FF His First Love Chapter 31 Part 2 - ChusNiAnTi

FF His First Love Chapter 31 Part 2



Written by Samanika
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jalal: “Jodha!”
Jodha (berbalik): “Iya?”
Jalal menghampirinya kemudian menundukkan wajah dekat telinganya.
Jalal (berbisik): “Kau belum pernah terlihat secantik ini sebelumnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi.... tapi aku kehabisan kata-kata hari ini.”
Jalal menurunkan wajahnya hingga berhasil mencium pipi Jodha. Sungguh saat yang tak terlupakan, membuat Jodha tersipu. Kembali menegakkan tubuhnya namun tetap tidak mengalihkan matanya, Jalal merasa bahwa mata Jodha memancarkan senyum seperti bibirnya. Jodha meletakkan tangan di siku Jalal dan mereka siap pergi makan malam.

Sepanjang malam itu, pandangan mereka tidak beralih satu sama lain. Penerangan yang remang, lilin berkerlip dengan indahnya, membuat Jalal terlihat sangat tampan. Bentuk tubuhnya sempurna, dan Jodha sangat mengaguminya. Pakaian yang dikenakannya sangat berkelas membuat Jodha harus mengakui bahwa kepribadian  Jalal sempurna.

Setelah membayar tagihan, tanpa membuang waktu Jalal langsung merangkul pinggang Jodha dan menuntunnya menuju lift. Selama itu pula, Jalal merasa posesif terhadap Jodha. Karena Jodha terlihat sangat menawan malam itu, Jalal memergoki beberapa pria di restoran meliriknya. Hal itu membuatnya cemburu, hanya dia yang punya hak untuk itu! Jodha menikmati segala perhatian itu, membuatnya merasa sangat berarti untuk Jalal. Begitu masuk ke lift, pintu lift pun menutup. Karena hanya berdua, Jodha merasa inilah kesempatannya.
Jodha: “Jalal?”
Jalal: “Ummm..”

Jalal mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan tiba-tiba Jodha mencium ringan bibirnya. Jalal tercengang, tapi sebenarnya dia juga menikmatinya. Perlahan Jodha menarik diri menjauh, tepat pada saat pintu lift membuka. Mereka melangkah keluar, Jodha tersipu dan Jalal juga menyunggingkan senyum di wajahnya. Begitu sampai ruangan mereka, Jodha langsung  melesat ke kamarnya.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Siang telah menjelang, sinar matahari menyelinap dari balik tirai memaksa Jalal untuk membuka mata. Jalal turun dari tempat tidur dan berniat ingin memberi kejutan sarapan yang lezat untuk Jodha.

Jalal segera menuju ke dapur dan menyibukkan dirinya, Jodha yang baru bangun merasa bingung, Jodha turun dari tempat tidur untuk menggosok giginya. Setelah memercikkan air ke wajahnya, dia keluar dari kamarnya dan terkejut melihat meja yang sudah tertata di depannya. Disana Jalal duduk, menunggu reaksinya. Mendekati meja, Jodha tersenyum lebar pada Jalal. Jodha menarik kursi dan duduk di samping Jalal. Berbagai macam hidangan telah siap di atas meja, dan Jodha sangat terkesan atas usaha Jalal mempersiapkan semuanya.
Jodha: “Kau...yang menyiapkan semuanya?”
Jalal: “Iya sayang. Aku ingin memberimu kejutan.”
Jodha: “Oh Jalal! Kau sangat baik!”

Jodha memiringkan tubuhnya untuk memeluk erat Jalal. Dan Jalal juga melingkarkan tangan ke tubuh Jodha, semakin mendekatkan tubuh mereka. Jalal menyadari mereka harus segera makan karena mereka juga harus memutuskan apa yang akan mereka lakukan hari ini.
Jodha (meletakkan sandwich di piringnya): “Aku tidak tahu, menurutmu apa?”
Jalal: “Menurutku kita bisa pergi ke pantai hari ini. Seperti kau tahu, penerbangan kita pada malam harinya.”
Jodha: “Iya betul. Kita bisa duduk-duduk saja atau bahkan berenang!”
Jalal: “Ya, kita bisa melakukannya. Ayo pergi setelah sarapan.”

