FF – His First Love Chapter 37 - ChusNiAnTi

FF – His First Love Chapter 37




Makan malam kali ini tidak sebahagia kemarin, justru ada aura persaingan di meja makan kediaman Tuan Bharmal. Bharmal duduk di paling ujung, disamping kiri Bharmal ada Mainavati dan Jalal berada disamping kanannya, Surya duduk tepat disamping Mainavati, sementara Jodha berada ditengah-tengah Jalal dan Sujamal. Jodha merasa tertekan dengan situasi yang dialaminya, “Apa ini? Padahal rencananya malam ini aku dan papa kan akan menjelaskan hubunganku dengan Jalal kepada mama. Tapi apa yang mama lakukan, mengundang Surya tanpa sepengetahuanku. Bukankah papa kemarin sudah melarang mama untuk mengundang Surya selagi ada aku dan papa di rumah? Benar-benar menyebalkan!” gerutu Jodha dalam hati. Makan malam bersama Jalal seakan tidak bisa memberi kenangan manis tersendiri baginya, karena terlalu banyak mata yang terus mengawasi mereka.

Suasana di meja makan begitu hening bagi Jodha. Mainavati begitu perhatian kepada Surya dan Bharmal begitu perhatian kepada Jalal. Hanya Sujamal dan Jalal yang menyadari bagaimana perasaan Jodha. Ingin sekali Jalal memeluknya untuk mengangkat semua kegelisahan di hati Jodha. Namun apa daya, dia ingat betul dimana dia sekarang, “Tenanglah Jalal, kau harus bisa menahan dirimu. Kau tidak boleh mengacaukan segalanya. Ingat... Kau datang kesini untuk meminta restu dari kedua orang tua Jodha,” tegas Jalal dalam hati.

Surya dan Mainavati tidak suka melihat pemandangan dihadapan mereka. Jodha dan Jalal terlihat saling mencuri pandang, meskipun itu tidak sesering kemarin.

Saat makan malam hampir usai, Mainavati memulai pembicaraan, “Setelah ini, ada hal yang ingin aku bicarakan kepada kalian semua.”

“Kebetulan sekali, aku dan Jodha juga ingin memberitahu sesuatu,” ucap Bharmal. Mainavati menatap Bharmal seolah meminta penjelasan, namun sebelum Mainavati menanyakannya, Bharmal segera melanjutkan ucapannya, “untuk saat ini, kita nikmati dulu makan malam ini. Setelah itu, kita akan berkumpul di ruang tamu.”

Mendengar ucapan Bharmal, semua orang kembali melanjutkan memakan makanan mereka dengan suasana hening, hanya terkadang terdengar suara sendok, garpu dan piring yang saling beradu.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Setelah membereskan meja makan, kini Sujamal dan Jodha ikut bergabung dengan yang lain di ruang tamu. Bharmal dan Mainavati duduk berdampingan, Jodha berdampingan dengan Sujamal, Jalal dan Surya duduk di sofa masing-masing. Untuk sesaat suasana begitu hening. Jodha begitu gugup, semua diluar rencananya. Malam ini dia ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Mainavati tentang hubungannya dengan Jalal, namun ternyata Jalal dan Surya saat ini berada di tengah–tengah mereka. Sujamal yang duduk disebelahnya, memberikan kekuatan kepada Jodha dengan menggenggam tangannya. Sujamal sudah tahu apa yang direncakan Jodha, tadi saat membereskan meja makan, Jodha memberitahu Sujamal bahwa dia ingin memberitahukan segalanya apapun resikonya.

Jodha menarik nafas dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan untuk menenangkan dirinya. Dia tersenyum menatap Sujamal dan membulatkan tekadnya. “Em... Ma, Pa, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan kepada kalian.” Jodha diam sejenak, sementara yang lain memilih diam dan menunggu Jodha melanjutkan ucapannya. “Ma, Pa, sebenarnya... sebenarnya aku telah menjalin hubungan dengan pak Presdir..Aku...Aku mencintainya…

Jodha berhenti dan menatap sekelilingnya untuk melihat reaksi mereka. Bharmal, Sujamal dan Jalal tersenyum kearahnya. Surya tampak kecewa. Sementara itu, Mainavati tampak menahan amarahnya. “Sejak kapan kau berhubungan dengannya?” tanya Mainavati dengan nada dingin.

