Just Love Part 11 - ChusNiAnTi

Just Love Part 11




Pintu apartemen membuka dan Jodha masuk. Di ruang tamu, Jalal dan Bhaksi sudah duduk menunggu. Mereka menempatkan diri mereka bersebelahan di sofa yang panjang. Kebencian dan kemarahan tampak di wajah mereka berdua. Meski terintimidasi, Jodha tidak gentar sama sekali. Tidak ada yang membuatnya takut kecuali ketakutan itu sendiri. Sebelum pulang tadi, Jodha lebih dulu menghubungi Jalal. Dia meminta kesempatan untuk menjelaskan segalanya di depan Jalal dan Bhaksi. Awalnya Jodha  mengira Jalal akan menolak mentah-mentah permintaannya, tapi entah ada angin apa yang berhembus, ternyata Jalal menyetujui permintaannya.
Inilah saatnya, Jodha tidak peduli apakah setelah penjelasannya, pikiran Bhaksi akan terbuka atau tidak, yang penting dia sudah berusaha. Apapun hasilnya, itulah yang terbaik yang bisa diusahakannya.
Jodha –“Terima kasih sudah memenuhi permintaanku. Ada satu orang lagi yang juga harus ada di sini.”
Jodha lalu berjalan ke pintu dan membukanya. Dia mempersilakan masuk tamunya. Shahabuddin melangkah masuk ke dalam ruangan. Bhaksi langsung duduk tegang di kursinya, seakan dia ingin melarikan diri dari sana, tapi Jalal mencegahnya. Shahabuddin dan Jodha pun duduk, menempati sofa yang terpisah.
Shahab –“Maaf karena aku datang tanpa pemberitahuan, tapi demi kebenaran, aku menuruti permintaan Jodha.”
Jodha –“Bhaksi, tolong maafkan aku karena telah menyakitimu. Tapi dengarkanlah penjelasan kami.”
Bhaksi membuang muka, tapi dia tidak bersuara. Jodha memberi tanda pada Shahabuddin untuk mulai bicara.
Shahab –“Sebenarnya.... aku dan Jodha tidak punya hubungan romantis apapun. Hubungan kami murni pertemanan saja.”
Bhaksi berdiri dan menuding ke arah Shahab.
Bhaksi –“Bohong!! Aku ingat dengan jelas, Kakak sendiri yang bilang kalau Kakak sangat mencintai Jodha. Karena itu Kakak ingin putus dariku!!”
Shahab –“Aku berbohong... aku mengatakannya agar kau membenciku dan meninggalkan aku.”
Bhaksi –“Kenapa?! Kau sudah bosan denganku?! Kau sudah tidak mencintaiku lagi?! Kau membenciku?! Katakan Kak, apa salahku?!”
Shahab –“Kau tidak salah apa-apa. Akulah yang bersalah. Aku tidak bisa memberimu kebahagiaan dan kemewahan. Sebagai laki-laki aku tidak berguna di depanmu.”
Bhaksi –“Apa yang kau katakan, Kak? Aku tidak pernah menuntut apa-apa... Bahkan Kakakku sudah melakukan banyak hal untukmu. Apa lagi yang kau inginkan?!”
Shahab –“Justru karena kakakmu sudah melakukan segalanya untukku, menjadikannya beban berat yang harus kutanggung. Segalanya sudah tersedia untukku, tapi aku merasa semakin sesak di sini. Aku belum pernah berusaha dengan tanganku sendiri. Aku tidak punya kebanggaan atas namaku sendiri. Jadi bagaimana bisa sebagai seorang pria, aku punya harga diri di depanmu?”
Bhaksi –“Kenapa kau tidak mengatakannya saja? Kenapa kau menyakiti hatiku dengan meninggalkan aku? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku?!”
Shahab –“Aku tidak bisa mengatakannya. Kupikir itu satu-satunya cara agar kau membenciku dan melupakan aku. Segala yang kau lakukan untukku membuatku merasa kecil dan tidak berharga. Aku merasa tidak pantas berdampingan denganmu. Kuharap kau menemukan cinta dari pria lain yang jauh lebih baik daripada aku.”
Bhaksi –“Apa kau sudah mendapatkan cinta dari gadis lain?”
Shahab –“Tidak.”
Bhaksi –“Lalu kenapa kau juga melepaskan karirmu di Rumah Sakit? Meski kau tidak ingin bersamaku, kau harus pikirkan karirmu disana.”
