FF: His First Love Part 30 Part 2 - ChusNiAnTi

FF: His First Love Part 30 Part 2



Written by Samanika
Translate by Marina Yanik

Jodha sedang memandang keluar supaya tidak menatap ke arah Jalal. Dia masih tidak bisa menghadapi dia; seluruh suasana ini membuat dia semakin canggung. Dan dia tidak ingin ketahuan oleh Jalal lagi saat dia memandanginya. Jalal benar-benar bisa membuatnya meneteskan air liur dan ia berusaha keras untuk tidak menatapnya. Dia akan terlihat bodoh jika ketahuan lagi, jadi akan lebih baik jika ia berusaha untuk mengendalikan dirinya. Hanya tinggal beberapa jam dan dia bisa tidur nyenyak setelahnya.

Selama mereka makan, Jodha menghindar untuk berbicara kepadanya dan hanya menjawab jika ia bertanya sesuatu. Jalal merasa aneh dengan semuanya; dia tidak dapat menebak apa yang menyebabkan perubahan perilakunya. Jodha biasanya banyak bicara dan Jalal menjadi bingung saat dia tiba-tiba menjadi pendiam. Dia ingin tahu apa yang mengganggunya, sehingga ia bisa membantunya entah bagaimana caranya. Tapi meskipun Jalal menanyakan tentang hal itu di setiap kesempatan sepanjang makan malam, Jodha tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan. Dia kemudian menyimpulkan bahwa Jodha mungkin merindukan keluarganya dan tidak ingin memberitahu dia untuk alasan yang hanya diketahui olehnya. Mereka menyelesaikan makan malam dan melangkah keluar dari restoran. “Maukah kau berjalan-jalan di pantai sebelum kita kembali ke kamar?” tanya Jalal.
“Umm.. okay.” jawab Jodha singkat.

Keduanya berjalan, dan Jodha berusaha keras untuk tidak memandangnya. Dia mungkin tampak tenang dan kalem diluarnya, namun didalam hatinya dia terbakar dengan keinginannya. Kehadiran Jalal menarik dirinya seperti magnet, dan dia tidak bisa menolaknya. Setelah keheningan yang panjang, Jalal akhirnya mulai bicara. “Jodha, apakah kau menikmati makan malam tadi?”

Suaranya memecahkan pikiran nakal Jodha. Dia tersipu dan menatap ke arah Jalal yang sedang menunggu jawaban. Dengan ragu-ragu Jodha menjawab, “Umm ... uhh ... ya! Saya menyukai hidangan utama dan makanan penutupnya.”
“Oke, saya senang kalau kau menyukainya. Tapi Jodha, saya telah memperhatikan bahwa sejak saya kembali dari konferensi, kau terlihat aneh.”ujar Jalal.

Jodha merasa malu! Dia tidak pernah berpikir bahwa Jalal akan menyadari keanehan perilakunya. Dia sama sekali tidak akan bercerita tentang apa yang dia temukan pada saat bekerja di laptopnya. Juga dia tidak akan mengatakan kepadanya bahwa setelah membaca tentang fantasi erotis Jalal ia merasa gelisah. Tapi dia tidak bisa terus diam; ia harus menjawabnya. Setelah memikirkan apa yang harus dikatakan, dia akhirnya bicara.
Dengan sedikit tersipu Jodha berkata, “Iya Bapak Presiden, saya hanya merasa sedikit gugup. Saya kira ini karena cuaca.”
Jalal tertawa “Katakan hal yang masuk akal, Jodha! Kita mengalami cuaca yang sama di Mumbai! Bagaimana cuacanya bisa tidak nyaman untukmu?”
Jodha terkejut “Yah ... umm ... eh ... Saya tidak tahu! Saya hanya merasa tidak nyaman sejak kita tiba di sini!”
“Kau tahu mengapa kau merasa seperti itu?” tanya Jalal.
Jodha balik bertanya, “Umm ... mengapa?”

Jalal menghentikan langkahnya. Dia memeluknya di bahu dan menurunkan wajahnya ke arah telinganya. Jodha bisa merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya, karena napasnya yang hangat mengenai telinganya. Jalal menyeringai saat merasakan rambut Jodha yang lembut bergesekan dengan wajahnya.
Jalal (dengan nada serak): “Karena kau tidak bisa berhenti memikirkan insiden di kolam renang. Tujuanku adalah untuk mengejutkanmu dan aku rasa hal tersebut membekas di hatimu lebih lama dari yang kuharapkan. Dan jangan menyangkalnya; Aku menyadari saat kau sedang melirikku juga. Belum lagi, kau tampak sangat memukau dan cantik. Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk memanggilmu ‘My Hottie’.”

