FF His First Love Chapter 34 - ChusNiAnTi

FF His First Love Chapter 34



Written by Samanika
Translate by Tyas Herawati Wardani

**Menutup-nutupi**

Sujamal pergi ke kamarnya, masih tidak mampu mencerna fakta hubungan cinta kakaknya dan bosnya. Jalal dan Jodha masih belum pergi, jadi dia memilih berdiam diri di dalam kamarnya. Dia berbaring di tempat tidur, rasa kantuknya hilang begitu saja karena hal itu. Pada saat itu dia sangat bingung, tidak tahu harus bagaimana. “Hmmm...Aku yakin kakak belum mengatakan tentang Tuan Mohammed pada ayah dan ibu... dan pasti mereka akan sulit menerimanya... tapi aku tidak akan bilang apa-apa, ini hidupnya dan dia pasti akan berterus terang jika memang waktunya sudah tepat...”

“Kak, jika kau dalam masalah atau butuh tempat curhat, aku akan ada untukmu! Aku akan mendengarkan apapun yang akan kau katakan!”
Itu adalah kata-kata yang sama yang pernah diucapkannya pada kakaknya, ketika itu ibunya marah besar saat Jodha menceritakan rencana tarian perutnya. Tepat saat itu dia memutuskan untuk selalu mendukungnya. Dia yakin Jodha pasti memikul beban berat karena menyimpan sebuah rahasia dan yang bisa dilakukan untuk meringankannya hanyalah dengan menjadi orang yang bisa dipercaya Jodha.

“Ya! Aku akan bicara padanya soal ini nanti malam!”

*****************

Sehabis makan malam, Jodha berbaring di tempat tidurnya. Siang tadi teramat indah membuatnya merona saat mengingatnya lagi. Dia benar-benar kasmaran, kulitnya bersinar dan senyum di wajahnya tidak pernah lepas. Sebenarnya Mainavati mencurigai ada yang berubah pada putrinya, Jodha seperti sedang menyembunyikan sesuatu dan sering terbur-buru masuk kamar setelah makan malam. Tapi dia tidak mempermasalahkannya lebih jauh, menurutnya itu hanya kecurigaan tanpa dasar.

Jodha tidak sadar kalau ibunya mencurigainya  dan bahkan dia tidak akan menyangka jika adiknya memergoki dirinya siang itu. Sujamal berdiri di depan pintu kamar Jodha, mempersiapkan mental untuk bicara dengan kakaknya soal hubungan rahasianya. Menarik napas panjang, dia mengetuk pintu “Kak! Aku boleh masuk?” “Suja! Masuklah!”

Jodha bangun dan tersenyum, sedang Sujamal memilih duduk di samping Jodha. Dia memang tidak mau menakuti  Jodha, tapi dia harus membicarakan apa yang sudah dilihatnya.

Jodha: “Ada apa? Ada masalah?”

Sujamal: “Umm..aah..Kak”

Jodha: “Iya, katakan”

Sujamal salah tingkah, dia mengalihkan pandangannya, dia memaksa dirinya untuk bersuara! Dia ingin Jodha tahu bahwa dia bisa dipercaya. “Kak, ada hubungan apa antara kau dan Tuan Mohammed?”

Jodha terhenyak! Sama sekali tidak menduganya! Adiknya masih diam menunggu jawaban, ribuan pertanyaan muncul di benaknya, Bagaimana dia tahu? Apa dia memergoki kami? Yang terburuk, apa dia akan memberitahu ayah dan ibu? Dia harus bisa mengatasi hal ini, dan satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menyangkalnya! “Apa yang kau tanyakan? Tidak ada apa-apa antara Tuan Mohammed dan aku...”

Sujamal: “Jangan berbohong, aku melihat kalian berdua di kamarmu hari ini... dan...”

Jodha membelalakkan matanya karena shock, dia tidak tahu harus ketakutan atau merasa malu. Dari semua orang, justru adiknya sendiri yang menangkap basah dirinya di rumah mereka! Dia hanya berharap kalau Sujamal tidak menyaksikan semua rayuan dan ciuman itu, dia tidak akan mampu menatapnya. “Oh..jadi kau melihat kami...”

Sujamal: “Ya, dan...”

Jodha: “oke, aku sangat paham apa yang akan kau katakan... tidak apa... aku akan bicara pada ibu, ayah dan...”

Sujamal: “Kak! Dengarkan dulu! Aku tidak mengatakannya pada siapapun!”

Jodha (membelalak): “Hah, tidak? Kenapa?”

Sujamal: “Kau ingat saat ibu marah? Aku sudah bilang padamu...”

Jodha: “Suja, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan...”