Setelah menghabiskan sarapannya, keduanya masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jodha mengenakan celana pendek dan kaos di atas baju renangnya. Dia memasukkan losion tabir surya ke dalam tasnya dan memakai sandal bertali.

Di lain pihak, Jalal mengenakan celana selutut dipadu kaos katun tipis. Memakai kaca mata hitamnya dan sandal terbuka. Setelah bercermin sebentar, dia keluar dari kamarnya. Dia mengetuk pintu kamar Jodha.
Jalal: “Jodha, sudah siap?”
Jodha: “Iya, sebentar lagi!”

Jalal mendengar gagang pintu diputar dan Jodha muncul, membawa sebuah tas. Kacamata hitamnya bertengger di atas kepalanya. Jalal terpana memandangnya, tidak peduli seberapa sering Jalal melihatnya, Jodha selalu terlihat cantik. Jodha tersenyum tipis padanya.
Jodha: “Jadi... bagaimana penampilanku?”

Secepat kilat Jalal melingkari pinggang Jodha dan menariknya mendekat. Jodha terhempas ke dada bidangnya. Dia bisa merasakan hembusan napas Jalal di wajahnya, dan mata mereka saling mengunci. Jalal memandangnya dengan penuh perasaan. Dia mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa beberapa inci saja.
Jalal: “Kau terlihat menggairahkan dan cantik, selalu. Tapi baru kali ini aku melihatmu berpakaian mini, dan harus kuakui, kakimu sangat seksi!”
Jodha (merona): “Umm... ummm... Kita pergi?”
Jalal: “Ya, tentu saja.”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha menjejakkan kakinya di hangatnya pasir pantai, dan Jalal berjalan tak jauh darinya. Jodha sangat gembira bisa kesana lagi. Matahari bersinar sangat cerah di atas kepala jadi dia memakai kacamata hitamnya. Berjalan menyusuri pantai, mendengar suara hempasan air laut di sepanjang pantai serta hembusan angin sejuk membuatnya merasa nyaman. Jalal memandang dan mengagumi Jodha, sambil berpikir bagaimana bisa Jodha terlihat sangat lugu dan pintar pada saat yang sama. Saat Jodha melihat ada sebuah bayangan, ternyata Jalal yang mendekatinya. Dari sudut matanya, jodha melihat sebuah tempat teduh yang terlindungi pohon palm. Jodha menarik tangan Jalal, menuju tempat yang dilihtnya itu.

Jodha menarik napas lega. Pantai itu cukup ramai, dan mereka berusaha mencari tempat terbaik. Jodha menghamparkan tikar dan meminta Jalal untuk duduk, sedang dia melanjutkan mencari sesuatu.
Jalal: “Apa yang kau cari?”
Jodha mengorek isi tasnya, “Uff! Dimana tabir suryaku!”
Beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukannya. Kemudian Jodha mengaplikasikan losion ke telapak tangannya dan mulai mengoleskannya pada kaki dan tangannya. Dia menawarkan losion juga pada Jalal. Jalal terkejut, “Hei, apa yang kau lakukan!”

Jodha membuka kaosnya dan menaruhnya di samping. Dia mengenakan baju renang yang sama dengan saat itu, dia berbalik hingga Jalal menatap punggungnya.
Jodha: “Oleskan sedikit ke punggungku.”

