Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 15 - ChusNiAnTi

Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 15


Versi asli Bag. 41 - 43
By: Viona Fitri

Sesampainya di Giani Cafe, Jalal menghentikan audinya dan menarikkan pintu mobil untuk Jodha. Jodha tersenyum dan kemudian menggandeng tangan Jalal memasuki cafe tersebut. Jodha mencari sosok Surya yang tengah menantinya 1 jam yang lalu. Seorang pria, dari kejauhan melambaikan tangannya ke arah Jodha. Jalal dan Jodha lalu berjalan ke arah pria tersebut dan duduk berhadapan dengannya.

“Jodha, akhirnya kau datang juga. Silahkan duduk!” kata Surya dengan ramah sambil menarikkan satu kursi untuk tempat duduk Jodha.

“Terima kasih Surya.” Jodha tersenyum ke arah Surya dan menarikkan satu kursi di sampingnya untuk Jalal. “Jalal... Duduklah.”

Jalal duduk di kursinya sambil menatap sinis ke arah Surya. Sementara Surya hanya tersenyum semanis mungkin membalas tatapan sinis Jalal.

“Jalal.... Kau jangan menatap Surya seperti itu. Tidak bisakah kau bersikap yang selayaknya pada Surya.” kata Jodha pelan berbisik di telinga Jalal.

“Kenapa Jodha? Aku hanya menatapnya saja. Kau tidak perlu khawatir.” balas Jalal dengar suara hampi tidak kedengaran di telinga Jodha.

Surya menatap bergantian ke arah Jalal dan Jodha dengan tatapan mengerti. Jodha mulai mencairkan suasana dan bertanya dengan nada sopan pada Surya.

“Surya, bagaimana kabar mu? Sudah lama kita tidak bertemu, aku rasa kau sudah akan berumah tangga secepatnya kan?” tanya Jodha yang langsung membuat Surya mendadak tersedat dari minumnya. Jodha jadi merasa bersalah dan memberikan sebuah tissue pada Surya. “Surya.... Aku tidak bermaksud membuat mu tersedat!” Surya mengambil tissue dari tangan Jodha dan membersihkan bibirnya sekilas.

“Tentu saja Jodha. Dia pasti akan segera berumah tangga dan hidup bahagia bersama wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya. Bukan dengan seorang wanita yang sudah bersuami. Bukan seperti itu tuan?” tanya Jalal menimpali perkataan Jodha.

Mendengar itu, tatapan Surya dan Jodha langsung mengarah pada Jalal.

“Tentu saja aku akan berkeluarga dengan seorang wanita yang bukan istri orang, tuan. Jangan khawatir tentang rumah tangga anda, aku tidak akan pernah membuat rumah tangga kalian menjadi berantakan.” Surya mengatakan hal itu sambil langsung menatap intens ke mata Jalal.

“Kalau begitu untuk apa mengajak seorang wanita yang sudah bersuami menemui mu. Bukankah itu adalah salah cara membuat hubungan suami istri menjadi renggang?” Jalal bertanya dengan tatapan menang ke arah Surya.

“Aku tidak ingin membuat hubungan antara kalian renggang. Aku ingin bertemu dengan istri anda karna memang ini sangat penting menurut ku.” Surya menanggapi pertanyaan Jalal yang mematikan dengan tenang. Tapi matanya, memancarkan kesedihan yang amat sangat mendalam di dalam hatinya. Kembali teringat di memori ingatannya tentang masa-masa indahnya dulu bersama Jodha. Berjanji akan selalu setia hingga akhir hayat mereka apapun yang terjadi. Tapi kenyataan nya, takdir lebih memilih Jalal untuk menjadi pendamping hidup Jodha dari pada dirinya. Hatinya miris getir menerima kenyataan yang terjadi ini.

“Surya ada apa? Hal yang penting seperti apa maksud mu?” tanya Jodha bermaksud menengahi adu argumen antara Jalal dan Surya.

“Jodha... Apakah kau masih ingat dengan janji kita dulu?” tanya Surya yang hanya di balas anggukan lemah dari Jodha.

Semuanya kini sudah terlambat untuk mengulang apa yang terjadi dari awal. Jodha juga pernah berjanji pada Surya di patung dewi kali, bahwa selamanya hanya Surya lah yang akan menjadi pendamping hidupnya sampai kapan pun itu. Mereka mengingat masa silam mereka dengan jelas. Ada pancaran sesal di mata mereka yang sulit untuk menyatukan apa pun yang telah terjadi.