Jodha tampak ragu-ragu untuk menjawabnya. Jalal melihat Jodha yang sedikit ketakutan menghadapi ibunya, Ia pun mulai angkat bicara, “Bibi, saya sudah mencintai Jodha saat pertama kali bertemu dengannya. Saya sangat mencintainya, dan kami mulai mengakui persaan kami saat di Miami. Kami....”

Mainavati menatap Jalal dengan sinis, “DIAM... AKU TIDAK BERTANYA PADAMU!!” bentak Mainavati pada Jalal. “Jodha, lihat mama, apakah kau sadar dengan pilihanmu? Kalian berdua tidak mungkin bisa bersatu, ada banyak perbedaan antara kita dengan dia. Dia tidak mungkin bisa mengikuti adat kita. Mama sudah putuskan, mama akan menikahkanmu dengan Surya, mama tidak ingin mendengar bantahanmu!” Surya tersenyum karena mendapat dukungan dari Maina, dia memang sudah lama memimpikan  Jodha, tapi karena kesalahannya, dia harus kehilangan Jodha.

Jalal ingin menanggapi ucapan Maianvati, namun Bharmal lebih dulu angkat bicara, “Maina, apa yang kau katakan?! Bagaimana bisa kau mengambil keputusan secara sepihak? Apakah kau lupa dengan apa yang dilakukan Surya pada Jodha? Dia telah menyakiti Jodha hingga Jodha terpuruk selama beberapa bulan. Apakah menurutmu seseorang seperti itu pantas untuknya? Bukankah hal yang paling penting untuk kita adalah kebahagiaan Jodha? Coba kau pertimbangkan sekali lagi keputusanmu itu!”

“Aku hanya ingin melihat Jodha menikah dan dengan begitu aku tidak akan mencemaskannya lagi. Dia akan terikat sehingga dia tidak akan mungkin berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri untuk orang lain.” Mainavati mengatakan hal itu sambil menatap Jalal dengan tatapan tidak suka.

“Lalu mengapa tidak kita nikahkan saja dia dengan Presdir? Mereka saling mencintai, dan aku yakin Jodha akan bahagia bersamanya,” ucap Bharmal.
“TIDAKK… kau tahu dengan sangat bahwa adat istiadat dan keyakinan kita sangat berbeda dengannya. Apa kau ingin Jodha merubah keyakinannya hanya untuk bahagia bersama pria ini?” sahut Meinavati dengan semua penolakannya.

“Bass… cukup Meina.. Kau sudah keterlaluan. Kau sudah menyudutkan seseorang tanpa meminta penjelasannya terlebih dahulu. Pak presdir telah menyampaikan padaku bahwa ia akan selalu menghormati keluarga kita serta keyakinan kita. Dia tidak akan meminta Jodha untuk menjadi seperti dirinya. Aku telah melihat ketulusan hati Presdir saat ia memintaku merestui hubungannya dengan Jodha. Apa kau tidak bisa berfikir realistis untuk hidup saling berdampingan dan menghormati satu sama lain?”ucap Bharmal memberi penjelasan kepada istrinya. 

Jodha menangis melihat kedua orang tuanya bertengkar untuk pertama kalinya dihadapannya, dan itu semua karena dirinya. Sujamal dan kedua pria lain yang berada disana tidak mampu berbuat apapun. “Sudah cukup! Hentikan!” setelah mengatakan hal itu, Jodha segera berlari keluar dari rumahnya. Ia tidak tahan lagi melihat hal ini.

Jalal sangat mengerti dengan kondisi Jodha, dia pamit kepada Bharmal dan Mainavati untuk mengerjar Jodha. Surya masih terdiam dalam posisinya, kemudian Mainavati menyuruhnya untuk segera mengejar Jodha juga. Dan tanpa pikir panjang, Surya segera mengikuti Jalal yang sudah lebih dulu mengejar Jodha.

Tepat saat itu, pintu lift terbuka, Jodha langsung masuk. Namun sayang, Jalal kalah cepat, pintu lift tertutup sebelum dia bisa masuk menyusul Jodha, dia melihat tangga darurat dan segera berlari menyusuri tangga tersebut untuk bisa mengejar Jodha. Dia sangat mencemaskan keadaan Jodha, emosi Jodha sedang tidak stabil, ia begitu takut terjadi sesuatu pada Jodha. Perasaannya tidak menentu. Sementara itu, Surya masih menunggu hingga pintu lift terbuka.

