Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 18 - ChusNiAnTi

Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 18



Versi asli Bag. 52 - 55
By: Viona Fitri

“Shivani... Jiji akan memanggil Bhaijan dulu untuk sarapan bersama.” kata Jodha yang kemudian berlalu dari ruang makan.

* * * * *

Jodha membuka pintu kamar mandi dan melihat Jalal yang sedang tertidur pulas di bangku samping mesin cuci. Padahal mesin cuci nya sudah mati sejak tadi.

“Dia benar-benar tidak pernah bisa diandalkan. Baru di suruh mencuci saja sudah begini, apalagi menjaga anak-anak nanti.” Guman Jodha dalam hati. Jodha mengambil selimut tebal itu dari mesin pengering dan pergi untuk menjemur nya. Setelah itu Jodha kembali lagi dan menatap Jalal yang masih tetap terlelap dalam tidur nya.

“Jalal...” Jodha mengguncang bahu Jalal dengan kuat. Perlahan Jalal membuka mata nya dan melihat Jodha yang tengah berdiri dengan wajah garang nya menatap diri nya. “Ada apa Jodha?” tanya Jalal heran.

“Kenapa kau malah tidur di sini Jalal? Aku telah menyuruh mu untuk mencuci selimut. Kenapa jadi malah tidur? Tak bisakah kau mengerjakan tugas mu dengan baik?”

“Iya maafkan aku. Tapi, ku kira cucian ku sudah selesai. Sebentar aku akan mengambilnya.” Jalal berjalan menuju ke mesin pengering dan tersenyum pada Jodha dengan bangga nya. “Kalau setelah ini pekerjaan ku selelai, aku kembali mendapat jatah malam kan?” Jalal tersenyum lalu membuka mesin pengering yang sudah kosong. Jalal terbelalak mengetahui mesin pengering itu kini sudah bersih sama sekali. Sementara Jodha malah tersenyum memperhatikan tampang innocent suami nya yang tampak bingung.

“Kemana selimut nya? Jodha... Tadi aku benar-benar sudah mencuci nya. Tapi... Kemana pergi selimut itu?”

“Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Sekarang sebaiknya kita sarapan dulu. Shivani sudah menunggu kita di ruang makan.” kata Jodha menahan tawa nya. Jalal hanya mengangguk lalu turut serta menuju ruang makan.

* * * * *

“Bhaijan... Jiji... Makanan ini enak sekali. Aku sudah kenyang sekarang. Owh ya, nanti aku akan kembali lagi lagi ke Delhi.” kata Shivani sambil meletakkan minum nya.

“Biar Bhaijan yang akan mengantar mu ya?” kata Jalal memberikan penawaran pada adik ipar nya itu. “Tidak usah Bhaijan. Nanti Jiji ku akan merasa kesepian. Aku sudah menelepon seseorang untuk menjemput ku.”

“Tapi, Jiji sangat khawatir pada mu. Lebih baik kau diantar Bhaijan saja.” kata Jodha protes dengan keputusan Shivani.

“Tidak perlu mengkhawatirkan ku Jiji. Aku akan baik-baik saja. Nanti aku akan mengenalkan Jiji pada orang itu.” kata Shivani dengan riang nya dan tersenyum senyum sendiri.

“Seperti nya adik mu yang manis itu sedang jatuh cinta Jodha?” kata Jalal melirik ke arah Jodha dan tersenyum melihat tingkah Shivani.

“Bhaijan, Jiji aku akan mengenalkan kalian pada Mirza. Dia itu adiknya kak Surya. Kekasih Jiji dulu.” kata Shivani menggoda Jodha. Jalal tersedak begitu mendengar kata Surya tadi. Jodha memberikan segelas air minum pada Jalal.

“Kenapa bicara seperti itu Shivani? Tidak baik.” Jodha menegur Shivani yang langsung terdiam dengan teguran Jiji nya itu.

