Ana Uhibbuki Fillah Part 15 - ChusNiAnTi

Ana Uhibbuki Fillah Part 15



By Seni Hayati

“Hendaklah ada segolongan umat yang menyeru pada kebajikan dan mencegah pada kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104)
Orang-oarang beruntung yang menjadikan Alloh SWT sebagai standar perbuatannya.

Jalal masih duduk terpaku di tepi ranjang, matanya nanar, cintanya telah hilang, harapannya musnah, ada rasa yang teramat sakit ia rasakan, beberapa kali tangannya menyapu wajah, menghapus butiran air mata yang memaksanya keluar, rasa sesak yang menghimpit jiwa, hatinya bergumam
'Ini pantas kamu dapatkan Jalal, kau telah menyia-nyiakannya.. kini kau merasakan sakit ketika dia meninggalkanmu.. nikmatilah rasa sakitmu' Jalal mengutuk dirinya sendiri.
Jalal melihat sebuah kertas diatas meja kerjanya, dia segera bergegas dan mebukanya, ternyata sebuah surat dari Jodha..
Bismillah..
A.. afwan aku tidak sempat mengucapkan selamat padamu, pasti hari ini kamu sangat bahagia, iya kan? impianmu menjadi seorang presdir akhirnya tercapai juga. Sekarang aku bebas tugas, sesuai perjanjian kita, aku harus pergi setelah tujuanmu tercapai.. sebenarnya aku ingin sekali pamitan denganmu, tapi kalau aku menemuimu dulu aku takut tidak bisa melawan kehendak hatiku disini, berpisah dengan ammijan..dengan mu..adalah hal terberat yang harus aku jalani, ammijan dia sudah seperti ibu bagiku..dan dirimu..pasti aku akan merindukan segala keisenganmu.
Tapi apa mau di kata, setiap games harus berakhir.. aku memilih mundur dengan teratur sebelum kau mendepakku duluan. Afwan, tanpa sengaja aku mendengarkan percakapanmu di telephon  dengan teman wanitamu waktu itu, aku mendengarnya dengan jelas, kau akan mencampakanku secepatnya setelah menjadi presdir, dan itu yang menyebabkan aku menangis waktu itu.. Sekarang dirimu bebas a.. kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan nyonya Jalalmu itu.
Jujur aku sempat mengharapkanmu bisa mencintaiku karena Alloh.. mengatakan “Ana Uhibbuki Fillah, Jodha”..itu semua ternyata hanya sebatas angan seorang Jodha.  Biarkan aku mengejar mimpiku, mencintai seseorang yang hidupnya bukan hanya untuk dirinya tapi hidup untuk Robb-nya.
Jazakallah Khairan Katsiran
(Semoga Alloh membalasnya dengan yang lebih baik)
Wassalam
Jodha
Hati Jalal teras ngilu.. file-file di otaknya satu persatu menampakan memori bersama Jodha,.. awal pertemuanya, pernikahannya, insiden obat kuat, kenangannya di masjid kampus,  saat kepala Jodha terluka, saat Jodha menangis disepanjang jalan karenanya, saat tidur bertiga bersama ammijan.. semuanya tergambar begitu jelas, kini air mata Jalal tak terbendung lagi, mungkin saat ini dia telah menjadi laki-laki tercengeng yang ada di muka bumi.
“Agghhhh..!” Jalal berteriak seolah ingin menghilangkan sesak yang menghimpit jiwanya.
Ammijan yang mendengar teriakan itu segera menghampiri Jalal, “Nak... ada apa sayang?”
Jalal tak menjawab, dia menyerahkan surat dari Jodha pada ammijan, sebenarnya ammijan tidak tega juga melihat kondisi anaknya yang kacau.. tapi demi kebaiakan Jalal dia harus bertahan pada rencananya semula.

