FF Love From The Past Part 36 - ChusNiAnTi

FF Love From The Past Part 36



Mohon maaf, Part 36 tidak menjadi The Last Part, melainkan membahas Persiapan Pernikahan Jalal dan Jodha. Happy Reading all.

Part 36

Dua bulan kemudian
Jalal dan Jodha sedang berada di halaman belakang rumah Jodha. Mereka berdua berada di kursi ayunan dengan posisi Jodha sedang tiduran dipangkuan Jalal. Tangan kiri Jalal bertautan dengan tangan Jodha sedangkan tangan kanan Jalal membelai rambut hitam legam milik Jodha. Mereka berdua sedang membicarakan mengenai acara pernikahan mereka.

"Jalal, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," selidik Jodha sambil mengelus tangan Jalal yang bertautan dengan tangan Jodha yang satunya.

"Apa itu, sayang?" jawab Jalal masih menatap lurus ke depan.

"Jalal, sepertinya ada hal kamu sembunyikan dariku?!"

"A...aku tidak mengerti maksudmu, sayang?" sahut Jalal dan pandangannya beralih menatap Jodha.

"Mengenai pernikahan kita, Jalal. Konsep acaranya, pakaiannya, katering, fotografer dan hal-hal lainnya sudah kita bahas bersama namun, mengenai tempat dimana acara pernikahan kita berlangsung, kamu tidak memberitahu aku," tanya Jodha masih asik mengelus tangan Jalal.

"Ohh, mengenai hal itu. Tenang saja sayang, aku sudah memikirkan tempatnya namun, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu karena aku ingin memberikanmu kejutan," ucap Jalal sambil tersenyum kepada Jodha.

Jodha bangun dari pangkuan Jalal dan menatapnya, "kenapa harus dirahasiakan, Jalal? apakah kamu takut kalau aku nantinya tidak akan menyukai tempat itu!" selidik Jodha menatap tajam kepada Jalal.

"Tempat itu sangat indah, sayang. Kamu pasti akan menyukainya.," goda Jalal sambil menjawil hidung Jodha, "oya, sayang, sebaiknya kamu bersiap-siap karena kita akan melakukan jauh dan lama. Lusa kita akan berangkat ke tempat dimana acara pernikahan kita berlangsung. Aku sudah membahas mengenai hal ini kepada kedua orang tua kita dan juga keluarga besar kita," pinta Jalal.

"Whattt?? Jadi hanya aku yang tidak tahu dimana tempat kita akan menikah?!" ucap Jodha kesal dengan nada sedikit meninggi dan mendekap kedua tangannya di dada serta memalingkan wajahnya sebagai tanda kesal.

"Sayang, bukankah tadi aku sudah mengatakannya kepadamu kalau aku ingin memberimu kejutan?? Sebaiknya kamu segera membereskan barang bawaanmu. Saat ini aku tidak ingin berdebat denganmu kecuali kalau kamu ingin dirayu..." ucap Jalal sambil memiringkan kepalanya mendekat ke wajah Jodha. Sontak membuat Jodha terkejut dan bangkit dari duduknya untuk berusaha menghindar.

Jalal ikut bangkit dan memeluk pinggang Jodha, "kamu tidak usah terlalu memikirkan hal itu sayang, percayakan saja semuanya padaku," ucapnya sambil menempelkan keningnya ke kening Jodha.

Lalu Jodha memeluk erat Jalal sebagai tanda bahwa ia mengerti akan keinginan dan maksud Jalal.

***************

~H-5 Menuju Pernikahan~

Jalal dan Jodha sudah berada di IGI (Indira Gandhi International) Aiport dengan diantarkan oleh kedua orangtua mereka. Mereka semua saling berpelukan sebelum Jodha dan Jalal masuk ke dalam terminal bandara. Setelah selesai berpamitan, mereka berduapun masuk ke dalam terminal bandara. Sampai saat ini, Jodha masih belum tahu kemana tujuan mereka pergi. Sebelum Jalal melakukan check in, Jalal menutup mata Jodha dengan syal. Jodha sempat protes namun akhirnya dia menuruti Jalal karena Jalal mengancamnya akan mencium dirinya di depan orang banyak. Tindakannya itu sukses membuat Jodha mendengus kesal dan Jalal tersenyum senang.