“Kau tidak apa-apa Jalal?” tanya Jodha yang hanya di balas senyum hambar dari Jalal. “Bhaijan... Aku tidak sengaja. Tapi Mirza memang benar adik nya kak Surya. Dia adalah lelaki yang baik. Masa juga telah memberi ku izin untuk menjalin hubungan dengan nya. Surya Bhaisa mengundang ku dan Mirza hadir dalam pesta pernikahan nya Besok.” kata Shivani lembut. Dia hanya tertunduk dalam setiap ucapan nya.

“Owh untung saja kau mengingatkan kami Shivani. Hampir saja Bhaijan lupa akan hal itu. Bhaijan dan Jiji juga akan hadir di pesta itu.” kata Jalal dengan senyum nya. Namun, nada suara nya terkesan getir bagi Jodha. Mungkin Jalal merasa cemburu pada Surya.

* * * * *

'Tok... Tok... Tok'
Shivani menuju ruang tamu dan membuka pintu utama. Terlihat dengan jelas oleh nya, sosok Mirza sudah berdiri di hadapan nya dan semburat merah merona di wajah Shivani membuat Mirza hanya tersenyum saja. Shivani mempersilahkan Mirza masuk.

Sementara di ruang makan. Jodha dan Jalal terlihat sangat hening. Jodha tau, Jalal mungkin sedang marah pada nya. “Jalal... Apa kau cemburu pada Surya?” tanya Jodha lembut. Jalal hanya terdiam tanpa kata saja. “Jalal... Shivani masih anak-anak maafkan dia, kalau dia sudah berbicara seperti tadi. Shivani tidak bermaksud menyinggung mu.”

“Aku tidak merasa tersinggung. Aku juga tidak cemburu. Kau sekarang sudah menikah dengan ku dan menjadi milik ku. Jadi untuk apa aku cemburu pada nya. Dia sebentar lagi juga akan menikah dengan Ruqayah.” kata Jalal santai.

Jodha tersenyum. Ia mendekat ke arah suami nya, kemudian sedikit menarik kepala Jalal, dan mengecup bibir nya perlahan. Jalal membalas nya dengan gairah yg sama. Mereka saling melumat satu sama lain. Jalal memasuki mulut nya lebih dlm lagi dan merasakan kehangatan baru disana. Semua nya terasa lenyap segala perasaan amarah & cemburu nya pada Surya. Yang ada hanya kenikmatan yg saling merasuki satu sama lain.

Suasana menjadi panas kembali. Lidah mereka saling bertautan satu sama lain. Jodha merasa kehabisan nafas dan melepaskan ciuman nya. Mereka duduk di kursi masing-masing sambil menghirup oksigen yang sebanyak banyak nya. “Kau liar sekali Jodha? Kau bilang tidak mau memberi ku Jatah selama lama nya. Tapi kau malah yang memulai nya.” Jalal tersenyum sambil menatap nakal ke arah Jodha. “Kalau kau tidak di rayu dulu. Kau tidak akan memaafkan ku kan?” jawab Jodha santai.

Shivani datang menghampiri Bhaijan dan Jiji nya yang sedang berada di ruang makan. “Jiji, Bhaijan... Mirza sudah datang. Aku akan mengenalkan nya pada kalian.” Shivani menarik lengan Bhaijan dan Jiji nya menuju ruang tamu.

Jodha tersenyum mengawali pertemuan nya pada Mirza, yang membuat adik bungsu nya itu bergetar hati begitu mengenal sosok pemuda itu. Mirza juga tersenyum menatap Jodha dan Jalal bergantian.

“Selamat datang Mirza.” kata Jodha ramah. “Kau adik nya Surya? Kalian sangat mirip sekali. Kau sama tampan nya dengan Bhaijan mu.” timpal Jalal.

“Anda bisa saja tuan. Anda juga tampan. Istri anda juga sangat cantik.” kata Mirza memuji. Mendengar itu, Shivani terlihat cemberut melipat wajah nya kesal. Jodha mengetahui itu dan berkata “Seperti nya adik ku cemburu pada Jiji nya ini.” kata Jodha menggoda Shivani. “Tidak. Aku tidak cemburu.” Sahut Shivani singkat.

“Maksud ku, kalian sama-sama cantik sekali. Shivani juga cantik.” Mirza berkata sambil tersenyum ke arah Shivani. “Mirza, sudah berapa lama kalian saling mengenal?” tanya Jalal yang ikutan nimbrung pembicaraan mereka.

