Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 16 - ChusNiAnTi

Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 16



Versi asli Bag. 44 - 48
By: Viona Fitri

Jodha terlihat sangat cemas menanti kedatangan Jalal. Sedari tadi, ia hanya berjalan mondar mandir di depan ranjang sambil memikirkan jalan keluar dari ketegangan nya ini. “Apa yang harus aku lakukan? Ini adalah hak seorang suami. Aku tidak mungkin menolaknya, tapi aku sangat khawatir apa yang terjadi pada ku nanti.” Jodha duduk di tepi ranjang dan mulai memikirkan sesuatu. “Hah... Aku tau.” Tiba-tiba saja Jodha mendapat sebuah ide cemerlang yang mungkin bisa menggagalkan malam pertama mereka.

* * * * * *

Jalal keluar dari kamar mandi dan hanya berbalut handuk sebatas pinggang saja. Ia melihat sosok Jodha yang sudah tertidur dengan lelap di atas tempat tidur. Jalal mendekati nya dan duduk di samping Jodha. Jalal tersenyum menyeringai mengetahui akal-akalan Jodha, yang ingin menghindar dari nya. Jalal berbisik pelan di telinga Jodha, yang membuat Jodha merasa geli karna kumis dan bibir Jalal menyentuh daun telinga nya.

“Jodha.... Jodha sayang.... Aku tau ini hanya rencana mu untuk menghindar dari ku saja kan? Ayo bangunlah sayang.... Atau kau ingin merasakan ciuman dari ku dulu.... Hemm?”

Melihat tidak ada reaksi sama sekali dari Jodha, Jalal mulai menjalankan beberapa aksi nekat nya. “Baiklah, kalau kau memang tidak mau bangun juga tidak apa-apa. Kita akan lihat, apa kau benar-benar tertidur, atau hanya ingin menghindar dari ku saja.”

Jalal membalik kan tubuh Jodha yang memiring dan mulai membuka tali piyama Jodha dengan perlahan. Aksi ini sukses membuat Jodha langsung terbangun dari tidur pura-pura nya dan menggenggam tangan Jalal yang langsung menghentikan tangan Jalal yang hampir benar-benar melepas tali piyama Jodha.

“Benarkan dugaan ku, kau hanya berpura pura tidur untuk menghindar dari ku.”

“Jalal... Aku tadi benar-benar tidur. Lalu aku terbangun karna aku terkejut dengan tangan seseorang yang mengganggu tidur ku.” kata Jodha mencoba tetap mengelak dari kebohongan nya. S

ementara Jalal hanya tersenyum simpul pada Jodha, lalu berkata dengan nada serak khas nya. “Owh begitu... Jadi karna sekarang kau sudah terbangun, kau bisa kan melakukan permintaan ku? Jodha... Aku mohon jangan menghindar lagi dari ku. Aku sudah sangat sabar menunggu moment malam pertama kita ini.” terlihat dari ekspresi wajah Jalal yang benar-benar sangat menginginkan nya.

“Iya... Tentu saja Jalal. Aku tidak akan menghindar dari mu. Itu adalah hak mu, dan itu juga merupakan tugas ku.” kata Jodha dengan sedikit gugup. “Jalal... Sebenar nya, aku sangat takut sekali. Kata nya, itu akan terasa sakitkan?” tanya Jodha sambil menunduk dan bertanya dengan polos nya.

“Hah... Kau bahkan belum pernah melakukan nya, tapi sudah banyak bicara. Apa kau tidak ingin melihat ammijan segera menimang cucu dari kita. Rahim pasti akan senang kalau mempunyai teman bermain baru.” kata Jalal mencoba memberi pengertian pada Jodha.

Jodha hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan singat Jalal barusan. “Hmm.... Kau tidak akan menyakiti ku kan? Setelah kau berjanji pada ku, barulah aku akan mau melaksanakan tugas ku.”

“Jodha.... Apakah aku pernah menyakiti mu? Dan kalau dulu aku memang kasar pada mu, itu karna aku masih khilaf dan belum mencintai mu. Tapi sekarang, apa pun akan aku lakukan untuk membuat mu bahagia.”

