Pelabuhan Terakhir Bagian 2 - ChusNiAnTi

Pelabuhan Terakhir Bagian 2



By Er Lin...... Setelah mengantar moti kembali ke tokonya, Jodha melajukan mobilnya ke kantor. Ia ingin bertemu dengan kakaknya karna tadi sebelum pergi dari cafe dia membelikan coffe untuk kakak dan ibunya. Tapi setibanya Jodha di halaman depan kantor, dia melihat banyak sekali orang berdemo di depan kantor ibunya. Hingga untuk masuk ke dalam Jodha harus di lindungi oleh beberapa orang satpam. Jika tidak Jodha lah yang akan menjadi pelampiasan amarah dari para pendemo itu. Dengan susah payah akhirnya Jodha bisa juga masuk ke dalam loby kantor dengan selamat.

Sujamal langsung berlari keluar dari ruangannya saat mendapat laporan bahwa Jodha datang ke kantor dan dia harus di lindungi dengan beberapa satpam agar bisa selamat dari amukan para pendemo. Sujamal langsung memeluk Jodha dengan erat karna dia begitu khawatir dengan keselamatan Jodha saat mendapat laporan itu. “Kau tidak apa-apa kan Jodha?? Kenapa ke kau kantor tidak bilang dulu sama kakak hah..??” Jodha yang di peluk seperti itu sama kakaknya hanya diam saja. Dia masih syok saat para pendemo itu akan menyeang dirinya tadi.

Melihat Jodha yang hanya diam, sujamal melepaskan pelukannya. Dipegangnya pundak Jodha, dengan sedikit menunduk sujamal melihat langsung ke wajah Jodha. “Kau pucat sekali Jodha. Apa tadi terjadi sesuatu di luar??” Tanya sujamal sekali lagi.

“Kenapa banyak orang berdemo kak di luar??” Tanya Jodha balik. Wajahnya masih terlihat tegang dan pucat.

Sujamal menarik nafas pelan “para buruh menuntut gaji mereka yang belum kita bayar kan selama 3bulan ini.”

“Kenapa perusahaan kita bisa sampai menunda memberikan gaji para buruh kak??”

“Ibu kan sudah menceritakannya pada mu tadi malam. Bahwa perusahaan kita sedang mengalami krisis keuangan.” Jelas sujamal “tapi kau tak perlu khawatir, kakak sm ibu pasti bisa mengatasinya. Sekarang jawab pertanyaan kakak kenapa kau ke kantor??”. Sujamal bertanya dengan tersenyum agar Jodha tak terlalu khawatir tentang kondisi perusahaan.

“Aku tadi habis makan siang bersama teman-teman ku dan aku kesini karna ingin memberikan ini untuk kakak dan ibu.” Kata Jodha dengan memperlihatkan 2 gelas coffe.

“Baiklah coffe nya kakak terima. Lebih baik sekarang kau pulang ke rumah Jodha karna kondisi kantor saat ini lagi tidak baik. Oke !!!”

Jodha hanya menganggukan kepalanya ke sujamal. Dan sebelum pulang sujamal mengecup kening Jodha dan lalu mengantarnya sampai masuk ke dalam mobilnya. Sujamal ingin memastikan Jodha pulang dengan selamat.

Sesampainya di rumah Jodha langsung masuk ke kamarnya dan merebah kan tubuhnya di atas ranjangnya. Jodha masih terus berpikir tetntang kejadian di kantor tadi.”Apakah begitu parah kondisi perusahaan sekarang??” Jodha berkata dengan dirinya sendiri. Setelah melihat kejadian tadi di kantor Jodha akhirnya sudah menentukan keputusannya. Dia akan menerima perjodohan ini, meski dia harus mengorbankan kebahagiannya karna harus meninggalkan kekasihnya ~suryhaban~.

***

Malam harinya saat Jodha sedang makan malam bersama ibu dan kakaknya, Jodha memberanikan dirinya untuk bertanya tentang kondisi perusahaan kepada ibunya.
“Ibu.. Apakah masalah para pendemo tadi sudah selesai??” Tanyanya dengan hati-hati.
“Ibu sudah berjanji sama mereka bahwa dalam satu bulan ke depan ibu akan melunasi gaji mereka.” Jawab meinawati sambil terus menikmati makan malamnya.

