Ana Uhibbuki Fillah Part 11 - ChusNiAnTi

Ana Uhibbuki Fillah Part 11



By Seni Hayati

“Ketika kebencian di balas dengan kebencian, maka kualitas dirikita tidak lebih baik dari yang membenci..tebarlah kebajikan meski itu tak berbalas..karena itu akan melembutkan hatimu” (Seni Hayati, 2 Mei 2015 dibawah rintik hujan yg mengguyur kota Bandung)

Sa’at adzan dzuhur berkumandang Jalal yang merasa kehilangan separuh jiwanya, keluar dari ruang meeting meninggalkan orang-orang yang membosankan yang masih bergelut dengan urusan dunia. Entahlah, langkah kakinya seolah menarik-narik ingin shalat di Masjid Kampusnya Jodha, mendengarkan lantunah tilawah Jodha yang sealu dapat membuat hatinya tentram... ya.. disadari atau tidak.. kehadiran Jodha telah sanggup memuaskan hasrat spiritul Jalal yang telah lama kering, meski motivasi awalnya cuma karena kepentingan dunia, tapi sisi gharizah tadayun Jalal yang telah tersentuh membuatnya selalu ketagihan untuk senantiasa berkhalwat dengan sang Robb-nya.. kini terjadilah pergolakan pemikiran dalam jiwa Jalal.. antara ego yang ingin  diterima eksistensinya di lingkungan teman-teman errornnya dan suara hati yang terus mengetuk-ngetuk jiwanya.

**

Kini Jalal melajukan mobil menuju Masjid Kampus Jodha, keinginannya untuk bertemu Jodha sudah tak terbendung lagi.. bahkan egonya sendiri tak mampu lagi menasehati. ‘Oh... Jodha mengapa kamu membuat ku gila’ gumam Jalal dalam hatinya, sebelah tangannya menjambaki rambutnya sendiri, sedang tangan yang lain tetap memegang kemudi.

Jarak kantor dan kampus Jodha yang tidak terlalu jauh, membuat Jalal sampai dengan cepat, diapun memarkirkan mobil.. disaat yang sama Jodha keluar dari kelas..

#Lesss hati Jalal seakan hilang sesaat kala matanya menatap sosok Jodha, meski melihatnya dari kejauhan tapi sukses membuat hatinya berdebar-debar.. sebuah senyuman terukir di bibir Jalal, Jodha berjalan sendiri menuju masjid.. ya hanya sendiri tanpa teman-temannya (tumben)

‘Ini kesempatanku’ fikir Jalal, ia pun segera turun dari mobil, dan berjalan mengejar Jodha.

“Assalamu’alaikum” Sapa Jalal ketika sudah berhasil mensejajari jalannya Jodha.

“Wa’alaikumusalm” jawab Jodha sedikit kaget dengan kemunculan Jalal yang tiba-tiba. “Loh.. ko aa disini, bukannya ada meeting di kantor?” tanya Jodha.

“Kan kamu sendiri yang bilang.. klo Alloh memanggil tinggalkan semua aktivitas, karena kitapun akan merasa kesal klo panggilan kita tidak di dengar”

“Oke... sip.. ada yang nempel juga toh”

“Ya..iya lah.. gini-gini suamimu itu kan genius”

Mendengar kata suami nyel Jodha merasa sangat sebal, terlebih ketika ia ingat pembicaraan Jalal di telephon pagi tadi.

“Oya..a.. makasih sapu tangannya... ini aku kembalikan.. aku udah ga perlu lagi ko” ucap Jodha sambil menyerahkan sapu tangan Jalal.

“Bener sudah ga perlu??  Nanti klo mewek lagi gimana?” ledek Jalal

“Tenang saja aku wonder women a.. ga akan mudah menjatuhkanku (sindir Jodha) klo aku mewek kan masih ada teman-teman yang masih mau meminjamkan saputangannya padaku.. Ilyas masih ada”

Mendengar nama Ilyas rey muka Jalal memerah, nama laki-laki itu selalu suksem membakar hatinya.

Jodha menagkap ekspresi cemburu di wajah Jalal, ‘Dasar orang aneh, kenapa mesti marah? Bukannya aku tidak berarti sama sekali buatmu.. dianya bebas nelepon sayang-sayangan sama perempuan.. dasar laki-laki egois’ gumam Jodha dalam hatinya.

“Jo.. bisa kan ga usah nyebut nama itu lagi!”

“Maksud aa.. nama Ily..” belum selesai Jodha menyebutkan nama Ilyas, lengan kekar Jalal sudah melingkar di lehernya sambil membekap mulut Jodha.