Jodha hanya tersenyum, Kemudian menganggukkan kepala nya pelan pertanda menyetujui permintaan Jalal tadi.

“Benar kau menyetujui nya Jodha?” tanya Jalal dengan wajah sumringah. Lagi-lagi Jodha hanya menjawab pertanyaan Jalal hanya dengan anggukan.

Jalal membaringkan tubuh Jodha dengan perlahan di atas bantal. Perlahan namun pasti, Jalal mulai melepas ikatan tali piyama Jodha dan menindih tubuh Jodha. Jalal mendaratkan beberapa kecupan-kecupan hangat yg di daratkan di bibir Jodha, kemudian meramba ke leher jenjang Jodha. Membuat Jodha merasakan sensasi yg belum pernah di rasakan sebelum nya. Jodha mendesah, ketika Jalal mulai menyusuri bagian-bagian sensitif nya. Memberikan bekas-bekas kissmark di leher & sekitar dada Jodha yang terbuka.

“Aku sangat mencintai mu Jodha... Apakah kau sudah siap?” tanya Jalal yg bertanya dengan langsung menatap manik mata Jodha.

Hanya anggukan lemah dari Jodha untuk menjawab pertanyaan Jalal.

**************

Mentari pagi mulai muncul dari ufuk timur. Cahaya membias ke seluruh permukaan bumi yg sangat sejuk oleh embun. Menebarkan senyuman kehangatan pd seluruh mahkluk di bumi. Jodha terbangun dari tidur lelap nya. Ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di daerah kewanitaan nya. Linu. Itulah yang di rasakan nya saat itu. Ada senyuman indah nya yang mengawali pagi ini dengan khayalan-khayalan nya tentang malam pertama mereka. Di rasakan nya, suatu beban yang sangat berat menindih tubuh nya. Jodha melihat ke balik selimut dan mendapati Jalal yang tertidur di antara belahan dada nya, yang sama sekali tidak terbalut sekidit benang pun. Kemudian, Jodha mengalihkan Jalal ke bantal di samping Jodha. “Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang. Heh... Aku benar-benar lega telah menjadi istri mu yang sesungguh nya.” Guman Jodha dalam hati.

Jodha menutup tubuh dengan selimut dan hendak menuju kamar mandi. Tapi, tiba-tiba saja, di rasakan nya tangan kekar seseorang melingkar bebas di pinggang nya yang sedikit tidak tertutupi oleh selimut. “Kau mau kemana sayang? Kenapa mau meninggalkan ku?” tanya Jalal dengan senyum menggoda nya menatap lekat pada Jodha.

“Aku harus mandi dulu. Jalal... Apa kau hari ini tidak bekerja? Sudah hampir siang.” Jodha mencoba melepaskan rangkulan Jalal di pinggang nya, tapi percuma saja, Jalal malah tambah menguatkan tangan nya bersenggelayut mesra di pinggang Jodha. “Kenapa kau selalu saja menghindar dari ku Jodha? Dan hari ini kau tidak perlu khawatir tentang kerja ku. Aku akan menelepon Maansing dan menyuruh nya mengurus semua nya. Jadi, sekarang bisakah kita tidur lagi, heemm?”

“Ini sudah pagi Jalal... Sekarang bangunlah! Kita tidak boleh hanya bermala malasan di kamar saja.”

“Tapi... Aku sangat lelah Jodha. Kau harus bertanggung jawab pada ku. Dan lagi, rasa nya pundak dan leher ku ini sakit semua.”

Jodha melihat leher dan pundak Jalal yang penuh dengan bekas cakaran. Tangan nya langsung menutup mulut nya yang menganga menahan ketekejutan nya. “Ya ampun Jalal, leher dan pundak mu kenapa bisa jadi begini. Apa kemarin ada binatang yang mencakar mu? Tapi, di rumah kita tidak punya binatang kan?” tanya Jodha yang hanya di balas oleh seuntai senyum dari Jalal.