“Dengan apa ibu akan membayar gaji mereka?? Bukankah perusahaan kita sedang mengalami krisis keuangan??” Tanya Jodha lagi.

Meinawati berhenti dari makannya lalu menoleh melihat kearah Jodha “ dengan menjual rumah ini.”

“APA....!!!” Jawab Jodha dengan terkejut. “Tapi bu, apakah tidak ada cara lain selain menjual rumah ini. Rumah ini kan_____” Jodha tidak melanjutkan perkataanya.

“Ibu tau ini rumah peninggalan orang tua mu, tapi cuma ini jalan satu-satunya Jodha. kamu tau kan banyak keluarga yang menompang hidup mereka di perusahaan kita. Apapun akan ibu lakukan untuk bisa mempertahankan perusahaan kita.”Kata Meinawati dan kembali melanjutkan makannya

Jodha diam sejenak, lalu dengan mendesah pelan dia berkata “aku menerima perjodohan itu.”

Mendengar kata-kata Jodha, meinawati langsung melihat kearah Jodha. “ Apakah dengan menerima perjodohan itu bisa menyelamat perusahaan dan rumah ini bu?? Tanya Jodha dengan wajah sedih. Meinawati langsung mengenggam tangan putrinya dengan erat dan menganggukan kepalanya “ iya sayaang... Ibu tau kau putri yang berbakti. Makasih sayaang.” Mata meinawati dan Jodha pun sama-sama terlihat berkaca-kaca .

“Baiklah ibu akan menelpon keluarga nyonya hamidah untuk memberitahukan kabar gembira ini.” Kata meinawati yang langsung berdiri dan menghampiri telpon yang berasa di sudut ruang tamu.

Setelah makan malam Jodha kembali ke kamarnya, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ada kelegaan yang dirasakannya di hatinya setelah mengatakan bahwa dia menerima perjodohan itu pada ibunya. Beban yang selama beberapa hari ini menyiksanya bahkan lebih menyiksa lagi saat sepulangnya dari kantor tadi siang hilang seketika. Meski masih ada sedikit yang menganggu pikirannya, dia masih bingung bagaimana caranya mengatakan semuanya ke suryabhan. Tapi meski suryabhan bakal marah atau mencaci maki padanya, Jodha akan menerima itu semua.

Saat Jodha akan berusaha memejam kan matanya tiba-tiba dia teringat pertemuannya dengan Jalal di cafe tadi siang. Tatapan mata Jalal kepada dirinya masih teringat jelas olehnya, dan tanpa sadar wajah Jodha memerah dengan sendirinya menginggat itu semuanya. “Ada apa dengan ku?? Kenapa aku justru teringat tentang dia?? Bahkan jantung ku sampai berdetak dengan cepat saat memikirkannya??” Kata Jodha sambil meletakkan kedua tangannya di dadanya. “Berhentilah memikirkannya Jodha.. Dia itu seorang playboy, tak ada yang bisa kau harapkan dari playboy seperti dia.” Setelah berkata seperti itu Jodha terus berusaha memejamkan matanya hingga dia terlelap.

***

Malam ini acara pertemuan keluarga Jodha dan keluarga Jalal akan di lakukan. Pertemuan dua keluarga itu diadakan di sebuah restorant yang ada di sebuah hotel berbintang dan juga merupakan hotel milik Akbar Grup.

Sebelum pertemuan itu, siang ini Jodha akan bertemu dengan suryabhan. Jodha ingin memberitahu suryabhan tentang perjodohannya sebelum dia bertemu dengan keluarga Jalal. Jodha sudah menunggu suryabhan di restorant yang berada dekat dengan kantor suryabhan. Setelah 10menit menunggu akhirnya suryabhan datang. “Maaf sayaang aku terlambat.”Kata suryabhan yang langsung mencium kening Jodha dan kemudian duduk di depan Jodha.

“Tidak apa-apa” jawab Jodha dengan tersenyum yang dipaksakannya untuk menutupi rasa gugupnya.

“Tadi dikantor banyak kerjaan, ibu mu sudah mendapatkan suntikan dana hingga bisa membayar lunas semua gaji karyawan. Jadi hari ini aku akan sedikit sibuk dengan itu.” Jelas suryabhan.