Setelah selesai check in, urus bagasi dan urus keimigrasian. Mereka berdua menuju executive lounge untuk menunggu masuk ke dalam pesawat. Mereka berdua menjadi pusat perhatian di dalam bandara tersebut karena ulah Jalal kepada Jodha. Tidak lama terdengar suara pengumuman kalau pesawat akan segera take off dan para penumpangnya diminta untuk segera naik ke dalam pesawat. Ketika di dalam pesawat, Jodha kembali mengeluh, sampai kapan dia harus menutup matanya?! Namun tidak hanya sampai disitu ulah nakal Jalal. Ketika pramugari akan memberitahukan tujuan penerbangannya, Jalal langsung memakaikan headset ke telinga Jodha dan menyetelkan musik untuknya. Ketika dirasa sudah aman, Jalal membuka syal yang menutup mata Jodha. Selama penerbangan yang lama itu, Jodha terus saja menggerutu kepada Jalal namun bukan Jalal namanya jika dia tidak bisa menaklukkan Jodha. Begitu pula ketika pramugari memberitahukan kalau pesawat akan segera mendarat, Jalal kembali menutup mata Jodha dengan syal dan memakaikan kembali headset kepadanya.

Setelah melakukan penerbangan yang melelahkan selama kurang lebih 10jam lamanya. Pesawat Emirates itu pun landing di Mohammed V International airport, Casablanca, Maroko. Setelah melakukan cek bagasi dan urus keimigrasian, Jalal dan Jodha keluar dari bandara dan disana sudah menunggu seorang supir yang bernama Ali untuk menjemput mereka berdua. Setelah memasukkan barang-barang bawaan mereka. Ali pun segera mengantar mereka ke sebuah mansion mewah.

Mereka bertiga pun sampai di Mansion mewah bergaya Baroque modern dengan didominasi warna merah, emas, hitam dan putih. Mereka bertiga disambut oleh Moti. Jalal membawa Jodha masuk ke dalam mansion tersebut dan membuka syal yang menutupi mata Jodha. Ketika Jodha membuka matanya, betapa terkejutnya dia dimana dia berada saat ini. Jalal membawa Jodha kembali ke Maroko dan mereka saat ini berada di mansion keluarga Jodha ketika mereka sekeluarga tinggal di Maroko. Jodha melihat ke sekeliling ruangan dimana dia berada saat ini. Dia mengamati tiap detail mansion itu dan membandingkannya dengan yang ada di memorinya saat ini. Jodha terbayang akan masa kecilnya saat berada di mansion tersebut. Jalal hanya mengamati saja gerak gerik Jodha. Tak terasa bulir-bulir kristal yang menggenangi kedua matanya mengalir turun membasahi pipinya. Jalal yang melihat hal itu, berjalan mendekatinya.

"Jalal, ini? kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Jodha memalingkan wajahnya masih menatapi ruangan itu.

Bukannya menjawab pertanyaan Jodha, Jalal malah mengajukan pertanyaan kepadanya.

"Jodha, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya padaku, kalau selama ini kamu masih saja mengalami mimpi buruk sejak insiden penculikan terakhir itu terjadi?!" tanya Jalal tegas.

Jodha langsung kaget mendengar pertanyaan Jalal dan dipikirannya bertanya-tanya, "darimana Jalal tahu mengenai hal itu?!"

Jodha masih saja diam dan masih memalingkan wajahnya. Dia tidak berani menatap Jalal. Karena tidak mendapat jawaban dari Jodha, Jalal langsung bertanya lagi, "Jodha, please look at me when I'm talking to you!" perintah Jalal dan membuat Jodha sedikit takut.