Jalal menarik tangan Jodha dan membaring Jodha di bantal samping nya. Jalal mendekat ke arah Jodha lalu tidur di atas dada nya sambil mendengar detak jantung Jodha yang sangat cepat, mencoba memacu adrenalin nya. Tapi, Jodha hanya terlihat tenang walau sebenar nya, hati nya sangat berdebar hebat kala itu. “Jalal... Apa yang kau lakukan? Aku mau mandi dulu, tak bisakah, kau tidak mengganggu ku untuk sementara waktu?”

Jalal hanya mengacuhkan perkataan Jodha barusan. Ia benar-benar lebih tertarik mendengar detak jantung Jodha yang membuat nya merasakan sesuatu hal yang aneh menjalari tubuh nya. Jodha mendongakkan kepala Jalal yang membuatnya mulai sebal. Kenapa tidak? Jodha sudah selalu memperingatkan pada Jalal beberapa kali untuk mencukur kumis aneh nya itu. “Jalal tak bisakah kau mencukur kumis mu itu hah? Aku benar-benar sangat merasa tidak nyaman sekali. Kalau kau tidak mau mencukur nya, biar aku saja yang mencukur kumis aneh mu itu.” kata Jodha sambil menarik narik halus kumis Jalal.

“Kenapa merasa tidak nyaman Jodha, ini adalah simbol ketampanan ku. Kalau nanti aku mencukur nya, maka aku tidak akan terlihat tampan lagi. Semua wanita pasti tidak akan memandang ku lagi, nanti.” Jalal menjawab sekena nya saja. Apa yang dia pikirkan, maka itu yang di ucapkan.

“Kalau begitu, kau tidak usah mencium ku lagi.”

“Kenapa bisa begitu? Apakah ada aturan jika suami ingin mencium istri nya?” tanya Jalal dengan mata membulat menatap Jodha yang terlihat kesal pada nya. Bahkan Jodha tidak membalas perkataan Jalal. Ia memalingkan wajah nya menatap sekeliling ruangan tanpa memandang ke arah Jalal sedikit pun. “Ya baiklah... Aku akan mencukur kumis seksi ku ini. Tapi berjanjilah jangan marah lagi pada ku. Kalau kau marah, lalu aku akan berbicara dengan siapa nanti?” tanya Jalal pada Jodha. Jalal memegang pipi Jodha dan mencium lembut bibir Jodha agak lama. Tapi Jodha mendorong tubuh Jalal dan membalut tubuh nya dengan selimut berjalan ke arah lemari serta mengambil pakaian nya kemudian menutup pintu kamar mandi dan mengunci nya dari dalam. Jalal melongo memperhatikan sikap Jodha yang sangat seperti anak kecil sekali.

“Apakah dia benar-benar marah pada ku karna kumis ini? Aku harus meminta maaf pada nya.” Jalal beranjak ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu seraya berteriak tapi dengan nada yg selembut mungkin, agar tdk menyinggung perasaan Jodha lagi.. “Jodha... Apa kau marah pada ku? Baiklah, nanti aku akan mencukur kumis ku. Tapi kau jangan marah terus seperti ini. Ayolah Jodha sayang... Aku minta maaf ya?” kata Jalal sambil masih dengan aksi nya, mengetuk pintu kamar mandi dgn sabar.

*************

Jodha telah selesai mandi dan berpakaian rapi. Jalal yang sedari menunggu Jodha di ambang pintu, segera melayangkan kecupan hangat nya di pipi Jodha. Usaha Jodha untuk mengelak dari aksi-aksi Jalal, selalu saja gagal tak satupun yang berhasil. Dengan wajah jengah nya, Jodha mendorong bahu kiri Jalal, kemudian segera berlalu dari sana menuju lantai bawah. Hari ini, Jodha benar-benar sangat terlambat bangun. Tidak ada satu makanan pun yang terhidang di atas meja. Padahal perut nya benar-benar sudah bernyanyi berkoar koar terus berteriak tak jelas di dalam nya. Jalal yang belum putus asa mendapatkan maaf dari Jodha, juga ikut menyusul Jodha yang ada di dapur. Jalal memeluk Jodha dari belakang, dan dagu nya bertengger di bahu Jodha yang tengah sibuk menyiapkan masakan nya itu.

