Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 21 - ChusNiAnTi

Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 21



Versi asli Bag. 65 - 67
By: Viona Fitri

Jalal menghambur memeluk tubuh Jodha yang masih meringkuk memeluk ke dua lutut. Tangis nya makin kuat begitu Jalal menarik kepala Jodha ke dada bidang nya. “Maafkan aku Jodha... Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Tolong maafkan aku dan jangan menangis lagi.” ucap Jalal lembut.

“Jalal.... Apakah ego mu lebih besar dari rasa cinta mu pada ku? Kenapa kau selalu saja menyakiti ku. Apa kau mencintai wanita lain selain diri ku? Atau dendam mu masih tersimpan pada ku?” Jodha memukul dada Jalal bidang suami nya.

Air mata Jalal mulai meleleh merembes membasahi pipi nya. “Aku minta maaf Jodha. Tolong maafkanlah aku. Aku hanya mencintai mu saja. Hanya kau yang aku cintai. Jangan katakan hal itu lagi.”

“Kau selalu saja menyakiti hati ku Jalal. Aku berusaha tegar demi anak kita. Kau selalu saja cemburu dengan Surya. Dia hanya bagian dari masa lalu ku. Tapi kau selalu salah paham akan hal itu. Sudah ku katakan berulang kali pada mu, aku benar-benar mencintai mu, aku akan selalu setia pada mu. Aku juga akan selalu mematuhi perintah ku. Dan kalau sekarang kau ingin menceraikan ku, ceraikan saja aku Jalal....”

“Apa yang kau katakan Jodha? Aku tidak akan pernah menceraikan mu. Kau sedang mengandung anak kita. Jangan menyakiti mereka dengan cara seperti ini.”

“Hiks... Hiks... Kau selalu saja berkata aku mencintai mu Jodha, aku mencintai mu. Tapi, apa hanya karna Surya memeluk ku, kau menjadi jauh dengan ku. Kau tidak mempercayai ku.”

“Jodha dengarkan aku, hanya kau yang aku cintai. Aku hanya merasa sakit ketika Surya memeluk mu. Aku tidak bisa menerima pria manapun menyentuh istri ku. Kau hanya milik ku selama nya dan akan tetap begitu.”

“Tapi aku tidak cemburu seperti mu saat Ruqayah memeluk mu.”

“Karna dia adalah sepupu ku Jodha. Sudahlah Jodha... Aku tidak ingin kita bertengkar lagi. Sebentar....” Jalal mengambil sesuatu dari dalam jas nya. Itu adalah bunga mawar putih yang ia beli di toko bunga siang tadi. Bunga itu adalah bunga kesukaan Jodha. Dia adalah lambang kehidupan bagi Jodha. Bunga mawar mempunyai duri yang tajam dan harum yang semerbak. Indah tapi menakutkan. Begitu Jodha pernah berkata. Jika seseorang ingin mencapai suatu keinginan nya, ia harus berusaha melewati setiap rintangan yang penuh dengan duri. Tapi setelah keinginan nya terwujud, itu akan indah bagi nya. Seperti kelopak mawar yang menebarkan keharuman nya pada dunia.

“Jodha ini aku membelikan bunga untuk mu. Aku harap kau mau menerima bunga ini dan memaafkan ku.” Jalal menyodorkan bunga mawar putih pada Jodha.

Sejenak Jodha menghela nafas panjang. Seperti nya, Jalal benar-benar menyesali perbuatan nya. Dan setiap manusia, berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam hidup nya.

Jodha mengambil bunga mawar putih itu dan menghirup aroma nya. “Aku menerima bunga ini dan memaafkan mu. Berjanjilah, tidak akan mengulangi kesalahan mu lagi. Jangan pernah merasa cemburu pada Surya lagi. Sekarang kita sudah menjadi keluarga.” Jodha memeluk erat Jalal lagi.

“Terimakasih Jodha.” Jalal mencium pucuk kepala Jodha. Menghapus air mata nya yang sudah mulai berhenti. “Maafkan Abujaan ya nak... Abujaan janji tidak akan membuat Ammijan kalian menangis lagi.” Jalal mengelus lembut perut Jodha.

