ke rumah kembali untuk pertama kalinya. Mama merasa kamu sudah kembali pulang, sayang. Bangunlah sayang, mama ada disini...” ucap Meinawati sambil terus membelai wajah dan rambut Nadha.

Saat Jalal keluar dari ruangan ICU, Hameeda kembali memeluk Jalal dan meminta kepada putra kesayangannya itu untuk shalat dan berdoa untuk kesembuhan Nadha. Jalal pun mengikuti saran ibunya dan dia pergi ke sebuah Masjid yang letaknya tidak jauh dari RS tersebut. Ketika sampai disana, Jalal langsung mengambil air wudhu lalu shalat. Setelah shalat, dia berdoa dengan sangat khusyuk. Meminta kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikan kesembuhan kepada Nadha. Cukup lama Jalal berada di Masjid lalu dia kembali ke RS. (bayangin aja scene Shanhesha JMA yang sedang berdoa di makam di episode Jodha minum racun Benazir)

Setelah melirik jam tangannya, Jalal meminta kepada ibunya untuk pulang terlebih dahulu untuk beristirahat karena saat itu sudah jam 2 pagi. Lalu Jalal menyuruh Mirza untuk membawa ibunya pulang dan juga nenek Athifa.

Ketika sudah cukup lama berada di dalam ruang ICU, akhirnya Meinawati keluar. Jalal pun meminta kepada Meinawati dan Bharmal untuk pulang dan beristirahat terlebih dahulu. Akhirnya Meinawati dan Bharmal menyetujuinya dan akan kembali lagi besok pagi. Sebelum pulang Jalal memeluk Meinawati dan Bharmal secara bergantian dan mereka pun berlalu dari sana.

Kepergian mereka diikuti oleh Hameeda, Mirza dan nenek Athifa. Kini, tinggal Jalal seorang diri dan dia kembali masuk ke dalam ruangan dan dia duduk di samping Nadha, memegang tangannya lalu mencium punggung tangannya. Pandangan matanya tidak pernah lepas untuk melihat Nadha. Semalaman Jalal terjaga namun akhirnya Jalal tertidur setelah melakukan shalat subuh diruangan itu. Sedetik pun Jalal tidak ingin berada jauh darinya.

"Jalal... Jalal... bangun, Nak” ucap Hameeda yang membangunkan Jalal dengan menepuk-nepuk bahunya. Jalal pun terbangun kaget karena dia tertidur. Dilirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dilihatnya siapa yang membangunkannya dan ternyata adalah ibunya. Hameeda sangat sedih dan cemas melihat kondisi Jalal seperti ini. Terlihat wajah kelelahan karena berusaha untuk tidak tertidur semalam dan wajah penuh penyesalan karena Jalal menganggap dialah penyebab kecelakaan pada Nadha terjadi. Padahal Hameeda sudah berusaha meyakinkan Jalal bahwa itu bukanlah salahnya melainkan sudah kehendak Yang Maha Kuasa.

"Ibu sudah disini?? Siapa yang mengantarkan ibu kesini?” tanya Jalal. "Iya, Nak. Ibu kesini diantarkan oleh Mirza. Sekalian dia berangkat ke kantor. Ibu membawakanmu sarapan dan juga baju untukmu. Ibu yakin dalam kondisi seperti ini kamu pasti tidak akan mau berada jauh dari Nadha” jawab Hameeda. "Ini, sebaiknya kamu bersih-bersih dan mengganti bajumu. Setelah itu kamu harus sarapan. Ibu tidak mau nanti kamu jatuh sakit. Jika kamu sakit, siapa nanti yang akan menjaga Nadha?!” ucap Hameeda kembali sambil menyerahkan bajunya Jalal.

Jalal pun beranjak dari sana dan pergi ke kamar mandi. Ketika Jalal beranjak pergi, Hameeda berucap dalam hati, "baru kali ini Ibu melihatmu dengan penampilan kusut seperti itu. Terlihat dengan sangat jelas kamu begitu mencintainya dan takut akan kehilangannya untuk yang kedua kalinya.”