“Jangan mengganggu ku dulu Jalal... Aku sedang memasak. Kalau sampai masakan ku ini gosong karna ulah mu, lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan pada mu.” kata Jodha dengan nada mengancam.

Mendengar nada suara Jodha yang seperti itu, Jalal bringsut dan melepaskan pelukan nya dari pinggang Jodha. Dengan nada yang sangat lembut Jalal berkata. “Jadi kau belum memaafkan ku juga ya? Aku kan sudah minta maaf pada mu.”

Jodha hanya diam tanpa respon dengan ucapan Jalal. Ia malah terlihat sangat asyik dengan aduk mengaduk masakan nya itu. “Jodha... Ayolah aku minta maaf! Kenapa susah sekali mendapatkan maaf dari mu? Kata mu, suami adalah dewa bagi istri nya, tapi kau malah mengacuhkan suami mu ini?”

Jodha tetap tidak merespon ucapan Jalal tadi. Sekarang masakan nya sudah selesai. Dengan wajah sumringah, Jodha menghidangkan nasi goreng nya menjadi 2 porsi. Satu untuk diri nya dan satu lagi untuk Jalal. Jodha mulai melahap sarapan nya dengan lahap. Dari kemarin Jodha memang sama sekali belum makan apa pun. Rasa nya, sudah tidak makan satu tahun saja! Jodha melahap habis makanan nya dan menghiraukan tatapan Jalal yang terus memperhatikan nya.

Jodha kemudian menyadari kalau Jalal juga belum makan dari semalam. Akhir nya, Jodha buka suara juga. “Kenapa masih berdiri disitu? Ayo makan sarapan mu!” kata Jodha dengan nada ketus yang di buat-buat nya.

“Aku seperti nya tidak akan makan, kalau kau tidak memaafkan ku.” kata Jalal dengan simple.

“Okey... Terserah pada mu. Mau makan atau tidak itu bukan urusan ku.”

“Ya sudah kalau begitu kau makan saja sendiri. Tidak usah mengajak ku sarapan pagi bersama mu. Biarkan saja nanti aku akan sakit karna kelaparan.” Jalal memegangi perut nya yang sudah sangat lapar sekali itu. Tapi ia juga tidak akan makan sebelum Jodha mau memaafkan nya.

Jodha tidak peduli dengan wajah memelas Jalal yang seperti kelaparan. Itu bukan salah nya! Bukankah Jodha telah menyuruh nya makan, tapi Jalal nya saja yang keras kepala dan tidak mau makan sebelum mendapat maaf dari nya. Jodha melanjutkan makanan nya sampai sendok terakhir. Jodha meneguk segelas air mineral mengakhiri sarapan nya. Jalal sedikit pun tidak bergeser dari kursi di hadapan nya. Wajah nya terlihat pucat. “Mungkin karna belum makan!” kata Jodha dalam hati.

Jodha menatap intens ke arah Jalal yang juga menatap nya. Pandangan mereka bertemu satu sama lain dan seperti bercerita mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Jodha tersadar ego nya, “Aku tidak boleh marah pada nya hanya karna masalah sepele. Jalal adalah suami ku, seorang istri seharus nya tidak marah pada suami mereka. Apa yang aku lakukan dewa? Aku hampir saja membuat nya mati kelaparan.” Bathin Jodha.

“Jalal... Duduklah... Kau harus makan. Kau tidak boleh sakit.” Jodha menarik kan satu kursi di hadapan nya dan mendudukkan Jalal perlahan.

“Apa kau sudah memaafkan ku Jodha?”

“Tidak ada maaf untuk mu Jalal. Kau tidak bersalah, aku yang terlalu keras kepala dan hanya mendengarkan ego ku saja. Maafkan aku karna telah marah pada suami ku?” kata Jodha penuh penyesalan.

Jalal terlihat sangat bahagia dan langsung memeluk erat Jodha. “Aku tidak pernah marah pada mu. Kau tidak bersalah sayang...” Jalal melepas pelukan nya menyuruh Jodha duduk di samping menemani nya. “Aku akan menyuapi mu!” kata Jodha sedikit gerogi dengan ucapan nya. “Itu bagu sekali sayang... Kau belum pernah menyuapi ku makan sekali pun kan?”

