FF - His First Love Chapter 35 - ChusNiAnTi

FF - His First Love Chapter 35



Written by Samanika
Translate by Tyas Herawati Wardani

“Kencan” Makan malam

Jodha tiba di rumah pada Rabu malam itu. Dia baru saja menyelesaikan setumpuk perkerjaan hari itu dan ingin segera merebahkan dirinya di tempat tidur. Melewatkan waktu bersama Jalal sepertinya hanya angan-angan saja, dia sama sibuknya karena harus mengurus kantor cabang baru di Bandra.

Jodha baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, tepat saat ibunya berteriak, “Jodha! Jodha!”

“Ya, Ibu!”

“Anakku, aku butuh bantuan. Bisa kau ke dapur?”

“Oke...” gadis itu mengertakkan giginya menahan kesal. Sebenarnya dia hanya ingin duduk dan berganti pakaian, tapi perintah ibunya di waktu yang tidak tepat seakan telah memadamkan rencananya.

“Jodha, kau harus membantu ibumu. Cepat!” Dia berkata pada dirinya sendiri.

Meja makan telah ditata dan keempat anggota keluarga sudah berkumpul. Sujamal dan Jodha tidak bisa berhenti saling meyeringai satu sama lain selama menyiapkan makan malam. Mainavati dan Bharmal akhirnya duduk dan keluarga itupun mulai saling bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan hari itu.

Bharmal: “Maina, kupikir kita harus mengundang Tuan Mohammed makan malam dalam waktu dekat.”

Jodha hampir tersedak makanannya sendiri mendengar pernyataan itu sedangkan ibunya hanya menatap ayahnya tak mengerti.

Mainavati: “Hmm..tapi kenapa tiba-tiba?”

Bharmal: “Maina, sebenarnya sudah lama aku ingin melakukannya tapi belum ada waktu disebabkan perjalanan ke Miami dan dia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya. Hanya karena dialah aku menempati jabatan Wakil Presiden”

Jodha: “Iya Ayah, kurasa kita bisa mengundangnya Sabtu ini...”

Mainavati: “Baiklah. Aku juga ingin mengundang Surya makan malam jadi kita akan mengundangnya juga.”

Kemarahan langsung tampak di wajah Bharmal begitu namanya disebut, dia sangat mengerti setiap kali menyebut nama Surya cukup menyakitkan bagi  putrinya. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa istrinya tetap menyambut orang br*ngs*k itu, padahal hal itu selalu saja menyebabkan perdebatan diantara mereka. Tapi Mainavati tidak pernah menyerah, dia ingin Surya dan Jodha bersatu lagi. Status putrinya yang belum menikah selalu merisaukannya dan itulah yang membuatnya ingin cepat-cepat melihat Jodha terikat pada seorang pria. Meskipun itu artinya harus mempersatukannya lagi dengan mantan kekasihnya yang pernah mengkhianatinya, tidak masalah dia memberikan sedikit tekanan. Apa yang pernah dilakukan Surya pada masa lalu sudah tak diingatnya lagi, karena sekarang dia telah menjadi bujangan yang mapan. Dia berulang kali mencoba mempertemukan mereka namun selalu gagal. Makan malam itu sepertinya bisa menjadi kesempatan bagus, Jodha akan merasa lebih santai dan mungkin tertarik untuk mengobrol.

Di lain pihak, ide itu bukan hanya mengecewakan suaminya tapi juga anak-anaknya. Jodha tidak mau Jalal dan Surya bertemu muka, kehadiran Surya bisa memicu kemarahan kekasihnya dan dia tidak mau itu terjadi. Sujamal, di lain pihak, merasa sangat terganggu menjawab pertanyaan-pertanyaan Surya. Terus-menerus dia menanyakan tentang pekerjaan kakaknya, temannya meski mereka sudah bukan apa-apa lagi. Sekarang dia tahu tentang Jalal, dia ingin orang bodoh itu jauh-jauh dari hidup Jodha. Dia kembali melihat senyum Jodha setelah sekian lama, dan pastinya tidak ingin ada orang bodoh egois yang menyakitinya lagi. Mereka masih berkutat dengan pikiran masing-masing, dan Jodha pun masih menunggu jawabannya.

Mainavati: “Baguslah, kurasa itu artinya kalian setuju!”

