FF His First Love Chapter 33 - ChusNiAnTi

FF His First Love Chapter 33



Written by Samanika
Translate by Tyas Herawati Wardani

**Kembali**

“Jodha anakku, duduklah disini...” Ibunya mendesaknya.
Jodha masih agak kecewa dan kesal atas apa yang terjadi. ”Ibu, maukah kau masuk sebentar, aku ingin bicara.....”
Mainavati tersenyum dan menoleh pada tamunya, “Nak, kau duduklah dan nikmati hidangannya, aku segera kembali.”

“Kenapa harus mengundang dia kesini?!” Gadis itu sedikit berteriak menahan marah, “Ibu tahu apa yang telah dilakukannya padaku saat kuliah! Aku terpuruk selama hampir sebulan gara-gara pria itu, dan sekarang Ibu...” 
“Jodha anakku, tenanglah. Aku tahu Surya pernah sangat menyakitimu.. tapi waktu akan mengobati luka itu kan?! Dan aku juga tidak pernah mengundangnya, dia datang ke rumah kita karena dia butuh bantuan untuk menyalakan listrik...”
Jodha keheranan, “Kenapa dia butuh bantuan untuk itu?” 
“Itu karena dia baru saja pindah ke sebelah rumah kita. Setelah dia selesai berbenah, aku mnengundangnya untuk minum teh demi kesopanan.” Jodha memegang kepalanya karena frustasi, dan menghempaskan dirinya ke kursi. Ibunya berusaha menenangkannya “Nak, aku tahu kau sangat terluka, dan aku tidak memintamu kembali bersamanya. Aku hanya ingin kau bersikap sopan padanya, apalagi sekarang dia tetangga kita. Kita harus bersikap baik padanya. Aku harap kau memahami apa yang kumaksud...” Dia mengangguk tanda setuju. “Bagus, sekarang segarkan dirimu dan keluarlah...”

Gadis itu memercikkan air ke wajahnya, sambil memaki keadaan yang harus dihadapinya. Mantan kekasihnya menjadi tetangganya, dan dia harus bersikap sopan! “Kenapa ibu mengundang dan menjamunya. Ibu tahu betapa aku tidak sudi melihat wajahnya lagi, tapi tetap saja diundang! Seharusnya aku tinggal lebih lama di kantor, setidaknya aku bersama Jalal.... aku baru ingat, sebaiknya aku menelponnya begitu orang brengsek itu pergi.” Dia mematut dirinya di cermin dan menghela napas, “Jodha, jangan biarkan pria itu mengusikmu, dia tidak berarti untukmu. Kau sudah meraih kebahagiaan, jangan biarkan pecundang dari masa lalu ini menghancurkannya...”

*****************

Dia memasang senyum datar di wajahnya, dan melangkah ke ruang tamu. Ibunya memandangnya dengan tersenyum sedangkan Surya menyeringai. Sudah lama sejak terakhir kali mereka berbicara. Dia menarik sebuah kursi dan duduk di samping ibunya.
Jodha: “Halo Surya.”
Surya: “Hai Jodha, bagaimana kabarmu?”
Jodha: “Sejauh yang kurasa aku bahagia,  jadi apa yang membawamu ke lingkungan sederhana ini? Apa kau sudah bosan dengan gaya hidup mewahmu?”
Surya: “Sepertinya kau tidak kehilangan selera humormu. Aku pindah kesini hanya karena aku diterima bekerja di kota ini. Transportasi disini jauh lebih mudah, kau tahu. Lalu kau sekarang bekerja dimana?”
Jodha akan menjawab ketika Mainavati tiba-tiba memotongnya, “Dia sekarang bekerja sebagai Kepala Bagian Marketing di perusahaannya Jalaluddin Mohammed.”
Surya (terkesan): “Wah, Kepala bagian Marketing! Itu hebat! Dan di perusahaan besar pula!”
Jodha: “Ya, jadi jika kau tidak keberatan, aku masih ada urusan (pada Mainavati) Ibu, tolong panggil aku untuk makan malam begitu ayah datang, aku sangat lapar.”
Mainavati: “Oh baiklah nak. Apa kau masih jetlag?”
Surya: “Apa kau baru pulang dari luar negeri?”
Mainavati: “Iya nak, dia baru saja datang dari Miami untuk menghadiri Konferensi Internasional dan....”
Jodha: “Ibu, aku masuk dulu......”

