Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 19 - ChusNiAnTi

Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 19



Versi asli Bag. 56 - 60
By: Viona Fitri

“Ternyata istri ku ini sudah mulai berbohong pada suami nya, hemm?” ujar Jalal dengan senyum meledek nya. “Hah... Kau juga suka mencuri-curi kesempatankan, kalau aku sedang tertidur, aku akui saja?” sergah Jodha tak mau kalah.

“Tidak. Aku tdk pernah mencuri kesempatan seperti mu. Bilang saja, kalau kau ketagihankan? Kau menginginkan nya lagi, hemm?” Jalal menggoda istri mungil nya itu. Seketika wajah Jodha langsung mengkel di goda begitu. Ia menggelitik pinggang suami nya hingga tawa mereka memecah keheningan di rumah megah mereka.

Tiba-tiba menghentikan aksi nya. Wajah nya terlihat sedih tak seceria tadi. Jalal heran dan bertanya pada nya. “Kau kenapa sayang?”

Tanpa menjawab sepatah kata pun, Jodha langsung menghambur memeluk Jalal. “Jalal... Sampai sekarang kita belum di karunia anak juga. Aku ingin secepat nya menimang anak-anak dalam gendongan ku. Apakah kau kecewa dengan ku Jalal? Maafkan aku belum bisa memberikan mu anak sampai saat ini.” Tangis Jodha mulai terdengar menggema di dlm kamar mereka yg cukup luas itu.

“Mungkin kita akan mendapatkan nya sebentar lagi Jodha. Kita telah berusaha, tuhan pasti mendengar Doa kita. Kau tidak boleh mengatakan hal bodoh seperti tadi lagi. Aku benar-benar sangat mencintai mu apa pun yang terjadi pada hubungan kita kelak. Aku tidak perduli apakah kita akan mempunyai anak atau tidak, tapi aku akan selalu berada di samping mu, dan memeluk mu seperti ini setiap hari nya.” Mata Jalal pun nanar melihat tangis Jodha yang menyayat hati nya. Tangan nya bergerak mengelus pucuk kepala Jodha & mencium nya lama.

“Kau tidak akan pernah berpikir akan menceraikan ku kan Jalal?”

“Tidak akan pernah Jodha. Kenapa kau berpikir terlalu jauh tentang diri ku. Aku bahkan tdk akan pernah bernafas tanpa mu. Aku tdk mungkin, hidup tanpa nafas. Kau adalah hidup ku, aku yakin, kita akan segera mendapat anugrah besar itu.” Jalal melepas pelukan nya & menghapus air mata Jodha. Begitu pun sebalik nya.

Jodha segera berlari ke arah kamar mandi begitu perut nya serasa ingin mengeluarkan semua isi nya. Jalal mengambil minyak angin dari meja kamar nya & berlari tergesa-gesa menghampiri Jodha.

“Kenapa Jodha? Apa kau sakit? Atau salah makan ya?” tanya Jalal sudah sangat panik begitu melihat Jodha mengeluarkan sedikit sisa makanan nya tadi pagi. Jalal membaluri tengkuk Jodha dgn minyak angin & membantu Jodha berjalan ke tepi ranjang.

“Kau duduklah dulu, aku akan menelepon dokter untuk mu.” Jalal mendudukkan Jodha & hendak bangkit dari sana. Jodha menahan lengan Jalal menyuruhnya duduk disebelahnya.

“Aku tidak perlu dokter Jalal. Ini hanya sekedar mual biasa. Mungkin aku tidur terlalu larut.”

“Tapi bagaimana kalau kau sakit Jodha? Aku tdk ingin ambil resiko.”