Flashback
Saat di perjalalnan menuju kampus bersama Jodha, Hameeda yang merasa janggal dengan hubungan mereka tak kuasa menahan rasa penasaran akhirnya bertanya pada Jodha. Awalnya Jodha ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, namun akhirnya dia jujur juga, “Siapa tau ammijan bisa memberikan solusi,” fikirnya.
Ammijan sempat kaget mengetahui kalau pernikahan Jodha dan Jalal tidak seperti pernikahan pada umumnya, sebagai seorang ibu tentu Hameeda kecewa, namun nalurinya sebagai wanita yg melahirkan Jalal dia dapat mendeteksi kalau di hati terdalam Jalal ada cinta yang besar untuk Jodha, diapun merencanakan sebuah strategi agar Jalal benar-benar yakin dengan perasaannya, akhirnya solusi sementara ammijan menyiapkan perjalanan beasiswa untuk Jodha.
Flashback end
* * *
Hameeda merngkuh Jalal kedalam pangkuannya, seberapapun dewasanya usia seorang  anak tetap saja akan selalu merasa menjadi anak manja ketika bersama dengan ibunya tak terkecuali Jalal.
Hameeda angkat bicra, “Ammi sudah tau semuanya Jalal, sebelum pergi Jodha mengatakan nya pada ammi.. bukankah ini yang kamu harapkan? Kamu mendapatkan kursi presdir, dan kamu tidak perlu susah payah melepaskan diri dari Jodha”
Mendengar ucapan Hameeda, Jalal semakin meringkukkan badannya seberi bayi yang ada dirahim, kepalanya tetap di pangkuan ammijan, “Harusnya aku bahagia, tapi ternyata tidak mmi.. aku tidak merasakan kebahagiaan itu..hatiku merasa sakit mmi.. aku tidak ingin dia pergi mmi”. Mendengar pengakuan Jalal, ada senyum tersembunyi di wajah ammijan
“Jalal apa itu berarti kamu mencintai Jodha?”
“Iya mi.. kini aku yakin.. aku mencintainya.. sangat mencintainya”
“Kalau kamu benar-benar mencintai Jodha,,tentu kamu tau lelaki seperti apa yang Jodha harapkan untuk jadi pendamping hidupnya..tapi pesan ammi jangan pernah berubah karena Jodha, berubahlah karena Alloh, itu akan lebih menentramkan hatimu..serahkan semua pada-Nya, biarkan Alloh yang mengatur alur hidupmua..sekarang istirahat sayang, ammi siapkan makan malam dulu”
Sepeninggalan Hameeda Jalal masih meringkuk di atas tempat tidur, diraihnya boneka yang sering dipeluk Jodha..masih ada sisa wangi khas Jodha yang menempel disana, paling tidak itu cukup menetralkan sedikit rasa rindunya, Jalal memejamkan matanya menyesap wangi itu sambil memeluk boneka yang mewakili diri Jodha.
* * *
Menjelang maghrib Hameeda kembali masuk ke kamar Jalal melihat kondidi anaknya, ternyata Jalal masih dalam posisi yang sama ketika tadi ia meninggalkannya, tatapan matanya kosong menerawang jauh.. sepertinya Jalal memang telah kehilangan hidupnya.
“Sayang.. bersihkan dulu dirimu, Jodha tidak akan suka melihat dirimu seperti ini nak”
“Kalau Jodha tidak suka melihatku begini.. kenapa dia harus pergi meninggalkanku, mi?”
“Suatu saat nanti kamu pasti menemukan jawabannya nak.. sebentar lagi adzan maghrib.. cobalah curhat pada Robb mu, Dia selalu punya solusi dari tiap permaslahan makhluknya”
Jalal beranjak dari tempat tidur dengan langkah gontai menuju kamar mandi.
* * *
Disebuah ruangan tepatnya disebuah kamar terlihat seorang gadis sedang menatap layar HP nya sambil meliahat foto-foto kenangannya bersama seorang laki-laki yang semapat mewarnai hari-hari dalam hidupnya, dia lah Jodha yang kini sudah berada di negeri sakura tinggal di rumah salah seorang teman Hameeda, lokasi rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus tempatnya memperoleh beasiswa.
Tangannya menyentuh wajah yang nampak dalam layar HP tersebut, sebuah senyuman menghiasi wajah Jodha
“Sedang apa kamu di sana a, apakah kau merindukanku? aku sendiri tidak tau apakah sepeninggalanku dirimu bahagia atau sedih” ada rasa rindu yang diam-diam menyelusup masuk tanpa permisi ke hati Jodha.
“Ammi.. aku shalat maghrib di masjid dulu ya” Jalal pamitan pada Hameeda. Dia melangkahkan kakinya menuju bangunan yang selalu memberi ketenanagan pada siapapun yang mau mendekat padanya. Jalal mengenakan baju koko putih dengan celana bahan berwarna hitam yang membuat penampilannya kini berubah menjadi teduh jauh dari gaya slengean yang dulu selalu menjadi ciri khasnya, sebelumnya Jalal amat sangat jarang menghampiri masjid ini paling kalau hari raya idul fitri sama idul adha saja padahal jaraknya cuma selang beberapa meter dari rumahnya, sambil menunggu adzan maghrib berkumandang Jalal mengeluarkan Al-Qur'an kecil dari saku baju taqwanya, Al-Qur'an hadiah dari Jodha beberapa waktu lalau ketika dia berhasil mengkhatamkan iqro nya.
Memegang mushaf kecil itu membuat Jalal tersenyum sendiri, teringat kembali kenangannya bersama Jodha

