Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 11 - ChusNiAnTi

Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 11



Versi asli Bag. 29 - 31
By: Viona Fitri

Jodha membantu Jalal agar terbaring lagi. Hatinya juga miris menahan sakit yang luar biasa melihat kondisinya sangat rapuh seperti itu. Seakan semua tdk lebih dari apa yang ada di mimpikannya.

“Jalal kau tidak perlu berpikir aku akan meninggalkan mu. Aku telah bersumpah untuk selalu setia padamu saat pernikahan kita. Bagaimana aku bisa melanggar sumpahku itu?” tanya Jodha yang terlihat begitu sedih. Matanya berkaca kaca seakan air matanya akan menetes. Tapi ia mencoba untuk membendungnya, walau tidak ada yang tau bagaimana susahnya membendung air yang mengalir itu.

“Jodha..... Aku benar-benar tdk bisa membayangkan jika benar mimpi itu akan menjadinyata. Kau pergi dengan pria lain, aku menangis Jodha saat itu, aku memanggil mu, tapi kau tdk mau berpaling melihat ku. Lalu kau semakin lama semakin menjauh hilang dari pandanganku bersama pria itu.” suara Jalal benar-benar terdengar getir mengucapkan kalimat itu. Pandangannya menjelajah seluruh isi ruangan kalau-kalau pria itu sudah datang dalam hidupnya.

“Jalal sudahlah... Sekarang aku mohon padamu, kau harus tidur. Itu hanya mimpi saja.” kata Jodha sambil mengelus rambut gondrong dan bergelombang suaminya.

Akhirnya Jalal pun tertidur lelap di dlm selimut hangat yang membalut badannya. Wajahnya terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dalam tidur pun ia tdk melepaskan tangan Jodha dari genggamannya.

* * * * * * *

Suara bunyi ayam berkokok pada subuh menjelang mentari pagi, membangunkan Jodha dari tidurnya. Ia segera melangkah ke dapur dan membuatkan makanan untuk Jalal. Hari ini adalah hari pertama ia bisa bangun di pagi hari. Jodha tersenyum senang sambil menambahkan bumbu cintanya dalam masakan sederhananya.

“Hari ini, aku akan membuat Jalal terkejut. Aku akan membuatkan makanan special untuknya. Aku harap dia menyukainya.” kata Jodha berharap pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba dirasakannya sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang dan memcium rambutnya lalu menuju pipinya tapi tidak menciumnya. Ia malah berbisik di dekat telinga Jodha dengan mesra.

“Kau sudah bangun Jodha. Kenapa tidak membangunkan ku?” tanya Jalal seraya membalikka tubuh Jodha menghadap padanya.

“Jalal... Kau kurang tidur semalam. Aku tidak ingin mengganggu tidur mu. Sekarang kau sholat lah dulu baru kita akan sarapan bersama.” kata Jodha sambil melepaskan tangan Jalal dari pinggangnya.

“Baiklah, tapi apa tidak bisa kau memberiku morning kiss dulu? Atau aku saja yang akan memberikanmu morning kiss. Kau sudah terlalu banyak menciumku semalam. Jadi sekarang apa aku boleh mencium mu?”

“Tidak boleh Jalal, kau belum mandi. Aku bisa-bisa akan mual begitu kau mencium mu. Dan lagi, kumismu itu benar-benar aneh sekali. Apa kau tidak berpikir untuk mencukurnya?”

“Hah.... Kau ini memang selalu saja berusaha menjauh dari ku. Apa hanya kau saja yang di perbolehkan untuk mencium ku? Lalu kalau begitu kapan aku akan dapat kesempatan?” tanya Jalal dengan kesalnya lalu meninggalkan Jodha yang masih tersenyum melihat kelakuan Jalal yang sangat seperti anak-anak sekali.

Makanan telah terhidang di atas meja, tapi Jalal tidak datang juga untuk segera turun dan sarapan bersamanya. Jodha merasa heran dengan sikap Jalal ada apa lagi dengannya. “Apa Jalal marah padaku karna hal tadi? Aku harus meneimuinya sekarang” kata Jodha pada dirinya sendiri.

Jodha menyusuri anak tangga menuju lantai atas tempat kamar Jalal berada. 'Krek....' bunyi pintu kamar terbuka. Jalal menatap ke arah siapa yang datang lalu memalingkan wajahnya lagi. Jodha datang mendekat ke arah Jalal dan duduk di samping. Jodha melihat wajah Jalal yang terlihat sedang marah padanya.

