FF – His First Love Chapter 38 - ChusNiAnTi

FF – His First Love Chapter 38




Mendengar pintu yang terbuka, Bharmal, Mainavati dan Sujamal langsung menoleh ke arah pintu. Seorang wanita muncul dari balik pintu.

“Selamat siang.”

“Selamat siang, Bu Hameeda. Silahkan masuk,” jawab Bharmal.

Bharmal mempersilahkan Hameeda duduk di sofa, Bharmal dan Maina duduk berdampingan, sementara Suja duduk berseberangan dengan Hameeda yang dibatasi oleh meja.

“Oh iya Pak, Jodha kemana ya? Biasanya dia selalu ada di kamar,” tanya Hameeda.

“Jadi, anda sering kesini, Bu?” tanya Mainavati.

“Iya, Bu... Setelah mendengar semuanya dari Jalal, saya tidak bisa menahan diri saya untuk tidak menemui Jodha. Jodha gadis yang sangat baik, saya sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri. Dan saya sangat senang, jika Jodha benar-benar menjadi anak saya,” ucap Hameeda dengan tulus.

Mainavati termenung mendengar penuturan Hameeda. Ia semakin sadar akan ketulusan cinta Jalal kepada Jodha, ditambah lagi Hameeda begitu menyayangi Jodha meskipun mereka belum mengenal lebih lama. Hameeda begitu mengerti dengan apa yang dirasakan Jodha, tidak seperti dirinya yang lebih mementingkan egonya. Tapi dia melakukan semua itu karena mencemaskan putrinya, akan tetapi tanpa sadar dia justru mengekang putrinya dengan semua tuntutan-tuntutan yang dia berikan.

Pintu kembali terbuka, kali ini yang masuk adalah Jalal dan Jodha. Jalal mendorong kursi roda Jodha dengan pelan  menuju ke tempat tidurnya. Diangkatnya tubuh Jodha dan ia baringkan secara perlahan.

Setelah itu Jalal berjalan menuju sofa dan menghampiri keluarga Jodha dan ibunya. “Ibu sudah disini?” ucap Jalal sambil mencium tangan Hameeda.

Bharmal teringat sesuatu, “Oh iya, saya tadi menemui dr. Mirza, beliau bilang Jodha sudah boleh pulang besok sore. Penyembuhannya bisa dilakukan dengan berobat jalan dan terapi rutin setiap seminggu 2 kali.”

Semua yang mendengar tampak lega. Jodha pun sangat senang karena dia tidak terlalu lama tersiksa dengan bau obat-obatan di sekelilingnya.

Akhirn ya…aku sudah tidak sabar lagi untuk pulang,”ucap Jodha dengan riang, “aku ingin cepat kembali bekerja ma,pa…,” Jodha terdiam, wajah cerianya menghilang seketika teringat dengan kondisinya saat ini. Ia sadar bahwa dia tidak akan leluasa untuk bekerja lagi.

Jalal menghampiri Jodha dan duduk di tepi ranjang di sebelahnya. Dibelainya rambut kekasihnya dengan sayang.

“Sayang... apa yang kau pikirkan, aku sudah memberikanmu cuti. Kau sudah bekerja keras selama ini.” Jodha akan membuka mulutnya, tapi Jalal lebih dulu melanjutkan ucapannya, “Oh baiklah... aku lupa bahwa kau sangat menyukai pekerjaanmu. Aku punya pekerjaan baru untukmu. Pekerjaanmu adalah menemaniku setiap hari. Ini perintah dari bosmu, jadi kau tidak bisa menyangkalnya,” ucap Jalal disertai kerlingan mata nakalnya.

Jodha merasa canggung, “Apa yang dia katakan? Apa dia tidak sadar kita tidak hanya berdua,” ucap Jodha dalam hati.

Jalal tahu apa yang dipikirkan Jodha, tapi dia pura-pura tidak tahu. Sementara keluarga Jodha dan Jalal hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua, termasuk juga Mainavati.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Satu bulan telah berlalu setelah Jodha keluar dari rumah sakit, dan setiap seminggu 3 kali pula Jodha selalu menjalani terapinya dengan ditemani oleh Jalal. Meskipun di kantor banyak pekerjaan, Jalal selalu menyempatkan waktunya untuk Jodha. Setiap jam makan siang, Jalal selalu keluar dan pulang pun juga lebih awal, berbeda saat Jodha bekerja di kantor bersamanya.

