Pelabuhan Terakhir Bagian 15 - ChusNiAnTi

Pelabuhan Terakhir Bagian 15



By Er Lin..... Hari ini Jodha bersama Tante Hameeda mamanya Jalal pergi ke kantor penyedia jasa wedding organizer untuk mencetak undangan pernikahan mereka. Tubuh Jodha bergerak secara otomatis mengikuti Tante Hameeda yang bersemangat mengitari rak kantor penyedia jasa wedding organizer itu. Ratusan contoh undangan tersusun rapi mulai harga lima ribu hingga ratusan ribu. Kata Tante Hameeda, artis dan penjabat sering menggunakan jasa wedding organizer ini.

Hari ini Jalal tidak menemani Jodha seperti fitting kamarin karna ia ingin menyelesaikan pekerjaannya agar tidak menganggu pikirannya lagi saat nikah. Dari tempat duduknya Jodha melihat Tante Hameeda dan seorang banci sedang terlibat pembicaraan serius.

“Sayang, kamu suka yang mana?” Tante Hameeda mencolek Jodha.

“Jodha, ikut Tante aja,” jawab Jodha dengan sopan. Jodha percaya mertuanya ini pasti akan memberikan pilihan yang terbaik untuk pernikahan dirinya dan Jalal.

“Mama tidak mau dipanggil Tante,” kata Mamanya Jalal pura-pura marah sejenak kemudia kembali fokus pada begitu banyak kartu yang ada di situ.

“Kalau ini aja gimana sayang?” Tante Hameeda memperlihat sebuah undangan yang simple tapi tetap tampak mewah dan berkelas dengan corak keemasan.

“Jodha suka itu Ma,” sahutnya dengan memperlihatkan senyum manisnya.

“Well, Mama telpon Jalal dulu ya.”

“Jalal pasti setuju, Ma, kasian dia lagi kerja ntar keganggu. Kata Jalal dia ingin menyelesaikan pekerjaanya supaya waktu nikah nanti tidak kepikiran lagi,” jelas Jodha kepada mertuanya itu

Mamanya Jalal tampak terharu mendengar penjelasan Jodha. “Memang tidak salah pilih. Jodha ngerti Jalal banget ya.”

Jodha hanya bisa menampilkan senyum manisnya yang tulus.

“Contoh undangan ini boleh dibawa pulang, kalian bisa mendiskusikannya pulang kerja nanti,” ujar Mama Jalal.

Jodha menggangguk singkat.

“Oke, Mama masih ada urusan ke birdal yang akan merias kalian, Jodha punya acara sendiri atau mau ikut Mama?”

“ Jodha mau ngajak Jalal lunch aja, sekalian mendiskusikan undangan ini.”

“Fantastik!” seru Mama Jalal sumringah. “Ajak dia makan diluar, kalau dia tidak mau paksa aja,” lanjut Mama Jalal sambil terkekeh.

Jodha pun ikut tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Iya, Ma.”

Mama Jalal tersenyum senang lalu mencium pipi Jodha. Dengan lembut wanita itu memeluknya. “Jalal mungkin tidak tau cara memperlakukan mu dengan baik tapi dia sudah memilihmu jadi ajarin dia menyayangi,” bisik Mama Jalal.

Tubuh Jodha menjadi kaku. ‘Mama salah, dia sudah sangat memperlakukan ku dengan sangat baik, hingga kini aku yang takut akan kehilangannya,’ ucap Jodha dalam hati.

“Mama tahu hubungan kalian tidak baik tapi Mama yakin cinta itu akan tumbuh karna Jodha adalah orang yang penuh kesabaran dan kasih sayang.” Sekali lagi wanita itu memeluknya. “Semangat ya, kalau Jalal nakal langsung telpon Mama, nanti Mama jewer sampai kupingnya merah.”

Mau tidak mau Jodha tertawa geli. “Thanks, Ma.” Jodha melambaikan tangannya, membiarkan Honda city itu menjauh barulah dia meluncurkan mobilnya menuju kantor Jalal.

Jodha telah sampai di kantor Jalal, dengan cepat ia menuju ke ruangan kerja Jalal. Saat setelah dekat dengan ruangan Jalal, sekretaris Jalal ~Javeda~ yang masih tetap memakai pakaian seksinya yang membuat Jodha langsung kesal saat melihatnya langsung berdiri tergesa, berusaha mencegahnya masuk.