Jodha hanya diam bahkan dia tidak begitu mendengar suryabhan bercerita, dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Jodha tidak tau harus memulai cerita dari mana, apalagi saat ini suryabhan terlihat bahagia karna akhirnya perusahaan tempatnya bekerja telah mendapat suntikan dana hingga terhindar dari kebangkrutan. Suryabhan memang bekerja di perusahaan orangtua Jodha, bahkan pertemuan Jodha dengan suryabhan pun terjadi pertama kali di kantor ayah Jodha. Jodha yang saat itu sedang main ke indonesia karna sedang libur kuliahnya yang di amerika.

Melihat Jodha yang melamun, surya menyadarkan Jodha dengan mengenggam tangan Jodha. “ Kau kenapa hanya diam Jodha?? oh ya katamu tadi di telpon ada hal penting yang ingin kau bicarakan. Apa itu sayaang??”

“Kita makan saja dulu baru setelah itu kita bicarakan.” Kata Jodha yang saat itu kebetulan pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.

Sejenak mereka hanya diam dan menikmati sesi makan siang mereka. Selama dalam makan pun Jodha masih terus berpikir bagaimana cara menyampaikannya kepada surya. Setelah selesai makan surya langsung menyuruh Jodha untuk mengatakan apa yang ingin Jodha bicarakan. Jodha menarik nafasnya sebentar lalu setelah itu Jodha menceritakn semuanya kepada surya bahwa dirinya akan menikah dengan pria yang telah di jodohkan oleh ibunya.

Diluat perkiraan Jodha, surya hanya diam dan tak bereaksi apa-apa saat mendengar apa yang Jodha sampaikan padanya, meski terlihat jelas kemarahan di wajahnya. Jodha terus menunggu reaksi dari surya, Jodha bahkan telah siap jika surya akan marah-marah atau membenci dirinya. Setelah menunggu beberpa menit surya yang hanya diam tiba-tiba berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Jodha sendirian tanpa berkata apapun. Bahkan Jodha belum sempat menyampaikan permintaan maafnya.

***

Jodha sujamal dan meinawati telah berangkat menuju restorant untuk bertemu denga keluarga Jalal. Meinawati sangat bahagia dan itu terlihat jelas di wajahnya. Sangat berbeda dengan Jodha yang hanya diam selama dalam perjalanan. Jodha masih teringat dengan surya, Jodha sangat merasa bersalah kepada surya.

Akhirnya mobil mereka berhenti di depan sebuah hotel yang megah. Dari luar hotel yang bangunannya berdisain ala eropa sangat mencerminkan bahwan pengunjung yang menginap di hotel ini adalah orang-oarang berkelas atas. Baru saja mereka masuk ke dalam hotel, mereka telah di sambut oleh seorang wanita cantik yang memang telah menunggu mereka dari tadi. Wanita ini mengantarkan keluarga Jodha ke sebuah ruangan yang ada di dalam restoran itu. Sebuah ruangan yang memang khusus disiapkan untuk pertemuan kedua keluarga ini.

Didalam ruangan itu telah menunggu tuan akbar dan istrinya hamida bano beserta Jalal yang malam itu terlihat sangat tampan. Jalal yang saat itu mengenakan setelah jas bewarna silver yang senada dengan warna celananya. Serta di padukan dengan kemeja putih yang memperlihatkan tubuhnya yang berotot.

“Maaf kami terlambat” kata meinawati saat masuk kedalam ruangan itu.

“Ahh.. Tidak apa-apa nyonya meinawati. Kami juga baru sampai.” Jawab tuan akbar dengan ramah.

“Kami juga mengerti bahwa anak gadis membutuhkan banyak waktu untuk berdandan agar terlihat cantik.” Ucap hamida bano menggoda Jodha. Dan Jodha hanya tersenyum mendengar itu.

“Baiklah sebaiknya kita semua duduk dan mulai makan malamnya.” Kata tuan akbar.

Setelah semua orang kembali duduk, pelayan mulai menyajikan makan malam mereka semua. Mereka menikmati makan malam itu dengan di selingi obrolan ringan. Berbeda dengan Jalal yang matanya tidak pernah lepas menatap kearah Jodha. Dari pertama Jodha masuk tadi, Jalal langsung terpesona dengan penampilan Jodha malam ini. Jodha yang dilihatnya malam ini sangat berbeda dengan Jodha yang di lihatnya di cafe saat itu. Saat itu penampilan Jodha sangat terlihat tomboy, tapi malam ini dengan dress bewarna pink sepanjang lutu memperlihatkan sisi kewanitaan Jodha. Serta bando yang menghiasi kepalanya membuat rambut yang sengaja di biarkan tergerai semakin terlihat indah. Tapi saat mata Jalal melihat kearah bawah, Jalal langsung tersenyum karna lagi-lagi wanita ini hanya menggunakan sepatu flat. Penampilan Jodha yang seperti inilah yang berbeda dengan wanita-wanita yang selama dia kencani, dan ini membuat Jalal semakin tertarik kepada Jodha.