“Sudah hampir dua tahun ini. Aku mengenal nya sejak kami kuliai semester pertama. Dia adalah gadis yang baik dan sangat polos. Aku menyukai gadis seperti nya.”

“Lalu kapan kalian akan menikah?” tanya Jalal yang langsung membuat mata Shivani membulat besar. “Apa yang Bhaijan katakan tadi? Kami baru saling mengenal.” kata Shivani memberi penjelasan. “Bhaijan dan Jiji mu juga belum saling mengenal saat menikah. Lalu lama-lama Jiji mu mencintai Bhaijan juga. Dia malah sampai setiap saat merindukan Bhaijan.”

“Tidak itu tidak benar. Jiji tidak selalu merindukan nya. Jangan percaya pada perkataan nya, Shivani....” kata Jodha menimpali.

“Iya itu benar Bhaijan. Jiji ku pasti selalu merindukan mu terus setiap malam. Bagaimana tidak rindu, kalau mempunyai suami setampan Bhaijan? Benarkan Jiji?”

“Hah terserah pada mu saja. Kau lebih percaya pada Jiji mu sendiri atau Bhaijan mu itu?” kata Jodha sewot.

“Menurut ku, tuan Jalal lah yang selalu merindukan istri nya. Bagaimana dia bisa bertahan seharian tanpa melihat seorang bidadari yang di utus untuk nya.” kata Mirza sambil tersenyum hangat pada Jalal.

“Kau pintar sekali Mirza. Dialah yang selalu merindukan ku. Aku tidak masalah tidur sendirian. Tapi dia yang tidak bisa tidur tanpa ada aku disamping nya.” tambah Jodha.

“Sudahlah Mirza, kita tidak perlu mengurusi rumah tangga Bhaijan dan Jiji ku. Lebih baik sekarang kita segera berangkat ke Delhi.” kata Shivani sambil menarik lengan Mirza.

“Kami permisi dulu tuan.” Mirza menangkupkan kedua tangan nya di depan dada dan menuju mobil silver nya yang terparkir di halaman rumah Jalal. Shivani melambaikan tangan nya pada Bhaijan dan Jodha Jiji setelah berada dalam mobil. Akhir nya, mobil itu pun menancap laju meninggalkan perkarangan rumah mereka menuju jalanan-jalanan yang masih sangat sunyi di pagi hari seperti itu.

“Jodha... Aku telah menyelesaikan tugas ku kan. Jadi malam ini aku dapat jatah lagi kan?” tanya Jalal yang mengikuti Jodha ke kamar nya.

“Tidak... Kau tidak benar-benar menyelesaikan tugas mu. Jadi tidak ada jatah untuk mu.” kata Jodha sambil sibuk memilih milih gaun yang menurutnya bagus untuk ia kenakan ke pesta pernikahan Surya besok.

Jalal terlihat kecewa dan duduk menyender di kepala tempat tidur. Wajah nya terlihat kusam & kusut sekali. Jodha melihat bayangan Jalal dari kaca lemari nya. “Jalal benar-benar seperti anak kecil sekali. Aku harus membujuk nya lagi kalau sudah begini.” bathin Jodha.

Jodha menghampiri Jalal & duduk di samping nya. Jalal mengalihkan pandangan nya dari Jodha. Seperti nya Jalal benar-benar marah pada nya. “Kau kenapa lagi sayang? Apa kau marah lagi pada ku, heem?” tanya Jodha sambil mengusap lembut wajah Jalal. Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain. Tapi Jalal hanya mencoba menghindar dari tatapan sayu istri nya.

“Aku tidak pernah marah pada mu suami ku. Aku juga akan selalu melayani mu kapan pun kau mau. Kau adalah suami ku, aku telah berjanji akan selalu mematuhi setia perintah mu.” kata Jodha sambil mengalihkan mata Jalal agar menatap nya.

“Benarkah? Apa itu berarti, aku bebas mendapat jatah malam ku setiap hari?” Jalal bertanya dgn sumringah. Jodha mengangguk pasti lalu hendak beranjak ke lemari untuk memilih gaun yg akan ia pakai ke acara pesta Surya. Jalal meraih tangan Jodha & menahan nya.

