Sinopsis Blood Episode 6 Part 3 - ChusNiAnTi

Sinopsis Blood Episode 6 Part 3



Namun apa yang mereka katakan sebelumnya bukanlah yang sebenarnya. Mereka kini sedang berada di hutan yang begitu rindang. Tiba-tiba ada seseorang berdiri dibelakang Ri Ta dan sontak membuat Ri Ta berteriak dan berjongkok ketakutan. Dia langsung berdiri saat melihat bahwa itu adalah Ji Sang, “Apakah kau mengikutiku?” ucap Ri Ta kesal. “Aku tidak mengikutimu, aku mengikuti kemana kakiku melangkah.” Jawab Ji Sang dengan santai.
Dan akhirnya mereka berjalan beriringan. Ri Ta terus saja ngomel karena jalan-jalannya kali ini tidak tenang sesuai yang ia harapkan, karena Ri Ta selalu saja mendebat Ji Sang. Ri Ta mulai menceritakan pengalamannya di hutan itu, bahwa ada anjing liar yang menyerangnya dan ada seorang anak laki-laki yang menyelamatkannya, dia tidak yakin apakah laki-laki itu melawan anjing liar itu seorang diri karena kejadia itu berlangsung begitu cepat. “Aku yakin, pasti anak itu terluka parah, dan kini aku tidak tahu bagaimana keadaannya.” Mendengar cerita Ri Ta, Ji Sang semakin yakin bahwa Ri Ta adalah gadis yang dia selamatkan dulu. Dia tersenyum memandang Ri Ta yang berjalan mendahuluinya. Ri Ta berbalik menatap Ji Sang, “Ayo cepat, kalau tidak kita akan terlambat menghadiri seminar.” Tegur Ri Ta. Dan mereka kembali berjalan berdampingan.

Malam pun tiba. Kini para peserta seminar mengelilingi meja makan dimana sudah ada banyak camilan dan minuman beralkohol didepan mereka. Semuanya bersulang kemudian meminum minuman tersebut, kecuali Ji Sang, dia hanya menempelkan gelasnya ke bibirnya tanpa meminumnya sedikit pun. Obrolan dan candaan riang terjadi di tempat itu. Dan pada akhirnya mereka melakukan permainan yang sama dengan permainan tahun lalu (Mian, saya belum tahu nama permainannya).
Ri Ta berulang kali kalah dan sebagai hukuman, dia harus meminum segelas minuman beralkohol. Dr. Park mengusulkan supaya Ji Sang yang meminumnya, “Dr. Yoo, kau sudah terlalu banyak minum, bagaimana kalau dr. Park Ji Sang yang menggantikanmu dan menjadi Kesatria Hitam.” Dan semua orang bersorak, “Kesatria Hitam... Kesatria Hitam... Kesatria Hitam...” Namun Ji Sang menolaknya, “Maaf, aku tidak bisa minum alkohol, bahkan satu gelas. Aku alergi terhadap alkohol.” Semua menatap bingung kemudian Ri Ta sendiri yang meminumnya, “Sudahlah, tidak perlu ada kesatria hitam, aku masih sanggup melakukannya.”

Di luar ruangan, Ri Ta langsung memuntahkan semua isi perutnya, sementara Ji Sang menunggunya sambil duduk di kursi yang ada disana. “Kau terus saja kalah sehingga kau harus meminumnya.” Ledek Ji Sang.
Ri Ta berdiri dan duduk merapat di samping Ji Sang. Ji Sang tidak nyaman dengan hal itu dan langsung menggeser tubuhnya sendiri. Ri Ta tak berbuat banyak dan hanya menatapnya sinis. Ri Ta mulai berbicara tentang anak laki-laki yang menyelamatkannya dulu, “Kalau dia disini, pasti dia akan meminum semua minuman itu untukku. Aku yakin dia ada... Dia ada disuatu tempat. Aku sangat ingin sekali bertemu dengannya, meskipun hanya satu kali.” Ji Sang tersenyum mendengar penuturan Ri Ta. Ri Ta mendelik kesal melihat Ji Sang yang hampir tertawa, “Kenapa kau tertawa? Apakah aku menghiburmu?” Ji Sang tak menjawab dan mengalihkan pandangannya ke depan. Ri Ta kemudian beranjak, “Sudahlah, ayo kita kembali ke kamar.” Ji Sang ikut berdiri. Ri Ta hampir terjerembab, untungnya Ji Sang menangkapnya dengan cepat sehingga Ri Ta tak jadi mencium tanah. “Mengapa kau menyentuhku? Kau bilang tidak boleh dekat denganmu bahkan untuk 30 senti!” Omel Ri Ta. “Kali ini pengecualian.” Ucap Ji Sang dan langsung menggendong Ri Ta dipunggungnya. Ri Ta memekik saat Ji Sang melakukan hal itu tiba-tiba.