“Kau terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja.” Jodha perlahan mendekatkan kepala nya & mencium bibir Jalal singkat. Jalal juga membalaskan lebih bersemangat. Tapi... “Jalal... Aku harus ke kamar mandi dulu.” Jodha mendorong dada bidang Jalal sambil memegangi perut nya masuk ke kamar mandi. Jalal terlihat sangat cemas sekali dgn kondisi Jodha yang lemah seperti ini. “Jodha sudah ku bilang, akan ku telepon dokter dulu. Kau terus saja keras kepala.” Jalal terus mendesak Jodha dengan keputusan nya. Tapi Jodha tetap menolaknya setiap kali Jalal mendesak diri nya. Jalal mengalah dan menuntun Jodha kembali ke kamar. Wajah Jodha terlihat semakin pucat sekali.

“Jodha... Ayolah lebih baik kita ke dokter saja. Atau aku saja yg menelepon dokter untuk memeriksa mu.”

“Jalal, aku sudah mengatakan nya kalau aku tdk mau. Aku hanya mual saja.”

“Kenapa kau selalu saja membantah Jodha, aku sangat mengkhawatirkan mu. Tapi kau malah tdk peduli dgn kondisi mu.”

“Karna aku tau, ini hanya karna aku kurang tidur saja.” kata Jodha mulai melembut. Semua energi nya terasa terkuras habis karna makanan nya tadi pagi sudah keluar dari perut nya semua.

* * * * *

'Tok... Tok... Tok'
Terdengar suara pintu di ketuk. Jalal menatap Jodha heran seperti meminta jawaban. Jodha menggeleng kemudian dgn di bantu Jalal menyusuri satu persatu anak tangga menuju ruang tamu.

'Klik...'
Pintu terbuka lebar, terlihat dua sosok wanita yang berpostur tubuh tinggi & seorang anak yg berusia sekitar empat tahun tengah memeluk & gendongan salah satu wanita tamu mereka.

“Ammijan, kak Salima..” Jalal memeluk kedua nya bergantian. Jodha juga melakukan hal yg sama dgn Jalal sedikit canggung. “Ayo silahkan masuk” Jalal mempersilahkan Ammijan & kak Salima masuk ke dlm rumah nya. Jodha mohon diri untuk mempersiapkan minuman segar & cemilan untuk mereka.

“Silahkan Ammijan... Kak salima... Dan si kecil yg manis itu sudah ku buatkan susu untuk nya.” Jodha melihat ke arah seorang anak lelaki kecil yg duduk di samping Salima. Dia langsung menghambur memeluk Jodha. “Bibi baik sekali, apakah aku akan segera mendapatkan teman baru?” tanya Rahim dgn wajah polos nya tanpa dosa.

Semua mata terbelalak mendengar pertanyaan Rahim barusan. Salima jadi merasa tidak enak hati dan menarik Rahim untuk duduk di samping nya. “Rahim, ibu tidak pernah mengajarkan mu berkata tidak sopan seperti itu. Ayo, sekarang minta maaflah pada bibi mu.” Salima negur Rahim yang hanya terdiam menunduk menyadari kesalahan nya. Jodha tersenyum dan duduk di sebelah Rahim. “Tidak apa-apa kak. Dia masih sangat kecil.” kata Jodha mencoba memberi Rahim pembelaan. Rahim mendongak menatap Jodha dan memberi nya ciuman di kedua pipi indah nya.

“Wah wah, Rahim kau sudah lupa dengan paman mu ini? Kenapa tidak memberi ku ciuman juga?” tanya Jalal yang hanya di balas tampang cemberut dari Rahim.

“Aku marah pada paman Jalal, kata nya akan membelikan ku mainan. Tapi, paman tidak membelikan ku mainan juga. Paman juga jarang bermain ke tempat ku lagi. Padahal dulu, kita adalah sahabat terbaik.” celetuk Rahim dengan gaya kesal andalan nya. Semua nya tertawa terkekeh mendengar itu. Tapi Rahim tetap memasang tampang garang nya pada Jalal.