“Ada apa lagi sayang?” tanya Jodha selembut mungkin. “Apakah aku punya jatah pagi dan siang juga?” Jalal balik bertanya. “Hemmz... Jatah mu kan hanya malam saja.”

“Bukankah kau bilang harus menuruti perintah suami mu, hemm?”

“Iya itu benar tapi tidak terus-terusan begini kan? Aku sudah lelah. Nanti malam saja kita lanjutkan. Sekarang, kita harus memilih pakaian yang bagus untuk kita pakai pada pesta Surya nanti. Ayo bangun, dan cari juga baju mu!” Jodha mengulurkan tangan nya pada Jalal. Tapi Jalal malah menarik tangan Jodha dan membuat tubuh Jodha terjatuh di atas tubuh Jalal.

“Kau apa-apaan Jalal. Aku menyuruh mu untuk memilih pakaian kenapa....” ucapan Jodha terhenti kala Jalal sudah mulai melumat lembut bibir Jodha. Mata Jodha terpejam menahan kenikmatan tersendiri dalam diri nya. Jodha membalas ciuman hangat itu dengan sama semangat nya.

Mereka terlihat semakin saling menyerang satu sama lain. Kedua nya terlihat sangat berperang secara besar-besaran. Jalal membalikkan tubuh Jodha, sehingga kini posisi nya menjadi di atas Jodha. Peluh merembes dari rambut samping mereka dan dahi nya. Baju mereka sudah teronggok tak berguna di lantai.

Jalal kemudian memberikan kecupan-kecupan lembutnya pada sekitar tubuh Jodha. Tubuh Jodha seakan telah habis di lahap seekor singa lapar. Jodha merasakan kehangatan yang mengaliri setiap persendian nya begitu merasakan hubungan mereka sepenuh nya. Mereka akan segera mencapai pada puncak nya, Jodha kemudian menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh mereka berdua yang tengah bercengkrama hebat di balik selimut tebal yang baru saja di ambil nya di lemari.

Mereka merasa sangat lelah sekali dan tidur saling memeluk satu sama lain. Tak sehelai benang pun yang melekat pada tubuh mereka. Tapi mereka hanya merasakan kehangatan dari setiap sentuhan mereka.

* * * * *

“Jalal seperti nya aku harus pergi meninggalkan mu. Aku mencintai Surya. Aku tidak bisa menghilangkan rasa ku sepenuh nya pada Surya. Kau telah menjadi suami ku, tapi aku benar-benar tidak bisa mencintai mu. Seperti aku mencintai Surya.” kata Jodha dengan mata berkaca kaca. Jalal tau, sebentar lagi air mata yang di bendung Jodha, akan mengalir juga pada akhir nya. Jalal tidak bisa melihat air mata nya. Tapi ia juga tidak bisa melepaskan Jodha pada Surya.

Jodha berlari ke arah Surya dan memeluk nya erat. Dia menumpahkan segala kesedihan nya disana. Air mata tak henti-henti nya mengalir membanjiri pipi nya. Mata nya sudah sembab karna air mata itu. Sosok lelaki yang memeluk Jodha, berusaha menenangkan nya dan mencium pucuk kepala Jodha dengan lembut. Memberi ketenangan pada gadis yang ada dalam pelukan nya itu.

“Jodha... Tapi kita sudah menikah. Mengertilah Jodha, aku sangat mencintai mu. Aku tidak bisa hidup tanpa diri mu. Aku mohon kembalilah pada ku Jodha. Kau pasti bisa belajar untuk mencintai ku.” Kata Jalal dengan Lirih setelah berada dekat dengan Surya dan Jodha.

