Ana Uhibbuki Fillah Part 17 - ChusNiAnTi

Ana Uhibbuki Fillah Part 17


By Seni Hayati

“Ketika Alloh SWT saja maha pema'af..maka pantaskan manusia sebagai makhluk yang kecil tidak bisa memberi ma'af, mema'afkan adalah sikap yang menunjukan kita sebagai pemenang, pemenang atas hawa nafsu diri kita sendiri, dan itu lebih memberi ketentraman hati” (Seni Hayati, Bandung Mei 2015)

Jalal masih terus menatap Jodha, menyusuri tiap inci wajah istrinya entah perasaannya saja atau memang benar karena dia merasa wanita ini nambak semakin cantik, mungkin efek dari akumulasi rindu yang membuncah dihatinya. Oh..andai saja dia masih sosok begajulan pasti dia sudah mendaratkan bibir  lengkap dengan kumis seksi di pipi gadis pujaannya itu.
Jalal bergumam sendiri dalam hatinya, 'Oh..ternyata dia masih gadis cuek yang angkuh..ga nyadar apa klo ada yang memperhatikan.'
Ga tahan lama-lama melihat Jodha yang hanyut dalam dunianya, akhirnya Jalal melakukan aksi, dia berdehem (emang ada ya kosakata berdehem...anggap saja ada dari pada sy mogok nulis..abaikan)
“Ehem..Assalamu'aluim..sepertinya  bukumu bagus sekali..bolehkah saya pinjam?” Mendengar perkataan Jalal, Jodha yang sedari tadi memnganggap tidak ada  akhirnya menjawab salam sambil mengankat wajah dan melihat kearah sumber suara
“Wa'alaikum..(Jodha kaget jantungnya serasa berhenti berdetak melihat sosok laki-laki tampan yang ada di sampingnya, dia pun melanjutkan jawaban salamsanya dengan lirih)..sa..lam”
“Hai..kenapa bengong? seperti melihat hantu saja..tapi sepertinya tidak ada hantu setampan diriku..hehehe”
“Ka..mu...kamu..” belum juga menyelesaikan kalimatnya Jalal sudah memotong duluan
“Kamu masih ingat dengan laki-laki berengsek ini hemm?” kesadaran Jodha mulai pulih lagi, dia segera bisa menguasai diri
“Tentu saja masih..sedang apa di sini, apa sedang bulan madu bersama istri barumu?” tanya Jodha sambil merengut.
“Bagaimana mau bulan madu, istrinya aja kabur..oya istri satu saja kewalahan nanganinnya..gimana mau nambah istri”
Jodha clingukan melihat kearah sekitar Jalal, namun dia tidak melihat siapapun
“Nyari siapa?..sudah kubilang aku di sini sendiri..malah lagi nyari istri yang pergi tanpa pamit” ujar Jalal dengan sedikit menyindir
“Siapa yang pergi tanpa pamit..aku kan sudah nyimpen surat di kamar” Jodha yang merasa tersindir berkilah memberikan alibi
“Ya..asal kamu tau..gara-gara surat kamu, aku nangis semaleman”
Jodho melongo sambil menutup mulutnya, “Hah...masa anak begajulan kaya kamu nangis gara-gara ditinggal istri bawelnya”
Jalal cemberut... “Ga ada yang lucu..jangan ketawa..aku sekarang bukan anak begajulan lagi tau!”
“O..ya..mana buktinya??” ledek Jodha, raut muka Jalal berubah serius ditatapnya wajah Jodha, seolah ingin membuktikan klo dirinya kini telah berubah
“Aku tidak bisa meniali diriku sendiri, hanya oranglah yang bisa menialinya..lagian aku tidak peduli lagi penilaian manusia tentangku..aku hanya peduli pada penilaian Alloh SWT” ucap Jalal serius, membuat Jodha tergerak hatinya untuk mencari kebenaran akan kata-kata suaminya itu, di tatapnya mata elang Jalal yang kini memancarkan keteduhan.
“Hai..kamu bergaul sama siapa, sampai bisa berkata-kata seperti itu?”
“Dengan ustad Yasin..murobinya Ilyas..aku ikut halaqah dengan beliau..aku stres ditinggal kamu Jo..bahkan hampir gila..untung aku bertemu Ilyas dan mengenalkanku pada ustad Yasin..dia banyak memberiku wejangan..klo aku ingin selamat dalam hidup aku harus mampu menjawab tiga pertanyaan besar tentang kehidupan, 'Dari mana kamu berasal?untuk apa kamu hidup?dan akan kemana kamu kembali setelah meninggal? Dari sana aku muali mentafakuri arti kehidupan, mencoba menselaraskan antara kehidupanku dengan SOP yang telah Alloh Berikan (Al Qur'an)'“ mendengar penjelasan Jalal, Jodha seolah tek percaya