Jodha tersenyum kecil, tanpa berpikir di dorongnya pintu. Pemandangan yang perlu di sensor oleh lembaga sensor flim indonesia terpampang jelas di depan Jodha. Mereka berpelukan, tidak, pria itu hanya berdiri tegak membiarkan seorang wanita mengelayut erat di dadanya. Tangan pria itu bergerak menyentuh pinggang wanita itu seolah siap mendorong wanita itu untuk menjauh, atau merapat?

“Jangan lakukan ini, Benazir, aku akan menikah,” suara serak Jalal.

Sesaat Jodha terpaku. Ia ingin lari sekencang-kencangnya tapi kakinya terasa begitu berat untuk di gerakkan.

Benazir merasakan kehadiran orang lain disitu. Ia mengira sekretaris Jalal yang memergoki. Mata wanita itu memicing heran kearah Jodha yang berdiri di ambang pintu..

Jalal menoleh. Wajahnya langsing berubah tegang, ia takut Jodha berpikir yang aneh-aneh. Tatapan yang awalnya dingin kini berubah berapi-api kepada benazir.

Jodha menutup pintu sambil menghapus air matanya yang mulai membasahi pipinya, mengangguk pelan pada sekretaris yang memasang tampang bersalah. Menyusuri lorong dengan tegar menuju lift.

Setelah kepergian Jodha, Jalal langsung mendorong pinggang Benazir dengan kasar. “Sudah ku bilang jangan lakukan ini lagi, aku akan menikah dan gadis itu tadi adalah calon istri ku,” ucap Jalal dengan sedikit berteriak meluapkan kemarahannya kepada Benazir yang tidak pernah mau berhenti menganggunya.

Jalal berlari keluar ruangannya meninggalkan Benazir yang terlihat syok dengan apa yang di dengarnya dari mulut Jalal.

“Kita harus bicara, Jodha,” ucap Jalal yang tiba-tiba telah berada di belakang Jodha. Jalal meraih pergelangan tangan kiri Jodha dan juga menarik bahu Jodha hingga posisi mereka kini tengah berhadapan.

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” sahut Jodha dengan ketus. Matanya yang berlinang air mata terlihat merah memancarkan kemarahan.

“Yang tadi kau lihat itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku sudah lama memutuskannya jauh sebelum kita di jodohkan,” jelas Jalal dengan lembut berusaha untuk meredam kemarahan Jodha.

Jodha berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang di gengam erat oleh Jalal. Tapi sayang Jalal terlalu kuat mengenggam tangannya hingga muncul di pikirannya untuk memukul wajah Jalal dengan menggunakan tasnya tapi untung dengan cepat Jalal menangkis dengan menggunakan tangan kirinya.

“Aih, kau ini wanita tapi suka sekali melakukan kekerasan.” Emosi Jalal mulai tersulut.

Pintu lift terbuka, Jalal menarik pergelangan tangan Jodha dengan kasar lalu menghempaskan tubuh Jodha ke dinding. Jalal menahan pergelangan Jodha di dinding dan dengan menggunakan tangan kirinya Jalal meraih tengkuk Jodha dan mencium bibir Jodha dengan paksa.

Jodha berusaha meronta dengan memukul-mukul dada dengan tangan kirinya tapi kekuatan Jalal bukan lah tandingannya. Hingga akhirnya ia menyerah meski tidak membalas ciuman Jalal.

Merasakan Jodha yang mulai tenang, Jalal menarik bibirnya dari bibir Jodha. Jalal menautkan keningnya ke kening Jodha, “Aku mencintai mu Jodha, sangat mencintaimu,” Jalal mendesah berat hingga nafasnya menerpa wajah Jodha, “Sudah berapa kali aku katakan, kau hanya perlu percaya bahwa aku hanya mencintaimu.”

Pintu lift terbuka, menyadari itu Jalal melepaskan genggamannya di tangan Jodha. Tapi emosi yang masih meluap dari diri Jodha dengan cepat Jodha menginjak kaki Jalal dengan keras dan menampar wajah Jalal dengan menggunakan tas nya hingga bibir dan pelipis Jalal berdarah akibat terkena besi yang ada di tasnya.

“Aarrgghhhh,” ringis Jalal kesakitan.

Jodha langsung berlari keluar dari lift meninggalkan Jalal yang meringis kesakitan. Setelah beberapa menit kemudian Jalal ikut berlari mengejar Jodha hingga ke halaman parkir tapi naas Jodha telah pergi jauh dengan menggunakan mobilnya.

