FF: Love From The Past Part 35 - ChusNiAnTi

FF: Love From The Past Part 35




“JALALLLLLL.......”

“JODHAAAAAAA,” teriak Jalal ketika melihat dua orang berpakaian serba hitam membawa paksa Jodha masuk ke dalam mobil.

Melihat Jodha yang diculik, Jalal langsung berlari menuju parkiran dimana mobilnya berada. Namun, disaat akan menuju kesana, dia berpapasan dengan Mirza yang sedang menuju ke lobi kantor. Melihat kakaknya yang berlari terburu-buru, dia langsung menyambar lengannya Jalal.

“Ada apa, Kak? kenapa kau lari terburu-buru seperti itu?!” selidik Mirza.

“Seseorang telah menculik Jodha!!, aku harus segera menolongnya!!,” jawab Jalal khawatir dan hendak pergi menuju parkiran.

Wajah Mirza langsung tegang dan kaget mendengar perkataan Jalal dan dia pun ikut berlari mengejar kakaknya yang sedang menuju parkiran.

“Aku ikut, Kak,” ucap Mirza sambil ikutan berlari mengejar kakaknya.

Tanpa menunggu perkataan apapun dari Jalal, Mirza langsung ikut masuk ke dalam Audi hitamnya Jalal dan mereka pun langsung melesat mengejar van hitam itu.

Setelah menculik Jodha, van hitam Chrysler itu langsung melaju kencang dan menabrak apapun yang ada di depannya. Dengan kecepatan kencang, van itu berusaha menabrak sekuriti yang mencoba menghalanginya, namun para sekuriti itu berhasil menghindar. Bukannya memperlambat lajunya, Chrysler itu malah mempercepat lajunya dan langsung menabrak automatic barrier and parking portal gates (palang parkir otomatis) lalu van hitam Chrysler itu pun berhasil kabur dari sana. Setelah berhasil membawa paksa Jodha ke dalam van, wajahnya langsung dibekap dengan sapu tangan yang sudah dituangkan Kloroform sehingga Jodha tak sadarkan diri.

Jalal melajukan Audi hitamnya secepat kilat untuk mengejar van hitam Chrysler itu. Dia mencatat nomor polisi van itu dan menyuruh Mirza untuk menghubungi Atgha khan dan memintanya untuk menghubungi Rohit dan Ins. Vijay Kumar untuk membantu pengejaran van hitam tersebut. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Audi hitam Jalal dengan van hitam tersebut di jalan raya kota Delhi yang cukup ramai.

Jalal segera memacu Audi TT 2.0 T Quattro miliknya, berusaha mengejar van hitam yang melaju kencang didepannya karena jalanan kota Delhi yang cukup ramai membuat Jalal sedikit kewalahan untuk mengejar van hitam tersebut. Saat ia menyetir dengan gerakkan zig zag terdengah bunyi klakson yang nyaring dan panjang dari pengemudi lain. Mereka merasa terganggu akibat aksi Jalal. Jarak van hitam tersebut cukup jauh dari mobilnya, tapi saat dijalan lurus dan sedikit lengang Jalal hampir berhasil mendekati van hitam Chrysler itu. Jalal menekan pedal gas dengan dalam untuk menambah kecepatan sehingga memperpendek jarak dengan van hitam tersebut. Si pengemudi van hitam yang terkejut reflek menaikkan laju mobilnya lagi untuk menjauh dari Jalal. Kedua mobil itu kini sudah beradu kecepatan bahkan posisi mobil Jalal sudah hampir sejajar dengan mobil van hitam.

“Ternyata dia hebat juga,” geram si pengemudi van hitam Chrysler itu yang tidak lain adalah Ruqaiyah karena terus dikejar oleh Jalal. Ia terbelalak saat melirik ke kaca spion, mobil Jalal yang sudah di belakangnya berani beradu kejar disaat jalanan hampir memasuki tikungan.