Bharmal: “Tidak, Maina!”

Mainavati: “Apa masalahnya, suamiku? Aku yakin Tuan Mohammed tidak keberatan ditemani satu orang lagi...”

Bharmal: “Aku sudah tahu kau sering mengundangnya, tanpa pernah memikirkan perasaan Jodha, apa yang dirasakannya setiap kali melihat Surya...kau tahu pasti itu menyakitkan bagi Jodha!”

Mainavati: “Aku tidak melakukan hal yang salah! Dia tetangga kita, dan kita harus bersikap baik pada mereka!”

Bharmal: “Maina, aku sangat paham kalau kau tidak tertarik menjalin hubungan baik dengan tetanggamu! Kau hanya ingin mewujudkan mimpimu, impian melihat putrimu menikah!”

Mainvati: “Apa yang kau maksudkan! Kenapa juga...”

Bharmal: “Jangan menyangkalnya, obrolan di waktu yang tidak tepat, diskusi dan gosip hanya berarti satu hal... tapi aku tidak akan membiarkan makan malam ini berujung pada urusan perjodohan! Aku selalu setuju padamu, tapi tidak kali ini! Kita hanya akan menjamu Tuan Mohammed dan hanya dia!”

Mainavati: “Tapi...”

Bharmal: “Tidak ada tetapi...dia akan datang Sabtu akhir minggu ini! Kau bisa mengatur hari lain utuk bertukar gosip dan mengobrol dengan Surya, tapi pastikan saat kami tidak di rumah. Aku tidak akan membiarkan kehadirannya menghancurkan kebahagiaan putriku!”

Jodha tersenyum bangga pada ayahnya, kata-katanya membuat matanya berkaca-kaca. Ayahnya telah sangat mendukungnya, dia bangkit dan segera memeluk erat ayahnya. “Ayah, aku menyayangimu...terima kasih....”

******************

“Hmm... kenapa kau tidak pernah makan tepat waktu!” gadis itu berteriak di ponselnya.

”Aku tidak punya istri yang memperhatikanku...”

“Jalal...kita masih butuh waktu!” Gadis itu terkikik.

“Waktu! Ya Tuhan! Aku hanya ingin menjadikannya istriku sekarang juga! Dan kemudian, aku ingin menanggalkan seluruh perhiasannya perlahan-lahan dan...”

Gadis itu wajahnya merah padam, namun merasa beruntung karena tidak ada yang melihatnya, “Astaga, dan apa pendapatmu kalau aku bilang ayah mengundangmu makan malam” Pria itu serasa dibuyarkan dari lamunannya, hingga dia memintanya untuk mengulangi perkataannya.

Jodha: “Ayah, telah memutuskan mengundangmu makan malam Sabtu ini. Dia akan bicara langsung padamu besok, tapi kupikir aku harus mengabarimu dulu berjaga-jaga jika seandainya kau kehilangan kata-kata....”

Jalal: “Hmmm...wow. Perlakuan istimewa untuk calon menantunya!”

Jodha: “Dia ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya padamu atas semua yang telah kau lakukan dan...”

Jalal: “Shh...Jodha aku akan datang, bukan karena aku ingin dihormati tapi karena aku menganggap ayahmu setara dan aku juga sangat menghormatinya.”

Kesunyian selama beberapa saat, yang kemudian dibuyarkan oleh dirinya sendiri yang terdengar sangat bersemangat, yang telah mengatur rencana di kepalanya.

Jalal: “Jodha ‘bai sa’, kenapa kau tegang ?”

Jodha: “Aku tidak tahu...aku hanya berharap semuanya lancar. Aku tahu Ayah menghormatimu, tapi aku juga ingin Ibuku punya kesan yang sama padamu...”

Jalal: “Woah, tenanglah! Ini hanya makan malam informal, bukan pertemuan perjodohan!”

Jodha: “Aku tahu, tapi tetap saja...”

Jalal: “Hmm..Jodha ‘bai sa’ ingin mengenalkan Tuan Mohammed sebagai calon suaminya pada keluarganya!”

Jodha: “Jalal, aku ingin...”

Jalal: “Jodha, sayang, jangan khawatir. Aku akan berusaha menjadi tamu terbaik. Makan malam ini bukan pertemuan keluarga yang penting, jadi aku akan menikmatinya! Aku hanya ingin kau merasa lebih baik...”