Akhirnya Jodha membalikkan badannya menghadap Jalal. Terlihat ekspresi kekhawatiran, marah dan sedih di wajah Jalal dan membuat Jodha merasa bersalah karena sudah merahasiakan hal ini dari Jalal. Jodha menjawab pertanyaan Jalal, "maafkan aku, Jalal karena sudah merahasiakan hal ini darimu karena aku tidak mau membuatmu khawatir dan..."

"Jodha!" ucap Jalal memotong perkataan Jodha, "sayang, dengan kamu tidak mengatakan hal ini kepadaku malah membuatku menjadi semakin khawatir kepadamu! apakah kamu lupa sayang, kalau kita akan menjadi pasangan suami istri. Kita harus saling terbuka dan jujur dengan perasaan masing-masing. Aku berhak tahu apa yang kamu rasakan. Kamu sedih, senang, sakit, aku pun akan merasakannya. Saat ini keselamatan dan kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku. Aku tidak mau terjadi lagi hal-hal buruk yang menimpamu. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, di depan kedua orang tuamu dan juga keluarga besar kita bahwa aku akan selalu menjagamu. Aku sangat mencintaimu Jodha" ucap Jalal sambil membelai rambut Jodha.

Mendengar penjelasan Jalal, membuat airmata yang mengenangi kedua mata Jodha, mengalir turun dan dia memeluk Jalal sambil berkata, "maafkan aku Jalal...maafkan..."

Jalal memeluknya sebentar lalu melepaskannya untuk memberi jarak, menyeka airmata Jodha yang mengalir dan memegang kedua pipi Jodha dengan lembut, "apakah kamu tahu sayang, kenapa aku membawamu kesini?"

Jodha menggelengkan kepalanya, Jalal memegang bahunya dan melanjutkan ucapannya, "apakah kamu masih ingat dengan ucapanmu waktu kita akan bertunangan dulu? kamu mengatakan kalau kamu ingin menikah di negara ini?"

"Iya, Jalal, lalu maksud kamu apa?" selidik Jodha.

"Aku akan mewujudkan keinginanmu itu. Kita akan menikah di negara ini, dimana kamu dibesarkan. Aku ingin semua peristiwa yang terjadi India, kita lupakan dan membuka lembaran baru kehidupan kita berdua karena kita akan tinggal disini setelah menikah. Aku sudah meminta izin kepada kedua orang tuamu dan mereka merestuinya," ucap Jalal.

"Be...benarkah itu, Jalal? tapi...?" tanya Jodha dengan wajah antara senang dan sedih.

"Iya sayang," Jalal memotong perkataan Jodha, "perlukah aku membuktikannya?" goda Jalal. "Nehii, Jalal" ucap Jodha menaruh telunjuknya di bibir tebal Jalal.

"Mengenai hal lain, besok saja kita membahasnya. Sebaiknya kamu istirahat, sayang. Kamu terlihat lelah. Kamu masih ingatkan dimana kamarmu? atau perlukah kamu, aku gendong untuk membawamu ke kamarmu?" goda Jalal lagi dan mengeluarkan senyum andalannya.

Jalal memanggil Moti dan memintanya untuk mengantarkan Jodha ke kamarnya. Jalal sudah menyiapkan segalanya mengenai keputusannya untuk tinggal di Maroko setelah mereka menikah. Jalal selalu terngiang akan wajah trauma Jodha saat Ruq menculiknya dan juga perkataan dari calon ibu mertuanya kalau Jodha masih saja mengalami mimpi buruk di malam hari setelah peristiwa penculikan terakhir itu. Sudah cukup penderitaan yang dialami oleh Jodha yang hampir merenggut nyawanya. Yang diinginkan Jalal saat ini adalah selalu memberi kebahagiaan untuk Jodha. Moti dan juga beberapa pelayan setia baik dari keluarga Jodha maupun keluarga Jalal, dibawanya ke Maroko. Sebelumnya, semua kendaraan pribadi Jalal sudah dikirim ke Maroko. Bahkan Jalal mengangkat Rohit yaitu detektif swasta kepercayaannya menjadi pengawal pribadi untuk Jodha disaat Jalal sedang tidak bersamanya.

