Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 20 - ChusNiAnTi

Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 20



Versi asli Bag. 61 - 64
By: Viona Fitri

“Tidak apa-apa sayang... Semua wanita yang akan menjadi ibu, Mereka akan mengandung dan merasakan kebahagiaan melahiran seorang bayi. Seorang ibu, akan selalu menahan rasa sakit demi anak mereka. Dia melakukan apapun demi calon bayi mereka. Sementara itu, sang suami harus selalu berada di dekatnya untuk menjaga istri dan calon bayi mereka.” Jodha hanya tersenyum memandang ke arah Jalal. Ini adalah moment berharga bagi nya. Merasakan sakitnya menjadi seorang ibu. Tak perduli apapun yang terjadi, seorang ibu akan tetap mempertahankan anak mereka. Berjuang dengan sekuat tenaga demi melahirkan sang anak ke dunia. Tidak perduli nyawa yang akan menjadi taruhan nya.

“Kau masih hamil muda Jodha... Aku tau kau menyembunyikan rasa sakit mu dari ku. Aku berjanji, akan selalu berada di samping mu saat kau melahirkan anak kita nanti.” Jalal mencium kening Istrinya dan mendekap erat dalam dekapan nya. Memberikan kehangatan bagi tubuh ringkih itu.

“Sayang... Apakah tidak apa-apa kalau kita melakukan aktivitas malam kita? Aku sebenarnya sangat merindukan mu.”

“Aku juga merindukan mu sayang... Tapi, aku takut menyakiti mu dan calon bayi kita. Lebih baik kau istirahatlah, aku ingin kau segar ketika kau terbangun besok pagi. Kita akan datang ke pesta Surya kan?” tanya Jalal. Jodha memalingkan wajahnya cemberut.

“Hey Jodha sayang... Aku juga menginginkan mu. Tapi, kita harus tau bagaimana keadaan mu sekarang. Perbanyaklah istirahat dulu.” Jalal menolehkan wajah Jodha menghadap nya.

“Tapi aku pikir, jika kita melakukannya dengan berhati-hati tidak akan masalah kan?”

“Hah kenapa kau jadi yang memaksa ku Jodha? Apakah itu permintaan dari calon bayi kita?”

Jodha memiringkan sedikit kepalanya mencium bibir Jalal. Jodha mulai mengulum lembut bibir Jalal, tapi Jalal sama sekali tidak merespon aksi Jodha itu. Ia takut, setelah dirinya semakin bergairah, maka ia tidak akan bisa menahan dirinya lagi.

“Jodha... Aku tidak ingin menyakiti mu dan calon bayi kita. Mengertilah!” Jalal melepaskan ciuman Jodha dengan perlahan. “Ya baiklah. Mungkin ketika seorang istri sedang mengandung, suaminya akan hilang ketertarikan pada nya. Tidak apa-apa.” kata Jodha dengan ketus.

Jodha memiringkan badannya membelakangi Jalal. Air matanya menetes begitu saja. Entah apa sebenarnya yang mengganggu pikiran nya. Yang jelas ia hanya ingin semua permintaannya di penuhi tanpa harus membahtah nya. Isaknya terdengar pelan, namun mampu terdeteksi sampai ke telinga Jalal.

“Apakah kau marah pada ku sayang?” Jalal memeluk tubuh Jodha yang membelakangi nya. Jalal telah mengetahui Jodha menangis. “Tidak apa-apa. Aku tidak marah pada mu. Sekarang aku akan segera tidur.” Jodha berusaha melepaskan pegangan tangan kekar Jalal yang memeluk pinggangnya posesif.

Jalal membalik kan tubuh Jodha menghadap nya. Dia melihat genangan air yang masih menggenang di kedua bola mata indah kelinci nya.

Dicium nya, mata Jodha perlahan sambil tangannya bergerak menuju piyama tidur Jodha yang berlari. Senyum bahagia terpancar dari wajah Jodha. Ternyata anggapannya salah tentang suaminya itu. Ia bukan tidak tertarik lagi pada nya, melainkan berusaha kenyamanan Jodha dan calon bayi nya.