Jodha: “Hmmm... aku selalu merasa lebih baik setelah berbicara denganmu...omong-omong, dimana kau belajar mengucap ‘bai sa’?”

Jalal: “Aku sering menonton film berlatar Rajasthan, jadi aku mengutipnya dari situ....kalian menggunakan nama panggilan itu di rumah kalian, kan?”

Jodha: “Ya mereka memanggil ‘bai sa’ kepada wanita yang dihormati, tapi calon suami, kau melewatkan satu informasi penting....”

Jalal: “Hmmm...maukah kau berbaik hati memberitahuku?”

Jodha: “Menantu laki-laki disebut ‘jamai-sa’...dan untuk dirimu, kau calon ‘jamai-sa’ yang akan tunduk pada kebaikan Rajput!”

Jalal: “Kalau soal itu, aku sangat mengharapkannya...dan siapa tahu, kita bisa mencuri waktu berdua dan beberapa ciuman...”

Jodha: “Sayang, rumahku tidak sebesar rumahmu! Jika kita berdua menghilang bersamaan lebih dari 10 menit, akan menimbulkan masalah besar!”

Jalal: “Ketegangan saat itu terjadi, tidak ada yang bisa menandinginya!”

Jodha: “Kita tinggalkan saja ketegangan itu lain waktu! Omong-omong, kau tahu kalau Ibu ingin mengundang Surya juga untuk makan malam...tapi Ayah menolaknya dengan tegas.”

Jalal: “Tapi kenapa Bibi ingin mengundangnya secara langsung?”

Jodha: “Aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkannya, mungkin Ibu membayangkan hal gila bahwa aku dan Surya akan bersatu lagi. Tapi apa yang dilakukan Ayahku hari ini menyentuh perasaanku....dia bilang kalau kebahagiaanku lebih penting daripada apapun!”

Jalal: “Jodha, kupikir kau harus memberitahunya tentang kita...”

Jodha: “Kau tahu, aku juga sangat ingin melakukannya, tapi jauh dalam hatiku, aku sangat takut pada reaksinya...aku akan memberitahunya saat kurasa waktunya sudah tepat....”

Jalal: “Tapi sayang, dia sangat memahami dirimu! Tidakkah kau pikir dia akan terluka jika kau tidak memberitahunya?”

Jodha: “Benar, itu sudah pasti. Tapi dia juga belum siap mengetahui siapa pria dalam hidup putrinya. Sekarang aku tahu kalau dia tidak akan mempermasalahkannya maka aku akan memberinya sedikit petunjuk sebelum aku....”

Jalal: “Kurasa...kau benar...lebih baik menunggu...tapi sangat berat menunggu hingga hari Sabtu!”

Jodha: “Tuan Mohammed, kurasa kau harus menenangkan teman baikmu itu karena kau pasti akan sangat membutuhkannya!”

Jalal: “Oh jadi kekasihku sedang menggangguku! Tunggu sampai aku menangkapmu!”

Jodha: “Hanya dalam mimpi!”

Jalal: “Aku masih ingat saat aku bermimpi bertemu denganmu, aku harap kau tahu apa yang kubicarakan!”

Jodha (tersipu): “Oh...itu...aku...”

Jalal: “Lihat, kan. Aku masih bisa membuatmu tak berkutik! Omong-omong, sudah larut dan kau harus istirahat. Selamat malam, sayang, kita akan bertemu besok!”

Jodha: “Selamat malam Jalal, aku mencintaimu!”

Jalal: “Aku juga mencintaimu!”

*****************

Sabtu telah datang dengan cepat. Jalal memenuhi undangan Bharmal dan datang sekitar pukul 8 malam. Dia berusaha tampil sebaik mungkin, tidak mau terlihat terlalu santai tapi juga tidak resmi. Dia merasa tegang, seperti juga Jodha. Sekarang dia tahu kenapa Jodha merasa tegang, memikirkan kesempatan untuk menunjukkan kesan yang baik ternyata sangat mempengaruhi pikirannya. Kegelisahan dan sedikit rasa takut bergejolak dalam dirinya. Dia belum pernah merasakan hal seperti ini bahkan sebelum meeting sekalipun, biasanya dia merasa percaya diri dan penuh keyakinan. Justru, hanya karena makan malam informal ini telah membuatnya berkeringat. Dia mulai menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar jantungnya, sambil memutuskan baju yang akan dikenakannya.