Sujamal: “Hari itu, seorang adik berjanji pada kakaknya bahwa dia akan selalu melindungi kakaknya dari masalah apapun, bahwa dia akan menjadi tempat berkeluh kesah dan dia bisa berbagi apapun dengannya...  Kak, saat inilah kau sangat butuh dukunganku... aku yakin ini sangat berat untukmu, dan aku ingin kau tahu bahwa rahasiamu aman bersamaku.. aku tidak akan membocorkannya pada ayah dan ibu soal kau dan Tuan Mohammed...”

Kata-katanya yang jujur dan penuh perasaan membuat Jodha berkaca-kaca. Dia tidak percaya kalau orang yang selalu menjaganya, telah siap menjadi pendukung terbesarnya. Sujamal masih tersenyum pada Jodha, membuat Jodha tidak mampu membendung lagi air matanya. Jodha memeluknya dengan erat. “Oh Suja! Kupikir kau sudah memberitahu ayah dan ibu! Aku sudah takut sekali!”

Sujamal: “Kak, tidak akan! Aku sudah janji, kan! Dan aku tahu pasti bagaimana reaksi mereka, lebih baik jika mereka tidak mengetahuinya dulu...tapi, kapan mulai terjadi?”

Jodha: “Kapan mulai apa?”

Sujamal: “Oh, Kak, ayolah! Kau dan Tuan Mohammed, tentu saja!”

Jodha menjauhkan diri dari adiknya, merona tapi bahagia. Pertanyaannya telah membawa kembali memori indah perjalanan mereka saat akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. “Oh itu...tidak mungkin aku menceritakan semuanya padamu!”

Sujamal: “Kak! Jangan bilang kau sudah....”

Jodha: “Tidak! Tentu saja tidak! Oke, akan kuceritakan. Saat kami sampai Miami dan pergi ke hotel, kamu baru diberitahu kalau staf hotel telah melakukan kesalahan dan reservasiku dibatalkan.”

Sujamal (terkejut): “Woah! Lalu apa yang kau lakukan?”

Jodha: “Saat staf hotel memberitahu tidak ada kamar tersisa, aku hampir saja akan pergi mencari hotel lain, namun Jalal menawarkan...”

Sujamal: “Apa?”

Jodha: “Kalau dia bisa berbagi kamar denganku...”

Sujamal membelalak terkejut, namun Jodha tetap melanjutkan ceritanya meski terasa sangat memalukan. “Lalu, kau jawab apa?”

Jodha: “Aku setuju... karena pada kenyataannya ruangan itu cukup besar dengan tiga kamar tidur dan aku menempati kamar tersendiri... dan selanjutnya aku menyadari rasa cintaku untuknya... sejak itu kami pacaran...”

Sujamal: “Ceritanya cukup singkat! Aku tidak percaya! Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu!”

Jodha (merona): “Tidak! Aku menceritakan semuanya!”

Sujamal: “Benarkah? Bagian yang tak kupercaya adalah kesadaranmu yang tiba-tiba! Aku yakin ada yang terjadi sebelumnya!”

Jodha: “Aku tidak mungkin menceritakannya sedetail itu... kau tetaplah adik laki-lakiku! Lagi pula, sudah malam, kau harus tidur!”

Sujamal: “Yap! Kau sebaiknya tidur juga! Jangan terjaga sampai larut malam!”

Jodha: “Dasar kau! Tunggu sampai aku menangkapmu!”

****************

“Hmmm...  jadi aku akan makan siang dengan Ruqs dan Salima?” gadis itu menatap pria di depannya, yang sepertinya sudah bersiap untuk meeting dengan kliennya.

“Iya, ini mendesak...  jangan khawatir, kita akan menggantinya besok...” dia mencoba merayunya.

“Kau tahu, Suja sudah tahu tentang kita... hari sebelumnya dia melihatmu saat ada di rumahku...”

“Apa!”dia berteriak saking terkejutnya, “ Apa lagi yang dilakukannya?”

“Dia tidak bilang apa-apa pada orang tuaku... dan dia juga menyetujui hubungan kita...”

“Wow sayang... aku tidak menyangka adikmu  sungguh... manis... maksudku dia seperti tipe yang, kau tahu, pembuat masalah... tapi ternyata aku salah...”

“Bahkan aku sama terkejutnya denganmu karena ternyata dia menyayangiku lebih dari yang kubayangkan...”

“Kurasa aku layak untuk sebuah ciuman manis dan lama dari kekasihku!”

“Hmmm...  baiklah!”

Kedua pasangan itupun menikmati ciuman mereka yang lama hingga mengaburkan semua kekhawatiran mereka.

************

“Menyenangkan sekali bisa berkumpul dengan sesama penari perut yang cantik!” Salima menggoda saat mereka bertiga duduk satu meja. Sejak Jodha dan Jalal pacaran, mereka jarang sekali bertemu saat makan siang karena pasangan itu selalu menghabiskan waktu bersama. Berhubung Jalal ada meeting, maka mereka bisa bersama lagi.