Pipi Jodha sedikit merona saat mendengar kalimat terakhirnya. Jalal menyeringai dan menegakkan tubuhnya untuk melihat reaksinya. Jodha tidak bisa menatapnya. Membuat Jalal ingin menggodanya lebih lanjut.
Jalal (dengan kerlingan nakalnya) “Kya hua, Jodha? Bukankah kau suka nama panggilanku untukmu?”
Jodha merasa sangat bingung, “Bapak Presiden, saya pikir kita harus kembali ke kamar sekarang. Saya merasa benar-benar lelah dan perlu bangun pagi-pagi besok.”
“Oh baiklah, mari kita kembali ke hotel.”

Mereka sampai di pintu masuk; Jodha menunggu Jalal membukakan pintu. Mereka segera memasuki ruangan dan Jalal duduk di sofa. Dia menyalakan TV dan Jodha langsung menuju ke kamarnya. “Selamat malam, Bapak Presiden.” Ucap Jodha.
“Selamat malam, Jodha.”

Jodha mengempaskan dirinya di tempat tidur. Dia merasa ketegangan mental yang tinggi hari ini dan ingin beristirahat. Dia menutup matanya dan mencoba melupakan semua yang telah terjadi. Namun, tidur tampaknya enggan mendekatinya malam ini. Sistem AC sentral bekerja dengan baik namun dia merasa panas; dia bisa merasakan keringat menetes ke bawah tubuhnya. Detak jantungnya meningkat dan napasnya menjadi berat saat ia terus mencoba bernapas normal. Dia menyeka keringat di lehernya dengan tangannya. Dia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dia ingin Jalal tahu tentang apa yang ia rasakan; dan ia tidak malu dengan keinginannya itu. Jodha terus berkitat dengan pemikirannya, hingga entah kapan tidur menghampirinya.

Sinar matahari pagi memasuki ruangan dan mengenai wajah Jodha. Dia terbangun tiba-tiba karena terkejut. Jam menunjukkan pukul 06:00. Dia turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Dia mulai menyikat gigi, dan kembali memikirkan isi jurnal Jalal. Dia akhirnya menerima kenyataan bahwa dia menginginkan Jalal, dia ingin menjadi lebih dekat dengannya. Dia tersenyum sendiri, karena akhirnya ia menerima dirinya sendiri. Dia adalah seorang wanita yang menginginkan seorang pria, dan tidak malu karenanya! “Apakah ini berarti bahwa aku mencintainya? Tidak, hanya karena aku menginginkannya, bukan berarti aku mencintainya! Tapi, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya ketika Adham dan Benazir menipunya dan ketika Adham mencoba untuk menyakitiku, dia menyelamatkanku! Aku kemudian menghormatinya dan aku menyadari kalau aku tertarik padanya! Tapi, banyak hal yang berubah. Aku tidak pernah menyadari bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya! Dan bahkan sekarang pun, dia tidak pernah mengambil keuntungan yang tidak semestinya dariku! Apakah ini mengapa ia telah menjadi begitu penting bagiku, dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya? Apakah ini adalah cinta; hal yang selalu membuat Ruqaiya menggodaku? Bukankah cinta adalah ketika kau terus menerus peduli tentang orang lain dan bahwa Anda tidak tahan jika mereka tersakiti? Jika itu cinta, maka ya, aku mencintai Bapak Presiden! Dulu aku tidak siap untuk mengakuinya, tapi sekarang aku siap! Tapi apakah dia merasakan hal yang sama denganku? Haruskah aku mengatakan padanya bagaimana perasaanku? Aku rasa aku harus menunggu, tapi selama ini ia selalu mengodaku, dia selalu peduli padaku, apakah artinya dia merasakan hal yang sama? Aku tidak akan pernah tahu jika aku tidak mencoba! Aku harus mengatakan padanya bagaimana perasaanku!”

Dia cepat-cepat menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan berlari ke ruang tamu, namun Jalal tidak tampak ada di situ. Dia dengan cepat berjalan ke kamarnya dan mengetuk. Jalal sudah bangun.
Jodha: “Bapak Presiden, apakah saya boleh masuk?”
Jalal: “Ya, Jodha.”

Dia membuka pintu, dan melihat Jalal duduk di tempat tidur. Dia menggosok matanya kuat-kuat. Dia juga tidak mengganti bajunya sebelum tidur. Setelah Jalal kembali ke kamarnya tadi malam, ia harus menerima panggilan telepon penting. Dia begitu lelah setelah itu, dan tidak mau repot-repot untuk mengganti bajunya dan pergi tidur begitu saja.
Jodha: “Selamat pagi, Bapak Presiden.”
Jalal: “Selamat pagi, Jodha. Biarkan aku menyegarkan diriku dulu, kau tunggulah sebentar di sini.”