“Jalal anakku,”

Jalal berbalik untuk melihat ibunya menghampirinya sambil membawa kotak yang terbungkus rapat. Senyumnya tidak pernah lepas sejak Jalal memberitahunya tentang acara makan malamnya dengan keluarga Singh. Ibunya menyerahkan kotak itu padanya.

Jalal: “Ibu, apa ini?”

Ibu: “Nak, ini hadiah untuk Jodha. Katakan padanya itu dariku.”

Jalal: “Tapi apa ini?”

Ibu: “Kau mengetahuinya saat dia membukanya...dan kenapa kau belum siap juga? Bukankah kau harus segera pergi?”

Jalal: “Ibu,aku hampir selesai...aku akan berangkat setengah jam lagi.”

**************

“Jodha anakku, rapikan mejanya!” Mainavati berteriak pada putrinya, yang sedang sibuk memilah baju yang akan dipakainya. Setelah perjalanan Miami mereka, Jalal melihatnya hanya saat berpakaian resmi dan dia ingin mengenakan sesuatu yang berbeda. Dia ingin mengenakan baju yang terlihat manis namun sederhana. “Jodha anakku, Jodha!” ibunya berteriak lagi, mengganggunya tanpa henti.

Menyiapkan meja makan adalah hal yang sepele bila dibandingkan dengan memilih baju, “Ibu, sebentar lagi. Aku harus bersiap dulu!” dia menjawabnya dari seberang ruangan, sambil terus membolak-balik isi lemarinya entah untuk yang keberapa kalinya. “Ya! Aku akan memakai yan ini! Pasti akan mengingatkannya pada saat itu!” dia menarik sebuah baju, mengibaskan debu yang tak terlihat. Itu adalah baju saat Jalal pertama kali melihatnya, sebuah Anarkali biru dengan kurta churidar. Dia sangat penasaran akan reaksi Jalal nantinya, dan segera merapikan dandanannya. Dia merias matanya dengan kohl, menambahkan sedikit pemulas. Mematut dirinya di cermin, dia tersenyum, “Dia akan segera datang...Jalalku...”

*******************

“Sepertinya dia sudah sampai...” Mainavati mengumumkan saat mendengar bel pintu berdentang.

“Aku yang buka...” Jodha secepat kilat menyiapkan diri menyambutnya. Dia sangat bahagia, karena akhirnya mereka bisa bertemu.

Pintupun dibuka, kebahagiaan mereka terpancar jelas satu sama lain. Jodha sudah menantinya, seperti pengantin wanita menanti pengantin prianya untuk menjemputnya. Sebenarnya Jodha ingin memeluknya erat, namun keberadaan keluarganya saat itu memperingatkan pikirannya. Keluarganya berada tepat di belakangnya  saat akhirnya dia berhasil menenangkan pikirannya sendiri.

Jodha: “Selamat sore, Pak Presiden. Silakan masuk.”

Bharmal: “Iya Pak, silakan...”

Melepas sepatunya, dia melangkah ke dalam ruang tamu yang cukup luas dan dipersilakan ke arah sofa. Ayah dan putrinya duduk bersamanya, sedang Mainavati bergegas menyiapkan hidangan untuk tamunya

Bharmal: “Aku harap kau tidak terjebak macet...”

Jalal (memandang lurus ke arah Jodha): “Tuan Bharmal, seandainya aku harus terjebak macet oleh ratusan kendaraan sepanjang hari, aku tetap akan datang memnuhi undanganmu. Aku tidak bisa mengecewakanmu...”

Sementara itu, para wanita menghidangkan kudapan untuk tamu mereka, yang sangat mengharapkan ‘khaatirdaari’ dari calon mertuanya.

Jalal: “Ummm...apa ini, Tuan Singh?”

Mainavati: “Nak, ini adalah sirup mawar. Tidakkah kau pernah...”

Jalal: “Belum, tapi aku ingin mencicipinya sekarang...”

Perlahan dia meneguk minumannya, saat sebuah nampan makanan pembuka disajikan. Keluarga itu juga bersama-sama menikmatinya, saat Bharmal dan Jalal membicarakan  beberapa hal yang menarik perhatian mereka.

