Ana Uhibbuki Fillah Part 18 - ChusNiAnTi

Ana Uhibbuki Fillah Part 18


By Seni Hayati

“Luangkanlah dalam sehari minimal 20 detik untuk memeluk orang-orang terdekat anda, karena pada detik ke 10 ada transfer chemistry yang mengalir diantara keduanya, dan subhanalloh itu akan menjadi sumber energi anda dalam menjalani hidup sepanjang hari” (Ridwan Kamil)

Hari semakin senja dengan warna langit kuning menyala seolah turut merayakan dua hamba yang sedang saling jatuh cinta. Jalal menggenggam jemari Jodha ada energi listrik yang mengalir diantara keduanya, ibu jari Jalal mengelus tiap ruas punggung jari-jari Jodha memberikan rasa aman dengan sensasi kelembutan.
“Mm.. A sudah mau maghrib aku harus pulang” ucap Jodha sambil merenggangkan tubuhnya keluar dari pelukan Jalal, dan berhasil membuat Jalal mendesah kecewa
“Pulang?..sekarang? tidak bisakah tinggal di Hotel bersamaku?” Jalal bertanya berharap mendapat jawaban yang lain,,ada tatapan permohonan dalam sorot matanya yang sayu. Jodha terlihat bimbang, Jalal menyakinkannya lagi, “Tinggallah bersamaku.. aku tidak ingin kamu pergi, ku mohon.. ya.. ya... yah??”
“Kenapa kamu ingin aku tinggal bersamamu?” tanya Jodha pura-pura bego dengan senyum iseng seperti ingin mengerjai suaminya.
“Karena aku sangat merindukan mu Jodha... PUAS.. hemm?”
“Hanya itu?” cecar Jodha, bibirnya tak kuat menahan senyum
“Aku ingin kita melanjutkan bulan madu kita yang tertunada.. dan memastikan aku memilikumu seutuhnya!” entah mengapa Jodha mengartikannya seperti sebuah ajakan untuk tidur bersama, dan asli membuat Jodha merinding dan sedikit gugup.. namun Jodha berusaha menutupi kegugupannya sambil kembali berkata
“Wow posesif sekali.. mm.. tapi A.. aku ga enak sama tante Firna”
“Tante Firna??”
“Iya tante Firna, beliau WNI temannya ammijan, aku tinggal di rumah beliau.. aa mengenalnya?”
“Tante Firna? (Jalal terlihat mengerutkan dahinya mencoba berfikir).. o.. iya.. aku ingat, mamanya Hafiz, kan?”
(sewaktu kecil Hafiz dan Jalal bersahabat, rumah mereka berdekatan, menginjak SMP keluarga Hafiz pindah ke Jepang, karena ayah Hafiz diterima bekerja sebagai dosen di kampus tempat Jodha sekarang kuliah).
“Iya.. mamanya mas Hafiz”
“Kamu tinggal serumah dengan Hafiz hemm?” tanya Jalal penuh selidik.. ada nada kecemburuan dalam suaranya
“Mas Hafiz.. hanya week end saja pulang ke rumahnya.. kita jarang berinteraksi.. mm paling saat makan bersama.. tapi dia orangnya baik, sering membawakanku buku-buku”
“Kamu menerimanya?”
“Aku ga enak nolaknya.. nanti dikira ga mensyukuri rizki”
“Oh.. jadi klo dia menyatakan cintanya padamu.. kamu juga tidak enak untuk menolaknya, gitu?” ucap Jalal sinis. Jodha  merasa sakit dituduh seperti itu oleh laki-laki yang baru saja menyatakan cintanya, dia terlihat kecewa, menggeser duduknya menjauhi Jalal, tatapannya menjadi sengit
“Apa aku tampak seperti wanita murahan yang mudah menerima cinta setiap laki-laki?!..apa kamu belum juga faham wanita seperti apa aku ini?!..klo seperti ini aku jadi menyesal menerima cintamu” Jodha terlihat marah. Jalal terkesiap, menyadari kecemburuannya yang berlebihan telah membuat Jodha kembali marah, tiba-tiba Jalal ketakutan..takut Jodha akan menjauh lagi dari kehidupannya.
“Jo..ma'afkan aku..aku tidak bermaksud menyinggungmu, aku tau kamu bukan wanita seperti itu..aku tidak mau kehilanganmu lagi” Jalal merajuk. Namun Jodha masih marah, dia tetap cemberut dengan muka yang ditekuk. Merasa frustasi Jalal memeluk Jodha dari samping, tangannya mengunci tubuh Jodha dengan dagu mengait di bahu
“A..lepasin..malu dilihat orang!!!”
“Tidak akan..sampai kamu mau mema'afkan suamimu yang bodoh ini!” nada suara Jalal dikit mengancam. Merasa malu diperhatikan beberapa orang yang melewati mereka, akhirnya Jodha luluh juga
“Baiklah..aku ma'afkan, tapi jangan diulani lagi, janji?” raut muka Jodha sudah mulai melunak
“Oke..aku janji..tapi jangan bilang menyesal menerima cintaku lagi ya..kata-kata itu meracuni aliran darahku...membayangkannya saja membuat aku pobi”