Flashback
Saat itu seperti biasa setelah shalat dzuhur Jalal menunggu Jodha diteras masjid kampus untuk sekedar mendengar tilawah yang dilantunkan Jodha, setelah beberapa lama menunggu Jodhapun kelauar dari dalam tempat shalat akhwat
“A, sekarang giliranku yang mendengarkan kamu mengaji, kamukan udah lurus IQRO.. aku sudah menyiapakan hadiah untukmu” ucap Jodha sambil memberikan hadiah berupa Al Qur'an kecil.
“Aku yang ngaji.. serius sayang? gendang telingamu kuat mentolelir suaraku, hemm?”
Jodha mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum mendengar tutur kata suaminya yang memang selalu berhasil membuatnya harus menari ujung-ujung bibirnya membentuk senyuman.
“Kalau aa sering membacanya, lama-kelamaan juga akan lancar, masa kalah sama aku yang mu'alaf..tenanglah nanti kalau ada yang salah aku betulkan”
“Jo.. kamu memang selalu mempunyai alasan yang membuatku menurut pada kata-katamu, Jo” ucap Jalal sambil mengelus kepala istrinya yang dibalut kerudung, kalau saja ini bukan tempat umum pasti dia sudah meminta hadiah satu buah kecupan di pipi sebelum memulai tilawahnya.
Jalal mulai membaca denagn terbata-bata.. Jodha dengan telaten meluruskan bacaan-bacaannya..
“Aa.. yang ini harus di baca panjang, karena ada huruf alif mati setelah tanda baca fathah..namanya mad tobi'i..ingat ya a..cirinya ada tiga, biar mudah mengingatnya aku gunakan nada balonku ada lima untuk menghafalnya” ucap Jodha sambil menyanyikan lagu balonku ada lima namun liriknya digubah
“Alif mati setelah fathah
ya mati setelah kasroh
wau mati setelah dhomah
fathah berdiri, kasroh berdiri, dhomah terbalik
dibaca dua harakat”
“Nah itu, a.. jangan memanjangkan bacaan yang harusnya pendek dan memendekan bacaan yang harusnya panjang” lanjut Jodha
“Oke.. siap.. bu guruku yang cantik” jawab Jalal sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Jodha.
Lagi-lagi Jalal berhasil membuat Jodha tersenyum dengan kelakuan genitnya.
Flashback end
* * *
Di dalam masjid Jalal mulai melantunka tilawahnya, suaranya kini sangat enak didengar Jodha berhasil mendidiknya hingga Jalal kini menjadi ketagihan untuk selalu membaca..membaca..dan membacanya lagi.
Beberapa remaja putri yang akan shalat maghrib di masjid tersebut terpesona dengan tilawah Al Qur'an Jalal, ditambah lagi oarang yang membacanya amat sangat tampan, siapapun pasi akan senang berlama-alam mendengarkannya.
* * *
Melihat anaknya telah kembali dari masjid, Hameeda segera mengajak Jalal kemeja makan, “Kita makan malam sekarang sayang, ammi sudah menyiapkan makanan kesukaanmu..sop iga da martabak telor..”
“Aku tidak lapar mi” jawab Jalal
“Kamu harus makan nak.. dari siang kamu belum makan apapun..nanti presdirnya ammi sakit, gimana dong?”
Karena merasa tidak enak pada amminya yang sudah susah payah memasak, akhirnya Jalalpun makan meski hanya beberapa sendok.
“Ammi.. aku ke atas dulu.. ada yang harus aku persiapkan buat besok meeting pertamaku dengan investor dari Jepang”
“Baiklah sayang.. jangan tidur terlalu larut ya”
“Iya mi” jawab Jalal sambil berlalu dari hadapan ammijan menaiki tangga menuju kamarnya, begitu membuka pintu kamar kenangannya bersama Jodha muncul kembali