Jodha sudah sampai di lobi, dia berlari keluar dengan berlinang air mata. Tepat saat itu Jalal sudah ada dibelakangnya dengan nafas yang tidak beraturan, dia berteriak memanggil Jodha namun Jodha tidak menghiraukannya dan terus berlari meninggalkannya. Jodha sudah sampai di depan pintu gerbang, dia berlari ke jalan raya.

Malam yang gelap, tanpa sinar sang bulan ataupun bintang yang selalu menampakan diri. Terlihat sebuah truk yang melaju dengan kencang, sementara dari arah berlawanan melaju mobil yang didalamnya terdapat sepasang kekasih yang bertengkar. Truk membunyikan klaskson panjang, karena mobil tersebut tidak memperhatikan jalan dan tanpa bisa dihindari kedua kendaraan tersebut bertabrakan. Mobil tersebut terbalik dan bergesekan dengan aspal dalam jarak yang jauh. Jodha yang masih terus berlari, sontak menghentikan langkahnya dan berdiri terpaku saat melihat kejadian itu di depan matanya. Kecelakaan tersebut berjarak 200 meter dari tempatnya berdiri, kakinya begitu berat untuk kembali melangkah. Jalal yang berlari dibelakang Jodha langsung berteriak, “JODHA... AWAS!!!”

Karena kejadian yang tiba-tiba dan mobil tersebut yang meluncur dengan kencang, tak dapat terelakkan, mobil itu langsung menghantam tubuh Jodha. Tubuh Jodha terpelanting, kakinya terkena pecahan-pecahan kaca mobil, kepalanya terbentur aspal. Tubuhnya bersimbah darah dan seketika itu juga dia tidak sadarkan diri.

Jantung Jalal berhenti bekerja untuk sementara waktu menyaksikan kejadian dihadapannya. Namun kesadarannya segera pulih, Jalal berteriak histeris dan segera berlari menghampiri Jodha yang terkulai bersimbah darah. Segera direngkuhnya tubuh Jodha dan berlari menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat kejadian. Dimasukkan tubuh kekasihnya tersebut ke dalam mobil lalu menyalakannya. Jalal sempat melihat Surya dibelakangnya, “Katakan kepada keluarga Jodha bahwa aku membawanya ke rumah sakit!” Karena Surya masih diam, akhirnya Jalal membentaknya, “CEPAT!!!”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Kini semua keluarga Jodha berserta Jalal dan Surya sedang menunggu proses operasi Jodha di luar IGD. Susana begitu hening, hanya terdengar detikan jarum jam, bahkan suasana operasi tak terdengar dari luar ruangan. Sudah 3  jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda bahwa operasi tersebut akan usai. Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, sebelumnya Jalal telah menceritakan semuanya kepada ibunya dan dia akan pulang larut malam, dia juga meminta supaya ibunya tidak cemas.

5 jam berlalu dan akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan dan langsung di kerumuni oleh keluarga Jodha dan yang lain. Mereka tampak cemas dan menanyakan tentang kondisi Jodha. Dr. Mirza memandangi mereka satu per satu, dia menghembuskan nafas berat dan mulai menjawab kegusaran mereka, “Untuk saat ini, kondisi Nn. Jodha masih kritis. Dia kehilangan banyak darah. Kita tunggu selama 24 jam ke depan, jika Nn. Jodha sadar sebelum waktu 24 jam, maka dia berhasil melewati masa kritisnya dan bisa  dipindahkan ke ruang rawat.”

Mendengar pernyataan dr. Mirza, tubuh Mainavati langsung lemas. Bharmal langsung menopang tubuhnya. Jalal berusaha tegar, “Apakah   saya boleh menemuinya, dok?” Dr. Mirza pun mengizinkan, namun hanya dua orang yang bisa masuk.

“Terima kasih, dok,” ucap Jalal kemudian mulai melangkahkan kakinya.

Mainavati yang melihat hal itu langsung menghentikan Jalal, “Mau kemana kau? Aku tidak mengijinkan Jodha bertemu denganmu! Pergi dari sini!”