Si pengemudi van hitam Chrysler tidak menurunkan kecepatannya ketika hampir memasuki tikungan tajam di depannya. Begitupun dengan Jalal, ia sedikitpun tidak berniat menurunkan kecepatan. Sangat berbahaya memang, tapi demi menyelamatkan Jodha ditepisnya semua perasaan takut dan ngeri. Kedua mobil itu sama-sama tidak ada yang mau mengalah dengan tidak menurunkan kecepatan disaat hampir memasuki tikungan.

“Bagaimana bisa!” seru si pengemudi van hitam, tidak terima begitu melihat Audi TT 2.0 T Quattro Jalal berhasil meluncur mendahuluinya tepat saat akan masuk tikungan.

Dengan kecepatan hampir 100 km/jam, Jalal melesat untuk masuk tikungan dengan tetap menjaga ketenangannya dia mengangkat pedal gas saat kecepatan tinggi dilanjutkan kontrol stir tanpa kesalahan untuk membelok mulus melesat membuat sedikit jarak dengan mobil van hitam Chrysler itu. Aksi yang barusan dilakukan oleh Jalal tadi akan membuat mata yang melihatnya terperangah ngeri.

“Sekarang saatnya untuk melakukan blokade,” desis Jalal sambil menyeringai.

Tapi seringaiannya seketika menghilang ketika melihat van hitam mulai merapatkan jarak untuk menyalipnya. Si pengemudi van hitam membanting stir kekanan dan menambah penekanan pada pedal gas. Hal itu tak disangka sama sekali oleh Jalal dan akhirnya van hitam itu berhasil menyalipnya. Aksi kejar-kejaran kembali terjadi saat di jalan lurus. Kali ini mobil jalal kembali unggul, ternyata jalanan itu sudah menuju ke pusat kota Gurgaon dan kondisi jalanan disana mempunyai banyak tikungan.

Jalal bergerak cepat dengan menutup celah pergerakan van hitam Chrysler itu dengan melakukan sliding sebelum memasuki tikungan. Saat akan melakukan tikungan dengan posisi mobil yang sejajar, si pengemudi van membuat gerakan membanting stir ke kanan sehingga menabrak bagian kiri mobil Jalal yg membuat Jalal hilang kendali mobilnya.

Tapi tidak sampai disitu, belum juga Jalal bisa mengatur deru nafasnya akibat benturan tadi. Pemuda itu sudah dikejutkan dengan posisi mobil van hitam yang sudah bergerak untuk menyalip lagi.

“Sial, ternyata belum selesai!” ketegangan mulai menjalar kembali dalam tubuh Jalal.

Mirza yang sedari tadi bersama kakak, hanya bisa menahan nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat aksi kakaknya. Selama ini, dia tidak pernah melihat kakaknya menyetir mobil seperti ini. Jantungnya serasa mau copot selama aksi kejar-kejaran ini.

“Kak, are you mind?!! baru kali ini, aku melihatmu menyetir seperti orang gila! Memangnya siapa, kak yang berani menculik Jodha?!” tanya Mirza yang sedari tadi sport jantung.

“Ruq yang menculik Jodha dan sekarang sebaiknya kau diam saja karena aku sedang konsentrasi untuk mengejar Chrysler itu!” perintah Jalal tegas dengan masih sibuk mengejar van hitam itu.

Mirza bergumam dalam hati, “Ruq yang menculik Jodha? Tapi kenapa dan untuk apa?!” dan sekarang Mirza hanya bisa mengelus dada melihat aksi kakaknya yang masih berlanjut.

Van hitam Chrysler itu berhasil menyalip Audi TT 2.0 T Quattro milik Jalal dan ketika Audi hitam itu melaju mendekati mobil di depannya, tiba-tiba dari arah kanan ada truk kontainer yang melintas sehingga membuat Jalal harus melakukan rem mendadak dan membuat penumpangnya condong ke depan membentur dashboard dan membuat Jalal mengumpat.

“Damn...!!! C'mon, c'mon...shi***t!” umpatnya tak sabaran sambil memukul kasar tangannya ke stir kemudi.