Flash back
Sehabis shalat magrib, setelah bercengkrama dengan Al Qur'an biasanya Jodha beralih ke buku-bukunya sambil tetap menegenakan mukena, Jalal suka iseng mengaitkan dagunya di pundak Jodha
“Lagi baca apa istriku sayang?”
“Aa.. jangan deket-deket ah nanti batal”
“Kalau batal..ya tinggal wudhu lagi aja, gampangkan??” jawab Jalal, sambil melanjutkan aksi isengnya dengan menyentuh telinga Jodha dari balik mukena dengan bibirnya, sebagian kumisnya menyentuh pipi Jodha, sukses membuat Jodha merinding
“Ampun.. a.. ih.. geli.. kumismu itu loh”
“Bilang saja..kamu ketagihan dengan sentuhan kumisku hemm?”
“Ih.. ih.. jijai deh.. aku malah bregidig dibuatnya.. mana mungkin ketagihan”
“Teman wanitaku aja samapai maksa-maksa.. pengin nyobain rasa kumisku yang seksi ini”
“Jadi aa sering mencium teman wanitamu?!” tanya Jodha sambil melotot
“Hahaha.. cemburu ya? tidak dong sayang aku akan selalu menjaganya hanya untuk istriku.. ya meski istriku belum mau mengakuai kalau dia mulai ketagihan dengan sentuhan-sentuhanku”
Flashback end
* * *
Kamar itu sampai kapanpun selalu di penuhi oleh bayangan Jodha atau sekedar halusinasi Jalal sendiri, yang pasti Jalal tidak akan pernah menikah lagi, dia akan selalu menjaga cintanya untuk Jodha, cinta yang terlambat ia sadari, namun masih selalu berharap kesempatan akan kembali lagi padanya, kesempatan untuk membuktikan pada Jodha kalau dia sungguh sangat mencintainya.
Sudah berbagai cara Jalal lakukan untuk menemukan Jodha, tapi Jodha seolah hilang ditelan bumi, satu yang tidak pernah terlewatkan, dia selalu shalat dzuhur di masjid kampus Jodha, seperti siang ini setelah shalat dzuhur Jalal seperti biasa duduk di teras masjid dan dia bertemu Ilyas  yang juga shalat disana, mereka saling menyapa dan berjabat tangan, sebebarnya ini pertemuanya yang ke empat bersama Ilyas
“Mas Ilyas.. boleh saya ganggu waktunya sebentar?” tanya Jalal sopan
“Iya tentu saja, ada yang bisa saya bantu?” merekapun terlibat pembicaraan yang hangat, Jalal minta bantuan pada Ilyas perihal dirinya yang ingin belajar lebih banyak lagi tentang Islam
“Aku ingin berubah seperti orang-orang di komunitasmu mas.. yang selalu menjaga pandangannya, menjaga pergaulannya.. aku melihat orang-orang seperti mereka itu begitu tenang tidak labil seperti diriku” ucap Jalal
“Sebenarnya akupun masih butuh banyak belajar, bagaimana klo aku kenalkan dengan murobiku.. namanya mas Yasin”
“Oke siap”
“Kapan aku bisa bertemu dengannya?”
“Saya hubungi beliau dulu.. nanti biar kalian bisa buat janji di waktu  luang yang sama”
Merekapun tukeran no HP. Sejak saat itu Jalal dan Ilyas menjadi sepasang sahabat yang selalu saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, sa'at rindu pada Jodha tak jarang Jalal menemui Ilyas sekedar curhat padanya.
* * *
Hari-hari Jalal selain disibukan dengan urusan kantor dia disibukan juga dengan mencari ilmu agama, menggembeleng dirinya menjadi sosok ikhwan yang sejati, pergaulannya kini sudah terjaga begitu pula dengan pandangannya yang senantiasa terjaga tidak menatap wanita.
Pandangan yang hanya akan diberikan pada Jodhanya kelak, entah mengapa hati Jalal selalu dipenuhi rasa optimis bahwa mereka kelak akan bertemu kembali. Tentu bertemu dengan sosok yang berbeda, sosok yang akan membuat Jodha kaget dengan kepribadian barunya, bukan Jalal yang slengean lagi tapi Jalal si ulat yang telah berubah menjadi kupu-kupu, dengan kesantunan, kerendahan hati, keluhuran akhlaq yang terpancar dari kekokohan Iman yang kini telah menghujan kuat didalam hatinya.
~~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~~


Ana Uhibbuki Fillah Part 15

9 comments:

  1. Lanjuuuut... syukur alhamdulillah klo jalal udah bener bener sadar

    ReplyDelete
  2. Nah....setelah di tiNggal baruu kerasa kaN...

    ReplyDelete
  3. Mbak...jgn lama2 donk jedahnya...kangen nunggu cerita lanjutannya. Mksh tux cerita yg bagus ini

    ReplyDelete
  4. Senangnya Aa akhirnya benar2 sadar... Keep istiqomah ya a.....

    ReplyDelete
  5. wwwaahhh mau dong kenal lebih dekat dengan Aa Jalal yang sekarang..pasti rasanya adem pisan...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.