Jalal terpana dengan permintaan itu. Dia bingung bagaimana harus bereaksi dan menuruti permintaannya. Dia mengeluarkan lotion di telapak tangannya dan mengoleskannya ke punggung Jodha. Jalal menggerakkan tangannya naik dan turun, dia belum pernah menyentuh punggung Jodha dan rasanya luar biasa. Kulit Jodha terasa sangat halus.
Jalal masih menggosok punggungnya dan Jodha menikmati sentuhan tangannya, yang memberikan sensasi dalam berbagai rasa. Lotion yang sejuk di telapak yang hangat adalah perpaduan sempurna, tanpa menyebutkan efek bagi dirinya. Jodha hampir menyuarakan desahan, ketika Jalal menarik tangannya. Dia kecewa, tapi menahannya. Setelah menenangkan dirinya, Jodha berbaring di atas tikar dan menutup matanya. Angin dingin yang berhembus juga telah membuat Jalal rileks, membaringkan diri di sampingnya, Jalal juga memejamkan matanya.
Jodha (dengan mata tertutup): “Jalal, boleh aku bertanya sesuatu?”

Jalal memeluknya dengan mata masih terpejam, “Iya, katakanlah...”
Jodha: “Kau ingat saat aku datang ke perusahaanmu untuk wawancara, aku memakimu karena menggagalkan wawancaraku sebelumnya. Apa kau sungguh melakukannya?”
Jalal (terkejut): “Hmm... Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?”
Jodha: “Jujurlah.”
Jalal: “Begini, aku baru saja berhasil membuatmu dipecat. Dan aku puas telah membalas dendam. Aku benar-benar tidak mengira bahwa kau juga ditolak saat wawancara sebelumnya. Aku mempekerjakanmu, hanya karena kau cantik. Tapi tuduhanmu membuatku lebih marah dan aku ingin semakin menyulitkanmu.”
Jodha: “Oh, jadi akhirnya kita bisa bersama karena...”
Jalal: “Takdir. Bahkan takdir ingin kita bersatu. Begitu kau dipecat dan aku mempekerjakanmu, sebenarnya kita...”
Jodha: “Jatuh cinta!”

Mereka tetap berbaring beberapa lama, dan akhirnya memutuskan sudah saatnya kembali ke hotel. Keduanya segera merapikan barang bawaannya dan berlalu dari sana.

Sesaat setelah sampai, Jodha langsung menuju kamar mandi. Dia ingin mandi dan berbenah untuk terakhir kalinya. Bagaimanapun, Jalal masih ingin menggodanya. Mengendap-endap ke dekat kamar mandi, Jalal mengetuknya.
Jodha: “Ya!”
Jalal: “Jodha, kran di kamar mandiku macet. Bolehkah aku masuk dan mandi di situ?”
Jodha: “Tentu, setelah aku selesai  mandi.”
Jalal: “Sayang, maksudku aku ingin masuk sekarang dan madi bersamamu!”

Jodha tergagap mendengar saran itu! Dia merasa sangat gugup dan mulai merona, “Ap.. apa! Kau ingin masuk saat aku mandi?”
Jalal: “Ya!”
Jodha: “Tapi... tapi Jalal, aku masih..sangat malu dan...”
Jalal: “Astaga Jodha! Tidakkah kau ingin aku melihat dan mencium seluruh tubuhmu seperti dalam mimpimu?”
Jodha: “Tapi... tapi itu hanya mimpi! Dan..dan jika ibuku tahu, itu tidak baik!”
Jalal: “Tapi Jodha, bagaimana ibumu bisa tahu? Kita tidak sedang di rumahmu bahkan kita ada di luar negeri. Biarkan aku masuk dan...”
Jodha: “Jangan, Jalal, kumohon! Aku malu...”
Jalal: “Jodha, aku hanya bercanda! Kau sangat lugu! Aku akan membersihkan diriku.”
Jodha (sedikit terganggu): “Kenapa kau lakukan itu? Kau tahu aku selalu menganggapnya serius!”
Jalal: “Itu karena aku suka menggodamu, kekasihku!”

