Pelabuhan Terakhir Bagian 8 - ChusNiAnTi

Pelabuhan Terakhir Bagian 8



By Er Lin..... Jam tujuh malam Jodha sampai dirumahnya. Dia pulang dengan perasaan yg tak karuan. Biasa dia selalu pulang dengan wajah ceria setiap habis ngumpul bareng teman-temannya. Tapi tidak kali, hal yg dia tonton di restorant tadi membuat perasaannya tak karuan. Ada perasaan sedih, kecewa dan kasian pada dirinya sendiri.

'Galau.'

Sepersupuluh dari bagian hatinya telah kagum kepada Jalal. Sepersepuluh yg lainnya sejak awal memang sudah terpesona. Usianya 30 tahun, mapan, dewasa, bertanggung jawab, sayang keluarga. Apalagi?

'Playboy!'

Tapi playboy itu hanya sejenis penyakit ringan. Bisa di sembuhkan.

Jodha memilih untuk berendam di dalam air hangat untuk merileks kan pikirannya. Setelah masuk ke kamarnya untuk meletakkan tas dan sepatunya, Jodha langsung menuju ke kamar mandi. Cukup lama Jodha berendam di dalam air hangat, setelah merasa rileks Jodha keluar dari kamar mandi. Dia memilih pakain tidur untuk di kenakannya. Setelah menyisir rambutnya, Jodha memilih untuk melanjutkan menonton serial 'JodhaAkbar' yg dia sukai.

***

Pulang dari kantor Ruqyah tidak langsung pulang kerumahnya. Dia memilih untuk mampir di sebuah club untuk menenangkan pikirannya. Hari ini untuk pertama kalinya Jalal memarahinya dan itu karna Jodha. Bahkan Jalal langsung memindahkan ke devisi lain.

Setelah sampai di club itu, Ruqyah langsung duduk di sebuah kursi yg tersusun di depan meja sebuah bartender. Ruqyah langsung meminta sebuah minuman kepada bartender. Wajahnya tertunduk lesu, untuk pertama kalinya dia merasa tak di inginkan dan lagi-lagi itu karna perempuan yg bernama Jodha.

Saat sedang asik menikmati minumannya, tiba-tiba di sampingnya duduk seorang pria. Pria itu juga memesan minuman yg sama dengannya. Ruqyah menolehkan wajahnya melihat kearah pria itu. Dia memicingkan matanya, dia seperti mengenal pria ini. “Suryabhan,” pekiknya dalam hati.

Wajah Suryabhan terlihat kusut, sepertinya perasaanya sedang galau, sama dengan dirinya. Ruqyah tersenyum licik seperti sebuah ide buruk muncul di pikirannya. Ruqyah langsung melirik ke bartender seperti memerintahkan sesuatu, dan bartender itu hanya memberikan anggukan sebagai tanda mengerti dengan isyarat yg di berikan Ruqyah padanya.

***

Jodha akan bersiap untuk tidur, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Diraihnya ponsel yg terletak di meja kecil di samping tempat tidur. Kening Jodha langsung berkerut saat melihat sebuah nama yg muncul di layar ponselnya. “Kenapa Suryabhan menelpon malam-malam begini?”

“Hallo,” kata Jodha saat menerima telpon Suryabhan.

“APA?” jawab Jodha yg terkejut saat mendengar perkataan seseorang di ujung telpon.

“Baiklah, aku segera kesana.” Jodha langsung memutuskan telponnya. Dia langsung bangkit dari ranjang, mengganti pakaiannya dengan cepat lalu pergi dengan mengandari mobilnya.

******************

Pagi ini Jodha tengah bersiap-siap untuk kembali pergi ke kantor Jalal. Jodha memberikan eyeshadow dan eyeliner di bagian matanya untuk menutupi matanya lelah karna semalaman dia tidak tidur. Dia baru pulang ke rumahnya pukul enam pagi. Jodha juga memberikan sedikti warna cerah di bibirnya hingga semakin memperlihat kesan cerah di wajahnya. Setelah selesai berdandan Jodha langsung berangkat menuju kantor Jalal dengan mengandarai mobilnya.