Jalal: “Tuan Bharmal, kau menonton pertandingan hari ini? India lawan Afrika Selatan?”

Bharmal: “Tidak seluruh pertandingan, tapi aku menontonnya beberapa saat. Tim kita bermain sangat bagus, dan kita juga memenangkannya!”

Jalal: “Ya, aku sepenuhnya setuju! Dan jangan lupa menyebutkan kita menang dengan selisih poin yang jauh yaitu 130!”

Bharmal: “Benar, dan juga di Australia, salah satu tempat paling keras untuk bertanding!”

Jalal: “Aku tidak sabar melihat bagaimana kelanjutan turnamen ini, aku bertaruh semua harapanku untuk kemenangan tim kita!”

Sujamal: “Astaga! Kalian membicarakan cricket tap tidak menanyakan pendapatku!”

Ketiganya terlibat pembicaran seru tentang topik tersebut, sementara Jodha memperhatikan mereka, tidak mampu berhenti tersenyum. Pemandangan yang menyenangkan, ketiga orang terpenting dalam hidupnya sedang mengobrol dengan sangat akrab. Dia sungguh berharap mereka akan tetap seperti itu, setitik air mata meluncur namun cepat-cepat dia mengusapnya.

“Jodha anakku!” ibunya memanggil dari dapur.

Jodha bergegas ke dapur, ibunya terlihat sibuk menata hidangan di atas piring.

Mainavati: “Jodha, tolong ambilkan sarung tangan itu. Aku sudah mencucinya dan meletakkannya di lemari”

Jodha: “Umm..baik”

Jodha berjalan ke kamarnya dan mulai mencari. Dia tidak ingin mengakuinya tapi ibunya benar-benar telah mengganggu kesenangannya, apa perlunya menyimpan barang yang sangat dibutuhkan di dalam lemarinya? Dia langsung lega begitu menemukannya, tapi sebuah suara mengejutkannya. Dia mencari asal suara itu, ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik pinggangnya dari belakang. Pemilik tangan itu menempelkan wajahnya di rambut Jodha menghirup aromanya dalam-dalam.

Jalal: “Hmm...kau tidak tahu berapa lama aku menunggu saat ini...menghirup aroma wangimu...”

Jodha: “Jalal, bagaimana kau bisa ada disini?”

Jalal: “Hmmm...biarkan saja seperti ini sampai malam berakhir”

Jodha: “Ayah dan ibuku bisa masuk kapan saja...dan...”

Jalal: “Apa? Hmm...”

Cepat-cepat Jodha memutar tubuhnya menghadap Jalal , yang terkejut atas tidakannya yang tiba-tiba. Jalal mendekatkan wajahnya dan semakin terpukau. Mereka belum sempat saling memandang selama waktu itu. Sekarang saat ada kesempatan, mereka tidak ingin melewatkannya sedetikpun.

Jalal: “Aku tidak akan pernah bisa melupakan baju yang kau kenakan ini...saat itu pertama kali kita berjumpa di...”

Jodha: “Aku senang kalau kau menyukai kejutanku...bagaimana penampilanku?”

Jalal: “Jodha, kau sangat mengagumkan...tidak ada kata yang bisa mengungkapkannya...”

Jodha: “Hmm...aapa kau berusaha merayuku Tuan Mohammed?”

Jalal: “Untuk apa kulakukan itu? Kurasa sudah cukup sering aku mengatakan betapa seksi dan sensualnya dirimu....lagipula kau berhutang satu ciuman padaku....”

Jodha: “Tuan Jalal, ciuman apa yang kau maksud...”

“Jodha, apa kau sudah menemukannya?” teriak Mainavati.

Jodha: “Oh tidak! Ibuku! Kita harus keluar kalau tidak....”

Jodha berusaha melepaskan dirinya, tapi Jalal malah semakin erat memeluknya. Menekannya ke lemari, dan dia juga semakin menundukkan wajah pada Jodha.

Jodha: “Jalal! Apa yang kaulakukan! Seseorang akan memergoki kita!”

Jalal: “Nona Singh, kita tersembunyi dari pandangan mereka dengan baik, terima kasih pada pintu lemarimu yang terbuka lebar...jadi boleh aku mengunci bibirmu?”

Jodha: “Tidak... kumohon jangan disini! Aku tahu ini mendebarkan tapi tetap saja kita belum siap.”