Di malam harinya setelah Jalal dan Jodha selesai makan malam. Jalal mengajak Jodha ke halaman depan mansionnya, lebih tepatnya ke arah garasi. Ketika mereka sampai, Jodha nampak bingung kenapa Jalal membawanya ke sana. Jalal berbisik di telinga Jodha kalau dia ingin memberikan Jodha hadiah. Lalu dia membuka kain penutup menutupi hadiah itu dan ternyata hadiahnya adalah sebuah mobil yaitu Audi R8 Convertible (atap mobilnya bisa dibuka tutup). Jodha terkejut, wajahnya antara senang dan bingung. Jalal yang melihat ekspresi Jodha seperti orang kebingungan, langsung bertanya, "ada apa, sayang? apakah kamu tidak suka dengan hadiahnya?"

"Tidak, Jalal. Aku suka dengan hadiahnya, hanya saja..." Jodha melanjutkan ucapannya dengan berbisik di telinga Jalal.

"Apaaa?!! yang serius kamu, sayang!!" teriak Jalal karena kaget mendengar ucapan Jodha.

"Iya sayang, benar. Apakah kamu lupa kalau aku ini pernah amnesia. Waktu aku tumbuh dewasa, aku sama sekali tidak belajar nyetir mobil lagi setelah aku berhasil menabrakkan mobil nenek Athifa hingga hancur bagian depannya dan aku harus dirawat selama seminggu di RS. Sejak itulah, aku tidak diperbolehkan untuk menyetir lagi oleh nenek Athifa," jawab Jodha sedih dengan wajah sedikit manyun.

Bukannya prihatin mendengar ceritanya Jodha, Jalal malah tertawa dan hal itu membuat Jodha mendengus kesal, "ha...ha...ha, aku jadi pengen lihat gaya menyetirmu itu, sayang, sungguh," ucap Jalal dan dia masih saja tertawa. Sedangkan, Jodha semakin merengut kesal dan menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Saat ini, aku sedang membayangkan anggapan orang-orang kalau istri dari Jalaluddin Mohammed Akbar tidak bisa menyetir mobil. Pasti akan menjadi headline di surat kabar," lirik Jalal nakal dengan tertawa yang ditahannya.

"Jalallllll...! Aku tidak terima, kamu terus-terusan meledekku. Baiklah akan aku buktikan kalau Nyonya Jalaluddin bisa menyetir mobil!!" ucap Jodha dengan emosi yang meninggi dan dia berjalan menuju Audi R8 itu, "mana kunci mobilnya!" pinta Jodha sambil menyodorkan tangannya.

"Kamu serius, sayang ingin belajar menyetir lagi??" tanya Jalal meledek.

"Iya, Jalal!! sudah cepat, mana kunci mobilnya?!

"Tidak, sayang. Aku tidak akan membiarkanmu menyetir dengan mobil baru itu. Kita pakai mobilku yang lain saja!" pinta Jalal.

Jalal berjalan menuju garasi dan mengeluarkan Audi TT 2.0 T Quattro miliknya dan meminta Jodha untuk masuk ke dalam. Jalal mulai melajukan Audinya ke suatu jalanan yang sepi yang pas untuk Jodha belajar nyetir.

Sepertinya ide mengajari Jodha menyetir adalah ide terburuk yang pernah muncul dalam otak cerdas Jalal, ia merasa sangat menyesal karena mau menerima permintaan Jodha ini. Ternyata mengajari Jodha menyetir mobil adalah sebuah ujian kesabaran yang maha berat untuk Jalal. Didalam Audi nampak wajah kesal Jalal di kursi penumpang.

“Bisakah kau mempercepat laju mobilnya?!, kalau kau tak bisa menyetir lebih dari 20km/jam lebih baik kau jalan kaki saja!” seru Jalal kesal.