Ketika bibir Jalal sudah memulai aksi nya. Jodha hanya menggeliat dan mendesah merasakan setiap senti sentuhan suaminya itu. Piyama malam mereka sudah tersingkap dari tubuh mereka masing-masing.

Jodha memejamkan mata nya, menikmati desiran hangat yang mulai memasuki tubuh nya. Kehangatan itu kian menyebar ke seluruh bagian persendian nya. Dirasakan nya, rasa panas dan hangat di sekitar leher jenjangnya yang mulai rambah oleh Jalal. Merasakan setiap kecupan-kecupan basah di setiap bagian sensitif nya.

Peluh mereka mulai berjatuhan deras bagai hujan lebat. Seperti membuat api unggun di musim salju. Kehangatan itu mulai membuat mereka lebih di mabuk lagi. Jalal menarik selimut mereka dan tertutuplah peraduan penuh cinta di balik selimut tebal itu.

* * * * *

Sinar mentari pagi tampak sudah mulai memunculkan sosoknya di ufuk timur. Dedauan yang baru saja ditetesi oleh embun, bersorak kegirangan menyambut sang mentari pagi dengan senyum kehangatan nya.

Jodha mulai mengerjapkan matanya untuk membiasakan diri dengan cahaya pagi itu dengan perlahan. Setelah bayangannya yang semula samar menjadi terang dan jelas, terlihatlah sosok suaminya yang masih terbuai oleh dunia mimpi nya. Matanya tertutup rapat-rapat, seakan cahaya yang memantul sejajar ke arah nya, tidaklah membuatnya terbangun dari mimpi nya. Jodha mencium kedua mata suaminya bergantian, perlahan namun pasti, mata Jalal mulai membuka.

“Selamat pagi istri ku. Apakah kau tidur dengan nyenyak semalam?” tanya Jalal dengan senyum menawannya mengawali hari baru nya. “Tentu. Aku tertidur dengan nyenyak sekali.” Jodha menarik tubuh Jalal agar segera bangkit dan bergegas.

“Sayang kita harus bergegas, nanti kita akan terlambat ke pesta Surya. Ayo bangun, jangan membuang banyak waktu mu lagi, hemm?” Jodha menarik lengan Jalal yang masih bermalas malasan tiduran di atas ranjang.

“Pestanya belum di mulai Jodha, jadi kita tiduq saja dulu.” kata Jalal santai.

“Kalau begitu kau saja yang tidur, aku akan menyiapkan sarapan untuk Ammijan dan kak Salima.” Jodha beranjak dan mengambil pakaiannya masuk ke dalam kamar mandi.

* * * * *

Setelah selesai mandi dan berbenah. Jodha mematutkan dirinya sebentar di depan cermin. “Apakah Jalal belum bangun juga?” Jodha berjalan menuju tempat tidur yang masih tertutup oleh selimut. Jodha membuka selimut itu dan hanya ada sebuah guling yang terbungkus oleh selimut tebal mereka. “Kemana Jalal?” Bathin Jodha.

Jodha turun menuju lantai bawah. Tampak oleh ekor mata nya, sosok suaminya yang sedang memasak di dapur. Jodha tersenyum dan menghampiri nya. “Suami ku, kau sedang memasak untuk apa? Kau kan laki-laki, ini bukan tugas mu.” Ujar Jodha yang berdiri di samping Jalal.

“Apa hanya seorang istri saja yang boleh memasak untuk keluarga nya, heem?” tanya Jalal di iringi senyum maut nya.

“Sebaiknya, sekarang kau bersiap siaplah dulu. Biar aku saja yang memasak nya.” Jodha mulai mengambil alih masakan Jalal. “Ya baiklah. Aku akan bersiap siap dulu.” Jalal mencium pipi Jodha dan bibirnya singkat kemudian cepat-cepat berlalu dari sana sebelum mendapat omelan Jodha di pagi buta seperti itu.

Pipinya seakan masih merasakan panas karena ciuman Jalal tadi. “Dia benar-benar aneh sekali.” Gumam Jodha yang masih tersenyum mengingat ciuman singkat mereka di pagi itu.