Setelah Jalal selesai mandi, Hameeda menyerahkan kotak bekal makanan yang dibawanya kepada Jalal dan menyuruhnya untuk makan. Jalal menuruti ibunya dan pergi keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke kafetaria yang ada di RS tersebut. Jalal memesan secangkir kopi dan air mineral lalu memakan makanan yang dibawakan oleh ibunya. Selama makan pikiran Jalal menerawang memikirkan siapa yang mengemudikan sedan silver itu dan tampak jelas kalau mobil itu memang ingin menabrak Nadha. Lalu batinnya bertanya-tanya kenapa ibunya datang sendiri. Kemanakah Ruq?? Kenapa dia tidak ikut??Jalal merasa ada yang janggal dengan ketidakhadiran Ruq.

Setelah selesai sarapan, Jalal lalu menelepon Atgha khan dan memintanya untuk datang ke RS. Setelah selesai, Jalal langsung kembali ke ruangan Nadha. Namun saat akan kembali ke ruangan Nadha, Jalal berpapasan dengan Meinawati dan Bharmal. Mereka berdua menanyakan bagaimana kondisi Nadha sekarang dan Jalal menjawabnya kalau saat ini kondisi Nadha masih tetap sama seperti kemarin.

Ketika sampai di depan ruangan Nadha, Jalal mempersilahkan Meinawati dan Bharmal untuk masuk ke dalam. Sementara dia sendiri berada diluar. Tidak lama kemudian, ibunya keluar dan Jalal menanyakan sesuatu kepada ibunya. "Ibu datang kesini kenapa sendirian?? Dimanakah Ruq? Kenapa dia tidak menemanimu?” tanya Jalal penasaran. "Kemarin sore, tiba-tiba saja dia bilang ingin kembali ke Dubai. Ibu lupa untuk memberitahumu kemarin” jawab Hameeda datar. "Kenapa Ruq tiba-tiba pergi dan dia berbohong kepada ibunya dengan alasan pergi ke Dubai??” batin Jalal bertanya-tanya. Hameeda yang melihat kegelisahan Jalal kembali bertanya kepadanya, "ada apa, Jalal?? Apakah ada hal penting yang kamu pikirkan??.” "Ti... tidak bu, tidak ada apa-apa” jawab Jalal.

Siang harinya nenek Athifa datang untuk menjenguk Nadha. Betapa terkejutnya dia melihat kondisi Nadha yang sama seperti peristiwa 10 tahun lalu. Kali ini dia merasakan kesedihan yang lebih dalam lagi, karena dia sudah menganggap Nadha bagian dari keluarganya sekarang. Nenek Athifa menceritakan mengenai perihal kondisi Nadha sekarang sama seperti 10 tahun yang lalu kepada Jalal dan semua orang yang ada disana.

Hari itu mereka semua bergantian menjaga Nadha. Menjelang sorenya, Mirza, Atgha khan dan istrinya Jiji Angga datang ke RS. Mereka bertiga menemui Hameeda dan yang lainnya lalu menanyakan bagaimana kondisi Nadha sekarang dan mereka pun menjawab kalau saat ini Nadha belum melewati masa kritisnya.

Jalal langsung keluar ruangan begitu mendengar Atgha khan datang. Jalal langsung menemui Atgha khan dan meminta sesuatu kepadanya. Jalal mengajak pamannya itu ke kafetaria dan berbicara disana. "Paman, aku minta tolong kepada paman untuk melakukan sesuatu” pinta Jalal. "Apakah itu, Jalal?? Untukmu pasti paman akan lakukan” jawab Atgha penasaran. "Aku ingin paman menyewa Rohit kembali dan menyelidiki sebuah sedan silver dengan no. polisi ini. Aku ingin tahu siapa pemilik dari mobil itu yang telah menabrak Nadha” jawab Jalal dengan menyodorkan secarik kertas yang berisikan no. polisi sebuah mobil. "Baiklah akan paman lakukan. Tapi Jalal, kenapa kamu tidak memperkarakan kecelakaan ini kepada pihak berwajib, jika peristiwa ini bukanlah murni kecelakaan melainkan sebagai unsur kesengajaan??” tanya Atgha khawatir. "Aku harus memastikan semuanya terlebih dahulu paman sebelum aku memperkarakan masalah ini ke pihak berwajib” jawab Jalal tegang. "Apakah saat ini ada seseorang yang kamu curigai, Jalal??" , "Iya paman, aku harus memastikannya terlebih dahulu. Aku tidak boleh gegabah dengan salah menuduh orang” jawab Jalal dengan ekspresi sedang memikirkan sesuatu.