Dengan masih menatap lurus kedepan Jodha membalas perkataan Jalal dengan tak kalah sengitnya, “kita harus mematuhi peraturan dan harap Anda ingat Mr. IceMan, ini pertama kalinya aku belajar menyetir lagi, jadi fokus saja mengajariku!. Jangan banyak interupsi”

“Ahhhhh, ini membunuhku!!. Nona Jodha, kau bisa membunuh seseorang dengan caramu menyetir seperti ini!. Hyaaaa, kau terlalu menepi! Menyetirlah agak menengah dan pandanganmu jangan lurus kedepan terus. Lihatlah kaca spion kiri dan kanan. Memangnya, mereka dipasang disitu cuma buat aksesoris saja!” cecar Jalal makin tak sabar melihat cara Jodha menyetir.

“Heiii...!!! kau kira aku menganggur?, aku sibuk melihat jalan didepan. Kenapa bukan kau saja yang melihatnya. Kuperhatikan dari tadi kau hanya duduk-duduk saja disampingku sambil mengkritikku. Apa kau tak punya kerjaan lain?” Jodha dengan nada kesal membuat pembelaan.

“A...apa kau bilang?! ohhh serius Jodha, sebelum menikah mungkin aku sudah akan mati disini dan juga tubuhmu kalau menyetir jangan terlalu membungkuk kedepan” sambil berkata seperti itu, tangan Jalal mencoba membetulkan posisi tubuh Jodha agar tak terlalu kedepan setir. Namun naas, tanpa disadari Jalal memilih tempat yang salah untuk meletakkan tanganya. Ia mendorong tubuh Jodha kebelakang dengan menempelkan tangan kirinya tepat dibagian dada Jodha. Melihat itu tak ayal Jodha berteriak, “Kyaaaa, Jalaaallll...!! Kau pikir tanganmu ada dimana? Dasar otak mesum!” Jodha berkata dengan panik tapi masih tetap mencoba konsentrasi mengendalikan mobilnya. (stir kemudi Audi TT 2.0T Quattro berada di sebelah kiri)

Menyadari kesalahannya, Jalal langsung menarik tanganya. “Hei...Hei...Hei... aku tak sengaja maaf.” Untuk menutupi kecanggunganya Jalal meminta sekali lagi kepada Jodha untuk mempercepat laju mobilnya. Namun, ketika Jodha tetap dengan gaya menyetirnya yang seperti semula membuat kesabaran Jalal habis sudah, “hentikannn...hentikaaan hentikannn...injak rem-nya. Cepatt!!” sambil berkata begitu Jalal membanting stir kearah kiri dan Jodha sudah sigap mengerem disaat yang tepat dan mobilpun berhenti mendadak dan sukses membuat kening penumpangnya mencium dashboard. (Jadi teringat pengalaman pribadi...**upss abaikan)

Tanpa membuang waktu Jalal langsung membuka pintu mobil keluar lalu membanting pintunya dengan keras, disusul Jodha yang melakukan hal yang sama, “bagaimana kau bisa menyetir dengan cara seperti itu? Apa kau bodoh?!" bentak Jalal yang hilang kendali.

“Apa? Bodoh? Wuahhhh, asal kau tahu Jalal, bukan salahku jika caraku menyetir seperti itu. Mobil ini tak cocok denganku, ini mobilmu bukan mobilku sendiri jadi aku tak bisa leluasa menaikinya atau salahkan gurunya yang dengan arogannya mengatai bodoh muridnya!” Jodha tak terima dengan perkataan Jalal, ia mengatur nafasnya agar tidak semakin emosi menghadapi Jallad yang ada didepannya ini.

“Kamu selalu saja mencari alasan, kalau salah ya salah saja,” kata Jalal kesal.

"Baaassssss!! sudahlah, Jalal, sudah cukup! aku tidak mau belajar lagi! berapa kalipun kamu memaksa, aku tidak akan mau dan kamu harus menanggung akibat perkataanmu!” akhirnya Jodha mengeluarkan ancamannya.

Mendengar itu, Jalal sadar akan bahaya didepannya dengan sedikit merendahkan suaranya ia berkata, “apa kamu marah, sayang? maafkan aku, sayang, aku sudah lepas kendali. Baiklah, aku mengaku kalau aku salah dan siap menerima hukuman dari My Princess.”