* * * * *

Makanan telah terhidang di atas meja makan. Semua menu adalah makanan kesukaan Jalal. Hamida dan Salima pun juga menyukai menu yang sama dengan Jalal.

“Masakan ini enak sekali Jodha. Kami semua menyukai nya.” Ucap Hamida memuji.

“Iya Bibi. Aku suka dengan masakan ini. Di rumah ibu jarang memasak buat kami. Ibu berangkat sangat pagi sekali. Tapi nenek membuatkan nasi goreng yang lezat untuk ku.” kata Rahim menimpali.

“Terimakasih Rahim. Apa kau ingin menambah lagi? Bibi akan membuatkannya lagi untuk mu.” Jodha tersenyum menatap sosok anak lelaki yang menggemaskan itu.

“Aku akan belajar memasak dengan mu bi. Aku ingin setiap hari memasak makanan enak seperti ini untuk keluarga ku.”

“Tentu saja bibi akan mengajari mu. Tapi setelah kau besar nanti. Sekarang belum waktunya bagi mu mempelajari nya.”

“Semua orang memang selalu saja mengatakan ku anak kecil, tapi bagi ku, aku ini sudah besar. Aku selalu mengalahkan paman Jalal ketika kami bermain petak umpat. Paman Jalal tidak dapat menemukan ku, katanya karna badan ku yang masih kecil ini bisa bebas bersembunyi di manapun yang ku inginkan. Aku selalu ketiduran terkadang kalau bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.” Rahim menatap kejam pada Jalal yang terkekeh mendengarkan nya.

“Rahim kau tidak boleh banyak bicara ketika sedang makan, kau akan tersedak nanti.” Tegur Salima.

Setelah semuanya selesai, mereka segera masuk kedalam mobil yang sudah terparkir di halaman. Suasana di dalam mobil terdengar suara-suara khas Rahim yang menggema membuat mereka tertawa. Ada-ada saja ulah Rahim yang selalu mengubah hening menjadi ramai.

Menempuh 30 menit berkendara, mereka telah sampai di halaman lokasi pesta. Tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu megah. Pesta yang terlihat sangat sederhana itu, di kunjungi oleh ratusan orang pengunjung yang merupakan tamu dan kerabat dekat mereka.

“Jodha telah datang. Dia terlihat bagia sekali hari ini. Perasaannya untuk ku mungkin benar-benar sudah hilang dari hati nya.” Bathin Surya yang telah melihat kedatangan Jalal dan Jodha beserta keluarga mereka yang berjalan sejajar dgn nya.

“Surya... Apa kau mau ikut dgn ku menemui Jalal dan keluarga nya? Aku ingin menemui mereka? Sudah lama aku tdk bertemu dgn Jalal.” ujar Ruqayah penuh harap. Surya menggangguk lalu berjalan bergandengan dgn Ruqayah menghampiri mereka.

“Jalal...” suara itu terdengar begitu nyaring terdengar di telinga yang langsung berbalik ke arah sumber suara itu berasal. Seorang gadis cantik berwajah barbie menghambur dalam pelukan Jalal. “Mungkin dia itu Ruqayah, sepupu Jalal, yang pernah ia ceritakan pada ku.” Bathin Jodha. Surya yang sudah berada sangat dekat Jodha, langsung menarik Jodha dalam pelukan nya. Jodha terkejut karna pelukan Surya yang mendadak itu. Hampir semua pasang mata memperhatikan Ruqayah dan Surya yang saling memeluk lawan jenis selain istri atau suami nya. Jalal menatap tajam ke arah Surya yang mendekap Jodha sangat erat di dada nya. Sementara Jodha hanya terdiam saja tanpa membalas sama sekali. Rahang Jalal langsung mengeras. Matanya berubah merah padam. Tatapannya penuh dgn amarah. “Beraninya kau memeluk istri ku Surya.” Geram Jalal dlm hati nya. Mereka saling melepaskan pelukan masing-masing.

