Ana Uhibbuki Fillah Part 8 - ChusNiAnTi

Ana Uhibbuki Fillah Part 8



By Seni Hayati

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana seperti yang dilakukan awan pada hujan yang telah membuatnya hilang” (Anonim)

Jodha sedang sibuk dengan laporan praktikumnya, begitu  Jalal sibuk dengan hapalan surat-surat pendeknya dengan suara keras layaknya anak SD yang sedang menghapal.

“A.. bisakan menghapalnya dalam hati.. aku tidak bisa konsentrasi kalau kau berisik”

“Jodha... aku juga tidak bisa belajar kalau tanpa mengeluarkan suara” jawab Jalal tidak kalah ngotot..

“Huh...” Jodha membuang nafas, lalu beranjak keluar kamar dengan setumpuk buku referensi pendukung untuk laporannya.

“Kenapa mengikutiku?”

“Kalau belajar sendiri, mana ku tau bacaanku benar, siapa tau salah”

Hameda yang baru yang ada di ruang keluarga angkat bicara, “Ada apa sayang ko pada ribut??”

“Ammi.. Jodha nih.. saya mau belajar malah ngajak tidur”

Ammijan hanya mesem-mesem. Sedang Jodha membulatkan matanya.

“Yess... akhirnya bisa juga ngerjain kamu” bisik Jalal ditelinga Jodha.

Hameda kembali bertanya, “Jodha.. bulan ini kamu sudah haid?”

“Baru beres minggu kemarin mi”

“Berarti dalam masa subur nih.. ammi sudah pengin punya cucu nak”

“Tenang saja mi.. serangan udah genjar dilakukan, tinggal nunggu hasil” jawab Jalal, sambil meletakan kepalanya dipangkuan Jodha.

Jodha semakin melebarkan matanya.. sambil memberi isyarat agar Jalal tidak tidur dipangkuannya, dan seperti biasa dia gunakan senjata terakhirnya, berteriak memanggil ammijan

“Amm...” dan Jodhapun segera membekap mulut Jalal.

“Ada apa, nak?” tanya Hameda sambil membetulkan letak kacamatanya.. sedang matanya tetap fokus pada buku yang dia baca.

“Ga ada apa mi, ini ada nyamuk di pipi ci aa” jawab Jodha sambil menampar pipi Jalal.

“Awww.... mukul nyamuknya jangan kenceng-kenceng, sayang” teriak Jalal.

Jodha hanya mesem-mesem sambil berkata, “Satu... sama..”

“Jalal, mulai besok kamu datang ke kantor, pelajari dulu seluk-beluk perusahaan, ammi sudah bilang sama paman Bairam agar mengajarimu”

“Oke.. siap.. sebentar lagi aku jadi presdir dong mi”

“Ya.. tapi Setelah Jodha berhasil merubah kelakuamu.. ingat, sedikit saja ammi melihat kalian bertengkar atau kamu jalan sama wanita jadi-jadian, ammi batalkan posisi itu untukmu”

***

Mereka berdua telah berada di kamar...

“Jo.. pipiku beneran sakit nih, kenapa sih kamu galak banget, dikit dikit ditampar..”

“Itu salahmu sendiri yang selalu modus nyari kesempatan. sudah ku bilang jangan melakukan sesuatu tanpa persetujuanku”

“Apa kamu selalu galak pada setiap  laki-laki, Jo??”

“Kalau laki-lakinya baik, ya aku baik juga”

“Oh... kaya sama Ilyas, ya?? kalau di depan dia kamu lembut banget”

“Karena dia menghormatiku, dia tidak pernah menyentuhku atau menyentuh wanita manapun. kenapa aa cemburu?? kalau ingin aku bersikap lembut padamu, aa harus  bersikap seperti Ilyas”

“Jo.. aku paling ga suka dibandingkan dengan yang lain. Jalal tetaplah seorang Jalal”

“Terserah.. aku tidak akan memaksamu berubah..” jawab Jodha sambil menarik selimutnya.