Jalal: “Aah, rupanya seseorang berbicara mirip seperti aku sekarang...”

Jodha: “Oh...”

Sebelum Jodha sempat membantah lagi, Jalal langsung memagut bibirnya. Jodha tak berdaya dan mulai membalas ciumannya. Pasangan itu memisahkan diri beberapa detik kemudian, meskipun terpaksa.

Jodha: “Jalal, aku harus kesana...”

Jalal: “Kita akan melanjutkannya nanti...”

Jodha: “Iya sayang, pergilah dulu ke meja makan...aku menyusul...”

*************

“Tuan, cicipilah ini....” Bharmal berusaha memastikan tidak ada cela saat menjamu tamunya.

Semua orang duduk mengitari meja makan, sedang pasangan itu duduk tepat berseberangan. Mainavati duduk di sebelah putrinya, namun Jodha tidak menoleh sama sekali. Dia sibuk mencuri pandang pria di depannya, yang ternyata juga sibuk meraba betisnya dengan ujung kakinya. Jalal sangat menikmati kegiatan uniknya di bawah meja dan senang mengetahui Jodha juga menyukainya. Keluarga sang gadis mengelilinginya namun dia sama sekali tidak kuatir, akan tetapi sekilas dia memperhatikan kalau nyonya rumah melemparkan pandangan tidak suka ke arahnya. Mainavati memperhatikan ada rona merah yang terlihat jelas di wajah Jodha, dan tanda-tanda kerlingan nakal juga tampak di matanya. Dia memilih untuk diam, tapi pasti dia akan menanyakan pada Jodha nanti.

Jalal: “Umm...Tuan Bharmal, apa ini?”

Bharmal: “Oh ini ‘gatte ki sabzi’, dan yang di piring itu adalah ‘lauki ke kofte’”

Jalal menikmati hidangannya perlahan dan mencicipi setiap citarasa yang baru dialaminya itu. Dia adalah penyuka masakan daging, tapi dia tidak pernah mengira jika masakan vegetarian bisa terasa sangat enak. Setiap bahannya dimasak dengan sempurna, hidangan Rajasthani sekarang menjadi favoritnya!

Jalal: “Nyonya Singh, masakannya benar-benar lezat...tanganmu penuh keajaiban...”

Mainavati (tersenyum): “Terima kasih banyak, nak. Ambillah lebih banyak lagi, jangan sungkan-sungkan...”

Jalal: “Masing-masing bahannya memiliki rasa yang unik...dan terima kasih banyak karena telah memasaknya sangat...spesial...”

Penekanan pada kata ‘spesial’ cukup memberikan sinyal pada seorang ibu yang mudah curiga, tapi menuduhnya secara langsung tidak akan menghasilkan apa-apa. Malah, hal itu akan mempermalukan suami dan putrinya. Mengikuti saja alur ceritanya adalah satu-satunya cara, meskipun itu tidak sesuai dengan kebiasaannya.

Jodha: “Tuan Presiden, cicipilah ‘paneer sabzi’ ini sedikit. Aku yang membuatnya...”

Jalal: “Bagaimana mungkin aku melewatkannya! Aku pasti menyukainya!”

Makan malam telah usai, Jodha bersama dengan Sujamal membantu ibunya membersihkan meja. Jalal dan Bharmal duduk di sofa menyaksikan berita di televisi, dengan penuh konsentrasi.

Mainavati: “Suja, pergi dan ambilkan cairan pencuci piring dari ruang cuci.”

Begitu putranya berlalu, dia merasa ini kesempatan yang tepat untuk bertanya pada putrinya.
Mainavati: “Jodha, apa yang terjadi di meja makan tadi?”

Jodha: “Apa maksudmu, Ibu?”

Mainavati: “Tadi, saling melirik dan tersenyum kecil. Untuk apa itu?”

Jodha: “Apapun yang kau...”

Mainavati: “Jodha, aku Ibumu. Aku memperhatikan segala yang terjadi di rumah ini, kau sepertinya berusaha menarik perhatiannya!”