Setelah selesai berbicara, mereka kembali ke ruangan Nadha dan disana nampak wajah kecemasan dari keluarga mereka. Jalal menghampiri ibunya dan bertanya, "ada apa bu?? Kenapa wajah ibu dan juga yang lainnya nampak cemas??.” , "Ada seorang dokter datang dan sekarang sedang berada di dalam untuk memeriksa kondisi Nadha” jawab Hameeda cemas.

Setelah 30 menit berlalu, dokter dan seorang perawat yang menemaninya keluar dari ruangan tersebut dan berbicara perihal kondisi Nadha. Namun sebelumnya dia memperkenalkan diri kepada semua orang yang menjenguk Nadha dan saat dokter itu melihat nenek Athifa dia hanya memberikan senyumannya karena mereka sudah saling kenal sebelumnya.

"Setelah saya memeriksa kondisinya, saat ini Nadha sudah melewati masa kritis. Namun,....” ucap Dr. Pratap Kumar yang dahulu menangani Nadha. "Namun apa, dok??!!” tanya Jalal cemas. "Sepertinya, Nadha mengalami benturan yang cukup keras dikepalanya sehingga tingkat kesadarannya menurun dan dia mengalami koma. Peristiwa ini sama seperti yang dialaminya 10 tahun lalu dan Nadha mengalami amnesia ketika sadar dari komanya selama 1 bulan. Saya cukup khawatir dengan kondisinya saat ini jika dia sadar nanti. Apakah dia akan kembali mengalami amnesia atau tidak?? Saat ini hanya doa dan keajaiban yang diperlukan.” ucap Dr. Pratap Kumar. Lalu pergi dari sana setelah memberikan penjelasan.

Setelah mendengar penjelasan dari dokter Pratap. Semua orang merasa cemas dengan kondisi Nadha sekarang. Terutama Jalal, lututnya terasa lemas dan dia pun jatuh terduduk di kursi ruang tunggu pasien. Hameeda dan Mirza menguatkan Jalal dan memberikan keyakinan bahwa Nadha pasti akan selamat. Lalu Jalal kembali masuk ke dalam ruangan dimana Nadha berbaring. Dipegangnya tangan Nadha dan mencium punggung tangannya, tangis yang dibendungnya sedari tadi akhirnya mengalir. Jalal kembali menangis.

Mirza yang melihat kondisi kakaknya dari jendela yang ada diruangan itu, nampak sangat sedih. Dia terbayang akan wajah kakaknya yang akan kembali menjadi Mr. Iceman jika dia kehilangan wanita yang dia cintai untuk kedua kalinya. Mirza mengajak ibunya serta yang lainnya untuk pergi dari sana dan beristirahat mengingat hari sudah semakin malam. Sementara saat ini Jalal masih ingin bersama dengan Nadha. Mirza izin pamit pulang kepada kakaknya dan Jalal hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari Nadha. Mirza berlalu dari sana dan meninggalkan Jalal berdua dengan Nadha.

******************

VVIP ROOM - LONG TERM CARE WARD
Sudah 7 hari berlalu sejak insiden kecelakaan itu terjadi. Hari demi hari berlalu dan Nadha masih belum menampakkan tanda-tanda akan sadar. Jalal menghabiskan hari-harinya dengan menemani Nadha. Urusan kantor dia serahkan semuanya kepada Mirza dan pamannya Atgha Khan. Saat ini hanya kesembuhan Nadha yang ada dipikirannya.

Kadang saat Jalal menemani Nadha, dia mengajak Nadha berbicara, menceritakan bagaimana pertemuan mereka dulu pertama kalinya, masa-masa disekolah, saat study tour, saat mereka akan bertunangan untuk yang pertama kali, pertemuan mereka kembali setelah peristiwa penculikan itu sampai mereka kencan di sebuah resto mewah. Di malam harinya, Jalal membacakan novel kesayangan Nadha yaitu "The Kite Runner" karangan Khalled Hosseini dan "Ruby Red" karya Kerstin Gier.

Malam itu, Jalal sudah tidak dapat menahan rasa kantuknya dan akhirnya dia pun tertidur dengan posisi duduk dan jarinya bertautan dengan jari Nadha.