Jalal hendak menarik tubuh Jodha dari Surya. Tapi Surya berusaha mempertahan kan nya dalam dekapan nya. “Kau tidak bisa memaksa nya Jalal. Dia hanya mencintai ku. Banyak kenangan indah kami dulu yang tidak pernah bisa kami lupakan. Hari-hari kami selalu melewati nya dengan bergandeng tangan. Tapi sekarang, Jodha tidak bisa mempertahankan rumah tangga nya dengan mu lagi. Dia ingin hidup bersama ku. Jadi, kalau kau benar-benar mencintai nya, ikhlaskanlah Jodha bersama ku. Aku juga mencintai nya. Aku tidak mungkin membuat nya terluka seperti mu.” Surya berkata dgn tegas dan membawa Jodha menjauh dari Jalal. Jodha terus mengikuti langkah Surya, tanpa sedikitpun berbalik menatap Jalal.

“Jodha... Kembalilah pada ku. Jangan kau mau ikut bersama pria itu. Kau telah berjanji akan selalu setia pada ku. Kau akan selalu berada di samping ku selama nya. Surya... Kembalikan istri ku....” kata Jalal terisak. Ia tidak perduli dengan air mata nya yang terus mengalir. Yang dia inginkan, hanya Jodha nya. Dia ingin Jodha kembali lagi pada nya.

* * * * *

“TIIDAAK... Jodha...” teriak Jalal yg langsung terbangun dari tidur nya. Jodha yg tadi nya tertidur pulas di samping Jalal juga ikut terbangun karna nya. Jodha melihat, pipi suami nya yg basah, mata nya yg sembab dan air mata yg masih tergenang di kelopak mata nya.

“Ada apa Jalal? Apa kau baru saja bermimpi buruk?” tanya Jodha sambil memgusap air mata di pipi Jalal. Jodha mencium mata Jalal dengan lembut. Mencoba memberi sedikit ketenangan pd suami nya. Jalal masih tanpa reaksi apa pun pd Jodha. Ia masih terbayang oleh mimpi buruk nya tadi. Jodha menarik Jalal dlm pelukan nya. Mencoba menyalurkan kehangatan pd Jalal yg masih tetap terdiam sejak tadi. “Jalal... Kau kenapa sayang...? Apa yg terjadi pada mu. Aku selalu berada disisi mu. Kau membuatku sangat takut sekali.” Jodha semakin mendekap Jalal lebih dlm pada dekapan nya. Tanpa di sadari, air mata Jodha juga ikut terjatuh bersama nya.

Jalal mendongak menatap Jodha yang menangis mendekap nya. Ternyata, itu hanya mimpi buruk nya lagi. Kenapa mimpi itu selalu saja hadir dalam tidur nya. Wajah Surya benar-benar membuat nya harus menangis seperti ini. Jodha tidak akan pergi kemana pun. Dia telah berjanji tentang hal itu pada Jalal. Dan Jodha juga sangat memegang teguh janji nya. “Kau kenapa menangis sayang?” tanya Jalal yang kini mulai membuka suara nya. “Jalal... Kenapa kau selalu saja membuat ku khawatir pada mu? Kau menangis dan mengigau dalam tidur mu? Apa sebenar nya yang terjadi pada mu?” Jodha balik bertanya.

Jalal merenggangkan pelukan nya dan memegan pipi Jodha. Air mata nya terlihat sangat jelas sekali. Jalal mencoba menerawang jauh kedalam mata Jodha. Apakah wanita di depan nya ini, istri nya atau bukan? Jodha membalas tatapan mata suami nya. Ia melihat suatu beban yang tengah mendera nya. Kesedihan dimata nya benar-benar membuat nya tak berdaya. “Kau masih bersama ku. Kau tidak akan pernah meninggalkan ku. Tapi laki-laki itu, datang lagi dalam mimpi ku. Dia ingin membawa mu pergi jauh dari ku.” Jalal mengusap air mata Jodha di pipi nya. Jodha tau, pasti Surya lagi yang datang dalam mimpi Jalal. Entah kenapa Surya selalu saja mengusik pikiran Jalal. Setiap kali bermimpi tentang Surya, Jalal selalu saja terlihat sangat sedih sekali pada diri nya sendiri.