“Paman mu itu sibuk Rahim.” kata Hamida memberi penjelasan. “Tapi setidaknya paman selalu memberi kabar pada ku. Akukan sangat ingin mendengar suara paman.” lanjut Rahim.

“Sudahlah Rahim, paman nanti akan membelikan mu mainan yang sangat banyak sekali, tapi jangan marah lagi pada paman, heem jendral kancil?”

Rahim terkekeh sendiri mendapat julukan baru dari paman nya. “Jendral Kancil...” tawa nya menjadi semakin menggema di seluruh ruangan. “Rahim, hentikan tawa mu itu.” Salima menegur Rahim lagi.

* * * * *

Mereka mulai berbincang dengan sangat seru sekali. Salima dan Jodha tampak dekat satu sama lain meskipun baru saling mengenal. Dulu Jalal pernah menceritakan banyak hal tentang kakak nya. Salima yang mendapat gelar Dokter di depan nama nya itu, memanglah sangat mirip dengan Hamida. Meski bukan terlahir dari Rahim nya, Salima dan Hamida seperti sudah terikat hubungan bathin satu sama lain.

“Kami datang kesini bermaksud untuk menginap sementara Jalal. Besok Ruqayah akan melangsungkan pernikahan nya di Agra. Di tempat paman nya Atgah khan, kami ingin membuat nya bahagia saat kedatangan kita bersama nanti. Kau dan Ruqayah sudah sangat lama tidak bertemu.” Kata Salima.

Jodha tersenyum menatap ke arah Salima. Sebagai seorang Dokter, Salima merasakan kalau Jodha pasti sedang sakit. Wajahnya terlihat sangat pucat. Tapi ia berusaha menyembunyikan hal itu pada semua orang.

“Tentu saja boleh kak. Aku justru senang kalau rumah ini ramai. Tapi disini hanya ada satu kamar tamu. Apakah tidak papa kalau kalian berbagi tempat tidur bertiga?” Jalal bertanya dengan tatapan lurus memandang Hamida.

“Tentu saja Jalal. Kami tidak akan mengganggu mu dan istri mu. Ibu dan kak Salima mengerti akan hal itu.” Hamida tersenyum simpul pada Jalal.

“Owh iya Jodha, apakah sekarang kau sudah berisi?” tanya Salima yang membuat Jodha menundukkan kepala nya sedih. “Maaf, aku tidak bermaksud membuat mu bersedih seperti itu.” tambah Salima yg merasa bersalah.

“Tidak apa-apa kak.” jawab Jodha singkat. “Jodha sayang... Kau tdk perlu bersedih nak, untuk mendapatkan anak memang tdk mudah. Ammi yakin, sebentar lagi kau akan segera menggendong anak mu.” Hamida memberikan semangat pd Jodha. Ia merasakan apa yg Jodha rasakan saat itu.

“Maafkan aku ammi, aku belum bisa memberikan mu cucu.” kata Jodha lirih. Jalal mendekat ke arah Jodha dan menarik nya dalam dekapan nya. “Jalal... Jodha... Aku tdk bermaksud membuat kalian bersedih.” Salima mengelus punggung Jodha lembut, memberika sebuah semangat baru untuk Jodha.

“Tidak apa-apa kak. Saat ini kondisi nya memang sedikit lemah.” kata Jalal singkat. Tes... Setetes air mata telah jatuh dari pipi nya. Cepat-cepat Jodha menghapus nya agar Jalal tak melihat nya menangis.

“Ammi, kak Salima... Aku akan mengantar Jodha ke kamar dulu. Ammijan dan kak Salima bisa langsung ke lantai atas ke kamar yang berada di sebelah kamar ku.” Jalal meninggalkan senyum nya sebelum berlalu menuntun Jodha. Hamida & Salima hanya mengangguk mengerti.