Di alam bawah sadar Nadha, terlihat Nadha memakai gaun putih berlengan panjang yang selalu muncul di mimpi Jalal sedang berjalan dalam kegelapan menuju ke suatu cahaya yang sangat terang. Dia terlihat begitu putus asa. Saat akan pergi menuju ke sumber cahaya itu, sebuah tangan mencegahnya, tanpa menoleh, Nadha berkata, "jangan hentikan aku, biarkan aku pergi, aku harus pergi." , "Kenapa kamu ingin pergi dariku, Nadha?? Apakah kamu tidak mencintaiku??” tanya Jalal sedih. "Aku memang mencintaimu Jalal, tapi sudah waktuku untuk pergi darimu." , "Jika kamu mencintaiku, lalu kenapa kamu harus pergi dariku??” tanya Jalal. "Karena kamu tidak bisa memastikan hatimu kepada siapa kamu mencintai??” jawab Nadha sedih. "Sekarang aku harus pergi, Jalal. Aku ingin pergi menjauh darimu selamanya” ucap Nadha dan tangan Jalal mencengkramnya semakin erat. Jalal berkata, "aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi untuk yang kedua kalinya, Nadha.” Nadha menoleh untuk melihat jalal. Lalu Jalal berkata lagi, "kamu selalu bersikeras bahwa kamu ingin aku melakukan apa yg kamu mau, tapi sekarang aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa yg kamu mau. Ketika kamu mengabaikanku dan mengatakan tidak ingin bertemu denganku. Hatiku merasakan sakit bagai diiris sembilu. Aku selalu bisa melihatmu setiap kali aku memejamkan mataku. Yang sebenarnya adalah aku ingin melihatmu setiap hari. Aku sangat mencintaimu, Nadha” Nadha terus menatap Jalal yg menangis sedih.

Jalal kembali berkata, "kenyataannya adalah kehadiranmu telah mengubah hidupku. Seorang pria yang yang terkenal dengan julukan 'seorang pria dingin tidak berperasaan' dimana tidak dapat mencintai lagi seorang wanita, sekarang memiliki perasaan dalam dirinya karena dirimu. Kamu telah memberikan cinta padaku, kamu telah memberiku hidup baru. Sekarang kamu tidak punya hak untuk meninggalkanku pergi, Nadha. Jika kamu pergi meninggalkanku, maka aku akan ikut bersamamu. Aku membutuhkanmu, Nadha. Aku memerintahkanmu untuk kembali, kamu tidak boleh pergi meninggalkanku!."

Jalal menahan Nadha dan berkata, "kalau Nadha tidak boleh melakukan ini. Nadha tidak punya hak atas hidupnya sendiri. Tanpa dirimu aku bukan siapa-siapa, tanpa aku kamu bukan apa-apa." Nadha berkata, "tidak ada yang bisa melawan takdir, Jalal. Kamu hanyalah manusia biasa." , "Aku tidak percaya pada takdir. Aku yang akan memutuskan takdirku sendiri. Aku akan bertarung dengan takdirmu untuk membawamu kembali. Aku bisa bertarung dengan siapapun, tapi aku tidak akan membiarkan mu pergi” ucap Jalal kesal. "Namun tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan. Kamu tidak akan bisa melakukan apapun” ucap Nadha meyakinkan Jalal. Jalal berkata, "aku akan melakukannya, pada siapa kamu berdoa, pada siapa kamu bersujud. Jika Dia ada maka Dia akan menyelamatkan dirimu, Dia tidak akan membiarkanmu pergi dengan mengambilmu dariku."

Jalal dan Nadha saling bertatapan. Nadha terharu mendengar kesungguhan Jalal, air mata menetes di pipinya. "Maafkan aku, Jalal. Aku harus pergi. Sudah waktunya bagiku untuk pergi darimu. Selamat tinggal Jalal. Aku akan selalu mencintaimu selamanya” ucap Nadha melepaskan pegangan tangan Jalal dan dia berjalan menuju cahaya tersebut, meninggalkan Jalal seorang diri.

Jalal hanya bisa pasrah melihat kepergian Nadha karena sekuat apapun Jalal menahannya Nadha tetap pergi menjauhinya. Dalam tangisnya dia berteriak, "JODHAAAAA........” TBC-->Part 33

FanFiction Love From The Past Part yang lain Klik Disini


FanFiction Love From The Past Part 32

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.