“Tidak ada yang akan membawa ku pergi dari mu Jalal. Aku telah membuat janji pada mu dulu. Apa yang selalu membuat mu takut seperti ini? Kau tidak perlu berpikir jauh tentang hal yang tidak pasti, karna sampai kapanpun juga aku akan selalu bersama mu. Selalu menemani hari-hari mu. Kau suami ku, jangan pernah berpikir seorang istri akan meninggalkan suami mereka.” Jodha berkata dengan sangat lirih. Jalal menatap manik mata nya yang penuh dengan kejujuran di sana.

Mata itu seakan memberikan janji pada nya. Bahwa ia akan selalu berada di samping nya sampai kapan pun itu. Tak ada sedikit pun keraguan yang terpancar di mata nya. Hanya ada luka yang berada di pelupuk mata nya melihat kondisi Jalal yang sangat mengkhawatirkan seperti ini. “Aku bahkan sudah mencoba melupakan wajah Lelaki itu Jodha, tapi... Dia semakin melekat dalam pikiran ku. Aku benar-benar tidak ingin mengalami mimpi buruk seperti itu lagi.”

“Kalau begitu, kau jangan pernah menyimpan kecemburuan pada nya. Karna kau cemburu pada Surya, justru dia akan selalu mengganggu dalam setiap tidur panjang mu. Lebih sekarang kau istirahatlah dulu. Jangan memikirkan apa pun lagi. Aku sangat mencintai mu.” Jodha membaringkan perlahan tubuh suami nya itu. Jodha mencium kening Jalal lembut dan mengelus rambut ikal nya lembut. Suami nya benar-benar tampak berbeda dalam tidur nya. Jalal seperti masih takut mimpi itu akan benar-benar terjadi pada nya.

Jodha mencium kening Jalal perlahan sambil berkata “Tidak akan pernah ada yang akan memisahkan kita. Kau sudah terlalu dalam tinggal dalam hati ku. Aku bahkan ragu, akan bisa hidup tanpa diri mu. Kau dan aku selama nya akan hidup bahagia. Kita akan segera mempunyai anak-anak yang lucu suatu saat nanti. Aku benar-benar tidak sabar menunggu kehamilan ku. Aku tidak sabar mengandung mereka dalam rahim ku. Kau akan menjadi seorang ayah dan aku seorang ibu. Kita harus sabar menunggu masa-masa itu Jalal.” Gumam Jodha pada diri nya. Ia tersenyum memandangi wajah suami nya saat tertidur.

Jodha mengambil baju nya yang teronggok di atas lantai dan menuju kamar mandi. Jodha berendam di dalam Bathtub sambil memikirkan keadaan Jalal saat ini. Mereka sudah menikah 6 bulan yang lalu, tapi sampai sekarang mereka belum juga mendapatkan seorang anak. Padahal, setelah kehadiran anak-anak disisi mereka, akan menghilangkan kesunyiaan di rumah besar yang hanya di huni oleh dua orang saja. Anak-anak pasti akan membuat hari-hari mereka menjadi lebih cerah dan berwarna lagi.

Jodha telah selesai mandi dan menatap Jalal yang masih tertidur dengan pulas nya. Jodha duduk di samping nya sambil mengelus rambut suami pelan. Jalal seperti benar-benar sangat kelelahan karna aktivitas mereka tadi.

“Aku sangat tdk sabar untuk segera mengandung. Aku ingin secepatnya kita dikaruniai seorang anak. Aku sangat menantikan hal besar itu. Setelah kita punya anak nanti, kita akan menjadi orang tua. Kau tdk boleh bersikap manja lagi seperti ini. Aku harus membagi waktu antara anak dan suami. Itu pasti akan sangat menyenangkan sekali kan?” Jodha mengecup dahi Jalal lama. Tiba-tiba saja Jalal terbangun dari tidur nya. Ia merasakan kehangatan dari Jodha.

“Jodha... Kau sudah sedang apa?” tanya Jalal pura-pura tdk tau. Jodha memasang tampang kesal karna Jalal sudah terbangun dari tidur nya. “Tidak ada, tadi di kening mu ada nyamuk, jadi aku ingin memukul nya. Tapi aku tdk jadi memukul nya, kalau nanti kau terbangun.” kata Jodha sekena nya. Jalal hanya tersenyum mendengar kata-kata Jodha yg berbohong pada nya.
~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 18

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.