* * * * *

Jalal membuka pintu kamar nya. Duduk di tepi ranjang & menerawang jauh mencoba mencari sesuatu yg hilang dari diri Jodha. “Jodha... Kau tdk perlu bersedih karna kita belum mempunyai anak. Kau dengarkan apa kata ammijan tadi, tdk mudah mempunyai anak itu.” Jalal mengecup pipi Jodha dan beralih ke mata nya. Jodha merapatkan mata nya & menikmati kecupan Jalal di sekitar wajah nya. Jalal berhenti di bibir mungil Jodha & sedikit memiringkan kepala nya. Menyapukan bibir nya pada bibir Jodha, menerobos lebih dalam lagi masuk ke dlm nya. Kedua nya sangat menikmati aksi mereka yg saling membara ini. Seolah, setiap sentuhan & kecupan Jalal mampu menenangkan hati nya yg bergemuruh hebat saat itu. Jodha kembali merasakan perut nya mual, kemudian mengakhiri ciuman bergairah mereka. Rasa penasaran Jalal sekarang lebih tinggi lagi.

“Jodha... Aku akan meminta kak Salimah untuk memeriksa mu.” Jalah sudah tidak sabar lagi kali ini. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Jodha yang sangat lemah. “Jalal... Kak Salima masih lelah, mereka perlu beristirahat dulu. Nanti saja kalau lelah mereka sudah berangsur hilang.” cegah Jodha. Jalal yang sudah di ambang pintu, kembali menghampiri Jodha dan membawa nya kembali terduduk. Perkataan Jodha tadi memang ada benar nya juga. Kak salima dan Ammijan nya pasti sangat lelah datan jauh-jauh dari Delhi ke Agra.

“Baiklah. Lebih baik sekarang kau tidur saja. Aku akan menjaga mu disini.” perlahan Jalal membaring tubuh ringkih Jodha di atas ranjang. Wajah nya tampak lebih pucat dari sebelum nya.

“Jalal... Seperti nya hari ini aku tidak bisa memasak makan malam untuk kalian. Aku akan butuh banyak waktu untuk meredakan mual ku ini. Kepala ku juga pusing sekali Jalal. Bisakah kau membuatkan mereka makan malam?” tanya Jodha penuh harap.

“Iya tentu saja bisa. Sekarang istirahatlah Jodha. Kau membutuhkan banyak waktu untuk meredakan rasa mual dan sakit kepala mu itu. Tidurlah sayang... Aku akan selalu berada di sini dan menjaga mu.” Jalal menarik selimut menutupi tubuh Jodha. Tangan nya mengelus lembut pucuk kepala Jodha sambil sesekali mencium nya.

Jodha tampak sudah tersesat dalam alam mimpi nya. Ia bagaikan seorang peri dari negeri Dongeng yang sedang tertidur di kelopak-kelopak bunga yang baru membuka kala embun meneteskan kesejukan pada nya. Tapi, istri di hadapan nya ini tidak mempunyai sayap layak nya para peri yang sering di ceritakan seperti di negeri dongeng.

“Kita memang harus lebih bersabar Jodha. Kita pasti akan mendapat anak-anak yang lucu. Kau bersabarlah untuk itu.” kata Jalal sembari di iringin oleh kecupan hangat nya dipipi lembut Jodha.

* * * * *

Jalal menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam mereka. Jodha masih tertidur dengan nyenyak nya. Semburat lelah menghiasi wajah nya yang selalu ceria sepanjang hari nya. Salima, tidak sengaja melihat Jalal yang sedang sibuk mengongseng masakan nya. Ini dulu nya adalah hobi Jalal sewaktu muda. Ia sering sekali, membantu Ammijan dan kak Salima memasak makanan seperti itu. Jadi bagi nya, memasak bukanlah suatu tantangan yang terlalu berat untuk di lakukan.

“Jalal... Kau sedang memasak? Dimana Jodha?” tanya Salima heran. Yang di tanya hanya tersenyum saja. “Kau perlu bantuan Jalal?” tanya Salima lagi. “Tidak Kak, terimakasih. Aku ingin membuat nya special untuk kalian dan istri ku tercinta.” ucap Jalal yang masih asyik dengan masakan nya.