“Aku pernah berjanji di hadapan patung dewi kali akan tetap mencintai mu selama hidup ku. Aku juga berjanji pada nya, kalau kita akan hidup bahagia dengan anak-anak kita nanti. Tapi, sekarang kau sudah menikah dengan pria lain selain diri ku. Takdir menjauhkan kita, hingga hubungan antara kita terpisah, dan takdir lah yang memilih mu untuk menikah dengannya. Aku tau ini sudah terjadi, tapi aku benar-benar sulit untuk percaya ini Jodha. Dulu, aku hanya mengira ibu mu saja yang tidak menyetujui hubungan kita, tapi sekarang bahkan takdir juga tidak berpihak pada hubungan kita.” Surya berhenti sejenak dan memperhatikan reaksi Jodha.

Setitik cairan bening menetes mengalir ke pipi mulusnya. Jodha benar-benar tersayat hatinya mengingat lagi janji itu pada Surya.

Jalal mengusap air mata di pipi Jodha dengan jari telunjuknya sembari berkata pada Surya tapi tidak menatapnya “Tidak bisakah kau berhenti berbicara tuan? Apakah kau tidak melihat kalau istri ku menangis seperti ini.” Jalal sedikit meninggikan nada suaranya pada Surya.

Jalal benar-benar tidak habis pikir kalau Jodha akan menangis hanya karna mendengar perkataan Surya tadi. Sebenar nya, apakah masih ada rasa cinta di hati Jodha, yang masih tetap menggelora untuk Surya? Jodha... Apakah kau masih ingat dengan janji kita dulu?

Surya menghentikan ucapannya begitu melihat air mata Jodha yang sudah mengucur membahasi pipinya. Sebenar nya, Surya sampai saat ini masih menyimpan begitu dalam perasaannya untuk Jodha. Lagi-lagi, hatinya harus merasakan luka lagi. Karna saat ini Surya harus bisa menerima bahwa kenyataan nya, Jodha sudah menjadi seorang istri. Dia harus mencoba merelakan apa pun yang berkaitan dengan Jodha dan termasuk menguburkan semua perasaannya untuk Jodha.

“Jodha... Aku tidak bermaksud membuat mu terluka. Aku tidak ingin membuat mu menangis seperti ini.” kata Surya lirih sambil hendak mendaratkan tangannya untuk mengusap air mata Jodha.

Tapi Jalal menurunkan tangan Surya dan berkata dengan nada sangat geram pada sosok pria yang ada di hadapannya itu. “Kau tidak boleh menyentuh istri orang sembarangan tuan. Kau harus tau bahwa Jodha sudah memiliki suami, dan aku pikir kau sudah mengerti, bahwa hanya suaminya sajalah yang boleh menyentuhnya.”

Jodha terdiam untuk beberapa saat. Air matanya kini berhenti mengalir. Tapi hati nya, benar-benar sakit harus menyadari kalau dulunya ia dan Surya pernah saling mengucapkan janji suci di kuil dewi Kali. “Surya... Aku... Aku tidak pernah lupa akan janji ku itu. Tapi takdir yang memilih Jalal menjadi suami ku. Aku saat ini sangat mencintainya. Aku bahkan sulit bisa percaya, bahwa aku telah mengingkari janji ku sendiri.” kata Jodha mencoba tetap tegar saat mengatakan hal itu.

“Aku juga ingin meminta maaf pada mu Jodha. Karna aku juga akan melanggar janji ku pada mu. Tapi takdir juga telah mempertemukan ku pada seseorang.” Surya menunduk mengingat tentang perjodohannya dengan Ruqayah. Ibu nya, Jiji Anga 3 minggu yang lalu telah menjodohkannya dengan seorang gadis Delhi yang merupakan anak sahabatnya itu. Pernikahannya pun sudah di tetap kan 1 minggu lagi. Surya memberikan sepucut surat undangan pada Jodha. Jodha membacanya sekilas dan mengerti maksud perkataan Surya tadi.

Jalal merebut surat undangan dari tangan Jodha dan membacanya. Wajahnya yang tadinya mengeras, kini malah melembut dan terlihat sinar-sinar kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. “Jadi kau akan menikah dengan Ruqayah, anak bibi Gulbadan?” tanya Jalal sambil tersenyum penuh bahagian pada Surya.

Sementara Surya yang melihat ekspresi senang Jalal yang begitu dadakan hanya mengangguk pelan, seakan ingin tahu apa alasan di balik senyum yang mengembang indah untuk dirinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Jalal langsung keluar dari kursinya danmemeluk erat Surya. Jodha yang melihat itu, hanya geleng kepala tdk mengerti dgn apa yang dilakukan Jalal.