Jodha: “Ibu, kau sangat berlebihan. Itu bukan apa-apa! Lihat, Suja datang membawa cairan pencucinya..aku harus membersihkan diri”

****************

“Tuhan, terima kasih aku bisa menjawab meski berbohong! Hampir saja aku menghancurkan diriku dalam masalah besar disana!” Jodha menghela napas, “Tapi aku memang tidak bisa tidak memandangnya, meski secara sembunyi-sembunyi! Kami tidak punya waktu bertemu selain di kantor!” Dia memercikkan air ke wajahnya, tidak menghiraukan make up-nya. Kesadaran menghantamnya, dia tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya lebih lama. Ibunya sudah mulai mempertanyakan kelakuannya, dan segera ayahnya juga akan menemukan sedikit petunjuk! Dia mengeringkan tangannya pada handuk, ketika tiba-tiba sepasang tangan yang besar menangkup pinggangnya dari belakang.

Jodha: “Jalal! Berhentilah melakukan ini! Aku sangat takut, kau tahu!”

Jalal: “Oh, aku minta maaf...kenapa kau kelihatan tegang sekali?”

Jodha: “Ibu...ia curiga...dia bahkan bertanya apa yang terjadi di meja makan tadi...”

Jalal: “Woah! Dia tahu soal meraba betis itu!”

Jodha: “Bukan, dia memperhatikan aku sering melirikmu...dan sepertinya dia tidak suka...”

Jalal: “Oh jadi itu yang kau kuatirkan! Kemarilah...”

Jalal menariknya mendekat dalam dekapannya, membuat Jodha merasa hangat. Dengan mudah dia hanyut dalam pelukannya, terasa sangat nyaman dan memberikan rasa aman. Dia merasa semua kekuatiran dan kegalauannya sirna, hanya Jalal yang bisa membuatnya merasa seperti itu!

Jalal: “‘Paneer’ nya sangat lezat...aku belum pernah merasakan masakan seperti itu sebelumnya...”

Jodha: “Kau menyukai daging, kenapa kau makan ‘paneer’?”

Jalal: “Hmm...Aku akan makan ‘paneer’ jika kau yang masak...”

Jodha: “Astaga! Kau tahu benar cara menghiburku!”

Jalal: “Tentu saja..aku senang menghiburmu, lalu melihat senyum malu-malu di wajahmu...Ya Tuhan! Aku benar-benar lupa!”

Jalal menarik sebuah kotak yang terbungkus rapi dari dalam kantongnya, dan meletakkannya di tangan Jodha.

Jodha: “Hmm...apa ini? Apa kau...”

Jalal: “Ini dari ibuku, dan aku tidak tahu apa isinya....jadi kumohon bukalah sekarang juga...”

Jodha mulai membuka pembungkusnya, perasaan keduanya berdebar. Di balik kertas pembungkusnya ada kotak beludru, yang secepat kilat dibukanya dan isinya membuatnya terpesona. Di dalamnya ada sepasang cincin bermata berlian kecil, dihadiahkan bukan lain oleh calon ibu mertuanya! Jodha merasa tersanjung, namun senyumnya tidak bertahan lama.

Jodha: “Jalal, aku tidak bisa menerimanya...ini sangat mahal”

Jalal: “Kenapa? Ibuku memberikannya dengan penuh cinta...”

Jodha: “Tapi aku tidak bisa mengambil resiko Ibu dan Ayahku mengetahui hal ini...apalagi aku juga tidak bisa memakainya di depan mereka...apa gunanya?”

Jalal: “Simpan saja disitu jika kau mau...aku tidak akan mengambilnya lagi!”

Jodha: “Tapi Jalal...”

Jalal: “Ibuku menanti jawabanmu kau suka atau tidak hadiahnya...dan bisa dipastikan dia akan sedih jika kau menolaknya...jadi simpanlah...”

Jodha: “Oke, hanya demi dirimu! Cincin ini adalah cincin bermata berlian yang tercantik yang pernah kulihat...dan aku berharap bisa menyampaikan rasa terima kasihku langsung padanya...”

Jalal: “Hmm...jadi bisa kita lanjutkan yang tadi?”

Jodha: “Jalal! Apa-apaan kau!”

Jalal: “Boneka cantikku, kau masih belum melihat apa yang mampu kulakukan!”

Jodha: “Benarkah...lakukan saja!”