“Hukuman?? Hhhmm, hukuman seperti apa yang pantas diberikan untuk seorang Jalaluddin?!” Jodha mengatakannya dengan nada kesal dan nampak berpikir keras. Tapi sebelum Jodha memutuskan hukuman apa yang pantas, ternyata Jalal sudah berinisiatif memberi hukuman kepada dirinya sendiri yaitu secara tiba-tiba Jalal mengecup singkat bibir Jodha.

Melihat kelakuan Jalal, Jodha semakin kesal, "Jalalll...!!! kamu sebut ini hukuman?!.”
“Jadi kamu tak suka hukuman ini, sayang?, baiklah aku tarik kembali.” Setelah berkata demikian Jalal kembali mencium bibir Jodha sebagai tanda dia menghapus hukumannya. Jalal cengengesan dan tak ayal kelakuan ajaib Jalal membuat senyuman terbit dari bibir Jodha.

Setelah belajar menyetir selama 3jam akhirnya Jodha sudah bisa menyetir dengan baik dan benar namun, dengan menghancurkan sebagian body mobilnya Jalal. Saat Jodha belajar dengan menggunakan mobilnya dan membuatnya ringsek, terlihat ekspresi sedih dan frustasi di wajah Jalal dan juga dia terus bergumam, "aarrgghh, not my Audi, Jodha." Ketika mereka sampai di mansionnya, Jalal langsung menelepon pihak bengkel untuk membawa Audinya. Jalal melihat sekali lagi mobil kesayangannya itu yang selalu menemaninya kemana saja. Mobil itu dia beli dengan hasil keringatnya sendiri setelah dia menjalankan sendiri bisnis mendiang ayahnya.

"Oohh, my Audi. Maafkan aku karena calon istriku yang telah membuatmu menjadi seperti ini. Untuk sementara ini kamu istirahat dulu ya," ucapnya berbisik kepada mobilnya.

Melihat kelakuan Jalal yang terlalu berlebihan seperti itu malah membuat Jodha menjadi kesal. Jodha merasa cemburu, meskipun itu hanya sebuah mobil ternyata ada yang disayangi Jalal selain dirinya. Ketika Jalal akan masuk ke dalam mansionnya, nampak Jodha yang sedang berdiri di depan pintu. Jalal merasa merasa heran karena Jodha tidak memperlihatkan wajah rasa tidak bersalahnya. Jalal mendekati Jodha dan berkata, "tunggu pembalasan dariku, Jodha setelah kita menikah nanti!!" ucapnya sambil melirik nakal ke arah Jodha dan mengeluarkan killer smilenya.

Perkataan Jalal itu, sukses membuat Jodha membelalakkan matanya dan diam mematung.

~H-4 Menuju Pernikahan~

Setelah Jalal dan Jodha selesai sarapan. Jalal langsung mengajak Jodha ke suatu tempat. Karena Audi TT 2.0 T Quattronya ringsek dan sudah dibawa ke bengkel untuk diperbaiki, Jalal memutuskan untuk memakai Audi R8 Convertible milik Jodha. Jalal membuka atap mobil itu karena cuaca kota Casablanca saat itu sangat cerah. Jalal melajukan Audi R8 itu mengelilingi kota Casablanca, Maroko.