“Surya... Kita akan menjadi keluarga.” kata Jalal seraya melepaskan pelukannya pada Surya.

“Keluarga? Apa maksud mu?” tanya Surya bingung.

“Aku dan Ruqayah adalah keluarga. Ruqayah adalah sepupuku, dia juga teman masa kecil ku. Aku sangat senang karna akhirnya sepupu ku itu akan menikah. Sejauh yang ku tau, setelah dia mengalami sakit yang begitu parah sekali, dia kehilangan semangat hidupnya. Orang yang dia cintai, pergi meninggalkannya tanpa kabar apapun. Tapi sekarang, aku mendengar dia akan menikah, aku sangat senang sekali. Kita akan menjadi keluarga Surya. Aku yakin, Ruqayah lambat laun akan mencintai mu. Dia pernah berkata pdku, bahwa hanya suaminya kelaklah yang akan mendapatkan cintanya. Kau tdk akan pernah menyesal menjadi suaminya.”

“Apa? Aku benar-benar tidak mempercayai hal ini. Kita akan menjadi saudara. Kau dan Jodha akan jadi saudara iparku. Dewa mungkin tdk mentakdirkan kita untuk hidup bersama, tapi Dewa mentakdirkan untuk kita hidup berdampingan selamanya dalam ikatan keluarga.” Surya terlihat begitu senang sekali. Setidak nya, dia juga akan mempunyai hubungan keluarga dgn Jodha. Meski pun tdk saling memiliki, tp hatinya merasakan damai akan mendapatkan keberuntungan seperti ini. Ruqayah akan menjadi istrinya kelak, ia harus belajar melupakan cintanya pd Jodha dan memberikan seluruh hatinya pada calon istrinya itu.

“Surya... Kau tdk usah khawatir dengan undangan ini. Aku dan Jalal pasti akan dtg ke pesta pernikahan kalian.” Jodha tersenyum seraya ingin memeluk Surya karna teramat bahagia mendengar kabar baik ini.

Tapi tiba-tiba Jodha menghentikan niatnya karna mendengar deheman Jalal yang di buat-buat. “Ehem... Ehem.” Jalal berpura-pura berdehen menatap Jodha, begitu tahu Jodha akan memberikan sebuah pelukan hangatnya pada Surya.

“Ehmm.... Aku senang akhirnya kau akan berumah tangga juga. Aku akan mendoakan semoga rumah tangga kalian, akan menjadi rumah tangga yang harmonis untuk selamanya.” kata Jodha sedikit salting begitu melihat sorot mata Jalal yang memandangnya sangat dlm.

“Surya... Maaf sepertinya saat ini kami harus pulag. Tidak apa-apakan kalau kami pulang duluan. Setelah kau menikah dgn Ruqayah nanti, kau pasti akan sering bermain ke rumah kami.” kata Jalal sembari menarik tangan Jodha.

“Iya, berhati-hatilah di jalan.” kata Surya dengan seuntai senyum manisnya mempersilahkan Jalal dan Jodha berlalu dari sana.

Jalal menarik satu pintu mobil untuk Jodha dan mendorong tubuh Jodha pelan masuk ke dalamnya. Jalal tersenyum pada Surya, kemudian menancapkan gas menuju rumah mereka.

“Jalal... Kenapa kita cepat sekali pulang? Apa kau lapar? Kalau kau lapar seharusnya kau makan saja di restoran sebrang Cafe tadi. Aku kan sore ini tidak masak.” kata Jodha dengan polosnya.

Sementara Jalal hanya tersenyum penuh arti tanpa menatap ke arah Jodha. Ia begitu gembira hari ini, karna dia akan menagih janjinya pada Jodha.

“Saat di Cafe tadi kau bilang selalu mengingat janji mu kan?” tanya Jalal yang membuat Jodha berpikir sejenak, kemana sebenarnya arah pembicaraannya dengan Jalal saat ini.

“Iya... Aku memang mengingat semua janji ku. Lalu kenapa? Apa aku punya janji pada mu?”

“Ya ampun Jodha... Apa kau tidak ingat sama sekali? Bukankah, kau telah berjanji akan memenuhi apa pun yang aku minta, setelah aku mengantar mu mengemui Surya... Hemm? Apa kau masih ingat itu?”

“Tentu saja aku masih mengingatnya Jalal. Tapi seingatku, kau tidak meminta apa-apa padaku.”