“Abujaan tidak akan memarahi Ammijan lagi sekarang.” Jalal mencium perut Jodha dan menempelkan telinga nya disana. “Sayang... Aku mendengar mereka mau memaafkan ku. Terimakasih anak ku.” Jalal mencium perut Jodha dan menggendong nya menuju kamar. Tangan Jodha melingkar di leher suami nya. Ia menatap wajah itu dalam dan kedamaian mulai merasuki tubuh nya. Jodha sedikit bergeliat mencium bibir Jalal. Mereka saling membalas perang antar lidah.

Sampai di depan pintu kamar, kaki Jodha mendorong pintu dan masuk ke dalam nya. “Apakah aku berat sayang?” tanya Jodha pelan. “Tidak... Kau lebih ringan dari yg ku bayangkan.”

“Apakah kau tetap mau menggendongku ketika perut ku sudah akan bertambah besar nanti?”

“Tentu... Kenapa tidak? Aku bahkan akan selalu menggendong mu kapan pun kau mau.”

Jalal membaringkan tubuh Jodha di atas tempat tidur. Di lihat nya hidung bangir istri nya yg sudah bersentuhan dgn istri nya. “Kau hanya akan tetap menjadi milik ku selama nya. Dan hanya aku aku yg boleh menyentuh mu. Kau tdk di izinkan untuk lebih dekat dengan pria lain, selain suami mu.” Terasa nafas Jalal yang mulai menyapu wajah nya. Hangat dan membuat Jodha tdk tahan lagi untuk segera memadu kasih dgn nya.

Jodha menarik Jalal pada nya. Mencium dan melumat dlm mulut mereka. Jalal mulai merambah ke leher Jodha & memberi nya tanda kissmark besar di sana. Jodha menggelinjang merasakan ciuman hangat & terasa basah di leher nya itu. Mereka kembali memadu kasih. Menghilangkan segala keresahan mereka yg membuat mereka takut kehilangan satu sama lain. Menyadari, keegoisan yg telah menyebabkan ke dua nya menjauh. Karna Cinta mengajarkan kita untuk saling menerima & memberi.

Hari-hari kehamilan Jodha sudah pada tahap ke sembilan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat sekali. Rasa nya baru semalam Jodha mengandung dan kini usia kandungan nya sudah berusia sembilan. Segala persiapan calon bayi mereka telah di lakukan. Keluarga dari Amer pun sudah datang ke rumah mereka dengan membawa hadiah untuk calon bayi.
Tak ketinggalan dengan kelurga Jalal dari Delhi pun turut hadir meramaikan suasana di rumah Jodha.

Jodha semakin memperhatikan Jodha lebih banyak dari bulan-bulan yang lalu. Setiap malam menyanyikan lagu penghantar tidur untuk Jodha. Menyuapi Jodha makan dan mengelus perut Jodha sebelum tidur.

Siang itu, semua keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga. Jodha yang perut nya sudah sangat besar, tak banyak bicara seperti biasa nya. Ia hanya menjadi pendengar setia saja.

“Lihatlah Jiji ku itu Masa, dia hanya mendengarkan kita berbicara saja. Padahal dulu Jodha Jiji sangat cerewet sekali dari pada aku. Sekarang jiji hanya tersenyum saja mendengarkan cerita kita.” ledek Sukanya.

“Sukanya, jiji sedang hamil besar saat ini. Sebentar lagi dia akan melahirkan keponakan yang sangat menggemaskan untuk mu. Jiji mu sangat membutuhkan lebih banyak istirahat lagi.” ucap Meinawati memberi penjelasan.

“Seperti nya Jiji ku sangat menikmati hari-hari menjelang kelahiran nya. Aku berharap bayi Jiji kembar. Agar aku dan Sukanya jiji tidak saling berebutan.” kata Shivani sambil terkekeh memperhatikan wajah Sukanya yang sudah seperti sangat kesal pada nya.

“Kalian pikir, bayi adalah boneka yang bisa di mainkan dan di perebutkan?” tanya Hamida.

“Mereka memang seperti itu Ammijan, Selalu saja tidak bisa akur. Sukanya tidak ingin kalah dari Shivani. Dan Shivani juga tidak mau kalah dari semua jiji nya. Dia adalah anak yang polos. Tapi aku senang mempunyai adik seperti mereka. Rumah kami tidak pernah sunyi. Selalu saja ada masalah yang membuat kami harus bertengkar terlebih dahulu.” Jodha angkat suara. Sukanya dan Shivani berebut memeluk Jodha. Mereka mengelus dengan lembut perut Jodha yang sudah besar.