“Beruntung Jodha mendapatkan suami seperti mu. Kau sangat menyayangi nya. Tapi, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan kakak Jalal, Apakah Jodha sakit?”

“Dia hanya sedikit tidak enak badan kak. Sedari tadi dia hanya mual-mual saja. Kepala nya terasa pusing. Entahlah kak, dia tidak ingin aku membawa nya ke dokter. Padahal aku sangat khawatir dengan kondisi nya saat ini.”

“Kakak akan memeriksa nya Jalal.” Salima hendak melangkah tapi di hentikan oleh Jalal. “Jangan dulu kak, dia sedang tertidur pulas saat ini. Nanti malam saja setelah makan malam selesai, kakak boleh memeriksa nya.”

Salima mengangguk setuju kemudian berjalan meninggalkan Jalal. Masakan ala Chef Jalal telah selesai. Semua nya tersusun rapi di atas meja makan. “Jodha harus makan dulu. Setidaknya, perut nya harus terisi.” Bathin Jalal sambil berlalu menuju kamar nya.

* * * * *

Jalal mendorong Handle pintu dan menyeruak masuk ke dalam nya. Ternyata Jodha masih belum bangun juga. Dia benar-benar sangat kelelahan sekali.

“Jodha... Jodha sayang... Bangunlah. Kau harus mandi dulu.” bisik Jalal di telinga Jodha. Jodha menggeliat geli dengan kumis tebal Jalal yang menyentuh daun telinga nya. “Jalal... Kau membuat ku geli sekali.” Jodha berusaha duduk dengan menyandar di kepala ranjang dgn sangat berhati-hati.

“Sudah sore Jodha... Sekarang kau harus mandi dulu. Baru setelah itu kita makan malam bersama.” Jalal menelusuri wajah Jodha dengan jemari nya. Membuat sebuah rona merah padam menyala di kedua pipi nya.

“Suami mu ini telah membuatkan masakan special untuk mu. Jadi sekarang kau harus memberi nya hadiah!” kata Jalal sambil memanyunkan bibir nya ke arah Jodha.

“Jalal... Suami ku yg baik hati. Hari ini aku tidak ingin memberi mu kiss dulu. Perut ku terasa sangat unek-unekan sekali.” sahut Jodha dengan wajah memelas nya.

“Hah baiklah, seperti nya aku harus mengalah dulu untuk saat ini. Tapi nanti malam, lihatlah aku tidak akan mengalah lagi dari mu.” Jalal mengerling nakal pada Jodha.

“Dalam keadaan ku yang lemah seperti ini pun, kau masih mau meminta jatah malam pada istri mu. Kalau aku pinsan bagaimana?”

“Kalau kau pinsan aku akan memberi mu nafas buatan. Gampangkan? Aku menjamin, kau langsung akan sadar.” ucap Jalal enteng. Jodha tersenyum geli mendengar bualan suami nya. “Ku rasa aku masih kuat.” Sahut Jodha singkat.

Jodha memasang tampang kesal nya pada Jalal. Muka nya di lipat sedekimian rupa dan kedua pipi nya menggembung besar seperti balon.”Kau kenapa sayang...? Owh iya, setelah makan malam kak Salima akan memeriksa kondisi mu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada istri ku yang menggemaskan ini.” kata Jalal mencubit ke dua pipi Jodha, yang langsung membekas merah akibat usil Jalal tadi.

“Sakit Jalal... Tak bisakah kau bersikap manis pada ku?”

“Tentu saja bisa. Bukankah setiap malam aku selalu bersikap manis pada mu hah?” tanya Jalal dengan guyon nya.

“Ku rasa semua pria memang hanya berpikir tentang malam-malam mereka saja. Pikiran yang menjijikkan sekali itu.”