“Mama, apa yang mama lakukan? Memangnya kita mau kemana? Apa aku perlu memakai baju ini?” tanya Jodha pada Mainavati sambil memandang dirinya di depan cermin. Namun Mainavati tetap bungkam meskipun Jodha menanyakan berulang kali.

Malam ini, tepatnya sabtu malam di kediaman Bharmal, Jodha sudah tampak cantik dengan gaun malamnya. Gaun berwarna hijau, berlengan pendek, panjang hingga menutupi kakinya, yah meskipun sampai saat ini Jodha belum bisa berjalan.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 malam, Mainavati sudah hampir selesai menyiapkan hidangan makan malam untuk tamu yang akan datang ke rumahnya. Jodha bingung dengan perilaku keluarganya, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menghilangkan rasa penasarannya. Setiap ia bertanya, mereka selalu menjawab, ‘Kau akan tahu nanti.’ dan sampai sekarang Jodha masih terdiam, karena menurutnya percuma jika dia tanyakan lagi.

Tepat pukul 7, bel pintu rumah Bharmal berbunyi, menandakan bahawa tamu yang mereka tunggu sudah datang.

“Mereka datang tepat waktu,” ucap Mainavati kemudian berjalan ke arah pintu.

Saat pintu dibuka, saat itulah Jodha tahu siapa tamu yang dimaksud. “Jalal dan Bibi Hameeda, jadi mereka tamu itu. Tapi mengapa keluargaku sampai harus menyembunyikannya dariku, dan mengapa pula aku harus tampil seperti ini? huuuuh...” desah Jodha dalam hati.

Sambil menunggu waktu makan malam, keluarga Jodha dan Jalal kini berkumpul di ruang tamu. Jodha masih duduk di kursi rodanya. Hameeda duduk bersebelahan dengan Jalal, kemudian ia menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Jodha dan memintanya untuk membukanya.

“Apa ini, bibi?” tanya Jodha.

“Bukalah, nak. Nanti kau akan mengetahuinya,” ucap Hameeda dengan lembut.

Jodha membukanya, ia begitu terperangah melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.

“Ini indah sekali, bibi. Pasti harganya sangat mahal. Kau sudah memberiku sepasang  anting-anting berlian kemarin, aku merasa tidak pantas untuk menerima semua ini,” ucap Jodha berusaha menolak pemberian Hameeda, meskipun ia tahu bahwa Hameeda tidak akan menyukainya.

“Tidak, nak, kau harus memakainya, itu adalah kalung keluarga kami yang diberikan oleh Ibu almarhum ayah Jalal kepadaku. Dan sekarang itu menjadi milikmu, karena kau akan segera menjadi bagian dari keluarga kami,” tegas Hameeda sementara Jalal hanya tersenyum kepada bidadari yang ada dihadapannya kini. Apapun yang kenakan Jodha selalu mampu membuatnya terhipnotis.

“Maksud, bibi? Tapi...” Jodha bimbang, apakah dia akan mengatakan bahwa Mainavati belum memberikan restu padanya.

Mainavati seakan tahu apa yang dipikirkan Jodha, sebelum Jodha melanjutkan ucapannya, Mainavati menjawab, “Tenanglah, sayang... Mama merestui hubunganmu  dengan Jalal. Dia laki-laki yang baik, maafkan mama, mama melupakan perasaanmu dan lebih mementingkan ego mama. Jalal adalah laki-laki yang baik dan mama yakin dia akan menjagamu dan merawatmu dengan penuh cinta.”

Suasana begitu haru. Sebelum ada yang meneteskan air mata, Bharmal memecahkan suasana haru tersebut dengan suasana ceria.

“Jalal, apakah rangkaian rencana kita akan segera kita laksanakan?” tanya Bharmal dan sukses membuat Jodha kebingungan.

“Hai Baghwan... Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku?” gerutu Jodha diikuti wajah cemberutnya, menyilangkan tangan di depan dada dan dialihkannya pandangannya ke tempat lain.

“Tidak, Di... kami tidak menyembunyikannya darimu, kami akan segera mengatakannya padamu,” ucap Sujamal.

“Kau juga tahu, Suja?” tanya Jodha.

“Tentu saja, bagaimana aku tidak terlibat dalam persiapan pertunanganmu,” ucap Sujamal jenaka.

“Apa? Tunangan?” volume suara Jodha meninggi karena keterkejutan.