“emm.. hehasin” (suara Jodha tercekal karena terhalang tangan Jalal)

“Sudah ku bilang.. jangan kamu sebut nama itu lagi” ucap jalal sambil melepaskan bekapannya, namun tangannya kini beralih bertengger di pundak Jodha..

Jodha yang merasa risih.. menggerakan bahunya kebelakang agar tangan Jalal lepas. Namun usahanya sia-sia karena Jalal kini mempererat pegangannya.

“A.. lepasin.. ini kan tempat umum..”

“Emang kenapa klo tempat umum.. kamu kan istriku, masa di pegang pundaknya aja malu. Mereka aja yang pacaran..ga malu diginiin sama pacarnya”

Akhirnya Jodha pun hanya bisa pasrah. Jodha kembali teringat dengan saputangan yang masih di genggamnya, “Ini sapu tangannya”

“Klo kamu mau menyimpannya.. aku sebagai suamimu merasa terhormat Jo.. dan ini perintah.. siapa tau kamu butuh bulat ngelap ingus.. hehehe”

Lagi-lagi Jodha tidak bisa lepas dari kekonyolan laki-laki brengsek ini. Dia pun kembali memasukan sapu tangan Jalal ke dalam saku dressnya yang berbentuk hurup A namun tidak menampakan lekuk tubuhnya, ditambah kerudung lebar yang menutup sempurna auratnya.
Kini mereka telah sampai di depan Masjid. Jalal melepaskan pelukan di pundak Jodha, mereka duduk di teras masjid sambil melepas sepatunya.

“Kamu ga mau bantu lepasin, Jo?”

“Aa.. kan punya tangan” jawab Jodha

“Seorang istri salehah, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dapet pahala surga di depan matanya,” kata Jalal sambil menyelonjorkan kakinya ke hadapan Jodha. Akhirnya Jodhapun kalah, dan melepas sepatu laki-laki manja ini.

Jalal tak kuat menahan senym, melihat Jodha yang sedang manyun sambil melepas sepatunya. Sesekali orang-orang yang melintas mematap mereka dengan tatapan aneh, tentunya sambil tersenyum melihat pasangan yang memang nampak sangat serasi sekali.

Jalal dan Jodha kini mengambil wudu, ketika bertemu kembali di pintu masuk, Jalal memanggil Jodha, “Sayang”

“Apa lagi, hemm??” jawab Jodha kesal

“Pinjem sapu tanggannya buat ngelap sisa widhu di wajahku”

“Aa.. sisa air wudu itu jangan di lap, kamu tau ga.. kelak tetesan-tetesan air ini akan jadi saksi kita di akhirat”

“Oh.. ho.. oya.. sungguh Jodha??”

“E..eh”

“Jo.. ada di sisimu membuatku banyak tau hal baru.. itulah yang membuatku jauh-jauh dari kantor mau sholat di sini”

“Bilang aja kamu kangen.. pake ngeles segala”

“Klo itu sudah pasti.. siapa sih yang ga akan kangen klo punya istri sepertimu”

Nyel lagi-lagi, Jodha merasa mual dengan gombalan Jalal yang dianggapnya cuma di mulut doang meski sebenarnya Jalal mengatakan itu tulus dari hatinya..

“Sudah pernah ku bilang.. simpan gombalanmu buat cewe seksimu itu”

“Cewe seksi yang mana, hemm?”

“Fikir saja sendiri.. dasar PEMBOHONG” ucap Jodha sambil berlalu meninggalkan Jalal menuju tempat shalat akhwat..

“Eh.. Jo tunggu... jelasin ke aku apa maksudnya” ucap Jalal sambil mengejar Jodha

“Eit... lihat ini tempat shalat akhwat.. aa ga bisa baca apa? atau aa shalatnya mau pake mukena, hemm????”

Jalal hanya tersenyum setelah menyadari kekonyolannya, “Hehehe.. afwan.. tapi nanti jangan kabur ya.. tunggu aa di luar” ucap Jalal memberi intrupsi sebelum dia pergi ke tempat shalat Ikhwan.

Jodha masih asyik dengan dzikirnya.. sedang Jalal sudah menunggunya di luar dengan tak sabar, sesekali kepalanya menoleh kearah tempat shalat akhwat.. namun bidadari hatinya tak kunjung muncul, akirnya Jalal pun mengirim sms

“Aa menunggumu di luar.. sayang”

Jodha membuka HP nya yang bergetar, membaca tulisan di layar itu membuatnya sakit, “Ya Alloh.. apa maksud semua ini.. bantu aku melupakannya ya Alloh.. tipuan-tipuan laki-laki itu selalu berhasil menggoda hatiku.. membuat hatiku berbunga-bunga.. namun akhirnya dia menghempaskanku, hingga hatiku hancur berkeping-keping.. kuatkan aku ya Robb, agar tidak terperangkap dalam mulut manisnya” Jodha melantunkan do’anya. Mengakhiri doa’nya dengan sujud syukur.. sujud adalah posisi favorit Jodha.. posisi dimana manusia menyadari kelemahannya, menyadari dirinya seorang hamba yang sangat kecil dihadapan sang Khaliq raja dari segala raja satu-satunya zat yang layak disembah.