“Jalal.... Apa kau marah padaku?” tanya Jodha dengan berhati-hati. “Tidak, aku tidak marah padamu. Bukankah seseorang tidak berhak memaksakan dirinya pada orang lain?” tanya Jalal sambil memasang sepatunya.

“Kau salah paham Jalal. Aku bilang, kau mandi dulu baru mencium ku. Aku bukannya tidak mau memenuhi tugas ku. Tapi saat ini aku masih belum siap. Mengertilah Jalal, aku tidak bermaksud apa-apa padamu.” kata Jodha lembut.

Jodha mengambil dasi Jalal yang ada di lemari lalu memasangkannya dengan sangat berhati-hati. Jalal melihat mata Jodha yang menyimpan ketakutan dalam dirinya. Apa dia merasakan tidaknyaman dengan dirinya saat itu? Dia benar-benar ketakutan dengan sosok pria yang ada di hadapannya.

“Jodha kau tidak perlu takut padaku. Aku tidak marah padamu. Tapi kenapa kau selalu saja menghindar dari ku? Apa kau masih menyimpan rasa dendammu pada diri ku?” tanya Jalal pada Jodha.

Jodha mendongak menatap Jalal yang memandangnya dengan lekat. Ada rasa penasaran yang amat ingin di ketahuinya segera di bola mata hitamnya itu.

“Aku tidak menyimpan dendam lagi padamu. Aku ingin melupakan semua itu. Kita sudah berumah tangga sekarang, jadi kita harus saling menyayangi kan?”

Jalal menatap Jodha dengan penuh haru. Serasa sesak dalam hidupnya mulai tersingkir. Kabut tebal yang menghalangi mereka seakan semakin menipis dan menghilang. Tapi ada satu hal yang masih menghalangi mereka. Pertanyaannya adalah “Apakah mereka saling mencintai jika selalu sering merasakan luka?”

Luka juga merupakan salah satu bentuk dari cinta. Kau bisa merasakan luka seperti orang yang kau cinta, hanya ketika kalian telah sudah saling mencinta. Mungkin banyak luka yang mendera hatimu kala itu. Tapi kau tau, semuanya akan kembali normal seiring berjalannya waktu. Kau mungkin iri dengan keindahan dan kebersamaan yang melekat di warna-warninya pelangi, kau berharap hidupmu bisa berwarna seperti mereka. Tapi cinta mengajarkanmu untuk terluka dan menerimanya. Ketika cinta itu datang dan melengkapi hari mu, kau akan bisa merasakan perasaan yang lebih indah dari pelangi dan saat itu kau akan terbang jauh ke angkasa sana.

“Aku juga sudah melupakan semua itu Jodha. Aku ingin kita memperbaiki hubungan kita. Owh ya, hari ini aku harus segera berangka pagi menuju kantor. Terimakasih telah memasangkan dasi ku.” kata Jalal lalu berdiri dari duduknya dan mencangking tasnya yang berukuran sedang.

Jodha juga bangkit dan mendekat ke arah Jalal. Dia sedikit berjinjit lalu mencium kening Jalal lembut. Jalal hanya tersenyum lalu berlalu dari sana.

Menempuh 30 menit berkendara, Jalal sudah sampai di kantornya dan tersenyum ramah pada setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Akhir-akhir ini Jalal memang sangat berbeda, ia terkesan sangat ramah dan baik. Tidak seperti dulu yang angkuh dan tamak dengan kekuasaan tanpa memperhatikan bagaimana kehidupan dari beberapa perusahaan yang telah di kalahkannya.

Di ruangannya, Jalal terlihat sangat teliti membaca berkas tentang laporan keuangannya. Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Maansing dengan seorang wanita cantik bersamanya.

Jalal menatap wanita yang di samping Maansing sambil mencoba mengingat sesuatu tentangnya. Setelah keras berfikir, barulah Jalal ingat dengan wanita yang di bawa Maansing itu.

“Benazir.... Kau temannya Ruqayah kan? Bukankah sekarang kau sudah bekerja di Delhi?” tanya Jalal yang terlihat senang dengan kehadiran Benazir. Sejak kecil, Jalal, Ruqayah, dan Benazir selalu bermain bersama. Mereka sangat akrab sejak kecil dan tidak pernah bermusuhan sama sekali. Tapi kali ini Benazir mempunyai maksud tertentu dalam hidup Jalal.