Setelah truk kontainer itu selesai melintas di depan mobil Jalal. Audi hitam itu kembali melesat dengan kencang namun naas, van hitam Chrysler itu sudah melaju sangat kencang dan Jalal kebingungan ke arah mana untuk mengejarnya dan akhirnya Jalal kehilangan jejaknya.

Jalal menghentikan laju Audi TT 2.0 T Quattro miliknya. Jalal kembali memukulkan tangannya ke arah stir kemudi lalu dia menundukkan kepalanya disana dan raut wajahnya berubah menjadi kesal, marah, cemas, sedih dan bingung karena kehilangan jejak van hitam Chrysler itu.

“Sayang, aku pasti akan menyelamatkanmu!,” ucapnya sedih.

Mirza yang melihatnya kakak seperti itu, mencoba menenangkannya, “sabar, kak. Kita pasti akan menemukannya.”

Jalal mengangkat kepalanya lalu menyuruh Mirza untuk menghubungi pamannya Atgha khan dan Ins. Vijay Kumar, sedangkan dia menelepon Rohit.

Jalal mengambil ponselnya dan mencari kontak nama Rohit lalu menekan dial. Setelah terdengar teleponnya diangkat, Jalal langsung berbicara.

“Halo...Rohit, dimana posisimu sekarang?, aku kehilangan jejak Chrysler itu. Saat ini aku berada di depan Trident Hotel, lokasinya adalah
#443, Delhi Jaipur Road, Near Cyber City Metro Station, Phase V, Udyog Vihar, Gurgaon.” ucap Jalal sambil mengusap-usap rambut belakangnya.

Setelah menelepon Rohit, Jalal keluar dari mobilnya untuk menghirup udara segar dan pikiran tak tenang memikirkan keselamatan Jodha. Begitu pula Mirza setelah menelepon pamannya dan Ins. Vijay, dia juga keluar dari mobil kakaknya dan menunggu ketiga orang yang mereka telepon. Sekitar 20 menit menunggu, mobil Rohit yang terlebih dahulu tiba. Dia keluar dari mobilnya dan menghampiri Jalal. Tak lama kemudian datang Atgha khan dan Ins. Vijay beserta beberapa anak buahnya.

Mereka menanyakan bagaimana van hitam Chrysler itu bisa lolos dan sekarang mereka berdiskusi mencari cara untuk menemukan Jodha. Tiba-tiba saja Rohit teringat sesuatu.

“Jalal, apakah ponsel Jodha masih aktif?” selidik Rohit.

“Aku tidak tahu Rohit apakah sekarang masih aktif atau tidak. Kira-kira 1 jam yang lalu, kami masih saling menelepon. Sebentar aku coba...” jawab Jalal sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jodha.

Jalal mencari nama Jodha di panggilan terakhirnya lalu meneleponnya dan ternyata ponselnya Jodha masih aktif dan Rohit meminta Jalal untuk terus menghubunginya sampai sambungan telepon itu terputus dengan sendirinya. Rohit mengeluarkan alatnya yang bernama GPS tracker dan mencari keberadaan Jodha dengan melacak sinyal ponsel Jodha. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya, telah diketahui lokasi dimana Jodha berada dan tanpa berlama-lama lagi mereka segera menuju ke lokasi.

“Sayang, tunggu aku. Aku akan menyelamatkanmu!,” gumam Jalal dalam hati.

Wajahnya menampakkan sedikit kebahagiaan setelah mengetahui ada secercah harapan, Jodha akan ditemukan. Jalal pun melajukan Audi TT 2.0 T Quattronya secepat kilat.