“Jiji aku merasakan gerakan nya.” kata Shivani riang.

“Jodha jiji, aku tidak hanya merasakan gerakan nya saja, tapi aku juga mendengar mereka bersuara.” Sukanya tak mau kalah.

“Mereka belum bisa bicara Sukanya. Kau ada-ada saja.” Jodha tersenyum di kulum. Shivani yang merasa menang, menjulurkan lidahnya pada Sukanya.

“Shivani, Sukanya... Jiji mu harus istirahat dulu. Bhaijan akan mengantarnya ke kamar.” Jalal memegang pundak Jodha dan menuntun nya menaiki anak tangga.

* * * * *

Jodha duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Jalal. “Jodha sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Aku benar-benar tidak sabar menanti hari kelahiran bayi kita.” Jalal membaringkan kepala nya di pangkuan Jodha.

Jodha mengelus lembut rambut Jalal yang terasa bergelombang di sela jemari nya. “Aku juga tidak sabar menunggu hari kelahiran anak kita sayang... Tapi sebentar lagi itu pasti akan terjadi.” Jodha mencium kening Jalal lama.

“Sayang... kenapa jadi kau yang manja. Ayo bangun jangan tidur di pangkuan ku lagi.”

Jalal bangkit dan memperhatikan wajah Jodha lebih dalam lagi. Mata nya, hidung nya, bibir nya dan pipi nya sangat indah sekali melekat dalam diri nya. Jodha yang di perhatikan seperti itu merasa jengah dan mencubit pinggang Jalal pelan.

“Kau kenapa menatap ku seperti itu sayang? Apa aku terlihat jelek ya?” tanya Jodha yang membuat Jalal tersadar dari lamunan nya.

“Tidak. Aku tidak bilang begitu. Kau tau sayang... Ketika kau kau mengandung, wajah mu....” Jalal menggandung kata-kata nya. Jodha meraba wajah nya yang sedari tadi di tatap lekat oleh pria bermata elang itu.

“Kenapa dengan wajah ku? Kau ingin berkata wajah ku tembem kan? Aku sudah tau.” kata Jodha ketus.

“Aku tidak bilang begitu sayang.... Wajah mu sangat berseri sekali ketika kau mengandung. Sorot mata mu, selalu memancarkan kedamaian bagi siapa saja yang melihat nya. Lalu, aku merasa benar-benar sangat beruntung memiliki mu. Tapi setelah kau hamil, kau sudah melupakan satu hal...”

“Melupakan satu hal? Apa itu? Seperti nya aku selalu meminum susu yang kau berikan pada ku. Lalu aku juga sudah mulai makan dengan teratur. Katakan pada ku, apa yang aku lupakan?” tanya Jodha dengan ekspresi bingung nya.

CUP .... Jalal mencium bibir Jodha lama. Melumat dan merasakan lebih dalam lagi. Tapi segera sebelum hasrat nya memuncak, Jalal mengakhiri ciuman nya & mengerling nakal pd Jodha.

“Kau lupa mencium ku Jodha. Dan lagi akhir-akhir ini jatah malam ku berkurang.”

“Tapi kau yg selalu berkata pd ku, bahwa kau tdk ingin terlalu banyak ambil Jatah malam karna mengkhawatirkan keadaan ku dan calon bayi kita.” Jodha terdiam sejenak. Kemudian menarik nafas perlahan dan mulai mencium bibir Jalal dengan gairah yang mulai menggelora. Dan malam itu adalah malam dimana Jalal merasakan keinginan nya terpenuhi kembali.

Fajar mulai menyingsing membiaskan cahaya nya ke seluruh muka bumi. Tetesan-tetesan embun, menyejekkan pagi yang masih berkabut itu. Burung-burung pun baru terbang dari sangkar mereka melintasi cakrawala. Sementara awan hitam, tampak mulai berjalan bergeser di gantikan awan putih.