Menutup pintu rapat-rapat, Jalal melumat bibir Jodha, dan memeluknya semakin erat. Mereka telah bersama hampir sebulan, namun tidak pernah lepas kendali. Jalal mulai berimajinasi apa yang akan terjadi seandainya mereka berakhir dengan bercinta, rasanya, tak terhindarkan, pasti sangat intens. Namun mereka harus berhenti, dia berharap semuanya akan terjadi begitu saatnya tepat, jadi akan lebih terasa menyenangkan bagi mereka berdua.

Jalal: “Hmm..tidakkah menurutmu kita harus segera keluar? Kita sudah menghilang selama beberapa lama...”

Jodha: “Oh tidak! Kau keluar dulu...aku akan menyusul setelahnya...”

***************

“Tuan Bharmal, aku harus segera pulang. Ini sudah larut malam...terima kasih banyak atas hidangan penutupnya...luar biasa...”

Bharmal sepertinya masih ingin lebih lama bersama tamunya, “Tuan, tidak apa-apa, kau bisa tinggal lebih lama...” **Ehmmm... Sabar dulu ya tuan Bharmal, nanti akan kujadikan dia menantumu... hehehe**

Jalal: “Tuan Bharmal, aku yakin kau dan keluargamu pasti sangat lelah sekarang. Dan aku tidak ingin menjadi penyebab ketidaknyamananmu....”

Jalal berdiri, dan mulai memakai sepatunya. Kekasihnya malu-malu memandanginya yang sedang menarik tali sepatunya. Menegakkan posisi tubuhnya, dia memberi salam pada semuanya. “Terima kasih banyak pada kalian semua sudah menerimaku dengan hangat...aku menyukai hidangannya dan semuanya...sehingga aku merasa seperti di rumahku sendiri...Terima kasih...”

Bharmal: “Tuan, tidak perlu berterima kasih...kami senang menjamu anda...dan akan senang sekali mengundang anda lagi lain waktu!”

Jalal tersenyum lebar pada semuanya, dan pada Jodha, tatapan penuh cinta melepas kepergiannya.

Jalal: “Selamat malam, semua. Terima kasih banyak!”

**************

Jodha membolak-balik tubuhnya di atas tempat tidur, tidak bisa tidur. Kekasihnya sudah mengirimkan mimpi indah dan ciuman lewat telepon, tapi dia masih belum bisa memejamkan matanya. Ciuman panjang dan penuh hasrat tadi terus terngiang di benaknya. “Jalal, aku ingin kau bersamaku...di dalam diriku...aku harap hari itu segera tiba, atau kalau tidak gadis Rajput ini akan merayumu!

To Be Continued
Precap: Surya menemui Jodha di kantornya.

FanFiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FF - His First Love Chapter 35

13 comments:

  1. Bisa2nya mrk cari kesempatan dlm kesempitan ,ampyuuunnn dech!!!

    ReplyDelete
  2. wow jodha ... kau bgitu berbeda dsini,, hehehe
    dtunggu lanjutannya usni,, makasih ;)

    ReplyDelete
  3. Gak sabar nunggu lanjutannya....hehehehe...makasih min...

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum. . .
    Hmm, . , gmn y lnjtannya???
    Kpn nikahnya???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaikumsalaam..
      Belum tahu Mbak Sinta, belum masih planning,.. hehehe

      Delete
  5. Wah...seNeNgNya Jalal udah MuLaii braNii di ruMahNya jodha...Jodha puN juga Mulai BraNiii...

    ReplyDelete
  6. Langkah pertama baikin hati calon keluarga..
    tp tetep nga mw rugi mereka..tetep cari2 kesempatan unng nga ketauan..
    makasih mba arum
    ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  7. Wah di sensor ya mba,, padahal pas kissing si jodha gk mau berakhir :D :D
    Untung si jalal masih bisa menahan diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha itu Mbak Damia sudah tahu... xixixi

      Delete
    2. Mba lanjut yg Gift of Love donk,, suka banget yg gk terlalu banyak intrik, maunya happy terus ƗƗɐƗƗɐˆ⌣ˆƗƗɐƗƗɐɐˆ⌣ˆ

      Delete
    3. Masih menunggu dari penulisnya, Mbak Damia...

      Delete
  8. Seru mmg cinta yg sembunyi2 bgt dpt kesempatan tdk akan tetlwtkan, asyiik

    ReplyDelete
  9. Lanjuuut... part 36. Kynya imajinasi aouthor nih tq

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.