Jalal menuju ke kamar mandi, dan Jodha duduk di kursi meja rias. Dia merasa akan meledak, ia memiliki begitu banyak hal yang ingin diberitahukan pada Jalal! Dia ingin mencurahkan isi hatinya kepada Jalal dan mengatakan kepadanya bahwa ia mencintainya dan itu adalah perasaan terbaik di dunia! Jalal menggosok gigi dan keluar. Jodha memberinya senyum manis, dan Jalal duduk di tempat tidur. Jodha bangun dari kursi yang didudukinya, dan duduk di tempat tidur. Dia menatap Jalal dengan penuh cinta dan Jalal menatap kembali ke mata cokelatnya.
Jodha: “Bapak Presiden, saya harus memberitahu Anda sesuatu.”
Jalal (tersenyum): “Hmmm... katakan padaku.”
Jodha (memegang tangannya): “Tolong jangan marah tapi ... ketika Anda meminjamkan laptop Anda kemarin, saya tidak sengaja membuka jurnal online Anda dan ... saya membaca semuanya.”
Jalal (bingung): “Ya Khuda! Kau membaca semuanya! (ragu-ragu) A... A... Aku sangat ... sangat menyesal Jodha. Kebodohanku karena sudah menaruhnya di dekstop! Aku tahu hal tersebut terlihat sangat buruk dan kau pasti benar-benar marah padaku. Tapi aku sangat menyes...”

Jodha meletakkan tangannya di mulutnya dan tersenyum. Jalal bingung melihat reaksinya, ia pikir Jodha akan membencinya dan tidak mau melihatnya lagi.
Jodha: “Tolong jangan mengatakan apa-apa! Saya tidak marah dengan Anda, Pak Presiden! Anda hanya menulis apa yang Anda lihat dan selain itu buku harian pribadi Anda. Merupakan kesalahan saya yang sudah membacanya, meskipun itu tidak sengaja. Tolong maafkan saya kalau bisa. Tapi di antara semua yang terjadi, saya menyadari sesuatu yang sangat penting. Ketika saya membaca jurnal, saya terkejut dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Pikiran saya terus berputar.”

Jalal perlahan memindahkan tangannya dari mulutnya.
Jalal: “Jodha, saya tidak keberatan kau sudah membaca jurnal itu. Satu-satunya kekhawatiranku adalah ...”
Jodha: “Bapak Presiden, tolong! Saya tidak mau mengakui bahwa ... membaca tentang impian Anda telah membuat saya berpikir ulang tentang Anda. Saya mulai melihat Anda tidak sebagai bos atau teman tapi sebagai laki-laki, sebagai seorang kekasih. Namun, saya masih tidak mau menerimanya. Tapi ada sesuatu yang terjadi semalam dan mengubah semuanya.”
Jalal: “Lalu?”
Jodha: “Saya kembali ke kamar saya tadi malam, dengan perasaan tidak menentu. Saya sangat gelisah tapi akhirnya tertidur. Namun, alam bawah sadar saya ternyata masih berpikir! Alam bawah sadar saya menunjukkan sesuatu dan membuat saya menyadari bahwa saya menginginkan anda, Bapak Presiden! Dan saya tidak malu untuk mengakuinya! Dan juga, meskipun selama ini anda mempunyai fantasi seperti itu terhadap saya, tapi Anda tidak pernah mencoba sesuatu yang tak diinginkan atau tidak pernah mencoba untuk mengambil keuntungan dari saya! Bahkan sekarang, kita tinggal di ruangan yang sama namun Anda tidak melakukan apa-apa! Saya sangat berterima kasih kepada Anda untuk itu.”
Jalal: “Jodha, apakah kau baik-baik saja? Apakah semuanya baik-baik saja?”
Jodha: “Saya menyadari bahwa saya tidak bisa melihat Anda sedih! Hal itu menghancurkan hati saya! Saya juga tidak pernah bisa bahagia jika Anda tidak bahagia! Saya senang melihat Anda tersenyum, itu membuat Anda terlihat damai! Ketika saya kembali ke rumah setiap malam, saya tidak sabar untuk melihat Anda keesokan harinya! Saya suka perhatian yang anda tunjukkan pada saya, itu membuat saya merasa begitu istimewa! Masalahnya adalah Bapak Presiden, alam bawah sadar saya membuat saya menyadari bahwa ...”
Jalal menempatkan telunjuknya di bibir Jodha, “Shhh!” Perlahan-lahan Jalal menarik tangannya. Jodha merona dan menghindari tatapannya. Jalal meletakkan tangannya di dagunya dan membuat Jodha melihat langsung kepadanya. “Kau sudah berbicara, sekarang giliranku untuk bicara! Kau tahu, aku bahkan tidak bisa membayangkan sedetik pun tanpamu! Senyummu mencerahkan hidupku! Aku benar-benar marah ketika Adham mencoba untuk menyakitimu! Aku bisa membunuhnya saat itu juga! Aku tidak bisa melihat air mata di matamu, hal itu memberikan rasa sakit yang amat sangat dalam hatiku! Jodha, kau adalah orang yang paling penting untukku. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu! (menempelkan tangannya di pipinya) Jodha, aku mencintaimu! Aku mencintaimu lebih dari hidupku! Dan kehidupanku tidak akan lengkap dan sempurna tanpamu!”
Jodha: “Bapak Presiden, aku juga mencintaimu!”