Dalam perjalanan menuju kamarnya, Ri Ta kembali berceloteh dengan posisi dirinya di punggung Ji Sang, “Uhhh... rasanya aku seperti digendong oleh balok es. Tubuhku seakan ingin membeku.” Dan Ji Sang menyuruhnya tenang. Ri Ta yang dalam keadaan mabuk, akhirnya menceritakan alasannya membantu Ji Sang dengan berbohong pada Jae Wook dengan mengatakan bahwa Ji Sang saat itu sedang mabuk. “Aku membantumu karena ibumu. Aku kasihan kepadamu, saat kau tidak sadarkan diri, kau mengigau. Kau bilang ibumu tidak boleh pergi dan bisa bertahan hidup. Aku tahu saat itu bahwa ibumu sudah tidak ada di dunia ini. Sama seperti ibuku. Setelah kau melepaskannya pergi, kau tidak ingin ada hal yang menyedihkan lagi. Tapi apa kau tahu apa yang lebih menyedihkan? Tidak siap untuk melepaskan dan tidak mengharapkan hal itu sama sekali... tapi, kita harus melepaskannya.

Akhirnya mereka berdua sampai di kamar Ri Ta. Ji Sang membaringkan Ri Ta diatas tempat tidurnya. Ri Ta tampak tertidur pulas. Ji Sang berjongkok disamping tempat tidur Ri Ta. Dia mengulurkan tangannya hendak membelai pipi Ri Ta, namun dia mengurungkan niatnya. Ji Sang berdiri dan melangkah keluar dari kamar Ri Ta.

Sementara itu di tempat lain, J sedang memberi intruksi pada kedua bawahannya, (Sebut saja pria yang agak botak (si A) dan yang pendek (si B) sementara Chul Hoon duduk mendengarkan. Si B masih ragu saat J mengatakan bahwa Jae Wook bebas melakukan apapun pada Ji Sang, mau menyiksa atau membunuhnya, “Tapi harus ada metode untuk menghadapi Park Ji Sang.” Ucap si B. J tertawa kecil dan berkata bahwa dia akan mengajarinya.

Chul Hoon teringat pembicaraannya dengan Jae Wook dirumah Jae Wook malam itu. Jae Wook menyuruh Chul Hoon mengorbankan kedua rekannya untuk menyelamatkan Ji Sang. “Ini untuk kepentingan kita bersama, jadi kita harus menyelamatkan Park Ji Sang.”

Alarm kebarakan di hotel tempat diadakan seminar berbunyi sehingga membangunkan semua orang yang sedang beristirahat malam itu, termasuk Ri Ta. Ri Ta keluar dari kamarnya dan melihat dr. Kim yang sedang mabuk dan mengulang insiden tahun lalu, menyalakan alarm kebakaran saat dirinya sedang mabuk. Ji Sang juga keluar dari kamarnyanya. Ri Ta terperangah saat melihat pipi kiri Ji Sang yang sudah mulus menunjukkan bahwa tidak pernah ada luka disana. Ji Sang menatap Ri Ta heran, “Apa kau baik-baik saja?” , “Ya, aku baik-baik saja. Aku akan kembali tidur.” Jawab Ri Ta. Dan mereka kembali masuk kamar mereka masing-masing.
Sesampainya didalam, Ji Sang melihat plester yang dia gunakan untuk menutup pipi kirinya kini tergeletak di meja. Dia terkejut saat sadar bahwa Ri Ta sudah melihat semuanya. Sementara Ri Ta melangkah dengan gontai setelah melihat apa yang ada dihadapannya barusan.

