The Gift of Love Part 24 - ChusNiAnTi

The Gift of Love Part 24



By: Shenazzahra...... Pagi yang sejuk di kota Malang, sinar matahari mulai menghangatkan bumi, semua penghuni rumah bu Hameeda nampak murung..Jodha dan Jalal harus segera kembali ke Jakarta, banyak pekerjaan yg harus mereka selesaikan. Ibu Hamidah dan Dewi terlihat sangan berat melepas kepergian dua orang yang sangat dicintainya..Dewi terus menggelayut manja ditangan mas Bawelnya..merajuk agar Jalal tinggal beberapa hari lg di mamalng.

“Wie sayang... nanti pas liburan semester kamu boleh main ke Jakarta sama ibu. mas janji nanti kalau tidak ada halangan mas akan jemput kamu. oke” ucap Jalal mencoba menenangkan Dewi. sedanagkan bu Hameeda memeluk erat menantunya.

Jodha pun seolah enggan meninggalkan Malang, dia begitu menikmati hari-hari bersama ibu mertuanya yang telah memperlakukannya seperti anak sendiri, belajar memasak, belajar ilmu agama, atau kadang kadang hanya sekedar tiduran sambil curhat dipangkuan ibu Hameeda. Itu semua membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu.

“Jodha sayang... tolong jaga cucu ibu ya” kata ibu Hameeda sambil mengelus perut mantunya.

“tentu bu.. tapi bagai mana kalau aku ingin curhat, kalau aku ingin bermanja-manja sama ibu” ucap Jodha.

“kan masih ada Jalal sayang. dia akan selalu siap memberikan servic terbaik untukmu.. kalau Jalal macam-macam tlp saja ibu” Jawab ibu Hameeda sambil tersenum melirik anaknya.

==00==

Mereka ke Jakarta menggunakan kereta, transportasi yang sangat disukai Jalal, “dengan berkereta kita bisa menikmati indahnya alam sepanjang perjalanan” begitu dalihnya. Suasana dikereta nampak lengang, dengan penuh perhatian Jalal tidak pernah melepaskan tangannya dari tangan Jodha sesekali tangannya berpindah kebahu Jodha.. mereka menmilih tempat duduk yg nyaman, Jodha duduk dekat jendela, dengan setia Jalal duduk disampingnya.

“mas.. ada apa ko ngeliatin aku terus?” tanya Jodha, karena dari sejak mereka duduk Jalal tidak pernah melepaskan pandangan yg penuh cinta.

“sejak kau hamil.. kau semakin cantik saja sayang” jawab Jalal. tanpa aba-aba secepat kilat Jalal mengecup manis bibir Jodha.

Jodha segera mendorong wajah suaminya agar menjauh sambil berkata, “kau bisa menahanya sampai kita dirumah kan sayang? sekarang aku ngantuk. seperti biasa boleh aku pinjam ketiakmu.. hehehe”

Jalal pun segera mengangkat tangannya sambil tersenyum membiarkan Jodha menyelusup tidur dibawah ketiaknya. Entahlah lah sejak Jodha hamil, dia punya kebiasaan baru 'tidak bisa tidur kalau tidak masuk dalam ketek Jalal'..'hmm ngidam yang aneh' pikir Jalal.

==00==

Merekapun kini sudah di Jakarta, setelah membersihkan badan mereka beristirahat, karena besok mereka harus kembali kerutinitas nya mengurus Tajmahal corp.

==00==

Suatu siang di ruangan Presdir, Jodha sedang merajuk pada suaminya minta diantar membeli 'Asian Gedong Dalem' di Bogor. “mas ayolah.. anterin aku.. pokonya aku ga akan makan apapun sebelum makan asinan itu”

“sayang di Jakarta juga kan banyak yang jualan asinan.. kita cari aja yg sekitar sini ya.. lagian sebentar lg kita ada janji bertemu dg klien”rayu Jalal.

“ga mau... pokonya saya pengin asinan Gedong Dalem.. sekarang.. titik, kalau mas ga mau ya udah saya berangkat ke Bogor sendiri saja” ucap Jodha sambil meraih kunci mobil di atas meja kerjanya.

“dasar keras kepala!!” gerutu Jalal.

“kau bilang apa mas? kalau ga mau nganter ya udah ga usah ngedumel, simpelkan!!” timpal Jodha sewot.

Jalal segera meraih tubuh Jodha, merapatkanya ke pintu ruang kerja, sambil mencengkaram tangan Jodha. tatapannya tajam, menusuk sampai ke hati Jodha. Baru kali ini dia melihat suaminya marah. Jalal masih menatap tajam kearah Jodha. Ada rasa kecewa yang menyeruak dihati Jodha, dalam hatinya berkecamuk.. “cuma segituhkah stok kesabaran mu mas. ternyata kau tidak ada pedanya dengan laiki-laki lain yang tidak menghargai perasaan istrinya. ternyata kualitasmu sama saja dengan seorang preman. yang hanya menggunakan nafsunya bukan akal sehatnya.”