Jalal sedikit terkejut dengan penampilan Jodha. Tidak seperti biasanya gadis ini memakai make-up yg berlebihan di wajahnya, apalagi saat Jalal melihat bibir Jodha yg berwarna merah. Dia ingin bertanya tapi tiba-tiba di batalkannya ketika Jodha bertanya terlebih dahulu. “Apakah kali ini kita akan kembali mengelilingi mall?”

Jalal menganggukkan kepalanya,” Ayo kita jalan,” ajak Jalal.

Selama berjalan Jodha banyak diam, dia tidak cerewet seperti biasanya, dia juga tidak banyak membantah saat Jalal menyuruhnya sesuatu. Dan itu semua membuat Jalal khawatir. Jalal menghentikan langkahnya, memiringkan tubuhnya dan menarik pundak Jodha hingga kini posisi mereka berdua saling berhadapan.

“Apa kau sakit?” tanya Jalal yg langsung meletakkan tangannya di kening Jodha. Jalal juga memegang wajah Jodha dengan kedua tangannya.

Tindakan Jalal yg tiba-tiba seperti itu membuat Jodha kaget, dia juga merasa malu karna Jalal melakukan itu di depan semua karyawan Jalal. “A...a..aku ti..dak apa-apa Jalal, aku hanya merasa sedikit kelelahan,” Jodha berkata dengan terbat-bata.

Jalal menatap wajah Jodha dengan lekat. Wajah gadis ini memang terlihat pucat meski dia telah menutupnya dengan make-up di wajahnya. “Baiklah aku antar kau pulang sekarang,” kata Jalal langsung mengandeng tangan Jodha.

Tapi tiba-tiba. “BRUUUUKKKKk”

Dari jauh Jalal dan Jodha melihat Ruqyah terjatuh pingsan. Jalal langsunge berlari kearah Ruqyah, Jodha pun ikut berlari di belakang Jalal. Jalal langsung meraih tubuh Ruqyah kedalam pangkuannya, “Ruqyah.... Ruqyah... Kau kenapa? Ruqyah bangun,” kata Jalal sambil memukul-mukul wajah Ruqyah dengan pelan untuk menyadarkannya. Jalal terlihat sangat cemas, dan Jodha melihat itu dengan jelas diwajahnya. Terbesit rasa cemburu melihat Jalal begitu mengkhawatir wanita lain di hadapannya.

Melihat Ruqyah yg tidak juga sadar, Jalal lalu mengendongnya. Membawanya ke dalam ruangannya, Jodha mengikuti Jalal dari belakang. Jalal langsung merebahkan tubuh Ruqyah diatas sofa, dia memoleskan minyak kayu putih di hidung Ruqyah, berharap itu bisa menyadar Ruqyah. Jodha terus memperhatikan Jalal yg duduk di samping Ruqyah, terlihat sekali Jalal begitu menyayangi Ruqyah. Hatinya merasa sakit melihat itu semua, matanya mulai berkaca-kaca tapi dengan cepat di hapusnya. Jodha tidak ingin Jalal tau bahwa dia tidak menyukai Jalal bersikap seperti itu kepada wanita lain meskipun itu Ruqyah, wanita yg sudah Jalal anggap seperti adiknya sendiri. Jodha manarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan sesak di dadanya.

“Syukurlah kau sudah sadar Ruqyah,” kata Jalal saat melihat Ruqyah mulai membuka matanya.

“Aku dimana Jalal?” tanya Ruqyah dengan pelan dan berusaha untuk bangun.

“Kau tadi pingsan Ruqyah,” jawab Jalal sambil langsung menahan pundak Ruqyah agar tidak bangun. Jalal kembali merebahkan tubuh Ruqyah dengan lembut.

“Awww, kepala ku sakit,” rintih Ruqyah sambil memegang kepalanya.

“Kau harus ke rumah sakit Ruqyah.” Jalal lalu melihat kearah Abul mali, “Kau bawa Ruqyah ke rumah sakit, aku harus mengantar Jodha pulang.”