****

Keesokan paginya..

“Jo.. bantuin aa pasangin dasi, susah banget, ribet juga pake baju formil kaya gini” ucap Jalal yang masih riweuh dengan dasinya.

Jodha menghampiri Jalal, “Aa harus terbiasa pakai dasi sendiri, nanti setelah kamu jadi presdir, dan sikapmu sudah berubah, aku juga kan harus segera pergi dari kehidupanmu”

Mendengar kata-kata Jodha entah mengapa ada rasa sakit di hati Jalal, “Kenapa kamu bicara seperti itu Jo, tak bisakah selamanya kamu tinggal denganku??” ucap Jalal lirih, lalu melanjutkan kata-katanya lagi, “Jo.. sepertinya aku sudah ketergantungan denganmu, mungkin aku tidak bisa bangun pagi tanpa ada kamu, mungkin aku tidak bisa shalat tepat waktu, mungkin aku tidak akan lagi tilawah Qur’an”

“A.. menikah itu bukan hanya karena alasan ketergantungan, tapi harus ada cinta, harus ada kepercayaan, harus punya tujuan, dan sebaik-baik tujuan adalah mencari ridha Allah SWT”

“Jo.. apa kau mencintaiku?”

Pertanyaan Jalal, membuat gerak tubuh Jodha seketika berhenti, pertanyaan yang selalu membuat wanita kikuk, tangan Jodha yang semula memegang dasi kini beralih ke dada Jalal. Jodha baru sadar jaraknya begitu dekat, saat dia mengangkat wajahnya, Jalal sedang menunduk menatapnya, dengan tatapan lembut yang belum pernah Jodha dapatkan sebelumnya, hidung mereka bergesekan membuat pori-pori di tubuh Jodha melebar, tubuhnya merinding... belum pernah ia sedekat ini dengan seorang laki-laki, Jodha segera menjauhkan tubuhnya dari Jalal, namun kedua tangan Jalal menarik pinggang Jodha kembali merapat ketubuhnya.

“Jo.. jawab pertanyaanku.. apa kau mencintaiku?”

Jodha sekuat tenaga melawan kehendak hatinya yang muali merasa nyaman berada di dekapa laki-laki breng*** yang sekarang memeluknya, otak dan hatinya berperang..

‘Jodha.. Ilyas itu lelaki impianmu.. jangan menyerah pada rayuan Jalal’ akal Jodha berusaha menasehati hatinya

‘Jodha dia itu suamimu.. ketika kau merasanyaman didekatnya.. bukan kah itu tanda kau mencintainya’ suara hati Jodha memberi pembelaan.

Jalal masih menunggu dengan tatapan penuh harap. “Hemm.. bagaimana istriku, sayang. kau sudah punya jawabannya?”

Jodha berusaha mencari jawaban yang bisa memuaskan akal dan hatinya, “Aku akan mencintai orang yang Alloh ada di hatinya, namun begitu Alloh tidak ada di hatinya akupun akan berhenti mencintainya”

“Baiklah Jo.. aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku..”

Jalalpun melepaskan pelukannya. keduanya memang berusaha untuk tidak saling mencintai, tapi ketika cinta datang menyapa, maka tak satupun manusia bisa mengindarinya.

***

Seperti biasa Jalal mengantar Jodha ke kampus, namun kali ini beda, ini hari pertama Jalal ke kantor, hari dimana ia mengakhiri masa penganggurannya, hari yang akan membuatnya sibuk meski cuma baru pengenalan sebelum dia menjadi presdir sungguhan.

“Syukron.. pas sopir sudah mau mengantarku” ucap Jodha, sambil tertawa meledek Jalal

“Ooh... jadi istriku menganggap aku sebagai sopirmu.. hemm? Siapa sih yang ga mau punya sopir setampan Rajat Tokas..”

Mendengar jawaban Jalal, Jodha mencibirkan bibirnya..

Jalal segera turun membukakan pintu untu Jodha..

“Aku masuk dulu ya a.. sekali lagi syukron” ucap Jodha sambil mencium khidmat tangan Jalal.

