Just Love Part 1 - ChusNiAnTi

Just Love Part 1



Title of Short Story : Just Love
Setting of time: Modern
Characters : Jalaluddin Akbar, Jodha Bharti, Bhaksi Bhano etc
Name of Author: Tyas Herawati Wardani

Ponselnya berdering....
Jodha menepikan skutiknya ke pinggir jalan. Mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.
Tertera nama “IBU” di layar ponselnya. Jodha segera menjawabnya –“Iya Bu, bagaimana kabarmu?”.....(beberapa saat kemudian)....”Aku dalam perjalanan pulang, kuliahku untuk hari ini baru saja selesai...Ibu, apa kau sakit?....Tapi kenapa suaramu terdengar serak, seperti orang yang baru saja menangis... Aku merindukanmu dan semua keluarga di rumah... Sungguh tidak terjadi apa-apa di rumah? .... Baiklah, aku percaya Bu. Aku menyayagimu, Bu.”—

Menutup poselnya, Jodha masih termangu di atas skutiknya. Dia terlihat tenggelam dalam pikirannya. Alis matanya berkerut dan dia menggigit bibir bawahnya menampakkan sedikit gigi putihnya, itu adalah kebiasaannya saat dia mengkhawatirkan sesuatu -- ‘Jika memang semuanya baik-baik saja, kenapa perasaanku tidak tenang? Aku seperti merasakan ada sesuatu yang buruk terjadi pada keluargaku. Aku merasa Ibu menyembunyikan sesuatu dariku’

Untuk mencari petunjuk yang lain, Jodha memutuskan akan menghubungi kakak iparnya begitu dia sampai di asrama. Diapun segera melajukan skutiknya pulang.

Jodha Bharti adalah nama gadis itu. Dia gadis Rajput yang sedang kuliah di Bremen, Jerman. Sudah hampir empat tahun dia konsentrasi menyelesaikan studinya di bidang psikologi. Tahun ini adalah semester terakhirnya sebelum dia lulus. Ayahnya Bharmal Bharti, adalah pemilik pabrik gula di Uttar Pardesh. Dari segi ekonomi, keluarganya sangat mampu membiayai kuliahnya. Tapi Jodha lebih memilih mandiri dengan memanfaatkan dana beasiswa dari kampusnya, sedang untuk biaya hidupnya sehari-hari dia bekerja paruh waktu di sebuah coffee shop di kota Bremen. Meski dia tidak sedang tinggal di negaranya sendiri, dia tetap memiliki banyak teman, teman-teman wanitanya adalah sahabat terbaiknya, sedang teman-teman prianya adalah para pengagumnya.

Pernahkah kalian mendengar sebuah ungkapan “Nobody’s perfect”? Semua pasti setuju pada ungkapan itu. Tapi Jodha Bharti itu hampir sempurna. Postur tubuhnya semampai seperti impian seluruh gadis. Kulitnya putih, lebih putih dari kulit gadis India pada umumnya. Rambutnya halus berwarna hitam sepanjang punggung. Matanya lebar dan jernih hingga kita seakan bisa tenggelam saat menatapnya. Hidungnya mancung menggambarkan keanggunan juga keangkuhan. Bibirnya tipis dan tutur katanya halus. Lebih dari semua itu, yang membuatnya semakin terlihat cantik adalah kepribadiannya. Di antara teman-teman yang mengenalnya, Jodha adalah gadis terbaik yang pernah mereka kenal. Dia senang membantu siapapun tanpa pamrih meski kadang dia tidak mengenal orang yang ditolongnya. Di antara jadwal kuliahnya yang padat, Jodha masih menyempatkan diri untuk aktif terlibat sebagai sukarelawan pada beberapa kegiatan sosial dan badan amal yang mengkhususkan misinya membantu korban tindak kekerasan pada wanita dan anak-anak. Pada saat libur kuliah, kadang dia ikut turun ke jalan menggalang dana atau mengkampanyekan sikap Anti Kekerasan pada wanita dan anak-anak di seluruh dunia. Turun ke jalan bukan berarti melakukan demo long march atau orasi, namun dengan cara yang lebih menghibur. Jodha dan kawan-kawannya sering mengadakan pertunjukan musik akustik di taman publik atau di pusat perbelanjaan dengan membawa papan-papan bertuliskan slogan Anti Kekerasan. Kemampuannya bermain gitar dan menyanyi memang sengaja dimanfaatkannya untuk kebaikan.

Pada jam 11 malam, Jodha menghubungi kakak iparnya. Namun dari obrolan mereka, Jodha tidak memperoleh informasi apa-apa, karena kakak iparnya memang tidak pernah terlibat dalam urusan bisnis keluarganya. Hanya ada petunjuk kecil yaitu kakak iparnya pernah memergoki Ibu sedang menangis atau bahwa Ayah dan Kakaknya sering pulang larut malam.