Jalal terhenyak, dia tidak menyangka Mainavati akan  mengatakan hal itu. Bharmal segera menguasai situasi, “Tenanglah, Maina. Ingat, kita ada di rumah sakit sekarang! Jangan membantah, biarkan Presdir menemui Jodha.” Maina pun tak membantah, dia hanya diam mencoba mengontrol emosinya sebelum menemui Jodha.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Jodha sudah sadarkan diri dan melewati masa kritisnya. Sudah 5 hari dia berada di rumah sakit dan Jalal dengan setia mendampingi dan merawat Jodha. Urusan kantor sementara dia serahkan kepada Bharmal, Jalal ke kantor hanya jika ada urusan mendesak saja atau rapat penting dengan klien asing.

Sementara Surya sudah hilang entah kemana setelah mendengar kabar bahwa kaki Jodha mengalami kelumpuhan. Surya mengaku pada Mainavati bahwa dia akan kembali ke Jepang untuk mengurus usaha disana. Mainavati sangat marah dengan kelakuan Surya saat itu, dia tak menyangka bahwa dia akan meninggalkan Jodha yang seperti sekarang ini. Dia menyesal telah  memilih Surya untuk putrinya. Beruntung semuanya belum terlambat. Sejak saat itu, Mainavati pun sedikit demi sedikit mulai membuka dirinya untuk Jalal, meskipun dia belum menyetujui hubungan mereka sepenuhnya. Namun dia melihat ketulusan yang terpancar dari mata Jalal. Mainavati sadar akan hal itu setelah beberapa hari dilalui di rumah sakit, di ruang rawat Jodha, dia melihat Jalal yang begitu perhatian dan telaten merawat Jodha. Bahkan suatu ketika Jalal membawa patung khana ke dalam kamar rawat Jodha, agar Jodha bisa leluasa untuk berdoa. Jalal bahkan mampu membujuk Jodha untuk makan, padahal Maina sempat kewalahan untuk membujuk Jodha agar mau makan.

Sore ini, Jalal mengajak Jodha ke taman rumah sakit. Jalal duduk di bangku taman dan Jodha duduk di kursi rodanya.

“Jalal... Mengapa kau masih disini? Apa yang kau harapkan dari wanita cacat sepertiku?” pertanyaan yang selalu diucapkan Jodha kepada Jalal selama beberapa hari terakhir ini.

“Bukankah aku sudah bilang, aku mencintaimu, aku mencintaimu lebih dari hidupku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bukan fisikmu yang membuatku tertarik kepadamu tapi hatimu. Aku mencintaimu, sayang... Keluguanmu, kepolosanmu, kebaikanmu, ketulusanmu, hatimu yang begitu suci, itulah yang membuatku tertarik kepadamu. Sorot matamu, senyumanmu, itulah yang ingin kulihat setiap hari. Aku ingin segera memilikimu, sayang... Aku ingin kau selalu disampingku, siang hari aku habiskan waktuku bersama, dan saat pagi menjelang, aku ingin wajahmu lah yang ku lihat untuk pertama kalinya. Apakah kau masih meragukanku?” Jalal tak pernah bosan untuk menyemangati Jodha. Dia selalu berusaha untuk mengembalikan semangat gadis itu dan menepis keraguan Jodha terhadap dirinya.

“Tapi Jalal... dulu kau bilang....”

“Sttt... lupakan hal itu. Aku dulu mengatakan hal itu hanya untuk menggodamu saja. Aku sangat suka melihat pipimu yang memerah seperti kepiting rebus. Bagaimana pun keadaanmu, apapun yang kau kenakan, kau selalu tampak cantik dan seksi, My Hottie,” goda Jalal.

Seketika itu juga wajah Jodha langsung merona, dia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikannya dari Jalal. Tapi Jalal tentu tahu hal itu. Jalal menundukkan kepalanya dan secepat kilat dikecupnya bibir Jodha. Jodha terbelalak, “Apa yang kau lakukan?”

Jalal tersenyum senang. “Setiap kali aku melihat wajahmu yang seperti itu, aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk menciummu, My  Hottie.”

Mereka tertawa bersama, Jalal terus melancarkan godaannya, bersenda gurau tanpa memperdulikan dimana mereka sekarang. Mainavati terharu melihat senyum Jodha, senyum yang sangat dia rindukan beberapa hari ini. Jodha yang ceria dan Jodha yang selalu optimis, “Terima kasih Tuhan, kau telah mengembalikan senyum putriku. Semua ini memang salahku. Aku terlalu egois, aku terlalu memaksa putriku untuk segera menikah tanpa memikirkan bagaimana perasaannya.”