Perlahan butiran bening mengalir melewati pipinya, bibir dan dagunya ikut gemetar merasakan perihnya hati. sejak hamil dia memang menjadi sangat sensitif, ditambah ini untuk pertama kalinya Jalal berlaku kasar.

Tak berapa lama tak kuat menahan tawanya, “hahahaha.. ternyata istriku cengeng sekali. baru digituin aja dah nagis”.

Merasa dikerjain suaminya Jodha segera menghapus air matanya, “mas.. jadi kau...”

Jodha tak sempat membereskan kalimatnya karena bibir Jalal segera menutupi bibirnya, “sayang.. kau kira aku akan tega memarahi mu.. meski sejujurnya tadi aku sangat kesal dengan kelakuanmu.. sebenernya kamu benar-benar menginginkan asinan itu atau hanya ingin ngerjain suamimu.. karena aku fikir ngidam itu tidak ada.. kadang para istri memanfa'atkan momen kehamilah mereka untuk minta macam-macam pd suaminya bahkan hal-hal yang aneh”

tiba-tiba Jalal merasa mual “o..o..o..huek” dia segera berlari kekamar mandi yg memang tersedia di ruangan presdir. Jodha segera mengikutinya.

tak berapa lama Jalal sudah keluar, dia mengusap mulutnya dengan saputangan..dan duduk terkulai lemas di sofa setelah mengeluarkan semua isi perutnya.. sambil menyerahkan air hangat, Jodha terkekeh melihat yang terjadi dengan Jalal, “makanya mas jangan suka ngerjain istri yang sedang hamil.. sekarang bau tau rasa yang namanya ngidam kaya gimana.. hmm.. klo ga salah itu namanya kehamilan simpatik.. ada beberapa kasus memang dimana suami mengalami hal tersebut”

Jalal tersenyum sambil merasakan lemas.. tenggorokannya terasa perih, “aduh mas juga.. jadi kepingin makan asinan.. sepertinya seger banget,kau tau tempatnya kan?” merekapun segera meninggalkan kantor.

Setelah menyerahkan semua urusan kantor dan berpamitan pada Todar Mal..pasangan yang lagi sama-sama ngidam ini pun segera meluncur ke Bogor, wajah mereka nampak sumringah..bayangan akan segarnya asinan sudah menari-nari diotak mereka...mobil mereka baru keluar dari tol, menyusuri jl. Pajajaran sebelum akhirnya berbelok ke Jl. Sukasari...dan kini mobil mereka terparkir di depan sebuah gedung yang di tata bak sebuah resto bertuliskan “Asinan Gedong Dalem Berdiri Sejak 1970” ....Jalal masih duduk di belakang setir, kepalanya clingukan melihat keluar “ooh..jadi ini toh yang sudah membuat istriku ngiler...mm..kebayang apa ga pegel ya berdiri sejak tahun 70...” Jodha hanya mesem-mesem mendengar guyonan suaminya yg sebenernya ga lucu. Dua porsi asinan buah yang begitu segar dan satu porsi asinan sayur telah terhidang didepan mereka, dengan lahap suami istri yg lagi ngidam ini menikmati makanan yang begitu diimpikannya...”Alhamdulillah...puas rasanya...mm..Jodha, sekarang mas pengin makan roti uyil”..Jodha terkekeh mendengar celoteh suaminya “aduh mas...sampean ini..ngidamnya lebih-lebih dari diriku..mm..tapi boleh juga mumpung kita di Bogor.” ==0== Setelah puas keliling-keliling kota Bogor, dua sejoli ini pun kembali memasuki tol...namun Jodha merasa aneh ketika Jalal mengambil arah ke Ciawi bukan ke Jakarta..”mas, kita mau kemana?” tanya Jodha heran..”mm..kita ke Masjid Atta'awun yu...masjid di Puncak yg berada ditengah kebun teh...mas ingin mengajak kamu shalat disana”. Tak sampai satu jam mereka kini telah sampai...angin yg berhembus terasa dingin menyentuh kulit mereka “subhanalloh..mas indah banget” seru Jodha sambil menyusuri anak tangga menuju masjid..seluas mata memandang terhampar hijau kebun teh yang menyejukan mata..kaki mereka melintasi kolam air buatan ya ada diteras masjid..suasana yg tenang menambah nikmanya khusu shalat disana..namun tiba-tiba perut Jodha tersa sakit,perutnya kram.. Jodha berteriak “mas tolong!”

***

Maham Anga membukakan pintu untuk majikannya (Jalal) yg baru pulang.

“Bagai mana kabar Jodha bi?” tanya Jalal.
Maham : ”Dari pagi non Jodha tidak keluar kamar, dan tidak menyentuh sedikitpun makanan yg saya bawakan den.”

Jalal segea bergegas menuju kamar, nampak Jodha sedang duduk sambil memeluk lututnya, posisi yg sama ketika tadi pagi dia berangkat, mukanya nampak pucat, lingkaran hitam nampak jas dikantung matanya.