“Kenapa? Apa kau tidak mencintaiku? Apa kau tidak percaya cintaku, Jodha? Apa aku perlu membuktikan cintaku padamu?” Jalal memberondong Jodha dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Sementara Jodha jadi cemas dan kebingungan, “Bagaimana ini? Aku tidak mau dia menciumku di depan mereka,” ucap Jodha dalam hati.

Mainavati segera menghentikan perdebatan mereka berdua, “Sudah sudah... sekarang sudah waktunya makan malam. Mari Bu, nak Jalal.”

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Setelah makan malam selesai, Keluarga Bharmal dan Hameeda membicarakan rencana mereka di ruang tamu, sementara Jalal meminta izin kepada mereka semua untuk berbicara berdua dengan Jodha di taman belakang rumah Jodha.

“Bibi, apa boleh aku berbicara berdua saja dengan Jodha di taman belakang?” tanya Jalal pada Mainavati.

“Tentu saja, nak Jalal,”

Setelah mendapat persetujuan Mainavati, Jalal langsung berjalan menghampiri Jodha. Jodha berpikir bahwa Jalal akan mendorong kursi rodanya karena ada keluarga keduanya di antara mereka. Tapi Jodha salah, Jalal justru langsung menggendong tubuh Jodha tanpa memperdulikan protes Jodha.

“Jalal, apa yang kau lakukan?”

“Menggendongmu,” jawab Jalal dengan santai, “bukankah sudah kukatakan, aku akan menjadi kakimu selama kau tidak bisa berjalan dengan kedua kakimu. Jika kau tidak menyukainya, maka segeralah sembuh. Atau... kau memang sengaja ingin ku gendong terus?” entah berapa kali Jalal mengatakan hal itu dan selalu berhasil membuat pipi Jodha merona.

Lagi, lagi dan lagi... Keluarga mereka selalu dibuat tersenyum melihat pasangan tersebut, terkadang hanya Sujamal yang berani menggoda mereka dan Jalal justru menyukai hal tersebut karena pipi Jodha akan semakin merona.

Kini Jodha dan Jalal sudah berada di taman belakang. Jalal duduk di bangku taman dengan Jodha duduk dipangkuannya. Jodha berusaha membebaskan dirinya, tapi Jalal sudah mengunci tubuhnya dengan memeluknya. Jodha frustasi dan akhirnya dia pasrah dengan posisinya saat ini.

“Haahhh... dasar keras kepala. Apa kau tidak lelah jika memangkuku seperti ini?” tanya Jodha.

“Tidak, bahkan aku sanggup memangkumu seperti ini sepanjang hidupku,” goda Jalal.

“Kau tahu, Jalal... Ada untungnya juga aku lumpuh seperti ini, dengan begitu aku tidak akan bisa lari darimu,” ucap Jodha mencoba bercanda, namun ada kesedihan didalam nada bicaranya.

“Apa maksudmu? Jadi kau akan meninggalkanku jika kau bisa berjalan nanti? Itu tidak akan pernah terjadi, sebelum itu terjadi aku akan mengikatmu. Minggu depan kita akan bertunangan di villa keluargaku, dan 3 bulan setelahnya kita akan menikah. Mengitari api suci adalah impianmu, kan? Jadi segeralah gerakan kakimu, jika kau tidak bisa, maka aku akan terus menggendongmu dihadapan semua orang.” Jalal mengutarakan semua rencananya disertai godaan-godaannya.

“Apa? Kenapa kau tidak tanya dulu padaku? Minggu depan? Itu terlalu cepat Jalal. Aku belum mempersiapkan apapun. Dan juga, bagaimana bisa aku berjalan dalam waktu 3 bulan lagi, dokter saja mengatakan bahwa prediksinya aku baru bisa kembali berjalan dalam waktu 6 bulan setelah kecelakaan itu?!” gerutu Jodha.

“Untuk masalah acara kau tenang saja, aku dan keluargamu sudah mengurusnya, sayang... Dan kau bisa segera berjalan atau tidak itu tergantung dari dirimu sendiri. Jodha yang ku kenal adalah seseorang yang optimis, bahkan dia sanggup mengerjakan tugas yang kuberikan dalam satu hari padahal aku memberinya waktu dua hari.”

Jodha mulai merajuk, “Tapi itu sesuatu hal yang berbeda, Jalal.”

“Apa kau tidak percaya padaku, sayang? Akan kubuktikan kekuatan cintaku padamu?” ucap Jalal disertai kerlingan nakalnya.