Setelah kepergian Jodha, Jalal berusaha terus menghubungi Jodha tapi tetap tidak di angkat oleh Jodha. Di SMS pun tidak di balas. Jalal sebenarnya ingin langsung mengejar Jodha tapi dia teringat ada rapat yang tidak bisa ia tinggalkan. Dalam rapat pun pikiran Jalal tidak ada di dalam ruangan itu, pikirannya selalu menuju ke Jodha. Dia yakin Jodha pasti sangat marah sekali untuk yang satu ini. Salahnya juga tidak terlalu tegas tadi saat Benazir mulai mendekatinya.

Sedang Jodha selama mengemudi mobilnya terus-terusan menangis. Dia tidak percaya ternyata Jalal masih saja belum berubah. Disaat dirinya sudah mengakui perasaannya tapi Jalal dengan teganya masih bermain dengan wanita lain di belakangnya. Setelah sampai dirumahnya Jodha langsung masuk ke dalam kamarnya. Membenamkan wajah dengan bantal agar tangisnya tidak terdengar. Hatinya terlalu sakit, Jalal telah membuatnya jatuh cinta tapi kini dalam waktu singkat Jalal pun menghancurkan cintanya.

******

Malam harinya setelah pulang dari kerjanya, Jalal langsung menuju rumah Jodha. Meina yang saat itu membuka kan pintu untuk Jalal terkejut melihat kondisi wajah Jalal yang terlihat memar di bagian bibir dan juga pelipis matanya.

“Ada apa Jalal dengan wajah mu?” tanya Meina saat menyambut Jalal di depan pintu.

“Aa,,,ini,,ini,,,,,” Jalal menjawab dengan terbata-bata.

“Masuk lah dulu,” tawar Meina.

“Maaf, Tante,” potong Jalal langsung saat Meina akan melangkah masuk.

Meina langsung menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya kembali melihat kearah Jalal.

“Aku kesini ingin menemui Jodha, apa dia ada Tante? Dari tadi aku menghubunginya tapi tidak angkat sama Jodha, Tante.”

Meina terdiam sejenak. Ditatapnya Jalal dengan seksama. Meina mendesah berat, dia akhirnya menyadari bahwa telah terjadi sesuatu antar Jalal dan Jodha. “Apakah kalian habis bertengkar lagi?” tanya Meina sambil menggeleng.

Jalal hanya bisa tersenyum kecut di depan calon mertuanya itu, “Hanya salah paham Tante, makanya aku kesini ingin menyelesaikan semuanya.”

“Baiklah, Tante antar kamu langsung ke kamarnya aja.”

Jalal mengikuti Meina dari belakang. Ketika setelah sampai di depan kamar Jodha, Meina memberikan saran kepada Jalal, “Banyak sabar ya nak Jalal, Jodha memang masih sedikit manja,” ucap Meina sambil memukul pundak Jalal dengan lembut. “Ini kunci kamar Jodha, kalau-kalau dia tidak mau bukain kamu pintunya,” ujar Meina lagi sambil memberikan kunci cadangan kamar Jodha.

Jalal mengangguk pelan seraya berkata “Makasih, Tante.”

Meina lalu pergi meninggalkan Jalal. Kali ini entah kenapa tidak ada rasa ke khawatiran sedikit pun di dalam diri Meina bahwa hubungan mereka akan berakhir. Meina justru berpikir bahwa Jalal dan Jodha sudah sangat saling mencintai.

Tok,,,, Tok,,,, Tok,,,, Jalal mencoba mengedor pintu Jodha. “Sayaang, bukain dong pintunya,” ujar Jalal dengan berusaha berkata lembut. Dia sadar kali ini dia tidak bisa terlalu keras untuk menghadapi jodha.

Jodha di dalam kamarnya mendengar itu semua tapi dia tetap tidak ingin membukakan pintu untuk Jalal. Apapun alasan Jalal saat ini tidak bisa ia terima. Ia lebih memilih menutup telinga nya dengan bantal.

Jalal mencoba mengedor untuk yang ke tiga kalinya. Tapi karna tidak di buka juga oleh Jodha, Jalal akhirnya menggunakan kunci yang di berikan oleh Meina tadi.

Jodha yang menyadari pintu kamarnya dibuka dari luar dan merasakan Jalal yang mulai masuk ke dalam kamarnya dengan cepat ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimutnya hingga ke kepalanya..