“Hanya cium tangan? Aa minta bonus ya..” ucap Jalal sambil menciun pipi Jodha tanpa aba-aba, Jodha merasa malu karena banyak teman-teman yang memperhatikan mereka, segera berlalu dari hadapan Jalal dengan muka yang merah seperti tomat mengkel.

***

Begitu adzan dzuhur... Jodha yang baru keluar dari lab. Langsung menuju masjid kampus tentu bersama para sahabatnya termasuk Ilyas.

“Jo.. ini ada sesuatu untukmu” kata Ilyas sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. sebuah buku hard cover yang tebal berjudul **Kado Pernikahan untuk Istriku** “Sebenernya.. aku ingin memberikanya buat istriku kelak, dan kau tau Jo, aku pernah berharap dirimu yang akan jadi istriku, tapi semuanya kini hanya kenangan khayalku, aku hanya berharap kamu bahagia dengannya, terimalah buku ini, kamu lebih membutuhkannya sekarang”

“Jazakalloh..” ucap Jodha singkat... sebenarnya ia juga ingin bilang 'Aku juga pernah mengharapkanmu jadi suamiku' namun kalimat itu ia simpan dalam-dalam, rasanya tak pantas bagi seorang yang telah bersuami mengatakan itu pada laki-laki lain.

***

Sesampainya di masjid, Jodha merasa kaget, dari tempat wudhu dia melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal, lengan kemejanya digulung sampai sesiku,  dia sedang menunduk membetulkan gulungan celananya, sisa air wudu  sesekali masih menetes dari wajahnya, merasa ada yang memperhatikan, lelaki itu pun melihat kearah Jodha sambil melempar senyum maut yang membuat setiap wanita dibuat klepek-klepek karenanya. Lelaki itu berjalan mendekati Jodha yang sudah berada di teras masjid.

“Assalamu'alaikum.. cantik” tangannya iseng menyipratkan sisa air wudu pada wajah Jodha.

“Kenapa ada disini??” tanya Jodha heran.

“Memangnya ga boleh, aku ingin bertemu istriku, hemm??” suaranya begitu nyaring sehingga semua yang mendengar menatap ke arah mereka, terutama teman-teman Jodha yang iseng menggoda mereka dengan berdehem.

“ehm...ehm”

Hanya Ilyas yang kelihatan salah tingkah, ia hanya menunduk sambil berlalu menuju tempat wudhu untuk menutupi rasa cemburunya.

“Kita makan siang bersamanya.. ya sayang” ucap Jalal,

Jodha hanya mengangguk.

****

Setelah shalat Jodha keluar, dan benar saja, seorang laki-laki tampan yang mukanya mulai teduh sudah setia menunggunya.

Teman-teman Jodha pamitan, memberi waktu untuk Jodha dan suaminya berduaan.

“A.. tunggu ya.. aku mau nyicil tilawahku” ucap Jodha sambil membuka mushaf Al'Qur'an saku dari dalam tasnya.. suara Jodha sangat pelan, namun terdengar sangat merdu oleh Jalal yang duduk disampingnya.. saking merdunya.. membuat Jalal menguap, dia pun menarik tas Jodha, dijadikan bantal, semilir angin yang berhembus di teras masjid sukses membuat Jalal  tertidur pulas, dengan posisi meringkuk sambil memeluk jasnya. Jodha baru ngeh saat dia menyelesaikan tilawahnya. Jodha hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah ci aa nya.

'Aku senang melihatnya berubah.. Ya Alloh jadikanlah dia laki-laki yang shaleh' gumam Jodha dalam hatinya.

“a.. a.. hey bangun..” di tepuknya pipi Jalal pelan.

Jalal membuka mata pelan-pelan..kemudian dia duduk disamping Jodha, sambil berbisik “Kamu udah beres Jo? padahal aku baru mulai masuk dunia mimpi loh”

“Aa ini..ada orang ngaji bukannya di dengerin, malah tiduran.. emangnya aku lagi ninaboboin aa apa..”