“Ah... Aww...” Teriak Jodha yang langsung membuat seluruh isi ruangan terkejut. Terlebih Jalal yang tidur di samping nya. “Kenapa Jodha?” tanya Jalal panik. “Sayang seperti nya aku akan segera melahirkan. Sakit sekali....” Jodha memegang perut nya yang sudah terasa mulas dan sakit sekali. “Baiklah kita akan segera ke rumah sakit sayang. Kau bersabarlah.” Jalal mengendong tubuh Jodha yang sangat berat itu. Ia tidak memperdulikan lagi seberapa berat tubuh Jodha saat ini. Yang ada di pikiran nya, hanyalah segera membawa Jodha ke rumah sakit.

Jalal menggendong Jodha masuk ke dalam mobil di ikuti Hamida dan Meinawati yang juga ikut masuk bersama Jodha untuk memberikan dukungan mereka. Sementara Shivani dan Sukanya menyusul Jiji nya dengan Taxi.

* * * * *

Sesampai nya di rumah sakit, Jodha langsung di masukkan ke dalam ruang bersalin. Jalal dengan setia menemani Jodha berjuang demi melahirkan anak mereka. Peluh nya terus saja mengucur deras membasahi anak rambut Jodha. Sebenar nya, Jalal tidak tega melihat Jodha menderita seperti itu. Tapi, Jodha hanya tersenyum sambil menarik dan membuang nafas nya perlahan.

'Oek... Oek...' Seorang bayi mungil telah di lahirkan dengan kondisi sehat. Jodha tersenyum menatap bayi nya yang akan segera di bersihkan. Jalal mencium kening Jodha penuh haru bercampur bahagian. Tiba-tiba Jodha merasakan mulas lagi dan segera menarik nafas dan membuang nya perlahan. Dokter kembali membantu persalinan Jodha yang kedua.

Wajah Jodha sudah sangat pucat sekali. Jalal sangat khawatir dengan Jodha yang terlihat sudah tidak akan mampu untuk mengeluarkan bayi mereka yang kedua.

“Jodha... Bertahanlah! Kau harus kuat sayang... Ayo, kau harus bersemangat demi anak kita.” Jalal tak henti-henti nya memberikan semangat pada Jodha.

'Oek... Oek... Oek...' seorang bayi Perempuan kali ini yang terlahir. Bayi pertama laki-laki, dia sangat tampan seperti Jalal. Dan bayi kembaran nya yang perempuan, sangat mirip dengan Jodha.

Setelah di bersihkan Dokter membawa ke dua bayi itu untuk di beri Asi terlebih dahulu. Para anggota keluarga langsung menyeruak masuk dan mengucapkan beribu Syukur atas kehadiran si kembar.

“Alhamdulillah Jodha, anak-anak mu sehat semua.” Hamida menengadahkan tangan nya penuh haru.

“Jodha Jiji, keponakan-keponakan ku sangat menggemaskan sekali. Akan di beri nama siapa mereka?” tanya Shivani yang mengelus si kecil.

Jodha menatap Jalal yang juga memandang ke arah nya. “Aku akan memberi nama putri ku Aram Bano. Dan anak lelaki nya, ibu nya yang harus memberi nama.” kata Jalal sambil mengelus putri mereka.

Pandangan Jodha beralih pada si kecil di samping Aram. Dia adalah pertama mereka. “Dia sama tampan nya seperti ayah nya. Aku ingin memberi nama nya Salim.” Jodha mencium kepala anak mereka satu persatu.

Jalal sangat gembira, bahkan sulit untuk mengekspresikan keadaan hati nya saat itu. Jalal mendekap keluarga kecil bahagia nya itu. Para anggota keluarga pun tersenyum penuh haru pada mereka.

“Sayang sekarang kau sudah menjadi seorang ayah bagi kedua anak kita. Kau tidak boleh bersikap manja lagi. Aku akan mulai membagi perhatian antara suami dan anak-anak.” Jodha mencium pipi Jalal yang berada di dekat nya.

Para anggota keluarga mengerti dan memberi Privasi untuk mereka. “Jodha, Jalal... Kami keluar dulu.” Meinawati beserta anggota keluarga nya meninggalkan tempat itu.

Mereka saling memeluk penuh haru. Rumah tangga mereka semakin penuh warna dengan kehadiran anak-anak mereka. Semua nya begitu indah pada waktu nya.

TAMAT
~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~


Apakah Cinta Jika Hanya Terluka Bag. 21

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.