“Sungguh? Aa ngaji bersama Ustad Yasin suaminya mba Nirwa?” (mba Nirwa itu mentornya Jodha..dia yang banyak memberi pemahaman Islam pada Jodha). Jodha memperhatikan Jalal dari atas kebawah, dia baru sadar klo sedari tadi Jalal sangat menjaga tangannya, tangan Jalal belum menyentuhnya sekalipun, padahal biasanya dia orang yang sangat ramah (RAjin menjaMAH)..ada rasa senang menyelusup di hati Jodha, rasa hangat yang mampu membuka benteng hatinya.
Jodha kembali bertanya, “Aa sudah menemukan jawaban atas tiga pertanyaan besar itu?” Jodha namak serius, alisnya bersatu seperti ingin mengetes sosok ikhwan yang ada didepannya. Melihat Jodha yang begitu antusian, Jalal tak tahan menahan senyumnya, meski ia berusaha mengatupkan bibirnya untuk tidak tersenyum, sebelah lengannya memegang sandaran kursi kayu, badannya miring kerah Jodha.
“Kau, sungguh ingin aku menjawabnya?” Jalal mencoba meyakinkan
“Ya..tentu”
Jalal menarik napas panjang, seolah sedang berada diruang sidang bersama dosen penguji skripsinya. “Baiklah..aku jawab untuk memuaskanmu sayang..pertanyaan pertama 'Dari mana kita berasal?' jawabannya kita berasal dari Alloh SWT, menyandang predikat sebagai manusia, suatu peran yang ditolak oleh gunung ditolak oleh lautan, peran sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi, minimal pemimpin atas diri kita sendiri, dimana kita telah terikat perjanjian bahwa hanya Alloh yang akan kita sembah, hanya Alloh yang akan jadi pengatur kita (Jalal diam sejenak..menyapukan tangannya di bibir..ekspresi mukanya nampak sedih)..dan ternyata selama ini aku lupa Jo..lupa akan janjiku dengan sang pencipta kehidupan (Alloh SWT)..hingga kau datang dalam kehidupanku, menyentil sisi religiku yg selama ini tertidur pulas, hingga aku mampu mengingat janjiku kembali pada Robb-Ku, tentunya setelah aku berinteraksi dengan Al Qur'an”
Jodha tersenyum, ada rasa bahagia yang terpancar dari wajahnya, sebelum akhirnya dia kembali bertanya, “Untuk pertanyaan ke dua, apa Aa sudah menemukan jawabannya?”
Jalal kembali menatap Jodha, seolah ingin menyelam kedalam hati Jodha mengetahui apa yang sebenarnya ada di hati gadis itu, lalu dia menunduk dan mulai membuka mulutnya kembali, “Pertanyaan kedua 'Untuk apa aku hidup?'..kehidupan dunia itu ibarat satu titik kecil dalam sebuah garis yang tanpa batas yang bernama akhirat, itu sebagi perbandingan betapa singkat dan fananya kehidupan dunia dan betapa kekalnya kehidupan akhirat, ya..manusia adalah seorang agen yang diutus Alloh untuk menyelsaikan sebuah misi di muka bumi, Alloh lah sebagai tuannya, Al Qur'an sebagai petunjuk teknis, sebagai SOP pengontrol apakah hidup kita tetap berjalan sesuai misi yang Alloh perintahkan atau justru telah keluar jalur dan saat kita menyadarinya semuanya sudah terlamabat karena permainan telah selesai (games over) yaitu saat malaikat maut datang menjemput..dan lagi-lagi aku harus berterimakasih padamu Jo, kau sudah membunyikan alarm jiwaku sebelum games over”
Tatapan Jodha tidak teralih sedikitpun dari sosok laki-laki yang ada di sampingnya, “Aku senang bisa menjadi alarm mu..namun aku belum puas klo kau belum menjawab pertanyaan yang ketiga”