Ini sudah seminggu Jodha bersikap seperti ini, sudah berbagai cara Jalal lakukan, menghiburnya, merayunya, membuat lelucon, dan kini Jalal sudah kehabisan cara untuk mengembalikan keringan Jodhanya yg dulu.

Flash Back
Jodha harus rela rahimnya diangkat, yg otomatis harus rela juga kehilangan janinnya, kehilanggan harapannya untuk menjadi seorang ibu. Itu semua
berawal dari kejadian dimana Jodha merasakan sakit diperutnya ketika di Puncak dulu. Jodha diponis menderita kanker servik, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupnya adalah dg mengangkat suatu organ yg sangat penting bagi wanita 'rahim'.

Flashback end

Jalal : “Jodha, cobalah bangkit dari keterpurukan ini, apa kau kira hanya dirimu saja yang sedih hah?” nampak keprustasian dari ucapan Jalal.

Terdengar isak tangis Jodha yang semakin mengeras.

Jalal mendekati box bayi yang ada dihadapan Jodha.

Jalal : “Klo karena benda ini , kau tidak bisa melupakan bayi kita..baiklah mas akan membakarnya!!”

Jalal mengambil alkohol dari kotak obat, menyalakan korek satu guling kecil terbakar.

Jodha berteriak, “Jangan mas..jangan...”
Jodha berusaha memadamkan api yg kini mulai membakar bantal dan kasus imut yg tidak sempat ditiduri penghuninya. Dipeluknya bantal yg masih tersisa sepotong

Sambil menagis Jodha berkata: “Kau tak akan pernah mengerti mas, karena kau bukan seorang ibu,,,kenyataan paling pahit ketika aku harus kehilangan mimpi menyentuh jemari mungil anakku,,dan lebih menyakitkan lagi ketika seumur hidupku aku harus kehilangan harapanku untuk jadi seotang ibu”

Jalal kini duduk bersimpuh disamping Jodha, hatinya ikut merasakan perih melihat Jodha yg terus menangis sambil memegang guling kecil yg tinggal sepotong.

Tangan Jalal merengkuh kepala Jodha dan membenamkan didadanya. Kini mereka sama-sama menangis.

Jalal segera bisa menguasai keadaan,,,perlahan dikecupnya kepala istrinya dg penuh cinta.

“Sayang..ayo ikut dengan ku..” ucap Jalal sambil menarik tangan Jodha.

“Kemana mas?”tanya Jodha dlm sela isak tangisnya.

“Ikut saja denganku” jawab Jalal sambil terus menarik tangan Jodha.

Mereka sekarang berada di samping gundukan tanah yg ukurannya sekitar setengah meter. Gundukan tanah itu adalah tempat peristirahatan terakhir bayi mereka.

Jalal menarik napas panjang lalu berkata: “Jodha..anak kita akan sedih jika melihat ibunya seperti ini..buat anakmu di alam sana tersenyum,,kau tau anak kita kelak akan jadi menjadi penolong kita diakhirat,,ini adalah tabungan kita Jodha” Jalal mengusap nisan kecil dihadapannya.

***

Malam harinya sesudah shalat Isya, mereka tetap duduk diatas sajadah.
“Mas..apa kelak kau tidak akan merindukan seorang anak?” Tanya Jodha sambil menggenggam tangan suaminya.

Jalal menatap Jodha seolah ingin menyakinkan “Menghabiskan waktu seumur hidupku dengan cintamu itu sudah cukup bagiku Jodha.” jawab Jalal

“Kau tidak ingin menikah lg dengan seseorang yg bisa memberimu anak?” tanya Jodha lagi.

“Jodha apa yg kau katakan? Tidak pernah terbersit dlm hatiku unk memikirkan wanita lain selain dirimu.” suara Jalal sedikit meninggi.

**

Sejak kejadian dimalam itu perlahan Jodha sudah mulai bangkit, menata hidupnya kembali, meski tak dipungkiri hatinya kerap diliputi cemburu ketika melihat kegembiraan keluarga kecil yg lengkap dg anak2 mereka.

**

Suatu malam.. seperti kebanyakan suami istri lainnya, mereka melakukan obrolan bantal

“Mas..bagaimana klo aku carikan istri untukmu?” tanya Jodha yg sontak membuat Jalal menutup mulut Jodha dg tangannya sambil menajamkan tatapannya.

To Be Continued

FanFiction The Gift of Love Part yang lain Klik Disini

The Gift of Love Part 24

3 comments:

  1. Wah jangan sampe ada pilihan mba,, enggak suka hikz..hikz..
    Mending adopsi anak ajah.

    ReplyDelete
  2. Baru bahagia haruskah sedih lagi?
    Jadi mewek lagi kan....

    ReplyDelete
  3. hmm lumayan panjang ya :D
    visit blog saya ya http://www.emosianisme.ga

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.