“Tuan, saya permisi dulu. Salam....” Maansing kemudian keluar dari ruangan Jalal. Sekarang hanya ada Jalal dan Benazir di ruangan itu. Benazir menatap Jalal dengan tatapan ramahnya tapi ada yang berbeda dari raut wajah Benazir kali ini. Entah apa perubahannya yang jelas sangat berbeda pandangannya dari sebelumnya.

“Silahkan duduk Benazir. Owh ya bagaimana kabar mu? Aku rasa kita sudah sangat lama tidak bertemu.” kata Jalal sambilm menghampiri Benazir yang duduk di sofa di dalam kantornya.

“Aku baik-baik saja Jalal. Aku dengar dari Ruqayah bahwa sekarang kau sudah menikah. Apakah itu benar Jalal?” tanya Benazir yang menatap Jalal dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Benazir dulu pernah mempunyai perasaan dengan Jalal, tapi karna Jalal hanya menganggapnya sebagai teman saja, Benazir mulai mencari cara untuk mendapatkan Jalal bagaimana pun caranya. Apalagi saat ini, ia sudah mendengar kabar tentang pernikahan Jalal dengan seorang wanita cantik berdarah Amer itu.

“Iya Benazir itu benar, aku akan memperkenalkanmu dengan istriku jika aku mempunyai waktu luang nanti. Tapi, apakah kau akan tinggal lama di Agra, atau hanya untuk beberapa hari saja?”

“Aku akan tinggal lama di sini Jalal. Aku bahkan sudah menyewa sebuah apertement untuk tempat tinggalku beberapa bulan kedepan. Setelah aku menyelesaikan misi ku, maka aku akan kembali lagi ke Delhi.”

“Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan Benazir. Kita bisa saling menceritakan pengalaman hidup kita selama kita tidak bersama seperti dulu lagi.” kata Jalal sembari menyunggingkan senyum hangatnya pada Benazir.

* * * * * * * *

Sementara itu di rumah, Jodha yang sedang bersantai di ruang tamunya segera melangkah ke arah pintu begitu mendengar bunyi pintu dan bel yang berdering. Jodha membuka pintu dan melihat seorang petugas pos yang berusia paruh baya berdiri di hadapannya sambil menyordorkan sebuah kado yang berukuran sedang pada Jodha.

“Nona, ada sebuah kiriman untuk anda. Kami tidak mengetahui siapa pengirimnya. Tapi kami nememukan alamat rumah anda dari secarik kertas yang menempel di atas kado ini.” kata petugas pos dengan ramah.

“Terima kasih tuan” kata Jodha sambil melihat kado misterius itu. “Sama-sama nona” Petugas pos itu langsung pergi dari sana. Sementara Jodha terlihat penasaran dengan isi kado itu. Jodha kemudian menutup pintu dan duduk lagi di tempat duduknya semula sambil membuka kado itu perlahan.

Jodha membuka kado itu dan melonjak tak percaya. Kado itu berisi tentang foto Jalal yang tengah tidur bersama seorang wanita cantik. “Apa ini Jalal? Apa yang sudah kau lakukan? Apa ini yang kau lakukan ketika kau mabuk dan pulang larut semalam. Aku sudah mulai menaruh kepercayaan padamu, tapi kau menghancurkannya begitu saja. Kau selalu berkata padaku untuk tidak menjalin hubungan dengan pria lain selain suami ku. Tapi kau telah lebih dari sekedar itu.” Jodha menangisi kenyataan yang terjadi padanya. Foto itu benar-benar seperti nyata tanpa editan sama sekali. Apakah benar semua itu?

Jodha menyimpan foto-foto itu dalam lemari pakaiannya yang terletak di sebelah lemari Jalal. Hatinya miris tergores pedang yang tajam yang membuatnya kembali merasakan luka. Luka lama yang belum sembuh sepenuhnya, kini kembali terkoyak dan berdarah lagi.

Jodha meringkuk di depan pintu lemarinya sambil memeluk lututnya. “Apakah kau hanya berpura-pura perhatian selama ini padaku Jalal? Kenapa melakukan ini padaku?” Tanya Jodha pada dirinya sendiri sambil terisak menyandar di pintu lemari.