Keduanya kemudian berpelukan erat. Jalal membungkus tubuhnya dengan tangannya, membuatnya menjadi bagian dari dirinya. Saat itu merupakan saat yang sangat bahagia dan emosional bagi mereka berdua, mereka saling mencintai satu sama lain! Air mata jatuh dari mata Jodha itu, JALAL ADALAH CINTA PERTAMANYA! Mereka saling melepaskan pelukan. Jalal melihat air mata di matanya.
Jalal (menyeka air mata nya): “Arre, mengapa engkau menangis?”
Jodha: “Hanya... Saya sangat takut mengatakan ini kepada Anda, Bapak Presiden dan sekarang setelah saya mengatakan semuanya, saya tidak bisa menahan air mata saya.”
Jalal: “Stop! Kau harus berhenti memanggilku seperti itu sekarang!”
Jodha: “Ada apa Bapak Presiden?”
Jalal: “Jangan memanggilku Bapak Presiden mulai sekarang! (meletakkan tangannya di pipinya) Jodha, kau adalah cintaku. Dan Bapak Presiden terdengar sangat formal. Aku akan sangat senang jika kau memanggilku Jalal. Jalalmu.”
Jodha (tersenyum): “Umm ... Jalalku?”
Jalal: “Ya, aku adalah Jalalmu!”
Jodha: “Dan aku adalah  Jodhamu!”

Jalal tersenyum dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Dia memeluknya dan menatap mata cokelatnya yang indah. Dia benar-benar cantik, sama seperti malaikat. Jodha menatapnya dengan penuh cinta, dengan bibir yang sedikit mengerucut. Dia menatap bibirnya dan sangat tergoda untuk menciumnya. Jantungnya berdebar-debar, bibirnya tampak kemerahan dan segar. Dia tidak sabar untuk mencicipi dan merasakannya. Menutup matanya, ia menggerakan wajahnya ke depan dengan bibir yang sedikit mengerucut. Jodha terlalu lambat menutup matanya dan Jalal menyatukan bibir mereka. Bibir Jalal terasa hangat dan menenangkan, sama seperti yang dibayangkannya. Membuatnya merasa aman. Di sisi lain, Jalal terkejut, bibirnya terasa lembut dan lezat.

Setelah berciuman selama beberapa saat, Jalal menarik diri darinya, sedikit terengah-engah. Jodha merasakan sensasi kesemutan di bibirnya, pipinya merah. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya! Ini adalah perasaan yang baru untuknya! Jalal memberikannya tatapan nakal, dan Jodha berpaling karena malu. Jalal memegang bahunya dan menatap matanya.
Jalal: “Jodha, cintaku, malaikatku dan my Hottie.”
Dia mengatakan kata terakhir dengan nada menggoda. Jodha jelas terkejut.
Jodha (memerah): “Jalal, yang lainnya aku mengerti. Tapi apa itu Hottie? Kau juga memanggilku begitu kemarin.”

Jalal memeluknya dan menariknya lebih dekat.
Jalal: “Apakah kau ingat saat pertama kali kita bertemu?”
Jodha: “Oh ya, bagaimana aku bisa lupa pada pesta itu!
Jalal: “Ya, aku telah membuat julukan itu untukmu sejak saat itu. Setiap kali aku memikirkanmu, aku memikirkanmu sebagai my Hottie.
Jodha (terkejut): “Apakah aku terlihat seksi saat mengenakan Anarkali kurta churidar?”
Jalal: “Yup, kau terlihat menggairahkan hari itu! aku tertarik padamu sejak saat itu! Tapi kau menyakiti egoku dan aku memutuskan untuk membuat hidupmu seperti di neraka. Aku berusaha sangat keras, tetapi kau selalu berhasil menyelesaikan semua tugas yang kuberikan, membuatku sangat terkesan. Di antara semua hal tersebut, aku tidak sadar kalau aku sudah jatuh cinta padamu! Aku benar-benar terpukul saat  kau sakit demam dan aku bergegas pergi dari kantor untuk bertemu denganmu! Aku tidak bisa melihat kau terluka!”