Keesokan harinya, semua peserta seminar sudah siap untuk pulang. Ri Ta sudah ada diluar lebih dulu dengan membawa kopernya. Kemudian Ji Sang berdiri disampingnya dan mereka berdua tampak canggung dan hanya berbicara sekedarnya saja. Tiba-tiba ponsel Ji Sang bergetar menandakan ada pesan masuk, Ji Sang terperangah saat membaca isinya.
“Kau ingin tahu siapa yang membunuh ibumu, kan? Jika kau ingin tahu, muncul disini malam ini. Dan bersiaplah untuk mati!”

Malam hari di kota Seoul. Ji Sang sedang memacu audi hitamnya ke suatu tempat. Dia terus teringat dengan pesan yang dikirimkan kepadanya.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Sementara ditempat lain, si A dan si B sedang melancarkan aksinya di gedung bekas praktek Tim Pengembangan Obat Baru. Mereka membawa banyak kemasan obat segar dan si B menyeringai jahat.

Dan kini disanalah Ji Sang. Dia memasuki kawasan Gedung itu dengan langkah waspada. Dia menyibakkan tirai plastik disana. Dia langsung menutup hidungnya saat mencium bau darah. Tak lama kemudian, darah segar mengalir disana. Terdengar suara yang memekakan telinga, Ji Sang memegang kepalanya sambil menahan rasa sakit yang luar biasanya. Tapi dia tidak bisa bertahan lebih lama. Dia langsung limbung dan seketika itu juga kukunya memanjang, wajahnya berubah menjadi vampir.
Si A menendang tubuh Ji Sang hingga terpental. Si B membawa benda tajam semacam tombak dengan diseret dan mendekati tubuh Ji Sang yang tak berdaya. Seorang pria bertudung mengawasi gerak-gerik mereka.
Si B meletakkan tombak itu di dada kiri Ji Sang. Saat si B mengangkatnya dan hendak menghunuskannya ke dada Ji Sang, pria bertudung langsung mendorongnya. Si A menyerangnya namun kemampuannya jauh dibawah pria itu. Pria itu mencekik leher si A dengan tangan kirinya kemudian menggigit lehernya hingga tak bernyawa.
Si A akan menyerangnya dengan tombaknya. Tapi Pria itu jauh lebih unggul. Tombak yang akan dihunuskannnya justru terhunus ke perutnya sendiri. Sebelum kematiannya, dia bisa melihat wajah yang membunuhnya, “Dok...” tapi nyawanya lebih dulu berpisah dari raganya.

Ji Sang langsung menyerang pria itu. Terjadi saling serang, saling hantam, saling dorong hingga akhirnya saling mencekik. Pria itu perlahan-lahan membuka tudungnya. Ji Sang terperangah saat melihat wajah yang sama dengan orang yang membunuh ibunya dulu..... TBC-->Episode 7

Sinopsis Episode yang lain Klik Disini


Sinopsis Blood Episode 6 Part 3

5 comments:

  1. Akhirnya jisang tau klo rita gadis yg dia selamatkan dulu,
    Aku masih bingung sama tujuan asli jae wook
    Apa dia mau memanfaatkan ji sang atau ???
    Gumawo mbk anti & fighting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga begitu Mbak Kasih... Masih bingung,, apakah Ji Sang mau diajak kerja sama atau hanya dimanfaatkan saja???

      Delete
  2. saya penasaran sama kelanjutannya. semangat nulis sinopsisnya ya....

    ReplyDelete
  3. Gomawo mbak chus...akhirx aq trtarik dg Blood heheee

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.