* * * * * * *

Jam sudah mulai menunjukkan pukul 17.30 WIB. Jodha kini sudah menghapus air matanya. Tapi, pandangannya sudah sangat berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat kosong dan menghanyutkan. Matanya tidak lagi bercerita tentang kehidupannya, seakan hanya takdir yang mengalir disana. Tak peduli sudah seberapa besar ia berusaha melupakan isi kado itu, tapi tetap saja rasanya itu sangat sulit untuk di lupakan begitu saja.

Kau mungkin pernah mencoba untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan hati mu. Semua usahamu sudah kau keluarkan dengan sangat, tapi kau tak bisa menghentikan suara gemuruh petir dari atas langit, kau hanya bisa berharap agar suara itu cepat berhenti dan menjauh dari kehidupan mu. Kau tidak bisa mengerti takdir yang sedang kau jalani dalam hidup, tapi kau bisa terus melangkah tanpa menghiraukan pikiran dan hatimu yang terus berontak dengan keputusan sang pencipta.

Kini Jalal sudah sampai di halaman rumah dan memarkirkan mobilnya di garasi. Pandangannya menuju ke arah kamar yang tertutup rapat. Tidak biasanya Jodha menutup pintu kamar kalau Jalal belum pulang. Dan lagi, sedari tadi Jalal tidak melihat Jodha menyambutnya. Jalal membuka pintu kamar dan mendapati Jodha yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil menyilakan kedua kalinya tanpa pandangan yang jelas.

“Jodha... Aku sudah pulang. Kenapa kau tidak menyambutku. Apa kau baik-baik saja?” tanya Jalal yang langsung duduk di samping Jodha. Ada perubahan di mata Jodha yang indah itu. Dia hanya terdiam tanpa kata, dia benar-benar hanya seperti orang yang kehilangan raganya.

“Jodha.... Kau sakit?” Jalal menempelkan punggung tangannya di kening Jodha. Suhu badannya tidak tinggi, masih normal seperti biasanya. Tapi ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi padanya?

“Setidaknya, bicaralah sesuatu padaku Jodha. Kau benar-benar membuatku khawatir.” melihat kondisi Jodha yang menghanyutkan seperti itu, Jalal jadi teringat pada mimpi buruknya. Mungkin, pria itu sudah mulai masuk dalam kehidupannya dan akan menghancurkan hubungannya dengan Jodha.

“Apa pria itu sudah datang Jodha? Apa dia ingin membawamu pergi menjauh dariku? Dimana dia sekarang Jodha? Ayo katakan padaku?” Jalal bertanya dengan tidak sabar dan mengguncang tubuh Jodha.

“Pria siapa yang kau maksud, Jalal? Tidak ada pria yang akan menghancurkan hubungan kita. Tapi kau dan juga wanita itu yang sudah menghancurkan semua hubungan kita. Kau selalu saja melarangku untuk tdk menjalin hubungan dengan pria lain selain dirimu, tapi kau.... Apa yang telah kau lakukan padaku?”

“Apa maksudmu Jodha? Aku tdk mengerti sama sekali. Wanita.... Wanita mana yang kau maksud?”

“Teruslah berpura-pura tidak tau Jalal. Dan teruslah berpura-pura peduli padaku. Sekarang aku tdk akan tertipu olehmu lagi.” kata Jodha sambil mendorong dada Jalal dan turun menuruni anak tangga menuju dapur dan mengunci pintu kamar pembantu yang ada di sana. Jalal datang dan mengetuk pintu itu dengar keras. Tapi tdk ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Dia hanya mendengar suara tangis dari dlm sana. Akhirnya, emosinya mengalahkan segalanya dan sudah berada di ubun-ubun. Jalal mendobrak pintu itu dan langsung masuk ke dlmnya.

“Jodha, ada apa? Aku tdk mengerti apa yang terjadi padamu. Aku pulang dan langsung melihatmu bersikap dingin padaku.” tanya Jalal berteriak marah. Jodha terlihat sangat ketakutan dan menghentikan tangisnya. Tapi suaranya sedikit tersenggal karna itu.

“Jalal.... Tolong katakan padaku, apa yang kau lakukan ketika kau pulang larut malam dan mabuk itu. Apa yang kau lakukan di luar sana?”

“Aku tidak melakukan apa-apa Jodha. Memangnya apa yangku lakukan?”

“Berkatalah dgn jujur Jalal. Tolong jgn bohongi aku lagi....”

“Aku sudah berkata jujur padamu, tapi kau tidak mau percaya padaku.”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 11

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.