Jalal menarik Jodha mendekat ke arah nya. Ruqayah tersenyum menatap gadis cantik yang berada di samping Jalal. “Apakah dia adalah istri mu Jalal?” tanya Ruqayah dengan sumringah.

Jalal tidak menyahut, hanya Jodha yang tersenyum menangguk sebagai jawaban. “Kau cantik sekali. Nama ku Ruqayah. Aku dan Jalal adalah sepupu, kami adalah teman masa kecil. Ku harap kau tidak cemburu pada ku. Owh iya nama mu siapa, boleh aku tau?” tanya Ruqayah sopan.

“Jodha. Kau juga sangat cantik. Beruntung Surya mempunyai istri secantik diri mu. Jalal sudah pernah bercerita banyak tentang diri mu pada ku.” jawab Jodha. Mereka berdua saling bertukar senyuman. Tangan Jalal yang menggandeng jemari Jodha, terasa meremasnya keras. Jodha menoleh ke arah Jalal yang terlihat tenang. Tapi sinar matanya mulai berubah padam.

“Bibi Ruqayah, bibi Jodha saat ini sedang hamil. Aku akan mendapatkan seorang teman baru. Lalu, bibi... kapan akan memberikan ku teman baru?” tanya Rahim yang menarik narik baju pengantin Ruqayah.

Ruqayah berjongkok sejajar dengan Rahim. Hal yang pertama dilakukannya adalah mencubit ke dua pipi mungil anak lelaki yang ada di hadapannya ini. “Kau sudah seperti orang dewasa saja Rahim. Kita sudah lama tidak bertemu, waktu bibi sakit kau kemana? Kata mu, kita ini sahabat?”

Rahim menepuk keningnya dan berkata. “Ya ampun bibi. Aku benar-benar lupa. Jadwal ku sangat padat di rumah. Nenek terus saja mengajari ku membaca dan berhitung. Bahkan aku sudah seperti seorang presiden saja, selalu di sibukkan oleh banyak permasalahan. Padahal aku telah bilang pada nenek, bahwa aku masih kecil. Seharusnya aku hanya bermain dan memakan permen sepanjang hari.”

Ruqayah hanya mengangguk kemudian mencium kening Rahim. Surya terlihat terkejut begitu mengetahui kenyataan ini. Jodha hamil. Kata-kata itu selalu melayang layang di pikiran nya. Benarkah Jodha sudah sangat mencintai suami nya, yang dulunya adalah musuh dalam hidup nya?

Jodha seperti bergidik ngeri memperhatikan sorot mata tajam Jalal yang menatap nya. “Jalal... Jalal... Kau kenapa?” tanya Jodha di dekat telinga Jalal. Kata-katanya sangat pelan dan hampir tak terdengar.

Hamida, Salima, Rahim, Ruqayah dan Surya meninggalkan mereka menuju tempat hidangan. Sekarang hanya ada Jalal dan Jodha yang masih ada di halaman utama pesta. “Jalal...” kata Jodha lirih. Jodha tertunduk tidak berani menatap mata Jalal yang tajam menembus jantung nya. Air matanya sedikit menetes. Jodha memeluk Jalal erat tanpa memperdulikan banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka. “Kau kenapa? Tolong jangan marah pada ku.” Jodha terisak di dada Jalal. Sementara Jalal hanya terdiam tanpa membalas pelukan Jodha yang semakin erat pada nya.

“Kenapa bertanya pada ku Jodha? Kenapa kau mau di peluk oleh nya? Apakah kau masih mencintai nya?” bisik Jalal di telinga Jodha. Kata itu terdengar lembut, tapi maksudnya benar-benar langsung mengenai sasaran nya.

Jodha merenggangkan pelukannya dan menatap tak percaya pada Jalal. Secara tidak langsung, Jalal telah tidak mempercayai nya. Padahal sekarang, Jodha tengah mengandung anak nya. Tidak mungkin, ia mencintai lelaki lain selain suami nya.