***************

Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran Audinya Jalal. Van hitam Chrsyler itupun sampai di sebuah gudang tua bekas pabrik yang sudah tidak terpakai atau terbengkalai. Ruq memarkirkan van hitamnya di samping gudang itu dan dia keluar dari van. Seorang pria berpakaian serba hitam itu segera keluar dari van dan pria yang satunya lagi mulai mengangkat tubuh Jodha yang tidak sadarkan diri. Pria yang sudah keluar dari van itu membantu temannya dan mereka berdua mengangkat tubuh Jodha ke kursi yang ada di tengah-tengah bagian dalam gedung itu. Ruq memerintahkan kepada dua pria itu untuk mengikat tangan dan kaki Jodha ke kursi serta menutup mulutnya dengan lakban. Lalu menyuruh dua pria itu untuk meninggalkan mereka berdua setelah Ruq memberikan bayaran atas jasa mereka. Cahaya yang ada di ruangan itu hanya ada dimana Jodha berada. Disekitarnya nampak gelap.

Tiba-tiba ponsel Jodha berbunyi kembali, Ruq mengambilnya dari tas Jodha dan melihat siapa yang meneleponnya. Begitu dia tahu siapa yang meneleponnya, Ruq mengangkat teleponnya.

“Hallo, Jalal sayang. Segeralah datang kesini untuk menolong calon istrimu.... Ha... ha... hahaha,” ucap Ruq sambil tertawa dan menjatuhkan ponsel itu ke lantai lalu menginjaknya dan ponsel itupun hancur.

Jalal yang mendengar suara Ruq mengangkat telepon Jodha membuat pikirannya semakin kalut dan geram, dia sangat takut kalau Ruq akan mencelakakan Jodha. Dia semakin melajukan mobilnya menuju lokasi dimana Jodha berada.

Mendengar suara Ruq yang tertawa terbahak-bahak, Jodha mulai sadar. Efek kloroformnya sudah habis. Perlahan dia membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan matanya. Samar-samar dia melihat sosok yang ada dihadapannya dan matanya terasa silau karena cahaya ditempatnya berada sangat terang. Ketika dia sudah bisa melihat siapa sosok di hadapannya. Jodha langsung kaget dan dia merasakan ikatan yang sangat kuat di tangan dan kakinya serta dimulutnya.

“Ruq...?!!” batin Jodha sambil berusaha bergerak untuk melepaskan ikatan itu namun yang ada kaki dan tangannya terluka.

Ruq mendekati Jodha sambil berkata, “percuma saja kau berusaha sekuat tenaga untuk berusaha pergi dari sini, aku tidak akan melepaskanmu!!” ancam Ruq dan melepaskan lakban yang menutup mulut Jodha.

“Ruq?! apa maksud semua ini?” tanya Jodha bingung.

“Hahahaha,” Ruq tertawa terbahak-bahak lalu melanjutkan ucapannya, “kau mau tahu alasanku menculikmu?” jawab Ruq sambil mondar mandir dan memainkan pisau lipatnya.

“Iya, Ruq! Kenapa kau menculikku? untuk apa?” tanya Jodha, ia melihat pisau yang dimainkan Ruq didekatnya dengan pandangan ngeri.

“karena aku membencimu!! AKU MEMBENCIMU...I HATE U!! kau telah merampas semuanya dariku!!” teriak Ruq sambil menodongkan pisau lipatnya ke arah Jodha.

Jodha nampak kebingungan mendengar pernyataan dari Ruq. Dia tidak mengerti akan maksud Ruq kenapa dia membencinya??.

“Kau telah merampas semuanya dariku!! orang-orang yang aku cintai, impianku,” teriak Ruq kesal dan marah.

“A...apa maksudmu, Ruq? a...aku tidak mengerti?!” tanya Jodha bingung dengan nada sedikit meninggi.

“Kamu telah merampas Jalal dariku. Apakah kau tidak tahu kalau sebenarnya aku sangat mencintai Jalal?!!” ucap Ruq tegas.