Shahab –“Delhi Hospital sudah punya banyak dokter yang bagus. Pekerjaanku disana bukanlah pekerjaan yang penting, hanya melayani orang-orang yang punya uang saja, menjaga citra dan nama baik Rumah sakit. Bahkan sering aku harus saling sikut dengan sesama dokter. Demi keuntungan Rumah Sakit, aku bahkan lupa apa tujuan utamaku menjadi dokter. Aku seperti robot, bekerja setiap hari sesuai kontrak. Tapi batinku tidak pernah merasa puas.”
Bhaksi –“Apa Kakak berhenti menjadi dokter?”
Shahab –“Aku tetap seorang dokter, tapi aku sekarang bekerja dengan hati, semata karena rasa kemanusiaan.”
Jalal (menyela) –“Dimana kau setahun belakangan ini?”
Shahab –“Aku bekerja di sebuah klinik kecil di desa di daerah Rajasthan. Penghasilanku jauh lebih kecil dari sebelumnya, bahkan kadang aku hanya dibayar dengan buah atau sayuran, tapi aku puas dan bangga atas apa yang kulakukan. Karena disana banyak orang yang benar-benar membutuhkan seorang dokter.”
Bhaksi –“Kenapa Kakak tidak jujur saja padaku? Kupikir selama ini Kakak bahagia bersamaku disini..!”
Shahab –“Aku minta maaf karena aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Kalau kau ingat, aku pernah sekali mengatakan padamu, aku ingin keluar dari Rumah Sakit, tapi kau melarangku. Aku juga ingin bertahan demi dirimu, tapi aku malah merasa semakin tersiksa, karena itulah aku mengambil langkah egois dengan membohongimu.”
Bhaksi –“Tapi aku melihatmu dan Jodha keluar dari Rumah Sakit bersama-sama dan kau mengantarnya dengan mobilmu.”
Shahab –“Aku tahu saat itu kau mengikutiku, karena itulah aku bersikap seolah-olah aku bersama Jodha. Sebenarnya saat itu kebetulan saja Jodha ada di Rumah Sakit.... Jodha, maafkan aku sudah memanfaatkan dirimu..”
Bhaksi sepertinya mulai melunak hatinya, sinar matanya sedikit melembut dan kata-katanya sudah tidak diliputi nada marah lagi.
Shahab –“Kupikir setelah aku bisa membuat diriku sendiri bangga, aku bisa kembali menemuimu Bhaksi, dengan kepala tegak. Aku akan datang padamu sebagai seorang pria.”
Bhaksi hanya menunduk, mungkin dia mulai mencerna setiap penjelasan Shahabuddin.
Jalal –“Bagaimana kalian bisa kenal?”
Jodha sudah akan menjawab, tapi Shahab menjawabnya lebih dulu.
Shahab –“Pertama kali aku melihatnya di Rumah Sakit. Saat itu dia sedang berdebat dengan bagian administrasi. Jodha mengantar seorang pasien wanita yang setelah diperiksa ternyata didiagnosa menderita radang usus buntu dan harus dioperasi saat itu juga. Bagian administrasi menunggu persetujuan keluarga dan Jodha tidak terima karena operasinya jadi tertunda. Saat itu aku heran, demi seorang yang tidak dia kenal, Jodha berusaha mati-matian menolongnya, bahkan dia juga yang menanggung biaya operasinya.”
Jodha –“Yang mengherankan adalah ketidakpedulian orang-orang pada hidup orang lain. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa.”
Shahab –“Aku jadi penasaran, bagaimana kabar wanita itu sekarang?”
Jodha –“Sekarang dia tinggal di Sisterhood Shelter. Saat itu aku menemukannya tergeletak pingsan di dekat pasar. Tidak ada orang yang tahu tempat tinggal keluarganya. Ternyata dia tidak punya rumah. Putra dan menantunya mengusir dia dari rumahnya karena dianggap beban bagi keluarga putranya. Untunglah sekarang dia cukup bahagia di shelter.”