Jodha mengangguk. Jodha menyendok kan makananan nya dan akan secepat nya mendarat di mulut Jalal. Dengan senang hati, Jalal membuka mulut nya dan melahap makanan nya. “Ini enak sekali Jodha.... Kau benar-benar hebat sekali. Aku benar-benar beruntung mempunyai istri seperti diri mu. Untung saja kita sudah di jodohkan sejak kita kecil. Kalau tidak, mungkin saat ini sudah menikah dengan Surya.”

Jodha membelalak mendengar ada nama Surya yang di bawa dalam perkataan Jalal tadi. “Kenapa ada Surya juga Jalal? Aku tidak mau kalau kau akan cemburu pada nya lagi. Dia akan menikah dengan sepupu mu kan? Dan sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga kita.”

'Tok... Tok... Tok...'
Bunyi suara ketukan pintu dari pintu utama membuat Jodha dan Jalal heran. Tidak biasa nya ada tamu sepagi ini datang ke rumah mereka. “Jalal, aku akan membukakan pintu dulu. Kau makanlah sarapan mu itu. Aku tidak ingin ingin suami ku yang tampan ini terlihat kurus karna kurang makan.” Jodha tertawa kecil pada Jalal kemudian berjalan ke arah pintu.

* * * * *
Krek...
Bunyi suara pintu berdecit di buka. Belum sempat Jodha melihata wajah si tamu, ia malah langsung mendapatkan pelukan hangat dari tamu nya. “Jodha jiji, aku sudah datang... Maaf aku tidak mengabari mu kalau aku akan sampai secepat ini.” kata Shivani seraya memeluk Jodha. “Shivani... Jiji senang kau datang kemari. Jiji sangat merindukan mu sayang!”

“Jiji, dimana Bhaijan? Apa bhaijan sudah pergi ke kantor? Pasti jiji sangat kesepiankan, ayo aku akan menemani Jiji seharian ini. Kita akan berbagi cerita bersama.” Ujar Shivani sangat riang sambil duduk di sofa.

“Tentu saja kita akan bercerita sepanjang hari ini. Sebentar, jiji akan panggilkan bhaijan untuk datang menemui mu.” Jodha melangkah ke ruang makan mencari sosok suami tercinta nya itu. Tapi tidak ia temukan disana. Jodha sangat panik sekali, kalau-kalau Jalal akan marah pada nya dan kabur mencari wanita penghibur di luar sana. “Jalal... Jalal... Kau dimana? Apa kau masih marah pada ku hah?” tanya Jodha dgn berteriak dari ruang makan menghampiri Shivani. “Jal...” Jodha menghentikan suara emas nya yg melengking memanggil Jala, saat ekor mata nya menatap sosok seorang yg duduk berhadapan dgn Shivani.

“Lihatlah Shivani, Jodha jiji mu itu memang sangat aneh. Tadi dia marah-marah pada ku. Dan sekarang dia mencari-cari ku. Apakah dia memang seperti itu di rumah kalian dulu?” tanya Jalal sambil menatap Jenaka ke arah Jodha.

Dengan kesal Jodha duduk di samping Jalal sambil menjewer sebelah telinga Jalal yang langsung memerah di buat nya. “Aku mencari mu kemana mana, kenapa kau sudah bisa ada disini?” tanya Jodha dgn geram dan melepaskan tangan nya yg menjewer panas telinga Jalal. “Lihat Shivani... Jiji mu ini memang aneh sekali. Dia senang sekali marah-marah pada ku dan menjewer telinga ku seperti tadi.” kata Jalal dgn manja. Jodha tidak mau kalah dan membalas dgn kata-kata yg lebih sengit lagi. “Aku hanya sekali ini menjewer mu. Kau jangan mengatakan yang tidak-tidak tentang diri ku. Shivani, apa kau tau kalau Bhaijan mu ini sangat mengerikan sekali. Kalau kau sedikit saja melakukan kesalahan maka....” Jodha menghentikan ucapan nya begitu melihat adik bungsu nya itu malah tertawa cekikikan melihat aksi adu argumen antara Jiji dan Bhaijan nya. Jodha dan Jalal hanya saling melirik tdk mengerti arti tawa Shivani yg sampai mendominasi di ruang tamu itu.