Dia mengganti bajunya untuk tidur, namun di wajah cantiknya masih menampakkan bermacam pikiran. Bertemu pria itu lagi, telah membawa kembali kenangan saat hari itu, ketika dia memergoki kekasihnya bersama sahabatnya, mereka terlihat sangat mesra. Orang bilang waktu akan menyembuhkan luka, tapi tidak bagi Jodha. Meski telah 3 tahun berlalu, tapi dia masih mengingatnya dengan jelas, air mata, kesedihan dan kekecewaannya. Seiring waktu, dia kembali hidup normal, namun tidak pernah mengira kalau dia akan merasa terluka lagi.
Jodha: “Aku tidak pernah... tidak pernah berharap bertemu dengannya lagi... apa yang harus kulakukan... aku... aku akan menelpon Jalal.”
Dia menekan nomernya dan setelah beberapa saat, Jalal menjawab.
Jalal: “Sayangku!”
Jodha (hampir menangis): “Jalal! Aku merindukanmu!”
Jalal: “Jodha, ada apa? Apa seseorang mengganggumu?”
Jodha: “Tidak, hanya saja....”
Jodha menceritakan tentang mantan kekasihnya telah pindah ke sebelah rumahnya, dan bagaimana ibunya menyambutnya, meski tahu yang sebenarnya!
Jodha: “Aku tidak pernah menyangka akan merasa seperti ini! Kupikir aku kuat, ternyata aku salah...”
Jalal: “Sayang kau tidak perlu merasa bersalah. Semuanya baik-baik saja!”
Jodha: “Tapi ibuku sudah mengecewakanku! Teganya dia!”
Jalal: “Dengar, bibi pasti punya alasan sendiri. Dia tidak bisa mengusirnya begitu saja, tapi aku yakin dia tidak berniat menyakitimu.”
Jodha mempertimbangkan apa yang dikatakan kekasihnya; dan itu sangat berarti. Ibunya tak mungkin akan bahagia jika harus menyakiti putrinya. “Kau tahu, aku merasa lebih baik setelah berbicara denganmu. Bagaimana kau melakukannya?”
Jalal: “Bisa dikatakan itu adalah kelebihanku. Dan Jodha, aku selalu ada untukmu apapun yang terjadi, kau bisa mengandalkanku.”
Jodha: “Oh Jalal, aku ingin memelukmu dengan erat! Aku berharap kau disini sekarang....”
Jalal: “Jangan khawatir, akan ada banyak pelukan besok.”
Tiba-tiba, Jodha mendengar ibunya memanggil. “Oke, aku harus pergi. Aku mencintaimu!”

****************

Tiga minggu telah berlalu. Kehadiran Surya di lingkungannya telah mempengaruhi beberapa hal. Ayah Jodha selalu merasa sedih setiap kali ibunya menjamu Surya, karena dia tahu Surya pernah menyakiti perasaan putrinya. Tapi Mainavati bukan orang yang mudah menyerah, dia selalu mencari kesempatan mengundangnya setiap kali suaminya sedang bekerja. Sejauh ini, Jodha selalu berhasil menghindarinya dengan berangkat lebih pagi ke kantor dan lebih sering lewat tangga darurat begitu dia lihat pria itu menunggunya di dekat lift. Dan bila terpaksa bertemu di rumahnya, dia langsung masuk ke kamarnya. Dia benar-benar tidak tertarik bahkan untuk berteman dengannya.

Jodha tiba di kantornya hari itu, merasa sangat santai. Dia ingin segera menemui kekasihnya, dengan bersamanya bisa menghilangkan semua kegundahannya.
Jodha: “Selamat pagi Sayang!”
Jalal: “Ooo kekasihku!”
Dia menariknya dalam dekapan kuatnya, seakan hampir benar-benar melebur jadi satu. Secara naluri, dia mengelus punggung Jodha, kadang bahkan meletakkan tangannya di pinggang Jodha. Sedangkan Jodha mengusap rambutnya dengan lembut, tidak ingin melepaskannya.

Dengan terpaksa mereka memisahkan diri, namun Jodha masih melingkarkan tangan di lehernya dan menatap matanya.
Jodha: “Tuan Mohammed, kenapa dengan tanganmu hari ini?”
Jalal: “Hah? Apa maksudmu?”
Jodha: “Jangan pura-pura tidak tahu... kau pasti tahu dimana mereka...”
Jalal: “Aku meletakkannya di pinggangmu... kenapa?”