Jodha pindah duduk di sampingnya. Jalal melingkarkan lengannya dan dia menyandarkan kepalanya di bahunya.
Jodha: “Jika kau menyadari bahwa kau mencintaiku jauh sebelum ini, maka mengapa kau tidak mengatakan apa-apa?”
Jalal: “Karena aku takut; takut jika aku mencurahkan isi hatiku kepadamu, kau akan lari! Aku tidak ingin kehilangan persahabatan yang sudah terjalin diantara kita! Jadi, aku menyimpan perasaanku sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu. Dan aku pikir saat itu sudah tiba!”
Jodha: “Oh, sekarang aku mengerti. Tapi Jalal, aku tidak bisa menyimpan hal seperti ini dalam hatiku untuk waktu yang lama! Itulah sebabnya aku datang dan mengakui perasaanku padamu!”
Jalal (mencium dahinya): “Aww ... malaikatku! Kau begitu lugu!”

Tiba-tiba, suara alarm di ponsel Jodha menyadarkan Jodha.  “Oh Tuhan! Sekarang sudah pukul 9.30! Kita harus berada di sana dalam satu jam! Ayo bergegas! Kita harus pergi!”
Kata 9.30 berdering di telinga Jalal itu seperti alarm. Dia segera melompat dari tempat tidur. “Oh crap! Ayo kita bergegas!”

Jalal bergegas mandi dengan cepat dan mengenakan setelan jasnya. Dia memakai gel di rambutnya, disemprotkan cologne favoritnya dan memakai sepatunya.

Jodha juga mandi dengan cepat dan mengenakan rok formalnya dengan kemeja. Dia mengenakan kajal di matanya dan memoleskan lipgloss ke bibirnya. Dia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah botol parfum. “Aku akan memakai parfum ini hari ini! Aku tidak tahu kalau ternyata aromanya akan bertahan lama! Dan Jalal juga menyukainya.” Ucap Jodha sambil menyemprotnya ke pakaian dan di lehernya. Setelah memakai sepatu flatnya, ia pergi ke ruang tamu.

Jalal keluar dari kamarnya dan mereka meninggalkan ruangan, saling bergandengan tangan. Mereka duduk di taksi prabayar yang telah dipanggil. Sopir menjalankan taksinya meninggalkan hotel. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Jodha menggenggam tangannya dan meletakkan kepalanya di bahunya. Jalal melakukan hal yang sama dan mereka berdua merasa damai satu sama lain, dan sopir taksi membawa mereka ke tujuan mereka.

To Be Continued

FanFiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FF: His First Love Part 30 Part 2

13 comments:

  1. Akhrnya penantian yg panjang n lama berujung manis, selamat !!! D tunggu traktirannya xoxoxo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunda Riza,, maunya... Ini aja authornya g dapet apa-apa,, hehehe

      Delete
    2. tuch uda dapet ucapan terimakasih dr jalal ama jodha ,,,hahaha

      Delete
  2. Asyeeekkk...akhirnya mimpi Mr. Dreamer jadi nyata, kira2 sekarang ganti nama apa buatnya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemmm... apa ya Bunda Ira?? Sepertinya kita harus persiapkan nama panggilan untuk Jodha, deh... xixixixi

      Delete
  3. Jalal kalah macho y ama jodha,,masa duluan jodha yg blng :D ....
    Dtunggu lanjutannya usni,makasih ;)

    ReplyDelete
  4. Akhirnya kesampaian jg seperti gunung berapi mengeluarkan larva, he he he

    ReplyDelete
  5. Emm,,,ehhh,,,jodha mengakui perasaannya n menyatakan cinta duluan,,,aheemmm...akhirnya seneng saya arum,,,heheheee

    ReplyDelete
  6. Akhirnya. . . . Da ngguin lm bgt bwt pengakuan ne. . . Tp jodha dluan yg ngku. . .
    Semangat chusni. . !!!

    ReplyDelete
  7. Akhirnya yang di tunggu2 hadir juga
    Meskipun jodha dulu yang menyatakan
    Semangat ya mbak chus,,,
    Tak tunggu kelanjutannya sampai lengkap

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.