Ruq melanjutkan ucapannya sambil memainkan pisau lipatnya dan berjalan mondar mandir dan Jodha memperhatikan dengan seksama tiap ucapan Ruq, “Ya, aku sudah menyukai dan menyayangi Jalal sejak kami masih kecil. Kami selalu bersama-sama sejak kecil. Dia selalu melindungiku dan perhatian kepadaku. Sejak saat itulah tumbuh perasaan sayang dan cintaku untuk Jalal. Namun, sejak kedatanganmu...!! sikap dan perilaku Jalal berubah, dia tidak lagi memperhatikanku, memperdulikanku. Dia mulai mengacuhkanku. Padahal akulah teman masa kecilnya yang selalu berbagi suka dan duka. Tiap aku membutuhkannya dia akan selalu ada,” sambil menodongkan kembali pisau lipat itu ke arah Jodha dan Jodha pun kembali ketakutan.

“Aku bukan hanya membencimu tapi juga iri padamu karena kamu memiliki segalanya!! Ya, segalanyaaa. Kamu memiliki keluarga yang utuh dan juga harta yang berlimpah, itulah sebabnya kenapa aku sangat membencimu, Jodha!” ucap Ruq sedih.

“Ayahku Hindal Mirza dan Ibuku Mariam Sultan bukanlah orang tua kandungku. Mereka mengadopsiku dari panti asuhan sejak aku berusia 2 tahun. Mereka sangat menyayangiku, namun sejak kematian ibu angkatku. Sikap ayah angkatku menjadi berubah. Dia semakin otoriter. Terlebih lagi sejak dia tahu kalau kau dan Jalal akan ditunangkan. Ternyata bukan hanya aku saja yang membenci dirimu namun juga ayah angkatku karena dia tidak memiliki anak kandung, dia berharap banyak padaku. Dia ingin agar aku dan Jalal yang bertunangan. Namun, sejak kedatanganmu semua rencana ayahku jadi berantakan. Kau sudah mengacaukan semuanya!! Berbagai macam cara dia lakukan untuk menyingkirkanmu. Akhirnya dia berhasil menyingkirkanmu dengan menculikmu dan diakhiri dengan tragedi kecelakaan itu yang diluar rencana....” ucapan Ruq dipotong oleh Jodha.

“Ja...ja...jadi upaya menculikku adalah rencana jahat ayahmu, Ruq?!! tapi kenapa??” tanya Jodha penasaran dan bingung.

“Hahahaha...Jodha...Jodha, kau ini benar-benar polos dan lugu,” ucap Ruq sambil mengeleng-gelengkan kepala dan tertawa. “Paman Humayun mewariskan seluruh aset dan harta kekayaannya kepada Jalal. Jalal akan menjadi pewaris tunggal dari seluruh harta Humayun setelah paman Humayun tiada. Oleh sebab itulah, ayah angkatku menginginkan aku dan Jalal bertunangan agar impian ayah angkatku untuk menguasai harta paman Humayun akan terwujud. Begitu pula dengan diriku yang akan menjadi Nyonya Jalaluddin. Namun, Jalal telah menggagalkan semuanya karena rencana kejahatan ayahku akhirnya terbongkar dan kami diasingkan ke Kabul, Afganistan. Jalal juga memutuskan hubungan kekeluargaan kami. Sejak saat itulah kami jatuh miskin dan ayah angkatku berubah menjadi kasar dan sering memukuliku, dia menyalahkanku karena dia menganggap akulah penyebab semua kegagalan dari keinginannya...menyedihkan bukan?” ucap Ruq menyeringai jahat. “Apakah kau mau tahu Jodha, kalau akulah yang sudah membunuh ayah angkatku sendiri...hahahaha?! aku memalsukan berita kematiannya begitu pula dengan bibiku sendiri yaitu Maham Anga. Begitu dia tahu ada yang tidak beres dengan diriku akhirnya dia menjebloskanku ke Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa. Namun, aku dapat kabur dari sana lalu aku membunuhnya dan kembali ke India...hahaha,” ucap Ruq sambil tertawa senang dan kewarasannya sudah hilang.