Saat waiters tengah bersiap-siap akan menghidangkan hidangan penutup, Jodha memberanikan dirinya untuk berbicara kepada semua orang yang ada disana. “Maaf om tante dan ibu, bolehkah aq menikmati dessert ini diluar berdua dengan Jalal??? Ada hal yang ingin aku bicarakan berdua dengan Jalal, om tante...” Jodha berbicara sambil melihat kearah tuan akbar dan nyonya hamidah secara bergantian. Sedangkan Jalal langsung memberikan senyuman mautnya kepada Jodha saat mendengar permintaan Jodha itu.

Tuan akbar, nyonya hamida, meinawati dan sujamal, mereka pun saling pandang dan tersenyum penuh arti saat Jodha mengatakan itu. Sambil melirik kearah Jodha dan Jalal secara bergantian, hamidah berkata dengan lembut “ Tentu boleh sayaang, tante mengerti kalian berdua membutuhkan waktu berdua untuk bisa saling mengenal.” Lalu hamida berkata pada anaknya “ Dan kau Jalal, bersikap lah yang baik dihadapan calon menantu ibu. Jika kau berani macam-macam kau akan menerima hukumannya dirumah.” Ancam hamidah yang membuat semua tertawa.

Akhirnya Jalal dan Jodha berjalan keluar dengan membawa dessert mereka masing-masing. Mereka memilih tempat duduk yang ada di halaman restoran yang kebetulan sekali malam itu diterangi dengan sinar bulan. “Baiklah sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan.” Kata Jalal yang saat itu telah duduk di hadapan Jodha.

Jodha meletakan piring dessert nya di tengah meja, lalu dia melipat kedua tangannya di atas meja. Sambil menatap tajam kearah Jalal, Jodha berkata “ aku akan langsung saja. Kau pasti tau kalo perjodohan kita ini terjadi karna kerja sama bisnis.”

Jalal hanya menganggukkan kepalanya sambil terus menikmati dessert “ ya lalu??” Katanya.

“Karna itu aku ingin membuat perjanjian” kata Jodha

“Perjanjian apa??” Tanya Jalal yang saat itu masih menikmati dessert nya.

“Aku ingin setelah kita menikah nanti tidak terjadi kontak fisik. Maksud ku_______” Jodha tidak melanjutkan perkataannya, dia menunggu untuk melihat reaksi Jalal.

Benar saja, Jalal langsung berhenti menikmati dessert nya. Jalal langsung mengangkat kepalanya dan melihat kearah Jodha. “Kontak fisik??” Tanya nya dengan mengkerutkan keningnya

“Maksud ku..” Jodha menarik nafasnya sebentar. “Aku tau kau pasti juga terpaksa menerima perjodohan ini. Jadi selama kita belum bisa menerima satu sama lain sebagai pasangan suami istri, aku minta kita tidak melakukan kontak fisik.”

Jalal langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya ke dadanya . “Kau tadi bilang bahwa ini adalah sebuah kerjasama bisnis kan??. Lalu keuntungan apa yang aq dapat dari perjodohan ini jika kau tidak ingin melakukan kontak fisik dengan ku??” Tanya Jalal

“ Apakah itu berarti kau menginginkan kontak fisik dengan ku setelah menikah??” Tanya Jodha balik sambil melebarkan matanya.

“Hhahaha... Tidak ada dari bagian tubuh mu itu yang membuat ku bergairah. Tubuh datar seperti anak kecil begitu” Jalal berkata sambil memajukan dagunya menunjuk kearah dada Jodha.

Mendengar perkataan Jalal, Jodha pun ikut melihat kearah dadanya. Lalu dengan wajah marah Jodha berkata “apa kau bilang, tubuh seperti anak kecil??”

Jalal menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang melihat wajah Jodha yang merah karna menahan amarahnya.