Jalal mulai mendekati ranjang Jodha, ia duduk di tepi ranjang tepat di samping kepala Jodha. Awalnya Jalal ingin tersenyum saat melihat kelakuan Jodha yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tapi coba ia tahan takut Jodha akan semakin marah.

Jalal menghela nafas panjang. “Apa yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau pikirkan sayang, dia datang tiba-tiba dan langsung memeluk ku seperti itu, saat tangan ku ingin mendorong pinggangnya kau keburu datang. Kalau kau tidak percaya kau bisa melihatnya dari CCTV yang ada di dalam ruangan ku sayang.” Jalal terdiam sejenak untuk kembali mencoba mengatur nafasnya, “Kita sebentar lagi akan menikah, apa kau tidak bisa mempercayai calon suami mu ini, sayang?”

Melihat Jodha yang masih tidak mau mendengarkan penjelasannya, Jalal hanya bisa kembali menghela nafanya. “Baiklah, aku akan pulang sekarang. Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah menceritakan semua dengan jujur.” Kata Jalal sambil bangkit dari duduknya lalu perlahan keluar dari kamar Jodha.

Sebelum menutup pintu, Jalal sejenak berdiri di depan pintu melihat kearah Jodha berharap Jodha akan menahannya pergi. Tapi harapan itu seperti hanya sebuah harapan. Dengan berat hati Jalal menutup pintu kamar Jodha dengan pelan.

Menyadari Jalal telah pergi dan pintu kamarnya kembali tertutup, Jodha dengan cepat membuka selimut yang menutup wajahnya. Jodha menghirup nafas panjang, kalau saja Jalal sedikit lama berdiam di dekatnya tadi mungkin ia akan kehabisan nafas.

Jodha bangun dari tidurnya, menyandarkan punggungnya ke dinding ranjang. Jodha mencoba untuk berpikir dengan semua yang Jalal katakan tadi. “Benarkah aku telah salah paham tadi?” tanyanya pada dirinya sendiri.

GALAU!

Itulah yang kini yang tengah Jodha rasakan. Disatu sisi ia ingin percaya sama semua penjelasan Jalal tapi disisi lain dia masih tetap tidak bisa terima melihat Jalal dekat dengan wanita lain.

Jodha meraih ponselnya, ia butuh teman curhat. Dan Moti lah orang ada di pikirannya saat ini. Dengan cepat Jodha mencari nama Moti di layar ponselnya, lalu langsung menghubunginya.

Saat telponnya diangkat oleh Moti, Jodha langsung menceritakan semuanya kepada moti tentang apa yang ia liat dan apa yang coba Jalal jelaskan padanya tadi.

“Kau seharusnya tidak selalu mencari kesalahan Jalal, Jodha. Apa kau tidak ingat saat kita makan di restoran wanita itu, wanita itu dengan bangganya mengatakan kalau dirinya akan kembali menggoda Jalal meski dia tau Jalal sudah di jodohkan. Seharusnya kau memberikan pelajaran ke wanita itu dengan menunjukkan posisi mu sebagai calon istrinya Jalal di hadapan wanita itu. Bukan justru terus-terusan kau mencari kesalahan Jalal. Untung dia tidak langsung mengakhiri hubungan kalian,” ceramah Moti di ujung telpon.
“Kau ini teman ku atau temannya Jalal? Kenapa kau selalu saja membelanya?” rutuk Jodha yang tidak terima di ceramahi oleh Moti.

“Aku bukan membela nya tapi aku mencoba untuk mengingatkan mu bahwa apa yang kau lakukan itu salah, Jodha.”

Jodha tidak ingin lagi berdebat dengan Moti. Dia tau Moti akan selalu menganggap Jalal benar di matanya. Dengan cepat Jodha memutuskan sambungan telponnya.

********

‘Datang ke rumahku sekarang, kau akan ku maafkan’

Pesan dari Jalal yang muncul ke inbok HP Jodha, setelah semenit sebelumnya Jodha mengirim SMS:

‘Maafkan aku.’

Sebuah pesan yang singkat tapi butuh waktu semalam suntuk untuk Jodha merenungkannya hingga akhirnya pagi ini baru ia memberanikan mengirim SMS itu.

Jodha segera bangkit dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi setelah ia membaca SMS dari Jalal. Tidak butuh waktu lama bagi Jodha untuk mandi, dia langsung mengenakan celana jins panjang di padukan dengan kemeja panjang dan memoleskan wajahnya dengan sedikit bedak serta bibirnya dengan lipgloss, Jodha telah siap berangkat menuju rumah Jalal dengan mengemudi mobilnya.