“Shivani.... Apa yang lucu? Tidak baik seorang gadis tertawa sangat besar seperti itu. Sudah, hentikan tawa mu!”

Shivani langsung terdiam mendengar ucapan jiji nya itu. “Jiji apakah nanti kita bisa tidur bersama?” tanya Shivani mencoba mengalihkan tema pembicaraan mereka tadi. Jodha menatap Jalal sejenak untuk meminta pendapat. Jalal hanya menggeleng tidak setuju, tapi Jodha sangat benar-benar ingin untuk menuruti permintaan adik kesayangan nya itu. “Bagaimana Jiji, apa malam ini kita akan tidur bersama?” tanya Shivani di iringi dgn rengekan manja nya.

“Hemmz....” Jodha mencoba berpikir lagi sambil sesekali melirik menatap ke arah Jalal meminta jawaban. “Bhaijan... Apa Jodha jiji boleh tidur bersama ku malam ini? Aku benar-benar sangat merindukan nya.” Shivani meminta persetujuan Jalal sambil merengek menarik narik tangan Jodha. “Shivani, tapi suami istri yg sudah menikah tdk boleh tidur saling berpisah. Kau akan mengerti ketika kau sudah menikah nanti!” kata Jalal memberi nasehat pada Shivani.

“Kenapa seperti itu Bhaijan? Dia adalah Jiji ku, jadi kenapa tdk bisa aku tidur dgn nya?”

“Ya baiklah, kau boleh tidur dgn jiji mu. Tapi hanya sehari saja. Karna sekarang adalah seorang wanita yg sudah bersuami. Jadi kemana pun suami nya tidur, sang istri harus ada di samping nya.”

“Ya aku mengerti sekarang, dan sekarang aku ingin menyampaikan pesan masa pd kalian. Kata masa, masa sangat ingin secepat nya menerima hadiah pernikahan dari kalian. Sebenar nya aku tidak mengerti hadiah apa yang ingin masa minta.” kata Shivani dgn lugu nya. Jodha & Jalal hanya tersenyum dengan kepolosan gadis remaja yg tengah ada di hadapan mereka itu.

* * * * *
Malam hari nya, Jodha sudah berada di kamar Shivani. Sementara Jalal, hanya bisa mengguling gulingkan tubuh nya kesana kemari tak jelas. Mata nya masih belum terpejam juga, berharap Jodha akan datang dan tidur di sisi nya seperti biasa.

Setelah selesai mandi, Jodha hanya melilitkan handuk nya menutupi sebagian badan nya. Jodha baru ingat kalau saat itu, ia sdg berada di kamar Shivani bukan di kamar nya. Tentu saja tidak ada sehelai pakaian nya ada disana.

Jodha berjalan kesisi ranjang sambil memperhatikan wajah Shivani yang terlihat sangat lelah sekali. Tidak mungkin Jodha akan mengganggu tidur adik nya itu. Apalagi seperti nya Shivani hanya membawa 2 pasang pakaian untuk menginap beberapa hari di rumah. “Mungkin ada sesuatu yang bisa ku pakai di lemari. Tidak mungkinkan, kalau aku akan ke kamar Jalal hanya dengan berbalut handuk seperti ini?” kata Jodha pada diri nya sendiri. Kemudian melangkah ke lemari pakaian yang ukuran nya Jumbo untuk di lihat, adakah yang bisa di pakai oleh nya? Dari pada hanya berbalut handuk seperti wanita zaman kuno saja. Yang hanya memakai kain panjang untuk menutup tubuh mereka.

Jodha membuka lemari itu, dan kebetulan ada sebuah baju handuk (baju setelah selesai mandi) yang terlipat rapi di salah satu rak nya. Segera Jodha mengambil nya dan memakai nya kilat.

* * * * *
'Krek...'
Jodha memegang gagang pintu kamar Jalal dan mendorong nya pelan. “Mungkin dia sudah tidur!”