Melewati malam tanpa tidur yang cukup nyenyak, esok harinya Jodha tetap berangkat kuliah. Pagi itu di kampus, seperti biasa dia mendapatkan sebuah buket bunga dan surat cinta dari salah satu pengagumnya. Dia tidak punya keinginan untuk membaca isi surat itu dan hanya diletakkannya begitu saja di mejanya. Dia menunggu kedatangan teman baiknya, Bertha karena dia ingin menceritakan rencananya untuk pulang kampung. Setelah lima menit menunggu sambil melamun, temannya datang menyapa...

Bertha: “Jodha, seperti biasa ada satu surat cinta dan satu buket bunga. Tapi Tuan Putrinya terlihat awut-awutan. Apa kau tidak tidur semalam?”

Jodha: “Iya, kau benar. Keluargaku sedang dalam masalah. Aku berencana pulang dulu sementara. Setelah semuanya beres, aku akan segera kembali menyelesaikan tugas akhirku. Hari ini aku akan mengurus ijin-ijin yang dibutuhkan.”

Bertha: “Stop.. stop.. bernapaslah dulu. Ceritakan satu per satu. Keluargamu punya masalah apa? Lalu, kalau kau mendadak pergi, bagaimana nasib para pengagummu? Bisa-bisa mereka mati berdiri karena patah hati...”

Jodha: “Bertha, aku sedang tidak bisa bercanda. Aku juga tidak tahu ada masalah apa di rumah, karena itulah aku pulang agar semuanya jelas. Dan mengenai pria-pria yang mengaku jatuh cinta padaku, kau saja yang memberi mereka penjelasan. Kau sendiri juga tahu kalau aku menganggap mereka semua teman.”

Bertha: “Lalu bagaimana denganku. Aku akan merindukanmu.”

Jodha: “Aku juga. Doakan semuanya segera beres. Aku pasti akan sering menelponmu dari sana.”

Hari itu juga Jodha mengajukan surat ijin cuti kuliah di kampusnya. Setelah itu dia memesan tiket pesawat dan merapikan baju-baju ke dalam kopernya. Dia tidak mempersiapkan apa-apa untuk penerbangan panjang yang akan dilaluinya. Bahkan waktu makan pun hampir terlewat olehnya. Pikirannya hanya tertuju pada rumah.

Sesampainya di New Delhi, Jodha langsung naik taxi menuju ke kampung halamannya di Kanhpur, Uttar Pardesh. Menjejakkan kakinya turun dari taxi, Jodha bernapas lega. Inilah kampung halaman yang sangat dirindukan dan dibanggakannya. Tampak rumah keluarganya berdiri di sebelah danau kecil di desanya. Bangunan rumahnya tetap sama seperti yang diingatnya sejak dia kecil. Hanya dicat ulang tiap tahunnya. Siang ini rumahnya tidak seperti biasa, tampak sepi tanpa terlihat aktifitas apapun.

Jodha langsung masuk ke dalam rumah, karena pintu depan tidak terkunci. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah mencari keberadaan ibu atau kakak iparnya. Pada jam segitu, biasanya mereka sibuk menyiapkan makan siang. Terdengar gumaman dari arah teras belakang, perlahan Jodha mendekat tanpa suara....
--‘Seperti suara ayah dan ibu’-- pikir Jodha

Ibu Meena: “Sekarang kita harus bagaimana?”

Bharmal: “Kita menghadapi jalan buntu, semua cara sudah aku tempuh, tapi sia-sia semuanya. Satu-satunya jalan kita harus menjual pabrik ini.”

Ibu Meena: “Lalu bagaimana nasib semua karyawan?”

Bharmal: “Aku tidak tahu, yang paling buruk jika pembeli pabrik ini berniat menutup usaha ini.”

Jodha terhenyak tak percaya, ternyata masalahnya bisa seburuk ini. Tanpa menunggu lama, dia langsung masuk dan menyapa ayah dan ibunya, membuat keduanya terlonjak berdiri karena terkejut....

Jodha: “Ayah...Ibu...”

Ibu Meena: “Jodha!! Kau pulang? Kenapa tidak mengabari kami? Kami pasti akan menjemputmu ke bandara...

Ibu Meena menghambur memeluk Jodha, putri kesayangannya. Jelas terlihat kalau ibunya terkejut tapi juga takut jika putrinya mendengar pembicaraan tadi...

Bharmal: “Kau sehat, anakku?”

Jodha: “Aku sehat ayah, tapi ayah dan ibu justru yang tidak sehat. Kenapa kalian menutupi masalah ini dariku? Aku tidak mau dimanjakan seperti ini. Aku putri kalian, karena itulah aku harus tahu, aku ingin membantu, dengan begitu aku bisa berbakti pada kalian.”

Ibu Meena menyela, mencoba mengalihkan topik pembicaraan “Jodha, kau pasti lelah, istirahatlah dulu, nanti kita bisa bicara lagi. Sekarang aku akan menyiapkan makan siang untukmu...”

Jodha: “Tidak apa, Ibu. Aku tidak terlalu lelah. Aku mohon Ayah bersedia menceritakan semuanya padaku.”

Bharmal: “Baiklah. Duduklah disini, Ayah akan menceritakan semuanya.”