25 menit perjalanan Jodha telah sampai dirumah Jalal. Jodha langsung disambut oleh pembantu dirumah Jalal.

“Nona, sudah ditunggu Tuan Jalal di ruang makan,” ucap pembantu itu saat membukakan pintu untuk Jodha.

Jodha mengangguk pelan. Ia lalu langsung melangkah masuk ke ruang makan. Disana ia melihat Jalal sudah duduk dan tengah asik dengan laptopnya hingga tidak menyadari kedatangan Jodha.

“Ehhmmm,” dehem Jodha berusaha untuk menyadari Jalal dengan kedatangannya.

Jalal mengangkat wajahnya dari laptop dan melihat kearah Jodha, “Oh, kau sudah datang.”

Jodha langsung duduk di salah satu kursi yang kosong di samping Jalal. “Ada apa kau menyuruh ku kesini?”

Jalal menghela nafas, di tutupnya layar laptopnya lalu menolehkan wajahnya kesamping kearah Jodha hingga jarak wajahnya dengan wajah Jodha sangat dekat. Jodha sontak terkejut, apalagi saat itu Jalal langsung memberikan senyuman mautnya hingga membuat jantung Jodha langsung berdetak cepat.

“Aku lapar, buatkan sarapan untuk ku,” ucap Jalal yang membuyarkan keterkejutan Jodha.

“APA?”

CUP!
Jalal mengecup bibir Jodha dengan cepat, lalu berdiri. “Kalau sudah selesai langsung antar ke kamar ku,” ucapnya sambil melangkah menuju kamarnya.

“Yaaaaaa,” teriak Jodha hingga membuat Jalal menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Jodha.

“Apa kau menyuruh ku pagi-pagi kesini hanya untuk membuatkan mu sarapan?” tanya Jodha dengan nada kesal.

Jalal mengedipkan matanya, “Ini salah satu syarat agar aku bisa memaafkanmu,” ucap Jalal seraya terkekeh dan kembali melangkah menuju kamarnya.

Setelah Jalal pergi, Jodha langsung menuju ke dapur dan mulai memasak. Awalnya ia bingung harus memasak apa tapi akhirnya ia memutuskan untuk membuat nasi goreng sosis. Setelah masakannya selesai Jodha langsung membawanya ke kamar Jalal. Jodha tidak hanya membuatkan Jalal nasi goreng tapi Jodha juga tidak lupa membuatkan Jalal segelas kopi hitam.

Saat masuk ke kamar Jalal, Jodha melihat Jalal yang duduk di atas ranjangnya dengan punggung menyandar ke dinding ranjang dan laptop yang dia letakkan di atas pahanya.

“Ini sarapan mu,” kata Jodha sembari meletakkan nampan yang berisi sepiring nasi goreng dan segelas kopi di atas meja kecil yang ada disamping ranjang.

“Suapkan,” pinta Jalal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

“APA?”

Jalal menghela nafas, “Tidak bisakah kau kecilkan volume suaramu itu, merusak gendang telinga ku,” ujar Jalal seraya melihat kearah Jodha.

“Kau kan bisa makan sendiri, kenapa minta disuapkan oleh ku,” kali ini Jodha berkata dengan nada pelan.

“Kau tidak liat aku sedang sibuk bekerja.”

“Bekerja itu dikantor, bukan dirumah,” sahut Jodha dengan mengkerutkan bibirnya.

“Kau lihat wajah ku,” ucap Jalal sambil menunjuk wajahnya, “Bagaimana aku bisa ke kantor dengan kondisi wajah seperti ini, lalu apa yang akan aku katakan pada karyawan ku saat mereka bertanya, apa aku harus bilang bahwa aku terkena KDRT dari calon istri ku.”

Jodha langsung tersenyum, entah kenapa kata-kata Jalal barusan terdengar sangat lucu di telinganya. Jodha lalu duduk di samping Jalal dengan posisi menghadap ke Jalal.

Jodha mulai menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke Jalal, tapi,

CUP!
Jalal kembali mengecup bibir Jodha, sebelum dia mulai menerima suapan dari Jodha.

“Yaaaa,” teriak Jodha sambil membanting sendoknya ke piring.

Jalal terkekeh, “Kau terlihat lebih cantik kalau sedang marah.”