Jalal tersenyum sangat manis dengan tatapan lembut kemudian kembali bicara, “Untuk pertanyaan ketiga'Akan kemana kita kemabali setelah kehidupan dunia (kematian)?'..Alloh SWT adalah tempat kembali, sebuah kehidupan sebenarnya akan dimulai, kehidupan abadi yang tanpa batas bernama kampung akhirat ..sebuah tempat diman kita semua akan mudik, dan aku ingin saat mudik aku membawa perbekalan yang cukup Jo..mau kah kamu menemani diriku menyiapkan perbekalan untuk mudik kita yang abadi?” Jalal mengakiri jawabannya dengan sebuah pertanyaan, tentu saja pertanyaan yang tak terduga itu membuat Jodha kelabakan..itu terlihat dari matanya yang menunduk seperti sedang mencari sesuatu..
“Hai..nona jawabannya tidak ada dibawah..jangan bilang kamu sedang mencarinya disana ya hemm?” Jalal mencoba mencairkan suasana dengan celotehannya..namun ketika Jodha tidak kunjung menjawab matanya mencoba mencari tatapan Jodha..setelah menemukannya
“Jodha..ANA UHIBBUKI FILLAH..aku mencintaimu karena Alloh..maukah kamu menemaniku menyelesaikan sebuah misi, dan selalu menjadi alarm ku ketika aku keluar jaluar?”
Jodha kini menatap ci aa yang tak sabar menunggu jawaban atas pernyataan cintanya, “Apa kamu tidak akan kembali pada teman-teman error mu?”
“Ya..aku tidak akan kembali lagi pada mereka”
“Terus..wanita yang aa telepon waktu itu..yang bilang kau akan mencampakanku setelah jadi presdir gimana?” pertanyaan Jodha membuat Jalal kembali mengingat kesalahannya..kesalahan yang telah membuat Jodha menangis dan meninggalkannya, tenggorokannya kini terasa seperti tersedak baso ada sesuatu yang mengganjal disana
“Itu kebodohanku Jo..dan aku akan selalu mengingat kejadian itu..kejadian yang membuatku frustasi karena aku harus menanggung derita karena kehilanganmu” ada kejujuran di mata Jalal dan Jodha tau itu, karena Hameeda telah menceritakan segalanya dia selalu mengabari Jodha tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada diri Jalal.
Jodha tersenyum..tatapannya penuh cinta..peralahan bibir yang terkatup itu bergerak mengeluarkan suara lirih, “ANA UHIBBUKA FILLAH..”
Mendengar jawaban Jodha, jantung Jalal serasa keluar dari tempatnya..wajahnya berseri “Bisa kamu ulangi lagi sayang..aku ingin meyakinkan klo telingaku tidak tuli” permintaan Jalal membuat Jodha tersipu
“Aku mencintaimu karena Alloh a..aku ingin menemanimu menjadi agen misinya Alloh, karena aku yakin sekarang hidupmu bukan hanya untuk dirimu tapi hidupmu untuk Rabb-Mu”
Keduanya kini menangis dalam bahagia..Jalal segera merengkuh Jodha, membawanya dalam pelukan hangat yang penuh cinta..kelopak-kelopak sakura yang tertiup angin musim semi berjatuhan menghujani mereka, menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang kini bersatu
“Syukron sayang.. atas kesempatan keduanya” bisik Jalal, kini bibirnya mengecup pucuk kepala Jodha yang terbalut hijab.
**********************


Ana Uhibbuki Fillah Part 17

7 comments:

  1. Subhanallah,,,, terharu buangts. Makasih Mbaaa

    ReplyDelete
  2. subhanallah....
    ANA UHIBBUKA FILLAH..
    my hus..

    ReplyDelete
  3. Subhanallah.....cinta karna ALLAH itu lbh indah. Terimksh...

    ReplyDelete
  4. SubhAnallah.... sedih campur senang deh.....

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah. . , posting jg,
    Bnykin donk ff islaminya, , , stidknya kn bs nmbah ilmu. , ,
    Lnjjuutt. . ,

    ReplyDelete
  6. Hiks hiks hiks.....kali ini nangisnya krn terhuraaa..... lanjouuuttt mba seni...nana chus...

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah......
    Sangat tersentuh Bunda Seni
    Terima kasih atas pelajaran2 yang ada di FF ini

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.