Jodha tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ruq. Dia tidak menyangka kalau Ruq bisa sekejam itu sampai membunuh ayah angkatnya sendiri serta bibinya. Raut wajah Jodha nampak ketakutan, “jika dia bisa berbuat seperti itu maka dia juga bisa melakukannya kepadaku!! Jalal, cepatlah datang. Kenapa kamu lama sekali?!” batin Jodha. “Kau sudah gila Ruq, kau sudah membunuh ayahmu sendiri meskipun dia hanya ayah angkatmu dan juga bibimu!! Apakah tidak ada rasa bersalah atau penyesalan atas perbuatanmu itu, Ruq!!” sahut Jodha dengan nada meninggi.

Jodha berusaha menggerakkan tangannya lagi untuk melonggarkan ikatannya namun, tali itu diikat terlalu kencang. Yang ada pergelangan tangannya semakin terluka.

“Hahahahaha...aku memang sudah gila, Jodha! aku gila karena aku begitu mencintai Jalal dan tidak boleh ada seorang wanita manapun yang boleh mendekatinya termasuk dirimu! tujuanku ke India adalah untuk mendapatkan Jalal kembali namun begitu aku tahu kalau dia sudah memiliki kekasih bahkan sudah bertunangan maka aku harus segera menyingkirkan wanita itu!!! apakah kau tahu kalau akulah yang telah menabrakmu?? namun lagi-lagi Tuhan berpihak kepadamu dan kau selamat tapi sekarang tidak akan ada yang dapat menyelamatkanmu...!! KAU AKAN MATI KALI INI....Hahahaha,” ancam Ruq sambil memainkan pisau lipatnya di depan wajah Jodha dan pisau lipat itu hampir saja menggores pipi mulusnya Jodha dan Jodha nampak ketakutan.

“Kau gila Ruq!!! Lepaskan aku!!! Lepaskan aku!!!” teriak Jodha memerintah Ruq.

Jalal dan Mirza tiba terlebih dahulu di gudang dimana Jodha disekap. Jalal melihat van hitam Chrysler yang dipakai untuk menculik Jodha. Jalal langsung keluar dari mobil dan berusaha untuk masuk ke dalam gudang karena dia sudah tidak sabar untuk segera menolong Jodha namun dia ditahan oleh Mirza karena jika dia dengan gegabah masuk kesana sendirian, yang ada nyawa Jodha nanti terancam. Akhirnya mereka menuju Rohit dan Atgha Khan serta Ins. Vijay dan pasukannya.

Tidak lama kemudian, orang-orang yang ditunggu oleh Jalal dan Mirza pun datang. Rohit dan Ins. Vijay memberitahukan untuk berhati-hati dalam menangkap Ruq karena Ruq adalah seorang Psikopat. Jika melakukan tindakan gegabah, nyawa Jodha bisa melayang. Akhirnya Ins. Vijay menginstruksikan anak buahnya untuk berpencar ke sekeliling gudang itu dan mereka mengendap-endap masuk begitu pula Jalal dan Rohit sedangkan Mirza dan Atgha Khan memantau situasi di luar gudang dan menghubungi RS untuk mengirimkan ambulans.

Di dalam gudang, Ruq berjalan menjauhi Jodha dan dia mengambil sesuatu. Ternyata dia mengambil sebuah dirigen yang berisi penuh bensin. Dia mendekati Jodha dan mulai membuka tutup dirigen. Jodha yang melihat hal itu, semakin takut kalau kali ini dia tidak akan selamat karena dia merasa kalau Jalal belum datang untuk menyelamatkannya. Ruq mulai menyiram isi dirigen itu ke sekeliling dimana Jodha berada dan juga menyiram sedikit isinya ke tubuh Jodha.
Jodha semakin ketakutan dan mulai menangis. Dia memohon kepada Ruq agar mau melepaskannya. Namun, Ruq semakin gila dan dia mengeluarkan pemantik api dari saku celana jeansnya dan mulai menyalakan pemantik itu.

(slow motion scene)
“MATILAH KAU KALI INI JODHA...HAHAHAHA,” ucap Ruq tertawa terbahak-bahak dan menyeringai jahat. Kewarasannya sudah hilang.