Jodha meraih HP, dia mengirim sms balasan, “Kalau aa mencintaiku.. siapkan diri untuk jadi yang kedua”

Membaca balasan sms Jodha, membuat Jalal kaget.

Tak lama Jodha keluar, dengan tak sabar Jalal menarik tangan Jodha untuk duduk disampingnya.. teras masjid yang sangat nyaman, tempat favorit kedua pasangan muda ini.

“Aa.. kenapa sih pake tarik-tarik aku segala?” tanya Jodha kesal

“Ini.. maksudnya apa hemm.. aku harus mau jadi yang kedua?? Aa ga terima.. aa kan suamimu.. ga boleh ada yang lain”

“Emangnya aa aja yang bisa menjadikan aku yang kedua.. aku juga bisa” bantah Jodha.

“Kamu tetap dan akan selalu jadi yang pertama di hatiku Jo” jawab Jalal sambil menarik tangan Jodha dan menempelkannya di dadanya.

“Aa..itu lebay.. namun sayang.. aku sudah hilang kepercayaan padamu” jawab Jodha pedas.

“Oh.. jadi itu sebabnya kamu juga jadiin aa yang kedua? Katakan siapa yang pertama dihatimu, hemmmm??” tanya Jalal.

“Dengar ya a.. yang pertama ada di hatiku adalah...” Jodha menggantungkan kata-katanya, membuat Jalal semakin tegang.. entah mengapa hati Jalal merasa takut kalau yg pertama ada di hati Jodha itu Ilyas.. namun dia merasa lega setelah Jodha melanjutkan kalimatnya

“Yang pertama ada di hatiku.. dan akan selalu jadi yang pertama adalah Alloh SWT”

Mendengar jawaban Jodha, Jalal merasa tenang tatapannya semakin melembut, Jalal semakin kagum pada sosok Jodha,  kini Jalal tak peduli lagi dengan anggapan teman-teman errornya jika mengetahui dia bertekuk lutut di hadapan seorang wanita berhijab. Jodha lagi-lagi membuktikan klo dia sangat pantas dipilih, dia sangat pantas untuk dicintai.

“Subhanalloh Jo.. kamu membuat aa semakin jatuh cinta badamu” ucap Jalal, namun tedengar hambar di telinga Jodha dan terasa menusuk di hatinya..

“A.. aku semakin ragu dengan kata-kata cintamu padaku.. bagimu itu hal biasa mengatakan cinta pada wanita manapun.. namun aku menganggap cinta itu suatu yang sakral.. bukan suatu yang layak dipermainkan”

“Jo.. aku sungguh mengatakannnya.. aku sungguh-sungguh mencintaimu”

Jodha hanya tersenyum masam, ingin rasanya ia membeberkan apa yang didengarnya tadi pagi di telephon, klo sebenarnya dia sudah muak dengan permainan Jalal, namun suara hatinya berbisik, ‘Belum saatnya Jodha.. tugasmu masih belum selesai.. sabarlah.. tunggu tanggal mainnya’

***********************


Ana Uhibbuki Fillah Part 11

8 comments:

  1. Aduuiih dah selesai ajah kurang nicb... lanjuuut tq

    ReplyDelete
  2. yee... dah posting pagi lagi nech, thanks y so g gegana lagi nunggu....
    Q suka tuch gaya Joda yang ngikutin permainan Jalal n disaat nanti Jalal dah bener2 suka ma Jodha disaat itulah Jodha akan ninggalin Jalal, "sesuai dengan kesepakatan"....xixixi

    ReplyDelete
  3. Aduch...biNguNg saMa pasaNgaN 1 Nee....

    ReplyDelete
  4. Serasa pendek ceritanya nih. Panjangin dooooong :D

    ReplyDelete
  5. Baik katakan aja daripada menusuk dihati!!!

    Lanjutin mbak ceritanya......

    ReplyDelete
  6. hiks hiks hiks.....makin kesini makin ngga bisa nahan sakitnya, bener2 ikut ngerasakan sakit yang Jodha rasakan....hiks hiks hiks....lanjoutkeuuunnn mba seni.... nanda chus.....hiks hiks hiks...

    ReplyDelete
  7. Aaawwww. . . Gmn y prasaan jodha??

    ReplyDelete
  8. tambah seru nih baca ffnya...apalagi bayangin ekspresi aa Jalal yang lebay...he he he

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.