Jodha melangkah dengan sangat berhati-hati menuju lemari, layaknya seorang maling yang sedang mengindap di rumah orang yang akan menjadi mangsa kejahatan nya. Tiba-tiba dirasakan nya, tangan kekar memeluk nya dari belakang sambil jemari tangan nya, ingin membuka ikatan baju handuk Jodha.

Jodha berbalik dan menatap lekat kepada sosok pria yang ada di hadapan nya. “Kau belum tertidur ya? Aku kira kau sudah tidur Jalal... Aku kesini hanya karna ingin mengambil baju ganti ku saja. Tidak mungkinkan, aku meminjam baju Shivani?” tanya Jodha dengan menunduk tidak berani menatap mata Jalal yang seperti nya memperhatikan penampilan Jodha dari ujung rambut sampai ujung kaki nya.

“Kenapa tidak kau bilang saja, kalau kau merindukan suami mu yang tampan ini? Aku juga dari tadi berharap kau datang dan tidur bersama ku disini. Jodha... Aku benar-benar tidak bisa tidur tanpa diri mu? Lebih baik kita tidur bersama saja disini ya?”

“Tapi bagaimana dengan Shivani? Bagaimana kalau saat Shivani terjaga dari tidur nya, dia tidak mendapati ku tidur di samping nya? Dia pasti akan sangat kecewa Jalal.”

“Kau bisa kembali ke kamar nya lagi sebelum dia terjaga. Tapi untuk saat ini, tidurlah bersama ku Jodha.... Ayolah....” terdengar suara Jalal yang penuh pengharapan pada nya. Jodha hanya terdiam mencoba memikirkan perkataan Jalal barusan.

Jalal mulai mendekat ke arah Jodha yang masih mematung di depan lemari. Di tatapan sedemikian, Jodha beringsut mundur kebelakang satu sangkah. Tatapan nya seperti seekor singa lapar yang akan segera melahap habis mangsa nya.

Jalal memegang bahu Jodha dan mendorong nya pelan menyandar ke lemari. Jodha benar-benar tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Nafas mereka serasa bertukar dan menghirup satu sama lain. Dada Jodha naik turun mengikuti irama hembusan nafas nya yg tidak beraturan. Jalal semakin dgn Jodha & merapatkan tubuh nya dgn Jodha. Jodha mencoba menahan dada bidang Jalal yg merapat di dada nya. Itu benar-benar membuat nya merasa tidak nyaman sekali. Tapi Jalal malah menepis tangan Jodha yg mencoba menahan nya, membuat suatu penghalang diantara mereka.

Jodha hanya pasrah dgn tindakan Jalal yg sukses hampir membuatkan jantungan. “Boleh aku melepas nya Jodha?” tanya Jalal yg sedari tadi tatapan mata nya tak lepas dari manik mata indah Jodha.

“Jalal... Aku tdk bisa melakukan nya lagi. Badan ku semua nya masih terasa linu dan nyeri. Tidak bisakah, kita tidak melakukan nya dulu?”

“Ya aku tau itu. Tapi tdk kah kau kasian pada ku karna sudah sangat menginginkan mu dan tdk bisa membendung hasrat ku lagi.”

“Tapi... Setidaknya kita tdk melakukan nya di ruangan terbuka seperti ini?”

Jalal terlihat bingung dengan perkataan Jodha barusan. Jodha seperti tau apa yg ada di pikiran Jalal saat itu. Jodha menunjuk ke arah pintu kamar yg terbuka dgn dagu nya. Jalal baru mengerti dan berjalan ke arah pintu bermaksud untuk menutup nya.

Sementara Jalal berjalan ke arah pintu, Jodha langsung berlari ke atas kasur nya tanpa menunggu Jalal yang biasa nya akan mengendong tubuh nya menuju tempat peraduan mereka. Jalal berbalik & menatap Jodha yg sudah terbaring di balik selimut tebal berwarna putih silver kesayangan nya.

“Aku sudah menutup nya sayang.... Sekarang kita akan bermain lagi kan?” tanya Jalal yang langsung menindih tubuh Jodha kemudian mencumbunya.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 16

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.