“Sudahlah Jodha sebaiknya kau bergegas mandi. Setelah itu kita makan malam bersama.”

Jodha melengos kesal pada suami nya. Sebenar nya, hari ini ingin sekali diri nya tidak makan, tapi mengingat usaha Jalal dan intimidasi nya, membuat nyali Jodha menciut dan menuruti saja. Jodha memegangi perut nya yang terasa mual lagi. Jalal tertegun dengan keadaan Jodha yang semakin menjadi seperti itu.

“Apa perut mu sakit Jodha? Kau harus makan secepat nya. Tapi pagi sarapan mu, sudah keluar semua. Kau membutuhkan energi baru Jodha.” Jalal mengelus perut Jodha dengan sangat lembut.

“Tidak apa-apa Jalal, aku baik-baik saja.” kata Jodha sambil meringis menahan sakit di bagian perut nya.

“Kau berbohong Jodha? Aku bisa menangkap gurat kesakitan di mata ku. Kau menahan nya sendiriankan?” Jalal terlihat sang khawatir dengan keadaan Jodha.

'Bughk...'
Seorang anak lelaki berlari ke arah Jodha dan memeluk nya. Kepala anak lelaki itu menumbruk perut Jodha yang terasa sakit. “Bibi... Aku merindukan mu. Padahal, tadi aku baru saja memeluk mu. Kenapa bibi selalu membuat ku ketagihan untuk selalu membuat ku rindu? Beritahu aku bibi, apa mantra sihir nya?” tanya Rahim dengan riang.

Jodha meringis menahan sakit lagi. Jalal segera menarik Rahim dari Jodha yang terlihat kesakitan. “Rahim, bibi mu sedang sakit perut. Kau jangan mengganggu nya dulu ya?” pinta Jalal sambil mengulurkan jari kelingking nya.

Rahim tersenyum dan menautkan jari kelingking nya di jari Jalal. “Aku berjanji paman. Bibi... Maaf aku tidak tau kalau bibi sedang sakit.”

“Tidak apa-apa Rahim. Sekarang, kau bermainlah dengan paman ku. Bibi akan mandi dulu.” Jodha mencium kedua pipi Rahim bergantian. Kemudian Jodha pun melangkah ke arah kamar mandi.

“Paman... Bibi Jodha sangat menyayangi ku. Apa bibi Jodha sedang mengandung?”

“Kau ini masih kecil Rahim, kenapa kau selalu ingin tahu tentang urusan orang dewasa, hemmm?” Jalal menjawil hidung Rahim dan mencium pipi rahim bergantian.

“Waktu itu aku pernah ikut Ibu ku ke rumah sakit. Ada seorang ibu-ibu yang masih muda selalu mengeluh mual dan sakit kepala. Terkadang perut ibu itu juga terasa sakit. Kata ibu, wanita itu sedang mengandung. Aku pikir bibi Jodha juga sama dengan wanita itu.”

“Hah, kau ini benar-benar pintar sekali. Sekarang kau mandilah dulu, nanti kita akan makan malam bersama.”

“Siap paman! Jaga bibi kesayangan ku itu ya. Kalau dia membutuhkan bantuan ku, jangan segan-segan untuk memanggil ku.” kata Rahim. Kemudian ia berlari ke kamar tamu yang ada di sebelah kamar Jalal.

* * * * *

Setelah menyantap hidangan makan malam dengan nikmat, Jalal mulai membuka suara memecah keheningan.

“Kakak, apa sekarang kita bisa memeriksa kondisi Jodha? Aku sangat takut terjadi sesuatu pada nya.” tanya Jalal menatap ke arah Salima yang sedari tadi memperhatikan Jodha.

Sepanjang makan malam tadi, Jodha hanya terlihat menahan sesuatu yang akan di keluarkan nya. Ia menutupi itu dengan senyuman yang membuat semua orang akan merasa ragu, apakah tadi ia sedang menahan sesuatu atau benar-benar sangat menikmati makanan nya.