Jodha mulai menangis, dia memejamkan matanya dan batinnya berkata, “dimana kamu Jalal? Aku mencintaimu selamanya, Jalal”

Ketika Jodha memejamkan matanya, terbayang akan kenangan-kenangannya bersama Jalal.

Ketika Ruq akan menjatuhkan pemantik itu ke bensin yang berceceran di lantai, belakang kepalanya sudah ditodongkan Bareta oleh Rohit dan Ruq sangat kaget kalau aksinya sudah ketahuan oleh polisi.
(slow motion scene, end)

“Angkat tanganmu, nona Ruq,” perintah Rohit dan dia mengambil pemantik api dari tangan Ruq dan Ins. Vijay membantu Rohit dengan memborgol tangan Ruq dan membawa Ruq keluar.

Ins. Vijay menyuruh anak buahnya untuk menyisir seluruh area gudang untuk mencari-cari apakah masih ada komplotan atau anak buah Ruq. Jalal berlari ke arah Jodha begitu keadaan sudah aman. Dia mendekati Jodha dan mulai melepaskan ikatan yang mengikat tangan dan kaki Jodha. Namun, Jodha masih saja memejamkan matanya dan juga menangis.

“Sayang, kamu sudah selamat sekarang,” ucapnya sambil melepaskan ikatan yang mengikat tangan dan kaki Jodha.

Setelah ikatannya sudah dilepaskan, Jalal memegang kedua pipi Jodha dan berkata, “sayang, bukalah matamu. Ini aku, sayang, Jalalmu.”

Jodha membuka matanya dan ketika dia melihat wajah Jalal. Dia memegang kedua pipi Jalal. Jodha bahagia namun, dia masih saja menangis. Dipikirannya terbayang, seandainya Jalal terlambat menolongnya, maka..., Jodha langsung memeluk erat tubuh Jalal. Melihat Jodha yang begitu ketakutan, membuat Jalal bertanya-tanya dipikirannya, “ada apa denganmu, sayang?”

Jalal mengangkat tubuh Jodha dan menggendongnya keluar. Jodha masih membenamkan wajahnya ke dada Jalal. Ketika keluar dari gudang, ambulans pun tiba dan Jodha langsung diperiksa oleh petugas medis.

Ruq yang sudah diborgol, langsung dibawa masuk ke dalam mobil. Namun, sebelum dimasukkan ke dalam mobil, dia berontak untuk minta dilepaskan karena dia mau mengatakan sesuatu kepada Jodha, “lagi-lagi kali kau selamat, Jodha. Lain kali kau akan MATI!!” dengan nada mengancam sambil menyeringai jahat lalu kepada Jalal, “aku melakukan ini karena aku mencintaimu, Jalal. Hanya akulah yang pantas menjadi istrimu, bukan dia...Hahahaha!!” teriak Ruq sambil melihat Jodha dan tertawa terbahak-bahak lalu dia dimasukkan ke dalam mobil.

Jodha memalingkan mukanya dan kembali menangis. Jalal bingung melihat kondisi Jodha yang seperti itu. Dia memeluknya erat untuk menenangkannya.

Di kejauhan, terlihat Ins. Vijay dan Rohit yang sedang berdiskusi lalu mereka mendekati Jalal dan Jodha.

“Jalal, ada hal yang harus kami bicarakan kepadamu,” ucap Ins. Vijay.

“Iya, inspektur, bicaralah...ada apa?!” selidik Jalal.

“Mengenai nona Ruqaiyah! aku baru mendapatkan berita ini kemarin dan rencananya aku ingin memberitahumu hari ini namun, aku terlambat mengatakannya hingga terjadi insiden ini,” jawab Ins. Vijay.

“Ruq?! mengenai hal apa, inspektur?!” ucap Jalal kesal dengan nada meninggi.