Jalal keluar dari sana, sedang Jodha bersyukur karena Jalal tidak melihat wajahnya saat itu. Dia benar-benar memerah, bahkan membayangkan Jalal melihat seluruh tubuhnya tanpa busana telah membuat kupu-kupu di perutnya menari. Usai mandi, Jodha memakai piyama. Rambutnya masih basah dan dililit dengan handuk. Dia mengenakan bajunya, berbaring dan jatuh tertidur. Mereka berdua masih memiliki sepanjang malam untuk dihabiskan bersama.

Mereka menikmati secangkir teh sebelum membereskan bawaan mereka. Begitu selesai, waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Keduanya segera bersiap, Jodha mengenakan jeans dan kaos serta sepatu, di lain pihak Jalal mengenakan celana panjang dan baju berpotongan rapi. Jodha memeriksa kamarnya memastikan tidak ada yang terlewat. Terlihat semua sudah pada tempatnya, dia menarik kopernya keluar kamar, dan Jalal sudah menunggunya di sofa.
Jodha (terkejut): “Jalal! Cepat sekali kau selesai!”
Jalal: “Yup, ini bukan hal baru untukku karena aku sering bepergian dalam bisnisku. Lagipula, aku sudah merapikan sebagian kemarin.”
Jodha: “Oh oke. Kau ingin makan sesuatu?”
Jalal: “Iya.”
Jodha: “Baiklah.”

Saat itu jam 9 malam, waktunya bagi mereka untuk pergi. Jalal mulai mengangkat kopernya ke pintu masuk dan Jodha memeriksa ruangan sekali lagi, tempat ini sangat spesial baginya. Jodha akan selalu mengingatnya, disinilah mereka saling mengungkapkan cinta dan berbagi kenangan indah lainnya. Disinilah, dia merasa menemukan dirinya kembali.
Jalal: “Kita pergi?”
Jodha: “Ayo...”

Setelah memasukkan koper ke bagasi taxi, kendaraan itupun melaju pergi. Saat taxi mulai bergerak, Jodha menoleh ke belakang hingga hotel itu sudah hilang dari pandangannya. Dia akan selalu mengingat perjalanan ini sepanjang hidupnya. Semuanya telah berubah, dia jatuh cinta dan Jalal bersamanya, di sampingnya. Dia menyimpan jutaan kenangan indah, ciuman pertamanya dan awal hubungannya bersama Jalal. Tak terasa sebutir air mata bergulir di pipinya.
Jalal: “Ada apa, Jodha?”
Jodha (mengusap matanya): “Bukan apa-apa. Hanya saja perjalanan ini sangat bermakna untukku, aku menemukan cintamu!”
Jalal (tersenyum): “Perjalanan ini adalah awal mula kebersamaan kita. Dan akan selalu tertanam dalam hatiku.”

Jodha menyandarkan kepala di lengannya dan Jalal merengkuhnya.
Jodha: “Jalal, kau tidak akan meninggalkanku, kan?”
Jalal: “Jodha! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu! Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita!”
Jodha (tersenyum): “Baguslah, kalau kau melakukannya, aku akan membunuhmu.”
Jalal: “Astaga. Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi”

Jodha tersenyum dan menempelkan tangannya ke dada Jalal, dia bisa merasakan detak jantungnya. Terasa hangat dan nyaman. Dia tidak ingin melepasnya, dan berharap bahwa waktu akan berhenti agar dia bisa menyimpan kenangan ini.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Mereka duduk berdekatan, dengan lengan saling mengait, ketika terdengar pengumuman bahwa peasawat mereka siap lepas landas. Mereka pun mengencangkan sabuk pengaman, dan pesawatnya mulai terbang.
Jalal: “Jadi kau senang akhirnya pulang?”
Jodha: “Umm... iya sih.”
Jalal: “Kenapa?”
Jodha: “Kita tidak akan bisa berduaan lagi seperti ini! Kita hanya bisa bertemu di kantor.”
Jalal (mengernyit): “Kita bisa mengusahakannya.”
Jodha: “Caranya?”
Jalal: “Aku akan memiikirkannya. Kau tenang saja. Kira-kira kita akan tiba di Newark 3 jam lagi.”