“Haa, itu dia Jodha! Sekarang kau harus menuruti permintaan ku.”

“Setidak nya, kau bicarakan saja hal ini nanti di rumah. Aku bosan mendengarnya.”

“Ya baiklah. Tentu saja kita memang harus membicarakan hal ini di rumah. Apa kau mau kita melakukannya di mobil?”

Jodha langsung terbelalak dan memanyunkan bibirnya kesal. “Sebaiknya kau tidak usah banyak bicara lagi Jalal, kau harus menyetir dengan berkonsentrasi.”

Jalal hanya tersenyum gemas memperhatikan wajah Jodha yang mulai memerah seperti kepiting rebus itu. Menempuh 25 menit berkendara, mereka berdua telah sampai di halaman rumah.

Jalal memperlakukan Jodha sangat baik sekali. Ia membukakan pintu mobil untuk Jodha dan menggandeng tangan Jodha menuju kamar mereka. Jalal menduduk kan Jodha di atas tempat tidur lalu bergegas ke lemari dan mengambil 2 setel piyama. Satu setel untuk Jalal, dan satu setelnya lagi untuk Jodha.

“Apa ini Jalal? Kenapa baju ini sangat tipis dan transparan sekali. Aku tdk mau memakainya.” kata Jodha sambil merengut memberikan piyama itu pada Jalal.

“Jodha... Ayolah kau pakai baju itu. Bukankah kau sudah berjanji akan memenuhi permintaan ku?” Jalal membangkitkan Jodha dari duduknya dan menuntunnya ke arah kamar mandi. “Kau mandilah dulu. Tapi, kau harus ingat! Jangan lupa untuk memakai piyama itu.”

“Tapi...” ucapan Jodha terpotong ketika Jalal sudah mendaratkan satu kecupan mesranya di bibir ranum Jodha. “Kahna.... Apa yang harus aku lakukan? Aku tdk mungkin menolak permintaan nya, karna dia adalah suami ku. Tapi... Aku sangat takut sekali untuk melakukannya.” batin Jodha sambil memejamkan matanya menikmati bibir seksi Jalal yang mulai melumatnya perlahan.

Jalal segera tersadar dari hasratnya dan mendorong pelan tubuh Jodha masuk ke kamar mandi lalu menutup pintunya dan berkata dgn nada sedikit keras agar Jodha mendengarnya. “Jodha... Aku hanya memberi mu waktu 10 menit untuk mandi dan berganti pakaian mu. Kalau sampai kau tidak siap juga, maka aku akan tetap masuk dan ikut mandi bersama. Bukankah itu lebih menyenangkan Jodha?” tanya Jalal sambil berlalu dari sana.

“Dia benar-benar tdk sabar sekali. Mana ada wanita yang bsa menyelesaikan mandinya hanya dlm waktu 10 menit.” guman Jodha dlm hati.

Jalal sdg asyik menonton film favoritnya di televisi, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Jalal mengalihkan pandangannya menuju pintu kamar mandi. Disana terlihat Jodha yang begitu menggairahkan tengah memakai piyama berwarna hijau transparan yang memang tlh di persiapkan jauh-jauh hari untuk menikmati bulan madu mereka. Jodha terlihat canggung memakai pakaian itu. Sepertinya itu bukanlah dirinya yang suka memakai pakaian seksi seperti ini.

Jalal melangkah menghampiri Jodha yang masih berdiri tegak di dpn pintu kamar mandi. Jodha hanya menunduk memperhatikan penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jalal menatapnya dgn penuh rasa kagum pada Jodha. Tuhan telah mengirimkannya seorang bidadari secantik Jodha untuk menjadi istrinya. Berulang kali, puji syukur ia panjatkan kepada sang pencipta.

“Jalal... Kenapa memperhatikan ku seperti itu? Aku sangat terlihat aneh ya? Kalau begitu aku akan menukar pakaianku dulu.” kata Jodha hendak kembali masuk ke kamar mandi.

Tapi Jalal mencekal lengannya dan menghentakkannya. Sehingga tubuh Jodha tertarik ke belakang dan memeluk tubuh gempal Jalal. Di rasakannya detak jantung Jalal yang berdetak sangat cepat sekali di dkt telinganya. Jodha hanya memejamkan matanya tidak berani menatap Jalal. Ini adalah pertama kalinya, jarak mereka begitu sangat dkt satu sama lain.

“Jodha, tunggulah aku, aku harus mandi dulu...” kata Jalal tersenyum sendiri memperhatikan sedari tadi mata Jodha.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 15

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.