Dia melingkarkan lengannya di leher Jalal dan merebahkan kepala di bahunya.
Jodha: “Kau tau, aku sungguh beruntung memilikimu dalam hidupku... Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa dirimu....”
Jalal: “Jodha, berhentilah berpikir tentang seandainya... Tuhan ingin kita bersatu dan disinilah kita... kita telah melalui hal yang berat pada awalnya... lalu kita bersama tak terpisahkan pada akhirnya...”
Jodha: “Aku belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya... maksudku aku senang ketika lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan... tapi ini berbeda. Ini perasaan yang sangat indah, dan aku ingin merasakannya selamanya...”
Jalal: “Jodha, kau baik-baik saja?”
Jodha: “Ya, tentu saja. Kenapa kau bertanya?”
Jalal: “Karena kau mengungkapkan perasaanmu hari ini. Apakah mantan pacar bodohmu itu mengganggu kekasihku ini?”
Jodha (tertawa renyah): “Tentu saja tidak, sayang! Kekasihmu ini selalu bisa menghindari si bodoh itu. Hanya saja... aku tidak pernah mengira aku bisa berbagi hal-hal sangat pribadi dalam hidupku dengan seseorang tanpa pertimbangan. Tapi kurasa aku salah, kau tahu segalanya tentangku namun kau tidak pernah sekalipun menyalahkanku atas apa yang Surya lakukan.”
Jalal: “Bagaimana bisa itu jadi kesalahanmu? Jika kau merasa tidak nyaman akan sesuatu dan orang itu tidak berusaha menghargai pilihanmu, maka itu adalah kesalahannya.”

Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. “Boleh saya masuk, Pak?” Yang pasti itu bukan Salima; suaranya terdengar lebih dalam dan serak. Mereka saling memisahkan diri dan Jodha berusaha mengenali siapa yang berada di balik pintu.
Jalal: “Masuklah.”

Pria itu melangkah masuk; orangnya tinggi dan badannya cukup tegap. Jodha belum pernah melihatnya; kepribadiannya seperti seorang yang berkuasa. Dia berpakaian necis, dan tanpa disadari Jodha menatapnya. Dia tidak seperti kebanyakan pegawai di kantor itu; berkelas dan penuh gaya.
Jalal: “Kalian berdua silakan duduk.”

Description: D:\PICTURE L\Destiny\Shareef.jpgKeduanya duduk, di lain pihak Jodha sangat penasaran siapa mereka. Tamu itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya pada Jalal. Jodha berusaha mengira-ngira sampai dia menyadari, “Itu adalah Surat Perjanjian!”
Jalal: “Jodha, ini adalah Sales Manager yang baru di perusahaan kita, Tuan Shareef (melihat ke arah Shareef): “Dan dia adalah Marketing Manager, Nona Jodha Singh. Kau akan sering bekerja sama dengan departemennya.”
Dia menyapanya dengan senyuman dan pria itu membalas tersenyum.
Shareef: “Terima kasih, Tuan. Aku merasa terhormat bisa bekerja padamu.”
Jalal: “Salima akan menunjukkan dimana mejamu.”

Keduanya meninggalkan ruangan, dan Jodha juga menyusul keluar, sambil berjanji pada Jalal. “Aku segera kembali...”

Pria yang pernah datang untuk interview tiga minggu lalu, bukan lain adalah Shareef itu sendiri. Setelah mengangkat ayah Jodha sebagai Wakil Presiden, posisi Sales Manager kosong. Jalal mengambil alih pekerjaan departemen itu sementara waktu, hingga dia menyadari harus mengisi kekosongan itu segera. Setelah membuka lowongan, wawancara dan menyeleksi beberapa calon, Shareef yang paling sesuai dengan kualifikasi. Pendidikan dan kemampuannya sesuai, dan Jalal segera mempekerjakannya.
Jalal: “Pergilah, aku senang akhirnya menemukan pengganti yang cocok untuk Tuan Bharmal. Paling tidak sekarang, departemennya bisa bekerja.”