“Baik sir,” jawab Abul mali.

Jalal langsung berdiri dan mulai melangkah tapi tiba-tiba tangannya di tahan oleh Ruqyah. Jalal langsung membalikkan tubuhnya melihat kearah Ruqyah. “Aku tidak ingin kerumah sakit, aku ingin kau antar aku pulang Jalal,” pinta Ruqyah dengan suara yg pelan.

“Tapi Ruqyah, aku___”

“Aku mohon,” mata Ruqyah mulai berkaca-kaca. Jalal tidak tega untuk menolaknya. Jalal lalu mengenggam erat tangan Ruqyah,”Baiklah, aku akan mengantar mu pulang,” ucapnya sambil mengangguk kepalanya.

Jodha hanya diam memperhatikan itu semua, hatinya semakin terasa sakit saat Jalal lebih memilih untuk mengantar Ruqyah dari pada dirianya. Jalal lalu melihat kearah Jodha, “Maafkan aku Jodha, tapi kau bisakan pulang sendiri?” tanya nya. Jodha bisa merasakan Jalal merasa bersalah karna harus membiarkan Jodha pulang sendiri dari nada suara Jalal.

Sambil tersenyum Jodha menganggukkan kepalanya. “Aku bisa pulang sendiri, kau antar saja Ruqyah ke rumahnya,” kata Jodha sambil tersenyum kearah Ruqyah.

“Maafkan aku. Langsung telpon aku jika kau telah sampai di rumah.” ucap Jalal.

Jodha mengangguk kan kepalanya. “Baiklah, aku pulang dulu,” pamit Jodha dan sebelum pergi dia melihat kearah Ruqyah, Ruqyah justru memperlihatkan senyum kemenangannya tapi sayangnya Jalal tidak melihat itu.

Jodha langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya. Selama dalam perjalanan Jodha terus berusaha menguatkan dirinya. Jodha terus berusaha berpikir positif bahwa Jalal memperlakukan Ruqyah seperti itu hanya karna dia sudah menganggap Ruqyah seperti adiknya sendiri. “Ya, Jalal pernah memberitahu ku untuk tidak berpikir yg aneh-aneh”

Sesampainya di rumahnya, Jodha langsung menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Baru saja kepalanya menyentuh bantal, tidak butuh waktu lama matanya langsung terpejam. Tapi bunyi dering ponselnya mengganggu mimpi indahnya. Dengan rasa malas dia bangun untuk mengambil ponsel yg ia letak kan di atas meja kecil yg ada disamping ranjangnya.

“Hah, aku lupa menghubunginya,” gumam Jodha saat melihat nama Jalal di layar ponselnya.

“Hallo.”

“Apa kau sudah sampai di rumah?” tanya Jalal lansung di ujung telpon.

“Iya, maaf aku lupa menghubungi mu. Aku tadi langsung tidur, aku benar-benar lelah.”

“Syukurlah kalo kau sudah sampai di rumah mu, istrahat lah biar nanti malam kau bisa hadir dirumah ku.”

“Memangnya ada acara apa dirumah mu??” tanya Jodha yg tidak mengerti.

“Nanti kau juga akan tau.”

“Jalal....” kata-kata Jodha terhenti karna Jalal telah lebih dulu memutuskan telponnya. “Dasar, suka sekali memutuskan telpon sesuka hatinya, padahal masih ada ingin aku tanyakan,” rutuk Jodha yg kesal dengan kebiasaan Jalal.

Ruqyah yg telah ada di apartemennya dan tengah berbaring di atas ranjangnya berusaha untuk mendengar percakapan Jalal dengan Jodha di telpon tadi. Tapi karna posisi Jalal yg sedikit jauh dari dirinya hingga dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yg Jalal bicara kepada Jodha.

Selesai menelpon Jalal kembali ke tempat Ruqyah. Dia duduk di tepi ranjang tepat di samping Ruqyah yg tengah berbaring. “Apa kau sudah merasa baikan?”

Ruqyah mengangguk pelan, “Hanya masih sedikit pusing.”