“Kau tidak percaya pada Jalal? Apakah selama aku menjadi istri mu semua terlihat masih kurang? Aku sedang mengandung saat ini. Aku benar-benar tidak percaya kau bertanya seperti itu pada ku.” Air matanya jelas telihat oleh Jalal. Jodha menangis sesegukan dan berlari ke arah mobil. Jalal hanya menatapnya tapi tidak ingin mengejar nya.

* * * * *

Jalal terlihat memberi sebuah kado pada sepasang pengantin itu. “Ruqayah, selamat atas pernikahan mu. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian kelak.” ucap Jalal di barengi kado dengan kado yang di bawa nya.

“Jalal selamat juga atas pernikahan mu. Kata Rahim saat ini Jodha sedang mengandung. Aku benar-benar bahagia mendengar nya. Owh iya Jalal, tadi Kak Salima dan Bibi Hamida berkata, kalau mereka akan tinggal di sini sampai besok pagi. Setelah itu mereka akan ikut pulang bersama ku Ke Delhi.”

“Baiklah. Tolong jaga Ammijan dan Kak Salima. Ruqayah... Maaf aku harus segera pulang. Jodha harus segera beristirahat.”

Ruqayah menggangguk. Ketika Jalal melewati Surya, sejenak ia melirik ke sosok lelaki itu dan menatapnya sinis kemudian berlalu dari sana. Ruqayah hanya diam memperhatikan hal itu. Sepertinya mereka mempunyai masa lalu yan belum harus di ketahui oleh Ruqayah.

* * * * *

Jodha masih terisak di mobil nya. Kata-kata Jalal masih terekam jelas dalam setiap kalimata nya. Matanya sudah sangat sembab. Mengingat bayi yang ada dalam kandungan nya, Jodha mencoba tegar menghadapi segala nya. Pintu mobil terbuka. Jalal langsung masuk dan menancapkan gas menyusuri jalanan malam yang petang itu. Mereka hanya hing tanpa kata. Sesekali hanya terdengar sesegukan Jodha yang mulai mereda. Bahkan tidak sedikit pun Jalal menoleh ke arah Jodha.

Sesampainya di rumah. Jalal memarkirkan mobilnya di garasi dan turun terlebih dahulu. Sementara Jodha hanya menatap nanar kepergian Jalal. Jodha juga turun dan duduk di sofa ruang tamu.

“Dia benar-benar marah pada ku. Aku tidak ingin membuat kemarahannya semakin memuncak. Lebih baik, aku tidur disini saja.” Jodha membaringkan tubuhnya di atas sofa. Tak sehelai selimut pun yang menutup membungkus tubuhnya dari dinginnya angin malam.

Jalal belum bisa di kamar nya. Ia membalik ke kanan dan kiri tidak jelas. Matanya sulit sekali untuk terpejam. Biasa nya, Jodha yang berada di sampingnya menghangatkan tubuhnya dari dinginnya udara malam. Tapi... Dimana Jodha? Kenapa dari tadi Jodha belum ke kamar juga. Apakah Jodha tidur di dalam mobil?

Jalal turun hendak menuju garasi, tapi matanya menangkap sosok istrinya yang sudah tertidur di atas sofa ruang tamu. Jalal berjalan lebih dekat menatap Jodha. Dia seperti sangat lelah sekali hari ini.

Tanpa berpikir dua kali, Jalal segera membopong tubuh ringkih Jodha ke kamar mereka. Di tariknya selimut untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai di tusuk oleh dinginnya udara malam. Sementara Jalal, tidur di sofa di samping sudut kamar.

* * * * *

Keesokan pagi nya, Jodha terbangun dan mendapati dirinya sudah berada di kamar nya. “Pasti Jalal yang sudah mengangkat ku ke kamar ini.” Bathin Jodha.

Jalal keluar dari kamar mandi dengan setelan jas kerja nya. Ia sempat melirik Jodha sekilas dan berjalan menuruni anak tangga. “Dia masih marah dengan ku” kata Jodha pada dirinya sendiri.

Jodha mengambilkan dasi dan tas kerja Jalal yang ada di ruang kerja. Di lihatnya Jalal duduk di sofa ruang tamu sambil memasang sepatu nya. Jodha menghampirinya dengan seuntai senyuman nya.