“Aku punya mie yang sangat enak untuk makan siang. Kalau kalian berdua?” Ruqs bertanya pada yang lain.

Jodha menjawab, “Aku punya paneer dan roti.”

“Kalau aku bawa nasi dan kari...” ucap Salima.

Merekapun mulai makan sambil tak henti mengobrol tentang semua tugas dan gosip. Jodha menceritakan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya saat ini, hingga sampailah mereka pada topik yang sedang ramai diperbincangkan di kantor.

Ruqaiyya: “Teman-teman! Bukankah Manager Sales yang baru sangat seksi?”

Salima: “Iya, dia sangat menawan... semua gadis terpesona padanya!”

Jodha: “Aku tidak! Aku sudah memiliki pria yang mempesonaku! Meskipun bisa kubilang kepribadiannya sangat kuat...”

Ruqaiyya: “Aku sudah mersakannya saat pertama kali dia datang untuk wawancara! Dia kelihatan hebat dan tampan!”

Salima: “Kelihatannya sesorang sedang jatuh cinta! Ruqs.. Ruqs! Jangan bermimpi!”

Jodha: “Kau sudah sering menggodaku! Sekarang giliranku menggodamu!”

Ruqaiyya: “Kalian ini! Pria itu tidak akan tahu!”

Salima: “Tetap saja kami akan menggodamu!”

Mereka tetap saling mengolok dan tertawa hingga waktu makan siang habis.

****************

“Ayah.. boleh aku masuk?” putrinya mengetuk pintu.

“Masuklah...”

Jodha masuk dan duduk di salah satu kursi. Dia membawa sebuah berkas untuk ayahnya. “Ayah, ini berkas yang diminta Pak Presiden untuk diberikan padamu. Isinya tentang tugas Departemen Sales selama kau tidak ada...”

Bharmal: “Sini, biar kulihat...”

Bharmal melihat sekilas isinya, sementara Jodha mulai memikirkan Jalal. Baru saja melewati waktu makan siang, tapi dia sudah merindukannya. Harusnya mereka menghabiskan waktu bersama! Dan ciumannya! Ya Tuhan! Tidak pernah mengecewakan! Hanya dia yang mampu membuatnya lututnya terasa lemas! Betapa dia ingin Jalal ada disana! Dia akan menemukan alasan untuk bisa bertemu dan bersama sepanjang waktu.

“Jodha... Jodha...”

Gadis itu masih melamunkan kekasihnya. Dia tidak mendengar panggilan ayahnya, bahkan dia merasa seseorang sedang mengganggu mereka! “Tolong, tinggalkan kami! Jangan mengganggu!”

“Jodha anakku, kau baik-baik saja?” tanya Bharmal.

Suara ayahnya yang terdengar sedikit cemas mengembalikan kesadarannya. Matanya membelalak dan suaranya tercekat saat dia tersadar akan kebodohan dilakukannya. “Umm... uhh.. maaf Ayah. Ada apa?”

Bharmal: “Apa maksud perkataanmu, ‘Tolong, tinggalkan kami... jangan mengganggu’?”

Saat itu benar-benar memalukan. Ditambah lagi, ketakutannya jika ayahnya bisa menduga bahwa dia memikirkan Jalal. Jodha berusaha untuk mengatur napasnya. “Ayah, sebaiknya aku pergi. Aku masih punya laporan yang belum selesai kukerjakan. Kita akan bertemu di rumah....”

Jodha mulai bangkit, bersyukur karena hampir bisa melewati masalah besar itu namun... 

“Tunggu, Jodha...”

Wajahnya mulai pucat, saat dia berbalik menatap ayahnya, yang lebih terlihat khawatir daripada marah.
Jodha: “Iya...”

Bharmal: “Nak, aku tidak tahu harus percaya atau tidak saat ibumu memberitahu kalau kau bersikap agak aneh...”

Jodha: “Bersikap aneh seperti apa?”

Bharmal: “Kau tahu, terutama sejak kau pulang dari Miami... terlihat jelas... dia bilang kau sering senyum-senyum sendiri dan aku tidak tahu, dia juga bilang kau terlihat ceria... nak, ada yang belum kau ceritakan pada kami?”

Matanya semakin melebar karena takut dan terkejut. Ini tidaklah bagus, tidak ada yang lebih buruk daripada saat ibumu mencurigaimu! Dia harus berpikir cepat, atau masalah ini akan semakin besar!

Jodha: “Ayah! Aku baik-baik saja! Hanya saja aku bisa sedikit rileks sekarang... meski itu perjalanan bisnis, tapi aku menikmatinya dan aku bisa kembali semangat bekerja!”

Karena ayahnya terlihat puas dengan jawabannya, Jodha segera pamit dan beranjak pergi. Menarik napas lega, dia langsung terduduk di mejanya.