Jodha mendesah berat untuk menahan emosinya “kalo begitu tidak ada masalah dong kalo selamanya kita tidak akan pernah melakukan kontak fisik. Bukankah tadi katamu kau tidak bergairah melihatku??”

“Lalu keuntungan apa yang aku dapat dari perjodohan ini?? Kau tau kan keluarga ku harus mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan ini??”

“Bukan kah keluarga mu sudah mendapat 35% saham di perusahaan orang tua ku?? Menurut ku itu adil.” Kata Jodha.

“Tapi itu tidak sebanding dengan kesialan yang aku dapat dengan menerima perjodohan ini??” Kata Jalal lagi.

“Apa?? Kesialan katamu?? Apakah itu berarti menikah dengan ku bagi mu adalah sebuah kesialan??” Tanya Jodha dengan nada tinggi karna dia merasa terhina dengan perkataan Jalal.

Dengan menganggukkan kepalanya Jalal berkata “ itu kau tau... Kalo aku mau, aku bisa menikahi wanita yang bertubuh seksi seperti model. Tapi karna kerjasama bisnis ini aku harus hidup sama wanita yang memiliki tubuh seperti anak kecil”

“Ya Tuhan...” Jodha menarik nafasnya “Bukan kau saja yang merasa sial tapi aku juga merasa sial karna harus hidup sama pria yang ingin menikah hanya karna ingin melakukan kontak fisik.” Jawab Jodha dengan kesal

“Aku pria normal” jawab Jalal dengan cuek sambil mengangkat kedua pundaknya.

“Baiklah, katakan apa yang kau mau??” Tanya Jodha

“Aku mau kau selalu datang setiap kali aku memanggil mu. Jika tidak..... Maka perjanjian kerjasama ini batal, dan kau harus membayar ganti ruginya dua kali lipat. Ayah ku bahkan sudah menyuntikkan dana ke perusahaan orang tua mu.”

“Baiklah.. Aku setuju.” Jawab Jodha dengan pelan dan diwajahnya masih terlihat kekesalannya kepada Jalal.

“Kalo begitu, apakah aku bisa melanjutkan makan ku.” Tanya Jalal yang tersenyum kemenangan karna telah berhasil membuat Jodha menuruti permintaannya.

***

Saat akan pulang Jalal dengan sengaja mengatakan di depan semua orang bahwa dia akan mengantar Jodha pulang, Jodha sendiri tidak bisa menolaknya karna ibunya dan nyonya hamida langsung memberikan izin. Selama dalam perjalan pulang Jodha selalu diam, dia bahkan menolehkan wajahnya melihat kearah luar melalui kaca mobil yang ada di sampingnya. Sedang Jalal hanyan curi-curi pandang melihat kearah Jodha. Untuk menghilangkan keheningan akhirnya Jalal memulai percakapan “baju mu cantik Jodha.....”

“Akhirnya kau sadar bahwa aku ini cantik” jawab Jodha tanpa melihat kearah Jalal.

Jalal tertawa kecil “ aku tidak bilang kau cantik , tapi aku hanya bilang baju mu cantik. Tapi sayang kau rusak dengan sepatu mu itu.”

Jodha langsung menolehkan wajahnya melihat tajam kearah Jalal. Sekali lagi Jalal membuatnya kesal. “Kau benar-benar seperti anak kecil” kata Jalal lagi yang semakin membuat Jodha tambah kesal.

Lagi-lagi Jodha harus menarik nafasnya agar tidak terpancing sama perkataan Jalal. Sambil melihat kearah depan Jodha berkata “ dan sayangnya wanita yang bertubuh seperti anak kecil ini yang akan menjadi istrimu.” Kemudian Jodha melihat kembali kearah Jalal “apa kau puas akhirnya aku mengatakan dengan mulut ku sendiri bahwa tubuh ku seperti anak kecil.”

Jalal tertawa, dia sendiri tidak mengerti kenapa ketika melihat wajah Jodha merah saat marah membuat dirinya bahagia. Dan mungkin ini akan menjadi kebiasaan barunya saat bersama Jodha.

Bersambung

FanFiction Pelabuhan Terakhir Bagian yang lain Klik Disini


Pelabuhan Terakhir Bagian 2

4 comments:

  1. Adegan kaya gini neh yg paling kusuka,,,, benci2 rindu. Hehehe. Makasih mba:D

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.