Sujamal yang kebetulan baru datang setelah dari kampusnya langsung menimpali, “Kenapa tidak kau retui saja hubungan mereka, Ma? Kau lihat, Didi bisa tersenyum kembali karena Kak Jalal. Kak Jalal juga tulus menyayanginya. Mereka tampak ilahi jika bersama. Mereka saling melengkapi, bukankah kau lihat hal itu?”

“Benar, Maina,” Bharmal yang kebetulan baru masuk ke ruang rawat Jodha ikut bergabung dengan pembicaraan mereka berdua, “bukankah ini yang kau harapkan? Segera mengikat putrimu dengan pernikahan? Dan aku yakin, Jalal bisa menjaganya dengan baik. (Setelah hubungan Jodha dan Jalal, Bharmal tidak lagi memanggil Jalal dengan sebutan Presdir kecuali di kantor)Kebahagiaan Jodha ada padanya. Juga, bagiku kebahagiaan anak-anakku adalah yang nomer satu.”

Mainavati tampak memikirkan ucapan suami dan putranya. Dia masih ragu dengan keinginan mereka dan keputusan apa yang harus diambilnya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya. Ia memang marah dengan Jodha karena ketidak jujurannya selama ini. Namun dibalik semua itu, ia juga bersalah karena mementingkan egonya tanpa memikirkan perasaan putrinya. Lama dia termenung, hingga akhirnya terdengar suara pintu kamar rawat Jodha terbuka.

To Be Continued

Terima kasih Bunda Alfi atas ide cerita dan bantuanya. Terima kasih untuk all readers atas kesabaran, like dan komentarnya selama ini. Partisipasi kalian selalu saya nantikan...

FanFiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FF – His First Love Chapter 37

23 comments:

  1. Ya allah mba sedih eiuyy..aku smpe nagis terharu...jd berandai2 ada deh..
    maasih y mba..
    Ditunggu lnjutannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Dwi,, oke deh, saya usahakan bisa cepet, tapi tidak bisa janji karena banyaknya tugas yang menanti.. hehehe

      Delete
  2. Terharu biru...., susah suit.., sukriya.

    ReplyDelete
  3. Finally.....maina emang egois......kalo masih rese' aja, biarin bang Bharmalnya yg ngasi pelajaran....habis itu JoJa di nikahin deh heeheehee.....lanjooottt nanda Chus....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secepat itukah nikahnya, Bun??? hehehe

      Delete
  4. Hurraaayyy,,,,akhirnya neng aruum bikin jg part ini sendiri...okelah...okelahhh...lanjutin dl...aye penasaran MP benerannya kyk apa ? Bukan cuma khayalan...hahahah....syukria.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah dari Part 36 sudah versi saya, Bunda FaRa... Aishh,, kenapa yang terpikirkan lebih dulu justru MPnya sih, Bun???

      Delete
  5. Akhirnya maina sadar jg ...
    dtunggu lanjutannya usni,,, makasih ;)

    ReplyDelete
  6. kalau aslinya kecelakaan gak rum

    ReplyDelete
  7. kalau aslinya kecelakaan gak rum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aslinya belum tahu, Bunda... Untuk Part 36 versi aslinya aja belum keluar... Tunggu aja akhir bulan ini, siapa tahu Part 36nya sudah keluar... hehehe

      Delete
  8. Mba dulu emangnya jalal bilang apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu kan Jalal sering memuji penampilan fisik Jodha yg begitu W.O.W, Mbak Damia...

      Delete
    2. Owalah,, lanjutkan mba,, ditunggu next chapter klo bisa nikahnya gk pake lama ƗƗɐƗƗɐˆ⌣ˆƗƗɐƗƗɐɐˆ⌣ˆ

      Delete
  9. AkhirNya...Maina Luluh jugaa... trus sii surya...MaNya eNak aja...deNger jodha LuMpuh LaNgsuNg kaburr

    ReplyDelete
  10. Surya kawinin ajj ama menawati...hehehe...ngawur efek kesel lanjutkan. Arum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asalkan jangan ikutan kesel sama authornya, ya Bunda Poojha

      Delete
  11. Apa kaki jodha bisa sembuh / permanen? Lanjuuuut tq mba arum

    ReplyDelete
  12. Jadi mewek lagi kan kalo ceritanya sedih gini
    Setidaknya kejadian ini bisa membuat maina sadar..
    Semangat terus chusni ditunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukriya Bunda... itu sudah ada lanjutannya...

      Delete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.