“Dia sering mual-mual kak, kepala nya juga terasa pusing. Tadi, Jodha seperti menahan sakit di bagian perut nya.” lanjut Jalal yg saat ini menatap Jodha.

Salima mengangguk. “Sebaiknya kita memeriksa Jodha di dalam kamar saja Jalal.” Salima bangkit di ikuti oleh mereka semua.

“Aku berharap Jodha hamil ya tuhan. Berikanlah karunia mu pada Jodha dan Jalal. Mereka pasti tidak akan merasa sunyi lagi, jika rumah megah mereka sudah terlahir seorang bayi mungil yg akan mewarnai kehidupan rumah tangga mereka.” Bathin Hamida dgn sebuah senyum yg terukir di wajah nya.

Di dalam kamar, Salima tampak sudah selesai melakukan pemeriksaan nya pd Jodha. Bagai malam yg bertabur sejuta bintang menghiasi petang nya malam. Wajah Salima seakan terlihat sangat berseri akan mengatakan kabar baik ini.

“Ada apa kak? Apa yang terjadi pada Jodha? Apakah Jodha baik-baik saja? Atau mungkin saat ini, Jodha harus membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat?” tanya Jalal dgn rentetap pertanyaan yg memberondong pada Salima. Jalal menatap cemas pada Jodha dan menggenggam tangan nya erat. Rahim yg berada di samping Ibu nya juga merasakan tegang.

Salimah memandang ke arah Jalal dan Jodha bergantian. Senyum ceria nya masih setia menari di wajah cantik nya. “Coba kau tebak Jodha, apa yang sedang kau alami saat ini?” tanya Salima yang sengaja membuat teka-teki yang membingungkan kepala Jodha. Ia melirik Jalal dan bertanya maksud dari perkataan kak Salima. Jalal mengangkat sebelah alis nya pertanda tidak mengetahui apa-apa tentang hal itu.

“Jodha apakah kau sudah telat bulan ini nak?” tanya Hamida dengan wajah ceria nya. Tampak senyuman indah menghiasi wajah wanitah paruh baya itu.

Jodha tersenyum mengerti maksud dari perkataan Ammijan nya. Tapi Jalal hanya melongo memperhatikan rona bahagia yang menghiasi wajah mereka.

Jodha menarik tubuh Jalal dalam pelukan nya. Ia mencium berulang kali pipi suami nya yang masih tampak bingung pada istri nya. “Jalal, aku hamil. Kita pasti tidak akan kesepian lagi. Sebentar lagi, kita pasti dapat bermain dengan anak kita.” kata Jodha berbisik lembut di telinga Jalal.

Jalal seperti tidak percaya akan perkataan yang baru saja di dengar nya. “Jodha benarkah ini?”

Jodha menganggukkan kepala nya pasti. Jalal melepas pelukan nya dan menatap Salima. “Kak benarkah yang Jodha katakan tadi?”

Salima menggangguk dan memberi ucapan selamat. “Benar Jalal. Kakak ucapkan selamat pada mu karna anugrah besar ini. Jodha sedang hamil muda saat ini. Mual dan sakit kepala, memang terjadi pada wanita yang masih menginjak awal kehamilan mereka.”

Hamida menghampiri menantu nya dan mencium kening nya lama. “Selamat sayang, Ammijan sangat senang mendengar kabar bahagia ini. Ammijan akan segera menggendong seorang bayi lucu dari kalian.” Hamida berkata dengan penuh haru. Air mata nya menetes, mendengar kabar bahagia ini.

“Iya Ibu.” jawab Jodha singkat. “Jalal, Rahim harus segera tidur. Kami pergi dulu.” kata Salima sambil menggendong Rahim dan di susul Hamida yg berlalu dari sana dgn perasaan gembira nya. Mereka seperti mendapat Rizki besar malam itu.