Jodha duduk di samping Ayahnya, dan Ibunya duduk di seberangnya. Meski angin semilir berhembus, namun udara di sekitar mereka tidak terasa sejuk sama sekali. Ayahnya mulai bercerita. Perusahaannya terlilit hutang yang sangat besar dan sekarang sudah jatuh tempo. Meski rumah keluarga mereka dijual, namun nilainya belum bisa menutupi jumlah hutangnya apalagi untuk membayar pesangon karyawannya. Satu-satunya solusi yang tersisa hanyalah menjual perusahaan. Namun resikonya adalah jika pemilik barunya nanti akan mengalihfungsikan seluruh aset, maka tidak akan tersisa lagi pabrik gula yang menjadi kebanggaan keluarganya.

Jodha: “Ayah sungguh rela pabrik kita pindah ke tangan orang lain? Bukankah Ayah sudah mendedikasikan seluruh hidup Ayah untuk pabrik itu? Lalu bagaimana dengan Kakak?”

Bharmal: “Aku tidak boleh egois memikirkan diriku sendiri di saat seperti ini. Apa yang akan Ayah dan Kakakmu lakukan nanti, itu urusan nanti. Sekarang yang penting bagaimana kami memenuhi kewajiban kami pada karyawan.”

Jodha: “Lalu siapa yang akan membeli perusahaan ini? Apa Ayah sudah punya calonnya? Mungkin Ayah bisa bernegosiasi dengannya agar tidak menutup pabrik.”

Bharmal: “Ayah sudah punya calonnya, besok Ayah akan ke Delhi menemuinya.”

Jodha: “Aku akan menemani Ayah, paling tidak itulah yang bisa kulakukan.”

Pembicaraan mereka pun usai tepat saat makan siang. Meski masalah mereka belum selesai, tapi Jodha merasa sedikit lega, paling tidak dia ada di tengah-tengah keluarga yang dicintainya. Esok dia akan menemani Ayahnya. Malam ini Jodha berdoa agar semua urusannya lancar.

Jodha tidak akan pernah menduga takdir apa yang sudah menantinya.
Keesokan harinya, Jodha dan Ayahnya sengaja pergi pagi-pagi sekali dari rumah agar dia bisa segera menemui calon pembelinya. Sampailah mereka di sebuah gedung tiga lantai dengan eksterior dan interior bergaya modern minimalis. Di pintu masuk lobinya Jodha membaca nama New Estate Builder, Pvt. Setelah melapor pada resepsionis, dia mengajak Jodha langsung naik ke lantai tiga, dimana ruangan pimpinannya berada. Sekretarisnya langsung mempersilahkan Tuan Bharmal untuk masuk ke sebuah ruangan, dia meminta Jodha untuk menunggu saja di luar.

Jodha duduk di sofa di ruang tunggu. Wajahnya dihadapkan ke jendela, tangan kanannya disandarkan di lengan sofa dan telapaknya ditopangkan pada dagunya. Sinar matahari dari jendela memantul di wajahnya. Bahasa tubuhnya memperlihatkan kalau dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia bahkan tak menyadari ada seorang pria yang sedang memperhatikannya.

Sang pemilik perusahaan ternyata baru tiba, dialah Jalaluddin Akbar. Tidak seperti biasanya, Bhaksi Bano, adiknya hari itu ikut dengannya. Sesampainya di meja sekretarisnya, dia diberitahu ada seorang tamu yang sudah menunggunya di dalam.

Langkah Jalal terhenti saat hendak masuk ke ruangannya, karena dari sudut matanya dia menangkap sosok yang menarik perhatiannya. Jalal menoleh dan menatapnya lekat-lekat. Matanya terpaku tak bergerak. Dia gadis yang cantik. Jenis gadis yang cocok menjadi beauty icon sebuah iklan kosmetik, seakan-akan dia melompat keluar dari layar televisi dan sekarang duduk di ruang tunggu kantornya.

--‘Dia sedang menunggu siapa?”—Pertanyaan itulah yang pertama kali muncul di benaknya.

Dia tersadar dari keterpanaannya saat mendengar Bhaksi memanggil “Kakak....” sambil mengguncang lengan Jalal...

Bhaksi: “Kakak, siapa yang kau lihat?”

Jalal: “Ha...apa?”

Bhaksi mengikuti arah pandang Jalal.

Bhaksi: “Dia?! Mau apa dia disini?”

Jalal: “Apa kau mengenalnya?”

Bhaksi: “Mengenalnya?! Aku membencinya! Sangat membencinya!”

Jalal terkejut mendengar nada marah dari kata-kata Bhaksi. Dia penasaran ‘SIAPA GADIS ITU? Apa yang dilakukannya hingga Bhaksi marah padanya?’

*************

Short Story Just Love part yang lain Klik Disini


Just Love Part 1

4 comments:

  1. Wao....
    Ceritanya masih segar .
    Berharap hari ini kelar sampai part 3
    Terimakasih

    ReplyDelete
  2. Awal yang menarik....lanjooottt nanda Chus

    ReplyDelete
  3. Mmmmmm penasaran kelanjutannya tq

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.