Casablanca adalah kota terbesar dan pelabuhan terpenting di Maroko, yang terletak di pantai Altantik, di bagian barat Maroko. Casablanca pusat ekonomi dan budaya negara. Di Casablanca terletak Lembaga Oseanografi dan Royal Navy Base di Maroko. Awalnya kota besar ini bernama Anfa yang sangat maju dalam hal perdagangan. Bangsa Portugis kemudian mengambil alih Anfa dan mengubah nama kota ini menjadi Casa Branca. Pada 1755, sebagian besar kota tersebut hancur oleh gempa. Dalam paruh kedua dari 18 abad, kota yang dipulihkan Sultan Sidi Mohammed III. dan kota bernama Dar el Beida (bahasa Arab yang berarti White House atau rumah yang putih ). Pada 1781 kota ini direbut oleh orang Spanyol dan kota berganti nama menjadi Casa Blanca (bahasa Perancis yang berarti sama yaitu White House). Pada tahun 1907 Casablanca menjadi bagian dari koloni Perancis. Pada 1956 Maroko menjadi negara merdeka. Kota Casablanca memiliki dua bagian, yaitu Kota tua (medina qodim) dan Kota Baru (medina jaded). Kota tua dikelilingi oleh dinding-dinding benteng peninggalan dari sejarah dan dikelilingi oleh pelabuhan. Sedangkan Kota baru dibangun oleh Perancis. Pusat kota Casablanca baru bernama Place Mohammed V dengan bangunan dibuat dengan gaya Moor. Kota terbesar di Maroko ini menyimpan banyak bangunan indah bergaya Art deco. Monumen yang paling penting adalah Masjid Hassan II Casablanca. Masjid ini berdiri di outcropping berbatu di atas laut dan mendominasi kota. Konstruksi dimulai tahun 1980 dan selesai pada tahun 1993. Menara Masjid ini mempunyai ketinggian 200 meter. bangunan lain yang menarik di kota Casablanca adalah Katedral Sacre Coeur. Di Casablanca, terdapat sebuah taman yang bagus yang bernama de la Ligue Arabe.

Setelah berkendara selama 45 menit, akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang sedang direnovasi. Jodha merasa bingung kenapa Jalal membawanya kesananya. Rencana Jalal untuk tinggal di Maroko setelah menikah, sudah dipikirkannya dengan matang demi kebahagiaan Jodha. Selain menghadiahkan sebuah mobil, Jalal juga memberikannya sebuah toko bunga kepada Jodha sebagai hadiah pernikahan. Jalal menyerahkan sebuah dokumen kepada Jodha yang berisi kalau toko bunga itu atas nama dirinya.

"Ja...Jalal, ini? iya, sayang. Atas namamu, aku membeli ini untukmu. Bukankah merangkai bunga adalah hobimu sayang dan aku ingin kamu tetap melanjutkan hobimu itu setelah kita tinggal disini," ucapnya sambil memeluk mesra pinggang Jodha dari arah belakang.

Mereka berdua berkeliling di dalam toko itu untuk melihat-lihat dan saling berdiskusi membahas masalah dekorasi interiornya dan hal lainnya. Setelah hampir 2 jam lamanya mereka berada disana. Jalal dan Jodha melanjutkan perjalanan mereka. Mereka akan menuju ke kota terbesar lainnya yang ada di Maroko yaitu Marrakech (Marrakesh), disanalah Jalal menyewa sebuah istana yang akan digunakan olehnya untuk tempat acara pernikahannya berlangsung.

Kota Marrakech dijuluki The Red City atau Kota Merah karena hampir seluruh gedung, hotel, rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya yang ada di kota ini didesain dengan warna merah yang sangat indah. Di kota ini terdapat kekayaan budaya dan tempat wisata yang menjadi destinasi utama bagi turis mancanegara, khususnya Eropa. Maka tak heran, jika Marrakech kini menjadi kota wisata paling populer di Maroko yang bisa memberikan fantasi dan kesenangan langsung bagi pengunjung. Ada beberapa tempat yang sangat menarik dikunjungi ketika anda sampai di Marrakech, kota ini menawarkan tempat-tempat bersejarah dan beberapa arsitektur serta beberapa museum yaitu Djemaa El-fna, Masjid Koutobia, Majorelle Gardens, Istana Bahia.

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 2jam. Akhirnya mereka sampai di istana The Royal Mansour.
Bangunan ini memang dibuat khusus sebagai hunian raja, atas perintah Raja Mohammed. Sebuah perusahaan desain top Paris mendesain istana megah dengan ruang tengah seluas 350 ribu meter persegi. Desain ruangan dengan langit-langit yang tinggi dengan lantai dihiasi ubin mozaik Zellige ala Maroko. Istana ini dilengkapi dengan terowongan bawah tanah yang digunakan para staff istana.