Setelah makan malam, mereka tertidur. Setelah mendarat di Newark, mereka akan transit pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Mumbai. Mereka mengumpulkan koper mereka dan duduk di ruang tunggu penumpang, berusaha memejamkan mata ketika mendengar pemberitahuan, “Mohon perhatian kepada semua penumpang. Penerbangan United Airlines UA48 tujuan Mumbai ditunda karena ada masalah teknis. Semua penumpang harap check-in setelah ada pemberitahuan selanjutnya. Terima kasih.”

Jodha: “Ya Tuhan! Berapa lama lagi kita tertahan disini?”
Jalal: “Bersabarlah. Jadi kita punya waktu berduaan lagi kan.”
Jodha (tersenyum): “Iya, baiklah.”

Jodha memeluk erat lengan Jalal dan terlelap lagi. Beberapa jam berlalu. Jalal bangun dan hendak ke toilet, ketika terdengar pemberitahuan check in. Selesai check-in, melewati prosedur keamanan dan imigrasi, merekapun menuju pesawat. Segera, pesawat lepas landas menerbangkan mereka menuju Mumbai.

Akhirnya pesawat mendarat di Mumbai setelah penerbangan selama 15 jam. Jodha tertidur sepanjang penerbangan, hanya bangun saat sarapan, sedangkan Jalal kadang tertidur dan kadang memeriksa laporan perusahaannya.

Keluar dari pesawat, melewati prosedur imigrasi hingga mereka menuju ke antrian bagasi. Jalal sedang mencari troli ketika ponsel Jodha berdering.
Jodha: “Halo, Ibu.”
Mainavati: “Iya Jodha. Kami menunggu di pintu keluar terminal kedatangan. Berapa lama lagi kau keluar?”
Jodha: “Aku baru mengurus koperku dan Jal...”
Dia hampir saja menggigit lidahnya, tidak mungkin dia memanggil Jalal seperti itu di depan ibunya.
Mainavati: “Ada apa, nak?”
Jodha: “Umm..tidak ada! Aku sudah mengambil koperku tapi Pak Presiden belum. Kami akan keluar bersama sebentar lagi.”

Jodha menutup ponselnya dan menarik napas lega. Jalal datang membawa troli.
Jodha (pada dirinya sendiri): “Aku harus lebih hati-hati! Aku hampir kelepasan bicara. Ayah dan ibu tidak boleh tahu soal Jalal dan aku untuk saat ini. Aku akan berterus terang jika saatnya sudah tepat.”
Jalal: “Kau sedang memikirkan apa?”
Jodha (berbisik): “Ummm...tidak! Hanya menunggu dijemput ayah dan ibuku.”
Jalal: “Ah! Itu dia koperku!”

Mereka berjalan ke arah pintu keluar dengan bawaan mereka. Keluarga Jodha melihatnya dan mereka menyambutnya. Mainavati menariknya ke dalam pelukannya.
Mainavati: “Jodha, anakku! Bagaimana kabarmu?”
Jodha: “Aku baik saja, Ibu.”
Keluarga Jodha menanyakan tentang kesehatannya, Jalal hanya melihatnya dengan tersenyum. Bharmal menghampirinya, tersenyum dan berterima kasih karena sudah menjaga putrinya.
Jalal: “Tidak perlu berterima kasih, Tuan Bharmal! Tanggung jawabku untuk menjaganya. Aku berharap perjalanan ini bermanfaat untuknya.”
Jodha tersenyum lebar, dan Bharmal menyarankan mereka untuk segera berlalu. Dia berterima kasih pada Jalal sekali lagi dan mereka pun pergi dari sana.

Sementara itu, mobil yang menjemput Jalal juga tiba dan segera berlalu pergi. Cepat-cepat Jalal mengirimnya pesan:
“Aku harap kau menikmati waktu yang kita habiskan bersama, kekasihku.”
Dia mengirimnya dan segera mendapat balasan dari Jodha
“Pasti, dan aku juga berharap bisa pergi berdua lagi denganmu.”
Jalal tersenyum membaca balasannya.
“Beristirahatlah. Kita akan bertemu lagi hari Senin.”