“A... apa maumu?” Jodha mulai siaga, dia tahu apa yang dipikirkan Jalal sekarang. “Jangan macam-macam, Jalal!”

Namun Jodha tidak bisa berbuat apapun, dia tidak bisa menghidar. Jalal langsung mengunci bibir Jodha menggunakan bibirnya. Ciuman yang begitu lama dan intens dengan posisi Jodha yang kini masih dalam pangkuan Jalal. Sentuhan bibir yang sudah lama dirindukan keduanya semenjak Jodha mengalami kecelakaan, begitu hangat dan manis terasa. Kehangatan yang saat ini menjalar di tubuh keduanya mengiringi ciuman mereka saat ini, tanpa ada rasa khawatir dan takut di hati mereka. Kedamaian dan kebahagian mereka saat ini terasa begitu lengkap mereka rasakan saat berbagi ciuman malam itu.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Seminggu telah berlalu, kini tiba waktunya pertunangan Jodha dan Jalal. Sesuai permintaan Jodha, ia tidak ingin acara pertunangannya terlalu mewah, sebelumnya dia mengancam tidak mau bertunangan dengan Jalal jika Jalal melangsungkan pertunangannya dengan cara yang berlebihan. Di villa Jalal yang jauh dari keramaian kota, tepatnya di halaman yang begitu luas, sudah dihiasi dengan banyak pita, balon, bunga dan confetti. Halaman villa Jalal kini berubah warna perpaduan merah konvensional dan putih. Meja berwarna hitam yang dihiasi dengan mawar warna merah dan tempat lilin yang berkilauan dan lilin warna putih pada bagian atasnya.

Malam harinya, sudah banyak keluarga Jalal dan Jodha yang hadir dan beberapa sahabat dekat mereka. Jalal sudah menyambut mereka dengan ramah, sementara Jodha masih berada di kamarnya tempat menginap semalam bersama Ruqs dan Salima.

“Ah.. tidak kusangka, ternyata hottie kita akan segera bertunangan dengan Presdir,” goda Ruqs.

“Iya Ruqs, bahkan aku tidak percaya bahwa Presdir yang begitu dingin, hatinya bisa dicairkan oleh gadis yang keras kepala seperti kau, Jodha,” tambah Salima menggoda.

“Ahh... apa-apaan kalian ini? Selalu saja menggodaku,”ucap Jodha merajuk dengan rona merah di wajahnya.  Oh iya Ruqs, kapan kau akan menyusul kami bersama Sharif, pacar barumu itu?” Jodha balik menggoda Ruqs.

Hei…kenapa kau justru balik menggodaku? Tapi, mungkin sebentar lagi kalian akan menerima undangan dariku,” kata Ruqaiyya dan langsung mendapat sorakan dari Jodha dan Salima.

“Kita lanjutkan ini nanti, sekarang sudah waktunya untuk Jodha menemui calon tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya,” Salima mengingatkan.

Kini Jodha sudah sampai di halaman dimana tempat pertunangan akan dilangsungkan. Dia ditemani oleh Salima dan Ruqaiyya yang berada dibelakang kursi rodanya.

Saat Jalal menyadari kehadiran Jodha, dia begitu terpesona dengan penampilan kekasihnya yang akan segera menjadi tunangannya ini. Apapun yang dikenakannya, bagaimanapun keadaannya, pesonanya selalu berhasil mengalihkan dunianya. Saat ini Jodha mengenakan baju berwarna putih tulang berlengan pendek. Rambutnya ia biarkan terurai dan wajahnya dipoles dengan riasan natural namun elegan. Meskipun dia harus berusaha lebih keras untuk bisa memakai baju yang sesuai keinginannya. Ia tidak ingin memakai pakaian yang terlalu terbuka, dan tentu Jalal akan mengabulkan keinginan kekasihnya tersebut karena Jodha terus menggertaknya. 

Sementara itu Jalal mengenakan kemeja berwarna putih dengan jas berwarna abu-abu. Mereka tampak serasi saat disandingkan.

Tak lama kemudian acara pertunangan pun dilangsungkan. Jodha begitu terpana saat melihat sepasang cincin yang ada dihadapannya. Cincin permata dengan sedikit emas yang bertaburkan permata di sekelilingnya. Cincin yang akan disematkan di jari Jodha, memiliki sebuah permata yang lebih besar dibandingkan yang lainnya di bagian atasnya.