Jodha: “Woah! Nyaris saja! Kalau ayah mengetahuinya lebih baik aku mati saja! Sekarang lebih baik aku konsentrasi bekerja lagi. Nanti Jalal akan menjemputku pulang, jadi aku sudah tidak sabar menunggunya.”

Perjalanan ke Miami memang telah membantunya rileks, hanya saja dia tidak memberitahu ayahnya alasan yang sebenarnya. Bersama Jalal memberinya rasa nyaman dan aman. Jatuh cinta sungguh menakjubkan! Dan dia menikmati setiap detiknya!

****************

Pasangan itu duduk di dalam mobilnya, melaju ke arah rumah Jodha. Sudah agak malam saat Jalal kembali ke kantor dari meetingnya, dan dia langsung menjemputnya. Dia menyetir dan di sebelahnya Jodha sedang menatap kagum padanya. Kekasihnya itu tetap terilhat segar sedangkan dirinya sudah berantakan penampilannya.

Jalal: “Hmmm... ada apa? Kekasihku kenapa terus memandangku?”

Jodha (sedikit melamun): “Umm... kau masih terlihat rapi! Coba lihat aku, wajahku sudah kusut rasanya!”

Jalal: “Kau tetap terlihat seksi... bahkan aku ingin melahapmu sekarang...”

Jodha: “Hmm... kendalikan pikiranmu, Tuan Presiden... kalau tidak aku akan kabur!”

Jalal: “Aku akan memegangmu kuat-kuat bahkan sebelum kau berniat kabur.”

Jodha: “Kau tahu... aku ingin menciummu... tapi pertama-tama, perhatikan jalan!”

Jalal: “Sesuai permintaanmu, Nona Jodha!”

**************

Mereka sudah sampai di pintu lobi apartemen Jodha. Keduanya turun, dan berdiri di balik mobil untuk menghindari petugas patroli malam. Sambil bergenggaman tangan, mereka saling menatap penuh cinta.

Jalal: “Aku sangat merindukanmu hari ini... aku senang bisa datang tepat waktu...”

Jodha: “Hmm.. aku juga.”

Jodha memajukan tubuhnya untuk memeluk erat Jalal, seakan ingin meleburkan dirinya. Jalal telah menjadi pusat hidupnya, sekarang dia tidak bisa membayangkan sedetikpun tanpa bersama Jalal.

Jodha: “Jalal, aku mencintaimu! Aku mencintaimu sampai mati!”

Jalal: “Aku juga Jodha, semua kata-kata tidak akan mampu menggambarkannya!”

Dengan terpaksa mereka memisahkan diri, menyadari kalau mereka tidak sedang berada di ruangan pribadinya. Jodha tersenyum manis padanya.

Jodha: “Jadi, boleh aku pergi sekarang?”

Jalal: “Tentu, tapi sebelumnya.....”

Jalal menunduk untuk mengecup bibirnya, membuatnya tersipu.

Jodha: “Kenapa kau lakukan itu! Bagaimana kalau ada yang melihat?”

Jalal: “Kau tahu, aku hanya memenuhi permintaanmu saat di dalam mobil tadi... jadi itu bukan salahku.”

Jodha: “Kau ini... sangat manis...  baiklah, aku pergi dulu.”

Jodha berjalan masuk sambil melambai pada Jalal yang membalasnya dengan senyuman lebar. Saat akhirnya dia masuk lift, Jalal mengendarai mobilnya pulang.

Mereka tidak menyadari kalau seseorang memperhatikan apa saja yang mereka lakukan dari arah balkonnya. Apakah ketakutan Jodha yang terbesar akan jadi nyata?

To Be Continued
Precap: “Jalal datang ke rumah Jodha untuk makan malam

FanFiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FF His First Love Chapter 34

8 comments:

  1. lanjut terus
    ciyye kadang jodha nafsu kadang bang kumis main sosor terus

    ReplyDelete
  2. SeMogaa aja OraNg tua Jodha... MeNyetujuii hbuNgaN Jalal daN Jodha... ataukaH Surya yg MelihatNya Di BalkoN...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemm... kira-kira tebakan Mbak Erika bener g ya????

      Delete
  3. Whooooaaahh...jd ingt msa2 pacaran:-)

    ReplyDelete
  4. Spa y yg lht jodha jlal dr balkon????
    Lnjuutttt....mb chus

    ReplyDelete
  5. Ahhh deg deg kan itu siapa yang merhatiin pasti suryaban ya atau ibunya :'

    ReplyDelete
  6. Ehhmmm. . . . Sp itu yg lht????? Suryaban y????? Chusni pnsaran. .

    ReplyDelete
  7. Waduh ketahuan lagi? Dan siapa yang memergoki? Antara ortunya, surya, ma suja?
    Penasaran mbak chus

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.