Sebuah gombalan yang langsung membuat wajah Jodha merona merah seperti apel. Jalal langsung tersenyum dan menggeleng melihat perubahan wajah Jodha. Gadis itu masih saja malu meski itu hanya sebuah kecupan ringan.

Setelah selesai makan, Jalal bangkit dari ranjang menuju ke kamar mandinya. Sampai di depan kamar mandi Jalal menoleh ke belakang, “Aku mau mandi, tolong siapkan pakaian ku,” kata Jalal lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Kali ini tidak ada lagi keluhan dari Jodha. Ia tau Jalal telah memaafkannya. Jodha langsung membuka lemari Jalal dan mulai memilihkan pakaian yang akan dikenakan oleh Jalal. “Sayaang, kau mau pakai baju apa?” teriak Jodha dari depan lemari.

“Yang santai aja sayaang, aku kan juga tidak ke kantor,” jawab Jalal dari kamar mandi.

Jodha lalu memilihkan Jalal celana levis panjang dan kemeja kotak berlengan pendek. Tak beberapa lama Jalal keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada dan hanya handuk yang melilit di pinggangnya. Melihat itu Jodha langsung mengalihkan pandangannya kearah lain, wajahnya kembali merona merah karna malu.

Jalal tersenyum sambil menggeleng, “Mana baju ku sayaang,” tanya Jalal sambil membersihkan rambutnya dengan handuk kecil.

“I,,itu,, a,,aku letakkan diatas ranjang,” sahut Jodha dengan terbata-bata tanpa melihat kearah Jalal.

“Kau mau kemana?” tanya Jalal seraya memakai celananya, saat melihat Jodha yang perlahan melangkah menuju pintu kamar.

Jodha langsung menghentikan langkahnya, “Aku tunggu kau diluar saja,” sahutnya tanpa melihat kearah Jalal.

Jalal terkekeh, “ Jangan keluar dulu, bantu aku memasangkan kancing baju ku.”

“APA?” pekik Jodha yang langsung membalikkan tubuhnya melihat kearah Jalal, tapi sedetik kemudian dia langsung membalikkan lagi tubuhnya karna ternyata Jalal masih bertelanjang dada.

“Cepat sini, kau mau aku maafkan atau tidak?” ancam Jalal sambil tersenyum jahil.

Mendengar ancaman Jalal, mau tidak mau Jodha mendekat kearah Jalal. Dengan menundukkan wajahnya karna tidak berani melihat langsung ke wajah Jalal. Jantung Jodha berdetak dengan cepat, apalagi dengan posisi sedekat ini Jodha dapat mencium aroma sabun dari tubuh Jalal. Sedangkan Jalal dengan sengaja sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Jodha yang mulai memasang satu persatu kancing bajunya mulai dari yang paling bawah.

Hingga akhirnya tinggal tersisa tiga kancing lagi, Jalal dengan cepat mengecup bibir Jodha. Menuju kancing kedua, Jalal kembali mengecup bibir Jodha. Jodha akhirnya tersenyum dengan tindakan Jalal itu, Jalal pun ikut tersenyum melihat Jodha yang sudah tidak malu lagi dengan kecupan-kecupannya itu.

“Selesai,” ucap Jodha saat setelah mengancing semua baju Jalal. Jodha mendongakkan kepalanya melihat langsung kemata Jalal yang menatap dengan penuh cinta. Jalal merangkul pinggang Jodha, merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya. “I Love you,” ucap Jalal pelan lalu perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Jodha. Mencium bibir Jodha dengan lembut dan cukup lama. Jodha tidak membalas ciuman Jalal, dia hanya menikmati cara Jalal melumat bibirnya dengan lembut.

Setelah cukup lama akhirnya Jalal menarik bibirnya dari bibir Jodha kemudian menautkan keningnya ke kening Jodha. “Kau masih harus banyak belajar,” ejek Jalal karna Jodha tidak bisa membalas ciumannya.

Jodha tersenyum kecil seraya memukul dada Jalal dengan pelan. Jalal pun ikut terkekeh lalu meraih tubuh Jodha. Memelukanya dengan erat, “Aku merindukan mu,” ucap Jalal sambil mengecup kepala Jodha.

Bersambung

FanFiction Pelabuhan Terakhir Bagian yang lain Klik Disini


Pelabuhan Terakhir Bagian 15

2 comments:

  1. wwwwaaahhhh...mupeng....nabirong....baca ff part ini...sambil nguyek2 bantal guling....wkwkwk.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.