Tentu saja, sebelum mereka tiba di istana itu, Jalal sudah menutup mata Jodha dengan syal karena lagi-lagi, dia akan memberikan Jodha kejutan. Setelah mereka masuk ke bagian tengah istana, Jalal melepaskan syal yang menutupi mata Jodha dan Jodha menampakkan wajah terkejutnya. Jodha tidak percaya kalau Jalal akan menyewa tempat itu sebagai tempat untuk mereka menikah. Ekspresi bahagia, nampak dengan jelas menghiasi wajah cantiknya.

"Apakah kamu suka, sayang dengan tempat ini?" tanya Jalal sambil memandang wajah cantik Jodha.

"Tentu, Jalal. Aku tidak percaya kalau kamu benar-benar mewujudkan impianku untuk menikah disini. Ohhh, terima kasih, Jalal," jawab Jodha tersenyum manis kepada Jalal dan kedua tangannya bergelayut manja di leher Jalal.

"Hhhmmm, sepertinya ucapan terima kasih kurang, sayang jika itu dianggap sebagai balasan atas apa yang aku lakukan," goda Jalal.

"Lalu, apa Jalal?"
"Aku akan menagihnya nanti setelah kita sudah menikah," goda Jalal sambil tersenyum nakal dan lagi-lagi membuat Jodha kaget dan menunduk malu.

Setelah cukup lama mereka melihat-lihat istana itu. Mereka berdua menemui dua staff WO yang dipakai Jalal untuk mengurusi acara pernikahannya. Dua staff itu bernama Vivian Rossi dan Ike Rajkumar (mitha, pinjam tokoh JAANnya ya). Mereka berempat nampak sibuk berdiskusi dan berkeliling ke seluruh istana untuk melihat sudah sejauhmana dekorasi acara pernikahan mereka karena untuk konsep acaranya, Jalal dan Jodha memutuskan bertema Arabian Nights atau ala Timur Tengah.

Hampir 3 jam lamanya Jalal dan Jodha berada di istana itu dan bersantap siang disana. Merasa tidak cukup waktu untuk menjemput keluarga besar mereka berdua yang akan tiba di Maroko hari ini, Jalal menelepon Ali untuk memintanya menjemput mereka semua di bandara khusus karena Jalal menerbangkan mereka semua dengan menggunakan Jet pribadi yang Jalal beli dari maskapai FIFI AIR. Begitu pula untuk kerabat dekat mereka seperti Ins. Vijay beserta keluarganya, Dr. Pratap Kumar, Salima dan suaminya. Kecuali Shehnaz dan Maan Singh yang akan menggunakan pesawat komersil karena mereka terbang langsung dari negara mereka masing-masing.

Ketika hari menjelang sore, Jalal dan Jodha kembali ke mansion namun sebelumnya, Jalal mengajak Jodha untuk melaksanakan shalat Ashar di Masjid Koutobia. Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Nampak aura kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka. Angin meniupkan rambut dan syal Jodha yang melingkar di lehernya. Sesekali Jodha menyandarkan kepalanya di bahu Jalal.

Akhirnya mereka pun tiba di mansion dan tak lama kemudian, tibalah keluarga besar mereka. Mereka semua saling berpelukan dan nampak aura kebahagiaan di wajah mereka semua kemudian Jalal dan Jodha meminta kepada mereka semua istirahat.

Menjelang malam, Jalal dan Jodha sudah menyiapkan pesta barbeque di halaman belakang mansion itu. Seluruh keluarga nampak sangat menikmati pesta itu dan tidak menunjukkan wajah kelelahan setelah menempuh penerbangan selama 10 jam terutama Maan Singh yang terbang langsung dari USA. Ketika pesta barbeque tersebut usai, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat karena mulai besok, mereka semua akan disibukkan dengan persiapan pernikahan lainnya...

To Be Continued

FanFiction Love From The Past Part yang lain Klik Disini


FF Love From The Past Part 36

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.