Shahab –“Setelah aku berkenalan dan bicara banyak hal dengan Jodha, mataku mulai terbuka. Aku merasa malu, sebagai dokter aku tidak bisa melakukan seperti apa yang Jodha lakukan. Berjuang demi hidup seorang pasien. Dia mulai mengenalkanku pada Sisterhood Shelter. Dan suatu hari dia menceritakan tentang program bantuan sosial untuk membangun desa yang miskin. Aku tertarik menjadi sukarelawan. Kupikir itu kesempatanku membuktikan diri bisa berguna, berguna dalam arti yang sebenarnya, bagi orang lain. Masalahnya adalah aku bingung bagaimana mengatakannya pada Bhaksi. Aku memang egois karena memutuskan semuanya sendiri, saat itu kupikir aku tidak mungkin mangajak Bhaksi bersamaku. Aku juga tidak bisa meminta Bhaksi menungguku, karena aku juga tidak tahu berapa lama aku akan pergi.”
Jodha –“Seandainya aku tahu Kak Shahab punya tunangan, aku tidak akan mengajaknya bergabung. Karena itulah aku merasa bersalah padamu, Bhaksi. Maafkan aku, karena pengaruhku, Kak Shahab meninggalkanmu. Aku bisa menerima kebencianmu.”
Bhaksi tetap menunduk dan tidak bersuara.
Jalal –“Aku ingin kejelasan satu hal, apakah sampai sekarang kau masih mencintai Bhaksi?”
Shahab –“Ya, dari dulu sampai sekarang perasaanku belum berubah. Aku masih mencintai adikmu. Tapi aku tidak ingin cintaku membutakan rasa kemanusiaanku.”
Jalal –“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Shahab –“Aku akan tetap kembali ke desa itu. Pekerjaanku disana masih banyak. Aku tidak akan meminta Bhaksi menungguku ataupun memintanya kembali padaku. Nanti, saat tugasku sudah selesai dan Bhaksi masih sendiri, aku akan datang kembali padanya. Aku akan berusaha lebih keras memenangkan hatinya kembali.”
Jalal –“Bhaksi, katakanlah sesuatu....”
Hening beberapa saat, semuanya menunggu Bhaksi bicara, tapi sepertinya yang ditunggu belum ingin bicara.
Jodha –“Tuan Jalal, kurasa kita berdua harus pergi. Biarkan mereka berdua bicara secara pribadi.”
Jodha cukup mengerti jika sekarang perasaan Bhaksi pasti campur aduk. Kebenaran yang diyakininya selama ini ternyata bukanlah kebenaran itu sendiri. Dengan isyarat matanya, Jodha mengajak Jalal untuk meninggalkan ruangan itu, memberi waktu Bhaksi dan Shahabuddin bicara berdua. Jalal menurut, tapi saat sudah di luar pintu apartemennya, dia bertanya..
Jalal –“Kita akan kemana?”
Jodha –“Aku juga tidak tahu, mungkin kita hanya berjalan-jalan saja di luar. Berikanlah kesempatan Bhaksi dan Kak Shahab bicara berdua saja.”
Jodha mendahului Jalal masuk ke dalam lift. Penerangan di dalam lift cukup jelas, Jalal bisa melihat pipi Jodha yang memerah bekas tamparan Bhaksi tadi siang.
Jalal –“Pipimu masih merah, kau belum mengobatinya?”
Jodha –Aku belum sempat. Tapi kau tidak perlu kuatir.”
Senyum Jodha seakan berusaha meyakinkan Jalal bahwa dia baik-baik saja.
Jalal –“Aku minta maaf karena tidak sempat mencegah adikmu menyakitimu tadi. Dan.... sekali lagi... aku juga minta maaf, karena aku telah salah menilaimu... lagi.”
Jodha –“Jangan kau pikirkan, itu reaksi yang wajar bagi seorang wanita. Aku masih bisa menahannya.”
Sesampainya di luar apartemen, mereka berjalan berbelok ke kiri menyusuri trotoar. Dan terus berjalan ke sebuah taman kecil yang berbatasan dengan lingkungan apartemen yang mereka tinggali.
Jalal –“Boleh aku mengatakan sesuatu?”
Jodha –“Silakan..”
Jalal –“Kau gadis yang..hebat. Kau sudah menjadi inspirasi banyak orang. Mulai dari Nyonya Martha, Rarisa, bahkan Shahabuddin. Apa yang dikatakan Shahabuddin benar, aku belum tentu bisa melakukan apa yang sudah kau lakukan.”
Jodha –“Aku hanya..”
Jalal –“Melakukan apa yang bisa kau lakukan.”
Jodha –“Kau pasti bosan mendengarku mengatakan itu berulang-ulang.”
Jalal –“Tidak, semua kata-katamu benar.”
Jalal tersenyum pada Jodha, dan dibalas oleh Jodha. Mereka berjalan pelan-pelan berdampingan, meski jarak antara keduanya cukup lebar, tapi keakraban mereka justru makin terasa.