Jodha ingin menitikkan air mata setelah acara tukar cincin berlangsung, namun ia menahannya. Jalal menunduk, meraih kedua tangan Jodha dan mengecup punggung tangannya. Akhirnya air mata lolos juga, air mata kebahagiaan membasahi kedua pipinya. Dengan penuh perhatian, Jalal menghapus air mata Jodha dengan tangan kanannya. Sungguh, jika tidak ada banyak orang disana, maka dia akan langsung menghapus air mata itu dengan bibirnya, bukan dengan tangannya. Akan tetapi Jalal berusaha keras untuk mengontrol keinginnya tersebut, banyak janji yang sudah ia katakan pada Jodha, ia tidak akan banyak menggoda Jodha saat banyak mata yang menatap mereka. Jalal benar-benar tidak berkutik karena ancaman-ancaman Jodha, meskipun ia sendiri tahu bahwa Jodha juga menginginkan dirinya, bahwa Jodha ingin selalu bersamanya. Namun demi kekasihnya, Jalal akan menurutinya untuk saat ini, akan tetapi tidak untuk nanti, meskipun Jodha melarangnya, dia akan terus menggodanya setiap ada kesempatan.

Sudah larut malam, para tamu sudah banyak yang pulang termasuk Ruqs dan Salima. Kini hanya tinggal Jodha, Jalal, Maina, Bharmal, Suja dan Hameeda yang menginap di Villa. Semua orang sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, akan tetapi Jodha masih berada di taman di temani oleh Jalal.

“Sudah malam, sebaiknya kau cepat istirahat. Aku tidak mau calon istriku kelelahan,” ucap Jalal.

“Kenapa kau menggodaku lagi?” rajuk Jodha.

“Kenapa, sayang? Acara pertunangan kita kan sudah berlalu, jadi sekarang aku bebas akan melakukan apapun padamu,” Jalal mengucapkan kalimatnya disertai senyumannya dan lirikan matanya yang tajam.

Jodha merasa dirinya kembali terancam. Seakan dia tahu apa yang dipikirkan Jalal saat ini. Dan benar saja, saat itu juga Jalal langsung memegang kedua pipinya dan mencium bibirnya, keduanya kembali menikmati ciuman mereka malam itu. Tak hanya itu, setelah apa yang ditahan Jalal sejak tadi sudah terbayar, kini dia langsung menggendong Jodha.

Jodha menjerit karena Jalal terus menerus membuatnya terkejut dengan tindakannya, “Turunkan aku, sayang... kau hanya perlu mendorongku diatas kursi rodaku.”

“Tidak!” ucap Jalal singkat.

Jodha tahu, percuma saja dia mengelak, Jalal akan melakukan apapun yang dia mau dan Jodha pun sebenarnya menikmatinya. Dia sangat bahagia mendapat cinta yang berlimpah dari kekasihnya ini, dan dia semakin bertekad untuk segera sembuh secepatnya.

To Be Continued

Terima kasih Bunda Alfi atas ide cerita dan bantuanya menyempurnakan tulisan ini. Terima kasih untuk all readers atas kesabaran, like dan komentarnya selama ini. Partisipasi kalian selalu saya nantikan...

FanFiction His First Love Chapter yang lain Klik Disini


FF – His First Love Chapter 38

8 comments:

  1. Wawww sdh tunangan tinggal nunggu partynya trus kata saaahhhh...trus honeymoon lagi deh asyeeekkk.....semoga jodha sh bisa jalan lagi saat itu....dan akan jadi kado terindah buat Jalal saat surprise liat jodha dah bisa jalan saat hr pernikahan mereka...cooo cwiiittt

    ReplyDelete
  2. waaaahhh.....akhir nya direstui..
    ditunggu lanjutan nya

    ReplyDelete
  3. Wah....suka baNgett dech saMa Jalal...
    RoamaNtis..kaya...sayaNg..tulus... goMball.. pkokNya SEMPURNA.... Mkasiii LaNjutaNNya di tuNggu yaa...

    ReplyDelete
  4. Lanjuuuut.... senengnya akhirnya tunangan.... tq mba chus..

    ReplyDelete
  5. Lanjuuuuttt...
    seneng deh akhirnya udh pd setuju..nga sabar tunggu lanjutannya..
    makasih mba..

    ReplyDelete
  6. Adakah pasangan yg demikian sktg, romantis dan setia banget.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.