“Kau istirahat lah, aku harus kembali ke kantor.” Ucap Jalal dan langsung akan beranjak pergi.

“Jalal,,,,”panggil Ruqyah dengan suara lirih.

Jalal menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. “Apa?”

“Bisakah kau menemani ku sebentar lagi, aku,,,aku,,,hanya merasa sedikit takut bagaimana kalo aku kembali pingsan.” Ruqyah berkata dengan terbata-bata. Dia memang berusaha untuk menahan Jalal agar lebih lama berada di apartemennya. Saat Jalal menelpon Jodha tadi, dia samar-samar mendengar Jalal menyuruh Jodha datang kerumahnya.

Jalal tersenyum, dia kembali duduk di samping Ruqyah. “Baiklah aku akan menemani sampai kau tertidur, jadi sekarang tidur lah.” Ucapnya sambil memukul-mukul kepala Ruqyah dengan pelan.

Ruqyah langsung memejamkan matanya tapi baru saja sebentar matanya terpejam dia sudah kembali membuka matanya. “Tapi aku tidak akan bisa tidur jika perut ku terus berbunyi,” kata Ruqyah sambil memegang perutnya dan memperlihat ekspresi lucunya.

Jalal langsung terkekeh melihat itu. “Aku tau kau pasti rinduu dengan masakan ku, baiklah aku akan memasak makanan kesukaan mu,” ucap Jalal yg langsung pergi ke dapur Ruqyah.

Sepeninggal nya Jalal, Ruqyah langsung mengambil ponselnya lalu mengirim sebuah pesan kepada Jodha. “Malam ini kau tidak akan bisa melihat Jalal dirumahnya, karna saat ini dia sedang memasakkan makanan kesukaan ku.”

Ruqyah lalu bangkit dari tidurnya dan mengambil foto Jalal saat dia sedang sibuk memasak, tentu itu Ruqyah lakukan tanpa sepengetahuan Jalal. Kembali Ruqyah mengirim foto itu kepada Jodha, foto beserta tulisan “Dan kami akan makan malam bersama di apartemen ku, dan itu hanya berdua, hanya ada aku dan Jalal.”

*****

“Bangun sayaang,” kata Meina sambil mengecup kening Jodha.

Merasakan kecupan hangat di keningnya, ia tau itu pasti ibunya. Jodha bergumam dengan mata yg masih terpejam. “ Aku masih ngantuk bu....”

Meina kembali mengecup kening Jodha, “ Bangun sayaang, segera mandi karna sebentar lagi kita akan kerumah keluarganya Jalal.”

Jodha pun akhirnya bangun meski dengan rasa malas. “Memangnya ada acara apa sih bu di rumahnya keluarga Jalal?”

“Hanya makan malam privat antara keluarga kita dengan keluarga Jalal untuk membicarakan detail pernikahan kalian” jelas Meina dengan semangat.

Jodha langsung melebarkan matanya dan dengan susah payah dia menelan air ludahnya. “Kan masih lama,” serunya dengan terkejut

“Sesuatu yg di rencanakan jauh-jauh hari hasilnya akan baik dan rapu daripada terburu-buru. Pak Akbar itu orang sibuk, kalo tidak diatur seperti in mana bisa ketemu. Sekarang segera lah mandi, dan kenakan gaun ini,” Meina memberika sebuah bungkusan yg berisi sebuah gaun. “ Dari mamanya Jalal,” terang Meina dengan tersenyum.

Meina meninggalkan kamar Jodha saat Jodha telah masuk ke dalam kamar mandi. Jodha mandi dengan cepat, setelah mandi dengan masih mengenakan handuk dia meraih ponselnya untuk mengecek apakah ada telpon atau pesan yg masuk. Dan benar saja saat di lihatnya terdapat dua pesan yg masuk saat dia tertidur tadi. Jodha membuka pesan itu satu persatu dan Jodha langsung terkejut saat membaca pesan yg dikrimkan oleh Ruqyah padanya.

Bersambung

FanFiction Pelabuhan Terakhir Bagian yang lain Klik Disini



Pelabuhan Terakhir Bagian 8

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.