Cuaca malam itu cukup hangat, langit di atas mereka juga bersih dari awan, hingga jika menengadah terlihat ratusan bintang di langit. Tiba-tiba ada suara gemeresak  dari semak-semak di dekat kaki Jodha, membuatnya berjingkat kaget mendekatkan tubuhnya ke balik punggung Jalal. Sambil celingukan ke bawah, mencari sumber suara, tanpa sadar Jodha memegang ujung lengan kemeja Jalal yang digulung sampai siku, mencari perlindungan. Meski kulit mereka tidak bersentuhan, tapi Jalal bisa merasakan aura kehangatannya. Ternyata itu seekor kucing. Sambil tersenyum simpul dan sedikit menoleh ke belakang, Jalal menggoda Jodha..
Jalal –“Kukira kau seorang pejuang yang tidak takut apapun, ternyata suara kucing dalam semak bisa menakutimu.”
Jodha –“Bukan kucing yang membuatku takut, tapi gerakan-gerakan dalam gelap itu yang menakutkkan.”
Jalal –“Saat kau menolongku dari perampok itu, bukankah keadaannya gelap? Tapi kau tidak terlihat takut.”
Jodha –“Karena keadaan yang memaksa. Anehnya, dari semua malam, hanya pada malam itu aku pulang larut, itu pun aku sudah ingin cepat-cepat sampai apartemen. Hanya saja saat itu aku melihat mobilmu, jadi aku mendekat.”
Jalal –“Kenapa kau mendekat? Kau punya pilihan untuk mengabaikannya.”
Jodha –“Aku tidak tahu. Saat itu ada dorongan yang kuat yang kurasakan agar aku berhenti dan memeriksa keadaan. Mungkin itu firasat kalau ada seseorang yang butuh bantuan.”
Jalal –“Kenapa kau takut gelap?”
Jodha –“Ada kejadian di masa lalu yang membuatku takut pada gelapnya malam. Ini pertama kalinya aku menikmati berjalan-jalan pada malam hari.”
Jodha lalu duduk di sebuah bangku dari batu di taman kecil itu, sambil menengadahkan kepalanya memandang langit. Kedua tangannya berada disamping, menyangga tubuhnya.  Jalal berdiri tidak jauh darinya.
Jalal –“Kau tidak perlu takut lagi, aku akan menemanimu jalan-jalan pada malam hari. Kapanpun kau ingin, kau tinggal mengajakku.”
Jodha  –“Terima kasih, aku pasti menagih janjimu.”
Jodha tersenyum tapi masih sambil menengadahkan wajahnya melihat bintang-bintang di langit. Jalal terpesona melihat siluet wajah Jodha yang diterangi sinar lampu taman. Terasa sangat damai. Jodha tidak menyadari kalau Jalal sedang asyik mengamati dirinya. Keseluruhan wajah Jodha adalah sebuah penggambaran dari kesempurnaan. Batin Jalal bergejolak –‘Kira-kira bagaimana reaksinya jika aku menciumi satu persatu bagian wajahnya...Ya Tuhan, Jalal, hentikan!..Kau mempermalukan dirimu sendiri!! Kau sendiri yang menarik garis batas antara kau dan Jodha! Dan sekarang kau ingin mencumbunya..!!’—Jalal berperang dengan egonya sendiri. Dia mengucek matanya yang tidak gatal berharap bisa mengenyahkan khayalan itu, tapi saat membuka matanya lagi, pandangannya kembali jatuh ke bibir Jodha –‘Kuasai dirimu, Jalal!!’--. Tapi Jalal tidak bisa menahannya lagi. Dia mendekat dan membungkuk, lalu...
CUP...Jalal mencium ujung bibir Jodha. Hanya sepersekian detik. Hampir tidak terasa karena sangat ringan, seringan bulu, dan tidak meninggalkan bekas seperti hembusan angin. Sebuah kecupan tetaplah sebuah kecupan. Efeknya mampu mengirimkan getaran panas ke seluruh tubuh keduanya. Rasa menggelitiknya bahkan terasa sampai ujung kaki. Jodha membelalak karena terkejut, bibirnya masih sedikit terbuka tapi tidak bersuara. Jalal juga sama, tidak menduga, meski dia yang melakukannya tapi rasanya ada kekuatan lain yang tidak bisa dikendalikannya, yang menggerakkan tubuhnya dan menngecup Jodha.