“hehehe.. iya.. afwan.. habis suara kamu merdu banget..biasanya dalam kondisi yang sangat nyaman, akan membuat seseorang mengantuk, dan aku merasakan nyaman ada di sisimu Jo”

“Udah.. gombalan aa ga akan mempan untuku..simpan saja buat setok ngerayu wanita-wanitamu”

Mendengar ucapan Jodha, Jalal terdiam..perlahan dia meraih tangan Jodha.. “Jo..aku ingin seperti Ilyas..yang tidak menyentuh wanita yang bukan haknya..yang hanya akan memberikan rayuan hanya untuk wanitanya”

“Sungguh..??”

“he..eh..makanya kamu harus bantu aku..bukannya menyudutkanku seolah-olah aku ini seorang play boy”

“Oke..oke...hal pertama yg harus aa lakukan klo mau seperti Ilyas..selain tidak menyentuh aa juga  harus menundukan pandangan ketika berbicara atau bertemu dengan seorang wanita..bisa?”

“Aa..akan coba, meski kadang para wanitanya sendiri yang berpakaian tapi seolah telanjang..itu sangat menggoda laki-laki untuk melihatnya”

****

Mereka kini keluar dari mushola, berjalan berdampingan, Jalal menggenggam tangan Jodha seolah mengatakan pada dunia 'Wanita shalehah ini adalah miliknya' Sepertinya Jodhapun mulai nyaman dengan perlakuan Jalal.

Dari arah berlawanan, berjalan seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat minim, mata Jalal reflek menatapnya..namun Jodha segera mencupit pinggang Jalal sambil berkata “Ingat..tundukan pandanganmu a..penglihatan yang kedua itu anak panahnya setan”

“Jo..sepertinya kamu harus selalu disisiku..jadi alarm saat otakku mulai tak berfungsi”

“Aa..harus punya alarm sendiri..yang memberi peringatan itu pantas dilihat atau tidak..itu pantas dikerjakan atau tidak..jika kita tidak tau suatu pekerjaan itu dosa atau bukan..maka indikatornya adalah suatu pekerjaan dikatakan dosa bila kita tidak ingin ada seorangpun melihatnya perbuatan yang kita lakukan”

***

Mereka kini sedang menikmati santap siang, sesekali Jalal menyuapkan makanan pada Jodha..jarak pembatas diantara mereka sedikit demi sedikit sepertinya mulai tersingkir..meski tidak tau apa yang sebenarnya ada dalam hati mereka masing-masing, apakah Jalal sunggih-sungguh telah berubah..atau hanya akal-akalannya saja, nanti biar waktu yang akan menjawabnya..di sudut ruangan, terlihat seorang wanita cantik dengan kaca mata hitam sedang memperhatikan Jalal dan Jodha, dari gelagatnya sepertinya wanita ini sedang melakukan penyamaran..sesekali wanita ini membuang muka ketika melihat perlakuan Jalal yang begitu mesra pada Jodha.

********************************


Ana Uhibbuki Fillah Part 8

8 comments:

  1. Alhamdulillah udah mulai deket.. mudah mudhan jalal gak bersamdiwara yaa sprt rencananya waktu itu..

    ReplyDelete
  2. AkhitNya....LeNgket LeNgketaN.... Next

    ReplyDelete
  3. Tks bunda seni n mba chusnianti ditunggu lanjutannya (Mamah Afi)

    ReplyDelete
  4. Romantis deh udah mereka membuatku iri aja ^_^

    Lanjutin mbak ceritanya!!!

    ReplyDelete
  5. Amin...Amin..d doain biar cepet jd manusia yg sholeh biar jodha makin sayang...next mbak..

    ReplyDelete
  6. Trima kasih... lanjutin lg dong.....

    ReplyDelete
  7. ngga sabar nunggu part saat jalal sudah berubah....akan kah jodha kuat berjauhan dari jalal....? lanjouuutttkan nanda Chus.....mba Seni.....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.