****************

Kedua sejoli itu duduk berdampingan, terasa semilir angin berhembus dari jendela. Mereka telah meninggalkan kantor menuju rumah Jodha, begitu ibunya mengabari akan keluar rumah dan tidak akan pulang sebelum malam. Adiknya sedang kuliah dan mereka hanya berdua di dalam rumah itu. Merasa santai, Jalal merebahkan dirinya dan Jodha yang telah menggerai rambutnya, meletakkan tangan di dada Jalal.
Jodha: “Aku penasaran kapan mereka menyadari kalau kita berdua sama-sama tidak ada di kantor.”
Jalal: “Lalu? Memangnya kenapa?”
Jodha: “Kita ini membolos! Bagaiman kalau ayahku tahu!”
Jalal: “Aku akan memberitahu semua orang kalau kita menghadiri meeting yang mendesak.... Tenanglah! Kau hanya mengatakan rumahmu sedang kosong dan aku menyarankan agar kita datang kesini.....”
Jodha: “Iya, aku tahu...tapi aku tetap saja khawatir....”
Jalal: “Sayang, kenapa?”
Jodha: “Aku tidak bisa tidak merasa... bahwa segala sesuatunya berjalan sangat mudah untuk kita.... ini sudah tiga minggu sejak kita jadian... dan...”

Jalal menempelkan jarinya di bibir Jodha, membuat Jodha membelalakkan matanya terkejut.
Jalal: “Jangan berkata seperti itu... kita baru saja diberkahi... apapun yang terjadi selanjutnya, kita akan mengahadapinya bersama-sama....”
Jodha: “Iya!”
Jalal: “Jadi, apa kita bisa melanjutkan tujuan awal kita datang kesini?”
Jodha: “Apa maksudmu!”
Jalal langsung memegang pinggang Jodha, menariknya mendekat dan mulai menciumi lehernya. Jodha melingkarkan tangan di lehernya, merasa geli, sedangkan Jalal melanjutkan godaannya.

“Terima kasih Tuhan pelajaran terakhir dibatalkan! Aku bisa segera pulang dan tidur!” Sujamal dengan riang membayangkan bahwa dia akan menikmati sisa hari ini. Dia mengeluarkan sebendel kunci dari tasnya dan membuka pintu. Begitu melangkah masuk, dia melihat dua pasang sepatu sudah ada di dekat pintu.
Sujamal: “Ini pasti sepatu Kakak, tapi yang satunya aku yakin bukan milik Ayah.”
Seketika, samar-samar dia mendengar suara dari salah satu kamar. Mulai melangkah, dia merasa yakin suara itu dari kamar kakaknya. Pelan-pelan dia membuka pintu, dan saat itulah dia melihat Jodha duduk di samping pria, saling menggenggam tangan, dan si pria masih menciumi leher Jodha.
Jodha: “Jalal, hentikan! Ini geli...”
Jalal: “Tidak, aku tidak mau!”

Dia melanjutkan aksinya, dan Jodha masih cekikikan geli. Lalu, Jodha melingkarkan tangannya dan memeluknya erat; menempelkan dirinya ke Jalal..
Jodha: “Aku sangat mencintaimu.”
Jalal: “Aku lebih mencintaimu.”

Sujamal menutup pintu dalam keterkejutan, sungguh sulit dipercaya apa yang baru saja disaksikannya.
Sujamal: “Apa yang dilakukan Kakak dan Tuan Mohammed? Apakah mereka saling mencintai? Sejak kapan? Dan yang lebih buruk, apa pendapat ayah dan ibu jika mereka tahu!”

To Be Continued
Precap: Jodha mengaku pada adiknya.

FanFiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FF His First Love Chapter 33

7 comments:

  1. SeMoga aja di restuiii....
    coMMeNt dikit...Mau kerja Nee...

    ReplyDelete
  2. Sujamal kayaknya bakalan nerima2 ajach, ga tau dech kalo ibunya ,,,,rintangan terberat hubungan mrk sepertinya restu ibunya jodha

    ReplyDelete
  3. Ayo lo ktauan ... Tp ko ky nya menawati nya pengennya sama surya y,, padahal kan dia tau surya pernah nyakitin jodha ...
    dtunggu lanjutannya usni,, makasih ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Annisa,, dan Mbak Annisa sudah tahu apa yg penulis mau... hehehe

      Delete
  4. Makin seeruuuu dehh ga sabar terus nunggu ceritanya

    ReplyDelete
  5. Hmmm... smg j suryaban..bukan ortunya jodha..
    jgn lama2 y mba arum lanjutannya..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.