Jodha –“Kenapa kau menciumku?”
Jalal –“Karena aku ingin.”
Jodha –“Lalu kenapa aku membiarkanmu menciumku?”
Jalal –“Aku tidak tahu.”
Jalal terkekeh mendengar pertanyaan konyol Jodha. Posisi tubuhnya masih membungkuk di atas Jodha. Matanya sejajar dengan mata Jodha, jadi dia bisa melihat setiap perubahan ekspresi di matanya.
Jalal –“Kalau kau marah, kau boleh menamparku.”
Jodha –“Aku seharusnya menamparmu, tapi rasanya tanganku tidak bisa bergerak.”
Jodha berkedip dua kali, seakan mencoba memutuskan matra yang menguasai tubuh dan pikirannya. Kemudian dia berdiri, menjaga jarak kembali dari Jalal. Beruntung saat itu gelap, jadi tidak tahu seberapa merahnya pipinya karena menahan rasa malu. Bahkan lebih merah dari saat ditampar tadi.
Jodha –“Tuan Jalal, kumohon jangan lakukan ini lagi. Aku masih ingat kalau kau suamiku, tapi sejak awal kita sudah sepakat hubungan kita tidak akan melibatkan kontak fisik.”
Jalal –“Aku tahu..”
Jodha –“Dan perasaan apapun yang kau punya untukku, sebaiknya kau hentikan sekarang juga.”
Jalal –“Sudah terlambat...”
Jodha –“Kau masih bisa menghentikannya, sebelum kau kecewa.”
Jalal –“Tapi kita masih berteman kan?”
Jodha –“Berteman, hanya itu saja!...Ayo kita kembali, Bhaksi dan Kak Shahab mungkin sudah selesai bicara.”
Jalal –“Apa kau tidak ingin berpegangan pada lengan bajuku lagi?.Aku hanya menawarkan diri...”
Digoda seperti itu, Jodha hanya menoleh sebentar dan langsung melengos berjalan mendahului Jalal kembali ke aparteman. Dia masih sempat mendengar Jalal terkekeh di belakangnya.
Kembali ke apartemen, Jodha melihat Bhaksi masih ditemani Shahab. Tapi posisi duduk mereka yang menempel bersebelahan dan tangan saling mengait di pangkuan, orang tidak akan salah mengartikan kalau hubungan mereka kembali membaik. Wajah Bhaksi tersenyum berbunga-bunga meski masih sedikit nampak bekas airmata di pipinya. Melihat kakak dan kakak iparnya datang, Bhaksi menyambut mereka dengan riang.
Bhaksi –“Kakak, kalian lama sekali. Kupikir kalian tersesat.”
Jalal –“Kukira malah kau sudah melupakan kami.”
Bhaksi dan Jalal saling mengolok, Jodha dan Shahab hanya tersenyum mendengar candaan mereka.
Shahab –“Sudah larut, aku harus pulang. Terima kasih untuk semuanya. Bhaksi, istirahatlah, besok kita bicara lagi. Jalal, terima kasih karena masih mau menerimaku.”
Jodha –“Hati-hati Kak, sampai bertemu besok..”
Shahab –“Baik, sampai bertemu besok di Talkatora Gardens. Jalal, aku pulang dulu.”
Setelah Shahab keluar, ganti Jalal yang bertanya pada Jodha..
Jalal –“Apa yang akan kalian lakukan di Talkatora Gardens?!”



Just Love Part 11

8 comments:

  1. Lanjut terus kak...jgn lama2 ya.... full kepo lelanjutanya... hehehehehehe...

    ReplyDelete
  2. Iya kak... penasaran akhirnya.....

    ReplyDelete
  3. Nah itu lah klu blm tau yg sebenarnya msin hakim sendiri ternyata org yg di benci itu yg memberikan sesuatu yg sgt berhrg. Lnjt mbak pelajaran buat semua.

    ReplyDelete
  4. Nah....kallo kyakk giNii kaN seNeNg...aKu Nya...hiii

    ReplyDelete
  5. Nyesel semua dah baru terbuka semuanya

    ReplyDelete
  6. Mulai cemburu ya bang?
    Memangnya ada apa dengan masa lalu jodha
    Penesaran
    Ditunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
  7. Keren banget dan bahasa yg dipakai tuh bagus pake EYD lagi jadi kita yang pembaca enggak meremehkan

    ReplyDelete
  8. Next mba.. Jangan lama2 mba.
    Penasaran endingnya seperti apa.. *Kepo

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.