“Ternyata, paman anda yaitu Hindal Mirza, dia tidak meninggal karena serangan jantung melainkan dia dibunuh oleh nona Ruqaiyah 5 tahun yang lalu dan bukan hanya itu saja dia juga telah membunuh bibinya yaitu Maham Anga secara sadis dan brutal. Nona Ruqaiyah masuk ke dalam DPO pihak kepolisian Afghanistan karena dia bukan hanya sudah membunuh dua anggota keluarganya namun juga karena berhasil kabur dari Panti Rehabilitasi Gangguan Mental,” ucap Ins. Vijay dan dia melanjutkan ceritanya mengenai Ruq bahwa Ruq bukanlah anak kandung dari Hindal Mirza dan Mariam Sultan.

Mendengar informasi dari Ins. Vijay mengenai Ruq, membuat Jalal marah, kesal, bingung dan sedih. Sekarang dia mengetahui semua alasan dibalik rencana pamannya yang semata-mata menginginkan harta kekayaan ayahnya dengan menggunakan Ruq sebagai alatnya. Ruq dan Jodha adalah sama-sama korban kejahatan atas keserakahan pamannya.

Setelah memberikan penjelasan kepada Jalal dan Jodha. Inspektur Vijay beserta anak buahnya segera berlalu dari sana. Jalal yang melihat kondisi Jodha cukup mengkhawatirkan, memutuskan untuk membawanya ke RS. Jalal berada di ambulans menemani Jodha sedangkan Mirza membawa mobilnya Jalal.

Sesampainya di RS, setelah Jodha diperiksa oleh dokter. Jalal membaringkan Jodha ke posisi tidur. Dia lalu pamit sebentar keluar kamar. Diluar kamar inap Jodha, Jalal berbicara kepada Mirza untuk tidak mengatakan hal ini kepada kedua orang tua Jodha karena dia tidak mau mereka cemas lagi, Jalal menginginkan agar dia sendiri yang mengatakannya kepada Bharmal dan Meinawati. Mirza pamit pulang.

Ketika Jalal kembali masuk ke dalam kamar Jodha. Dia melihat tubuh Jodha bergetar dan terdengar seperti menangis. Jalal langsung menghampirinya dan dia kaget melihat kondisi Jodha yang sepertinya mengalami trauma. Selama kejadian tadi usai, Jodha terus saja bungkam, tidak mengucapkan sepatah kata apapun.

Jalal duduk di kursi samping tempat tidur dan bertanya, “ada apa sayang? kenapa kamu menangis? beritahu aku, sayang sebenarnya ada apa?” ucapnya sambil membelai rambut dan menghapus airmata yang mengalir dari kedua matanya.

“A...a...aku takut sekali saat mereka menculikku. A...aku terbayang peristiwa 10 tahun yang lalu. Takut kalau peristiwa itu akan terulang kembali dan a...aku akan kehilanganmu lagi. Aku mencintaimu, Jalal” ucap Jodha terbata-bata dan sedih lalu mulai menangis lagi.

Jalal bangkit dari kursinya, mengangkat setengah tubuh Jodha, dia duduk menyandar di tempat tidur dan memeluk Jodha dengan erat.

Sambil membelai rambut Jodha, “tenanglah sayang, sekarang semuanya sudah berakhir. Tidak akan ada lagi yang akan memisahkan kita. Aku akan selalu berada disisimu dan melindungimu dari apapun. Mulai sekarang kita akan selalu bersama. Aku juga mencintaimu, sayang...sangat,” ucap Jalal menenangkan Jodha dan mengecup kepala Jodha.

Jodha semakin mempererat pelukannya untuk mendapatkan kedamaian dipelukan Jalal. Setelah tangisannya berhenti, dia pun tertidur di pelukan Jalal. Setelah melihat kondisi Jodha dan berbagai hal yang sudah dialami oleh Jodha, Jalal memikirkan sesuatu dan akhirnya dia memutuskan.........

To Be Continued

FanFiction Love From The Past Part yang lain Klik Disini
Precap: The Last Part “The Wedding”

Ps: terima kasih kepada neng Mitha Violet atas bantuannya.


FF: Love From The Past Part 35

1 comments:

  1. Uwaaahhh.. . Da mau wedding nich. . . D tngg y klnjtannya. . .

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.