“Sekarang kau tinggal memakai dasi... Aku akan memasangkan nya.” Jodha mulai melingkarkan dasi di kerah baju Jalal. “Kau masih marah pada ku Sayang? Aku minta maaf...” Jodha memeluk erat Jalal yang terdiam bagai patung menatap nya. Tidak ada balasan sama sekali dari Jalal. Biasa nya, ia akan memeluk Jodha lebih erat lagi, dari pada Jodha.

“Huek...” Jodha menutup mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi yang terletak bersebelahan dengan dapur. Jalal yang tadinya hanya diam, lekas berlari dan memijat tengkuk belakang Jodha. “Kau tidak apa-apa?” tanya Jalal Khawatir.

“Tidak. Kau pergilah ke kantor. Aku baik-baik saja.” Jodha masih memegang perutnya yang terasa akan mengeluarkan semua isi nya. “Kita ke Dokter...” Jalal menarik lengan Jodha dan menuntun nya. “Tidak perlu. Kau pergilah ke kantor. Kau tidak perlu memikirkan ku lagi. Aku masih bisa menjaga diri ku dengan baik.” Jodha lalu pergi meninggalkan Jalal yang masih terlihat khawatir pada nya.

“Sepertinya sekarang dia yang marah dengan ku. Tapi itu bukan salah ku. Sudah tau dia bersuami, kenapa mau di peluk oleh lelaki lain?” kata Jalal kesal dan langsung menuju garasi mobil nya.

* * * * *

Sesampainya di kantor, seperti biasa Maansing selalu menyambut kedatangan Jalal dan memberitahukan Jadwal kantor Jalal hari ini. Jalal memasuki ruangan yang di dampingi oleh Maansing bersama nya.

Semua file-file dan berkas penting yang siap di tanda tangani sudah menumpuk di meja kerja Jalal. “Tuan, itu adalah File-file penting yang harus anda tanda tangani.” kata Maansing memberi tahu. Jalal mengangguk, lalu mengambil file satu persatu dan mencantumkan tanda tangannya di sana.

Sudah saatnya istirahat kantor, tapi file di atas meja kerja Jalal seperti masih banyak dan tdk berkurang juga. “Maansing, aku akan menyiapkannya besok.” kata Jalal kemudian berlalu dari sana. Maansing mengangguk.

* * * * *

Jalal melajukan mobilnya menuju toko bunga. Ia ingin memberikan bunga itu sebagai tanda permintaan maaf nya.

“Jodha pasti menyukai bunga ini. Aku harus minta maaf pada nya. Dia sedang mengandung anak kami, dia tdk boleh bersedih terus menerus.”

Di rumah nya, Jodha sedang duduk dgn lutut yang di tekuk dan wajahnya yang di tenggelamkan di balik lutut nya. Ia mengingat sifat dingin Jalal pada nya. Bukan sekali ini saja Jalal melukai hati nya, tapi ia tetap berusaha bertahan demi anak mereka.

Jalal sudah sampai di halaman rumah dan mulai mencari Jodha. “Kemana Jodha? Biasanya dia ada di kamar nya. Tapi tdk ada sama sekali di sana. Apa Jodha pergi karna marah pada ku?” Tanya Jalal.

Pikirannya mulai di liputi oleh ketakutan akan istrinya itu. Dadanya mulai bergemuruh hebat mencari hatinya yang sudah ia titipkan pada Jodha. Kemana perginya Jodha?

Jalal membuka satu persatu ruangan di rumah nya, tapi tak kunjung bertemu juga dengan Jodha. Hanya tinggal kamar dapur satu-satunya yang belum ia buka. ‘Klik...’ pintu dapur terbuka. Benar, di sana terlihat tubuh Jodha yang sedang meringkuk di sudut ruangan. Ia seperti berusaha menahan tangis nya. Tapi, nafasnya yang tersenggal dan sesegukan, menandakan tangisnya yang sudah mulai ia redam.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 20

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.