* * * * *

“Jodha, aku benar-benar bahagia saat ini. Kau akan memberi rumah ini penghuni kecil yg lucu. Aku akan selalu berusaha menjaga mu setiap saat.” Jalal begitu bahagia nya mengecut kening Jodha.

“Aku juga begitu sayang...”

Jalal duduk di sisi Jodha dan mengelus perut Jodha yg masih datar itu. Jalal tersenyum penuh haru. Tak terasa mereka sama-sama meneteskan air mata bahagia mereka untuk si kecil yg belum terlahir dlm rahim Jodha.

“Aku sangat mencintai mu Jodha. Sekarang katakan pada ku, kau mau apa? Apa kau ingin buah mangga segar? Aku akan membeli nya untuk mu.”

“Tidak Jalal. Aku tdk ingin mangga. Aku ingin kau menyanyikan lagu penghantar tidur untuk ku. Kau mau melakukan nya?”

Jalal sedikit tercengang dgn permintaan Jodha. Tapi apa boleh buat, Ia akan tetap memenuhi permintaan Jodha apapun itu. “Ya baiklah. Tapi sebelum aku bernyanyi, kau harus tau satu hal tentang ku. Sebenar nya... Aku tdk bisa bernyanyi... Suara ku tdk enak di untuk di dengar.”

“Tidak masalah suara mu bagus atau tdk. Tapi setidak nya, penuhilah permintaan calon bayi kita ini.” Jodha berkata dgn nada manja sambil mengelus lembut perut nya.

Jalal terkekeh & mendekatkan kepala nya ke arah perut Jodha. “Hay anak ku, kau sedang apa di sana? Apakah kalian ingin mendengar suara Abujaan yg memekakkan telinga? Jangan menyusahkan Ammijan mu ya nak? Abujaan & Ammijan menyayangi mu.” Jalal mencium lembut perut Jodha.

“Mereka tdk mengerti apa yg kau katakan Jalal. Lebih baik sekarang kau bernyanyilah untuk calon bayi kita.”

Jalal menarik selimut menutupi tubuh Jodha & mulai menyanyikan lagu penghantar tidur yg nada nya aruk-arukan tdk jelas. Jodha hanya tersenyum menahan tawa nya.

“Jodha, kalau kau ingin tertawa maka tertawalah. Suara ku memang benar-benar pecah sekali ya? Aku tidak akan marah pada mu.”

“Suara mu bagus. Kalau boleh aku jujur, lagu mu bagus, tapi kenapa nada nya seperti bunyi genteng bocor ya?” tanya Jodha sambil terkekeh.

“Bukankah sudah kukatakan tadi pd mu, bahwa suara ku sangat hancur. Tapi kau memaksanya untuk mendengar.”

“Tidak masalah. Sekarang ayo kita tidur. Aku ingin tidur dalam pelukan mu.” Jodha menarik lengan Jalal yang membuat nya berada di atas tubuh Jodha. Sesaat pandangan mereka saling bertemu penuh cinta. Jalal menatap bibir mungil Jodha, & mencium nya lembut. Ada hasrat yg muncul & ingin segera di lampiaskan pd istri nya itu.

“Aw....” Jodha menahan sakit di perut nya. Jalal langsung hengkang & mengelus lembut perut istri nya. “Apa perut mu sakit lagi sayang...? Aku tdk sengaja.”

“Tidak apa-apa Jalal. Aku senang menikmati masa kehamilan ku ini. Kau tdk perlu khawatir pada ku. Bayi kita adalah anak yg baik. Ia tdk akan menyakiti Ammijan nya.” Jodha tersenyum riang mengelus perut nya.

“Aku khawatir sekali pada mu. Kau yg harus menanggung semua nya sendirian...” kata Jalal iba memperhatikan wajah Jodha yg terlihat masih menyembunyikan sakit nya.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 19

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.