“Oke...itu kesepakatan kita” jari kelingking mereka saling mengait tandanya telah berdamai. Merekapun kini tertawa bersama seolah tidak terjadi pertengkaran sebelumnya
“MM..boleh nanya satu lagi ga?” tanya Jalal dengan tatapan mata jenaka
“Ya..boleh”
“Hafiz..tau klo kamu udah nikah?” Jodha mengangkat bahunya, di memutar bola matanya
“Mau melanggar lagi janjimu..ko mancing-mancing lagi, memangnya ga ada topik pembicaraan lain hemm?” Jalal nyengir kuda
“Aku cuma pengin tau saja..bukan mau mancing”
“Baiklah..aku sendiri tidak tidak lebih tau darimu...kalaupun kami sempet ngobrol, kami tidak pernah membicarakan masalah pribadi, klo tante Firna dia tau dari ammijan”
“Sebentar..sebentar..aku baru ngeh..jadi ammijan tau kamu di Jepang?” Jalal menatap tajam pada Jodha dengan penuh curiga, Jodha gugup..
“Mm..mm..iya..ammijan yang punya ide ini, belau yang mengurus beasisiwaku, dan mengatur tempat tinggalku di sini” jawab Jodha sambil nyengir menutupi rasa bersalahnya
“APA?? jadi kalian bekerjasasama dalam konsfirasi ini hemm?” Jalal melotot ketika menyadari dirinya menjadi korban persekongkolan ibu dan istrinya.
“Kami melakukannya semata-mata hanya untuk kebaikanmu..aku cuma ingin mengetahui perasaanmu yang sebenarnya..dan ammijan dia ingin kamu bisa berubah menjadi lebih baik”  Jodha nampak serius memberi penjelasan pada Jalal, duduk miring menghadap Jalal.
“Aku tau itu..dan untuk penderitaan yang ku alami..sepertinya kamu harus menerima hukumannya” Jalal tersenyum licik
“Apa..kau mau menghukumku?” Jodha mengerutkan kedua alis matanya
“Ya..jenis hukumannya akan saya fikirkan terlebih nanti” tatapan Jalal berubah seperti tatapan ealng yang akan mencengkram mangsanya
“Ow..aku takut..kenapa ikhwan gantengku jadi sosok pendendam seperti ini” ucap Jodha dengan nada meledek, seolah tak yakin Jalal akan memberi hukuman padanya.
“Oh..jadi kamu tak percaya nona manis..aku sungguh akan menghukummu”
Hari sudah mulai gelap..mereka mulai menyadari klo dari tadi mereka belum beranjak dari bawah pohon sakura itu, sibuk dengan pedebatan yang sebenarnya tidak perlu.
“Wah gawat..tante Firna bisa khawatir, klo aku tidak segera pulang..aku keluar rumah dari habis dzuhur” Jodha terlihat panik mengemasi buku dan tempat minumnya, berdiri beranjak meninggalkan Jalal.
“Hai Jodha..tunggu..jangan tinggalkan aku!” teriak Jalal sambil mempercepat jalannya. Jodha tiba-tiba menghentikan langkah dan membalikan  badannya sehingga tubrukan dengan Jalal tidak bisa dielakan lagi.
“Awwww..”Jodha berteiak kesakitan, karena kepalanya terbentur pada kepala Jalal yang tak sempat mengerem langkahnya, Jodha terhuyung kebelakang karena kehilangan keseimbangan, untung tangan Jalal dengan sigap menangkap pinggang Jodha. Tangan Jodha menempel di dada Jalal menahan agar badannya tidak terlalu rapat dengan Jalal.
“Kenapa kamu mengikuti?!” Jodha bertanya dengan nada keberatan
“Ya..tentu saja Jodha, aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi..sudah kubilang aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku lagi!” Jodha merasa kesal ia memutar bola matanya..
“Ya..Alloh suamiku..aku merasa tidak enak pada tante Firna..klo tiba-tiba aku tidak pulang dan menginap di hotel bersama seorang laki-laki..aku harus menjaga etika dan tatakrama tentunya!..dan sekarang kamu kembali ke hotel dan aku pulang ke rumah tante Firna!”
“Oh.. Jodha.. apa kau akan membuatku terjaga semalaman memikirkanmu hemm?”
“Jadi apa maumu?”
“Aku akan ikut bersamamu ke rumah tante Firna!”
“Huh.. (Jodha menghembuskan napas dari mulutnya dengan cepat).. baiklah”
Jalal tersenyum lega penuh kemenangan, akhirnya mereka berjalan berdampingan keluar dari taman sakura Ueno Park menuji stasiun Ueno.. senyuman tak henti-hentinya terukir dari bibir ci aa Jalal, perlahan dan dengan cuek jemarinya menggenggam jemari Jodha, transfer chemisty terasa mengalir lewat sentuhan jemari keduanya menghantarkan sengatan-sengatan listrik yang pelahan merambat menyusuri aliran darah keduanya.

* * * * * * * * * * * *


Ana Uhibbuki Fillah Part 18

5 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.