Senyuman lebar tampak di wajah jodha membuat penasaran kelurganya tentang perjalanan bisnisnya. Mereka menuntut Jodha menceritakan semuanya, tapi tidak akan. Paling tidak, dia tidak akan menceritakan bagian dia tidur di kamar Jalal dan hubungan romantis mereka.
Sujamal: “Kak, bagaimana Miami? Apa kau membeli oleh-oleh untuk kami?”
Mainavati: “Nak, biarkan dia beristirahat. Dia baru saja sampai setelah penerbangan panjang dan melelahkan. Kau bisa bertanya apapun lagi nanti.”

Jodha menghidupkan ponselnya dan mengirim pesan pada Salima dan Ruqaiyya,
“Teman-teman, ayo kita ketemuan besok. Aku punya berita penting untuk kalian”
Kedua temannya membalas, bertanya hal apa yang ingin diceritakannya.
“Apa besok siang tidak masalah?”
Mereka menjawab waktunya pas.

Sesampainya di rumah, Jodha mengganti bajunya dan mengirim pesan pada Jalal:
“Selamat malam, aku mencintaimu.”
Jodha menunggu balasannya hingga hampir tertidur. Jalal yang baru melihat pesan di ponselnya menjawab:
“Selamat malam sayang. Aku lebih mencintaimu”

Saat bangun pada keesokan harinya, Jodha segera mandi dan berdoa pada Kanha, bersyukur padanya karena menghadirkan Jalal dalam hidupnya. Dia memohon perlindunganNya untuk Jalal, dan kelangsungan hubungan mereka.

Jodha keluar rumah pada siang harinya menuju ke Barista, tempat yang biasa dikunjungi para karyawan di dekat kantornya. Setelah mendapatkan tempat duduk, dia menunggu kedatangan kedua temannya. Salima yang pertama datang, langsung memeluknya, diikuti Ruqaiyya. Mereka duduk semeja dengan senyum lebar menghiasi wajah ketiganya. Mereka membicarakan perjalanannya, dan memintanya untuk bercerita sedetail mungkin.
Ruqaiyya: “Jodha, tolong katakan apa Berita Pentingnya.”
Salima: “Iya, Apa ada hubungannya dengan perjalananmu?”
Jodha: “Ya, begitulah.”
Ruqaiyya: “Ayo ceritakan!”
Jodha memperhatikan wajah penasaran mereka dan mempersiapkan diri berterus terang.
Jodha: “Begini, Jalal dan aku sekarang  pacaran!”
 
To Be Continued
Precap:
Jodha masuk kerja. Jalal dan Jodha berusaha mencuri waktu berduaan.

FanFiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FF His First Love Chapter 31 Part 2

9 comments:

  1. Penasaran nunggu hr seninnya...apa selajutnya Jalal masih bermimpi kalo liat Jodha di kantor, trus apa jadinya kalo sampai ortu Jodha tau ttg hubungan mereka.....lanjooottt nanda Chus.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan lagi mimpi Bunda Ira,, tapi langsung di realisasikan,,, hahahha

      Delete
    2. Haa...haaa...haaa...iya ya, tapi kudu hati2 ntar ketahuan bapknya...berabe deeehhh @:D

      Delete
    3. Wah, untuk endingnya saya belum terfikirkan mau buat gimana, Bunda...

      **Chusnianti**

      Delete
  2. suka sekali sama part ini mbk chus,puas bacanya panjang hehee 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idiiiihhh yg baru jadian, pengennya brduaan tyus # bikin iri dech

      Delete
  3. Huuuuhh,,legaaaaa,,ayo lnjut mb chus,,jd ikut b'bunga2:-)

    ReplyDelete
  4. Ikut seneng dengan kebahagiaan mereka
    Congrats mbak chus

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.